MARILAH BELAJAR DARI YESUS YANG RENDAH HATI 

Menjadi rendah hati berarti memiliki suatu pemahaman yang benar tentang diri sendiri, khususnya sehubungan dengan seseorang atau sesuatu lainnya. Kerendahan hati bukanlah suatu anugerah alamiah seperti kemampuan intelektual atau bakat artistik. Sebagai manusia, kerendahan hati sebenarnya bukan merupakan pembawaan sejak lahir. Memang kita manusia lahir dalam keadaan sangat sederhana – telanjang dan tak berdaya, namun kita secara alamiah berkecenderungan untuk berbangga sambil melihat ke atas daripada merendahkan diri. Pada titik inilah kita harus menyadari bahwa kerendahan hati adalah suatu anugerah. Ini adalah suatu karya Allah dalam diri kita masing-masing. Hanya Allah-lah yang menganugerahkan kerendahan hati kepada manusia sebagai sebuah pemberian gratis, gratia – rahmat. Dalam tulisan masa Prapaskah ini, akan disoroti topik kerendahan hati sebagai kualitas/watak Allah sendiri. 

KERENDAHAN HATI ADALAH ANUGERAH ALLAH BAGI KITA 

Allah dapat memberikan kepada kita kerendahan hati, pada dasarnya dengan mengalahkan keangkuhan kita. Biasanya kita tidak memikirkan Allah dengan menghubungkan-Nya dengan kerendahan hati, karena kerendahan hati tidaklah cocok dengan pandangan ‘orang waras’ tentang Allah. Dalam tradisi Yahudi/Kristiani, misalnya, pada umumnya Allah di pandang sebagai Dia yang mahakuasa, mahaperkasa, mahatahu, mahasempurna dan seterusnya. Dia adalah kepenuhan hidup dan keberadaan. Dia ada di dalam dan dari diri-Nya sendiri, jadi Dia kekal-abadi. 

Lagipula, Allah adalah Pencipta penuh kuasa yang menciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) – siapa pun tidak akan mampu melakukan hal yang sedemikian. Hanya karena kehendak-Nya saja sesuatu dapat tetap eksis. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengawasan-Nya sebagai penguasa (CEO?) alam semesta. Dalam Kitab Yesaya, sang nabi bertanya: “Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukai debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?” (Yes 40:12). Jawaban atas pertanyaan itu adalah: “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman! Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!” (Yes 40:22-23). 

Atribut-atribut ilahi, kualitas-kualitas, dan gelar-gelar ini kelihatannya bukanlah berbagai anugerah yang daripadanya dapat muncul kerendahan hati. Bagaimana Dia yang begitu agung melimpahkan kerendahan hati. Bukankah dengan mengalahkan keangkuhan penuh dosa yang ada pada diri kita? Menurut pemikiran manusiawi kita Allah sah-sah saja untuk berbangga diri. Pada kenyataannya Allah bukanlah seorang penguasa yang suka berbangga diri. Sebaliknya, Dia menentukan apa artinya menjadi murah-hati dan mengasihi. 

PENCIPTA YANG MAHASEMPURNA 

Di dalam tindakan penciptaan – yang dapat dilakukan oleh-Nya – Allah pertama-tama memanifestasikan hasrat-Nya untuk mengasosiasikan diri-Nya dengan seseorang di luar diri-Nya sendiri, seseorang yang jauh di bawah status-Nya sendiri. Kasih Allah dan kebaikan hati-Nya begitu besar sehingga Dia menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, bukan untuk keuntungan-Nya melainkan untuk keuntungan kita. 

Sebagai makhluk ciptaan seturut gambar dan rupa sang Pencipta sendiri, kita dianugerahi dengan inteligensia dan kehendak bebas. Jadi kita diberdayakan untuk dapat menjalin hubungan dengan Allah yang mahakuasa dan mahaperkasa secara rational dan personal. Kita dapat mengenal Allah dan tahu bahwa Dia juga mengenal kita. Kita dapat mengalami kasih-Nya dan kita pun dapat mengasihi-Nya. Dalam kasih dan kebaikan-Nya yang begitu besar Allah menciptakan kita, sehingga sebagai seorang pribadi manusia kita dapat turut mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya sendiri. Begitu murahhati Allah kita, Dia tidak menyimpan segala prerogatif (hak-hak istimewa) –Nya bagi diri-Nya sendiri. 

Dalam terang penciptaan ada satu pertanyaan yang harus kita renungkan dalam masa Prapaskah ini. Pertanyaannya bukanlah apakah Allah cukup murah hati untuk dapat ditemukan dalam kehidupan kita; tindakan penciptaan sendiri sudah mengungkapkan betapa Dia murahhati. Pertanyaannya adalah: Apakah kita sebagai manusia cukup rendah hati untuk menjalin hubungan dengan Allah? Kalau kita menjawab “tidak”, maka terasa absurd. Namun pada kenyataannya itulah apa yang telah kita lakukan sebagai bangsa manusia. Sepanjang sejarah manusia memang “tidak” merupakan jawaban kita, dan gemanya pada zaman modern ini semakin keras terdengar, jauh lebih keras daripada sebelumnya. 

Kisah alkitabiah tentang kejatuhan Adam dan Hawa adalah cerita untuk kita semua. Adam dan Hawa digoda bukan hanya untuk makan buah terlarang. Godaan sesungguhnya yang mereka hadapi adalah untuk menjadi seperti Allah – mengetahui apa yang baik dan yang jahat (lihat Kej 3:4-5). Pada akhirnya, kita sebagai manusia tidak cukup rendah hati untuk berjalan dengan Allah (lihat Mi 6:8). Pada awal sejarah manusia, kita sebagai bangsa manusia, memisahkan diri dari Allah; sebagai pribadi-pribadi kita terus melakukannya untuk mencapai tujuan akhir satu-satunya, yaitu bahwa diri kita sendiri dapat menjadi allah-allah (baca: ilah-ilah). Keangkuhan – yang dimanifestasikan  dalam hasrat untuk menjadi Allah, untuk menentukan bagi diri kita sendiri apa yang benar dan apa yang salah – inilah dosa yang bersifat primordial dan selalu hadir, yang berakar dalam diri kita semua. Namun lihatlah kita telah menjadi jenis allah yang macam apa; allah keangkuhan yang terus-menerus mengejar kekuasaan bagi diri sendiri, kesejahteraan bagi diri sendiri dan pemuasan-diri sendiri? Kita mau menjadi Allah, malah jadinya samasekali jauh dari  gambar Allah yang sejati. 

KERENDAHAN HATI YESUS 

Kapasitas ilahi untuk menjadi rendah hati paling jelas kelihatan dalam diri Yesus. Meskipun kita manusia adalah pemberontak-pemberontak yang penuh kesombongan, hasrat Allah untuk hidup bersama dengan kita yang begitu besar tidak pernah surut, dan kasih-Nya dalam menginginkan agar kita hidup bersama kita juga tetaplah besar. Dengan demikian Ia pun berketetapan hati untuk  melakukan apa saja untuk merebut kita manusia kembali kepada-Nya. Dan, bagaimana kuasa ilahi ini diwujud-nyatakan? Jawabnya: Dalam jalan perendahan Allah, yaitu kedinaan (humility; humilitas). Sang Khalik langit dan bumi datang ke dunia sebagai seorang makhluk ciptaan. Paulus menulis: “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). 

Ingatlah akan ‘Madah pengosongan diri Yesus’ dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, yang begitu sering kita daraskan dalam Ibadat Sore I Hari Minggu (Sabtu sore), atau kita dengar dibacakan dalam Misa Pesta Salib Suci (14 September) dan pada hari Minggu Palma, masing-masing sebagai bacaan kedua. Madah ini adalah sebuah nyanyian tentang kebesaran Allah dan kerendahan-hati (kedinaan) Yesus: “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap keseteraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Yesus menyembunyikan kemuliaan kekal-Nya – tidak hanya dengan menjadi seorang manusia – melainkan dengan menjadi hamba, dengan menjadi hamba sahaya bagi kita yang jelas adalah pendosa-pendosa: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Begitu rendah hati-Nya Yesus sehingga sebagai seorang hamba yang taat, Ia mati bagi kita, mempersembahkan hidup-Nya bagi kita dalam kasih, agar kita dapat dibersihkan dari dosa dan diperdamaikan dengan Bapa surgawi yang menciptakan kita. 

Menurut segala norma yang berlaku pada zaman-Nya, kematian Yesus di kayu salib bukanlah kematian yang bermartabat. Begitu rendah hati-Nya Yesus, sehingga dalam ketaatan total kepada kehendak Bapa-Nya Ia menerima kematian di kayu salib. Yesus di kayu salib  adalah ikon tertinggi dari kapasitas Allah dalam hal kerendahan-hati (kedinaan). Apabila kita dalam keheningan memandang Salib dan mengenali dalam iman bahwa yang tersalib itu adalah Putera Allah sendiri, maka mau tidak mau kita harus mengakui bahwa tidak ada perendahan diri atau kedinaan yang lebih hebat daripada yang telah diperlihatkan oleh Yesus. Dalam tindakan perendahan yang tak tertandingi inilah Allah menghancurkan kesombongan/keangkuhan kita dan dengan demikian memberi peluang bagi kita untuk hidup bersama-Nya. Paulus menulis: “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia” (1Kor 1:25). Pesan Agung dari Hari Jumat Agung adalah bahwa pada akhirnya perendahan diri Allah berjaya atas kesombongan manusia. 

Kemuliaan kebangkitan Yesus pada hari Paskah, bukti konkret tentang martabat-Nya sebagai Kyrios, bertumpu pada kedinaan puncak-Nya pada hari Jumat Agung. Memang tidak ada hari Paskah tanpa didahului hari Jumat Agung. Bagian penutup ‘Madah pengosongan diri Yesus’ itu berbunyi: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Flp 2:9-11). 

Sesungguhnya tidak ada seorang pribadi pun yang lebih besar daripada Yesus karena tidak ada seorang pun yang lebih rendah hati, lebih dina dari diri-Nya. Dia diangkat dalam kemuliaan di atas setiap orang lain karena tidak ada seorang pun telah dibuat lebih rendah dan dina seperti Dia. Setiap lutut akan bertelut di hadapan-Nya karena tidak ada seorang pun yang lebih dina daripada Yesus. Hanya dialah yang pantas diproklamasikan sebagai Tuhan (Kyrios) segala ciptaan, karena tidak ada seorang pun yang melebihi Dia sebagai seorang hamba. Peninggian Yesus oleh Bapa adalah langsung proporsional dengan perendahan diri-Nya. 

IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEDINAAN YESUS 

Tidak ada seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya. Dalam terang penciptaan dan teristimewa dalam terang Salib-Nya, kita harus mengakui bahwa hanya Allah-lah yang dapat menganugerahkan kepada kita rahmat kerendahan hati. Tetapi bagaimana kita menerima karunia kerendahan hati ini, kerendahan hati atau kedinaan yang sekali lagi akan mengubah kita dari allah-allah (baca ilah-ilah) yang sombong, yang samasekali jauh sekali dari Allah? Kita menerima rahmat kerendahan-hati dengan mengasosiakan diri kita dengan tindakan-tindakan penuh kerendahan-hati dari Kristus, yang adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. 

Kita lihat apa yang ditulis Paulus sebelum awal dari ‘Madah Pengosongan diri Yesus’: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5). Pikiran dan perasaan kita harus identik dengan pikiran dan perasaan Kristus yang rendah hati. Selama masa Prapaskah ini, baiklah kita mohon agar Roh Kudus mengajar kita tentang jalan perendahan Allah Bapa dan Putera-Nya, Yesus. Marilah kita memandang Salib-Nya dan merenungkan bagaimana Dia datang ke tengah-tengah kita dengan segala kerendahan dan kedinaan sebagai suatu tindakan ilahi ; suatu perkara yang tak terbayangkan oleh pikiran manusia yang terbatas ini. 

Yesus Kristus kaya dalam keilahian, namun miskin dalam kemanusiaan. Rahmat Tuhan Yesus Kristus ada dalam kerendahan hati-Nya (kedinaan-Nya). Meskipun Ia kaya,  oleh karena kita Ia menjadi miskin, supaya kita menjadi kaya dalam keilahian-Nya. Kebenaran inilah yang menjadi jantung masa Prapaskah kita. Bagaimana kita menolong orang-orang miskin dalam masyarakat kalau pikiran dan perasaan kita masih jauh dari pikiran dan perasaan Kristus Yesus yang rendah hati dan penuh kasih? Kita harus merenungkan kebenaran bahwa oleh kerendahan-hati (kedinaan) Yesus, kita diselamatkan dari kesombongan kita, dan kita pun diperkaya oleh kemuliaan-Nya. Ingatlah, bahwa sebagai manusia, Yesus adalah manusia 100%, bahwa sebagai manusia Yesus telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (lihat Ibr 4:15). Sebagai manusia, Yesus juga tidak immun terhadap penderitaan dan tidak immun terhadap kematian. 

CATATAN PENUTUP 

Kalau kita merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil, kelihatannya sebagian besar ajaran-Nya merupakan kebalikan dari pengalaman-pengalaman hidup kita. Misalnya, dalam ‘Sabda Bahagia’ atau ‘Ucapan Bahagia’ (Mat 5:3-12), Yesus mengajar para murid-Nya bahwa mereka akan mengenal kekayaan yang sejati hanya melalui keberadaan mereka yang ‘miskin dalam Roh’ (‘miskin di hadapan Allah’); bahwa ‘berdukacita’ dapat mendatangkan penghiburan dan kebahagiaan; dan bahwa penganiayaan dapat menjadi sumber sukacita dan kegembiraan yang luarbiasa. Semuanya itu bertentangan dengan pemahaman manusia pada umumnya. 

Kehidupan Yesus juga tidak kurang luarbiasanya. Dia dapat saja datang ke dunia ini sebagai seorang raja yang penuh kuasa yang menghancurkan dengan mudah semua musuh dan penindas Israel, tetapi pada kenyataannya Dia memilih hidup sebagai seorang rabbi atau katakanlah pengkhotbah jalanan yang tidak jelas tempat tinggalnya, dan yang berasal dari tempat tidak terkenal: Nazaret. Bukannya dididik di Yerusalem di bawah asuhan rabbi terkenal, Ia malah dididik oleh seorang tukang kayu sederhana, ibu-Nya yang muda-usia dan rabbi sinagoga lokal di Nazaret. Sepanjang hidup-Nya Yesus mempunyai keyakinan bahwa kerendahan hati-Nya (kedinaan-Nya) jauh lebih menyenangkan Bapa-Nya di surga daripada sebuah takhta atau singgasana kerajaan, respek dari manusia, atau kekuasaan. 

Nah, sekarang kita harus yakin dan percaya bahwa Allah memiliki hasrat mendalam untuk membentuk kita menjadi insan-insan yang rendah-hati seperti Guru dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, yaitu insan-insan yang memiliki niat untuk mendengarkan suara Allah dan mentaati Dia setiap hari. Kita harus juga selalu ingat, bahwa kerendahan hati (kedinaan) adalah karunia Roh. Bukan pertama-tama dan utama hasil dari kerja keras kita sendiri, melainkan buah dari karya Allah  dalam diri kita. Selagi Roh Kudus mengungkapkan kelemahan-kelemahan atau dosa-dosa dalam hidup kita, kita pun harus yakin bahwa Dia juga menyembuhkan kita dan membentuk kita menjadi menjadi anak-anak Allah, sesuai dengan tujuan-Nya ketika Dia menciptakan kita. Oleh karena itu perkenankanlah Roh Kudus mengubah kita, seperti juga Dia telah mengubah Santo Paulus dari seorang pengejar umat Kristiani menjadi seorang hamba/pelayan rendah-hati dari Kristus Yesus. 

Kita masing-masing juga dipanggil seperti Paulus, dan Allah dapat mencapai tujuan-Nya dalam diri kita masing-masing, selama kita ‘memberikan izin’ kepada-Nya setiap hari. Maka teristimewa dalam masa Prapaskah ini, marilah kita memperkenankan Roh Allah untuk memenuhi diri kita dengan kerendahan-hati (kedinaan) Yesus; kerendahan sebagaimana diuraikan dalam ‘Madah pengosongan diri Yesus’ (Flp2:6-9) yang telah diuraikan di atas. Kalau kerendahan-hati dan ketaatan merupakan prioritas-prioritas Yesus yang paling besar, mengapa kita tidak menirunya, kalau kita sungguh mau menjadi murid-Nya yang baik? 

Selamat menjalani Masa Prapaskah! 

Cilandak, 4 Maret 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads