KESAKSIAN TENTANG ANAK ALLAH

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari biasa sesudah Penampakan Tuhan, Jumat 8-1-10) 

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dia yang percaya bahwa Yesuslah Anak Allah? Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Roh-lah yang bersaksi karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab inilah kesaksian Allah, yaitu bahwa Ia bersaksi tentang Anak-Nya. Siapa yang percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; siapa yang tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya kepada kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang  kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1Yoh 5:5-13). 

Iman memang dapat membingungkan pikiran kita. Dalam upaya kita untuk memahami iman secara murni intelektual, kita sebenarnya menghadapi risiko kehilangan iman itu samasekali. Namun apabila Roh Kudus memberikan iman kepada kita – atau meningkatkan iman kita – sebagai suatu karunia atau anugerah, maka hidup kita dapat mengalami perubahan secara radikal. Kuncinya adalah menerima rahmat dan berkat-berkat Allah oleh iman dan memperkenankan rahmat itu untuk mengubah hidup kita. Studi dan pemahaman intelektual memang penting dan kita-kita yang tergolong umat awam patut untuk melakukannya, seandainya tersedia waktu yang cukup untuk itu. Namun semua studi dan upaya belajar teologi dan lain sebagainya tidak pernah dapat menggantikan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. 

Yohanes (penulis surat) menulis suratnya kepada komunitasnya yang telah mengalami suatu perpecahan yang menyakitkan (lihat 1Yoh 2:18-19). Siapa saja yang  telah menyaksikan atau mengalami sakitnya suatu perceraian dapat memahami betapa merusaknya akibat yang dapat disebabkan oleh perpecahan suatu hubungan yang tadinya akrab. Tidak ada lagi yang lebih menyakitkan daripada kepercayaan yang dikhianati. Dalam menanggapi perpecahan yang terjadi dalam komunitasnya, penulis surat ini mendesak para anggota jemaatnya untuk tetap menatap Tuhan Yesus yang akan menolong mereka menjalani suatu masa yang sulit. 

Dalam suratnya itu sang penulis mencoba untuk membawa para pembacanya kembali kepada kebenaran-kebenaran yang paling mendasar, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah (lihat 1Yoh 5:5). Penulis mendorong anggota komunitasnya agar tidak hanya menerima kebenaran ini secara intelektual, melainkan juga mempercayainya berdasarkan testimoni-testimoni yang telah mereka dengar dan yang telah membangun iman dalam diri mereka. Sang penulis mengingatkan mereka bahwa iman adalah suatu hubungan dengan Allah yang bertumbuh dengan berjalannya waktu selagi kita mengalami kasih-Nya dan menaruh kepercayaan kita pada-Nya. 

Tanpa iman yang hidup, kita tidak akan pernah mampu untuk mengatasi dosa atau mengalami kedalaman kasih Allah. Testimoni-testimoni yang ada – air baptis; darah Yesus dalam Ekaristi; dan Roh Kudus yang membimbing kita kepada Kristus – semua bekerja sama untuk membawa agar iman hidup dalam diri kita. Marilah kita membuka hati kita bagi Allah, percaya bahwa Dia akan semakin memenuhi diri kita. Janganlah kita menganggap diri kita sudah cukup dipenuhi oleh-Nya, seperti dikatakan orang di negeri seberang sana: “We can never get enough of the Holy Spirit.” 

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya. Tolonglah ketidakpercayaan kami. Tolonglah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu secara penuh. Pimpinlah kami hari ini. Berbicaralah kepada kami. Hiburlah kami. Di atas segalanya, tolonglah kami agar mampu mengasihi Yesus setulus-tulusnya dan percaya kepada-Nya sepenuhnya. Amin. 

Cilandak, 2 Januari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads