Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, 

Kurang dari tiga hari lagi kita akan merayakan Natal tahun 2009. Pada malam kelahiran Yesus di Betlehem, malaikat dan sejumlah besar bala tentara surga berkumpul memuji-muji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai-sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:13-14). Pada malam itu keselamatan datang ke dunia dalam diri seorang anak bayi laki-laki. Yesus datang ke dunia untuk menjadi damai-sejahtera kita. 

Kitab Suci mengisahkan kepada kita, bahwa ketika Maria mendengar malaikat Gabriel bahwa dia akan mengandung seorang anak oleh kuasa Roh Kudus, dia pun terkejut dan bertanya kepada malaikat: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34). Maria tidak memahami setiap hal yang baru dialaminya, namun tokh dia memberikan tanggapan seorang yang beriman kokoh: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Tanggapan Maria ini menunjukkan kepada kita bahwa ‘damai-sejahtera’ ada pada dirinya. Demikian pula dengan Yusuf. Suami Maria ini pun tidak memahami apa-apa. Dia bahkan ingin menceraikan Maria secara diam-diam (Mat 1:19). Namun sekali Allah mengungkapkan rencana-Nya kepada Yusuf, laki-laki ini pun mengalami damai-sejahtera. 

Sesungguhnya, kita pun dapat seperti Maria dan Yusuf yang mengalami damai-sejahtera dari Allah. Damai-sejahtera Allah dapat datang kepada kita dengan banyak cara; melalui cintakasih keluarga kita, selagi kita mengembangkan berbagai talenta kita, atau bahkan ketika kita melakukan jalan pagi sendiri. Allah menginginkan agar kita mengalami damai-sejahtera-Nya dalam setiap situasi yaang kita hadapi – termasuk situasi-situasi yang paling sulit dan bahkan menyakitkan. 

Pada hakekatnya, fokus dari damai-sejahtera seperti ini adalah rekonsiliasi dan transformasi. Kita mengalami damai-sejahtera seperti ini apabila (1) kita sudah sampai pada pemahaman bahwa Yesus telah mendamaikan kita dengan Bapa surgawi; dan (2) kita tahu dalam hati kita masing-masing bahwa kita ada bersama dengan-Nya (keyakinan dari suatu hati nurani yang jernih sebagai akibat pengakuan dosa-dosa kita dan menerima rahmat pengampunan dari Yesus). Kalau kedua faktor itu bekerja dalam diri kita, barulah kita dapat mengenal dan mengalami damai-sejahtera Allah, dalam situasi apa pun yang sedang kita hadapi. Seperti halnya Maria dan Yusuf, damai-sejahtera kita tidak akan didasarkan pada berapa banyak pekerjaan baik yang telah kita lakukan, melainkan pada kedalaman kasih Allah kepada kita. 

Kita semua sudah tahu bahwa Natal adalah saat bagi kita semua untuk mengasihi secara istimewa, memberikan hadiah, berkumpul bersama, dan lain sebagainya. Lebih penting lagi, Natal adalah suatu masa untuk bergembira penuh sukacita mengenangkan keselamatan kita, dan kita berterima-kasih penuh syukur kepada Allah untuk cara-Nya Dia bekerja dalam kehidupan kita.  Marilah kita menikmati (enjoy aja!) damai-sejahtera Allah selagi kita merayakan Natal dengan para anggota keluarga dan para sahabat kita. Marilah kita juga menghadap Yesus dan mengatakan kepada-Nya, bahwa hasrat terdalam yang ada dalam relung-relung hati kita adalah untuk mempunyai relasi yang benar dan penuh kasih dengan Dia, dengan demikian kita akan dibimbing-Nya kepada Bapa surgawi. The only way to realize that we are God’s children is to let Christ lead us to our Father (Phillips Brooks). 

Bersama ini saya kirimkan juga bacaan Injil dan renungannya untuk hari Minggu tanggal 27 dan hari Senin tanggal 28 Desember 2009. Semoga berkenan dan membawa berkat bagi Saudara-saudari sekalian.  Allah Tritunggal memberkati anda, keluarga anda, komunitas anda dan pekerjaan anda, selalu! 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads