PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MELAYANI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Jumat 18-9-09) 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka (Luk 8:1-3). 

Kalau berurusan dengan Allah, segalanya yang diharapkan manusia dapat menjadi berantakan – jauh dari harapan, dan hal-hal yang tidak diharapkan serta tak terbayangkan sebelumnya malah terjadi dan menjadi sebuah pengalaman baru: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8-9). 

Putera Allah menjadi seorang manusia dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14). Ia diberi nama Yesus oleh Yusuf, ayah asuhnya (Mat 1:25). Kehidupan pelayanan Yesus memperluas batasan-batasan dari apa yang diharapkan manusia dari seorang Mesias. Ia berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah (Luk 8:1). Kabar baiknya cukup mengagetkan: Allah berniat untuk menyelamatkan setiap orang – bukan hanya yang pantas, bukan saja yang setia, bukan pula sekadar yang suci-suci mempraktekkan hidup keagamaannya, melainkan setiap orang yang ada di dunia. 

Hal seperti ini sungguh sukar ditangkap oleh pemikiran orang Yahudi, bangsa pilihan Allah. Bahwa Allah akan menebus bangsa-bangsa, termasuk mereka yang tak bermoral, orang-orang kafir yang tidak percaya, memang merupakan sesuatu hal yang tak terpikirkan, namun merupakan suatu kebenaran sampai hari ini. Tidak seorang pun dikecualikan dari cintakasih Allah atau hasrat-Nya untuk mensyeringkan hidup-Nya secara pribadi dan intim dengan manusia. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang berada di luar jangkauan kasih Allah, atau terlalu dalam terbelenggu dalam kedosaan yang tidak dapat ditebus oleh kuasa-Nya. 

Sepanjang sejarah manusia, Allah telah memilih mereka yang tidak berarti di mata dunia untuk menerima dan menjadi saksi Injil. Di awal Injil Lukas kita melihat Perawan Maria memberi tanggapan terhadap panggilan Allah dengan sebuah kidung, yang merupakan afirmasi penuh sukacita dan kesadaran sepenuhnya akan kedinaannya serta keagungan Allah (1:46-55). Injil Lukas juga memuat cerita tentang seorang perempuan pendosa yang mengurapi Yesus di rumah Simon orang Farisi (7:36-50). Injil yang sama memuat sebuah perumpamaan Yesus di mana diceritakan seorang Samaria-lah yang melakukan tindakan belaskasih terhadap seorang Yahudi yang setengah mati karena dirampok di tengah jalan antara Yerusalem dan Yerikho, padahal seorang imam dan seorang Lewi yang telah lewat di tempat yang sama malah menghindar dan tidak memberi pertolongan apa-apa (10:30-37). 

Di mata orang Yahudi dua belas rasul dan para perempuan yang mengikuti Yesus (Luk 8:2) samasekali bukanlah sebuah gambaran ideal rombongan yang mengikuti seorang Raja-Mesias. Ada nelayan, pemungut pajak, perempuan – miskin, golongan marginal secara sosial, dan tidak memiliki latar belakang pendidikan agama. Ini semua tidak sesuai dengan pandangan Yahudi yang berlaku umum pada waktu itu. Bayangkan Yesus dan rombongannya berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain, dan dalam rombongannya terdapat ‘banyak’ perempuan yang melayani rombongan. Yang kita peroleh di sini adalah sebuah gambaran yang radikal di mata orang Yahudi di abad pertama, apalagi di mata para pemuka agama yang sangat menekankan penampilan ‘luar’. Pada zaman Yesus, para perempuan dipandang inferior, baik secara sosial maupun spiritual. Perempuan-perempuan mengikuti seorang rabi ke sana ke mari sungguh merupakan skandal di mata banyak orang. 

Yesus memilih perempuan-perempuan karena seringkali merekalah yang justru terbuka dalam menerima pengajaran-Nya dan paling setia. Mereka mengikuti Yesus ke Yerusalem dan beberapa di antara mereka malah setia berdiri dekat salib Kristus di Kalvari, ketika sebagian besar rasul lelaki (hanya murid yang dikasihi Yesus yang tinggal) melarikan diri karena takut. Kesetiaan para perempuan itu belakangan memperoleh ganjaran: beberapa di antara mereka mendapat privilese sebagai saksi-saksi yang memproklamasikan keajaiban kebangkitan Yesus (24:10). Sejarah mungkin tidak banyak berbicara tentang pribadi-pribadi perempuan itu, namun saya percaya bahwa di mata Bapa surgawi mereka bersinar seperti bintang-bintang cemerlang, memberikan kesaksian atas kuasa yang mengubah dari cintakasih Allah. 

Siapa saja para perempuan yang terus mengikuti Yesus dalam pelayanan-Nya? Meskipun jumlah mereka banyak (8:3), Injil hanya memberikan sedikit informasi tentang mereka. Beberapa dari mereka telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, Maria Magdalena, Yohana, dan Susana (8:2-3). Latar mereka berlainan, lihat misalnya perbedaan antara Maria Magdalena dan Yohana yang adalah istri bendahara raja Herodes. Tali pengikat yang menyatukan mereka dalam persahabatan sejati, pelayanan dan kesetiaan kepada Yesus adalah tentunya Yesus sendiri dan pesan-Nya tentang Kerajaan Allah yang sungguh telah mentransformasikan mereka. Lain daripada para rasul (lelaki) yang mencari-cari prestise (lihat Mrk 10:35 dsj.), para perempuan ini tidak mencari posisi atau menuntut jabatan. Mereka melayani rombongan Yesus dengan harta milik mereka (8:3). Yesus telah menyentuh hati mereka secara begitu mendalam sehingga mereka bersedia bahkan untuk melakukan hal-hal kecil untuk Dia – demi melayani-Nya. Mereka adalah orang-orang yang melepaskan begitu banyak hal yang menyenangkan (kenikmatan) demi melayani Yesus, sebuah contoh indah dari transformasi yang Allah ingin lakukan dalam hati kita masing-masing. 

Kita harus akui bahwa bukanlah kodrat manusia untuk mendedikasikan diri kita dalam ‘pelayanan rendahan’, melayani tanpa kelihatan orang lain (jadi sukar memperoleh kesempatan untuk dipuji-puji). Sebagai turunan Adam, kecenderungan alamiah manusia adalah untuk dilayani dan menghindari pengorbanan diri bagi orang-orang lain. Kebanyakan kita sebisa-bisanya menghindari atau menolak tugas pelayanan seorang abdi/hamba yang menempatkan kebutuhan-kebutuhan orang lain di atas keperluan sendiri, seperti telah dicontohkan dengan baik oleh para perempuan pengikut Yesus ini. Pertanyaan yang selalu kita harus tanyakan kepada diri kita sendiri adalah, apakah kita mau melayani Yesus dengan sikap seperti para rasul lelaki, atau seperti para perempuan itu? 

Sesungguhnya, kita dipanggil untuk melayani seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri, dan yang telah dicontoh dengan baik oleh para perempuan yang mengikuti-Nya. Sebagai pasangan hidup (suami atau istri), orangtua dan anak-anak, kita dipanggil untuk saling melayani dalam kehidupan keluarga. Dalam arti yang lebih luas, kita masing-masing juga dipanggil untuk melayani saudara-saudari anggota lingkungan/wilayah/paroki kita, di tempat kerja kita, dan komunitas-komunitas lainnya. Marilah kita mohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita melayani sesama kita. Dia adalah Tuhan dan Guru kita. Setelah membasuh kaki para murid-Nya pada malam sebelum sengsara-Nya, Yesus bersabda: 

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh 13:13-17). 

Selagi kita melangkah maju dalam iman-kepercayaan kita, Yesus akan memberikan hati yang baru kepada kita masing-masing, hati yang penuh cintakasih kepada sesama. 

Perikop Injil yang cukup singkat hari ini menunjukkan, bahwa hikmat Allah menghancurkan pembatasan-pembatasan dalam pikiran kita. Dalam Yesus, Allah mendamaikan laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, dan lain sebagainya, guna melayani-Nya. Dalam Yesus, kerajaan Allah terbuka untuk selamanya bagi setiap orang, tanpa kekecualian. 

DOA:  Tuhan Yesus, hancurkanlah semua pikiranku, perasaanku dan persepsiku yang penuh dengan bias negatif tentang sesamaku. Perkenankanlah aku berpikir seperti Dikau berpikir, mengasihi seperti Dikau mengasihi, dan memilih jalan dan rencana yang Dikau telah tentukan bagiku sejak kekal. Aku mengakui kekecilanku di hadapan-Mu ya Tuhan Yesus, namun aku percaya, bahwa melalui imanku kepada-Mu, Engkau akan membuatku besar dalam Kerajaan Surga. Amin. 

Cilandak, 14 September 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads