HAL MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Rabu 30-9-09) 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:57-62) 

Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”  (Luk 9:51)! Yesus tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua, para murid-Nya. Ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana. 

Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekedar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. Yesus tahu bahwa sebagai para murid-Nya yang mengemban misi-Nya, kita menghadapi berbagai macam halangan dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal yang disediakan bagi kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (‘ditakdirkan’) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. 

Memang perjalanan Yesus ke Yerusalem akan ‘berakhir’ dengan kematian-Nya. Dia selalu mengajarkan kepada para murid, bahwa mengikut Dia melibatkan suatu ‘biaya’ yang sangat besar. Dia menggunakan tiga macam ‘ibarat’ untuk membantu para pendengar-Nya melihat kerajaan Allah dari sudut-pandang yang baru. Pertama-tama Yesus mengatakan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Pernyataan Yesus ini janganlah diartikan secara harfiah karena Yesus cukup sering diundang orang-orang berada dan menikmati hospitalitas mereka. Pernyataan Yesus di sini ditujukan kepada sesuatu yang lebih mendalam, yaitu masyarakat manusia (pemerintah dan orang-orang seiman dengan-Nya) yang akan menolak-Nya dan pada akhirnya membunuh Dia. Penggunaan ‘ibarat’ yang kedua adalah ketika Yesus mengatakan: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Penguburan orang mati merupakan suatu kewajiban sakral dalam agama Yahudi, namun yang dimaksudkan Yesus adalah supaya orang-orang mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Yesus tidak bermaksud untuk membebaskan seseorang dari kewajiban menguburkan orang-orang yang dikasihinya. Yang mau ditekankan Yesus adalah, bahwa hal mengikut Dia itu lebih fundamental daripada kewajiban keagamaan lainnya. ‘Ibarat’ yang ketiga memberi kesan seakan-akan para pengikut-Nya tidak diperbolehkan untuk say goodbye secara formal kepada anggota keluarga mereka (Luk 9:61). Dalam hal ini, semoga kita tidak lupa bahwa nabi Elisa saja diperkenankan untuk say goodbye kepada ayah-ibunya sebelum mengikuti nabi Elia (1Raj 19:19-21). 

Ketiga macam ‘ibarat’ ini sebenarnya mengajak kita semua untuk memusatkan perhatian kita pada kenyataan betapa agungnya panggilan Kristus dan bagaimana kita harus menanggapi panggilan tersebut tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi kita sebagai turunan Adam, kita memang suka tergoda untuk menghitung-hitung berbagai kemungkinan untung-rugi pengambilan keputusan kita ……, dalam hal ini kita sering memandang ‘biaya pemuridan’ yang ada di depan mata dan dibuat ‘jeri’ olehnya. Sebagai murid Yesus, begitu banyak rintangan – besar dan kecil – yang harus kita hadapi. Sesungguhnya Yesus menawarkan kepada setiap orang suatu hidup baru yang penuh sukacita dan lengkap, tetapi terwujud dalam suatu ‘pemisahan total’ dari keberadaan orang itu sebelumnya. Jadi para murid meninggalkan segalanya untuk mengikut Yesus atas dasar satu alasan, yaitu bahwa yang ditawarkan-Nya jauh lebih baik daripada yang mereka miliki (lihat Yoh 6:68). 

Santo Hieronimus. Pada hari ini –  hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci Nasional – kita memperingati seorang kudus besar di bidang perkitabsucian, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja (c.342-420). Dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benedictus XV mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya. Cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luarbiasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan ‘menghantam’ para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu. Hieronimus pertama-tama dan terutama adalah seorang pakar Kitab Suci. Ucapannya yang terkenal adalah: “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” Dia menulis banyak tafsir Kitab Suci yang sungguh merupakan sumber inspirasi bagi generasi-generasi kemudian. Dia juga sempat berfungsi sebagai penasihat para rahib, uskup maupun Sri Paus. 

Agar mampu melakukan tugasnya ini, Hieronimus telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia menguasai bahasa Latin, Yunani, Ibrani dan Khaldea. Karya utama Hieronimus adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin dan revisi Perjanjian Baru berbahasa Latin. Pekerjaan ini memakan waktu sekitar 15 tahun (c.390-405), namun hasil karyanya itu digunakan lebih dari seribu tahun lamanya di Gereja barat. ‘Kantor resmi’ atau ‘posko’ Hieronimus yang terakhir adalah sebuah gua di Betlehem. 

Jalan Hieronimus menuju Betlehem yang mengikuti pola zigzag adalah bagus sebagai pelajaran bagi setiap orang Kristiani yang mau menemukan cara terbaik untuk menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Allah dalam dunia yang terus berubah. Teristimewa bagi kita kaum awam yang harus berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan kepada kehidupan doa di tengah-tengah kesibukan berbagai urusan keluarga, pekerjaan sosial dan lain-lainnya. Antara lain melalui upaya-upayanya dan kegagalan-kegagalannya, Allah terus-menerus membimbing Hieronimus selagi dia berjalan menuju suatu kehidupan yang dengan seimbang memasukkan ke dalamnya (1) panggilan untuk suatu hidup doa yang membutuhkan keheningan, maupun (2) panggilan untuk berinteraksi dengan dunia. Dengan demikian, kita juga dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh Kudus akan membimbing kita melalui kompleksitas panggilan kita masing-masing. 

DOA: Bapa surgawi, Allah sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati Santo Hieronimus telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mendorong kami, umat-Mu, untuk semakin menimba kekuatan dari firman-Mu dalam Kitab Suci dan memperoleh sumber kehidupan di dalamnya. Bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi yang disediakan bagi kami. Semoga visi ini mendorong kami untuk tetap melangkah maju dalam perjalanan ziarah kami di dunia ini. Amin. 

Cilandak, 29 September 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads