PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah, Sabtu 6-3-10) 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan saehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:1-3.11-32).

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12. 

Perumpamaan yang indah ini mengajarkan kepada kita betapa mendalamnya kasih Bapa surgawi kepada kita semua, juga relasi macam apa yang Ia kehendaki terjalin dengan kita. Meskipun anak yang bungsu ‘jauh’ dari ayahnya dan anak yang sulung ‘dekat’, sesungguhnya kedua-duanya tidak mengalami secara penuh kasih ayah mereka. Anak yang bungsu memang pada akhirnya melihat dan mengalami sendiri betapa ayahnya sangat mengasihi dirinya. Dalam kasus anak yang lebih tua, halnya tidaklah begitu jelas. 

Sang ayah menyapa anaknya yang sulung dengan kata “anakku” (lihat Luk 15:31). Si anak sulung ini malah memandang dirinya terlebih-lebih sebagai seorang hamba sahaya/pekerja daripada sebagai seorang putera ayahnya (lihat Luk 15:29). Dia bekerja untuk upah, bukan karena mengasihi ayahnya. Meskipun dia adalah seorang anak sulung ‘boss’ (boss bukan berarti ‘bekas orang sakit syaraf), suatu hal luput dari pengamatannya, yaitu segala kebaikan yang diperolehnya karena mempunyai seorang ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya. Demikianlah, dengan cara yang serupa, Allah menginginkan kita untuk mengetahui dan menikmati suatu relasi dengan Dia sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya. Ini memang adalah niat-Nya bagi kita sejak sebelum dunia dijadikan (lihat Ef 1:5; Gal 4:5; 1Yoh 3:1). Sekarang kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing, berapa seringnya sih kita secara sukarela sungguh datang menghadap Allah untuk mengalami hubungan seperti ini? Sebagai anak-anak yang sangat dikasihi ayah kita? Kepada anaknya yang sulung sang ayah juga berkata: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku” (Luk 15:31). Allah menginginkan agar kita mengetahui bahwa Dia hadir di tengah-tengah kita senantiasa. Dia sungguh rindu agar kita – anak-anak-Nya – diam bersama-Nya selama-lamanya, agar Dia dapat melimpahkan kasih-Nya kepada kita, seperti yang telah dilakukan sang ayah terhadap anaknya bungsu yang telah kembali kepadanya. Mengenal dan mengalami kasih Allah dapat menghasilkan sukacita dan kebebasan dalam diri kita, sesuatu yang akhirnya disadari oleh si anak bungsu. Akhirnya, sang ayah berkata kepada si anak sulung: “Segala milikku adalah milikmu” (Luk 15:31). Dalam Yesus, Allah telah memberikan kepada kita hak untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Allah telah memberikan segalanya kepada kita – tidak hanya yang kita butuhkan demi keselamatan. Ia menginginkan agar kita mempunyai suatu relasi personal dengan diri-Nya melalui Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Marilah kita memuji Allah Bapa kita untuk segalanya yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita, dan marilah kita berdoa agar dapat mengalami apa yang dikehendaki oleh Bapa atas diri kita sejak semula. 

DOA: Bapa surgawi, kami menyembah Dikau, memuji Dikau, dan bersyukur kepada-Mu karena Dikau memperlakukan kami sebagai anak-anak-Mu terkasih, karena kami dapat diam bersama-Mu untuk selama-lamanya, juga karena Dikau telah memberikan segalanya kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami agar dapat menerima kasih-Mu dengan rendah hati dan terbuka. Amin.

Cilandak, 27 Februari 2010

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

About these ads