LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Rabu 19-5-10)

Peringatan Santo Krispinus dari Viterbo [1668-1750], Bruder Kapusin

“Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal (Kis 20:28-38).

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36.

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus (Kis 20:18-35) yang sudah dibacakan dalam bacaan hari Selasa kemarin. Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri. Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar. Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23]. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari Allah menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di Rumah Sakit. Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Cilandak, 15 Mei 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads