YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Santa Gertrudis, Perawan [1236-1302], Senin 16-11-09) 

Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah (Luk 18:35-43). 

Lukas menempatkan cerita tentang mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus terhadap seorang pengemis buta, di tengah-tengah diskusi panjang mengenai pemuridan/kemuridan Kristiani dan jalan Kristiani. Apa yang dapat kita pelajari dari Yesus dalam peristiwa ini? Satu hal yang tidak boleh luput dari pengamatan kita: cintakasih Yesus kepada orang-orang kurang/tidak beruntung dalam masyarakat, mereka yang menderita sakit-penyakit dan lain-lain. Bahkan the poorest of the poor pada zaman Yesus – mereka yang mungkin telah ditimpa kemiskinan dan rupa-rupa kemalangan secara habis-habisan, merasa yakin bahwa mereka dapat datang kepada Yesus untuk mohon pertolongan-Nya. Mereka sangat percaya bahwa apabila mereka datang kepada-Nya dan dijamah oleh-Nya, maka mereka dapat disembuhkan. 

Yesus menaruh belas kasihan terhadap semua orang, keprihatinan-Nya tidaklah terbatas pada situasi-situasi sulit yang dihadapi oleh orang-orang tertentu saja. Beberapa saat sebelum orang buta itu disembuhkan, orang itu berseru “Anak Daud, kasihanilah aku!” dan orang-orang yang berjalan di depan menegur dia supaya diam. Namun Yesus berhenti dan menyuruh orang itu membawa orang itu kepada-Nya. Teguran mereka mungkin saja disebabkan rasa marah, malu atau alasan lain, karena yang berseru (catatan: berteriak-teriak) itu adalah seorang pengemis buta … ‘Wong Cilik’. Sebenarnya apakah yang mau diingatkan oleh Lukas dalam hal ini? Sebuah pesan bagi para pemimpin Gereja untuk jangan sampai mengabaikan kebutuhan-kebutuhan orang-orang miskin dan kurang beruntung. Ini adalah sebuah pesan penting, bahkan sampai hari ini, tidak hanya bagi para pemimpin Gereja tetapi juga bagi semua orang Kristiani. 

Peristiwa ini juga menunjukkan pertumbuhan iman dan pemahaman si pengemis buta itu akan Yesus. Mula-mula dia memanggil Yesus sebagai ‘Anak Daud’ (Luk 18:38), sebuah gelar mesianis yang mengandung makna bahwa Yesus diutus oleh Allah guna mewujudkan Kerajaan-Nya. Kemudian dia menyapa Yesus sebagai Tuhan (Luk 18:41; Inggris: Lord; Yunani: Kyrios). Kyrios diakui Gereja Perdana sebagai sebuah gelar Kristologis, yang mengkontraskan Allah yang satu dan Tuhan, dengan banyak ilah dan tuhan di dunia Yunani. Iman si pengemis buta menyembuhkan dia dari kebutaannya, dan akhirnya membuat dia mengikuti Yesus dalam perjalanannya ke Yerusalem. Dalam hal ini ada pelajaran bagi kita semua: Pemahaman kita akan Yesus harus selalu bertumbuh dan semakin mendalam. Adalah iman kita yang memperkenankan Allah bekerja dalam hidup kita, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman kita tentang siapa Yesus itu. 

DOA: Tuhan Yesus, seperti si pengemis buta di pinggir dekat Yerikho, aku menyadari bahwa diriku juga membutuhkan pencurahan belas kasih-Mu. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku juga buta dan mohon kepada-Mu agar menyembuhkan ‘kebutaan’ hatiku sehingga dengan demikian aku mampu melihat dan mengenal kebenaran yang sejati, yaitu Engkau sendiri yang adalah ‘Kebenaran, Jalan dan Hidup’. Amin. 

Santa Gertrudis (1256-1302). 

Pada hari ini para rahib dan rubiah Trapis (OCSO) serta juga kongregasi SCJ memperingati seorang perawan kudus yang telah mengalami Kristus secara istimewa. Nama  Gertrudis (Gertrude, Gertrud) memang kurang dikenal di Indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan nama-nama seperti  Maria, Teresia atau Lucia. Mungkin karena nama Gertrude ini terlalu berbau Jerman. Koq muncul nama kongregasi SCJ di sini? Tentunya karena erat berhubungan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Kalau kita menekuni devosi kepada Hati Kudus Yesus, maka nama Gertrudis merupakan salah satu nama penting yang harus kita ketahui, tidak hanya nama Santa Margarita Maria Alacoque (1647-1690). Itulah sebabnya mengapa saya menambahkan cerita singkat tentang orang kudus ini. 

Devosi kepada Hati Kudus Yesus, dalam arti devosi kepada Kristus di mana Hati-Nya dimengerti sebagai sebuah lambang cinta kasih-Nya kepada umat manusia, untuk pertama kali secara eksplisit muncul pada abad ke tiga belas, khususnya dalam tulisan-tulisan yang menceritakan penampakan-penampakan kepada Santa Gertrudis dari biara Cistercian (Trapis) di Helfta, Saxony, Jerman Utara ini. Dia mengalami kasih Yesus seperti si pengemis buta dalam Injil tadi mengalami-Nya. Gertrudis mengalami penampakan Kristus pada waktu dia berumur dua puluh tahun. Sejak saat itu dia mencurahkan segala jiwa raga pada hidup kontemplatif karena baginya segala daya tarik pengetahuan duniawi sudah terkubur dalam-dalam. Gertrudis mencurahkan seluruh perhatiannya pada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja dan perayaan ibadat. Hidup Gertrudis dipenuhi berbagai pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Banyak diantaranya dapat dibaca dalam kumpulan karangan yang sebagian ditulis berdasarkan catatan, diktat dan hasil tulisan Gertrudis sendiri. Buku ini banyak memberikan sumbangan kepada  kehidupan rohani di Abad Pertengahan. Buah pena ini amat menarik. Sebab, orang akan melihat bagaimana Gertrudis merintis penghormatan kepada Hati Kudus Yesus, yang sekarang ini sangat merata dan lazim dilakukan oleh umat Katolik di mana-mana. Itulah sebabnya terkadang orang kudus ini diberi gelar atau dijuluki “Gertrudis Agung”. 

Ada sebuah doa orang kudus ini yang didoakan pada waktu pagi pada saat baru bangun tidur, yang tentunya dapat kita doakan juga: 

Aku menyembah, memuji dan memberi hormat kepada-Mu, O Hati Yesus Kristus yang termanis. Aku berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memeliharaku sepanjang malam tadi, dan telah mempersembahkan puji-pujian dan syukur kepada Allah Bapa atas namaku. Dan, sekarang aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku sebagai sebuah kurban persembahan di pagi hari; aku menaruhnya dalam Hati-Mu yang paling lembut dan mempercayakannya ke dalam pemeliharaan-Mu; semoga Engkau berkenan mencurahkan ke dalamnya inspirasi ilahi-Mu, dan untuk mengobarkannya dengan cinta kasih ilahi-Mu [Catholic Truth Society, Prayers to the SACRED HEART, hal. 39]. 

Saya tambahkan lagi dua dari doa-doa-nya, khususnya bagi saudara-saudari yang dengan tekun dan teratur melakukan devosi kepada Hati Kudus Yesus: 

O Guru yang terkasih, oleh Hati-Mu yang tertikam, aku berdoa agar Engkau menikam hatiku dengan anak-anak panah kasih-Mu sehingga hatiku tidak lagi menghargai hal duniawi apa saja, melainkan dipenuhi hanya dengan kuasa Allah, Bapa-Mu [Brian Moore SJ [compiler], The Saviour’s Heart – an anthology, no. 34, hal 42-43]

“Tuhan, aku mempersembahkan kepada-Mu airmataku, yang dipersatukan dengan airmata-Mu, dalam puji-pujian kepada Bapa-Mu. Tuhan, dalam segala pencobaanku aku berhasrat untuk datang kepada-Mu dan membuat diriku dekat kepada Hati ilahi-Mu, untuk mencari penghiburanku. Jangan pernah tinggalkan aku! Aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, demi cinta kasih kepada Hati ilahi-Mu, Engkau yang menanggung sendiri beban-beban semua orang, buatlah aku mampu memikul beratnya kepedihanku sekarang dengan cinta kasih dan rasa penuh syukur. Tuhan, lindungilah aku dalam penderitaanku, tariklah kepada diri-Mu segala kepedihanku, yang dipersatukan dengan sengsara-Mu. Semoga Engkau akan bersamaku sampai nafasku yang terakhir, sehingga pada saat ajalku tiba, nafasku terakhir, O Yesus, dapat kuhembuskan hanya kepada Hati-Mu [Brian Moore SJ, No. 42, hal. 47-48]. 

Dalam Dictionary of Catholics Devotions terdapat catatan bahwa Gertrudis menerima stigmata, dan hatinya ditikam oleh pancaran sinar yang datang dari Hati Kristus. Dalam kasus Gertrudis dan para suster lain dalam biaranya, devosi kepada Hati Kudus Yesus erat dikaitkan dengan sengsara Kristus, secara khusus kepada luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya. Setelah Gertrudis, sejumlah mistikus dan penulis spiritual lain juga menulis tentang Hati Kristus,  biasanya – namun tidak selalu – mengkaitkannya dengan luka-luka Yesus, dan dengan luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya, tetapi tanpa mengembangkan secara nyata suatu devosi khusus kepada Hati Kristus itu sendiri [Matthew Bunson, hal. 226].

Cilandak, 13 November 2009

(Peringatan Santa Frances X. Cabrini, Ordo III sekular S. Fransiskus, Pendiri Kongegrasi Biarawati)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads