SERATUS KALI LIPAT: UPAH MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII, Selasa 25-5-10)

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama” (Mrk 10:28-31).

Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Petrus. Ia telah meninggalkan segalanya untuk dan demi mengikut Yesus. Apa lagi yang diharapkannya sebagai ganjaran selain berkat-berkat dalam bentuk materi? Bagaimanakah dengan kita masing-masing? Tidak pernahkah kita bertanya dalam hati, “Apa yang akan kuperoleh nantinya dengan mengikut Yesus? Berkat berupa harta kekayaan yang melimpah?” Jawaban Yesus kepada kita tentunya  sama dengan jawaban yang diberikan-Nya kepada Petrus. Ia menjanjikan berkat-berkat sebanyak seratus kali lipat kepada setiap orang yang memberikan hatinya kepada Yesus – namun Ia juga menjanjikan adanya penganiayaan. Ia tidak pernah berkata bahwa semua itu mudah, akan tetapi Dia sungguh berjanji akan bersama kita pada setiap langkah jalan kita.

Oleh iman, kita dapat berdiri kokoh, yakin akan berkat-berkat Allah. Ia akan selalu memberikan segalanya dengan penuh kemurahan-hati. Akan tetapi, berkat Allah yang paling besar bukanlah yang bersifat materiil, melainkan kehadiran riil dan kuasa-Nya yang berdiam dalam diri kita. Dia ingin mewujudkan kehadiran-Nya dalam hati kita, agar selagi kita mati terhadap kehidupan lama kita, Dia dapat mulai hidup dalam dan melalui diri kita, membuat kita menjadi berkat bagi orang-orang lain. Ia ingin membebaskan hati kita dari kekhawatiran dunia ini agar dengan demikian kita dapat melayani kebebasan-Nya kepada orang-orang di sekitar kita.

Dipenuhi dengan suatu cintakasih yang berkobar-kobar kepada kita, Yesus memanggil kita untuk melepaskan diri kita dari setiap orang dan setiap hal yang digandrungi oleh hati kita  lebih daripada Dia sendiri. Mungkin saja hal itu sebuah mimpi, sebuah sikap, masalah-masalah, atau rasa takut. Mungkin juga itu adalah ide kita tentang pasangan hidup kita atau anak-anak kita, untuk menjadi seperti apa mereka itu kelak. Dimana saja hati kita berdiam, tergantung pada, berpaut pada, atau lebih mencintai daripada Yesus sendiri, maka kita dipanggil untuk meletakkan semuanya itu di atas altar Tuhan. Maka kita akan dibuat bebas-merdeka dan mengenal damai-sejahtera yang sejati.

Akan tetapi, bagaimana dengan penganiayaan-penganiayaan? “Jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5). Kebencian-kebencian dari orang-orang lain, godaan-godaan dari si Iblis, dan pergumulan kita sendiri dengan egoisme, sifat serakah dan lain sebagainya merupakan realitas-realitas harian yang bahkan dapat meningkat selagi kita memberikan hati kita secara lebih penuh kepada Yesus. Bagi orang-orang yang berada dalam keadaan terikat, realitas-realitas ini  dapat menjadi beban-beban yang sungguh berat. Akan tetapi setiap orang yang hatinya telah ditetapkan untuk Yesus – setiap orang yang sedang mengembangkan suatu perspektif surgawi – dapat datang melihat bahwa penderitaan-penderitaan merupakan berkat-berkat tersamar (blessings in disguise) karena buah yang dihasilkan: integritas, iman, keberanian, dan teristimewa, kemesraan hubungan dengan Yesus.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Segala puji, hormat dan kemuliaan bagi-Mu! Tolonglah aku menempatkan hatiku di atas altar-Mu, ya Yesus. Aku percaya akan berkat-berkat-Mu yang berlimpah dan aku bersukacita  dalam kemanisan hadirat-Mu. Amin.

Cilandak, 22 Mei 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads