S. KORNELIUS, PAUS DAN S. SIPRIANUS, USKUP – MARTIR-MARTIR ABAD KETIGA 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS *) 

Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1Tim 3:14-16). 

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Rm 8:35.37-39). 

Hari ini, tanggal 16 September,  kita memperingati dua orang kudus martir abad ketiga, yaitu Paus Kornelius (memerintah: 251-253) dan Uskup Siprianus dari Kartago (200-258). Petikan dari ‘Surat Santo Paulus yang pertama kepada Timotius’ adalah bacaan pertama dalam Misa Kudus hari ini. Petikan dari ‘Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma’ adalah bacaan singkat dalam Ibadat Pagi guna memperingati para martir Kristus. 

Gereja berdiri di atas jenazah-jenazah para martirnya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Mereka adalah para saksi iman Kristiani yang siap untuk disiksa, dianiaya dan dibunuh demi iman-kepercayaan kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat mereka. Para martir adalah murid-murid Kristus sejati, para pelaku firman yang sejati. 

Santo Kornelius dipilih menjadi Paus untuk menggantikan Paus Santo Fabian (memerintah: 236-250) yang mati sebagai martir juga. Pada masa itu umat Kristiani (Katolik) berada di bawah pengejaran dan penganiayaan pihak penguasa di bawah Kaisar Decius. Kornelius mengisi kekosongan berkepanjangan dalam pimpinan Gereja, sekitar 14 bulan lamanya. 

Pada masa jabatan Kornelius sebagai Paus ada kontroversi tentang posisi Gereja terhadap mereka yang disebut lapsi, yaitu anggota-anggota Gereja yang karena tekanan penganiayaan, mengkompromikan iman mereka demi survival. Seorang imam yang bernama Novasian kemudian memimpin aliran bidaah karena memandang Paus Kornelius terlalu lembek dalam menangani para  lapsi ini. Namun dalam konflik ini Paus Kornelius didukung oleh sinode-sinode Roma dan Kartago serta para uskup di Timur. Dukungan utama datang dari Siprianus, uskup Kartago. Sampai hari ini masih tersimpan sejumlah surat Paus Kornelius kepada  Uskup Siprianus. Ketika Kaisar Gallus pada tahun 252 meningkatkan pengejaran/penganiayaan terhadap umat Kristiani, Kornelius diasingkan dan mati sebagai martir di Centumcellae (sekarang bernama Civitavecchia). Dia dikuburkan di Roma, di pemakaman Lucina. 

Nama asli Santo Siprianus dari Kartago adalah Thrascius Caecilius Cyprianus. Pemikiran-pemikiran teologisnya banyak dipengaruhi oleh Tertullianus (c.160-c.222). Siprianus lahir di Tunisia. Dia belajar hukum dan menjadi ahli pidato sebelum dibaptis menjadi seorang Kristiani di sekitar tahun 246. Pada tahun 248 Siprianus ditahbiskan sebagai Uskup Kartago. Karena pengejaran dan penganiayaan yang mulai dilakukan oleh Kaisar Trajanus Decius, pada tahun 249 Siprianus – di bawah kecaman banyak orang – melarikan diri dan bersembunyi. Belakangan kelihatanlah bahwa ini adalah suatu taktik Siprianus yang brilian, karena dengan demikian dia masih tetap dapat  memelihara komunikasi dengan umatnya lewat surat-suratnya. Hal ini berarti bahwa dari tempat persembunyiannya Siprianus tetap menggembalakan umatnya. Dia kembali ke Kartago pada tahun 251 dan bekerja lagi sebagai uskup. 

Pada masa pengejaran dan penganiayaan umat Kristiani, banyak umat yang sungguh-sungguh murtad, dalam arti mereka meninggalkan Gereja. Ada juga yang membeli libelli pacis, yakni sertifikat yang menyatakan bahwa seseorang telah memberikan kurban persembahan kepada dewa-dewi Romawi, meskipun pada kenyataannya mereka tidak melakukan hal tersebut. Gereja kemudian menerima kembali mereka ke pangkuannya, setelah orang-orang itu melakukan laku-tobat seperti dipersyaratkan. Siprianus tidak menerima hal seperti ini. Dia juga tidak mendukung bidaah Novasian yang tidak menyetujui ide pembaptisan kembali. Dia membantu Paus Kornelius (memerintah 251-253) dalam berkonfrontasi dengan kaum bidaah Novasian termaksud. Posisinya ini menyebabkan Siprianus kelak ‘bertabrakan’ dengan Paus Stefanus I.[1] 

Bidaah Novasian adalah sebuah aliran bidaah seturut ajaran dari Novasian (+ c. 257-258), seorang teolog dan imam di Roma yang pernah mengarang sebuah risalah (yang masih ortodoks, artinya masih ‘benar’ dari sudut Gereja Katolik) mengenai kodrat Tritunggal. Namun ketika pada tahun 251 Santo Kornelius terpilih menjadi Paus, pada saat itu pula Novasian memperkenankan dirinya dipilih menjadi Uskup Roma sebagai saingan. Dengan demikian dia adalah orang pertama yang menjadi antipaus. Novasian mati selama terjadi pengejaran dan penganiayaan oleh Kaisar Valerianus (memerintah 253-260). Para pengikut Novasian bersikukuh pada kepercayaan mereka, bahwa seorang yang sudah murtad tidak pernah dapat diperkenankan untuk melakukan pertobatan karena menurut mereka dosa-dosa orang murtad di mata Allah tidak dapat diampuni. Aliran bidaah ini dengan resmi dikutuk oleh Konsili Nikea (325), namun masih ada sampai abad ke lima (MB, hal. 595). 

Dalam fungsinya sebagai seorang uskup di Afrika Utara, Siprianus mengambil kebijaksanaan terhadap orang yang telah dibaptis oleh kaum bidaah, untuk dibaptis lagi dalam Gereja Katolik, apabila orang itu masuk ke dalam Gereja Katolik. Namun Paus Stefanus I (memerintah 254-257) memandang kebijaksanaan Siprianus itu keliru, karena Paus ini berpendapat, bahwa sakramen baptis, meskipun dilaksanakan oleh orang sesat, akan tetap sah. Dalam hal ini Siprianus didukung oleh uskup-uskup Afrika, namun kontroversi ini tidak berlanjut karena ada pengejaran dan penganiayaan lagi yang kali ini dilakukan oleh Kaisar Valerianus. Kali ini Siprianus tidak melarikan diri. Ketika dirinya diinterogasi, dengan gagah orang suci ini tidak mau menyebutkan nama-nama para imam yang berada di bawah wewenangnya. Ia menolak untuk melakukan ritus penyembahan kepada dewa-dewi Romawi. Sebelum kepalanya dipenggal, dia berdoa di hadapan para algojo dan banyak penonton. Dia menutup sendiri kepalanya. Siprianus mati sebagai seorang martir di Kartago pada tanggal 14 September 258. 

Santo Siprianus adalah seorang teolog jago yang menulis banyak surat dan risalah. Berbagai korespondensinya memberikan gambaran yang jelas mengenai kejahatan-kejahatan yang terjadi pada masa pengejaran dan penganiayaan umat Kristiani oleh Kekaisaran Romawi. Sebuah risalahnya berjudul De Catholicae Ecclesiae Unitate membahas sifat kesatuan dalam Gereja dan cita-cita kesetaraan kedudukan di antara para uskup. Sebuah risalah lain berjudul De Lapsis, yang secara terinci memuat syarat-syarat kembalinya orang yang sempat ‘murtad’ ke pangkuan Gereja. 

Ada sebuah ucapan Siprianus yang terkenal: “Kamu tidak dapat mempunyai Allah sebagai Bapa-mu, apabila kamu tidak dapat mempunyai Gereja sebagai ibumu” [MB, hal. 244-245]. Berikut ini adalah sebuah petikan dari tulisan orang kudus ini:  

Hukum orang-orang Kristiani adalah salib suci Kristus, Putera Allah yang hidup, seperti nabi juga berkata: Hukum-Mu di dalam dadaku. Ketika Dia dilukai pada bagian lambung di dada-Nya, dari lambung-Nya itu mengalirlah keluar darah bercampur air, darimana Dia membuat bagi diri-Nya sendiri sebuah Gereja di dalamnya. Dia menulis hukum sengsara-Nya, seperti dikatakan-Nya sendiri: Apabila seseorang haus biarlah dia datang kepada-Ku dan minum dan percaya pada-Ku. Seperti ada tertulis, aliran air kehidupan mengalir dari dada-Nya. [2] 

Uraian di atas yang bagi sementara orang mungkin dirasakan bertele-tele, sebenarnya dimaksudkan untuk memberi sedikit gambaran mengenai keadaan Gereja pada zaman itu, karena kalau mau jujur tidak semua dari kita mengetahui potongan-potongan sejarah Gereja dengan baik, apalagi sejarahnya secara menyeluruh. 

Bersekutu dalam kebaktian bersama pada zaman itu tidak dilakukan dengan bebas, melainkan dengan diam-diam dan sembunyi-sembunyi, di bawah ancaman para penguasa yang notabene adalah para penyembah berhala dan anti-Kristiani. Situasi seperti ini dialami Gereja selama kurang lebih tiga abad, karena dimusuhi oleh pihak penguasa Romawi maupun kaum Yahudi yang memandang orang Kristiani sebagai bidaah atau sempalan dari agama yang mereka anut. Bagi para anggota jemaat Kristiani pada zaman itu, apa yang ditulis oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat (Gereja) di Roma seperti yang dipetik di atas bukanlah sekadar huruf-huruf mati, melainkan sudah ‘menjadi daging’. Seakan-akan mereka berkata: “Kami bersama Yesus dan dalam Yesus, siapa takut?” 

Merenungkan bacaan kedua 

 “Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah (agama) kita” (1Tim 3:16). Dengan kalimat ini dimulailah pengakuan iman-kepercayaan sebuah Gereja yang masih primitif itu.  Namun demikian kata-kata yang ditulis Paulus ini mencerminkan kesaksian para anggota Gereja Perdana, mencerminkan apa yang mereka alami dan pahami, sebagai jantung dari hubungan mereka dengan Yesus Kristus: realitas kebangkitan-Nya, pencurahan Roh Kudus-Nya dan tanda-tanda heran lainnya seperti penyembuhan-penyembuhan dan pertobatan-pertobatan yang bersifat dramatis. Credo ini dan pengakuan iman-kepercayaan yang serupa dengannya merupakan upaya-upaya awal umat Kristiani untuk mengungkapkan dengan kata-kata, segala keajaiban-mengagumkan yang mereka alami (lihat 1Kor 15:3-7; Rm 10:9-10). 

Sungguh agung mempesona dan mengagumkanlah Allah kita! Dewasa ini, dalam masa kehidupan kita di abad ke-21 ini, Dia telah dan masih melakukan hal-hal yang mengagumkan. Ia menjawab doa-doa kita, meski kita samasekali tak pantas untuk itu. Ia mencurahkan kebaikan hati dan kerahiman-Nya jauh melebihi apa yang kita sendiri telah tunjukkan. Ia menyembuhkan kita, Ia melindungi kita, Ia campur tangan dalam perkara kita, Ia mencerahkan kita, dan Ia selalu menarik kita agar dapat lebih dekat lagi dengan diri-Nya. Ia masih terus memenuhi janji-janji-Nya yang dahulu sekali telah diberikan-Nya kepada Abraham, Musa dan Daud. Ia terus bekerja untuk membawa sebanyak mungkin orang ke dalam kerajaan-Nya. 

Pasti setiap kita dapat mengingat tindakan (atau tindakan-tindakan) Allah yang menakjubkan dalam hidup kita dan menggerakkan kita untuk mendeklarasikan keagungan-Nya. Cobalah anda ambil waktu sedikit pada hari ini untuk menyusun pengakuan iman-kepercayaan anda secara pribadi. Ini bukanlah untuk menggantikan pengakuan iman-kepercayaan yang sudah ada. Secara sederhana deklarasikanlah apa yang anda ketahui dan yakini tentang Allah, yaitu tentang apa yang telah dilakukan-Nya di dunia dan apa yang dilakukan-Nya bagi anda secara pribadi. Janganlah takut dan jadilah kreatif. Anda dapat membuat iman-kepercayaan yang anda telah susun menjadi sebuah lagu, sebuah doa, sebuah sajak atau sebuah pernyataan iman yang bersifat langsung tanpa berputar-putar. 

Jangan kuatir seandainya pengakuan iman-kepercayaan anda itu kelihatan terlalu pendek,  terasa kurang terinspirasi, atau bahkan kurang memadai. Tujuan penyusunan kali ini bukanlah untuk datang dengan suatu pengakuan iman-kepercayaan yang sempurna. Bukankah Gereja telah memiliki pengakuan iman-kepercayaan yang sempurna?[3] Maksud penyusunan kali ini adalah untuk mengundang Roh Kudus menunjukkan kepada anda sampai berapa jauh anda mengetahui dan memperkenankan Dia membimbing anda ke dalam pemahaman yang lebih mendalam lagi. Sungguh agunglah misteri iman kita: Selagi kita mohon kepada Tuhan untuk mengajar pikiran kita, maka hati kitapun akan mengikuti dalam kasih! 

DOA: Terpujilah Dikau, ya Bapa, untuk cintakasih-Mu! Sungguh agunglah kerahiman-Mu, kebaikan hati-Mu, pengertian-Mu dan segala cara yang Dikau gunakan untuk menunjukkan cintakasih-Mu kepadaku. Aku memuji Dikau untuk pencurahan cintakasih-Mu yang menakjubkan ke dalam hidupku. Amin. 

Cilandak, 13 September 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

[1] Matthew Bunson, Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY [MB], hal. 244-245.

[2] Brian Moore SJ (Compiler), The Saviour’s Heart – An Anthology, no. 52, hal. 61.

[3] Lihat ‘Pengakuan Iman – Syahadat Para Rasul)’ dan ‘Pengakuan Iman – Hasil Konsili Nikea Konstantinopel’ (Puji Syukur No. 1 dan 2).

About these ads