YESUS DIGODA IBLIS DI PADANG GURUN – SEBUAH RENUNGAN ALKITABIAH MASA PRAPASKAH *) 

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”  Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Karena itu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu. Yesus menjawabnya, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”  Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik  (Luk 4:1-13). 

Yesus berpuasa selama empat puluh hari, sendirian di padang gurun. Empat puluh hari ini mengingatkan kita pada beberapa peristiwa Perjanjian Lama. Yang pertama adalah pengalaman Musa sehubungan dengan pemberian sepuluh perintah Allah di gunung Sinai:

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel”.  Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman (Kel 34:27-28).

Yang kedua adalah yang dialami oleh Elia ketika dia sedang dalam pelarian:

… malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (1 Raj 19:7-8).

Angka empat puluh juga mengingatkan kita kepada lamanya perjalanan bani Israel di padang gurun sebelum sampai ke tanah terjanji.

Bagaimana Yesus berhasil mengalahkan si Iblis? Memang mudah untuk berpikir tentang Yesus sebagai seorang yang istimewa karena Dia adalah Putera Allah, tetapi penulis Surat kepada orang Ibrani dengan tegas mengingatkan kepada kita bahwa Yesus sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berbuat dosa:

“… Imam Besar yang kita punya,  bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15).

Kabar baik dari bacaan Injil kali ini adalah, bahwa dalam perjuangan atau pergumulan melawan si Jahat atau Iblis kita tidak sendiri. Ada Yesus! Dia  telah terlibat konflik nyata dengan Iblis dan telah mengalahkannya dengan sangat menyakinkan. Perikop ini dapat dikatakan semacam ‘prakata’ atau ‘kata pendahuluan’ untuk pelayanan Yesus di depan publik, sebagai antisipasi atas pelbagai area konflik dan tuduhan yang harus dihadapi-Nya. Dalam menulis Injilnya ini Lukas sadar benar bahwa komunitas Kristiani dari generasi ke generasi akan terus-menerus hidup melalui konflik-konflik dan tuduhan-tuduhan yang sama. 

Peranan Roh Kudus. Setelah Ia dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus kepada suatu konfrontasi yang bersifat face-to-face dengan Iblis. Lukas menulis bahwa ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis, pada saat Yesus dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:21-22). Roh Kudus yang turun dari langit inilah yang memenuhi diri Yesus dan memimpin-Nya ke padang gurun sebelum memulai misi-Nya mengingatkan umat manusia tentang cara-cara kedosaan dan memulihkan hati mereka kepada peraturan Allah. 

Terasa ada sense of urgency yang besar di sini! Ini tidak lepas dari mentalitas pada waktu itu; yaitu diterimanya secara umum pendapat bahwa dunia berada di bawah kekuasaan roh jahat, namun pada zaman mesianis Allah akan melakukan intervensi dan melakukan perang besar untuk merebut hati orang-orang agar supaya kembali kepada kehendak ilahi. Padang gurun dipandang sebagai daerah yang belum dijinakkan, dilihat sebagai tempat berkeliarannya roh jahat. Sendirian di padang gurun, Yesus mengalami godaan-godaan yang berpusat pada pertanyaan apakah Ia dapat menaruh kepercayaan pada Allah. 

Dalam ketaatan-Nya kepada Roh, Yesus sesungguhnya mengambil posisi ofensif melawan godaan Iblis, bukan menghindarinya… dan di daerah kekuasaan Iblis sendiri. Di sini, sebelum mengawali pelayanan-Nya di depan publik, Yesus menyerang kuasa Iblis dengan selalu menggunakan sabda Allah, ‘pedang Roh’ (Ef 6:17). Perhatikanlah jawaban Yesus kepada Iblis yang menggoda! Yesus selalu memulai jawaban-Nya dengan kata-kata ‘ada tertulis’, artinya Dia berpegang teguh pada firman Allah  sebagai “pedang Roh” dalam melawan godaan Iblis (lihat Luk 4:4.8.10.12). Selama empat puluh hari di padang gurun Yudea, Yesus tetap setia dan tabah, menggantungkan diri pada janji-janji Bapa semata. 

Godaan pertama menyangkut roti. Dalam Injil Lukas, makanan dan berbagi makanan merupakan tanda penting dari zaman mesias. Puasa Yesus selama empat puluh hari ini sangat kontras dengan relatif banyaknya ‘adegan perjamuan’ dalam Injil tersebut. Seorang pakar Injil Lukas – Pater Eugene LaVerdiere, SSS – menulis sebuah buku cukup tebal yang berjudul Dining in the Kingdom of God. Buku ini adalah mengenai asal usul Ekaristi menurut Lukas. Bagi imam yang satu ini, merayakan Ekaristi adalah lebih daripada sekadar mengenangkan kata-kata Yesus berkaitan dengan roti dan piala yang berisikan air anggur pada Perjamuan Terakhir. Baginya Ekaristi adalah suatu peristiwa Injili. Asal-usul Ekaristi terdapat dalam rentang keseluruhan Injil, yang diejawantahkan dalam banyaknya perjamuan yang dikisahkan dalam Injil tersebut. 

Dalam Injil Lukas, Yesus tampil sebagai seorang rabbi yang suka makan-minum, sampai-sampai Dia sendiri mengutip komentar orang-orang, “Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34). Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan bersungut-sungut berkata, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk 15:2). Lukas mengaitkan antara pencobaan yang dialami Yesus dan pengadilan atas diri-Nya kelak, dengan mencatat bahwa sesudah mengakhiri pencobaannya, Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik (Luk 4:13). Janganlah kita lupa bahwa justru pada pesta Hari Raya Roti Tak Beragi (Perjamuan Paskah /Perjamuan Terakhir), Iblis masuk ke dalam Yudas (Luk 22:3). 

Lukas menulis Injilnya untuk suatu komunitas Kristiani yang mengalami konflik seperti yang dialami Yesus, tetapi pada masa yang berbeda. Dalam komunitas Kristiani itu roti merupakan pengungkapan saling berbagi antara anggota pada waktu mereka berkumpul dalam ibadat bersama. Gereja adalah sebuah communio. Di lain pihak roti juga kadang-kadang merupakan pembeda antara golongan the haves dan kaum have-nots.  Dalam kekaisaran yang sedang mengalami dekadensi ini, keresahan rakyat juga diatasi dengan anggaran di bidang kesejahteraan yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk penyuapan kepada rakyat: “Berikanlah kepada mereka roti dan sirkus untuk mengalihkan perhatian dari keresahan mereka!” Sistem yang melecehkan spiritualitas manusia ini ditantang oleh pesan Kristiani, seperti diucapkan Yesus, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja” (Luk 4:4; bdk. Ul 8:3). 

Di padang gurun Yesus mengalami rasa lapar luar biasa, karena berpuasa selama empat puluh hari. Dengan demikian Ia menempatkan diri-Nya sebagai salah seorang dari anggota-anggota masyarakat yang tidak pernah mempunyai makanan dan minuman yang cukup untuk hidup. Apa baiknya sih kelaparan? Kalau kelaparan itu membuka pikiran kita, bahwa ada yang lebih untuk hidup daripada sekadar memuaskan selera makan-minum kita: “Manusia hidup bukan dari roti saja!”  Berpuasa dan kontrol yang kuat atas selera makan-minum dapat mencerminkan suatu opsi jelas atas roh ketimbang tubuh/daging. Masyarakat-masyarakat zaman moderen menderita pelbagai macam penyakit karena gagal dalam mendisiplinkan nafsu makan-minum. Kebijakan-kebijakan banyak negara mengakibatkan lebih dari separuh penduduk dunia kekurangan makanan sementara separuh lainnya mengalami kelebihan produksi tanpa diikuti dengan syering yang cukup dengan mereka yang kelaparan. Apabila nafsu dibiarkan tak terkontrol, maka potensi roh yang kaya raya akan terhambat. Dalam hal ini jawaban Yesus harus didengar lagi: “Manusia hidup bukan dari roti saja!” (Luk 4:4). 

Untuk kita renungkan: Katakanlah kita tidak lapar untuk makan roti, tetapi berapa seringnya kita diganggu oleh rasa lapar yang lain … kita digoda oleh iming-imingnya kekayaan, kekuasaan dan kenyamanan – dengan konsekuensi terganggu atau rusaknya hidup kita dengan Kristus? 

Godaan kedua menyangkut kekuasaan dan kemuliaan. Iblis menawarkan kekuasaan dan kemuliaan, asal Yesus mau menyembah dia. Yesus menolak godaan untuk mencari kekuasaan dan kemuliaan pribadi, Dia samasekali tidak gila kuasa. Ia hanya mau menyembah Allah dan melayani orang-orang, bukan dilayani. Kali ini Dia mengutip Ul 6:13. Sekitar tiga tahun kemudian, ketika Yesus diadili oleh Pilatus, fakta diputar-balikkan oleh mereka yang membenci-Nya … Mereka mulai menuduh Dia, katanya, “Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan bahwa Dialah Kristus, yaitu Raja” (Luk 23:2). Pada waktu Lukas menulis Injilnya, orang-orang akan dihukum mati kalau menolak untuk menyembah Kaisar. Orang-orang Kristiani tidak mau membakar kemenyan/dupa bagi manusia, karena mengingat kata-kata yang diucapkan Yesus, “… Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Luk 4:8). 

Dengan menolak kekuasaan, Yesus menempatkan diri-Nya dalam wilayah kemiskinan orang-orang yang tertindas dan para korban ketidak-adilan masyarakat. Nah, apa sih baiknya ketiadaan kekuasaan itu? Kalau hal itu menjaga seseorang dari rasa angkuh dan sombong, yang memegang sesuatu erat-erat bagi dirinya, sedangkan sesungguhnya harus dikembalikan kepada Allah. Juga kalau hal itu menyelamatkan seseorang dari keangkuhan yang akan menindas orang-orang lain. Kekuasaan itu selalu sukar untuk ditanganinya secara layak. Power tends to corrupt !!!  Kekuasaan dengan cepat dapat menjadi monster yang ganas dan tak pernah merasa puas. Menjadi paranoid untuk menjaga diri dan menyerang terlebih dahulu. Kita lihat saja anggaran pertahanan dari negara-negara di dunia yang terus menggelembung, padahal uang anggaran yang tersedia dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih efektif dalam meningkatkan harkat-martabat manusia sebagai ciptaan Allah. Nafsu akan kekuasaan dapat berakibat pada bertambah banyaknya persenjataan pemusnah massal dengan segala konsekuensinya yang terbayangkan. Kekuasaan, di bidang persenjataan, keuangan, politik dan lain-lain, jarang sekali dapat memahami artinya ‘melayani’ sebagai suatu tantangan. Yesus menolak jalan kekuasaan dan kemuliaan diri. Dia memilih hanya “menyembah Allah, dan hanya kepada Allah saja Dia berbakti” (Luk 4:8). 

Godaan ketiga merupakan tantangan Iblis terhadap relasi antara Yesus dengan Bapa dan identitas-Nya sebagai Putera Allah. Di sini Iblis malah mengutip Kitab Suci yang mengatakan mengenai malaikat-malaikat yang akan melindungi (Mzm 91:11-12). Gema dari godaan ketiga ini akan terdengar tiga tahun kemudian, ketika Yesus sedang ‘diadili’ di hadapan para anggota Sanhedrin: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami” (Luk 22:67), … “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” (Luk 22:70). Jemaat Lukas di Roma menghadapi risiko kematian, kalau identitas keagamaan mereka ketahuan. Mereka tidak mengharapkan adanya suatu intervensi ilahi yang dapat menahan pedang algojo atau menahan singa yang lapar agar tidak melahap mereka. Iman-kepercayaan yang sejati tidak akan mencobai Allah (Luk 4:12; bdk. Ul 6:16). 

Tanggapan Yesus terhadap godaan ketiga menunjukkan solidaritas-Nya dengan semua orang yang berada dalam  perjalanan menuju Yerusalem surgawi dengan iman yang masih samar-samar, dan tidak dibimbing oleh tanda-tanda dari Allah yang jelas-nyata. Bagaimana ujian atas iman dapat dikatakan baik? Allah dapat membuang gambar-gambar (images) yang salah dan palsu mengenai Yang Ilahi, yang sesungguhnya merupakan proyeksi dari pelbagai hasrat manusia sendiri. Manusia tergoda untuk memutar-balikkan tatanan asli (Manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah): Menciptakan Allah seturut gambar dan rupa kita! Manusia mau menggunakan Allah, tetapi tidak mau dipakai oleh-Nya. Manusia membuat agama sebagai pembungkus pelbagai proyeksi dari hasrat-hasratnya sendiri tentang Dia. Hal seperti inilah yang dapat membuat seseorang berperang dan/atau membunuh atas nama agama; …orang seperti itu melakukan tindakan dengan mengatas-namai Allah! Yesus menolak untuk mencobai Allah. Penuh ketaatan, Dia melakukan kehendak Bapa! 

Dengan demikian, godaan-godaan yang dialami Yesus mengantisipasi konflik-konflik dan tuduhan-tuduhan yang akan dihadapi-nya pada waktu Dia melakukan pelayanan-Nya di depan publik. Strategi dan kemenangan Yesus akan memberikan bimbingan dan harapan kepada orang-orang Kristiani segala zaman dalam menangani konflik-konflik mereka melawan kuasa-kuasa kegelapan. Disamping itu Yesus duduk bersama orang-orang yang lapar, berjuang bersama orang-orang yang tidak mempunyai kekuasaan dan berjalan bersama di atas jalan penuh ujian dengan orang-orang yang sedang menuju Yerusalem baru. Kalau kita melakukan perjalanan bersama Dia, dengan kekuatan disiplin-diri, yang dikuatkan serta ditopang oleh doa, dan dibimbing oleh terang Kitab Suci, maka kita pun dapat turut mengambil bagian dalam kemenangan Yesus. 

Syukur kepada Allah bahwa Yesus telah datang! Dia telah menjungkir-balikkan pola kemanusiaan yang penuh dosa, membebaskan kita dari ikatan dosa dan maut! Hari ini, karena Yesus, kita dapat mengetahui kemenangan yang sama, yang diketahui-Nya. Karena kita telah menerima Roh-Nya, kita dapat menghadapi masa-masa godaan dengan sabar, menggantungkan diri pada kuasa Allah dalam diri kita. Kalaupun kita gagal, kita memiliki anugerah pertobatan yang sangat berharga, yang langsung memperbaiki hubungan kita dengan Allah, serta kasih-Nya dan perlindungan-Nya. Dengan menirukan kerendahan hati Yesus dan kepercayaan-Nya pada Bapa, kita dapat belajar berdiri tegak pada saat-saat menghadapi godaan dan mengambil bagian dalam kemenangan-Nya. 

Yesus menghidupkan kembali sejarah umat Israel. Pikirkan sekarang bagaimana selama empat puluh hari puasa ini, Yesus menghidupkan kembali sejarah umat-Nya (Israel). Seperti para leluhur-Nya – yang berkelana selama empat puluh tahun di padang gurun – Yesus digoda untuk berelasi dengan Allah hanya dalam batas ukuran-ukuran kebutuhan manusia, atau samasekali membuang-Nya. Orang-orang Israel gagal, tetapi Yesus berhasil. Seperti ditulis sang pemazmur, Yesus “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi” dan Tuhan adalah “tempat perlindungan-Nya dan kubu pertahanan-Nya” (Mzm 91:1-2). 

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya. 

Perjanjian Baru. Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal (lihat Yoh 3:16), untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27). 

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20). 

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (Kej 6-9). Dari hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru. Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Guruku, aku menyadari, bahwa bagaimana pun aku mencoba dan berupaya untuk menghindari dosa, aku tidak dapat sepenuhnya bebas dari pencobaan dan godaan dalam hidupku. Sebagai manusia, aku seringkali mengalami adanya konflik dalam diriku sendiri, antara naluri alamiahku, kecenderungan- kecenderungan emosionalku dan kebiasaan-kebiasaan buruk di satu pihak, dengan niat-niat, harapan-harapan serta berbagai kerinduan yang bersifat spiritual. Aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, karena Dikau sendiri telah memberikan contoh bagaimana aku harus mempersiapkan diriku menghadapi godaan-godaan dalam hidupku. Biarlah Roh Kudus-Mu selalu membimbingku  dalam menggunakan kehendak bebasku, agar pilihan-pilihan yang kubuat menyenangkan Dikau. Tolonglah aku agar tetap berada dalam damai-Mu manakala aku diserang dengan godaan-godaan yang tak dapat dihindari. Jagalah aku agar tidak membesar-besarkan berbagai pencobaan dan godaan secara tidak proporsional, namun jagalah aku juga agar tidak meremehkan berbagai pencobaan dan godaan yang menimpa diriku. Dengan tulus hati aku berketetapan hati untuk senantiasa menyenangkan Hati-Mu, lewat pikiran, ucapan-ucapan, sikap dan perilakuku setiap hari, karena Dikaulah andalanku selalu. Amin. 

Cilandak, 3 Februari 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


*) Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk semua warga Lingkungan Santo Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak. Didistribusikan pada pertemuan KKS Prapaskah pertama di rumah kediaman keluarga Bapak Onot Subagyo, hari Jumat 6 Maret 2009.

About these ads