NILAI SENTRAL HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

Bacaan Misa Kudus, Pekan Biasa V, Selasa 9-2-10)

Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah -, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan” (Mrk 7:1-13). 

Bayangkan seorang anak muda pada hari ulang tahunnya yang ke-21 berkata kepada ayah dan ibunya, “Aku telah mencintai bapa dan ibu sampai titik yang dituntut dari diriku. Namun sekarang jasa bapa dan ibu sudah tidak lagi kubutuhkan, dengan demikian aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi kepada bapa dan ibu.”  Siapa saja tentunya akan kaget bercampur sedih mendengar pernyataan ‘kurang ajar’ seperti itu. Namun sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang tua usia (Mrk 7:11-12). 

Meskipun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita. 

Pengorbanan-pengorbanan keuangan, fisik dan emosional yang dibuat oleh para orangtua bagi anak-anak mereka memberikan kepada kita gambaran yang hidup dari cintakasih Bapa surgawi bagi kita. Di sisi lain, cintakasih kita kepada orangtua kita adalah salahsatu  pengungkapan yang paling alamiah mengenai cintakasih kita bagi Allah. Karena orangtua kita telah memainkan suatu peranan yang hakiki dalam anugerah kehidupan Allah bagi kita, maka menghormati dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang merupakan satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan syukur kita kepada Allah, yakni Dia yang adalah Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Jadi, Yesus menuntut dengan tegas bahwa, apapun tradisi atau kesepakatan-kesepakatan sosial yang sedang menjadi mode, perintah-Nya untuk menghormati orangtua kita tetap berlaku. Dan kita harus mengasihi mereka, bukan dengan cintakasih yang dibatasi dengan kepentingan diri, tetapi tanpa reserve. Kita harus mengasihi mereka tanpa syarat, seperti juga Allah mengasihi kita. 

Bagaimana kita dapat mengasihi seperti itu? Dengan menerima cintakasih Allah bagi kita, sebagai anak-anak-Nya dan dengan mengesampingkan apa saja yang menjauhkan atau memisahkan kita dari-Nya. Oleh karena itu mendekatlah kepada Allah sekarang juga, apa pun yang sedang anda lakukan. Perkenankanlah Dia mengasihimu sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, sehingga pada gilirannya nanti anda pun dapat membagikan cintakasih itu dengan orang-orang lain – dengan orangtuamu, keluargamu dan siapa saja yang membutuhkan. 

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orangtua. Biarlah anak-anak menunjukkan cintakasih mendalam kepada mereka. Biarlah semua orang akhirnya mengenal dan mengalami cintakasih kebapaan-Mu. Amin.

Cilandak, 30 Januari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads