JANGANLAH KAMU MENGASIHI DUNIA

(Bacaan Kitab Suci dalam Misa, Hari keenam dalam Oktaf Natal, Rabu 30-12-09) 

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1Yoh 2:12-17).

Bacaan Injil: Luk 2:36-40. 

Yohanes memberi pesan kepada kita: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya” (1Yoh 2:15). Ketika Yesus bertemu dengan Nikodemus pada suatu malam, Ia bersabda: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini ……” (Yoh 3:16). Terasa ada pertentangan antara kedua ayat ini.  Karenanya, bagaimana kita merekonsiliasikan kedua ayat ini? Dunia kita adalah manifestasi kebaikan Allah, namun karena dosa manusia kita juga melihat berbagai distorsi dan kegelapan. Di satu sisi terjadi wabah penyakit dan bencana alam, dan di sisi lain korupsi serta imoralitas dalam setiap lini birokrasi pemerintahan dan masyarakat; keduanya membuktikan bagaimana dosa telah memperkenalkan unsur-unsur tidak murni ke dalam ciptaan Allah yang “sungguh amat baik” (Kej 1:31). 

Jadi, apa yang dimaksudkan oleh ayat 1Yoh 2:15 di atas?  Di sini tentunya Yohanes tidak mengajar kita untuk menolak ciptaan Allah. Sesuai dengan apa yang dikatakan di atas, dunia tempat kita tinggal ini adalah salah satu pencerminan paling kuat tentang kebaikan dan kasih Allah. Yohanes menggunakan kata ‘dunia’ untuk hal-hal yang terasingkan dari Allah. Dia berbicara mengenai wilayah yang berada di bawah pengaruh kekuasaan Iblis, “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31). Dalam artian ini, ‘dunia’ adalah bagian dari masyarakat manusia yang kehidupannya didorong oleh keangkuhan dan banyak hasrat pribadi yang tidak baik, yang jelas tidak berasal dari Allah, malah melawan-Nya. 

Allah menciptakan kita didorong oleh suatu hasrat agar kita mengenal Dia dan mengasihi-Nya sepanjang segala masa. Di lain pihak, Iblis berketetapan hati untuk menjauhkan diri kita dari Allah, dengan melibatkan kita dalam kelekatan-kelekatan ‘tidak sehat’ pada hal-hal baik yang telah diciptakan Allah itu. Iblis membujuk kita agar terjerumus lebih dalam lagi kepada hasrat-hasrat tak-terkendali: untuk menumpuk harta-kekayaan lebih lagi, untuk mengumpulkan gelar akademis lebih banyak lagi, untuk mengejar karir lebih tinggi lagi malah dengan merugikan/mencelakan orang lain, dst. Iblis dapat saja menjanjikan kebebasan, kenikmatan dan keamanan, namun ingatlah bahwa dia biasa “menyamar sebagai malaikat Terang” (2Kor 11:14). Tentang Iblis sebagai ‘tukang bohong’, dalam kesempatan lain Yesus berfirman sebagai berikut: “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. …… ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Hasrat-hasrat buruk dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri itu tidak akan pernah memberi kepuasan kepada orang bersangkutan. Orang itu tidak akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kecanduannya pada berbagai kenikmatan duniawi. Ujung-ujungnya adalah kekecewaan, kehampaan dan kesendirian……. tidak jauh lagi dari perangkap-kekal si Iblis. 

Sesungguhnya Yesus mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita. Dia hidup dan mati sehingga dapat memenangkan jiwa kita. Yesus menawarkan kepada kita cintakasih, sukacita dan keamanan yang sejati. Hal-hal ini bersifat kekal. Kita dapat mulai mencicipinya dengan mengatakan “tidak” kepada Iblis dan “ya” kepada Allah. Oleh karena itu, marilah kita membuat pilihan dengan bijaksana. Marilah kita menjaga hati kita, dan berhati-hatilah ke mana kita memusatkan afeksi-afeksi kita. Yesus adalah pribadi yang paling baik hati, paling mengasihi. Di lain pihak Iblis adalah pembunuh dan pendusta. Marilah kita berhenti mendengarkan rayuan-rayuan dunia dan godaannya yang menyesatkan. Marilah kita berkata “ya” kepada Yesus dan memberikan cintakasih kita kepada-Nya. Baiklah kita semakin menghasrati kasih Allah yang merupakan sumber kebahagiaan yang tak pernah gagal, bukannya segala macam nafsu dan kecanduan akan hal-hal yang beraroma dosa. 

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah aku tentang keagungan Yesus. Penuhilah hati kami dengan cintakasih-Nya. Buatlah agar aku sungguh menghasrati-Nya. Tolonglah aku dapat memandang dengan jernih bahwa segala hasrat akan hal-hal yang menyangkut kenikmatan duniawi itu merupakan tipu daya Iblis. Lindungilah aku dari cengkeraman si Jahat dan berikanlah kepadaku kemerdekaan dan damai-sejahtera yang sejati. Amin.

 Cilandak, 23 Desember 2009 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads