SENGSARA, KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS KRISTUS *) 

Mengapa Yesus harus menderita sengsara dan mati di kayu salib? Rasanya pertanyaan seperti itu hampir tidak perlu untuk diajukan! Kita dapat menjawabnya sebagai berikut: “Karena sengsara dan kematian Yesus merupakan pusat rencana penyelamatan ilahi”; dan jawaban itu memang betul. Namun demikian, apakah Allah tidak dapat memilih jalan yang lebih mudah, yang kurang menyakitkan, untuk menebus umat manusia? Apakah Allah tidak dapat menetapkan saja, bahwa tidak akan ada dosa lagi, tidak ada penderitaan lagi? Apakah Allah dengan begitu tidak dapat mengakibatkan transformasi total dalam diri manusia? Dari perspektif rencana Allah bagi umat-Nya kita akan melihat sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus, sehingga dengan demikian kita dapat menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi. 

JANJI PENEBUSAN 

Pendekatan yang dilakukan oleh para bapak Gereja untuk mengetahui siapa diri Allah itu, adalah dengan mempelajari peristiwa-peristiwa sejarah penyelamatan yang tercatat dalam Kitab Suci. Kemudian, berdasarkan peristiwa-peristiwa tersebut, dilakukanlah discernment mengenai apa saja yang sedang diwahyukan tentang kehidupan batiniah Allah Tritunggal. Konsisten dengan pendekatan ini, Katekismus Gereja Katolik (KGK) menguraikan sengsara, kematian dan kebangkitan, diawali dengan suatu penjelasan historis mengenai proses yang membawa kepada kematian Yesus. Akan tetapi, dengan cepat penjelasan tersebut dilanjutkan dengan menyingkapkan konteks teologis dan penebusan dari kematian dan kebangkitan Yesus secara lebih mendalam. 

Dalam tulisan pendek ini, kita akan mengamati apa yang diajarkan oleh KGK tentang sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus, untuk dapat melihat makna teologis dan penebusan dari peristiwa-peristiwa historis ini. Dari perspektif ini, kita dapat memahami secara lebih baik, dampak yang diinginkan Allah dari peristiwa-peristiwa  tersebut atas kehidupan kita. 

SENGSARA YESUS 

Yang harus kita camkan, adalah suatu realitas mendalam, yaitu dampak penuh misteri dan kuasa dosa pertama (dosa asal) atas diri Adam dan atas pikiran, hati serta kemauan setiap orang yang pernah dilahirkan  ke dalam dosa. Memang dosa asal ini disingkirkan pada waktu pembaptisan, namun dampaknya tetap ada dalam diri kita. Santo Thomas Aquinas menyebut dampak dosa ini sebagai concupiscentia, yaitu suatu dualisme yang ada pada manusia yang menghalanginya dalam mewujudkan seluruh kehendaknya.[1] Menurut Konsili Trente[2], sebagai akibat dosa asal, concupiscentia itu sendiri bukan dosa, namun menjadi sumber dosa pribadi.[3] Peranan penting dan indah-hebat dari kemanusiaan Yesus adalah melakukan restorasi atas kehidupan kita yang sudah berantakan, kepada hasrat dan niat abadi sempurna Allah bagi kita. 

KGK mulai menyoroti sengsara Yesus dan kematian-Nya dengan mencatat banyak tokoh-tokoh sejarah yang mempunyai tanggung-jawab hukum atau pun moral atas penangkapan, pengadilan-dagelan, tuduhan, penderitaan, penjatuhan hukuman mati di kayu salib atas diri Yesus: Yudas Iskariot, Herodes, Sanhedrin, Pilatus dan lain-lain. Kemudian KGK dari tingkat sejarah penyelamatan menanjak-naik ke tingkat penyelenggaran ilahi sebagai pembentuk sejarah manusia, dan dari situ menyatakan bahwa siapa saja yang berdosa memberi sumbangan kepada penderitaan dan kematian Yesus Kristus (KGK 598). Setelah itu dikembangkanlah peranan kemanusiaan Yesus dalam tindakan Allah yang menebus (KGK 599). 

Yang menjadi dasar dari misteri inkarnasi adalah ketetapan hati Yesus untuk melaksanakan rencana penebusan Allah demi keselamatan semua orang (KGK 607-608). Bagian dari rencana itu termasuk pengakuan akan dosa dan kegelapan kita dan memilih rencana Allah – secara lengkap dan sempurna. Oleh penderitaan-Nya di taman Getsemani dan di tangan orang Romawi, dan oleh kematian penuh ketaatan pada kayu salib, Yesus memutar-balikkan ketidak-taatan dan pemberontakan Adam melawan kehendak Allah (KGK 615). Dalam kodrat insani-Nya, Yesus secara sempurna tunduk kepada kodrat ilahi-Nya serta berkoordinasi dengan kodrat ilahi-Nya itu. Dengan demikian sengsara Yesus memungkinkan bagi orang-orang untuk mengenal dan mengasihi Allah secara sempurna. 

Penderitaan manusia Yesus pada dirinya adalah suatu pengungkapan solidaritas-Nya dengan mereka yang menderita. Penderitaan ini disebabkan dosa dalam kehidupan mereka sendiri, atau dikarenakan kedosaan yang ada dalam struktur-struktur sosial (yang berasal dari pilihan-pilihan manusia sendiri juga) dan suatu budaya yang semakin suram dan gelap. Semua hal ini menghalangi mereka untuk menikmati ‘keuntungan’ dari kepemilikan pengetahuan yang hidup tentang Allah. Memang Yesus hidup tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), namun Ia ikut ambil bagian dalam desolasi dan ‘kehancuran’ kita. Apakah ada presiden, raja atau perdana menteri yang mau ikut ambil bagian dalam ‘nasib hidup’ seorang pengemis jalanan? Tentu saja tidak! Namun tidak demikianlah halnya dengan ‘sang Raja segala raja’, Yesus Kristus! 

Dari kayu salib Yesus berseru, “Eloi, Eloi, lema sabakhtani?, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:34; bdk. Mzm 22:2; lihat juga KGK 603). Seruan Yesus yang penuh derita ini (diambil dari Mzm 22) berakhir dengan keyakinan total dan lengkap akan kebaikan, pertolongan dan kemenangan akhir Allah atas segala kejahatan. Keindahan tersembunyi dalam kemanusiaan-Nya yang penuh derita-sengsara adalah kepercayaan-Nya yang lengkap dan total kepada Allah seperti diungkapkan dalam Mzm 22. Penderitaan pun tidak luput dari kuasa membersihkan dan menebus dari kasih Kristus. Penderitaan kita sebagai manusia sekarang dapat digabungkan dengan penderitaan Kristus. Kita dapat menerima terang-cahaya kehidupan-Nya dan berpijak pada keyakinan dan pengharapan. 

KEMATIAN YESUS 

Yesus mati di kayu salib untuk membebaskan semua manusia dari dosa. Karena dosalah Dia mati. Dengan demikian, tidak ada dasar untuk menuduh orang-orang Yahudi (bahkan orang-orang Yahudi di Palestina yang hidup di abad pertama sekali pun); kekuatan politik atau militer tertentu sebagai penyebab kematian Yesus.  Kematian Yesus sebenarnya termasuk di dalam wilayah penebusan universal yang jauh melampaui ruang lingkup yang menyangkut bangsa/ras dan politik. Semua orang berdosa bertanggung-jawab atas sengsara dan kematian Yesus – Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki maupun perempuan (KGK 595-598). Akhirnya, Allah-lah yang bertanggung-jawab. Allah-lah yang mengutus Putera-Nya yang tunggal, agar dengan demikian kita memperoleh kehidupan (lihat Yoh 3:16). Inti pokok dari sejarah penyelamatan adalah hasrat Allah untuk menebus. 

Kematian Yesus sangat mengerikan dan mengenaskan, namun pentinglah bagi kita untuk memahami bagaimana kematian-Nya sejalan serta sesuai dengan rencana penyelamatan ilahi dari Allah sendiri: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan…” (Kis 2:23; lihat KGK 599). Ingat juga apa yang dikatakan Yesus yang sudah bangkit kepada kedua orang murid dalam perjalanan ke Emaus: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Luk 24:25-27). Yesus sendiri menafsirkan misi-Nya dalam terang sang Hamba YHWH yang menderita (Yes 52:13-53:12; lihat KGK 601). Artinya, kematian-Nya adalah untuk dan demi kita. ‘Keuntungan’ kematian Yesus adalah bahwa kita memperoleh bagian dalam kehidupan kekal dan akses kepada takhta Allah. Inilah ‘kasih yang menebus’ (Inggris: redemptive love) yang secara garis-besar diutarakan oleh Yesaya, yang digenapi oleh dan dalam diri Yesus Kristus (KGK 602), yang membuat kita dibebaskan /dimerdekakan dari dosa melalui kematian-Nya (Rm 5:10; lihat KGK 603). 

Penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib berakar pada dan didorong oleh kasih Allah kepada seluruh dunia (Rm 5:8; KGK 604-605). Secara bebas suka-rela Yesus mengemban misi ini (KGK 607) dan mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa surgawi sebagai kurban persembahan sempurna untuk kepentingan kita (KGK 606). Dengan penyerahan diri-Nya secara sempurna kepada rencana penyelamatan Bapa, Yesus mempersembahkan suatu kurban yang lengkap dan definitif, yang tidak dapat pernah diulangi; dan ini terus-menerus dipersembahkan kepada Bapa di surga (KGK 613-618). 

Kembali kepada fokus terhadap kemanusiaan Yesus, kita dapat melihat bahwa melalui kematian-Nya di kayu salib, kemanusiaan Yesus memperbaiki kembali ketaatan sempurna dan penuh kasih  manusia yang dulu pernah dirusak. Yesus membuat hal itu mungkin bagi umat manusia (seperti Adam dan Hawa sebelum kejatuhan mereka) untuk menggantungkan diri dan hidup seturut setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Inilah satu alasan mengapa Allah menjadi manusia. 

KEBANGKITAN YESUS 

Mengapa Yesus perlu dibangkitkan dari kematian? Bukankah karya penebusan terjadi pada kayu salib, di mana Dia telah mengeluarkan darah-Nya? Singkatnya, rencana indah Allah untuk segenap ciptaan tidaklah terbatas pada penebusan dosa-dosa kita. Rencana-Nya mencakup seluruh kehidupan, yang dimulai dengan Adam dan Hawa di Taman Eden dan sekarang berlanjut dalam Yesus. Pribadi yang telah dibangkitkan dari Yesus ini melakukan mediasi dengan kehidupan di masa mendatang yang kita harap-harapkan. 

Kebangkitan Yesus mencerminkan dua hal yang bersifat hakiki tentang Allah. Pertama, kebangkitan Yesus menunjukkan intervensi ilahi dari Trinitas dalam waktu dan ruang, untuk menjadikan misi penebusan Yesus berbuah (KGK 648). Kedua, kebangkitan Yesus memberi kesaksian tentang dan memediasikan (menjadi jalan menuju) hidup kemuliaan Bapa surgawi (KGK 519). Kehidupan ini memenuhi janji-janji tentang sebuah hati perjanjian yang baru, yang dibuat melalui Yeremia dan Yehezkiel, kerinduan Hosea dan Mikha akan keadilan dan belas kasih bagi semua orang, dan juga antisipasi akan kasih sempurna Allah yang dinyatakan dalam Kitab Ulangan dan Mazmur 119 (KGK 652, 994, 601). 

Kebangkitan Yesus  meneguhkan klaim-Nya atas keilahian-Nya (KGK 653), membenarkan kita di hadapan Allah (KGK 654), dan merupakan dasar bagi pengharapan kita akan suatu kebangkitan di masa depan (KGK 655). Kebangkitan Yesus adalah dasar dari iman-kepercayaan kita akan Allah (1Kor 15:12-14.20; lihat KGK 991). 

Akhirnya, selagi kita melihat kemanusiaan Yesus sebagai suatu model untuk kita sendiri, kita disadarkan bahwa kebangkitan adalah apa yang terjadi dengan kita apabila diri kita tidak lagi dirusakkan oleh dosa. Diangkatnya Maria ke surga pada akhir ziarahnya di dunia merupakan ilustrasi tentang akhir-alamiah tubuh kita, sekali kita telah dibebaskan dari segala dosa – seperti Yesus – dapat melihat Bapa, muka ketemu muka. 

CATATAN PENUTUP 

Sementara KGK menolong kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus dengan perspektif karya Allah melalui Putera-Nya, maka kita mulai menghargai secara lebih penuh apa yang Yesus telah lakukan bagi kita dan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Kata-kata Santo Paulus berikut ini seharusnya memberikan kepada kita pengharapan yang mendalam: “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4). 

Karena hidup ini yang adalah milik kita melalui sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus, maka kita  dapat menghadapi hari-hari kita dengan pengharapan dan suatu semangat penuh sukacita, karena kita merangkul kebenaran yang dicanangkan oleh Santo Paulus: “Dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:37-39).

Cilandak, 5 April 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


*) Tulisan ini dapat digunakan sebagai bahan untuk Bina Iman Dewasa atau bahan refreshing para katekis.

[1] Lihat Dr. C. Groenen OFM, MARIOLOGI – TEOLOGI & DEVOSI, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1988,  butir 104, hal. 57.

[2] Konsili Ekumenis ke-19 (1545-1563).

[3] C. Groenen, butir 190, hal. 91. Dalam melaksanakan diri dan mewujudkan kebebasan dasar manusia terbentur pada pelbagai resistensi pada dirinya sendiri. Ini suatu pengalaman umum yang dilukiskan dalam Rm 7:14-23. Lihat butir 193, hal. 92-93.

About these ads