MARTABAT PEREMPUAN DALAM BEBERAPA DOKUMEN GEREJA 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  *) 

Dalam bagian awal sebuah dokumennya, Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tidak sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka” (‘Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini’ [7-12-65]). Solidaritas Gereja dengan semua orang di dalam dunia ini, terutama mereka yang menderita, adalah karena Gereja merupakan Tubuh Kristus sendiri. Seperti kita yakini, oleh dan melalui Kristus setiap orang percaya dapat menikmati martabatnya yang sejati sebagai anak  Allah (bdk. Yoh 1:12). Karena Salib-Nya orang-orang yang paling tidak tidak berharga di mata dunia pun dapat ikut serta dalam kehidupan ilahi bersama Dia untuk selama-lamanya. Penderitaan yang disebutkan di atas dapat disebabkan oleh berbagai diskriminasi dan pelanggaran atas martabat manusia, termasuk di dalamnya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin (gender) teristimewa atas kaum perempuan dan pelanggaran martabat mereka. 

Tulisan ini secara singkat mau menyinggung pandangan Gereja – lewat beberapa tulisan para pemimpinnya – yang menyangkut masalah martabat manusia, khususnya martabat kaum perempuan. 

Paus Yohanes XXIII. Pada tahun 1963 Paus Yohanes XXIII menerbitkan ensikliknya yang terkenal, Pacem In Terris (Perdamaian Dunia). Dalam ensiklik ini Sri Paus mengemukakan beberapa konsekuensi pengakuan yang baru dan universal dari martabat manusia. Sri Paus mengemukakan tiga karakteristik dari dunia zamannya:    (1) Perbaikan dalam kondisi para pekerja dan hak mereka untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan; (2) peranan perempuan yang semakin meningkat dalam bidang politik dan sosial; dan (3) semakin pentingnya bangsa-bangsa yang dulunya merupakan tanah jajahan dari bangsa-bangsa lain. 

Berkaitan dengan butir (2) di atas, Sri Paus menyatakan sebagai berikut: 

Kedua, peranan kaum wanita sekarang dalam hidup berpolitik di mana-mana menonjol. Barangkali perkembangan itu lebih pesat pada bangsa-bangsa Kristiani; tetapi sedang berlangsung secara meluas juga, kendati lebih lamban, pada bangsa-bangsa yang mewarisi aneka tradisi dan hidup di alam budaya yang berbeda. Kaum wanita kian menyadari martabat hakiki mereka. Mereka sudah tidak puas lagi berperanan pasif semata-mata, atau membiarkan diri dipandang sebagai semacam sarana. Dalam rumahtangga maupun kehidupan umum mereka menuntut hak-hak maupun kewajiban-kewajiban yang ada pada mereka selalu pribadi (Pacem in Terris, 41). 

Paus Yohanes XXIII memandang bahwa dalam berbagai aspirasi kaum perempuan ini adanya suatu gema dari ajaran Injil yang menyatakan bahwa setiap manusia bernilai/berharga sama di hadapan belaskasih Allah dan terdapat kuasa pembebasan serta penyelamatan dalam darah Yesus Kristus. Martabat kita bukanlah tergantung pada peranan kita, bukan pula tergantung pada pengaruh kita atas masyarakat, apalagi kekayaan atau kekuasaan duniawi kita. Martabat kita sesungguhnya datang dari satu hal ini: Kita diciptakan seturut gambar dan rupa Allah sendiri (lihat Kej 1:26.27). Status manusia sebagai citra Allah ini dirusak karena dosa yang dibuat oleh Adam dan Hawa, namun mengalami restorasi lewat kematian yang memberi-hidup dari Yesus Kristus dan kebangkitan-Nya. Setiap orang dipanggil untuk menjalani suatu kehidupan yang bermartabat dan merdeka dalam arti sesungguhnya, suatu kehidupan yang pantas dalam segala seginya seturut ide Allah sendiri tentang manusia itu. 

Dalam terang inilah Paus Yohanes XXIII dapat menyambut baik suatu perkembangan sosial – meskipun masih banyak mengandung ketidaksempurnaan – yang memperjuangkan martabat laki-laki maupun perempuan, martabat yang tak terjabutkan  dan sesungguhnya telah dimenangkan oleh darah Yesus Kristus. 

Paus Yohanes Paulus II. Seperempat abad setelah terbitnya Pacem in Terris, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan sebuah surat apostolik dengan judul Mulieris Dignitatem (Martabat Kaum Wanita; 15-8-88). Tahun 1988 adalah Tahun Maria. Dalam surat apostolik ini Sri Paus mengundang kita semua untuk memandang Bunda Maria dan melihat dalam dirinya perwujudan-nyata ide Allah tentang martabat dan panggilan perempuan. Sri Paus membuka surat apostoliknya ini dengan sebuah pesan Konsili Vatikan II kepada para perempuan yang bertanggalkan ‘Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa’, 8 Desember 1965. Bunyi pesannya: 

“Saatnya akan datang, dan nyatanya sudah datang, dimana panggilan kaum wanita akan diakui kepenuhannya; saat dimana kaum wanita di dalam dunia ini memperoleh pengaruh, hasil dan kuasa yang tak pernah dicapainya hingga saat ini. Itulah sebabnya pada saat ini dimana bangsa manusia tengah mengalami transformasi yang begitu mendalam, kaum wanita, penuh dengan semangat Injil, dapat berbuat banyak untuk menolong manusia agar tidak jatuh” (Pesan Konsili kepada Kaum Wanita, tanggal 8 Desember 1965; dikutip dalam Mulieris Dignitatem, 1). 

Pesan kepada para perempuan ini  menyimpulkan apa yang telah dinyatakan dalam ajaran Konsili Vatikan II, khususnya yang termuat dalam Gaudium et Spes,  8, 9 dan 60; dan ‘Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam’ [18-11-65], 9. 

Barangkali tidak ada pemimpin Gereja dalam sepanjang sejarahnya yang mengajar penuh semangat tentang pentingnya panggilan seorang perempuan daripada Paus Yohanes Paulus II. Tema yang berkaitan dengan perempuan dapat ditemukan dalam hampir setiap ensiklik dan/atau surat-suratnya sampai pada suratnya tertanggal hari Kamis Putih 1995, yang berjudul Women in the Life of the Priest (Para perempuan dalam kehidupan Imam). Surat ini ditulis berkaitan dengan konperensi tentang perempuan yang diselenggarakan oleh PBB di Beijing (4-15 September 1995). 

Donal Dorr (The Social Justice Agenda – Justice, Ecology, Power and the Church) menilai bahwa surat apostolik ini dengan baik mengungkapkan keseteraan sejati antara laki-laki dan perempuan, namun sayang pentingnya surat apostolik itu secara penuh tidak mendapat penghargaan semestinya karena pusat perhatian orang-orang adalah pada posisi Sri Paus yang kokoh, yang tidak menyetujui imamat bagi kaum perempuan. Kaum feminis dan para pendukungnya berargumentasi, bahwa kalau kaum perempuan tidak diperbolehkan menjadi imam, maka hal itu berarti mereka tidak dipandang sederajat dengan kaum laki-laki (hal. 59). 

Paus Yohanes Paulus II ini memang secara konsisten mengartikulasikan ajaran dari tradisi Gereja, bahwa imamat bukanlah panggilan untuk kaum perempuan. Pernyataan seperti ini, yang datang dari seorang pemimpin Gereja yang begitu aktif mempromosikan martabat perempuan, dapat membimbing kita dalam upaya pemahaman kita tentang bagaimana kita memandang diri kita sendiri dan memandang satu sama lain. Martabat kita tidak diukur oleh apa yang kita  lakukan dalam Gereja atau di dalam dunia. Sri Paus mengingatkan kita bahwa martabat yang diberikan kepada kaum perempuan dengan mana mereka memelihara hidup, dengan meneladan Maria, adalah martabat tertinggi yang dapat diterima oleh manusia. Berikut ini adalah pernyataan Sri Paus: 

Martabat setiap wanita dan panggilan yang sesuai dengan martabat itu mendapat ukuran yang menentukan di dalam kesatuan dengan Allah. Maria, wanita dari Kitab Suci, adalah ungkapan yang paling lengkap dari martabat dan panggilan ini. Karena tak ada manusia, pria atau wanita, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dapat dengan cara apa pun memperoleh kepenuhan terlepas dari gambar dan keserupaan ini (Mulieris Dignitatem, 5). 

Menyoroti masalah martabat. Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan ‘martabat manusia’. Salah satu aspek terpenting dari perkembangan kesadaran akan martabat kaum perempuan sebenarnya terletak pada kemampuan untuk mendefinisikan sifat dari martabat yang sejati. 

Kita semua sudah tahu, bahwa di dalam dunia ini nilai tertinggi yang dikejar-kejar oleh kebanyakan orang adalah kekuasaan. Dengan demikian tinggi-rendahnya martabat seseorang diukur dengan banyak-sedikitnya kekuasaan yang dimiliki olehnya. Jadi tidak mengherankanlah kalau kita menyaksikan bagaimana masyarakat memandang tinggi orang yang mempunyai kuasa untuk mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya. Seorang bupati yang korup jauh lebih  terhormat di mata rakyatnya daripada Pak Selamet yang hanya seorang buruh tani jujur. Banyak sekali kasus-kasus seperti ini dapat ditonton dalam televisi, hari demi hari. Seorang suami yang mencari nafkah lebih tinggi martabatnya daripada sang istri yang hanya melakukan ‘kerja’ menjaga anak, masak, cuci-cuci baju/piring serta berbagai tugas rumahtangga yang kecil-kecil lainnya. Yang terakhir ini adalah akibat distorsi maskulinitas dalam cara kekuasaan itu dipupuk. 

Ironisnya pengalaman akan distorsi maskulinitas ini juga mengundang reaksi ‘ekstrim’ dari pihak perempuan, yang menuntut bagian dalam kekuasaan ini, dan ‘kompetisi’ (termasuk distorsinya) pun menjadi semakin intens. Anggota Gereja yang menganut feminisme radikal dan para pendukung mereka yang laki-laki inilah yang tanpa lelah ‘memperjuangkan’ agar imamat juga diperbolehkan dalam Gereja Katolik. Mereka juga berpandangan bahwa tradisi lama yang memberikan kepada Maria gelar ‘Hawa yang baru’ harus mati sebab merugikan semua perempuan. Mengkontraskan Maria dengan Hawa (lambang dari perempuan biasa) membuat sulit upaya untuk menjembatani kesenjangan antara Maria dengan semua perempuan biasa (Kathleen Coyle, Mary in the Christian Tradition, hal. 86-87). 

Kesalahpahaman radikal akan kodrat manusia itulah yang begitu menyesatkan hidup manusia sampai hari ini. Apabila sikap dan hasrat untuk mendominasi orang-orang yang berbeda itu begitu kuat, maka ujung-ujungnya adalah kamp konsentrasi (zaman Jerman Nazi pada masa Hitler dan antek-anteknya berkuasa), atau pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang tidak lain adalah pembunuhan massal karena diskriminasi rasial. Media kita sering meributkan apa yang terjadi antara orang Palestina dan Israel. Bagaimana dengan orang-orang di sebuah negara di Afrika yang perlahan-lahan dibunuh karena arus bahan makanan untuk mereka sengaja dijegal oleh pihak yang berkuasa (umumnya berlainan etnis dan agama)? Pelecehan seksual terhadap anak-anak kecil, aborsi, euthanasia dan sebagainya; ini semua juga adalah akibat kesalahpahaman yang bersifat radikal! 

Kuasa Allah berbeda! Allah adalah sang Mahatinggi, namun cara-Nya menjalankan kekuasaan-Nya tidaklah melalui dominansi, melainkan melalui kemurahan-Nya. Allah mensyeringkan diri-Nya dalam karunia keberadaan manusia dan bahkan dalam karunia hidup kekal. Ini adalah martabat tanpa batas dan norma dari segala martabat. 

Catatan Penutup. Satu aspek karya Allah dalam hati manusia adalah meningkatnya kesadaran akan martabat dan panggilan kaum perempuan. Kalau saja dari permenungan pribadi atas tulisan ini pembaca mengalami kesadaran yang kian mendalam akan martabat manusia, khususnya martabat perempuan, maka tulisan ini telah mencapai tujuannya. 

Marilah kita dengan rendah hati mohon kepada Allah agar menerangi pikiran kita dan memurnikan hati kita masing-masing dari berbagai distorsi yang ada dalam diri kita yang telah menyebabkan kekuasaan mendominasi dan membuat cintakasih menjadi tidak efektif. Kita berdoa agar Yesus Kristus yang mati di kayu salib bagi kita dan membebaskan diri kita, akan mengajar kita tentang martabat sejati dari perjalanan hidup kita dalam mengikuti jejak-Nya. 

Cilandak, 9 Januari 2010

Tulisan ini pernah dimuat di majalah GITA SANG SURYA, Januari-Februari 2010 dengan judul “Martabat Perempuan Dalam Dokumen  Gereja”, hal. 25-27. Dimuat dalam situs/blog ini pada tanggal 21 April 2010 dalam rangka menyambut HARI IBU KARTINI.


*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

About these ads