SANTO LUKAS, PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL
(18 Oktober 2009 – Hari Minggu Evangelisasi)
Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9).
Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis ‘Injil Lukas’ dan ‘Kisah para Rasul’. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang-percaya lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih ‘senior’ dari dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20). Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.
Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.
Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”
Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.
Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.”[1] Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.” Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”
Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan ‘sesuatu’ kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki ‘sesuatu’ itu. Kalau kita gantikan kata ‘sesuatu’ itu dengan ‘Yesus’, maka kita dapat menyadari pentingnya arti ‘pengalaman akan Allah/Yesus’ sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.
Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka, kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari ‘Evangelization 2000’ untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. ‘Ketangkap basah’, perempuan itu mulai ‘mengaku dosa’. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah ‘pasiennya’ yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!
Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).
DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin.
Cilandak, 13 Oktober 2009
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
[1] Inilah yang dinamakan ‘karunia untuk berkata-kata dengan hikmat’. Hikmat yang datang dari Allah sendiri. Bukan hikmat dari pikiran manusia semata, atau dari catatan kuliah, atau diktat selagi belajar di KEP, KPKS atau di extension Teologi/Filsafat STF Driyarkara.

4 responses to “SANTO LUKAS, PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL”
Christian Elbrianno
February 21st, 2012 at 10:13
terima kasih atas artikelnya…
sangsabda
February 21st, 2012 at 12:39
Terima kasih kembali Saudaraku Christian Elbrianno yang dikasihi Kristus. Tuhan memberkati anda, senantiasa!Salam persaudaraan,
Frans OFS
Daring
March 4th, 2012 at 04:31
Romo, saya juga sering membaca pemahaman atau tafsir ayat injil dr sumber lain. Bahkan ada yg menjelaskan injil secara berapi-api. Pertanyaan saya, mengapa pemahaman orang, antar romo, atau gereja katholik dan pendeta kristen thd alkitab bisa berbeda-beda. Ada yg mengatakan bahwa injil bukan undang2 krn buktinya multi tafsir. Krn bukan undang2, (krn kalau undang2, berarti siapapun yg akan membaca pasti sama pemahamannya), maka dikatakan alkitab bukan sumber kebenaran. Krn kebenarannya bisa di rekayasa sejalan kebutuhan org tsb. Bagaimana romo menanggapi ini? Tapi saya senang seandainya gereja katholik memiliki web ttg pemahaman alkitab. Semoga dgn web ttg pemahaman dan tafsir alkitab dlm pandangan katholik, umat katholik tidak perlu mencari2 sumber dari yg lain. Dan mengingat Jakarta yg macet, melalui web, kami tdk perlu terhalang untuk mempelajari alkitab, yg saat ini banyak umat katholik merasa haus….
sangsabda
March 4th, 2012 at 05:14
Saudaraku yang dikasihi Kristus,
Pertama-tama, saya bukan romo pastor/imam, tetapi romonya anak-anak yang sudah dewasa semua. Saya awam seperti anda, namun istri saya, seorang anak saya yang berprofesi dokter dan saya sendiri adalah anggota-anggota ORDO FRANCISCANUS SAECULARIS (OFS), yaitu Ordo III Fransiskan yang didirikan sekitar 800 tahun lalu oleh Santo Fransiskus dari Assisi.
Dalam agama Kristiani yang Katolik, tidak ada kebenaran yang direkayasa sesuai kebutuhan! Dalam gereja-gereja Kristiani yang berasal dari reformasi di abad ke-16 di Eropa, memang ada azas SOLA SCRIPTURA yang berarti “hanya Kitab Suci”; tidak demikian halnya dengan Gereja Katolik yang di samping Kitab Suci juga memegang teguh Tradisi Suci yang diturunkan sejak masa para rasul. Ini perbedaan pertama yang harus kita ingat senantiasa. Orang Katolik percaya bahwa Tradisi lebih dahulu ada sebelum Perjanjian Baru ditulis dan kita akui sebagai Kitab Suci, dengan demikian azas SOLA SCRIPTURA bukanlah prinsip yang kita pegang. Tafsir Kitab Suci dalam Gereja Katolik selalu berada dalam koridor KUASA MENGAJAR GEREJA atau yang dikenal sebagai MAGISTERIUM. Boleh saja ada perbedaan tafsir amtara seorang ahli dengan ahli lainnya, namun tidak boleh bertentangan dengan MAGISTERIUM itu.
Pada umumnya para pembaca Kitab Suci dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yang berbeda-beda [Lihat Stefan Leks, "INSPIRASI & KANON KITAB SUCI", Lembaga Biblika Indonesia/Kanisius 1992], yaitu:
a. Mereka yang berpegang pada interpretasi pribadi, entah sendiri entah orang lain;
b. Mereka yang menerima interpretasi Gereja, tetapi tidak berbuat apa-apa untuk memahami Kitab Suci secara pribadi pula;
c. Mereka yang melengkapi usahanya sendiri dalam memahami Kitab Suci dengan sikap ketaatan kepada ajaran resmi Gereja.
Semoga Saudara termasuk kelompok ketiga ini. Kelompok ke tiga ini menyatukan tanggung jawabnya sendiri dengan hormat kepada wibawa Gereja. Mereka percaya bahwa Kitab Suci membimbing para pembacanya untuk memahaminya juga, namun bukan secara langsung (walaupun hal ini pun kadang-kadang terjadi!), melainkan secara tidak langsung, yaitu lewat kehidupan Gereja dan perkembangan tradisi yang terungkap dalam ajarannya yang resmi. Para pembaca jenis ini menerima interpretasi tradisional Gereja tentang Kitab Suci sebagai kesinambungan tradisi rasuli, sebab Kitab Suci adalah hasil tradisi itu yang kemudian berkembang (artinya, menjadi makin rinci dan makin jelas) dalam kehidupan doa, dalam ibadah dan kebaktian, dalam refleksi umat dan dalam keputusan-keputusan konsil yang sewaktu-waktu menyesuaikan ajaran Gereja dengan situasi yang baru.
Kelompok ini akan semakin mamahami Kitab Suci, bila dari satu pihak semakin meningkatkan pengetahuannya dalam bidang Kitab Suci dan dari lain pihak semakin memperhatikan tradisi iman yang terungkap dalam ajaran Gereja. Meningkatkan pengetahuan biblis searti dengan memahirkan diri dalam kepandaian mencari maksud penulis, dalam menganalisis konteks bacaan, dalam mengenal latar belakang Kitab Suci, jenis-jenis sastra, tema-tema utamanya, dan lain-lain. Bila semua usaha ini tidak membawa hasil seperti diharapkan, pembaca seharusnya mencari arti ayat-ayat atau bacaan-bacaan tertentu dalam tradisi iman rasuli atau dalam tradisi sesudahnya (hal126-127).
Semoga keterangan di atas membantu Saudara. Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda.
Salam persaudaraan,
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS