YESUS MENYEMBUHKAN ORANG-ORANG SAKIT DI GENESARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yosefina Bakhita, Perawan, Senin 8-2-10) 

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh (Mrk 6:53-56). 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan entusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain ‘petak-umpet’ dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba ‘melarikan diri’ dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua! 

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan. 

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah ‘Yang Ilahi’ tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan ‘karunia dari Allah’, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia. 

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun. 

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan ‘penyakit’ seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin. 

Cilandak, 30 Januari 2010( Peringatan S. Hyachinta Meriscotti, Perawan Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads