SALIB KRISTUS SEBAGAI TANDA KEMENANGAN UMAT KRISTIANI

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *) 

 “…Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah  kekuatan Allah. …… Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:17-18. 21-25). 

Pada hari Yesus disalibkan, barangkali hanya ada segelintir orang saja yang sungguh memahami makna sesungguhnya dari peristiwa tersebut. Satu contoh adalah iman-kepercayaan sang kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Yesus Tersalib dan melihat-Nya menghembuskan napas terakhir, di mana dia berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:39). Sebuah contoh lain adalah pertobatan si ‘penjahat yang baik’ (Luk 23:42-43). Ada pula murid yang dikasihi Tuhan yang berdiri dekat salib bersama Bunda Maria, siap untuk menerima Maria sebagai bundanya (Yoh 19:26-27). Dalam hal Maria, pastilah sudah sejak awal ia mendapat informasi dari Santo Yusuf mengenai berita yang menyangkut Puteranya yang akan membawa keselamatan bagi dunia (Mat 1:20-21), hal mana diimaninya selama kehidupan Yesus di dunia. Namun demikian, bagi sebagian besar orang yang ada di bukit Kalvari pada hari itu, yang terlihat hanyalah tiga orang yang dihukum dengan penyaliban karena kejahatan yang mereka telah lakukan (atau tidak lakukan). 

SALIB KRISTUS ADALAH KARUNIA DARI ALLAH 

Dua ribu tahun kemudian, kita juga memandang Yesus yang terpaku di kayu salib – di gereja-gereja, di rumah-rumah keluarga Kristiani, di sekolah-sekolah Kristiani dan sebagainya – dan kita diundang untuk memandang Dia dengan iman sama dengan iman-kepercayaan yang memberi inspirasi kepada Maria, Yohanes, si kepala pasukan dan si penjahat yang bertobat. Dengan mata-iman, kita dapat melihat hati Bapa surgawi pada saat Ia menyerahkan Putera-Nya yang tunggal untuk keselamatan kita. Kita dapat melihat darah Yesus yang mengalir dengan begitu bebas, membersihkan dosa-dosa kita dan mendamaikan kita dengan Allah. Dalam memandang Tuhan yang tersalib, kita dapat bersukacita mensyukuri keselamatan kita. Salib Kristus adalah karunia atau anugerah yang diberikan Allah kepada kita dalam Kristus. Melalui salib Kristus kita dapat memahami dan mengalami kebebasan dari dosa, keiikutsertaan dalam kemenangan Kristus dan kuasa atas apa saja yang menghalangi kepercayaan kita atas Penyelenggaraan Ilahi. Tentunya semakin kita bertumbuh dalam pemahaman atas segala yang tersedia dalam karunia ini, semakin mendalam pula pengalaman kita akan kasih Allah Bapa dan Roh Kudus yang hadir dalam hati kita. 

SALIB KRISTUS DALAM TERANG KEBANGKITAN 

Manakala kita berbicara mengenai salib Kristus, seringkali kita mengacu pada balok-balok kayu yang digunakan sebagai instrumen kematian Yesus. Namun kalau kita menyelidiki Kitab Suci dan membaca tulisan-tulisan para Bapak Gereja, kita mulai memperoleh pandangan yang lebih luas, suatu perspektif yang mencakup keseluruhan drama keselamatan kita – inkarnasi Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga. Salib Kristus pada intinya merupakan kesaksian akan cintakasih Allah yang dicurahkan kepada umat manusia, yang mempunyai kuasa untuk mentransformasikan hidup mereka, pribadi lepas pribadi. Pesan inilah yang ingin kita geluti dalam tulisan ini. 

Terlalu sering kita cenderung untuk memandang salib hanya dari aspek penderitaan/ sengsara Yesus dan kematian-Nya. Kita mungkin memikirkan bagaimana Dia dijatuhi hukuman secara tidak adil, atau kita dapat saja meratapi berbagai ‘salib’ yang harus kita panggul dalam hidup kita. Kita juga mungkin memiliki pandangan tentang Allah Bapa yang memperkenankan Putera-Nya mati di kayu salib, sebagai seorang hakim berhati dingin, yang keprihatinan utamanya adalah keadilan dan pemberikan hukuman. Lain halnyalah apabila kita memandang salib Kristus dalam terang kebangkitan-Nya. 

Kalau kita memandang salib Kristus dalam terang kebangkitan-Nya dan dalam terang hasrat Allah untuk menarik semua orang kepada diri-Nya, maka kita mulai dapat melihat bagaimana cintakasih Yesus bagi kita telah menggerakkan-Nya untuk menyerahkan hidup-Nya sendiri guna membawa kita kepada keselamatan. Bersama Santo Paulus kita menghargai Kristus sebagai “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1Kor 1:24). Dalam salib Kristus kita melihat kemenangan atas dosa dan kematian, juga kekalahan dari kuasa-kuasa kegelapan – baik di dunia maupun dalam hati manusia. Hal ini tentunya menyebabkan kita layak merenungkan bagaimana salib sebagai instrumen penyiksaan/kematian sesungguhnya membawa sukacita ke dalam hati orang-orang percaya – bahkan sampai pada titik ‘bermegah dalam salib Kristus’ sebagaimana diungkapkan oleh kesaksian Santo Paulus sendiri: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14). 

KUASA SALIB 

Seturut pemikiran dan iman Santo Paulus, dari generasi ke generasi, kepada umat Kristiani diajarkan bahwa ‘diri kita yang lama’ disalibkan bersama Kristus pada waktu kita dibaptis: 

“… tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm 6:3-6). 

Dalam kematian Yesus, dosa itu sendiri ditaklukkan. Dalam kebangkitan-Nya, dicurahkanlah suatu hidup cintakasih dan kebebasan yang baru. Yesus mencurahkan darah-Nya demi pengampunan dosa-dosa kita, dan di kayu salib Ia menyerahkan hidup-Nya demi membebaskan kita dari cengkeraman kuasa dosa itu. Dengan perkataan lain, oleh kuasa darah-Nya dosa-dosa kita diampuni, dan oleh kuasa salib diri kitalah yang dimerdekakan. Manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus!

Ini adalah keyakinan-membanggakan yang telah terpelihara dalam Gereja sepanjang 2.000 tahun lamanya. Namun di sisi lain kita juga mengetahui dan dapat membuktikan bahwa tarikan-tarikan dari manusia-lama kita untuk kembali ke dalam situasi kedosaan adalah suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun, termasuk oleh mereka yang tergolong sebagai imam tertahbis dan/atau para religius lainnya. Jadi sebenarnya ada semacam proses tarik-menarik yang berkesinambungan antara dua kekuatan itu. Dengan demikian, bagaimana kita akan merekonsiliasikan keduanya? Apakah orang-orang Kristiani hanyalah orang-orang munafik yang perlu dikasihani? Apakah ada sesuatu makna lebih mendalam dari salib, suatu misteri yang tidak dapat dicerna sekadar oleh akal-budi manusia? 

Pengalaman kita akan kuasa salib itu adalah berdasarkan iman. Kita percaya hal itu benar karena Allah telah menyatakannya kepada Gereja melalui kematian dan kebangkitan Putera-Nya. Kita percaya akan hal itu karena Santo-santo Petrus, Paulus, Yakobus, Yohanes dan para kudus yang tak terbilang jumlahnya selama berabad-abad lamanya telah menjadi saksi-saksi akan kuasa salib ini dalam hidup mereka. Kita pun dapat melihat buah-buah yang dimanifestasikan dalam apa yang diwartakan (dikatakan) dan dilakukan oleh para kudus ini. 

Penebusan adalah karunia Allah yang diberikan secara bebas, mengalir dari Hati Allah dengan cintakasih yang tak terbatas, karena Dia adalah kasih [1Yoh 4:8.16]. Kuasa salib ini tersedia secara bebas bagi orang-orang yang membuka diri untuk menerimanya. Patut juga dicatat di sini bahwa kuasa salib tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang tergolong superstars dalam hidup kerohanian. Mengapa? Karena Allah memiliki hasrat agar semua orang mengenal kuasa salib ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kristus telah melakukan ‘apa yang harus dilakukan-Nya bagi kita’. Sekarang, dalam iman, kita dapat menerima manfaat-manfaat dari apa yang telah dilakukan oleh Yesus itu, yaitu dengan berdoa sambil merenungkan cintakasih-Nya dan berupaya serius untuk taat kepada perintah-perintah-Nya. 

PERANAN SALIB DALAM KEHIDUPAN SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI 

Fransiskus adalah manusia salib (a man of the cross). Seorang Fransiskan dari Filipina,  Pater Antonio-Maria Rosales OFM, menulis bahwa Fransiskus adalah a man of the cross. Banyak lukisan dan ikon menggambarkan dia dengan sebuah salib. Kita juga mengetahui dari berbagai riwayat hidupnya yang pertama-tama, bahwa awal pertobatan Fransiskus sangat erat berhubungan dengan salib San Damiano. Dan … hanya dua tahun sebelum kematiannya  dia menerima stigmata di La Verna, mengubahnya menjadi sebuah cerminan hidup Sang Tersalib.[1] Salib TAU  bagi Fransiskus bukanlah sebagai wujud ikut-ikutan ‘mode’ pada masa itu, melainkan sebagai pengungkapan ketaatannya kepada Paus Innocentius III dan kesetiaan penuh pada pokok-pokok reformasi yang diusulkan dan dimulai oleh Konsili Lateran IV. Bagi Fransiskus dan para saudara di awal-awal gerakan Fransiskan, Salib Kristus mengandung makna yang jauh lebih agung daripada sekadar lambang yang bersifat sentimental. Mereka memiliki kehausan yang sangat (dan gila-gilaan) akan kemiskinan, penderitaan, dan bahkan kemartiran sebagai penghayatan salib yang konkrit. Dengan demikian, pada akhirnya Salib menjadi satu lagi kunci guna memahami spiritualitas Fransiskus. Di sinilah kita melihat kaitan antara ‘doa Fransiskus di depan Salib San Damiano’ dan ‘doa ADORAMUS TE.’ 

Perjumpaan Fransiskus dengan Sang Tersalib di gereja San Damiano. Dalam ‘Doa  di depan Salib’ yang terjadi di gereja San Damiano itu Fransiskus berserah-diri sepenuhnya kepada Allah. Pada kesempatan itu dia menghaturkan permohonan agar Allah menerangi kegelapan hatinya, memberinya tiga keutamaan teologal (iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna) serta perasaan yang peka dan budi yang cerah agar dia dapat mengenali perintah atau kehendak Allah dan melaksanakannya. 

Di gereja yang sudah rusak berat itu Fransiskus mendengar suara yang diucapkan lewat bibir Yesus yang tersalib: “Hai Fransiskus, tidakkah kaulihat betapa reyot rumah-Ku? Jadi, pergilah memperbaikinya bagi-Ku!” (Kisah Tiga Sahabat [K3S] 13). Tentu jelas bahwa saat itu bukanlah untuk pertama-kalinya Fransiskus memandangi Salib Kristus. Namun tentu pula pengalamannya tidak banyak berbeda dengan pengalaman kita semua. Kita sudah begitu terbiasa melihat Salib Kristus: kita melihat salib itu  dalam gambar-gambar yang indah; kita memakainya dengan kalung; menggantungkannya di dinding-dinding rumah kediaman kita dan lain sebagainya, namun tanpa pernah mengalami sentuhan rohani sama sekali. 

Akan tetapi pada hari yang istimewa di gereja San Damiano itu, Fransiskus dicerahkan oleh Roh Kudus sehingga mampu memandang wajah sejati dari Kristus tersalib; wajah hidup yang sederhana namun memancarkan keindahan yang penuh keagungan. Kenyataan itu mempesona Fransiskus, ternyata Allah mempunyai wajah, dan Ia memandang dunia manusia dengan menggunakan mata manusia, dan Ia berbicara kepada kita dengan memakai kata-kata manusia. Lagi pula sikap diam Sang Tersalib di San Damiano itu, bagi Fransiskus menjadi Sabda yang menusuk hatinya dan menghancurkan segala paradigma lama yang dianutnya sampai saat itu. Bagi Fransiskus peristiwa San Damiano merupakan pengalaman rohaninya yang menentukan, ketika secara tiba-tiba dia disadarkan, bahwa Allah adalah Kasih yang disalibkan. Sejak saat itu pula salib Kristus atau ‘Kristus yang tersalib’ tidak pernah hilang dari kehidupan (spiritual)nya. 

Perjumpaan pertama Fransiskus dengan Tuhan di gereja San Damiano diikuti dengan suatu penugasan, suatu perutusan. Fransiskus yang pada waktu itu hidup sebagai seorang pertapa, mulai memperbaiki sejumlah gereja kecil di sekitar Assisi. Seakan-akan suara hatinya mengatakan: “Betapa teganya kamu membiarkan Tuhan yang tersalib diam di tempat yang sangat menyedihkan seperti itu?! 

Hakekat doa Kristiani. Untuk menghindari kesalah-pahaman, haruslah dicamkan bahwa doa Kristiani bukanlah suatu kultus/pemujaan terhadap rasa-sakit dan kepedihan. Bagi Fransiskus, salib bukanlah suatu obsesi yang tidak waras, dan penderitaan bukanlah suci pada dirinya, karena penderitaan pada dirinya adalah suatu kejahatan dan skandal. Yang membuat Fransiskus terpesona bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan hanya cintakasih Kristus yang diungkapkan dan dinyatakan dalam sengsara dan wafat-Nya. Baginya salib Kristus di Kalvari itu seperti api yang menerangi semua dimensi lainnya dari Kabar Baik. Salib adalah rekapitulasi dari segala yang dikatakan dan dilakukan Kristus. 

Bagi Fransiskus kebenaran-kebenaran iman tidak lepas dari Salib Kristus. Manakala melakukan meditasi atas kebenaran-kebenaran iman, Fransiskus tidak melihat kebenaran-kebenaran iman tersebut sebagai bagian yang terpisahkan dari pusat pemberi terang, yaitu Salib Kristus. Pada Salib Kristus itulah maut mengalami kematian, dan kehidupan menang-berjaya. Pada Salib Kristus, Fransiskus melihat cintakasih Allah kepada umat manusia yang begitu luarbiasa besar dan agungnya. Pada Salib Kristus itu pula dia melihat betapa dalamnya kita-manusia dapat jatuh karena dosa; kita menolak untuk melihat terang, bahkan dengan membuang jauh-jauh hidup Ilahi dari dalam jiwa kita. Inilah petikan sebagian dari Petuah-nya [Pth]: 

Ingatlah, hai manusia, betapa unggulnya kedudukan yang diberikan Tuhan Allah kepadamu: Ia telah menciptakan dan membentuk engkau sesuai dengan gambar Putera-Nya yang terkasih menurut badan, dan sesuai dengan keserupaan-Nya menurut roh.

Akan tetapi semua makhluk di bawah kolong langit, sesuai dengan kodratnya, mengabdi, mengakui dan menaati Penciptanya lebih baik daripada engkau. Bahkan setan-setan pun tidak menyalibkan Dia; tetapi engkau bersama mereka sudah menyalibkan Dia, dan engkau masih manyalibkan Dia dengan mencari kenikmatan dalam cacat cela dan dosa-dosa. Karena itu, apa yang dapat kaubanggakan? ………………………… Atas hal ini kita dapat berbangga: atas kelemahan-kelemahan kita dan setiap hari memikul salib suci Tuhan kita Yesus Kristus [Pth V: 1-4.8]. 

Namun demikian, Fransiskus juga melihat betapa berharga kita di mata Allah karena Dia menebus kita dengan ‘biaya’ yang begitu besar. Pada Salib Kristus, Fransiskus melihat, baik salib maupun kemuliaan, kematian maupun kehidupan; Kristus yang disalibkan kemarin namun hidup hari ini. Sejak saat itu, orang kudus ini menjalani kehidupannya di bawah terang Kristus, Penyelamatnya dan Tuhannya. Jadi pengalaman Fransiskus yang hidup dan gamblang di gereja kecil San Damiano memberikan kepadanya suatu kesan mendalam, sehingga sangat mempengaruhi hidupnya sampai saat kematiannya. Gara-gara begitu terinspirasikan oleh salib San Damiano, maka sejak saat peristiwa penting itu Fransiskus mempraktekkan devosi yang istimewa kepada Salib Kristus. 

Doa ADORAMUS TE.  Ini adalah doa kedua yang disusun oleh Fransiskus, yang juga menyangkut Salib Kristus. Doa itu kelihatannya didokumentasikan dengan baik karena dapat ditemukan dalam semua riwayat hidup Fransiskus. Orang kudus ini malah memuat doa ini dalam Wasiat-nya. Seperti kita ketahui Wasiat Fransiskus (Was) disusun tidak lama sebelum dia meninggal dunia: “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci” (Was 5).

Seorang pengarang riwayat hidup Fransiskus yang pertama (1Cel), Beato Thomas dari Celano menguatkan sifat universal dari adorasi Fransiskus kepada Salib Kristus dengan menggunakan doa pendek ini. Dia juga begitu takjub terhadap cara orang kudus ini dan para pengikutnya yang pertama dalam mempraktekkan doa singkat Adoramus te di mana-mana: 

……… di mana saja gereja berdiri, mereka membungkuk sampai ke tanah, pun kalau mereka tidak berada di sana tetapi bagaimana pun juga melihatnya dari jauh dan dengan menundukkan badan dan jiwa ke arahnya, mereka menyembah Allah yang Mahakuasa sambil berkata: “Kami menyembah Engkau, Kristus, (di sini) dan di semua gereja di seluruh dunia,” sebagaimana telah diajarkan bapak suci kepada mereka. Dan yang tidak kurang menakjubkan ialah bahwasanya mereka melakukan itu pula di mana saja mereka melihat salib atau tanda salib, entah di tanah entah di dinding, entah di pohon entah di pagar-pagar jalan (1Cel 45). 

Indikasi paling kecil saja akan keberadaan sebuah salib menginspirasikan Fransiskus dan para pengikutnya untuk menyembah Tuhan mereka, sehingga dengan demikian ‘liturgi’ mereka tidak terbatas pada sebuah tempat penyembahan. Dengan cara ini Fransiskus tidak hanya memperlebar ruang lingkup bentuk liturgis kata-kata, namun juga memperluas tempat riil dari penyembahan liturgis. Bagi para saudara dina, seluruh dunia menjadi sebuah tempat penyembahan. Doa Adoramus te yang digunakan para saudara dalam gereja-gereja dan di lapangan terbuka, memberi pertanda atau merupakan tanda awal tentang liturgi kosmik yang akan dikembangkan di kemudian hari oleh Fransiskus dalam ‘Nyanyian Saudara Matahari’. 

RELEVANSI SALIB KRISTUS

Melalui devosinya kepada Salib Kristus, dan hidup seturut Injil Tuhan, kuasa Salib dan berbagai karunia lain yang dianugerahkan-Nya kepada Santo Fransiskus dari Assisi telah memampukan hidup orang kudus ini untuk sungguh berbuah-limpah, hal mana sampai sekarang masih dapat dirasakan dengan nyata oleh Gereja. 

Kuasa Salib Kristus ini tersedia bagi kita semua melalui iman. Kita harus yakin bahwa dalam baptisan kita telah dibuat menjadi orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Seandainya dalam situasi tertentu, misalnya dalam sebuah situasi konflik-keluarga, kita tergoda untuk marah, merasa takut atau pun dihantui oleh pikiran-pikiran yang mendatangkan kecemasan, kita dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Kebenaran agung ini tidak hanya berbicara mengenai kebebasan kita dari dosa, melainkan juga kehadiran Kristus yang penuh cintakasih dalam diri kita. Hal ini dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk melawan segala macam godaan, dan pada akhirnya kita pun dapat mengalami kemenangan  kebangkitan Kristus. 

Mungkin saja kita tidak merasakan adanya kebebasan secara istimewa pada waktu kita berdoa di depan Salib Kristus, agar dengan kuasa-Nya kita ditolong dalam menghadapi situasi pelik itu. Artinya kita belum merasa merdeka benar! Namun demikian, dalam iman kita pantas merasa yakin bahwa Allah akan selalu mendengarkan doa-doa umat-Nya dan memberikan kepada mereka kebebasan sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna [lihat Luk 18:7-8]. Kita harus bertekun dalam hidup doa kita dengan keyakinan kuat bahwa Salib Kristus memiliki kuasa yang menyelamatkan. Dengan tak bosan-bosannya kita juga harus mohon diberikan kepekaan terhadap gerakan-gerakan Roh. 

Misalnya, ketika sedang merayakan Ekaristi, baiklah kita panjatkan permohonan kepada Allah agar Roh-Nya mencerahkan kita untuk dapat lebih meresapi kata-kata yang diucapkan oleh Imam Selebran dalam perayaan Ekaristi tersebut. Beberapa contoh: 

  1. “Sebab sengsara Putera-Mu sungguh mendatangkan keselamatan. Secara amat meyakinkan, pada salib tersingkaplah hukuman dunia, dan bersinarlah kuasa Penyelamat yang menyerahkan diri bagi kami. Bahkan seluruh dunia mulai menyadari bahwa keagungan-Mu pantas dipuji” (Prefasi Sengsara I – Kekuatan Salib). 
  2. Karena wafat-Nya, kami dibebaskan dari kematian kekal, dan dalam kebangkitan-Nya, kehidupan semua orang dibangun kembali dan dipugar dengan semangat dan harapan baru. Sebab berkat wafat dan kebangkitan Kristus suatu angkatan baru putera-puteri cahaya dilahirkan untuk kehidupan abadi, dan bagi para beriman dibukakan kembali pintu gerbang kerajaan surga” (Prefasi Paskah II – Hidup Baru dalam Kristus). 
  3. “Dengan mempersembahkan tubuh-Nya di kayu salib, Ia menggenapi kurban-kurban Perjanjian Lama. Dan ketika menyerahkan diri kepada-Mu demi keselamatan kami, Ia bertindak serentak sebagai imam, altar dan kurban” (Prefasi Paskah V – Kristus Imam dan Kurban). 
  4. “Sebab terdorong oleh belas kasih-Nya terhadap kami yang tersesat, Ia sudi lahir dari Santa Perawan Maria; berkat sengsara-Nya di kayu salib, Ia membebaskan kami dari kematian kekal; dan berkat kebangkitan-Nya dari alam maut, Ia menganugerahi kami hidup abadi” (Prefasi II Hari Minggu Biasa – Misteri Keselamatan). 
  5. “Sebab ketika mengadakan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya, Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai Anak Domba tak bernoda dan sebagai kurban pujian sempurna yang berkenan pada-Mu. Kurban salib yang membawa keselamatan itu kami kenangkan untuk selama-lamanya” (Prefasi Ekaritsti I – Buah-buah Ekaristi). 
  6. “Sebab, berkat kasih-Nya yang tak terhingga, Ia telah menyerahkan diri bagi kami ketika Ia ditinggikan di kayu salib. Lambung-Nya ditikam dengan tombak dan mengalirlah darah serta air yang melambangkan sakramen-sakramen Gereja. Oleh hati Penebus yang terbuka itu semua orang ditarik dan diundang menimba kegembiraan dari sumber keselamatan” (Prefasi Hati Yesus I – Misteri Kasih Tuhan). 
  7. “Ia telah menghampakan diri dan menumpahkan darah-Nya di kayu salib, guna memperdamaikan segala sesuatu dalam diri-Nya. Oleh karena itu, Engkau mengangkat Dia menjadi raja semesta alam dan penyelamat bagi semua yang taat kepada-Nya” (Prefasi Umum I – Segala Sesuatu Dibarui dalam Kristus). 

Dalam menjalani proses pengakraban diri kita dengan Salib Kristus yang ditopang oleh semangat pertobatan yang sejati, maka kita pun akan mengalami cintakasih Bapa surgawi, keselamatan oleh Yesus Kristus dan kuat-kuasa Roh Kudus dengan semakin intens. Oleh Darah dan Salib-Nya, Kristus akan memerdekakan kita. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tinggal dalam rumah selama-lamanya. Jadi, apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:34-36). Kemerdekaan atau kebebasan ini datang dengan ‘biaya yang besar’, namun itu adalah suatu ‘biaya’ atau ‘harga’ yang dibayar Kristus bagi kita. Melalui baptisan ke dalam kematian-Nya, kita dimerdekakan dari perbudakan dosa. Melalui kuasa Salib – yang kita praktekkan dalam iman setiap hari – kita pun mengetahui secara bertahap, martabat dan sukacita sebagai anak-anak Allah. 

Ketika ditolak – bahkan dianiaya – oleh orang-orang sebangsanya (Kis 13:50; 14:4-6.19) Santo Paulus terus-menerus berpaling kepada Salib Kristus untuk memperoleh penghiburan dan kekuatan. Ia mengingat kembali bagaimana Yesus berdoa dari atas kayu salib bagi pengampunan mereka yang menyebabkan kematian-Nya di kayu salib [Luk 23:34]. Hal serupa dilakukan oleh para kudus lainnya yang tak terbilang jumlahnya. Hal yang sama pula yang kita semua – anda dan saya – harus lakukan! 

CATATAN PENUTUP 

Berikut ini adalah sebagian dari ‘Litani Kepada Salib Kristus’ yang tradisional. Ambillah beberapa untuk dimasukkan ke dalam doa anda, dan mohonlah kepada Tuhan untuk membuka mata hatimu lebih lebar lagi agar mampu melihat harta-kekayaan dan janji-janji yang diberikan kepada kita melalui tanda indah keselamatan kita ini, yaitu Salib-Nya.

Salib Suci, pengharapan umat Kristiani, selamatkanlah kami.

Salib Suci, jaminan kebangkitan orang-orang mati, selamatkanlah kami.

Salib Suci, jalan bagi mereka yang telah hilang (menyimpang dari jalan yang  benar),      selamatkanlah kami.

Salib Suci, hiburan bagi orang-orang miskin, selamatkanlah kami.

Salib Suci, pengekangan terhadap orang-orang berkuasa, selamatkanlah kami.

Salib Suci, tempat pengungsian bagi para pendosa, selamatkanlah kami.

Salib Suci, tanda kemenangan atas neraka, selamatkanlah kami.

Salib Suci, tempat peristirahatan orang-orang yang menderita, selamatkanlah kami.

Salib Suci, yang diwartakan oleh para nabi, selamatkanlah kami.

Salib Suci, yang dikhotbahkan oleh para rasul, selamatkanlah kami.

 Cilandak,  10 Agustus 2009 (Pesta Santo Laurensius, Diakon-Martir)


*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1] Mengenai hubungan Fransiskus dan Salib Kristus, bacalah tulisan  Sdr. Frans X. Indrapradja OFS, KRISTUS YANG TERSALIB DAN SANTO FRANSISKUS, dalam Perantau – Majalah Intern Fransiskan Indonesia, Th. XXIV, No. 2, Maret-April 2001, hal. 63-73.

About these ads