YESUS DIURAPI OLEH SEORANG PEREMPUAN BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Kamis tanggal 17-9-09) 

Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:44-50). 

Bacaan Injil Misa Kudus untuk hari ini sebenarnya lebih panjang, yaitu Luk 7:36-50. Permenungan berikut ini didasarkan pada bacaan yang lebih panjang itu. Cerita tentang seorang perempuan berdosa ini merupakan salah satu cerita Injil yang paling popular. Cerita tentang seorang pelacur yang berlinangan air mata dalam pertobatannya, yang penuh sukacita dan cintakasih karena telah bertemu dengan Yesus merupakan sebuah gambaran yang sampai sekarang masih mempunyai kuasa untuk menggerakkan hati manusia, termasuk kita, dua ribu tahun sejak pertama kali cerita itu ditulis. 

Injil Lukas memang dipenuhi dengan cerita-cerita yang mengkontraskan orang kaya dan orang miskin, orang sombong dengan orang yang rendah hati. Dalam cerita hari ini, kontrasnya adalah antara seorang perempuan berdosa (tanpa nama) dan seorang Farisi yang bernama Simon. Untuk fair-nya, saya harus mengatakan bahwa Simon si orang Farisi memiliki beberapa nilai positif juga: Ia mengundang Yesus datang kerumahnya untuk makan bersama (7:36); dia menyapa Yesus dengan kata ‘Guru’ (7:40); dan tindakan-tindakannya juga menunjukkan respeknya terhadap Yesus: dia tidak mengusir perempuan yang sedang berada di dekat Yesus itu meskipun dia tahu bahwa perempuan itu orang berdosa. Dia hanya berkata-kata dalam hatinya (7:39). Bagaimana dengan si perempuan berdosa itu sendiri? Ia menunjukkan  apa yang dapat terjadi ketika kita mengalami Yesus, tidak hanya sebagai seorang Guru, melainkan sebagai seorang Juruselamat yang hati-Nya dipenuhi cintakasih dan kerahiman. 

Pembasuhan kaki dengan air, ciuman dan pemberian minyak di kepala bukanlah suatu tindakan yang diberikan kepada setiap tamu yang datang. Hal-hal seperti itu hanya diperuntukkan bagi tamu-tamu yang sangat dihormati dan terpandang. Yang menakjubkan dalam cerita ini adalah, bahwa perempuan itu telah melakukan sesuatu yang melebihi tindakan yang perlu diberikan kepada seorang tamu terhormat. Perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air matanya, bukan air biasa. Dia menyekanya dengan rambutnya, bukan dengan kain lap yang biasa. Dia mencium Yesus, bukan di bagian kepala/wajah-Nya, melainkan kaki-Nya, dan meminyakinya dengan minyak narwastu yang harum mewangi dan mahal harganya (lihat 7:38). Biasanya untuk penyambutan tamu terhormat yang dipakai adalah minyak zaitun. Tindakan-tindakan yang penuh rasa hormat dari perempuan itu menunjukkan betapa mendalam cintakasihnya kepada  Yesus. 

Yesus bersabda: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi” (7:47). Dalam membaca ayat ini kita harus berhati-hati karena memang sedikit membingungkan. Kita dapat berpikir bahwa cintakasih yang ditunjukkan oleh perempuan ini membuat senang Yesus sehingga Dia menanggapi semua itu dengan memberi pengampunan. Namun kalau teks asli dalam bahasa Yunani menunjukkan bahwa cintakasih perempuan itu adalah akibat dia menerima kerahiman dan cintakasih Allah terlebih dahulu, jadi bukan sebagai akibat tindakan-tindakan cintakasihnya. Kata ‘sebab’ dalam ayat ini (Yunani: hoti) paling baik diartikan: ‘atas dasar alasan ini’ (for this reason). Dengan demikian kita mendengar sabda Yesus dalam ayat 47 di atas berbunyi: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, ‘atas dasar alasan ini’ dia telah banyak mengasihi…” 

Satu hal lagi yang menakjubkan dari cerita perempuan ini. Dia belum sampai melihat manifestasi-penuh dari cintakasih dan kerahiman Yesus – SALIB – namun dia telah memberi tanggapan yang begitu bebas. Tanpa bukti-bukti fisik, dia mengalami belaskasih Yesus dan hidupnya pun diubah. Setiap noda dosa, rasa bersalah dan malu, rasa takut, rasa tidak berharga samasekali, semua ini dibuang oleh Yesus jauh-jauh dari dirinya dan perempuan ini pun dipenuhi dengan cintakasih dan rasa syukur yang sejati. 

Tindakan-tindakan cintakasih perempuan ini begitu mengesankan dan menyentuh hati, sehingga mendorong kita bertanya di dalam hati, apakah dalam kehidupan ini kita masih dapat menemukan pengungkapan cintakasih seperti itu lagi? Apa yang dilakukannya memang terlihat begitu dramatis, namun masih jauh jika dibandingkan dengan cintakasih Yesus kepada kita. Yesus begitu mengasihi kita sehingga mau menyerahkan nyawa-Nya, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya kepada mereka yang banyak mengasihi, melainkan juga kepada orang yang mempunyai pikiran dan hati yang masih tertutup, seperti Simon orang Farisi dalam cerita hari ini. 

Bagaimana kita harus mencirikan cintakasih Yesus? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa besar cintakasih-Nya kepada masing-masing kita? Baiklah kita merenungkan 1Yoh 4:7-21. Bacaan-bacaan rohani, teristimewa yang ditulis oleh para Bapak Gereja zaman dahulu kiranya akan dapat membantu kita juga. 

Tidakkah kita ingin mendengar Yesus berkata kepada kita: “Imanmu  telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (7:50; bdk. Mrk 10:52), atau “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  (Mrk 2:5), atau “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11)? Sekarang baiklah kita memejamkan mata dan membayangkan Yesus sedang memandang diri kita masing-masing. Kita bayangkan cintakasih dan belarasa yang terpancar dari wajah-Nya. Ia adalah satu-satunya pribadi yang sungguh-sungguh mengetahui perjuangan hidup, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita masing-masing. Ia juga mengambil bagian dalam harapan-harapan, kerinduan-kerinduan dan mimpi-mimpi kita masing-masing. Cintakasih-Nya terus mengalir keluar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Upayakanlah agar diri kita selalu berada di dekat-Nya. 

DOA: Tuhan, Engkau adalah Allah yang maharahim. Kami mengasihi-Mu karena Dikau telah terlebih dahulu mengasihi kami dengan begitu sempurna. Hari ini kami ingin mengungkapkan rasa syukur kami secara istimewa kepada-Mu. Semoga berkat rahmat-Mu setiap hari kami pun dimampukan untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada para anggota keluarga kami, teman-teman kami dan serta sesama kami lainnya. Semoga berkat rahmat-Mu juga tindakan-tindakan kami dapat menunjukkan cintakasih-Mu yang membawa kebaikan dan damai sejahtera di tengah-tengah masyarakat. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. 

Cilandak, 13 September 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads