TUHAN YESUS KRISTUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Senin 26-4-10) 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang–orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang  sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:1-10). 

Yesus, sang Tersalib, telah ditinggikan dan duduk di sebelah kanan Bapa (Kis 2:22-28). Inilah kata-kata-kata yang diberikan Petrus demi meyakinkan para pendengarnya kepada mereka yang berkumpul di hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Seperti juga mereka yang  percaya di awal Gereja ini, kita juga dapat mengalami kondisi sukacita dan mengharukan pada waktu kita membuka diri terhadap Roh-Nya yang dicurahkan atas diri kita, Roh yang menggerakkan kita ke dalam pertobatan sejati dan iman yang diperbaharui, untuk menerima kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus.  Dia “yang tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr 2:22), demi cintakasih-Nya kepada kita dan ketaatan pada Bapa, menanggung segala dosa dan kesalahan kita, agar kita dapat memperoleh hidup baru dalam Dia. 

Tokoh GEMBALA memang sangat tepat untuk menggambarkan Allah yang sangat mengasihi, penuh perhatian dan selalu melindungi umat-Nya. Ini adalah imaji (image) yang biasa dalam Perjanjian Lama, yang diturunkan dari kehidupan pastoral namun dengan acuan khusus kepada pembebasan bangsa Yahudi yang dialami selama Keluaran (Exodus). Sekarang, bagi umat Kristiani, Yesus-lah sang Gembala Baik: Musa baru yang memimpin umat-Nya dalam ziarah di dunia ini. Dalam suratnya yang pertama, Petrus menyatakan: “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1Ptr 2:25). Dia datang supaya kita para murid-Nya mempunyai hidup secara berkelimpahan (lihat Yoh 10:10). 

Memang dunia menawarkan begitu banyak opsi yang menjanjikan (iming-iming) ‘kehidupan’ – namun yang ujung-ujungnya hanya akan berakibat pada kekecewaan dan kehampaan. Sebaliknya Yesus menawarkan suatu kehidupan kekal yang akan membawa kita kepada persatuan dengan kehidupan ilahi Tritunggal Mahakudus. 

Setiap imaji (gambaran)  Yesus sebagai  Gembala Baik yang tidak merangkul dimensi pengorbanan dari pekerjaan seorang gembala tidak akan mampu ‘menangkap’ bagaimana Yesus memaknai misi-Nya. Dalam pelayanan-Nya di tengah-tengah masyarakat Yesus berkonfrontasi dengan situasi hidup-mati, dan perbuatan dan apa yang diwartakan-Nya akhirnya menggiring-Nya ke bukit Kalvari. Yesus adalah Gembala sejati karena demi cintakasih-Nya yang begitu agung kepada kita semua, Dia memberikan nyawa-Nya. Dia sendiri mengatakannya pada malam sebelum kematian-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Cintakasih Yesus bersifat pribadi (personal) dan intim (katakanlah: akrab), dan Ia memanggil kita dengan nama kita masing-masing (lihat Yoh 10:3). Didorong dan dikuasai oleh cintakasih mendalam, Ia akan mencari ‘domba yang hilang’ (bdk. Luk 15:4-7). 

Di tengah-tengah riuh-rendahnya berbagai penawaran dan janji dalam dunia modern ini, mereka yang haus dan lapar akan ‘kehidupan sejati’ akan mengenali suara-Nya. Setiap murid yang mengikut Dia diberdayakan oleh rahmat untuk menjalani kehidupan sama seperti kehidupan-Nya. Kita akan dikuatkan oleh Roh Kudus-Nya dalam perjuangan kita sehari-hari melawan godaan dan kecenderungan untuk berdosa, apabila kita terus berpegang pada sang Gembala Baik. Ia tidak hanya akan memberikan hidup yang  berkelimpahan, tetapi Dia juga adalah ‘pintu’ bagi kita untuk menemukan jalan kepada ‘kehidupan’. Bersama sang pemazmur kita masing-masing berseru dengan penuh keyakinan: “TUHAN (YHWH) adalah gembalaku, takkan kekurangan aku!” (Mzm 23:1). 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Gembala Baik  yang membaringkan aku di padang yang berumput hijau, membimbingku ke air yang tenang dan menyegarkan jiwaku. Engkau menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Mu. Sekali pun aku berjalan dalam kegelapan, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau selalu besertaku. Engkau adalah Imanuel! Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin. 

Cilandak, 21 April 2010  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads