Archive for March, 2010

HALLELUYA, DIA SUDAH BANGKIT !!!

HALLELUYA, DIA SUDAH BANGKIT !!! 

Beberapa hari lagi kita akan merayakan Paskah, sebuah Hari Raya mahapenting bagi umat Kristiani ……… Hari Raya Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Hari Paskah adalah pesta besar, suatu hari kemenangan di surga. Semua penghuni surga bergembira dan para malaikat mengundang kita untuk meninggikan Dia, menyembah-Nya, meluhurkan Dia, memuji-muji Dia dan memuliakan-Nya. 

Rencana Allah yang tersembunyi berabad-abad lamanya akhirnya diungkapkan: Melalui Yesus Kristus kita disatukan kembali dengan Allah. Dengan mati terhadap dosa, kita sekarang hidup, selamat dari hal-hal yang memisahkan kita dari Bapa surgawi. Setiap halangan telah disingkirkan, maka kita dapat mengalami secara pribadi cinta-kasih Allah. Namun sebelum kita membahas makna kebangkitan, kita akan lihat berikut ini bahwa kematian merupakan prasyarat bagi kebangkitan. 

Santo Paulus menulis:

 “… tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4). 

Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci ………………. Jadi, bilamana diberitakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu (1Kor 15:3-4,12-14). 

Petikan-petikan dari dua surat Santo Paulus ini mendukung sebuah dalil penting dalam hal kebangkitan, yaitu bahwa “TIDAK ADA KEBANGKITAN TANPA DIDAHULUI OLEH KEMATIAN; TIDAK ADA HARI RAYA PASKAH TANPA DIDAHULUI OLEH HARI JUMAT AGUNG”. Hal ini sangatlah penting bagi kita semua yang mau mengikuti jejak Kristus! 

Makna kebangkitan Kristus. Dalam kebangkitan Kristus, Allah mengungkapkan kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat atas Iblis, dosa dan maut. Tiga hal ini telah begitu lama mengungkung dan memenjarakan umat manusia, diawali oleh ketidaktaatan Adam-Hawa sampai Paskah pertama. Dengan upaya dan kekuatan kita sendiri, kita tidak berdaya untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah yang telah rusak karena dosa itu. Puji Tuhan, kita diselamatkan! Dari atas kayu salib Yesus menebus dosa-dosa kita. Dengan kebangkitannya Dia mengalahkan kuasa maut untuk selamanya. “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Ini sungguh-sungguh sebuah kabar baik! Kemenangan yang kita rayakan pada Hari Raya Paskah adalah untuk setiap hari dan selamanya. Penebusan dari dosa, pembebasan dari ikatan, kemenangan atas kebiasaan-kebiasaan dosa. Ini adalah warisan kita. Ini adalah hidup baru yang disediakan bagi kita semua. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh merayakan Paskah dengan penuh sukacita, tidak hanya pada hari Minggu Paskah saja. Sukacita adalah warisan yang kita terima sebagai anak-anak Allah yang sudah ditebus. Ini adalah hak hidup kita sebagai sebuah ciptaan baru dalam Kristus. Ini adalah tanda klaim kita, bahwa kita adalah murid-murid Yesus sejati. 

Kebangkitan Kristus adalah pembenaran dari seluruh hidup-Nya di atas muka bumi. Kebangkitan Kristus bukanlah seakan-akan Allah Bapa membangkitkan-Nya dari antara orang mati hanya karena merupakan korban-tak-bersalah dari sebuah vonis hukuman-mati yang tidak adil. Sebaliknya! Setiap hal yang menyangkut cara dan  gaya Yesus hidup di dunia: sikap-Nya, perilaku-Nya, komunikasi-Nya  dan lain sebagainya, semuanya memimpin kepada hari kemenangan penuh kemuliaan, yaitu hari kebangkitan-Nya. Paskah adalah puncak dari semua peristiwa Yesus! 

Kebangkitan Kristus juga merupakan kulminasi daripada hidup-Nya yang penuh kehinaan dan kerendahan, ketaatan, dan cinta-kasih kepada Bapa-Nya. Setiap tindakan penundukan diri Kristus di hadapan Bapa-Nya, setiap pilihan-Nya untuk mengambil risiko karena mengasihi umat manusia ketimbang tetap berdiam dalam comfort zone-Nya (daerah aman-nyaman-Nya), setiap pengungkapan nyata kekudusan dan kerahiman Allah – semua ini memberikan fondasi bagi meledaknya kekuatan yang mampu menggulingkan batu penutup makam-Nya. Tentu saja maut tidak dapat menguasai Yesus Kristus! Selama hidup-Nya di atas muka bumi ini pun, maut itu memang tidak pernah dapat menguasai-Nya. 

Hari Minggu dari segala hari Minggu. Kalau setiap hari Minggu kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus, maka dapat kita katakan bahwa Hari Minggu Paskah adalah “Hari Minggu dari segala hari Minggu”. Pada hari Minggu Paskah ini kita dapat membayangkan diri kita bergabung dengan para murid yang berlari-lari menuju tempat Yesus dimakamkan, dan ternyata kubur itu sudah kosong. Namun kita tak perlu tetap berdiri di luar makam dipenuhi rasa ragu dan takut. Bersama murid yang dikasihi Yesus (Yohanes) kita dapat masuk ke dalam kubur kosong dan percaya (Yoh 20:8),  Kemudian, bersama Maria Magdalena, kita dapat merangkul Yesus sebagai Tuhan kita yang bangkit. 

Berpesta dengan roti yang tidak beragi. Kita memang sepatutnya bersukacita pada Hari Raya Paskah ini karena Yesus telah mati untuk menebus dosa kita dan sekarang bangkit ke dalam kehidupan baru. Dia adalah “roti tak beragi” Perjanjian Baru, dan di dalam Dia, kita dibebaskan dari ragi kehidupan lama (lihat 1Kor 5:7-8). Sekarang, dengan kuasa Roh Kudus, kita dapat menyerahkan diri kepada-Nya dan dibebaskan dari kehidupan lama penuh dosa. Kristus telah menang dan dalam Dia kita adalah para pemenang! Maka itu bergembira dan bersukacitalah!  Kita pun dapat berseru: Kristus sudah bangkit! Halleluya! ……… Akan tetapi, di mana kita dapat berjumpa dengan Yesus yang bangkit itu? Jawabnya: dalam Ekaristi Kudus! Santo Paulus menulis: “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran: YESUS KRISTUS  sendiri. 

Masuk ke dalam hidup kebebasan, harapan dan sukacita. Sepanjang masa Prapaskah kita menyelidiki hati kita, mengikuti  Retret Agung Umat, melakukan pemeriksaan batin secara berkesinambungan …… untuk menemukan batu-batu hambatan yang menghalangi kita untuk sampai kepada hidup kebangkitan. Sekarang, pada pagi hari Paskah, Yesus telah menggulingkan batu penutup makam-Nya. Dengan demikian kita dapat masuk ke dalam suatu hidup kebebasan, harapan dan sukacita. Oleh karena itu layak dan pantas apabila Paskah menjadi perayaan istimewa kita semua. Yesus telah menang mengalahkan segala halangan. Ia telah memperoleh bagi kita segalanya yang kita butuhkan. Maka kita dapat menyenderkan diri pada-Nya, karena kita merasa aman-tenteram. 

Sukacita kebangkitan. Marilah kita berada di dekat Yesus dalam sukacita kebangkitan. Meskipun berbagai perkembangan peristiwa – baik internasional maupun nasional – seringkali membuat ciut-hati, walaupun ada begitu banyak hal yang sukar diprediksi dan penuh dengan ketidakpastian dalam hidup kita sehari-hari, terutama akhir-akhir ini, yang menantang kesabaran dan kepercayaan kita, marilah kita ingat bahwa Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit ada bersama kita. Yesus ingin sukacita dan kuat-kuasa yang mampu menggulingkan batu penutup makam zaman kita ini, juga menjadi milik kita selalu. 

Carilah hal-hal yang di atas. Santo Paulus menulis: “…… apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkankanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, tampak kelak, kamu pun akan tampak bersama dengan Dia dalam kemuliaan” (Kol 3:1-4).  Yohanes melihat ke dalam kubur kosong dan percaya. Kita pun percaya bahwa Yesus yang sama, yang dikira orang mati dan hilang selamanya sekarang hidup. Iman kita dalam kebangkitan Yesus berarti kita dapat menaruh kepercayaan pada seluruh kehidupan-Nya. Semua sabda-Nya adalah benar. Semua janji-janji-Nya – dan  semua pengharapan dan impian kita – akan dipenuhi. Selagi terang kebangkitan mulai terbit dengan cahaya yang semakin gemilang, semoga Halleluya anda pun memancar keluar! 

Catatan Penutup. Kita pantas bergembira atas janji kebangkitan, apa pun yang kita hadapi: Hari ini, manakala menghadapi hal-hal yang sulit, baik dalam rumah tangga kita sendiri maupun di tempat kerja, di paroki, di lingkungan dan lain sebagainya, kita tetap dapat dan pantas bergembira. Di tengah-tengah kekhawatiran umum dan ketidakpastian, kita tetap dapat bergembira! Lebih daripada sekedar senyum-tawa dan seruan “puji Tuhan” dan “Halleluya” yang penuh entusiasme, “sukacita” sejati mewujudkan dirinya dalam damai-sejahtera, kekuatan dan harapan yang datang dari pengalaman akan kuasa kebangkitan Kristus dalam hidup kita. SELAMAT PASKAH !!!

Cilandak, 30 Maret 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

Maksud dan tujuan tulisan singkat ini adalah untuk menjawab dua pertanyaan mendasar tentang kebangkitan Yesus Kristus: (1)  Apakah signifikansi kebangkitan badan Yesus? (2) Mengapa kebenaran dari kebangkitan badan Yesus ini penting bagi kita? 

Untuk menjawab dua pertanyaan  yang sangat penting ini, kita harus kembali ke awal-awal penciptaan. Dalam Kitab Kejadian dicatat bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:27). Lagipula, setelah Allah menyelesaikan karya penciptaan, Kitab yang sama mencatat bahwa “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik” (Kej 1:31). 

Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini bukan hanya berarti bahwa kita memiliki intelek dan kehendak, melainkan juga keseluruhan diri kita – termasuk tubuh kita – memanifestasikan realitas Allah. Allah adalah Roh – jadi tidak mempunyai tubuh – namun kita manusia dalam totalitas kita – menunjukkan keagungan Allah. Kita menjadi tahu mengenai berbagai hal melalui indera-indera badani kita. Kita bertindak-tanduk berdasarkan pilihan-pilihan bebas dengan menggunakan cara-cara badani. Kita mengucapkan kata-kata dengan mulut kita dan suara-suara fisik. Kegiatan-kegiatan badani kita mengekspresikan pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat kita. 

Nah, kalau kita berbicara dan bertindak sesuai dengan perintah-perintah Allah, maka sebenarnya kita mempertunjukkan keserupaan kita dengan Allah, Dia yang menciptakan keseluruhan diri kita untuk suatu kehidupan abadi. Allah bersifat kekal-abadi dan kita dipanggil untuk turut ambil bagian dalam keabadian tersebut, dengan demikian kita mencerminkan keberadaan Allah yang kekal-abadi. “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri” (KebSal 2:23). 

Ketika kita berdosa, keserupaan kita dengan Allah menjadi ternoda. Kita tidak lagi memanifestasikan keagungan Allah. Kita memang masih dapat berpikir dan memilih. Kita tetap dapat mengetahui mengenai berbagai hal dan tetap bebas, namun kita memakai pikiran-pikiran dan kehendak-kehendak kita, tidak hanya untuk melakukan apa saja yang baik, melainkan juga apa yang jelek. Kita telah menjadi “hamba dosa” (lihat Rm 6:17). “… karena dengki setan maka maut masuk ke dalam dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (KebSal 2:24). Dengan demikian kita kehilangan hidup kekal-abadi bersama Allah. 

Pentingnya kenyataan kebangkitan badan Yesus. Allah Bapa membangkitkan Yesus – jiwa dan badan – kepada kemuliaan kebangkitan. Putera Allah masih tetap seorang manusia yang utuh, tetapi sebagai seorang manusia baru yang penuh kemuliaan. Dia menjadi Adam yang baru atau Adam kedua (lihat 1Kor 15:20-28.45).  Yesus Kristus adalah ciptaan baru dan sebagai ciptaan baru Dia memulihkan keseluruhan ciptaan lama. Sekali lagi, melalui kebangkitan-Nya, ciptaan Allah sungguh amat baik. Melalui kebangkitan Yesus sekali lagi kita mampu untuk menjadi gambaran atau citra Allah yang sejati, dengan cara yang sekarang malah melebihi ciptaan pertama. 

Melalui iman dan baptisan dimungkinkanlah bagi kita untuk turut ambil bagian dalam kebangkitan Yesus yang penuh kemuliaan (baca: Rm 6 dan 8). Kita menjadi saudara dan saudari, bukan dari Adam yang lama, melainkan dari Adam yang baru – Yesus Kristus. Melalui hidup dan kuasa Roh Kudus yang diutus setelah kebangkitan Yesus, kita ditransformasikan menjadi ciptaan baru dan dengan demikian dimampukan untuk sekali lagi mencerminkan keagungan Allah. 

Sekali lagi kita dapat menggunakan pikiran-pikiran kita untuk mengenal dan mengekspresikan kebenaran Allah. Dengan suara-suara fisik kita dapat melambungkan pujian-pujian kepada Allah. Dengan gerak-gerik tubuh kita dapat mengekspresikan cintakasih kita kepada Allah dan orang-orang lain (satu sama lain).  Tindakan-tindakan kebaikan kita yang bersifat fisik – rangkulan, cipika-cipiki, karya-karya karitatif – sekali lagi mencerminkan keserupaan kita dengan Allah dalam Kristus Yesus. Melalui kehidupan kita yang penuh keutamaan/kebajikan, keseluruhan hidup kita (tubuh dan jiwa) ditransformasikan menjadi gambar atau citra Yesus, citra sempurna Bapa. Yesus adalah Sakramen Bapa. “Ia citra Allah yang tak kelihatan, dan dalam Dia segala-sesuatu telah diciptakan” (Kol 1:15-16; Lumen Gentium, 7). 

Titik kulminasi suatu kehidupan suci yang dihayati dalam keserupaan dengan Allah diwujudkan dalam keikut-sertaan kita dalam kemuliaan kebangkitan Yesus sendiri. Maut tidak lagi dapat menguasai kita. Dalam Kristus sekali lagi kita mengenakan jiwa dan tubuh yang dipulihkan. Totalitas tentang siapa kita ini dipulihkan kepada kebaikan untuk mana kita diciptakan Allah, yaitu kehidupan kekal-abadi. 

Kebangkitan badan Yesus membuktikan bahwa dunia ciptaan kita ini sungguh baik dan yang paling penting adalah bahwa manusia yang adalah bagian dunia ciptaan ini, sungguh amat baik. Allah menciptakan kita, secara keseluruhan, menurut gambar dan rupa-Nya sendiri, dan dengan kebangkitan Yesus, Ia telah memulihkan dan melampaui keserupaan-Nya dalam diri kita. Dia tidak hanya memperoleh kembali ciptaan-Nya yang lama, Dia telah meninggikannya kepada ketinggian baru dalam kebangkitan Putera-Nya. Kita semua yang percaya kepada-Nya akan mengalami sukacita dan kegembiraan sebagai gambar Allah yang sejati dalam Yesus – Putera-Nya – oleh kuasa Roh Kudus sekarang dan selama-lamanya. 

Peranan Roh Kudus. Paling sedikit ada dua hal yang ingin disyeringkan Tuhan  dengan kita atau ingin Dia lalukan bagi kita melalui kuasa Roh Kudus. Dalam Misa Paskah kita memperbaharui janji-janji baptisan kita; kita semua membuat deklarasi bahwa kita menolak Iblis dan segala pekerjaannya, bahwa kita percaya akan Allah Bapa dan akan Yesus sebagai Tuhan kita, bahwa kita percaya akan Roh Kudus, percaya akan Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal. 

Fakta bahwa masing-masing kita dalam Misa itu dapat  dalam kebenaran memperbaharui janji-janji baptis merupakan sebuah tanda bekerjanya Roh Kudus dalam hidup kita. Hanya oleh Roh Kudus kita dapat menolak Iblis dan dosa. Hanya oleh Roh Kudus kita dapat memanggil Yesus, Tuhan. Jadi dalam Misa Paskah Roh Kudus ingin meyakinkan kita – lewat pembaharuan janji-janji baptis – bahwa ini adalah sebuah tanda, suatu jaminan, suatu janji bahwa kita akan bangkit dari kematian. Kita harus bersukacita dalam iman bahwa Yesus telah memberikan kepada kita – melalui Roh Kudus – bahwa kita mampu untuk memperbaharui (dalam iman) janji-janji baptis kita. 

Kedua, dalam Misa Paskah kita akan menerima Yesus dalam Ekaristi. Oleh kuasa Roh Kudus Allah Bapa membangkitkan Yesus Kristus, Dalam Misa, oleh Roh Kudus yang sama, Bapa akan mentransformasikan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yang bangkit. Masing-masing kita akan menyambut tubuh (dan darah) tubuh dan darah Tuhan yang bangkit, jiwanya dan keilahian-Nya yang sudah bangkit. Keseluruhan diri Yesus akan datang kepada kita dan berdiam dalam diri kita – secara fisik di dalam tubuh kita. 

Skandal akan terjadi kalau Tuhan Yesus yang bangkit datang dengan segala kuasa, kemegahan dan kemuliaan untuk berdiam dalam diri kita, tetapi tidak ada sesuatu pun yang terjadi dalam diri kita. Bagaimana mungkin – bahwa Yesus yang bangkit dapat berdiam dalam diri kita dalam Ekaristi dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi dalam diri kita atau mengubah diri kita? Sungguh sebuah skandal serius! 

Kalau kita mengingat kembali kehidupan kita masing-masing sekian tahun ke belakang, kita akan melihat betapa sering kita menyambut Komuni Kudus. Namun tidak jarang pula kita tidak mengalami perubahan apa pun. Hal seperti ini seharusnya membuat kita gemetar. Bapa surgawi ingin agar kita dalam Misa Paskah ini menyambut kedatangan Yesus ke dalam diri kita dengan penuh bakti, sepenuh hati, cintakasih dan afeksi. Ia ingin agar kita membuka diri bagi rahmat-Nya, untuk mengubah kita, membuat kita utuh, sehingga dapat lebih penuh dan lengkap mengambil bagian dalam kebangkitan Yesus. 

Tidak ada yang menjadi rahasia bagi Bapa surgawi, termasuk laku tobat kita dalam masa Praspaskah yang kita akan akhiri pada Misa Paskah. Kita memang seyogianya berpengharapan bahwa dalam Misa istimewa ini Allah akan menyembuhkan, baik fisik, emosi maupun mental kita; membebaskan kita dari dosa-dosa, kemarahan, penolakan, kepahitan, keserakahan, kerakusan, kekhawatiran, keangkuhan dan apa saja yang dapat menghalangi kita untuk menyatu dengan-Nya. Tuhan Yesus yang bangkit datang untuk menyembuhkan kita dan membuat kita utuh. 

Dalam Misa Paskah, selagi anda menyambut tubuh Kristus, kenalilah dan sadarilah SIAPA yang sedang kita sambut. Mintalah kepada-Nya dalam iman dan pengharapan, agar Ia menghangatkan hati anda,  mencerahkan pikiran anda, membebaskan anda, memberikan kepadamu kegairahan, keutuhan dan kehidupan, sehingga bersama semua malaikat dan para kudus, anda dapat sungguh memproklamasikan bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan (Kyrios) bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:11). 

Ketika kita bersama menyanyikan doa ‘Bapa Kami’ dalam Misa Paskah yang sangat istimewa ini, semoga kita sungguh mampu mendoakan yang berikut: “Berilah kami rezeki pada hari ini” (Berikanlah kami pada hari ini makanan (roti) kami yang secukupnya; Mat 6:11; bdk. Luk 11:3). Siapa atau apa yang dimaksudkan di sini? Dia, yang adalah ‘roti kehidupan’ yang turun dari Surga: Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita yang adalah kehidupan kita, pengharapan kita dan jaminan kita bagi kehidupan kekal. 

Selamat Paskah 2010 kepada anda sekalian! 

Cilandak, 21 Februari 2010 [Hari Minggu Prapaskah I]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

BUKANKAH HATI KITA BERKOBAR-KOBAR KETIKA IA BERBICARA?

BUKANKAH HATI KITA BERKOBAR-KOBAR KETIKA IA BERBICARA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah, 7-4-10) 

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti (Luk 24:13-35). 

Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga ‘gosip’ atau ‘kabar angin’ bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang ‘nabi’ tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka. 

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya. 

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu. 

Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat! 

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh harapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin.

Cilandak,  29 Maret 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENAMPAKKAN DIRI KEPADA MARIA MAGDALENA

YESUS MENAMPAKKAN DIRI KEPADA MARIA MAGDALENA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Selasa dalam Oktaf Paskah, 6-4-10) 

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”  Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya (Yoh 20:11-18). 

Kalau anda berada di tengah-tengah orang banyak dan seseorang berseru: “Hai, kamu!”, kemungkinan besar anda akan mengabaikannya. Bagaimana pun juga anda tidak tahu apakah orang itu memanggil anda atau orang lain. Namun apabila nama anda disebut, paling sedikit tentunya anda akan menoleh untuk melihat siapa orang yang menyerukan nama anda itu. Kalau nama kita dipanggil, pasti kita bereaksi, apakah di ruang tunggu dokter, di kelas atau di meja perjamuan. 

Ketika Yesus untuk pertama kalinya menyapa Maria Magdalena dengan menggunakan kata “perempuan” (dalam teks ini digunakan kata “ibu”), dia masih belum mengenali Yesus (lihat Yoh 20:15). Akan tetapi ketika Yesus menyebut namanya – Maria – dia menoleh kepada-Nya. Pada saat itu juga Maria Magdalena mengetahui bahwa orang yang berdiri di depannya adalah Yesus, Juruselamatnya, yang mengenalnya dan mengasihinya. Bayangkan bagaimana perasaannya pada saat itu, ketika melihat Yesus hidup! Maria Magdalena telah menyaksikan kematian Yesus yang mengerikan dan mengenaskan di kayu salib, dia juga telah melihat jenazah-Nya  yang dikafani dengan kain lenan dibaringkan di kubur. Sekarang Dia berdiri di depannya, hidup dan berkata kepadanya, “Maria!”  Maria Magdalena berhenti menangis, dan sekarang dia dipenuhi sukacita. 

Tokoh-tokoh Perjanjian Lama mendengar YHWH memanggil mereka dengan nama masing-masing. Dari semak yang bernyala (namun tak terbakar), Allah memanggil Musa dan memberikan amanat kepadanya untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir (lihat Kel 3:4). Ketika Abram mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya, maka dirinya diberdayakan untuk meninggalkan segalanya dan kemudian mulai melakukan suatu perjalanan panjang menuju suatu negeri belum dikenal yang dijanjikan Allah untuk diberikan kepadanya (lihat Kej 12:1-3). 

Melalui para nabi, Allah menjanjikan kepada kita semua, bahwa Dia akan memberikan kita suatu nama yang baru (lihat Yes 62:2). “Engkau tidak akan disebut lagi ‘yang ditinggalkan suami’, dan negerimu tidak akan disebut lagi ‘yang sunyi’, tetapi engkau akan dinamai ‘yang berkenan kepada-Ku’ dan negerimu ‘yang bersuami’, sebab YHWH telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami” (Yes 62:4). Dapatkah anda memperkenankan Tuhan menunjukkan bagaimana anda berkenan kepada-Nya? Dapatkah anda memperkenankan Dia menunjukkan kepadamu bahwa melalui Kristus Dia telah menarik anda ke sisi-Nya dan membuatmu menjadi seorang ciptaan baru? 

Yesus memiliki kerinduan untuk memanggil anda dengan namamu sendiri setiap hari. Apabila kita mendengarkan suara-Nya – seperti yang dilakukan Maria Magdalena – hati kita pun akan dihangatkan dengan cintakasih-Nya, dan pikiran kita akan dipenuhi dengan kebenaran. Kita akan melihat arah ke mana kita harus pergi. Dan kita pun akan dikuatkan dengan keberanian dalam menghadapi hidup ini. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak terbatas bagiku. Engkau adalah gembala yang baik. Ajarlah aku bagaimana mendengar suara-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi. Jagalah aku agar selalu dekat pada-Mu. Amin. 

Cilandak, 30 Maret 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

MERENUNGKAN SENGSARA YESUS KRISTUS

MERENUNGKAN SENGSARA  YESUS KRISTUS 

Hari telah larut malam. Yudas Iskariot si murid pengkhianat telah pergi. Setelah selesai merayakan Perjamuan Terakhir di Ruang Atas di Yerusalem dengan menyanyikan sebuah nyanyian pujian (lihat Mat 26:30), Yesus dan para murid meninggalkan kota, kemudian menuruni lereng bukit dan menyeberangi Sungai Kidron menuju Bukit Zaitun. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya (lihat Yoh 18:1-2). Jarak antara kota Yerusalem dan tempat tujuan diperkirakan sekitar sekitar 1,7 km yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam, karena keadaan lapangan yang tidak sama dengan jalan di dataran dan juga karena dilakukan pada malam hari. 

Sepanjang perjalanan itu Hati Yesus mengalami kesedihan mendalam dan kemungkinan besar rombongan kecil itu jalan beriring-iringan tanpa banyak bicara. Yang dilakukan mereka adalah menghaturkan doa-doa pribadi dalam keheningan. Tidak seperti biasanya, perjalanan Yesus dan para murid kali ini berkurang dengan satu orang. Iblis telah menguasai salah seorang murid-Nya. Selagi Yesus dan rombongan yang dipimpin-Nya mendekati lembah Kidron, Yudas Iskariot sedang pergi mengatur pengkhianatannya, sementara Yesus sedang menuju Getsemani, sebuah taman tempat produksi minyak zaitun. Di sana buah-buah zaitun diperas dengan alat peras sehingga menghasilkan minyak zaitun. Di sana pula Allah sendiri bermaksud untuk memperlakukan Anak-Nya seperti buah  zaitun dalam sebuah alat peras. 

Yesus adalah Gembala Baik yang sungguhan, yang dalam kasih-Nya yang begitu agung melihat bahaya yang mengancam kawanan domba-Nya. Inilah sebabnya mengapa Yesus memperingatkan para murid-Nya bahwa Dia berusaha menolong dan mempersiapkan mereka. Yesus tidak membawa serta mereka ke dalam taman Getsemani tanpa sekali lagi berbicara mengenai serangkaian peristiwa mengerikan yang segera akan dimulai, agar supaya mereka  menyiapkan diri. 

NUBUAT YESUS 

Ketika rombongan kecil itu sampai di kaki Bukit Zaitun, Yesus bernubuat: “Malam ini kamu semua akan terguncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai” (Mat 26:31; bdk. Za 13:7). Yesus sangat rindu untuk mempersiapkan para murid-Nya, tidak hanya pada malam itu sebelum pertempuran Getsemani dimulai. Sebelumnya berkali-kali Yesus juga sudah memperingati mereka tentang hal-hal yang akan terjadi dengan diri-Nya. 

Kata-kata Yesus ini sungguh memecah keheningan malam seperti bunyi halilintar. Reaksi Petrus: “Biar pun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33). Yesus berkata kepada-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat 26:34).  Kata Petrus kepada-Nya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga (Mat 26:35). 

Setelah itu Yesus tidak berkata apa-apa lagi, namun Ia memimpin para murid-Nya menuju taman Getsemani. Kata Gethesemane berarti alat pemeras zaitun. Alat produksi minyak zaitun itu barangkali disimpan di dalam sebuah gua, dan salah satunya masih dapat lihat di bukit itu. 

DOA YESUS 

Kitab-kitab Injil mengindikasikan bahwa Yesus sering mengunjungi Getsemani, mungkin saja pemilik taman ini adalah seorang sahabat-Nya dari keluarga berada, seperti keluarga Yohanes Markus. Keluarga-keluarga kaya memiliki taman dan lahan pertanian di luar tembok kota. Ketika rombongan kecil itu sampai di Getsemani, Yesus berkata: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya (lihat Mat 26:36-37). 

Pada setiap persimpangan jalan yang penting dalam kehidupan-Nya, Yesus berdoa. Misalnya Dia berdoa pada waktu pembaptisan-Nya. Dia berdoa sebelum memulai pelayanan pewartaan-Nya. Dia berdoa sebelum memilih dua belas orang rasul-Nya. Dia berdoa sebelum bertanya kepada para rasul-Nya sebuah pertanyaan yang teramat penting: “Siapakah Aku ini?” Dia juga berdoa pada hari kemuliaan-Nya, ketika Ia dimuliakan di atas gunung (transfigurasi). 

Dapat dikatakan sesuatu yang ironis bahwa ketiga rasul yang bersama dengan-Nya ketika Dia dimuliakan di atas gunung, sekarang ada bersama-Nya dalam jam sengsara-Nya. Kita lihat apa yang dikatakan dalam Injil Matius: 

Ia mulai merasa sedih dan gelisah. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Kemudian Ia manju sedikit, lalu sujud dan berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:37-39). Doa yang sama didoakan oleh Yesus sampai tiga kali (Mat  26:42; 26:44). 

PENDERITAAN MENTAL YANG DIALAMI YESUS 

Di taman Getsemani ini Yesus mulai suatu proses penderitaan yang akan membawa diri-Nya kepada kematian. Proses penderitaan-Nya ini mempunyai empat aspek, yaitu penderitaan mental, penderitaan emosional, penderitaan fisik dan penderitaan spiritual (Mark Link SJ, Experiencing Jesus His Story, hal. 169-179). 

Penderitaan pertama adalah penderitaan mental. Yesus mengantisipasi penderitaan fisik yang akan dialami-Nya. Antisipasi sedemikian dapat lebih menakutkan daripada penderitaan fisiknya sendiri. Sudah berbulan-bulan lamanya Yesus berkonfrontasi dengan para pemuka agama di Yerusalem. Yesus telah mengalami ketegangan yang semakin memuncak antara diri-Nya dengan para pemuka agama tersebut, bulan demi bulan, pekan ke pekan dan hari demi hari, dan sekarang: jam demi jam. 

Yesus telah memperingatkan para murid-Nya tentang akibat tak terelakkan dari ketegangan yang telah memuncak ini. Pada suatu kesempatan Ia berkata kepada para murid-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya Ia diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat 20:18-19). 

Akan tetapi, bagi para murid-Nya peringatan Yesus ini masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, dan juga tak mampu terserap oleh nalar mereka. Penulis Injil Markus malah menceritakan bagaimana Petrus ‘menegur’ Yesus karena mempunyai pikiran seperti itu (lihat Mrk 8:32). Sekarang, di taman Getsemani ini, Yesus menderita dalam kesendirian. Ia tahu sekali segala sesuatu yang akan terjadi dengan diri-Nya malam/pagi hari itu sampai dengan esok siang hari. Yesus pernah melihat prajurit/algojo Romawi menyiksa tawanan mereka dengan cambukan. Ia juga telah melihat orang-orang yang dihukum mati di kayu salib. Penyaliban pernah dikatakan sebagai pemberian hukuman yang paling kejam yang pernah ada. Dapat diduga, bahwa pada penderitaan-Nya di malam gelap itu terkilaslah dalam ingatan Yesus nubuatan nabi Yesaya: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. …… Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita; dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. …… Banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yes 50:6; 53:5; 52:14). 

Selagi Yesus berlutut berdoa dalam penderitaan-Nya yang mendalam, kata-kata sang pemazmur kiranya juga terkilas dalam pikiran-Nya: “Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku” (Mzm 22:13-15). 

Dalam penderitaan-Nya, Yesus berpaling kepada Bapa di surga: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39). 

Pada suatu hari Pater Mark Link SJ memperoleh suatu wawasan baru berkaitan dengan penderitaan Yesus di taman Getsemani yang diperolehnya dari sebuah buku karangan Dr. Martin Luther King Jr. yang sedang dibacanya. Seperti kita ketahui, Dr. Martin Luther King Jr. adalah pejuang persamaan hak orang-orang negro Amerika Serikat di tahun 1960-an yang akhirnya mati terbunuh. Dalam buku itu diceritakan ketegangan yang ada antara Dr. King dengan pihak penguasa, yaitu pemerintah negara bagian Alabama dan penguasa kota Montgomery, ketegangan yang semakin memuncak dari bulan ke bulan, dari pekan ke pekan dan dari hari ke hari. 

Pada suatu malam, dalam keadaan letih karena kerja keras seharian, pada saat Dr. King mau pergi tidur, telepon berdering. Dr. King mengangkat telepon dan terdengarlah suara ancaman: “Dengar baik-baik nigger (kata ejekan menghina bagi orang-orang negro/kulit hitam di Amerika Serikat), kami telah mengambil segalanya dari kamu. Sebelum pekan depan, kamu akan menyesal pernah datang ke Montgomery.” Dr. King menutup teleponnya. Tiba-tiba dirinya mulai dikuasai oleh rasa takut yang luarbiasa mencekam. Pejuang hak azasi ini mulai kehilangan keberaniannya. Dia mulai merasa sakit di sana sini. Dia bangkit berdiri dan mulai melangkah bolak balik dalam ruang tidurnya. Dia pergi ke dapur, menyiapkan kopi dan duduk di sana tak tahu apa yang akan diperbuatnya atau ke mana dia akan minta pertolongan. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan mulai berdoa. Doanya kira-kira berbunyi begini: Tuhan, aku memperjuangkan apa yang aku percaya sebagai sesuatu yang benar. Namun demikian, sekarang aku merasa takut, sangat takut. Orang-orang tergantung pada diriku untuk kepemimpinan. Apabila aku tanpa kekuatan atau keberanian, maka mereka pun akan semakin takut. Aku sudah sampai di ujung. Aku tidak tahu ke mana aku harus berpaling. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak lagi mampu menghadapi tanggung jawab ini sendiri.

Dr. King menulis, bahwa pada titik inilah dia mengalami kehadiran Sang Ilahi yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Pengalaman Dr. King ini memberikan kepada kita suatu wawasan bagaimana Yesus merasakan kehadiran Bapa-Nya setelah doa-Nya di taman itu. Karena setelah Ia berdoa, Injil Lukas mengatakan: “Lalu seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya” (Luk 22:43). 

Tidak lama kemudian terdengar suara-suara di kejauhan. Semakin keras dan keras, suatu tanda bahwa banyak orang semakin dekat. Yesus mengetahui sekali apa artinya ini. Beberapa menit kemudian sejumlah besar serdadu mulai memasuki taman Getsemani. Yudas Iskariot ada bersama rombongan orang banyak itu. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan suatu tanda kepada mereka, ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.’ Segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata, ‘Salam Rabi,’ lalu mencium Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya, ‘Hai teman, untuk itukah engkau datang?’ Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya (Mat 26:48-50). 

PENDERITAAN EMOSIONAL YANG DIALAMI YESUS 

Di samping penderitaan mental-Nya, Yesus juga mengalami penderitaan emosional. Penderitaan emosional mulai dialami Yesus ketika Yudas mengkhianati-Nya. Penderitaan emosial-Nya semakin intensif pada saat-saat  para murid-Nya melarikan diri, meninggalkan diri-Nya sendiri menghadapi pihak lawan. 

Setelah ditangkap, mula-mula serdadu-serdadu membawa Yesus ke rumah Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas yang pada tahun itu menjadi Imam Besar (lihat Yoh 18:13). Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Murid yang lain itu, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, berbicara dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. Hamba perempuan itu mengenali Petrus, lalu bertanya: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan!” (lihat Yoh 18:15-17). Petrus menyangkal Yesus untuk pertama kalinya. Kemudian Petrus – untuk menghangatkan badannya – berdiri di dekat api unggun yang dibuat oleh para hamba Imam Bear dan penjaga Bait Allah bersama dengan mereka.  Setelah Yesus diperiksa dan malah ditampar oleh seorang penjaga, Hanas mengirim-Nya kepada Kayafas (lihat Yoh 18:24). Pada saat inilah, ketika Simon Petrus masih berdiri menghangatkan badannya, beberapa orang bertanya: “Bukankah engkau juga salah seorang murid-Nya?” Petrus menyangkal dengan berkata: “Bukan” (lihat Yoh 18:25-26). Petrus menyangkal Yesus untuk kedua kalinya. Kemudian seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yangt telinganya dipotong Petrus, berkata: “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?’” Petrus pun menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya dan seketika itu juga berkokoklah ayam (lihat Yoh 18:26-27). Injil Lukas melukiskan penyangkalan Petrus yang ketiga kalinya dengan dengan lebih dramatis: 

Kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas, “Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.” Tetapi Petrus berkata, “Pak, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu  berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau  telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih (lihat Luk  22:59-62).    

Penderitaan mental yang mendalam dari Yesus di taman Getsemani hampir tidak dapat ditanggung-Nya. Namun sekarang, penderitaan emosional Yesus yang dikarenakan Dia merasa dikhianati, ditinggalkan dan disangkal hampir menghancurkan hati-Nya. Kata-kata sang pemazmur sekarang digenapi: “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Mzm 41:10). Kita hanya dapat membayangkan inilah kiranya yang ada dalam pikiran dan hati Yesus ketika Ia ditahan, setelah diolok-olok dan dipukuli (lihat Luk 22:63) menjelang dibawa ke Mahkamah Agama di pagi harinya. Di Mahkamah Agung, kepada Yesus diajukan suatu pertanyaan sangat penting dan menentukan. Berikut ini petikannya: 

“Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus, “Sekalipun aku mengatakannya kepada kamu, kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya, kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Kata mereka semua, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia.” Lalu kata mereka, “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri” (Luk 22:67-71) 

Setelah itu Yesus dibawa  ke mabes gubernur Romawi, Ponsius Pilatus. Anggota Mahkamah Agung berharap agar Pilatus-lah yang menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus. Setelah sekian lama proses pemeriksaan berlangsung, Pilatus menyimpulkan bahwa inti permasalahannya adalah suatu konflik keagamaan antara orang-orang Yahudi sendiri. Oleh karena itu dia mencoba untuk cuci tangan. 

PENDERITAAN FISIK YANG DIALAMI YESUS 

Ketika setiap upaya gagal, Pilatus menyerah penuh frustrasi. Dia telah menyerahkan Yesus untuk dihukum cemeti dan menyerahkan-Nya untuk disalibkan. Di sini kita berbicara mengenai penderitaan badaniah, atau penderitaan fisik Yesus. Orang-orang Yahudi mengenal hukuman cambuk ini. Mereka sendiri telah mempraktekkannya sejak zaman-zaman sebelumnya, namun hanya untuk kesalahan yang serius. Taurat mereka mengatur sebagai berikut: “… maka jika orang yang bersalah itu layak dipukul, haruslah hakim menyuruh dia meniarap dan menyuruh orang memukuli dia di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. Empat puluh kali harus orang itu dipukuli, jangan lebih; supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu, apabila ia dipukul lebih banyak lagi” (Ul 25:2-3). 

Orang-orang Romawi tidak memiliki perikemanusiaan. Mereka tidak membatasi jumlah pukulan, dan mereka juga menggunakan cambuk yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu masuk dalam-dalam di tubuh korban. Penulis-penulis Romawi menceritakan bahwa  para korban kadang-kadang menjadi tidak-sadar-diri dan mati sebelum pemukulan dihentikan. Nah, Yesus mengalami penghukuman kejam seperti ini. Setelah itu, para serdadu Romawi malah mengolok-olok Yesus. Kita lihat apa yang ditulis dalam Injil Matius: 

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya, “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh  itu memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah yang dipakai-Nya itu dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan (Mat 27:29-31). 

Berikut ini adalah sedikit kesaksian dari Dr. Sheila Cassidy berkaitan dengan penderitaan fisik yang dialaminya. Cerita ini bersumber pada tulisan Pater Mark Link SJ dan tulisan lainnya. Dr. Cassidy lahir di Inggris pada tahun 1937 dan sekolah di Australia. Pada tahun 1970’an Dr. Cassidy melakukan kerja pelayanan sebagai dokter di Chile. Pada suatu hari seorang yang terluka datang kepadanya untuk berobat. Orang ini tidak dapat pergi ke rumah sakit karena dia sedang dicari-cari dan dikejar-kejar oleh polisi rahasia. 

Tidak lama kemudian Dr. Cassidy ditahan oleh polisi rahasia. Dokter ini dibawa ke sebuah penjara. Dalam pernjara ini dia ditelanjangi dan tangan-tangan dan kaki-kakinya ditarik keras ke empat arah tanpa dia dapat melawan sedikit pun. Dr. Cassidy menulis: Aku diberi hukuman yang mengakibatkan kesakitan fisik pada diriku, dan aku pun di bawah ancaman pembunuhan. Untuk pertama kali dalam hidupku aku berpikir bahwa aku akan mati. Mereka mencoba memaksa aku untuk menyebut nama orang itu …… Aku mengalami sedikit apa yang telah diderita Yesus. Sepanjang waktu susah penuh derita itu aku hanya merasakan bahwa Dia ada di sana dan aku pun mohon kepada-Nya untuk menolongku agar dapat tetap bertahan. 

“Setelah empat hari penuh dengan rasa sakit secara fisik, aku dipindahkan … Aku ditinggalkan sendirian, sungguh-sungguh sendiri dalam sebuah ruangan kecil … Aku dikuasai oleh suatu rasa takut yang luarbiasa, bahwa setiap saat mereka akan datang kembali dan menyiksa aku lagi. Pada saat itu aku teringat pada doa Dietrich Bonhoeffer[1] yang ditulisnya sementara menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya…… “Dalam diriku terdapat kegelapan, tetapi dengan Dikau ada terang … ya Tuhan, apa pun yang terjadi hari ini, dimuliakanlah nama-Mu.” 

Selagi Yesus digiring ke tempat penghukuman, penderitaan fisik-Nya memuncak dan semakin intensif. Ada kebiasaan dalam dunia zaman dahulu, di mana si terhukum harus membawa sendiri alat yang digunakan untuk menghukum dirinya. Yesus juga tidak dikecualikan. Yesus juga harus memanggul salib-Nya sendiri, padahal punggung-Nya sudah rusak karena sudah terlukai oleh cambukan-cambukan sebelumnya. Setelah berjalan beberapa ratus meter jauhnya, Yesus mulai lemah karena kehilangan darah. Dia mulai tidak kokoh dalam memanggul salib yang berat itu. Oleh karena itu para serdadu memaksa seorang laki-laki yang sedang menonton di pinggir jalan bernama Simon dari Kirene, untuk menolong Yesus. 

Jarak dari mabes Pilatus ke Golgota kira-kira 400 meter (1/4 mil). Golgota adalah sebuah bukit kecil di luar pintu gerbang kota. Golgota berarti ‘tempat tengkorak’. Jalan-jalan menuju Golgota itu sempit dan terbuat dari batu-batu besar. Batu-batu ini semakin lama semakin licin dan membuat orang yang berjalan di atasnya mudah terpeleset. Pada hari Jumat itu jalan-jalan itu dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menonton penghukuman itu. Ketika pada akhirnya prosesi sampai di bukit Golgota, bukit itu dengan cepat dikelilingi oleh para serdadu Romawi yang bertugas untuk menjaga keamanan. 

Yesus kemudian ditelanjangi dan siap untuk dihukum. Pada menit terakhir, para serdadu memberikan kepada Yesus minuman yang sudah dicampur obat-obat guna mamatikan pikiran terhadap penderitaan yang dialaminya. Ini adalah praktek yang biasa dilakukan. Yesus menolak untuk minum.

Setelah Yesus telah dipaku pada kayu salib, salib pun ditegakkan. Kekejaman penyaliban adalah rasa sakit yang diderita korban dalam proses kematiannya. Rasa sakitnya menyiksa, tetapi tidak cukup untuk mematikan. Korban seringkali mati rasa lapar atau rasa haus. Ada laporan yang mengatakan bahwa para terhukum diketahui bertahan sampai beberapa hari, akhirnys mati gila. Inilah jenis penderitaan yang dialami Yesus. 

PENDERITAAN SPIRITUAL YANG DIALAMI YESUS 

Penderitaan Yesus yang keempat adalah penderitaan spiritual. Barangkali penderitaan spiritual ini adalah penderitaan yang paling menyakitkan dari semua penderitaan. Ini adalah penderitaan karena dibuang/ditinggalkan justru pada waktu seseorang membutuhkan pihak lain untuk menemani dan menghibur. Penderitaan karena ditertawakan, diejek, dicemoohkan pada saat-saat seseorang itu menderita karena siksaan. Mari kita lihat apa yang ditulis dalam Injil Markus: 

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata, “Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olok Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkank! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu sekarang supaya kita lihat dan percaya” (Mrk 15:29-32). 

Yesus mendengar kata-kata itu semua, kata-kata yang sangat menyayat-nyayat hati-Nya. Apa tanggapan Yesus terhadap kata-kata yang menyakitkan tersebut? Apakah Dia membalas dengan kata-kata cercaan juga? Sama sekali tidak! Berikut ini adalah tanggapan Yesus: 

Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring. “Eloi, Eloi, lema sabakhtani?”, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:33-34). 

Dalam kehidupan ada saat di mana kita merasa tidak berdaya, yaitu ketika teman-teman baik kita tidak dapat menolong kita, dan ketika kita tak dapat menolong diri kita sendiri. Saat penderitaan spiritual ini bagi Yesus adalah ketika Dia tergantung di kayu salib. Bahkan Allah sendiri kelihatan sudah pergi meninggalkan Dia. Yesus sendiri, tanpa siapa-siapa di sisi-Nya. Lagi-lagi Dia kembali ke doa yang ada dalam Kitab Mazmur: 

Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. … Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, YHWH, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! (Mzm 22:2.7.15-20). 

Akan tetapi Allah tidak datang untuk menyelamatkan Yesus! Pada akhirnya keempat penderitaan Yesus membawa-Nya kepada kematian: 

Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas dan kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”  Sesudah berkata demikian Ia menghembuskan napas terakhir-Nya (Luk 23:44-46). Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan napas terakhir seperti itu, berkatalah ia, “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:39). 

MAKNA PENDERITAAN YESUS 

Kematian pada akhirnya membebaskan Yesus dari penderitaan-Nya. Selagi Dia masih tergantung di kayu salib, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Mengapa Yesus, Putera Allah, harus mengalami empat macam penderitaan yang begitu berat? Mengapa Yesus harus mati penuh dengan rasa sakit? Bukan karena penderitaan itu baik adanya. Samasekali tidak! 

Penderitaan itu sendiri bukanlah tujuan. Yang penting kita pegang adalah cintakasih Yesus yang begitu agung yang menyebabkan Dia bersedia untuk menderita demi keselamatan kita. Yesus yang tersalib berbicara kepada kita  tentang cintakasih dengan menggunakan tiga cara: 

Pertama, sebagai suatu manifestasi dari cintakasih. Tubuh Yesus yang tergantung di kayu salib adalah suatu cara visual untuk menggambarkan apa yang telah begitu sering dikatakan Yesus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). 

Kedua, tubuh Kristus yang tersalib adalah suatu pengungkapan atau pernyataan cintakasih. Di sini ditegaskanlah bahwa cintakasih mengandung juga unsur penderitaan. Tubuh Yesus di kayu salib mengatakan secara visual apa yang begitu sering dikatakan oleh Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”  (Luk 9:23). 

Ketiga, tubuh Kristus yang tersalib adalah sebuah perintah/undangan untuk mencintai, untuk mengasihi. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). 

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk selalu bermurah hati. Ajarlah aku untuk melayani-Mu seturut kehendak-Mu; untuk memberi tanpa menghitung-hitung biayanya; untuk melayani tanpa menuntut balasan, kecuali mengetahui bahwa apa saja yang kulakukan adalah seturut kehendak-Mu. Amin. 

Butir-butir untuk permenungan pribadi dan/atau untuk diskusi kelompok kecil: 

  1. “Aku sudah sampai di ujung. Aku tidak tahu ke mana aku harus berpaling. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak lagi mampu menghadapi tanggung jawab ini sendiri.”  Dr. Martin Luther King Jr. menulis, bahwa pada titik inilah dia mengalami kehadiran Sang Ilahi yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Ingat-ingatlah pengalaman hidup anda sendiri yang serupa atau mirip-mirip dengan pengalaman Dr. King ini. 
  2. Dr. Sheila Cassidy berkata: “Aku dikuasai oleh suatu rasa takut yang luarbiasa, bahwa setiap saat mereka akan datang kembali dan menyiksa aku lagi. Pada saat itu aku teringat pada doa Dietrich Bonhoeffer yang ditulisnya sementara menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya…… “Dalam diriku terdapat kegelapan, tetapi dengan Dikau ada terang … ya Tuhan, apa pun yang terjadi hari ini, dimuliakanlah nama-Mu.” Bagaimana dengan doa anda sendiri pada saat-saat menghadapi situasi seperti ini? Mengapa? 
  3. Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ingat-ingatlah suatu waktu di mana anda berdoa secara khusus bagi orang-orang yang mendzolimi anda, yang membenci anda, yang memusuhi anda. 
  4. Tubuh Yesus yang tersalib adalah suatu manifestasi cintakasih, suatu pengungkapan cintakasih dan perintah/undangan untuk mengasihi. Lakukanlah kaji-ulang atas masing-masing butir yang baru disebutkan. Yang mana berbicara kepada anda secara istimewa? 
  5. Yesus mengalami empat macam penderitaan: penderitaan mental, emosional, fisik dan spiritual. Lakukanlah kaji-ulang atas masing-masing penderitaan termaksud. Ingat-ingatlah kapan saja anda mengalami penderitaan yang sama. 

Cilandak, 30 Maret 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Suffering is bearable if there is someone we love. No human being is free to decide  whether he will go through life without suffering and trial. These constitute as much the essence of life as shadows resulting from sunlight. Our choice is only to decide how we will react to them. Some trials in marriage are of such a magnitude that no human remedy can help; it is then that one must turn to God and the fullness of His love. 

Fulton J. Sheen [The Wit & Wisdom of Bishop Fulton J. Sheen, hal. 25]


[1] Dr. Dietrich Bonhoeffer (1906-1945) adalah seorang teolog terkenal dari Jerman yang ditangkap oleh penguasa Nazi dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Dia mati dihukum gantung. Dr. Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Protestan-Lutheran yang dihargai oleh teolog-teolog Gereja Katolik.

KEBANGKITAN YESUS MENGUBAH SEGALANYA

KEBANGKITAN YESUS MENGUBAH SEGALANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Senin dalam Oktaf Paskah, 5-4-10) 

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Sementara mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata, “Kamu harus mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Apabila hal ini terdengar oleh gubernur, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Cerita ini tersebar di antara orang Yahudi sampai sekarang (Mat 28:8-15). 

Perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus adalah mereka yang kenal dekat dengan Dia, yaitu Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus (Mrk 28:1; bdk. Mrk 16:1). Mereka datang ke kubur untuk meminyaki jenazah Yesus dengan rempah-rempah (lihat Mrk 16:1). Dalam situasi yang menakutkan, kedua orang perempuan itu berjumpa dengan seorang malaikat Tuhan, yang berkata kepada mereka: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (Mat 28:5-6). ‘Kubur yang kosong’ juga bukan hal yang diharapkan oleh para serdadu yang ditugaskan menjaga. Para serdadu Romawi yang dikenal berani dalam medan pertempuran, menjadi gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati, gara-gara berhadapan dengan seorang malaikat Tuhan (lihat Mat 28:4). Para rasul sendiri menolak untuk percaya berita ini (lihat Mrk 16:11), meskipun sebelumnya Yesus telah mengatakan kepada mereka bahwa misi-Nya adalah untuk pergi ke Yerusalem di mana Dia akan dihukum mati dan kemudian dibangkitkan (lihat Mat 16:21). 

Misteri kebangkitan memang tidak mungkin ditangkap oleh intelek manusia semata. Para imam kepala dan tua-tua Yahudi merekayasa sebuah cerita bohong dan menyogok para serdadu Romawi agar menyebar-luaskan cerita bohong itu (lihat Mat 28:11-15). Sungguh memalukan bagi para pemuka Yahudi untuk ‘terpaksa’ bersekongkol dengan serdadu-serdadu Romawi yang mereka benci. Sampai sekarang cerita bohong itu masih digunakan oleh pihak-pihak tertentu sebagai argumentasi melawan kepercayaan orang Kristiani. 

Bagi orang-orang yang percaya, kabar tentang kebangkitan Yesus telah mengubah segalanya. Pada waktu pergi berjalan menuju kubur Yesus pasti kedua perempuan itu masih dikuasai rasa sedih-mendalam yang disebabkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari-hari sebelumnya, namun kemudian mereka kembali dari kubur dengan penuh sukacita, dengan suatu tujuan baru. Bagi umat Kristiani kebangkitan Yesus mengubah segalanya: kesedihan berubah menjadi sukacita; keputus-asaan berubah menjadi pengharapan; ketiadaan tujuan berganti dengan suatu pengetahuan bahwa kita adalah milik Bapa surgawi melalui Yesus. Sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis, dalam iman kita disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Karena Yesus bangkit dari antara orang mati, mengalahkan dosa dan kematian, maka kita ikut ambil bagian dalam hidup kebangkitan. 

Misteri-misteri ini hanya akan membawa dampak yang kecil atas kehidupan kita apabila kita mencoba untuk memahaminya dengan hikmat manusia semata. Kita membutuhkan Roh Kudus untuk menjelaskan semua itu kepada kita. Yesus bersabda: “Roh Kudus akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26) dan tentunya akan mengajar kita tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Dalam hari-hari pada masa Paskah, marilah kita mohon kepada Roh Kebenaran agar mengungkapkan di kedalaman hati kita, misteri dari Yesus Kristus yang mati kayu salib dan bangkit. 

DOA: Datanglah Roh Kudus. Bukalah hati dan pikiran kami kepada kebenaran misteri-misteri yang kami rayakan selama masa Paskah. Semoga kebenaran tentang kemenangan Yesus atas kematian memberikan kepada kami harapan dan kekuatan bagi penghayatan hidup Kristiani kami sehari-hari. Amin. 

Cilandak, 28 Maret 2010 [Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA HARUS BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

IA HARUS BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: HARI MINGGU PASKAH, 4-4-10) 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yoh 20:1-9).  

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2.16-17.22-13. 

Diambil dari khotbah Paskah Santo Melito dari Sardis (+ c. 180; Uskup Sardis, dekat Smyrna di Anatolia bagian barat). 

Demi umat manusia yang menderita, Kristus turun dari surga ke bumi, mengenakan pakaian kemanusiaan dalam rahim Sang Perawan, dan Dia dilahirkan sebagai seorang manusia. Memiliki tubuh yang mampu menderita, Dia mengambil rasa sakit “manusia yang jatuh” dan menjadikannya beban atas diri-Nya sendiri. Dia menang atas segala penyakit dalam jiwa dan tubuh manusia yang menjadi sebab rasa sakit tadi, dan oleh Roh-Nya Dia memberikan pukulan mematikan kepada pemusnah manusia, yakni maut. 

Dia dibawa seperti seekor anak domba dan dibantai seperti seekor domba. Dia menebus kita dari perbudakan dunia, seperti Dia telah menebus Israel dari tanah Mesir; Dia membebaskan kita dari perbudakan kita di bawah kuasa kegelapan si Iblis, seperti Dia telah membebaskan Israel dari tangan jahat Firaun. Dia memeteraikan jiwa-jiwa kita dengan Roh-Nya sendiri dan anggota-anggota tubuh kita dengan darah-Nya sendiri. 

Lewat kematian-Nya Kristus mengusir si Iblis ke perkabungan, seperti Musa mengusir Firaun ke perkabungan. Kristus adalah Dia yang menghantam dosa dan merampas ketidakadilan dari keturunan manusia, seperti Musa merampas keturunan orang-orang Mesir. Kristus adalah Dia yang memimpin kita keluar dari perbudakan dan masuk kedalam kebebasan, keluar dari kegelapan dan masuk kedalam terang, keluar dari maut dan masuk kedalam kehidupan, keluar dari tirani dan masuk kedalam sebuah kerajaan kekal; Dia yang membuat kita suatu imamat yang baru, umat yang dipilih untuk menjadi milik-Nya untuk selamanya. 

Seperti Habel Dia dipukul dan dibunuh, seperti Ishak Dia diikat untuk menjadi korban persembahan, seperti Yakub Dia hidup sebagai pengembara dalam pengungsian, seperti Yusuf Dia dijual, seperti Musa Dia tak terlindungi dari kematian. Dia dikorbankan seperti anak domba Paskah, dianiaya seperti Daud, dihina, dicemoohkan dan ditolak seperti para nabi. 

Kristus adalah Dia yang menjadi manusia dari Sang Perawan, Dia yang digantung di kayu salib, Dia yang dikuburkan di dalam bumi, bangkit dari kematian dan diangkat kepada ketinggian surga. 

Di atas kayu salib tidak ada satu pun tulang-Nya yang dipatahkan dan di dalam bumi tubuh-Nya tidak rusak. Kristus adalah Dia yang bangkit dari maut dan yang membangkitkan umat manusia dari kedalaman liang kubur. 

DOA: Allah pemberi kehidupan, Dikau membukakan bagi kami pintu kehidupan abadi karena kemenangan Putera-Mu atas maut. Kebangkitan-Nya yang kami rayakan pada hari ini sungguh menguatkan pengharapan kami akan kebangkitan kami sendiri kelak. Semoga kami terus diperbaharui oleh Roh-Mu dan bangkit dalam terang kehidupan. Amin. 

Cilandak, 25 Maret 2010 [Hari Raya Kabar Sukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATI TERHADAP DOSA, TETAPI HIDUP BAGI ALLAH

MATI TERHADAP DOSA, TETAPI HIDUP BAGI ALLAH

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH, Sabtu 3-4-10) 

Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis  dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus  telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu  telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm 6:3-11).  

Bacaan Perjanjian Lama: Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-28; Bacaan Injil: Mat 28:1-10. 

Kematian dan kehidupan – Sungguh sebuah kontras yang kita hadapi pada hari Sabtu Suci ini. Semua sunyi-sepi dari pagi sampai dengan sore hari. Catatan singkat dalam kalendarium menjelaskan semuanya: “Dengan Berdoa dan Berpuasa  Gereja berada di Makam Tuhan.” Gedung gereja terlihat kosong, termasuk tabernakel. Akan tetapi tidak demikianlah malam ini. 

Malam ini dikenal sebagai Easter Vigil, a night of vigil, suatu malam untuk kita berjaga-jaga, malam untuk berefleksi, malam antisipasi. Yesus telah wafat dan jenazah-Nya telah diletakkan dalam kuburan yang ditutup dengan batu besar. Tubuh-Nya telah dirusak oleh berbagai dera dan siksa. Darah-Nya telah ditumpahkan, dan semua dosa kita telah ditebus. Namun pada malam ini kita kembali akan diperkenalkan kepada kepenuhan hidup lewat kebangkitan Yesus yang penuh kemuliaan. Pada malam ini gereja-gereja kita akan dipenuhi dengan hidup baru dan keindahan. Memang sebuah kontras bila dibandingkan dengan keadaan dan suasana pada pagi/siang harinya. 

Dengan demikian, malam ini juga adalah malam penuh sukacita! Pada malam ini kita semua akan membuat komitmen yang lebih mendalam lagi kepada Yesus. Mengapa? Karena kita semua telah mati juga. “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” (Rm 6:3). Tidak hanya dosa-dosa kita yang telah dicuci bersih, melainkan sumber dosa-dosa itu sendiri – diri kita yang lama, kodrat lama kita yang mempunyai kecenderungan berdosa telah dibawa Kristus ke kayu salib dan kemudian dikuburkan. Dalam kubur Yesus di rahim bumi, kita ditransformir dan dilahirkan kembali ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang tersedia bagi kita oleh rahmat dan melalui iman. 

Dalam tulisan Santo Paulus yang menjadi salah satu dari sejumlah bacaan pada Misa Malam Paskah ini, rasul ini mengajar kita bahwa kita ikut ambil bagian, baik dalam kematian maupun kebangkitan Yesus. Pembaptisan kita sendiri sebenarnya adalah sebuah paradoks kehidupan dan kematian. Melalui baptisan ke dalam kematian Yesus di kayu salib, kita mati terhadap dosa. Melalui baptisan yang sama ke dalam kebangkitan-Nya, kita juga dibangkitkan ke dalam suatu kehidupan baru dalam Roh-Nya. Suatu kontras penuh kemuliaan yang diperuntukkan bagi kita. Selagi kita setiap hari mati terhadap diri kita sendiri dan dosa, kita menerima hidup baru lewat kuasa kebangkitan Yesus. Kehidupan Tuhan yang bangkit ada dalam diri kita karena kita telah dibaptis ke dalam diri-Nya. Kuasa-Nya ada dalam diri kita guna mengubah kita. Oleh Roh-Nya, kita dapat mulai menghayati suatu hidup baru. 

Sabtu Suci merupakan suatu kesempatan bagus sekali bagi kita untuk mencari hidup baru ini lewat doa dan pembacaan serta permenungan firman Allah dalam Kitab Suci. Sedapat mungkin, gunakanlah hari yang khusus ini sebagai sebuah hari untuk mencari Allah dalam keheningan dan penantian. Marilah kita mengantisipasi karunia hidup baru yang akan kita terima malam ini selagi kita memperbaharui janji baptis dan turut serta dalam liturgi Paskah. 

Hari Sabtu Suci merupakan suatu kesempatan untuk bertumbuh semakin dekat pada Yesus dan menerima hidup-Nya dengan lebih mantap lagi. Yesus telah mengalahkan dosa, kematian dan Iblis. Kita dapat mengalami kemenangan kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ini. Kita dapat mengharapkan terjadinya perubahan-perubahan nyata dalam kehidupan kita di hari-hari dan pekan-pekan mendatang, karena kite telah menerima kuasa kebangkitan Yesus sendiri. 

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin ikut ambil bagian dalam hidup-Mu hari ini. Tolonglah aku agar mampu mengatasi dosa-dosaku melalui kuasa kematian dan kebangkitan-Mu. Berikanlah kepadaku hidup baru dalam Roh Kudus! Amin. 

Cilandak, 28 Maret 2010 [Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIGA SALIB DI TEMPAT YANG BERNAMA TENGKORAK

TIGA SALIB DI TEMPAT YANG BERNAMA TENGKORAK:

SEBUAH RENUNGAN ALKITABIAH ATAS LUK 23:33-43  *) 

PENGANTAR 

“Kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus adalah kekayaan  tak terhingga dan yang tidak akan pernah habis untuk menimba makna kehidupan kita” (Suharyo, hal. 70). Dan … “bagi umat Kristen awal sengsara dan wafat Yesus bukanlah akhir segala-galanya, akan tetapi malah sebaliknya merupakan peristiwa yang berjalan ‘menurut Kitab Suci’. Oleh karena itu mereka merenungkan kisahnya, mencari makna dan mereka wariskan sebagai kekayaan” (Suharyo, hal. 68). 

Para penulis Injil sinoptik melihat kisah sengsara dan wafat Yesus dari terang kebangkitan. Mereka menunjukkan bahwa wafat Yesus adalah tindakan Allah yang mengubah dunia. Mereka mengerjakan bahan-bahan tradisi dengan cara mereka masing-masing. Markus menekankan berjalannya rencana Allah yang penuh dengan kejutan. Kisah sengsara menurut Markus menunjukkan bahwa rencana Allah yang sejak awal dipersiapkan terlaksana secara penuh di Kalvari. Matius menampilkan Kristus dalam terang iman dan menunjukkan makna gerejawi peristiwa-peristiwa itu. Matius menunjukkan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi adalah pemenuhan rencana Allah sebagaimana dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Wafat Yesus tidak dapat dipisahkan dengan kebangkitan-Nya. Di lain pihak Lukas lebih-lebih mengajak para pembaca untuk mengikuti Yesus dalam kesengsaraan-Nya, untuk membangun hubungan pribadi dengan Yesus, guna memperoleh rahmat tobat berkat salib Yesus. 

Dalam tulisan ini saya mau menyoroti secara khusus dan mencoba merenungkan Luk 23:33-43 yang unik apabila dibandingkan dengan perikop tentang “Yesus disalibkan” yang terdapat dalam Mat 27:33-44 dan Mrk 15:22-32 (serta Yoh 19:17-24). Keunikan ini antara lain sehubungan dengan ‘komunikasi’ yang terjadi antara tiga orang yang tersalib; dua kali terjadi komunikasi satu arah (gayung tidak bersambut) dan  sekali terjadi komunikasi dua arah dengan happy ending. Justru karena keunikan ini baiklah bagi kita untuk melihat pesan teologis apa yang mau disampaikan oleh Lukas. 

LATAR BELAKANG 

Tulisan ini banyak sekali diinspirasikan oleh sebuah buku kecil karangan seorang Fransiskan, Leonard Peusch OFM, yang berjudul The Three Crosses yang sudah lebih dari sepuluh tahun mempunyai pengaruh cukup besar atas penghayatan iman saya pribadi sebagai seorang Kristen yang Katolik. Namun dengan mengingat ruang lingkup mata kuliah yang sedang dipelajari, keterbatasan waktu dan untuk mencegah jangan sampai tulisan ini menjadi panjang tak berguna, maka tidak semua pokok pemikiran dan permenungan Peusch disampaikan dalam tulisan ini. 

Tulisan ini juga memanfaatkan beberapa tulisan para ahli, khususnya catatan dan/atau komentar yang menyoroti perikop yang menjadi topik permenungan kita ini. Berbagai catatan dan/atau komentar para ahli itu akan sangat berguna sebagai dasar pemahaman tulisan ini. 

Berikut ini adalah beberapa petikan tulisan termaksud: 

  1. “Menyimpang jauh dari tradisi Sinoptik, dalam Lukas orang hukuman yang lain mengaku bahwa hukuman yang diterimanya setimpal dengan kejahatannya dan mengakui tidak bersalahnya orang yang disapanya dengan akrab sebagai ‘Yesus’, suatu sapaan yang di lain tempat dalam Injil-injil digunakan secara bersahabat hanya oleh pengemis buta dari Yerikho. Yesus, yang tengah menderita itu, menjawab dengan kerahiman yang lebih besar daripada yang dimohon pemintanya, sebab Yesus tidak saja akan mengingat orang itu setelah masuk ke dalam kerajaan-Nya, tetapi Ia juga akan membawanya bersama dengan Dia hari itu juga” (Raymond E. Brown, hal. 73-74). 
  2. “The dialogue with the two  revolutionaries on their crosses is unique to Luke. He tells the story to reveal again that Jesus responds to the honest, repentant person who recognizes his or her own wrongs and asks for compassion. Notice that the criminal Jesus forgives will have no chance to ‘make up’ for his wrongs. He is only compassionate to Jesus and just in his estimate of himself. He commends himself to the mercy of the Lord. Luke thus affirms that in his very dying, Jesus still offers immediate transformation and salvation to those who long for it. In the midst of mocking rejection and in great pain, Jesus’ compassion dominates everything else” (Marilyn Gustin, hal. 55). Catatan: Sesungguhnya dialog hanya terjadi sekali, yaitu antara Yesus dan penjahat yang bertobat). 
  3. “Tuntutan untuk menyatakan diri sebagai Mesias, orang pilihan Allah dan Raja orang Yahudi dengan turun dari salib, tidak dilayani Yesus (23:35-37). Namun justru di salib Yesus membuktikan kebenaran-Nya dahulu – meski dengan cara lain daripada yang dituntut – yaitu dengan menyelamatkan orang lain, penjahat yang berbalik itu dan mengakui Yesus sebagai yang tidak bersalah, orang benar (23:41-43). Tulisan yang dipasang atas kepala Yesus di salib: ‘Inilah raja orang Yahudi’ (23:38) oleh Lukas tidak dianggap cemooh belaka, melainkan sebagai pernyataan kebenaran. Sebab penuh keyakinan tentang nasib-Nya nanti Yesus menjanjikan kepada penjahat yang berbalik dan mengakui-Nya sebagai Raja, sebuah tempat di Firdaus. Begitu Yesus membuktikan diri-Nya Raja, yaitu dengan menyelamatkan orang lain dan di tingkat lain daripada yang dimaksudkan orang yang memasang tulisan itu. Dalam pandangan Lukas penjahat yang berbalik itu serta meletakkan seluruh kepercayaannya pada Yesus, menjadi contoh orang berdosa yang dalam pertemuan dengan Yesus bertobat. Contoh baik itu diperlawankan dengan contoh buruk, yaitu penjahat yang lain, yang meskipun bertemu dengan Yesus tetap keras kepala. Menjadi jelas pula bahwa bukan penderitaan sendiri yang memutuskan, tetapi sikap yang diambil orang terhadap Yesus” (C. Groenen OFM, hal. 193-194). 
  4. “The lead-in to Jesus’ third word is long and replete  with Lukan themes (23:35-42). As we have had frequent occasion to note, Luke distances the people of God from their leaders (23:35). It is  these leaders who mock and jeer at Jesus religious leaders, the Roman soldiers, and the one criminal mask the genuine Christian message. Jesus is indeed the Christ of God, the Chosen One, the King of the Jews. He has saved others. But Jesus, faithful to his Father’s will to the end, will not use his power to feather his own nest. Earlier, Pilate and Herod had witnessed to Jesus’ innocence. Now the ‘good criminal’ adds his independent witness: ‘But this man has done nothing wrong’ (23:41). The jewel in this rich setting of theological themes follows. It is Jesus’ third word, sometimes  called the Gospel within the Gospel: ‘Indeed, I promise you, today you will  be with me in paradise’ (23:43). Jesus had come to put his arms of mercy around sinners and hug them. To the very last he is true to that kingly vocation. The ‘good revolutionary’ is promised salvation today, not in some dim future. The words, ‘with me’ and ‘in paradise’ mean the same thing. The sinner will enjoy communion with Jesus after his death. The clear implications of Jesus’ promise are that his death and exaltation to glory at the Father’s right hand occur at the same time. Because Jesus will enjoy that blissful state today, he can promise a share of it to the  criminal” (Robert J. Karris OFM, hal. 263). 
  5. “The scene of derision is followed by a scene of acceptance. The contrast between the two criminals on his right and his left is strong and dramatic, representing the conflicting judgments that people will continue to have about Jesus. Luke alone recounts the dialogue of Jesus with the repentant criminal. While pointing again to Jesus’ innocence, Luke shows his saving mercy in this climactic scene. Unlike those who taunt Jesus, the criminal recognizes Jesus’ kingship and asks for a share in his kingdom. Jesus promises the criminal that he will share in his victory, thus stressing the saving effects of Jesus’ death” (Stephen J. Binz, hal. 88). 

Sedapat mungkin berbagai petikan ayat Kitab Suci yang dipakai sebagai bahan acuan (misalnya uintuk perbandingan) diambil dari Injil Lukas saja. Hanya dalam hal-hal tertentu saja saya akan mengambil petikan ayat dari Injil-injil atau kitab-kitab lainnya. 

TIGA SALIB 

“Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya” (Luk 23:33). Ada tiga salib. Kalau kita memperhatikan ketiga salib itu dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memperoleh pelajaran yang teramat penting. Kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus merupakan wakil umat manusia yang berdosa, yang harus dihukum (Bukankah, kalau kita mau jujur, kita pun – sadar tak sadar – seringkali atau kadang-kadang seperti penjahat, pencuri, maling, perampok?). 

Penyaliban Yesus bersama kedua orang penjahat itu memang merupakan kepenuhan dari nubuat Yesaya bahwa “Dia terhitung diantara pemberontak-pemberontak” (Yes 53:12). Bukankah kita juga pemberontak-pemberontak, orang-orang yang suka merongrong Tuhan dengan berbagai macam ulah yang tidak berkenan kepada-Nya? 

Di awal renungan ini baiklah kita mengingat Sabda Tuhan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23; bdk. Luk 14:27). 

Sikap kita terhadap Yesus boleh dikatakan sejalan dengan sikap kita terhadap salib kita. Kalau kita memperhatikan ketiga salib di tempat yang bernama Tengkorak itu, kita akan dapat mulai merenungkan sikap apa yang kita ambil terhadap salib kita yang menurut Yesus harus kita pikul setiap hari itu. Apa akibatnya kalau kita menolak salib kita, seperti halnya dengan penjahat yang tidak bertobat itu? Sebaliknya bagaimana kalau kita menunjukkan sikap menerima salib, seperti halnya dengan penjahat yang bertobat? Akhirnya sikap apa yang ditunjukkan oleh Yesus terhadap salib-Nya? Apakah salib kita sudah sedikit seperti salib Yesus itu?

1.     PENJAHAT YANG TIDAK BERTOBAT (SALIB YANG DITOLAK) 

Penjahat ini menderita jiwa dan raganya. Tidak bedanya dengan Yesus dan penjahat yang satunya lagi, penjahat ini juga disalib dengan segala penderitaan yang menyertai penyaliban, yaitu kematian yang lambat, rasa haus yang luarbiasa membakar, otot-otot yang menjadi seperti hancur, kejang dan sebagainya. 

Penjahat ini disalib samasekali bukan karena kemauannya sendiri dan terkesan kuat bahwa dia ingin lepas dari penderitaannya di salib ini. Dia berkata: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:39). Dia merasa bahwa semuanya meninggalkan dirinya dan dia memberontak melawan ‘nasibnya’. Dalam keputus-asaannya, penjahat ini menghujat Allah dan mengutuk setiap orang di sekelilingnya. 

Penjahat ini memang menanggung penderitaan; penuh sakit dalam tubuh dan tiada damai di hati pula. Sungguh suatu penderitaan yang menyedihkan. 

Bagaimana dengan jiwanya? Tentunya lebih menyedihkan lagi. Penjahat ini menderita tanpa kerendahan hati. Dia tahu sekali segala kejahatan yang telah dilakukan olehnya, segala dosa serta kesalahan lainnya. Namun sedikit pun dia tidak memandang dirinya lebih bersalah daripada orang lain yang manapun juga. Dia tidak melihat bahwa dirinya lebih pantas dihukum daripada orang-orang lain. Barangkali dia hanya merasa dirinya sial, kurang beruntung saja. 

Kendati pun maut sudah begitu dekat, sudah berada di ambang pintu, dia tidak berpikir sedikitpun untuk mohon pengampunan dari Allah. Penjahat yang lain merasa takut akan kekerasan hatinya lalu menegurnya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Luk 23:40). 

Sekarang marilah kita soroti dan renungkan penderitaan si penjahat ini secara lebih terinci. 

a.          Penjahat ini menderita tanpa iman.

Dia melihat kesabaran dan kelemah-lembutan Yesus namun semua itu tidak cukup untuk mencelikkan mata hatinya. Malah dia menantang Yesus: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:39). Kalimat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut: “Jikalau kamu sungguh Mesias, kamu akan membuat mukjizat; kamu akan menyelamatkan dirimu dan kamu akan menyelamatkan kami.”  Ini merupakan seruan orang-orang yang tidak beriman, orang-orang yang menuntut  terjadinya mukjizat agar dapat percaya, mukjizat yang mereka pilih sendiri, menurut versi mereka masing-masing. Ini adalah seruan para serdadu yang mengolok-olok Yesus ketika mereka bertugas (lihat Luk 23:36-37). Ini adalah ejekan pemuka rakyat seperti ditulis dalam Luk 23:35 atau  gema cobaan si Iblis dalam Luk 4:3. 

Mungkin si penjahat berpikir seperti ini: “Bagaimana mungkin dia Mesias, anak Allah; dia begitu tak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mesias? Tidak mungkin! Biarlah dia menyelamatkan dirinya dulu, sebelum menyatakan mau menyelamatkan orang-orang lain.”  Jadi, penjahat ini menderita, tetapi tanpa iman dan dia menutup telinganya terhadap peringatan dan teguran dari rekannya. Memang seseorang yang  tidak percaya tetap tuli akan segala pernyataan dan teguran; dia cuma percaya kepada penilaian pribadinya. 

b.          Penjahat ini menderita tanpa pengharapan.

Dia tidak berpikir tentang surga. Dia tidak memiliki hasrat untuk masuk surga. Satu-satunya yang diminati olehnya adalah ‘melepaskan diri dari kematian’. Satu-satunya yang dimintanya adalah agar dapat melarikan diri dari penderitaan, dari maut …… untuk menikmati hidup seperti sediakala. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun dalam Injil Lukas dan Injil-injil lainnya yang menunjukkan bahwa dia berniat untuk memperbaiki dirinya. 

Celakanya si penjahat kehilangan semuanya pada saat yang bersamaan. Hidupnya sendiri hampir direnggut maut dan sang Mesias ini tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi diri si penjahat. Si penjahat benar-benar kehilangan pengharapan. Dia menderita tanpa pengharapan. 

c.           Penjahat ini menderita tanpa kasih.

Kasih yang mana? Kasih akan (kepada) Allah dan sesama. Pertama-tama dia tidak mau menerima hukuman dengan rendah hati. Dia tidak mau melihat penghukuman atas dirinya sebagai kehendak Allah. Hal kedua, yang lebih parah, adalah bahwa dia mencoba agar Yesus menolak kehendak Bapa; tidak ubahnya ketika Iblis mencobai Yesus. Tidak banyak bedanya pula dengan ejekan-ejekan para pemimpin dan para prajurit (Luk 23:35-36) dan tanpa rasa hormat kepada Yesus yang tersalib dia juga berkata: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:39). Selagi dirinya menantikan kedatangan sang ajal, si penjahat masih mengolok-olok seseorang yang sedang sekarat. Memang pada akhirnya, si penjahat menderita tanpa kasih. 

Akibatnya 

Si penjahat tidak mendapat apa-apa yang bermanfaat dari penderitaan dan sikap serta perilakunya dalam menanggung penderitaan itu, malah dia kehilangan segalanya. Lewat pemberontakannya si penjahat tidak memperoleh apa-apa: hukuman tidak dicabut atau menjadi lebih ringan. Dia terus menderita dan dia juga mati seperti rekannya. Penderitaannya tidak berkurang. Sebaliknya pemberontakannya dan keputus-asaannya membuat semua terasa menjadi bertambah kejam. 

Dia mengeraskan diri dalam kedosaannya, kesombongannya, pemberontakannya dan kebenciannya. Dia mati dalam keadaan putus asa dan barangkali terkutuk. 

Sungguh mengerikanlah bahwa Tuhan Yesus tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Yesus yang sampai saat-saat  terakhir masih mau memanggil para pendosa agar bertobat demi keselamatan mereka, Yesus yang mencoba untuk menggerakkan hati Yudas Iskariot pada saat pengkhianatannya (bdk. Mat 26:50). Yesus yang di kayu salib masih memohon pengampunan atas mereka yang menimpakan hukuman mati atas dirinya (Luk 23:34). Yesus yang sama ini tidak berbicara sedikit pun dengan si penjahat, tak sepatah katapun diucapkan-Nya. 

‘Kebisuan’ ini sama seperti pada waktu Yesus berdiam diri di hadapan Herodus (Luk 23:9) dan para pendakwa-Nya. Yesus berdiam diri karena sungguh tidak ada gunanya untuk berbicara dalam situasi yang dihadapi-Nya. Keheningan Yesus ini sungguh sangat mengagumkan karena menunjukkan belas kasih-Nya. Dan memang berbicara hanyalah menambah salah orang-orang itu. Di lain pihak keheningan seperti ini juga mengerikan karena berarti penghukuman, karena itu menyatakan pengerasan secara mutlak dan tidak bertobatnya si penjahat. 

Sungguh semuanya berakibatkan kesedihan bagi si penjahat. Dia menderita dan mati dalam keadaan menolak salibnya. Dia kehilangan kehidupan dan jiwanya. Dia kehilangan segalanya dan dia terkutuk. 

2.     PENJAHAT YANG BERTOBAT (SALIB YANG DITERIMA)  

Penjahat yang satu ini menunjukkan seseorang yang mau menerima salibnya. Dia juga tidak kalah menderitanya apabila dibandingkan dengan rekannya, menderita jiwa dan raga. 

Si penjahat ini juga disalib bukan karena kemauannya sendiri. Kita dapat membayangkan dia melihat betapa berantakanlah hidupnya selama ini. Sekarang semuanya hilanglah  sudah. Rasa penyesalan dan malu memenuhi dirinya, tetapi terlambatlah sudah. Tidak ada obat guna menyembuhkan semua itu. Dia tahu sekali bahwa di kayu salib inilah dia akan menemukan ajalnya. 

Kalau dilihat sepintas lalu, tidak ubahlah ‘nasib’ si penjahat ini dengan rekannya. Suatu akhir yang menyedihkan, tragis di mata manusia. Di sini Lukas menunjukkan lagi bahwa bela rasa Tuhan ada dan rahmat pun akan dicurahkan oleh-Nya meskipun pada menit-menit terakhir kehidupan seseorang ……, asal orang itu mau membuka diri, asal orang itu mau menjadi rendah hati, menyesali kesalahan dan dosa-dosanya, lalu bertobat. 

Penjahat ini menerima salibnya dengan kerendahan hati: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk 23:41). Ia mengakui segala tindakan kriminal yang telah dilakukannya. Orang-orang tahu dia seorang penjahat dan apa saja kurang lebih kejahatan-kejahatannya, tetapi di lain pihak dia juga dapat saja berlagak tak bersalah atau malah membenarkan kejahatan-kejahatan yang telah diperbuatnya. Tidak demikian dengan penjahat ini. Dia mengakui kesalahannya di depan umum. Dia tidak mencoba untuk berdalih. Dia bertanggung-jawab penuh atas kesalahan-kesalahannya dan menerima hukuman yang dijatuhkan atas dirinya. Satu hal penting: dia menempatkan dirinya jauh di bawah Yesus yang selalu berbuat baik tetapi tokh dihukum mati di kayu salib seperti dirinya, padahal dia benar-benar telah berbuat berbagai kejahatan yang memang pantas untuk dibalas dengan hukuman mati seperti itu. 

Ini sungguh merupakan pelajaran  baik bagi kebanyakan kita yang hampir selalu menyatakan diri tidak bersalah (malah menyalahkan orang-orang atau hal-hal lain) pada saat-saat kita mengalami pencobaan dalam hidup kita. “Apa yang telah kulakukan terhadap Allah? Aku kan tidak melakukan sesuatu hal yang salah?” 

Iman si penjahat yang satu ini juga mengagumkan. Injil Lukas atau ketiga Injil yang lain tidak bercerita apa-apa tentang dia pernah mengikuti perjalanan Yesus yang berkarya atau mendengarkan pengajaran-Nya. (Sebuah pertanyaan akademis: Apakah seorang penjahat senang mendengarkan khotbah seorang rabbi Yahudi?). Mungkin juga pada waktu Yesus berkeliling dia sudah disekap dalam penjara, siapa tahu? Penjahat ini sama sekali tidak seperti para murid yang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati di Betania (lihat Yoh 11:1-44) dan banyak mukjizat Yesus lainnya. Tetapi pada waktu tergantung di kayu salib itu kita dapat mereka-reka bahwa iman si penjahat ini lebih memperoleh pencerahan, lebih teguh dan lebih murni daripada iman para murid Yesus sendiri.

Marilah kita dengar apa yang dikatakan olehnya: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Siapakah sekarang yang dapat menyatakan bahwa Yesus pada waktu disalib itu mirip-mirip atau kelihatan seperti seorang raja? Dia yang tergantung di kayu salib, telanjang, diolok-olok, Diakah yang akan memiliki kerajaan? Dia yang sedang berada di ambang maut yang mengerikan itu? Kalau kita berbicara di sini mengenai discernment, sungguh mengagumkanlah si penjahat yang satu ini, yang dengan mata hati yang begitu tajam mampu melihat keilahian dalam diri manusia Yesus ini. Yesus yang tetap diam pada waktu orang-orang mengolok-oloknya, Yesus yang tidak membuat mukjizat, tetapi yang sangat mengetahui bagaimana menderita dengan benar. Yesus yang dalam sakrat maut mendoakan orang-orang yang telah berbuat jahat dan kekejian terhadap diri-Nya. 

Penjahat ini hanya melihat kesabaran Yesus, dia cuma mendengar Yesus mendoakan para musuh-Nya. Itu sudah cukup baginya untuk percaya. 

Penjahat ini percaya, sementara orang-orang bijak  Israel tetap buta. Si penjahat percaya, sementara para murid yang sudah begitu lama hidup bersama-sama Yesus mengalami kegoncangan. Bagi murid-murid Yesus, kematian-Nya di salib kiranya merupakan skandal. Yesus bagi para murid-Nya adalah tumpuan segala harapan mereka yang akan membebaskan Israel dari belenggu penjajahan. Dan di situlah Dia, tergantung dalam keadaan sekarat di kayu salib; ditolak oleh para pemuka mesyarakat dan  banyak orang. Rekaan seperti ini diperkuat lagi kalau kita lihat bagaimana Lukas dalam bab berikutnya menggambarkan dua orang murid yang pada dua hari berikutnya sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Dua orang itu berkisah kepada seorang lain yang ‘ikut nimbrung’ dalam perjalanan mereka (Yesus yang sudah bangkit), demikian bunyinya: “Padahal kami dulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21). Seakan-akan pada waktu itu mereka mau menyatakan: “Kami berharap, akan tetapi harapan kami sudah habis sekarang. Dia telah mati disalib tiga hari lalu dan berakhirlah sudah semuanya. Benar, para perempuan telah pergi ke kubur dan melihat kubur yang kosong. Mereka berbicara mengenai malaikat yang mengatakan bahwa Dia hidup. Para murid laki-laki juga pergi dan melihat kubur yang kosong dan tidak ada apa-apa lagi. Ya, rupa-rupanya – hanya impian orang perempuan. Selesailah semuanya.” Iman para murid pada waktu itu hampir mati sama sekali. Iman mereka ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi skandal kematian Yesus di kayu salib (bdk. Luk 24:21-24). 

Kalalu begitu, apakah yang menjadi kekuatan iman si penjahat satu ini yang memberikan kesaksian iman begitu mantap justru pada saat para murid kehilangan iman mereka akan Yesus? 

Kalaupun para murid begitu lemah, itu disebabkan oleh ketidak-murnian iman mereka. Terlalu banyak motif alamiah yang melekatkan mereka pada Tuhan Yesus. Mereka mengharapkan sebuah kerajaan duniawi, di mana orang Yahudi yang bebas dari kuk penjajah akan menguasai dunia. Pada saat-saat sebelum memasuki Yerusalem, mereka masih bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka (bdk. Luk 9:46-48). Bahkan pada waktu Yesus mau terangkat ke surga, mereka masih bertanya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6). 

Sampai saat itupun mereka belum juga memahami bahwa kerajaan yang dibicarakan oleh Yesus terutama adalah kerajaan spiritual. Oleh karena itu tidak mengherankanlah kalau dalam ‘Kisah para Rasul’ Lukas kemudian menggambarkan bahwa Pentakosta dan api Roh Kudus masih diperlukan untuk memurnikan iman mereka. 

Kembali kepada si penjahat tadi. Di kayu salib dia sudah memahami bahwa kerajaan ke mana Yesus akan pergi bukanlah kerajaan milik dunia ini seperti dikatakan Yesus kepada Pilatus (bdk. Yoh 18:36). Nah, pada waktu si penjahat menghaturkan permohonannya kepada Yesus, dengan jelas ditunjukkannya bahwa dia sama sekali tidak memimpikan sebuah kerajaan di dunia. 

Di sinilah dia mengungkapkan harapannya. Sebuah harapan yang indah sekali, seindah imannya. Rupanya si penjahat yang sedang menunggu ajal itu hanya merindukan surga. Dia tidak peduli lagi akan segala apa yang menarik dari dunia ini, jadi dia tidak meminta segala itu dari Yesus. Dia cuma mau agar Yesus ingat kepadanya pada waktu Dia memasuki kerajaan-Nya …… bahwa Yesus mau memberikan kepadanya sebuah tempat di sudut surga bagi dirinya. 

Dia rela bahwa segala apa yang dari dunia ini diambil daripadanya. Tetapi dia mengharapkan sesuatu ……, yaitu keindahan surga. Memang bila mengingat segala kejahatannya di masa lampau, tak pantaslah baginya surga itu. Namun dia ‘jalan terus’ dengan mempertaruhkan seluruh kepercayaannya kepada Yesus, seolah-olah berkata: “Yesus, Engkaulah andalanku satu-satunya.” Dia tidak mengandalkan jasa-jasa baiknya sendiri, hasil karyanya yang baik selama hidupnya karena …… memang tak ada sama sekali hal-hal semacam itu. Dia hanya mengandalkan belas kasih Yesus yang dirasakan olehnya memiliki kebaikan dan bela rasa yang tak terhingga. 

Si penjahat itu sepenuhnya mengandalkan belas kasih Yesus dan juga kuat-kuasa Yesus, justru pada saat di mana Yesus kelihatan kehilangan segalanya, pada saat Yesus kelihatan begitu tidak berdaya untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri, pada saat orang-orang mengolok-olok ketidakberdayaan-Nya. Penjahat itu berkata: “ …… apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Pada saat semua sudah berlalu baginya, tanpa harapan untuk menghindari maut, tanpa kekuatan apapun yang dapat menyelamatkannya, dia tetap menaruh kepercayaan kepada Yesus, bahwa Dia dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. 

Marilah kita dengarkan doanya yang sederhana namun indah, yang ditujukannya kepada Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Dengan begitu rendah-hati dia berkata: “Ingatlah akan aku.” Penjahat ini tidak seperti para murid yang bertengkar tentang siapakah yang paling besar di antara mereka (lihat Luk 9:46-48) atau seperti Yakobus dan Yohanes yang mengharapkan menjadi ‘menteri-menteri top’ dalam pemerintahan Yesus ‘Mesias’ seperti diceritakan dalam Mrk 10:35-40 dan Mat 20:20-28 (Catatan: Lukas kiranya tidak tega menulis fenomena terakhir ini dalam Injilnya). 

Penjahat ini tidak memiliki keberanian untuk meminta tempat pertama dalam kerajaan Allah meskipun dia menderita bersama Yesus di salib. Tempat terakhir di surga pun tidak berani dimintanya karena … dia cuma seorang penjahat keparat. Dia hanya berkata, “Ingatlah akan aku”; dengan kata lain … “kasihanilah aku”, seperti halnya si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus yang tidak berani menengadah ke atas karena sadar akan dosa-dosanya (bdk. Luk 18:10-14). 

Doa penjahat ini tidak panjang lebar. Memang bukanlah jumlah kata-kata atau panjangnya doa yang membuat sebuah doa memiliki kekuatan, tetapi intensitas dari hasrat si pendoa dan kepercayaannya yang teguh yang menginspirasikan doa itu. 

Doa penjahat ini dapat dinilai bijaksana karena dia tidak meminta Yesus menyingkirkan salibnya. Dia tidak memohonkan sesuatu yang khusus. Dia hanya membuka lebar-lebar kesengsaraannya serta kebutuhannya. 

Apa yang dapat kita katakan mengenai kasih si penjahat ini? Kasihnya dapat dikatakan sempurna, baik kasih kepada Allah maupun kasihnya kepada sesama. Pokoknya dia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah dengan pasrah dan rendah hati. Dia berkata kepada rekannya: “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita” (Luk 23:41). Dia tunduk dengan penuh kesabaran tanpa ‘ngoceh-ngoceh’ lagi tentang hukuman yang tidak diinginkannya, hukuman yang memang tidak dihindarinya. Sekarang dia tergantung di kayu salib. Dia menerima salib itu tanpa protes dan pemberontakan sedikit pun karfena dia takut akan Allah. Dia menghormati kuasa dan kekudusan Allah. 

Bagaimana tentang kasihnya kepada Yesus? Kendati pun orang-orang dan rekannya mengolok-olok Yesus, penjahat ini tidak melakukannya, malah dia membela Yesus dari ejek-ejekan rekannya.[1] Dialah satu-satunya orang (sepanjang pengamatan atas kisah sengsara dalam keempat Injil) yang berani membuka suara untuk membela Yesus. Memang tidak banyak risiko baginya untuk berbuat demikian karena he had nothing to lose. Tetapi sebenarnya paling sedikit dia melakukan apa yang maksimal mampu dilakukannya untuk Yesus. Dia juga menunjukkan kasihnya kepada rekannya itu. Bukankah dia mengungkapkan cetusan jiwa seorang pentobat yang mau juga mengajak sesamanya untuk bertobat ketika dia berucap: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Luk 23:40). Seakan-akan dia berkata: Engkau akan mati seperti Yesus, tetapi begitu berbedalah watak dan perilakumu. Meskipun Yesus begitu penuh kasih, engkau tidak menghormati kuasa dan kekudusan Allah yang sebenatar lagi engkau akan hadapi. Lalu dengan penuh kepasrahan diri dia berkata: “Kita memang  selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita.” Dia mengucapkan kata-kata ini dengan diiringi kasih tulus kepada Yesus: “… tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk 23:41). 

Akibatnya 

Di mata dunia penjahat ini kehilangan segalanya, tetapi di mata Allah dia menerima segalanya. Memang penderitaannya tidak dicabut dari dirinya, namun di akhir cerita dia akan menemukan ketenteraman jiwa. Hati yang dulunya penuh dengan nafsu dan kenikmatan duniawi akhirnya dapat beristirahat, karena justru dia mau menerima kehendak Allah. Pada saat impian-impiannya menjadi berantakan seperti kaca yang jatuh berkeping-keping, dia menjadi penuh harapan yang akan memberikannya kekuatan untuk menderita sampai titik akhir kehidupan fana ini. 

Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43). Dengan perkataan lain Yesus memberikan jaminan keselamatan abadi kepada si penjahat sebelum kematiannya. Ini merupakan rahmat yang tidak diberikan Tuhan kepada setiap orang kudus (lihat misalnya apa yang dikatakan Santo Paulus dalam 1Kor 9:27). Seakan-akan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, kepadamu, kepadamu saja: Rahmat ini dicurahkan guna masuk bersama-Ku ke dalam Firdaus, menjadi yang pertama  yang akan menikmati kemuliaan surga begitu engkau wafat, sebelum para murid-Ku sendiri, sebelum bunda-Ku sendiri,  tanpa engkau harus menunggu-nunggu seperti orang-orang benar dari Perjanjian Lama, para Bapa Bangsa, para raja, para nabi, Santo Yohanes Pemandi, malah Santo Yosef sendiri; … hari ini dan selamanya.” 

Benar-benar ini merupakan sebuah pelajaran sangat penting yang mau ditunjukkan oleh Injil Lukas. Dan hanya oleh Injil Lukas saja! Orang yang pertama masuk surga langsung setelah kematian-Nya adalah seorang penjahat. Suatu ironi? Ini pelajaran mengenai kerendahan hati: “Janganlah kita pernah memandang hina orang lain. Sebah contoh konkret dari yang sebelumnya dicatat Lukas, “Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan akan menjadi orang yang terdahulu” (Luk 13:30). Kita semua diingatkan untuk tidak menggantungkan diri pada karya-karya kita yang baik, tetapi hanya pada belas kasih Allah yang tanpa batas.

Yesus berkata “di dalam Firdaus”, seolah-olah mau mengatakan bahwa penderitaan dan rasa malu yang telah menumpuk memberati si penjahat merupakan jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan abadi. 

Mungkin di dekat salib, di antara orang-orang banyak yang berkerumun menonton, ada juga teman-temannya … menyaksikan kematian di penjahat dengan penuh ketakutan, merasa kasihan karena dia ber-‘nasib’ jelek. Tetapi sesungguhnya ‘nasib’ keberuntunganlah yang ada pada si penjahat ini. Karena dia menerima penderitaan, maka dia pun diselamatkan dan diubah dari seorang bajingan terkutuk menjadi seorang kudus …… Santo pertama yang masuk Firdaus? 

Sebagai penutup uraian mengenai penjahat yang bertobat ini, saya mau menekankan bahwa sangatlah salah kalau seseorang berpikir begitu mudahnya diselamatkan setelah menjalani hidup yang penuh dosa, yaitu melalui ‘pertobatan menit terakhir’ atau ‘pertobatan instan’ seperti ditunjukkan dalam Injil Lukas ini. Orang itu harus mengenali serta mengakui segala dosanya, meninggalkan masa lampaunya, menerima salibnya sekarang juga dan hanya memiliki hasrat untuk memperoleh ganjaran seperti dijanjikan Kristus. Syarat untuk diselamatkan tetap sama: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk 9:23). 

3.       YESUS DAN SALIB-NYA 

Kita sering lupa bahwa Yesus sungguh menderita di kayu salib-Nya. Kita hampir secara otomatis sering mengulang-ulangi syahadat: “… Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Ponsius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan”; tanpa menyadari akan hakekat sesungguhnya dari kalimat itu. Kita kurang mengimaninya secara lebih mendalam. Misalnya kalau kita mendengarkan khotbah betapa sabar Yesus menanggung penderitaan-Nya, dengan cepat kita berkilah: “Yesus kan lain, Dia kan Allah, kita cuma manusia biasa!?” Ini merupakan reaksi yang terlalu ‘ngegampangin’ (memudahkan), seakan-akan Allah mengubah kodrat manusiawi-Nya dan membuat tidak mungkin bagi Yesus untuk menderita (merasakan penderitaan) atau memberikan kepada-Nya suatu kekuatan yang tidak kita miliki. 

Kita harus meyakinkan diri kita akan kebenaran yang diwahyukan ini dan membuatnya menjadi tindakan-iman. Agar dapat memiliki bela rasa atas segala kelemahan kita, maka “sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Memang Yesus sungguh Allah, akan tetapi keilahian-Nya tidak mengubah sedikit pun kodrat manusiawi-Nya, apalagi untuk menghindari-Nya dari pencobaan dan penderitaan. 

Dengan demikian memang penderitaan Yesus sungguh riil dan historis. Yesus sungguh-sungguh menderita dalam tubuh-Nya, malah dapat dikatakan lebih berat daripada kedua penjahat yang disalibkan di sebelah kanan dan kiri-Nya. 

Kitab-kitab Injil yang lain menambah wawasan kita mengenai proses kematian Yesus yang lebih cepat, misalnya Yoh 19:31-32 dan Mrk 15:44. Bagi kita tentunya mudah dipahami mengapa kematian Yesus terjadi lebih cepat. Yesus mengalami penderitaan yang begitu mendalam di Bukit Zaitun: Dia diinterogasi semalam-malaman dan keesokan harinya di tempat yang berbeda-beda, oleh orang yang berbeda-beda pula dan diselang-seling dengan segala olok-olok yang menyakitkan hati serta perlakuan-perlakuan lainnya yang di luar peri kemanusiaan. 

Pendeknya Yesus sangat menderita secara fisik. Tetapi penderitaan-Nya tidak terbatas pada penderitaan fisik saja. Jiwa-Nya pun terkoyak-koyak dan tidak kalah menderita. Banyak sekali khotbah yang menyinggung betapa hebat penderitaan fisik yang dialami Yesus, bagaimana tubuh-Nya penuh luka dan lain sebagainya. Ini tidak salah tentunya, akan tetapi pertanyaannya adalah, apakah luka-luka di hati Yesus tidak kalah hebatnya? Berikut ini sebuah contoh tentang penderitaan Yesus di Taman Getsemani. Dari ketiga Injil Sinoptik, memang Injil Lukas mengisahkan penderitaan Yesus di Bukit Zaitun ini secara relatif lebih singkat. Akan tetapi hanya Lukas-lah yang menulis seperti ini: “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk 22:43-44). Petikan Injil ini menunjukkan betapa hebat penderitaan batin yang dialami Yesus. Salah satu penyebabnya adalah karena Yesus mengetahui apa yang akan menimpa diri-Nya. 

Lukas menulis bahwa sesudah mencobai Yesus di padang gurun, Iblis mundur daripada-Nya dan menunggu waktu yang baik (lihat Luk 4:13). Dan pada waktu Yesus ditangkap Yesus bersabda: “Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu” (Luk 22:53b). Dapat dicatat bahwa peranan Iblis dalam penderitaan lahir batin Yesus tidaklah kecil. Banyak sekali para ahli dan para kudus menulis tentang penderitaan Yesus ini. Tetapi yang mau saya garis-bawahi di sini adalah bahwa  Yesus sungguh menderita lahir dan batin, jiwa dan raga. Dia sungguh menderita seperti kita-manusia menderita, malah jauh lebih menderita lagi. 

Sekarang mengenai sikap yang ditunjukkan oleh Yesus dalam penderitaan-Nya. Penderitaan Yesus yang sedemikian mendalam tidaklah dapat dipisahkan dari kasih-Nya. 

Pertama yang menarik adalah membisunya Yesus dalam penderitaan-Nya. Dia tidak berkata-kata sedikit pun guna membela diri-Nya, apalagi mengajukan protes, kecuali untuk mengungkapkan kebenaran di depan mereka yang memeriksa-Nya (meng-‘adili’-Nya). Dalam penderitaan-Nya Dia melupakan diri-Nya secara sempurna. Keheningan ilahi ini sudah sejak lama dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes 53:7). Yesus samasekali tidak memikirkan diri-Nya sendiri, bagi-Nya yang terutama adalah kemuliaan Bapa-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa manusia. 

Yesus hanya memikirkan orang lain. Saya ambilkan beberapa contoh dari Injil Lukas saja:

  1. Tanpa berbicara Yesus berpaling memandang Petrus yang baru menyangkal-Nya untuk ketiga kali (lihat Luk 22:61).
  2. Yesus mengucapkan beberapa kalimat sebagai tanda bela rasa dan peringatan kepada wanita-wanita kudus di pinggir jalan (lihat Luk 23:28-31).
  3. Yesus mendoakan musuh-musuh-Nya (lihat Luk 23:34).
  4. Yesus menghibur penjahat yang bertobat (lihat Luk 23:43). 

Sampai akhir, Yesus melupakan diri-Nya sendiri, sementara Dia mengalami penderitaan yang merobek-robek jiwa dan raga-Nya. Akan tetapi, berbeda dengan kedua penjahat yang disalib,  Yesus disalib bukan karena dosa atau kesalahan-Nya sendiri.

Bagi Yesus, kehendak Allah sendiri seperti diwahyukan dalam Kitab Suci harus terjadi. Dengan segala kehendak bebas-Nya sebagai manusia penuh, Yesus tidak hanya menerima tetapi juga mendambakan salib-Nya, demi orang-orang lain. Sebelumnya Lukas juga  mencatat sabda-Nya: “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!” (Luk 12:50). Seperti kita ketahui dari Mrk 10:38-39, yang dimaksudkan dengan baptisan adalah piala penderitaan dari baptisan darah yang dicurahkan di Kalvari. 

Seperti dicatat Lukas, sabda Yesus yang terakhir adalah suatu seruan dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”  Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Luk 23:46). Yesus memang menyerahkan diri-Nya sepenuh-penuhnya kepada kehendak Bapa. Seruan ini dilakukan oleh Yesus pada saat seluruh penderitaan-Nya mencapai puncaknya. Singkatnya salib Yesus adalah salib sempurna. 

Akibatnya 

Apa akibat dari salib yang diterima dan dipeluk dengan cintakasih yang begitu berapi-api? Yesus memang mati di kayu salib, sama seperti kedua penjahat itu. Dan … Yesus adalah Dia kepada siapa Allah bersabda: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22b; bdk. Luk 9:35). Yesus ini juga yang di Bukit Zaitun memohon kepada Bapa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42). Namun dia tetap menjalani penderitaan dan mati di kayu salib. Cintakasih Bapa tidak mencegah sengsara dan kematian Putera-Nya. Dengan demikian mengapa kita harus bermimpi bahwa apabila Allah mengasihi kita, maka Dia akan mengambil salib kita? 

Dalam kasih-Nya, Bapa memperkenankan Putera-Nya yang terkasih untuk mati di kayu salib. Di sini Yesus menunjukkan ketaatan yang luarbiasa. Seperti dikatakan oleh Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., hal. 18). Pater Cantalamessa juga lebih lanjut meulis bahwa keagungan dari ketaatan Yesus diukur secara objektif dengan apa yang diderita-Nya dan secara subjektif dengan cintakasih dan kebebasan yang ditaati-Nya. Dengan mengutip Santo Basilius, dikemukakan oleh Pater Cantalamessa bahwa seseorang taat dapat dikarenakan oleh ketakutan akan hukuman seperti halnya dengan para budak, yang kedua adalah karena demi imbalan seperti halnya dengan para tentara bayaran dan yang ketiga seseorang itu taat karena cintakasih. Yang terakhir ini adalah sikap seorang anak dan ketaatan seorang anak ini memancar dari dalam diri Yesus secara sempurna. Seperti dicatat di atas, bahkan di kayu salib Yesus menyerahkan diri-Nya sepenuh-penuhnya kepada Allah Bapa. Inilah makna ‘ketaatan sampai mati’ yang sesungguhnya. Santo Paulus menulis: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Flp 2:8-10). 

Salib yang diterima oleh Yesus dengan ketaatan sempurna membuka surga bagi Yesus dan bagi kita. “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Rm 5:19). 

CATATAN PENUTUP 

Oleh karena itu marilah kita selalu memandang ketiga salib di tempat yang bernama Tengkorak itu. Baiklah kita merenungkan salib-salib yang memahkotai bukit tragis itu dan mengambil pelajaran bagaimana memikul salib kita setiap hari. Bukan dengan menolak salib seperti yang dilakukan oleh si penjahat yang tidak bertobat, tetapi dengan menerimanya. Dan lebih baik lagi kalau kita menerima salib dengan cintakasih seperti telah ditunjukkan oleh Yesus, artinya dalam hal Allah memperkenankan kita menderita karena kesalahan orang lain. Dengan demikian semoga lewat salib kita itu kita dapat juga membantu menyelamatkan jiwa sesama kita. 

Jakarta, 16 Desember 1994 

F.X. Tiardja Indrapradja [Siswa No. 9302006] 

DAFTAR PUSTAKA 

  1. Binz, Stephen J., The Passion and Resurrection Narratives of Jesus – A Commentary, Collegeville, Minnesotta: The Liturgical Press, 1989. 
  2. Brown SS, Raymond E., Kristus yang Tersalib dalam Pekan Suci (terjemahan), Yogyakarta: Lembaga Biblika Indonesia/Kanisius, 1992. 
  3. Cantalamessa OFMCap., Raniero, Obedience – The Authority of the Word (terjemahan dari bahasa Italia), Middlegreen, England: St. Paul Publications, 1989. 
  4. Groenen OFM, C., Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus – Kisahnya dan Pengertiannya, Ende-Flores: Lembaga Biblika Indonesia/Penerbit Nusa Indah, 1983. 
  5. Gustin, Marilyn, How to Read and Pray the Passion Story, Liguori, MO: Liguori Publications, 1993. 
  6. Karris OFM, Robert J., Invitation to Luke – A Commentary on the Gospel of Luke with Complete Text from The Jerusalem Bible, Garder City, NY: Image Books/Doubleday, 1977. 
  7. Peusch OFM, Leonard, The Three Crosses, Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1977. 
  8. Suharyo pr, I., Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Sinoptik – Ia wafat demi dosa-dosa kita, Yogyakarta: Lembaga Biblika Indonesia/ Kanisius, 1990.

 


*) Tulisan ini disusun oleh F.X.  Tiardja Indrapradja, Siswa No. 9302006 dalam rangka Paket Kuliah Romo DR. I. Suharyo Pr. Tentang “Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Sinoptik” yang diselenggarakan oleh Kursus Pendidikan Kitab Suci Santo Paulus, tanggal 25-28 Oktober 1994.  Tulisan ini pernah dibagikan kepada para anggota OFS dalam pertemuan Persaudaraan Santo Ludovikus IX  pada Masa Prapaskah 1997, tanggal 2 Maret 1997.

[1] Mrk 15:32b berbunyi sebagai berikut: “Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.” Kalau pun secara historis hal ini sungguh terjadi, maka saya mengandaikan itu terjadi sebelum ‘pertobatan’ si penjahat yang seorang itu.

SEKALIPUN IA KAYA, OLEH KARENA KAMU IA MENJADI MISKIN

SEKALIPUN IA KAYA, OLEH KARENA KAMU IA MENJADI MISKIN

(Bacaan pada Upacara Sengsara Tuhan, TRI HARI PASKAH: HARI JUMAT AGUNG, 2-4-10) 

Jadi, karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita berpegang teguh pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. (Ibr 4:14-16; 5:7-9). 

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 31:2.6.12-13.15-17.25; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42. 

Pada hari ini kita memperingati tindakan-kasih yang paling agung dalam sejarah, yaitu kematian Yesus Kristus di kayu salib. Baiklah bagi anda dan saya untuk mengambil waktu ekstra hari ini guna melakukan meditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kerendahan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15::34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). 

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib dengan tangan dan kaki terpaku, dan yang ditikam lambung-Nya dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta. Bersembahsujudlah dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16). 

Salib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah kasih perjanjian (Inggris: covenant love), suatu kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri. 

Pada hari Jumat Agung ini, selagi kita melakukan meditasi di depan anak Domba yang disembelih, renungkanlah ‘betapa besarnya’ Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia? 

Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, kasih perjanjian sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi anda dalam hal ini: “Setiap kali anda mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka anda menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!” 

DOA: Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada hari Jumat Agung ini aku bergabung dengan para kudus di surga bukan untuk meratapi apa akibat segala dosaku atas diri-Mu, melainkan untuk bersukacita penuh syukur atas apa yang telah dilakukan kasih-Mu atas diriku.  Semoga litani berikut ini selalu ada dalam hatiku, pada hari ini dan seterusnya. Salib Yesus, murnikanlah aku. Darah Yesus, bersihkanlah aku. Luka-luka Yesus, sembuhkanlah aku. Kasih Yesus, bebaskanlah aku. Belas kasih Yesus, ampunilah aku. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya.  Amin.

Cilandak, 25 Maret 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers