TUHAN YESUS MEMANGGIL PARA MURID *)

 Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS **) 

Yesus memanggil kita dengan nama kita masing-masing dan Ia mengundang kita untuk menjadi murid-murid-Nya. Memang kata ‘murid Yesus’ kadang-kadang mengingatkan kita kepada beberapa orang nelayan di danau Galilea yang kemudian berubah ‘profesi’ menjadi pengkhotbah-pengkhotbah; orang-orang yang tidak terdidik dan kasar-kasar tetapi dianugerahi pengetahuan ilahi dan diberdayakan oleh Roh Kudus guna menyebar-luaskan Injil. Kita juga mungkin saja membayangkan para ‘murid Yesus’ sebagai orang-orang yang begitu suci dan dengan penuh semangat berkobar-kobar akan Allah; mereka yang bersedia dianiaya, disiksa dan mati demi Kristus. Namun para penulis Injil berulang-ulang kali menunjukkan bahwa kedua belas murid Yesus adalah orang-orang ‘normal’ saja; ada yang mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan aktivis politik ‘keras’ (Simon orang Zeloti) dan lain sebagainya. Apa yang dipaparkan di sini  dimaksudkan sekedar untuk membantu kita semua menjadi lebih peka terhadap panggilan Yesus kepada kita masing-masing …… untuk menjadi murid-Nya.

Menjadi murid Yesus 

Dalam Mat 28:19 kita baca : “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus ………” 

Yesus memanggil kita semua dalam ‘hubungan guru – murid’ dengan diri-Nya. Jika pada suatu saat kita dipanggil untuk menjadikan orang-orang lain murid-murid Yesus, maka  seharusnya kita pun sudah menjadi murid Yesus terlebih dahulu. 

Dengan demikian kita masing-masing harus bertanya kepada diri sendiri :

  • Apa artinya menjadi murid Yesus?
  • Apakah aku sungguh seorang murid Yesus? 

Kata ‘murid’ ditemukan dalam Perjanjian Baru sebanyak kurang lebih 250 kali. Jelas ini merupakan konsep yang sangat penting (kalau saya boleh menggunakan istilah ‘konsep’ di sini). Ini terminologi yang bersifat mendasar guna memahami relasi kita dengan Yesus. Bukanlah membuang-buang waktu kalau kita mau berikhtiar untuk kembali ke masa 2.000 tahun lalu guna mencari tahu apa arti kata ‘murid’ seperti diucapkan Yesus Kristus sendiri. Tetapi sebagai pegangan awal dapatlah dikatakan di sini bahwa seorang murid Yesus adalah seseorang yang percaya kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Dengan demikian kita semua dapat menjadi murid-muridNya.

Aku sebagai penonton atau pengikut? 

Injil menunjukkan kepada kita bahwa menjadi murid Yesus berarti lebih daripada sekedar mendengarkan Dia dan menonton Dia dengan terkagum-kagum dan penuh penghargaan. Orang banyak mendengarkan Yesus, dengan harapan dapat mendengar sesuatu yang memberi inspirasi dan memperoleh sesuatu dari Dia. Akan ada perbedaan besar antara para penonton dalam kerumunan orang banyak dan murid-murid Yesus yang sungguh. 

Untuk jelasnya, marilah kita lihat Yoh 6:25-59. Perbedaan antara orang banyak dan murid Yesus kelihatan jelas ketika Yesus melakukan penggandaan roti dan ikan bagi orang banyak yang berkumpul untuk mendengar-Nya berkhotbah. Setelah mukjizat ini, Yesus dan kedua belas murid menyeberangi danau Galilea dalam sebuah perahu. Jelas mereka berniat untuk mempunyai waktu hening agar dapat berdoa dan bersekutu. Jadi mereka mau berada di tempat yang ‘agak jauh’ dari orang banyak untuk sementara waktu. Orang-orang banyak begitu kaget dan terpesona dengan pelipatan ganda roti dan ikan itu, maka mereka mengikuti Yesus kemana pun Ia pergi dan agar dapat berkumpul lagi dengan-Nya. Sekarang dengarkanlah Sabda Yesus baik-baik. Ketika ditanya, Yesus menjawab: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh 6:26). Kemudian Yesus melanjutkan dengan ajaran yang sangat memberi tantangan: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup didalam dirimu” (Yoh 6:53). Apa tanggapan dari orang banyak itu? “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Pada titik ini banyak orang meninggalkan Yesus. Mereka mau mengikuti Yesus selama  diberikan roti untuk makan. Namun begitu ada sesuatu yang keras/susah untuk dipercayai, maka mereka pun meninggalkan Dia. 

Setelah orang-orang itu pergi meninggalkan Dia, Yesus lalu berkata kepada kedua belas murid: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67).  Lalu Petrus menjawab: “Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68). Inilah perbedaan antara orang banyak/para penonton dan para murid Yesus. Orang banyak mengikuti Yesus hanya untuk keuntungan yang langsung dapat dinikmati. Para murid tetap mengikuti Yesus meskipun kata-kata-Nya  susah untuk dipahami, meskipun tetap bersama Yesus mengandung risiko adanya biaya yang harus dibayar. 

Pada suatu ketika Yesus menunjukkan perbedaan itu. Kita dapat membacanya dalam Mat 7:21: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga”.  Disinilah letak perbedaan yang penting antara seorang murid Yesus yang sejati dan orang-orang lain yang bukan murid Yesus.

Rencana Yesus atau rencanaku? 

Kalau kita tetap diam sebagai penonton, kita tetap bersama orang banyak, maka kita tidak akan memahami siapa Yesus dan segala sepak terjang-Nya. Dengan demikian kita tidak akan efektif sebagai pewarta/penginjil, baik kepada para tetangga, anggota-anggota keluarga atau orang-orang lain. 

Seorang yang bukan murid menahan dirinya dari Yesus; dia tidak berserah diri kepada Yesus meskipun sedang minta tolong. Dia berkata: “Yesus, selamatkanlah aku – sesuai rencanaku. Beginilah caranya aku mau engkau memelihara dan menyelamatkan diriku”. Di lain pihak, seorang murid berkata: “Yesus, pimpinlah aku sesuai rencana-Mu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku harus hidup. Yang aku inginkan hanyalah menjadi seperti Engkau”. Orang-orang yang bukan murid berseru: “Selamatkanlah kami dari ini, dari itu, berilah kami ini atau itu”. 

Memang benar, seorang murid juga mengajukan permohonan perihal apa-apa saja yang dia perlukan. Tetapi dia juga berdoa: “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dariku? Aku akan melakukan apa saja yang Engkau kehendaki. Aku akan pergi ke mana saja Engkau kirim aku”. Orang yang bukan murid mungkin saja bergembira dalam Kerajaan Allah, tetapi hanya atas bagian yang di sini, yang sekarang. Setiap murid akan berdoa dengan sederhana: “Datanglah kerajaan-Mu, pada waktu-Mu, dalam jalan-Mu,  dengan cara-Mu!”

Mari, ikutlah Aku 

Dalam dunia kuno, kemuridan atau pemuridan menyangkut suatu relasi pribadi antara seorang Rabi (Guru) dan muridnya. Hubungan ini jauh lebih mendalam daripada relasi antara guru-murid zaman kita yang modern ini. Pada zaman Yesus Kristus, relasi antara seorang murid dengan gurunya sangat mirip dengan relasi antara murid itu dengan orang tuanya sendiri. Seseorang menghormati, mengasihi dan mentaati orang tuanya, karena apa? Karena dia telah menerima hidup dari mereka. Namun, juga dipahami bahwa pemberian hidup tak ada gunanya kalau anda tidak tahu bagaimana menghayati/ menjalaninya. Jadi, meskipun yang memberikan hidup adalah orang tua, sang gurulah yang membuka jalan agar si murid dapat menghayati hidupnya dengan baik. Dengan menafsirkan perintah/instruksi Allah, sang guru diharapkan menunjukkan kepada para muridnya bagaimana menghayati hidup ini. Oleh  karena itu bagi si murid, hormat yang diberikan kepada sang guru serupa dengan hormat kepada orang tuanya sendiri. 

Pekerjaan utama seorang guru tidaklah sekedar menyampaikan fakta-fakta. Fungsi seorang guru tidak dimaksudkan sekedar sebagai seorang komunikator pengetahuan. Peran sang guru adalah mengajar seni kehidupan. Apa yang diberikan sang guru terutama adalah formasi (pembinaan), bukan informasi. Sang guru tidak dapat membina atau membentuk seseorang dengan sekadar berbicara kepadanya. Sang guru harus membuka kehidupannya sendiri bagi muridnya. Dia harus menunjukkan kepada muridnya bagaimana menghayati hidup, baik lewat kata-kata (ajaran-ajarannya) maupun tindakan-tindakannya. 

Jadi apabila Yesus memanggil kita untuk menjadi murid-Nya, sebenarnya Dia mengundang kita untuk hidup bersama-Nya (bdk. Yoh 1:39). Ia mengundang kita untuk belajar dari contoh-contoh yang ditunjukkan oleh-Nya, juga dari sabda-sabda-Nya, sehingga kehidupan kita dapat dibentuk oleh-Nya. Ketika Dia berkata kepada kita: “Mari ikutlah Aku” (lihat Mat 4:19; Mat 9:9; Mrk 1:17; Mrk 2:14 dan Luk 5:27), maka yang Ia maksudkan di sini adalah: “Datanglah, hiduplah bersama-Ku dan belajarlah cara hidup-Ku”. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti Dia.

Murid Yesus adalah pencerminan Yesus 

Pada hari Pentakosta, 120 orang murid Yesus dipenuhi dengan karunia Roh Allah dan sejak saat itu mulailah mereka menginjili siapa saja yang mereka temui.Orang-orang ini, baik laki-laki maupun perempuan, membangun Gereja perdana dengan mengikuti ‘amanat agung’ (great commission) Yesus untuk membuat orang-orang dan seluruh dunia menjadi murid-murid Yesus juga (Mat 28:19-20). Bagaimana mereka melakukannya? Jawabnya: Mereka telah menjadi pencerminan Yesus. Mereka telah menjadi Yesus-Yesus kecil. Kata para pakar: “Mereka telah menjadi alter Christus.” Melalui pemuridan-Nya serta lewat kekuatan dahsyat  Roh Kudus, Yesus telah melipat-gandakan diri-Nya menjadi 120 kali lebih banyak. Untuk inilah kita para murid dipanggil, untuk  menjadi alter Christus, menjadi gambaran Sang Guru sedemikian rupa sampai siapa saja yang bertemu dengan kita, bertemu dengan Yesus dalam diri kita. Bagaimana caranya? 

Ketika murid-murid Yesus menanggapi panggilan-Nya untuk mengikuti Dia, mereka menjadi pelayan-pelayan-Nya. Ini merupakan suatu bagian penting dalam relasi antara para murid dan  guru mereka. Guru membuka hidupnya kepada para murid dan mengajar mereka, bagaimana menjalani/menghayati hidup mereka. Para murid menanggapi itu dengan melayani guru mereka dan menerima ajaran-ajaran guru tersebut. 

Kata ‘pelayan’ (servant) begitu tidak populer sekarang. Demikian juga halnya pada zaman Yesus. Kita tidak berkeberatan sama sekali apabila disapa sebagai Pak Dokter, Bapak Profesor. Tetapi kata ‘pelayan’ kedengarannya terlalu rendah, terlalu sulit untuk membuat kita tertarik. 

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, baiklah sekarang kita memperhatikan dan mempelajari relasi antara Elia dan Elisa. Elia adalah salah seorang  nabi dalam Perjanjian Lama yang paling besar. Elia memanggil Elisa untuk menjadi muridnya dengan melemparkan jubahnya kepada Elisa – artinya Elia menawarkan perlindungan dan kekuatan ajarannya. Elisa bangkit dan kemudian mengikuti Elia dan menjadi pelayannya (I Raj 19:21). Artinya Elisa mulai  melayani Elia, gurunya. 

Mengapa Elisa pada dasarnya menjadi budak, menjadi hamba Elia? Begini ceritanya:

  • Apabila dia memasak makanan untuk Elia, dia akan melihat bagaimana cara Elia makan/menyantap makanannya.
  • Apabila dia mencuci dan menambal baju Elia, dia akan melihat bagaimana Elia mengenakan pakaian.
  • Apabila dia mengurus rumah Elia, dia akan melihat bagaimana Elia memperlakukan harta miliknya.
  • Apabila dia melayani Elia sepanjang hari, dia akan mendengar bagaimana gurunya /tuannya berbicara dan melihat bagaimana dia bekerja.

Inilah semua hal yang perlu pelajari oleh Elisa kalau dia mau menjadi pencerminan Elia, gurunya

Nah, kalau kita mau mempelajari cara hidup yang diajarkan oleh Yesus Guru kita, maka kita harus mengikuti Dia dan melayani-Nya dengan sikap yang sama seperti sikap Elisa terhadap Elia. Kalau kita sadar siapa Yesus itu, kita pun sepantasnya bangga kalau dikenal sebagai para pelayan-Nya. 

Seperti  telah dikatakan di atas, menjadi seorang Kristiani berarti menjadi ‘seperti Kristus’. Allah tidak menghendaki kita menjadi Kristiani hanya karena kita disirami dengan atau dicelup/ditenggelamkan ke dalam air baptis. Allah ingin kita menjadi apa yang dimaksudkan oleh air baptis, yaitu orang-orang yang dipersatukan dengan Yesus Kristus. Hanya lewat relasi kita dengan Yesus sajalah kita dapat menjadi seperti Dia. Hanya Yesus yang dapat membuat kita seperti diri-Nya. Dan Ia dapat mengubah kita, mentransformasi-kan kita, hanya apabila kita menjawab undangan-Nya untuk hidup dengan Dia dan melayani-Nya. Dengan sungguh mengenal Yesus dan dibentuk oleh-Nya, kitapun akan mampu untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh-Nya kepada kita: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu ………………” (Mat 28:19). 

Yesus memanggil segala macam orang untuk menjadi murid-Nya 

Yesus memanggil seorang pemungut cukai bernama Lewi, meskipun Lewi tidak termasuk kalangan orang-orang suci atau pemuka agama dalam masyarakat. Yesus juga meluangkan cukup banyak  waktu-Nya dengan para pendosa (lihat Mrk 2:13-17).  Yesus memanggil Simon dan Andreas – dua bersaudara yang  adalah para nelayan biasa-biasa saja – untuk datang mengikuti Dia (lihat Mat 4:18-19). Injil Yohanes menggambarkan panggilan Natanael yang indah dan mengharukan: Filipus yang baru saja menerima panggilan Yesus kemudian menemui Natanael yang bersikap skeptis itu. Filipus berkata: “Mari dan lihatlah!”. Hati Natanael  begitu tersentuh ketika bertemu dengan Yesus dan dia pun menjadi seorang murid. Dia berkata kepada Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh 1:43-49). 

Setiap pertemuan dengan Yesus di atas menunjukkan kepada kita, bahwa kesaksian utama dari seorang murid bukanlah tergantung kepada penguasaannya atas ajaran-ajaran khusus dari Sang Guru (kalaupun ada – porsinya jauh lebih kecil), tetapi terlebih-lebih dengan membangun relasi cinta kasih dengan Yesus. Katekismus Gereja Katolik mengatakan : “Allah memanggil  kita kedalam keberadaan, supaya kita mengenal Dia, mengasihi Dia, melayani Dia, dan dengan demikian masuk ke dalam Firdaus. Kebahagiaan membuat kita mengambil bagian ‘dalam kodrat ilahi’  (2Ptr 1:4) dan dalam kehidupan abadi. Dengannya  manusia masuk ke dalam kemuliaan Kristus dan ke dalam kesenangan kehidupan Tritunggal” (KGK, 1721). 

Pemuridan menyangkut perubahan, yaitu perubahan yang menuju pemurnian dengan kuasa Roh Kudus 

Memang pemuridan menyangkut perubahan, yaitu suatu pergerakan menuju pemurnian dengan kuasa Roh Kudus. Semakin banyak kita memperkenankan Roh Kudus mengubah kita, semakin besar pula kita diperkenankan untuk ‘melihat’ Allah. Dan ……. semakin banyak kita ‘melihat’ Allah, semakin banyak kita mengasihi Allah. “Tidak kenal, maka tidak sayang?” Langkah pertama dalam proses ini adalah transformasi dari ‘kegelapan’ ke ‘terang’ yang terjadi pada saat baptisan kita. Meskipun demikian transformasi ini perlu dipupuk, perlu dipelihara dengan makanan yang mencukupi. 

Simon (Petrus) membuka ‘langkah pertama’-nya di danau Galilia (Luk 5:1-11). Dia sadar bahwa dirinya ‘seorang pendosa’ dan bahwa ‘Yesus adalah Tuhan’ (ay. 8). Pada waktu diajak Yesus, dia dan kawan-kawannya yaitu Yohanes dan Yakobus anak-anak Zebedeus, Petrus begitu merasa tersentuh oleh Guru yang baru itu sehingga dia pun meninggalkan perahu untuk pergi mengikuti Yesus. Namun hanya setelah sekian waktu lamanya, dan setelah imannya mulai tumbuh dewasa, maka Petrus mampu untuk mengakui Yesus sebagai Putra (Anak) Allah yang hidup (Mat 16:16). Kemudian, setelah diuji, dilatih, direndahkan dan diampuni, Petrus akhirnya sampai kepada pemahaman bahwa mengikuti Yesus berarti menyerahkan hidupnya bagi Dia dan umat-Nya (Yoh 21:15-19). 

Contoh lain tentang karya Allah mentransformasikan seseorang dapat dilihat dalam kasus yang menyangkut ayah Yohanes Pembaptis, yaitu Zakharia. Zakharia dan istrinya Elizabet adalah orang-orang yang baik lagi terhormat. Hidup mereka berkenan kepada Allah karena mereka taat kepada perintah-perintah Allah, tetapi mereka tidak dikaruniai anak. Ketika malaikat Tuhan mengunjungi Zakharia di Bait Suci dan memberitahukan kepadanya bahwa Elizabet akan mengandung bayi (meskipun sudah tua),  Zakharia menjadi ragu-ragu dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada malaikat Tuhan itu. Akibatnya Zakharia menjadi bisu sampai saat Elizabet melahirkan (Luk 1:5-25). 

Selama ‘waktu bisu’ ini, Zakharia memperoleh kesempatan untuk merenungkan sabda Allah secara lebih mendalam dan mohon kepada Allah untuk menolongnya memahami kejadian-kejadian yang terbuka di sekelilingnya. Zakharia dihadapkan dengan ketidakpercayaannya dan keengganan untuk merangkul rencana Allah, justru ketika hal itu diwahyukan. Namun betapa indah semua itu jadinya ketika pada akhir masa kebisuannya Zakharia mengungkapkan ‘buah’ dari kebisuannya dalam sebuah kidung yang sangat indah (Benedictus atau Kidung Zakharia) yang memuji-muji kesetiaan Bapa Surgawi kepada umat-Nya (Luk 1:68-79). Ternyata cinta kasih Zakharia kepada Allah dan kepercayaannya kepada Allah sangat diperdalam selama masa kebisuannya. Sudah menjadi orang benar, Zakharia diubah lagi secara lebih lengkap sebagai akibat doanya.

Menyimpan Sabda Allah didalam hati dan merenungkannya 

Sekarang untuk beberapa saat marilah kita bayangkan  para gembala di padang Efrata, para gembala yang pada waktu itu mendengar proklamasi dari sang malaikat tentang kelahiran Yesus dan yang dimuliakan bersama sejumlah bala tentara surga.“Kemuliaan bagi Allah ditempat yang mahatinggi dan damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2:8-20). Para gembala itu dikelilingi dengan terang kemuliaan Allah sehingga mereka malah melihat bayi Yesus yang baru lahir, Sang Terang dunia. Setelah kejadian luar biasa yang mereka alami pada malam itu, para gembala harus bertanya kepada diri mereka bagaimana hidup mereka akan berubah sebagai akibat dari pengalaman mereka itu. Apakah mereka mau memperkenankan kata-kata malaikat Tuhan dan penampakan/pewahyuan Kristus itu mengusir dosa dan mengisi hati mereka? Apakah mereka mau membuka hati mereka dengan lebih penuh kepada Allah sambil melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka?  

Injil Lukas (2:19-20) menceritakan bahwa Maria menyimpan segala perkataan di dalam hatinya dan merenungkannya, sementara para gembala kembali sambil meninggikan dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan lihat. Biarlah Bunda Maria selalu menjadi contoh/model bagi kita. Memang banyak pakar Kitab Suci yang menjuluki Maria sebagai ‘Model para Murid Yesus’. Marilah kita (seperti Maria) menyimpan sabda Allah di dalam hati dan merenungkannya, memperkenankan sabda Allah itu membentuk kita lebih penuh lagi sebagai anak-anak Allah. 

Dalam perjalanan kita bersama Kristus, baik secara perorangan maupun sebagai Gereja-Nya kita akan dipanggil kepada perubahan dan transformasi yang terus menerus. Ini adalah panggilan yang didengar oleh semua orang kudus yang ada dalam Kitab Suci, terhadap panggilan ini jugalah semua orang kudus dalam sejarah menanggapinya dengan begitu indahnya. Mereka mengakui bahwa Yesus begitu mengasihi mereka sehingga Dia mau memurnikan mereka dari apa saja yang menghalangi mereka untuk mengenal atau mengalami cintakasih-Nya dan apa saja yang menghalangi mereka membagikan cintakasih itu kepada sesama. 

Dalam menghasilkan transformasi ini, Roh Kudus mau mencapai pekerjaan yang bersifat ganda, yaitu dalam Gereja dan hidup kita : 

1.     Untuk menyakinkan kita bahwa Tuhan Yesus Kristus mengasihi kita tanpa reserve dengan cinta kasih yang mendalam dan tanpa akhir (Rm 5:5). 

2.     Pekerjaan kedua adalah menginsyafkan kita akan dosa – dosa kita (Yoh 16:8-11). 

Kedua-duanya adalah pekerjaan Allah yang mengasihi. Pada saat kita menerima kedua pekerjaan itu bersama-sama, maka kita membuka diri kita bagi rencana-rencana Bapa kita; rencana-rencana yang hanyalah untuk kebaikan kita: “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Bagaimana kita dapat menjadi murid-murid Yesus yang lebih baik? 

Allah memanggil kita untuk berpartisipasi dalam karya transformasi Roh Kudus. Kita diberi kesempatan untuk memainkan peranan yang penting, meskipun kita sangat tergantung pada rahmat Allah dan kuasa-Nya untuk mencapai tujuan-tujuan Allah. Situasi itu dapat dibandingkan dengan seorang murid sekolah. Murid itu mengerjakan pekerjaan rumahnya, penuh perhatian dalam kelas dan belajar setiap malam. Namun demikian, meskipun dia melakukan semua itu dengan baik (memang perlu), dia tetap tidak dapat menguasai cara bekerja yang kompleks dari otaknya yang menyimpan, memproses dan menganalisis pelbagai informasi yang diterimanya. Dia juga tidak mampu untuk menguasai sepenuhnya bahan-bahan pelajaran tanpa sumbangan-sumbangan pengajaran dari para gurunya. Para guru memahami bahan-bahan dengan lebih baik daripada dia sendiri. Obyek mereka adalah untuk mengkomunikasikan pelajaran-pelajaran kepada si murid secara paling efektif. Si murid melakukan bagiannya, tetapi ada unsur-unsur di luar kemampuannya sendiri yang membantu semua itu dan membantu pembentukan pribadinya. 

Sebagai ‘murid’ kita juga terdaftar dalam sekolah Kristus. Roh Kudus adalah kepala sekolah dan direktur sekolah ini, sedangkan Gereja adalah guru dan pelindung. Dalam sekolah ini, banyak mata pelajaran yang berbeda-beda, misalnya antara lain: cintakasih, doa, teologi, pelayanan, penginjilan dan kekudusan, tetapi hanya ada satu tujuan: ‘pemuridan’. Bagaimana kita dapat menjadi murid-murid yang lebih baik? Ada dua cara yang berhubungan dengan pekerjaan Roh Kudus yang disebutkan di atas, yaitu untuk menyakinkan kita akan cintakasih Yesus dan untuk menginsyafkan kita akan kedosaan kita. 

Cara pertama dan paling fundamental adalah untuk bertumbuh dalam pengetahuan tentang  penghiburan dan bimbingan Tuhan. Kita dipanggil untuk membuat kehidupan kita sebagai doa. Misalnya Fransiskus dari Assisi oleh para pengarang riwayat hidupnya tidak lagi dijuluki sebagai pendoa, tetapi ‘dia sendiri adalah doa’. Oleh karena itu baiklah kita mencoba menyisihkan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Kalau mungkin hadirilah misa harian, membuat waktu untuk menyembah Yesus dalam kesatuan dengan seluruh Gereja. Mohonlah berkat setiap hari dari Bapa Surgawi. Berdoalah untuk perlindungan Allah atas Gereja dan rumah tangga kita. Setiap malam lakukanlah telaah-ulang atas hari yang baru dilewati, berterima kasihlah kepada Allah dan mohon ampunlah atas dosa-dosa kita. Tidurlah dalam damai Kristus. Percayalah kepada Allah. Dia kenal anda dan mengasihi anda dengan sangat mendalam. Dia tidak akan membuang anda. 

Cara kedua adalah melakukan pemeriksaan atas kehidupan kita. Roh Kudus mau membebaskan kita dari setiap area dosa dan kesalahan. Roh Kudus akan mengungkapkan area-area ini kepada kita dalam doa kita dan selama kita menjalani kehidupan kita sehari-hari. 

Bukanlah suatu hal yang tidak realistis kalau kita mengharapkan Allah untuk menarik diri kita kepada-Nya selama berjalannya kehidupan sehari-hari kita. Itulah mengapa penting bagi kita untuk bersikap waspada selalu. Kalau kita disadarkan oleh Roh Kudus akan kecenderungan kita untuk berdosa, maka itu adalah rahmat. Teristimewa apabila  kita melihat bagaimana perbaikan diri kita kemudian  menarik kita lebih dekat lagi kepada Allah dan meningkatkan cinta kasih kita kepada-Nya.

Jalan pemuridan hari ini sama dengan jalan pemuridan dihari-hari pertama Gereja 

Beriman dalam Kristus, hidup doa, menaruh perhatian pada Kitab Suci, berpartisipasi dalam sakramen-sakramen, menekuni ajaran-ajaran Gereja, memeriksa batin secara pribadi, pengakuan dosa serta upaya-upaya guna menghindari dosa merupakan jantung dari panggilan kita. Memang  pertumbuhan kita sebagai murid Yesus tidak tergantung semata-mata kepada perbuatan-perbuatan kita, namun secara intim tetap berhubungan juga dengan hal-hal yang kita lakukan, karena tindakan-tindakan kita adalah refleksi dari apa yang ada dalam hati kita. Dua orang dapat belajar berdasarkan kurikulum yang sama dalam sekolah namun mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda secara dramatis. Demikian pula dalam hidup kita dengan Allah. Perbedaannya selalu tumbuh dari hasrat-hasrat hati kita masing-masing. 

Allah mengenal hati kita. Mereka yang datang kepada-Nya dengan hati yang tulus dan murni tak akan dikecewakan. Mereka akan menemukan damai-sejahtera dan sukacita. Ini adalah sebuah janji Allah yang kita dapat percayai secara penuh. Allah selalu beserta kita dan cintakasih-Nya adalah tanpa syarat. Baiklah kita semua membuka diri bagi karya Roh Kudus, dalam hati kita, dalam komunitas kita atau keluarga kita masing-masing.

Biaya pemuridan  

Menjadi murid Yesus selalu mengandung risiko, selalu ada biayanya. Cerita dalam Injil yang bagi saya sangat menyedihkan adalah kisah mengenai seorang muda yang kaya dan berkedudukan penting (lihat Mat 19:16-26; Mrk 10:17-27 dan Luk 18:18-27) yang dipanggil oleh Yesus, tetapi dia ‘menolak’ panggilan itu karena dia lebih mencintai harta miliknya. Orang muda itu tidak  mau menanggung ‘biaya’ untuk menjadi murid Yesus. 

Sejarah Gereja sejak awal sudah dipenuhi dengan catatan-catatan mengenai para martir yang merelakan diri mereka dianiaya dan dibunuh demi iman-kepercayaan mereka akan Allah dalam Yesus Kristus. Beberapa minggu lalu seorang imam Karmelit dalam homilinya mengatakan bahwa abad ke-20 ini adalah ‘abad martir’ karena jumlah martir yang sangat banyak, yang melampaui abad-abad sebelumnya. Untuk informasi, dalam abad ke-20  Tarekat OFM (Ordo Fratrum Minorum = Ordo Saudara Dina) sendiri saja sudah mempersembahkan sekitar 400 orang anggotanya di seluruh dunia sebagai martir-martir Gereja Kristus. 

Tidak sedikit orang yang bersaksi secara pribadi bagaimana setelah mereka mengikuti jejak Yesus (artinya sejak mereka benar-benar menjadi murid Yesus) kehidupan mereka malah semakin penuh ujian dan ‘kesusahan’, misalnya dikucilkan oleh teman-teman, ditertawakan karena dianggap sebagai orang tolol, kehilangan jabatan dan lain-lain. Namun mereka juga bersaksi dengan penuh keyakinan bahwa bersama Yesus, semua ‘susah-susah’ tersebut dapat diatasi dengan penuh kegembiraan. Bersama Yesus salib kita menjadi tidak terasa berat lagi, kita menjadi sanggup memanggulnya.

Catatan Penutup 

Secara umum dapat dikatakan bahwa seorang murid adalah seseorang yang memeluk dan menyebar-luaskan ajaran-ajaran gurunya. Dalam pengertian ini Petrus, Yakobus, Yohanes dan lain-lain (yang dua belas orang itu) dapat disebut sebagai murid-murid Yesus. Akan tetapi ‘pemuridan’ mereka sesungguhnya jauh lebih mendalam daripada sekedar meniru Yesus dan menyebar-luaskan ajaran-ajaran-Nya. Yesus menjelaskan bahwa seorang murid adalah seseorang yang mengikuti Dia; murid itu telah keluar dari kegelapan dan sekarang berjalan dalam terang (lihat Yoh 8:12). Dengan demikian ‘pemuridan’ bagi Yesus berarti suatu pengalaman, suatu kesaksian hidup atas transformasi spiritual. Seorang murid Yesus mengetahui bahwa peralihan dirinya dari ‘kegelapan’ ke ‘terang’ adalah berkat kuat-kuasa Allah (lihat Yoh 3:21). Dengan demikian, seorang murid Yesus setiap harinya menunjukkan tanda kehadiran Yesus dalam kepribadiannya, mengasihi orang-orang lain dengan cintakasih Kristus sendiri (lihat Yoh 13:34-35). 

Pada awal tulisan ini dikatakan bahwa Injil berulang-ulang menunjukkan bahwa kedua belas murid Yesus adalah orang-orang ‘normal’ saja. Ada Petrus yang kalau berbicara suka memberi kesan bahwa dia sedikit ‘telmi’ atau ‘te laat mikir’ (lihat Yoh 13:36-38). Ada juga murid kakak-beradik anak-anak Zebedeus yang bernama Yakobus dan Yohanes yang begitu berambisi karena memahami mesianisme secara keliru dan memiliki sifat suka menghukum dengan keras (Mrk 10:35-37 dan Luk 9:52-55). Semua murid sempat mempunyai ‘kekerasan hati’ dan susah mempercayai Yesus yang sudah bangkit (Mrk 16:14). Singkatnya ke dua belas murid juga adalah para pendosa seperti kita semua. Namun para murid kemudian menerima Roh Kudus yang mengubah dan mentransformasikan diri mereka. Oleh Roh Kudus yang sama, kita pun dapat dibentuk menjadi  murid-murid Yesus, yaitu laki-laki dan perempuan yang mengikuti jejak-Nya dalam cintakasih dan penuh kepercayaan

Bahan-bahan Diskusi Kelompok dalam acara pendalaman iman keluarga/lingkungan/wilayah [1] 

Dalam kelompok kecil, lakukanlah salah satu dari tiga tugas berikut ini : 

a.     Bacalah Luk 5:1-11 

  • Bagaimana Petrus dan Yohanes menanggapi Yesus ketika Dia memanggil mereka?
  • Menurut anda, apa yang membuat mereka dapat meninggalkan segalanya guna menjadi murid-murid Yesus?
  • Bayangkan sekarang Yesus mendatangi anda dan mengundang anda untuk mengikuti-Nya. Bagaimana anda akan menanggapi undangan Yesus ini? 

b.     Bacalah Yoh 13:36-38; 18:17-27 dan 21:15-19 

  • Petrus bertekad untuk siap mati demi Yesus, namun ketika menghadapi ujian, dia menyangkal Tuhan. Bagaimana Yesus memperlakukan Petrus ketika Dia bertemu dengan Petrus setelah kebangkitan-Nya?
  • Bagaimana kata-kata Yesus kepada Petrus dapat menolong kita pada saat kita jatuh? 

c.     Bacalah Yoh 19:25-27 

  • Tradisi mengatakan bahwa ‘murid yang dikasihi Yesus’ adalah Rasul Yohanes. Menurut anda bagaimana hubungan cintakasih yang istimewa antara kedua pribadi ini membuat sang murid  mampu tinggal bersama Yesus pada waktu penyaliban, pada saat murid-murid yang lain sudah melarikan diri?
  • Bagaimana suatu relasi yang erat dengan Tuhan Yesus dapat membantu kita pada saat-saat kesulitan?

 


*) Disusun pertama kali sebagai bahan rekoleksi. Jakarta, Hari Minggu Palma 28 Maret 1999. Dilakukan sedikit revisi pada tanggal 9 Januari 2004 serta perbaikan-perbaikan kecil pada tanggal  7 Agustus 2009.

**) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1]  Dapat juga digunakan untuk renungan secara pribadi.

About these ads