DOA SYAFAAT RATU ESTER

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Kamis 25-2-10) 

Ratu Ester pun berlindung pada Tuhan dalam bahaya maut yang menyerang dia. Maka mohonlah ia kepada Tuhan, Allah Israel, katanya: “Tuhanku, Raja kami, Engkaulah yang tunggal, dan tolonglah aku yang seorang diri ini, yang padanya tidak ada yang menolong selain dari Engkau, sebab bahaya maut mendekati diriku. Sejak masa kecilku telah kudengar dalam keluarga bapaku, bahwa Engkau, ya Tuhan, telah memilih Israel dari antara sekalian bangsa, dan nenek moyang kami telah Kaupilih Israel dari antara sekalian leluhurnya, supaya mereka menjadi milik abadi; dan telah Kaulaksanakan bagi mereka apa yang telah Kaujanjikan. Ingatlah, ya Tuhan, dan hendaklah menampakkan diri-Mu di waktu kesesakan kami. Berikanlah kepadaku keberanian, ya Raja para allah dan Penguasa sekalian kuasa!  Taruhlah perkataan sedap di dalam mulutku terhadap singa itu dan ubahkanlah hatinya sehingga menjadi benci kepada orang yang menerangi kami, supaya orang itu serta  semua yang sehaluan dengannya menemui ajalnya. Tetapi selamatkanlah kami ini dengan tangan-Mu, dan tolonglah aku yang seorang diri ini, yang tidak mempunyai seorangpun selain dari Engkau, ya Tuhan (T.Est C: 10a.10c-12,17-19).

Bacaan Injil: Mat 7:7-12.

Kitab Ester bercerita mengenai seorang gadis Yahudi yang menjadi Ratu Persia pada titik penting sejarah Israel. Di samping itu Kitab Ester ini memberikan contoh-contoh doa syafaat yang indah; doa Ester ini pun dapat menjadi ‘model’ doa syafaat kita. Karena akal busuk dan rencana-rencana jahat dari Haman, Raja Ahasyweros (Xerxes) mengeluarkan perintah untuk melenyapkan semua orang Yahudi yang tinggal di Persia. Haman bin Hamedata adalah seorang pejabat tinggi senior istana. Mendengar hal itu Ratu Ester (seorang Yahudi) membuat rencana untuk menyelamatkan bangsanya, meskipun dengan membayar harga yang mahal berupa hidupnya sendiri.  Bacaan hari ini diambil dari sebagian doa Ester sebelum mewujudkan rencananya ke dalam tindakan nyata. Sebagai seorang ratu, Ester sendiri tidak berada dalam posisi yang berbahaya. Sesungguhnya yang paling aman bagi dirinya adalah diam dan tidak banyak menonjol selagi situasi masih panas. Namun bukanlah Ester kalau dia berdiam diri saja. Bagi dirinya kesejahteraan bangsanya begitu penting sehingga dia mengambil risiko hidupnya sendiri untuk menyelamatkan bangsanya dari pemusnahan massal. 

Dalam doanya, Ester membuat pengakuan bahwa keberaniannya dipupuk oleh kebiasaan dalam keluarganya bercerita tentang Allah: “Sejak masa kecilku telah kudengar dalam keluarga bapaku, bahwa Engkau, ya Tuhan, telah memilih Israel dari antara sekalian bangsa ………; dan telah Kaulaksanakan bagi mereka apa yang telah Kaujanjikan” (T.Est C:12). Kita dapat membayangkan bagaimana keluarganya berkumpul di malam hari dengan mengelilingi api unggun, mendengarkan dengan penuh perhatian para tua-tua Yahudi bercerita tentang Abraham dan Sara, atau mengenai Musa yang membelah Laut Merah. Bayangkan bagaimana mata anak-anak Yahudi yang sedang mendengarkan cerita-cerita mengenai Daud yang mengalahkan raksasa Goliat, atau mengenai hikmat-kebijaksanaan Salomo yang ditunjukkannya dalam kasus dua orang perempuan yang memperebutkan seorang bayi. Orang-orang Yahudi mempunyai tradisi kuat dan tradisi ini diteruskan dari generasi yang satu ke generasi yang lain sehingga sejarah cintakasih Allah kepada umat-Nya tidak akan hilang dari diri setiap anak Yahudi sampai mereka menjadi dewasa. Tradisi yang mengendap dalam diri Ester ini merupakan faktor penting yang membuat dirinya memiliki kepercayaan kepada Allah yang mendalam dan penuh keberanian. Dalam menghadapi krisis dan harus mengambil risiko besar dalam rangka menyelamatkan bangsanya seperti halnya kasus Haman ini, maka Ester mengingat bagaimana Allah telah menolong umat-Nya di masa-masa lampau dan dia pun percaya bahwa Allah akan melakukan hal yang sama. Ester mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sumber pertolongan, dengan demikian mempercayakan hidupnya kepada Dia dan dengan penuh kerendahan hati menghaturkan doa syafaatnya atas nama bangsanya. Ester menyerahkan dirinya secara total kepada Allah dan kehendak-Nya, karena Ester tahu bahwa raja yang sesungguhnya adalah Allah sendiri, bukan Ahasyweros. 

Perlu kita ketahui bahwa dalam hukum Persia, memasuki istana raja untuk menghadapnya tanpa dipanggil dapat berarti kematian. Dengan mengenakan pakaian ratu, Ester dengan berani dan penuh keyakinan berdiri di pelataran istana  yang terletak di depan ruangan di mana raja sedang bersanding di atas takhtanya. Melihat sang ratu, raja pun memanggilnya masuk. Berkat rahmat Allah, hati raja dilunakkan dan permohonan Ester agar bangsanya dibebaskan pun diluluskan (untuk cerita lengkap adegan ‘Ester menghadap raja’ ini bacalah Est 5:1-8; untuk cerita yang lebih dramatis silahkan baca Alkitab Deuterokanika T.Est D [tambahan pada Est 5:1-2]: 1-9). 

Kita semua dipanggil untuk menjadi serupa Ester. Allah memanggil kita semua untuk berdoa syafaat untuk orang-orang lain di sekitar kita. Dia mengundang kita untuk meluruskan pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita dengan pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat-Nya. Allah juga senang sekali kalau kita mencintai rencana-rencana dan tujuan-tujuan-Nya lebih dari berbagai rencana dan tujuan kita sendiri. Allah senang sekali kalau kita berdoa syafaat untuk orang-orang lain. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus dalam Mat 7:11. Apabila kita menghadap Allah dengan kerendahan hati dan sungguh mencari kehendak Allah, doa-doa kita pun dapat dijawab-Nya dengan cara-cara yang menakjubkan. 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih karena Engkau memberdayakan aku untuk berdoa syafaat bagi orang-orang lain. Aku percaya bahwa Engkau selalu menganugerahkan berbagai karunia kepada anak-anak-Mu. Aku mempersembahkan hidupku dan segala hasrat yang kumiliki ke dalam tangan-tangan-Mu. Amin.

Cilandak, 6 Februari 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads