BEBERAPA CATATAN TAMBAHAN MENGENAI SIKAP TERHADAP ALAM SEMESTA SESUDAH GAUDIUM ET SPES  *)

Pendahuluan

Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes rampung pada tahun 1965, namun dokumen Konsili Vatikan II ini tidak menyinggung sama sekali masalah lingkungan hidup. Memang dapat dikatakan bahwa pada waktu itu masalah lingkungan hidup belum menjadi kesadaran orang, termasuk para teolog.

Masalah lingkungan hidup memang ada di bumi ini dan sudah cukup lama, termasuk di Indonesia. Masalahnya a.l. (1) Desertifikasi lahan pertanian karena musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga dapat mengakibatkan lahan yang tadinya produktif menjadi tanah kering. Desertifikasi  ini juga dapat merupakan akibat dari metode pertanian yang jelek dan pertumbuhan jumlah penduduk; (2) Perusakan hutan dan pemusnahan spesies hewan dalam kecepatan yang menakutkan dengan segala akibatnya; (3) Polusi air dan udara dengan segala konsekuensinya; (4) Pemanasan  global dan penggunaan energi dengan segala akibat negatifnya; (5) Dan lain-lainnya.

Masalah lingkungan hidup di Indonesia

Kita yang hidup di Indonesia menghadapi “kehancuran lingkungan”. Masalah ekologi sudah sampai pada tahap tak terpulihkan: pembabatan hutan sudah pada tingkat yang sukar dikendalikan dan kerusakan yang ada menyebabkan kerusakan baru.[1]  Sebagai contoh, kerusakan hutan di Kalimantan membutuhkan ratusan tahun untuk dapat pulih kembali. [2]

Pada kesempatan memperingati Hari Lingkungan Hidup di Istana Cipanas, Jawa Barat hari Senin tanggal 6 Juni 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono [3] mengajak masyarakat untuk tidak hanya pandai mensyukuri sumber daya alam yang dianugerahkan Tuhan, melainkan juga mampu menjaganya. Beliau mengatakan a.l.: “Kerusakan alam yang terjadi karena kelalaian manusia, seperti membabat hutan, merusak terumbu karang, mencemari laut, dan menambang serampangan, akan membawa bencana dahsyat.”  Beliau pun mengajak masyarakat untuk bersama menghemat air, listrik dan bahan bakar minyak. Kemudian beliau berkata: “Ini semua untuk menyelamatkan bumi kita, dunia kita, lingkungan kita, dan sumber daya kita. Mari mulai babak baru sebagai bangsa yang mampu mendayagunakan dengan baik.” Presiden Yudhoyono juga mengingatkan bahwa lingkungan hidup tidak hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga wajib dipelihara. Beliau mengatakan bahwa kerusakan alam sebagian besar karena kelalaian manusia. Jika tidak mampu memelihara lingkungan, kita akan menjadi generasi berdosa dan disalahkan karena mewariskan lingkungan hidup yang rusak dan tidak terpelihara.  Ucapan seorang presiden seperti ini sungguh melegakan hati, apalagi kalau sungguh disusul nantinya dengan perbuatan nyata sampai ke tingkat para pelaksana, jadi bukan sekedar lip-service dalam sebuah “kata sambutan”  seorang penggede pemerintah. Di sisi lain, kata sambutan yang begitu lugas menyiratkan bahwa memang kita di Indonesia menghadapi masalah lingkungan hidup yang sangat serius.

Tanggapan orang-orang Kristiani terhadap tantangan masalah lingkungan hidup

Menyambung apa yang telah dikatakan di atas, orang-orang Kristiani, seperti juga penganut agama/kepercayaan lain mulai menekuni bidang lingkungan hidup secara agak terlambat, yakni pada waktu kerusakan ekologis serius telah terjadi. Syukurlah sekarang banyak orang Kristiani telah bergabung dengan orang-orang lain di seluruh dunia dalam membela bumi dan seisinya. Di banyak tempat komunitas-komunitas Kristiani telah menyerukan suara profetis, bahkan ketika harus menghadapi pelbagai tentangan dan tekanan dari pihak pemerintah setempat. Namun, tanpa mengecilkan segala hal yang telah dicapai, masih banyak pekerjaan rumah kita sebagai umat Kristiani yang peka dan tanggap terhadap tantangan masalah lingkungan hidup. Apa saja? Pertama-tama adalah tindakan-tindakan konkrit, pengembangan teologi dan spiritualitas lingkungan hidup yang bersifat responsif, diskusi-diskusi antara para teolog dengan para ilmuwan, suatu perubahan radikal dalam memandang bumi (dunia) dan gaya hidup yang mau dijalani, discretio atau discernment  dan doa. Semua ini sungguh akan menolong kita dalam “menanggapi tanda-tanda  jaman” yang kita hadapi dalam kehidupan riil sehari-hari di dunia.

Beberapa catatan tentang pemikiran teologis alkitabiah  dan spiritualitas yang menyangkut lingkungan hidup

Umat Kristiani tentunya tidak diharapkan sekedar menjadi penonton atau paling banter berperan sebagai “cheerleaders” dalam gerakan pembelaan dan pemulihan lingkungan hidup, tetapi harus sungguh terlibat di mana-mana. Namun untuk terlibat secara aktif di garis depan umat Kristiani memerlukan pemikiran teologis sebagai pegangan dasar tindakan mereka; demikian pula suatu spiritualitas yang memadai guna menopang kegiatan perjuangan yang tidak mudah dan kompleks ini. Lawan kita tidak hanya para perusak lingkungan hidup, tetapi juga para pembela lingkungan hidup yang menjagoi “sekularisasi radikal” seperti filsuf Inggris yang bernama John Passmore.[4]  Kalau berbicara mengenai teologi atau spritualitas, saya akan langsung mau mengajak semua untuk kembali kepada Kitab Suci sebagai sumber utama.

Kita harus mengakui bahwa ada perbedaan pandangan (kalau bukannya kontroversi) di antara para pakar mengenai tradisi alkitabiah yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Bagaimana kita dapat menjelaskan masalah-masalah lingkungan hidup yang ada dalam negara-negara yang dapat dikatakan Kristiani? Susah juga! Apakah sampai sekarang umat Kristiani secara konsisten taat pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci? Kita semua sudah tahu jawabnya. Dapatkah umat Kristiani yang sungguh prihatin pada jaman ini melakukan discernment atas pelbagai nilai yang dirasakan sebagai anti atau kontra-lingkungan hidup, agar dapat membantu kita semua mengalami kembali alam ciptaan dan diri kita sendiri? Akankah manusia – yang diciptakan untuk kebebasan dan cinta kasih – mendapatkan kekuatan untuk menemukan kembali pelbagai wawasan alkitabiah dan kemudian menerapkan semua itu? Ada banyak pertanyaan lain yang harus mampu dijawab.

Seorang teolog (imam praja dari Australia) yang bernama Denis Edwards datang dengan suatu eko-teologi yang memanfaatkan sastra kebijaksanaan dan pemikiran-pemikiran kontemporer tentang penciptaan. [5] Ada pula seorang eko-teolog dan profesor yang bernama Jay B. McDaniel yang dalam bukunya dia mengajak pembaca untuk mengalami, baik “rahmat hijau” yang datang karena kita membuka diri terhadap irama-irama kosmos maupun “rahmat merah” yang dilambangkan dalam penyaliban Kristus – keduanya vital bagi suatu spiritualitas dan praxis ekologis Kristiani.[6] 

Seorang profesor teologi perempuan, Sallie McFague menyelidiki pelbagai krisis ekologis dan nuklir dan coba melihat sampai di mana semua itu membantu kita memahami Allah dan diri kita sendiri. Dalam bukunya,[7] dia menolak perspektif jaman Pencerahan yang memisahkan Allah dan manusia, Allah dan alam semesta. Pemahaman Allah terpisah dari dunia membantu orang-orang Kristiani jaman itu memandang diri mereka sendiri sebagai terpisah dari apa saja. Jadi dunia tersedia bagi umat manusia untuk diperlakukan seturut kemauan manusia. Di sini Allah hanya memandang dengan ramah dari kejauhan. Gambaran-gambaran Allah yang tradisional, misalnya sebagai raja dan seorang ayah  tidak banyak membantu mengubah perspektif di atas. Apabila Allah adalah seorang raja dan orang-orang Kristiani adalah subyek-Nya, maka mereka pun dapat memerintah orang-orang lain dan alam semesta, seperti yang dilakukan Allah. Sallie McFague mengatakan bahwa pandangan-pandangan seperti itu merupakan suatu ancaman dewasa ini. Menurut dia, orang-orang Kristiani mempunyai kesempatan untuk berpikir kembali tentang bagaimana mereka melihat Allah. Menurutnya bumi harus dipandang sebagai tubuh Allah dan Allah yang bertindak dalam dunia harus dipandang sebagai seorang ibu, pencinta dan sahabat.

Ada pula Loren Wilkinson[8] yang fokusnya adalah bagaimana manusia harus menjadi stewards (pengurus) bumi. Tentang ini catatan kuliah dari Pater Martin sudah lengkap sekali. Pemikiran Thomas Berry yang dikenal sebagai seorang “nabi di padang gurun” saya tidak masukkan – meski secara singkat – karena pandangannya agak kontroversial.

Karena keterbatasan  waktu dan batas jumlah halaman yang diperkenankan dalam penulisan ini, maka dalam kesempatan ini akan disoroti secara agak mendetil pandangan dari seorang pakar saja, yakni Shannon Jung yang mengajak kita untuk melihat bumi sebagai “rumah” Allah, kita manusia dan segala ciptaan lain. Semoga dengan demikian tujuan penulisan ini sebagai sebuah “catatan tambahan” dari yang sudah ada dalam diktat Pater Martin Harun, OFM dapat tercapai.

Dunia (bumi) sebagai rumah

Kitab Suci banyak berbicara mengenai dunia ini, begitu banyaknya sehingga kita tak akan dapat mengkompresnya sekedar menjadi satu gambaran atau metafora saja. Salah satu gambaran tentang dunia/bumi adalah sebagai rumah. Untuk mengatakan bahwa bumi ini adalah rumah kita ini bertentangan dengan banyak sikap negatif pihak-pihak tertentu yang berakibat pada situasi lingkungan hidup yang tidak baik dewasa ini. Lagipula gambaran bumi sebagai rumah ini bertentangan juga dengan banyak konsepsi Kristiani yang populer. Sebaliknya Shannon Jung[9] berpendapat bahwa gambaran bumi sebagai rumah justru merupakan suatu cara yang berbuah guna mengungkapkan banyak tema dan pandangan Kristiani. Menurut Jung kita dapat memahami bumi sebagai rumah Allah dalam terang penafsiran-penafsiran ekologis dari dua keprihatinan alkitabiah yang utama, yakni penebusan dan penciptaan.

Penebusan. Betapa seringnya kita mendengar ayat-ayat terkenal ini: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:16-17). Ketika kita membaca atau mendengar dua ayat ini, barangkali yang kita pikirkan adalah dunia yang dikasihi dan diselamatkan oleh Allah hanya manusia saja. Kita berpikir bahwa penebusan Kristus hanyalah berlaku bagi manusia.

Dalam Perjanjian Pertama (Lama) seperti juga dalam Perjanjian Baru, Allah dipresentasikan sebagai Dia yang memperbaharui seluruh tatanan ciptaan. Ketika Yeremia bertanya “Berapa lama lagi negeri ini menjadi kering, dan rumput di segenap padang menjadi layu” (12:4), dia sebenarnya  bertanya tentang bumi secara keseluruhan. Baca juga apa yang dikatakan Yesaya: “Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit” (24:4-6).  “Sebab itu negeri ini akan berkabung, dan seluruh penduduknya akan merana; juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, bahkan ikan-ikan di laut akan mati lenyap” (Hos 4:3).  Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri!” (Yes 5:8). Jawaban yang datang adalah tanggapan dari YHWH yang penuh kerahiman terhadap perusakan bumi dan restorasi umat manusia. Janji-Nya adalah bahwa Allah akan memperbaharui bumi (Mzm 104:30). Melalui serangkaian perjanjian yang dibuat-Nya dengan umat-Nya, Allah mengungkapkan niat-Nya untuk menebus kosmos. Dalam hal ini perjanjian dengan Nuh terutama terasa mengharukan, karena para mitra dalam perjanjian tersebut adalah Allah, Nuh dan keluarganya serta “segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi” (Kej 9:10). Perjanjian dengan bumi ini (Kej 9:13) menggarisbawahi cinta kasih Allah dan perhatian-Nya bagi rumah-Nya (Lihat juga Hos 2:18-22, Yes 62:4, 55:12 dan 65:17).

Berdasarkan janji-janji Allah dalam perjanjian-Nya yang kesemuanya mengungkapkan perhatian-Nya yang sungguh luarbiasa, maka Perjanjian Baru menggambarkan Yesus Kristus sebagai Sang Pendamai (Juru Damai). Damai yang dicapai oleh Yesus Kristus terus meluas kepada segenap ciptaan. “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu ……” (Kol 1:19-20).

Sebagaimana digambarkan oleh Santo Paulus, keseluruhan ciptaan menanti dengan penuh hasrat transformasinya secara penuh à “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia,  yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah” (Rm 8:19-21). Kita dan bumi ini telah masuk ke dalam pembaharuan yang dicapai oleh Yesus Kristus. Bumi (dunia) sendiri merupakan obyek penebusan Allah, seperti juga umat manusia.

Ciptaan.  Keyakinan bahwa bumi juga merupakan obyek penebusan Allah lewat kedatangan Tuhan Yesus Kristus akan membawa kepada kita pada pandangan yang berbeda mengenai kisah alkitabiah tentang penciptaan. Dengan mata iman yang baru kita sekarang mampu memandang penciptaan sebagai proses berkesinambungan yang berkaitan dengan penebusan, tidak lagi sekedar sebagai suatu fait accompli statis yang “diselesaikan” dalam dua bab pertama Kitab Kejadian.

Kaitan antara penciptaan dan penebusan itu jelas terasa dalam “madah bagi ciptaan” dalam Kol 1:15 dsj., khususnya 1:15-16. Di sini Yesus Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan ……” (Kol 1:15-16). Ide-nya di sini adalah bahwa Yesus Kristus ada bersama Allah sang Pencipta pada waktu penciptaan. Alkitab menyatakan bahwa Roh Allah juga hadir pada saat itu, “melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2).

Penekanan pada penciptaan dan topangan yang berkesinambungan dari Allah membuka pintu bagi suatu konsepsi tentang Allah yang dinamis dan rasa bahwa kita  semua dapat menjadi bagian dari penciptaan yang berkesinambungan. Mazmur-mazmur dan Ayb 38-39 menyampaikan satu aspek dari hal ini, yakni betapa ciptaan terus-menerus menyenangkan sekali hati Allah. Allah sangat senang akan makhluk-makhluk di lautan, kambing gunung dan bahkan angin puyuh sekali pun.

Kita harus mengakui kebaikan dari ciptaan karena dalam Alkitab, Allah sendiri mengatakan demikian. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31).  Bagaimana dengan Yesus sendiri? Baca saja perumpamaan-perumpamaan-Nya dan obyek-obyek dan gambaran-gambaran alamiah yang digunakan-Nya dalam perumpamaan-perumpamaan itu. Di sana kita dapat melihat betapa ciptaan menyenangkan hati Yesus dan Ia sungguh merasa bumi sebagai rumah-Nya. Dapatkah kita mengatakan bahwa keberadaan Yesus dalam rumah, keberadaan-Nya sebagai sungguh manusia, merupakan bagian dari pewahyuan ilahi? Suatu pewahyuan bahwa Allah merasa berada di rumah di atas bumi ini? Atas dasar apakah seseorang dapat mengambil keputusan untuk menyisihkan afeksi Allah akan bumi ini sebagai bukan bagian dari pewahyuan ilahi? Kalau kita mengabaikan contoh-contoh afeksi Yesus termaksud dan lebih menyukai kata-kata yang tertulis dalam Alkitab, maka hal itu hanyalah menunjukkan “selective vision” kita.

Sejalan dengan pemikiran di atas, dunia sains dengan banyak cara mengungkapkan suatu keseimbangan ekologis yang diatur secara ilahi dalam lingkungan hidup kita.  Karena orang Kristiani dan Yahudi memandang ciptaan sebagai berasal dari Allah, maka dunia – ketika  ditafsirkan dalam kesalehan – menunjukkan “tanda-tanda kuasa dan kehadiran Allah. Shannon Jung bahkan menambahkan sebuah catatan kaki sebagai berikut: “Saya percaya sepenuhnya  bahwa suatu pembacaan Kitab Suci yang peka terhadap hal-ikhwal bumi akan menghasilkan suatu penafsiran Kitab Suci yang lebih mendalam secara ekologis.”[10] Dalam iman orang-orang Kristiani melihat sains sebagai suatu disiplin teologis untuk menafsirkan bagaimana Allah menata dunia. Lihatlah sastra kebijaksanaan dalam Alkitab yang dengan alasan sama memandang hikmat Allah yang terwujud dalam kaitan dengan alam ciptaan. Beberapa contoh:

1.  “Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun” (Ams 3:19-20).

2.  “…di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” (Ayb 12:10).

3.  “Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan” (1 Raj 4:33).

4.  Mzm 8, 19 104 dan 148.

Beberapa petikan dari Kitab Suci di atas menunjukkan bahwa Allah sangat merasa betah/kerasan tinggal dalam rumah-Nya yang bernama bumi ini. Konsekuensi-konsekuensi mengalir dari pelanggaran-pelanggaran hukum-hukum Allah. Hukum-hukum Allah mencakup baik hukum-hukum moral maupun hukum-hukum alam. Maka peristiwa perusakan ekologis dapat dilihat sebagai pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah dan sains. Sejalan dengan itu pengertian katolik tentang kosmos ‘bersumber dari dan kembali kepada’ Allah, menekankan kedaulatan Allah dan kesinambungan pemeliharaan oleh-Nya.

Gambaran pastoral yang begitu kaya dalam Alkitab menggambarkan suatu umat yang menemukan kegiatan Allah dalam alam ciptaan dan keteraturan-keteraturan dalam alam ciptaan. Yang sering muncul adalah gambaran pastoral yang berbicara mengenai Allah yang penuh perhatian atas bumi. Perhatian-Nya pada burung-burung pipit, burung-burung gagak, dan burung-burung pada umumnya, seperti diingatkan oleh Yesus kepada kita, adalah suatu jaminan bahwa Allah memperhatikan umat manusia dengan lebih lagi (Mat 6:26; Luk 12:6-7.24). Tidak hanya manusia dan burung gagak yang menerima makanan dan keberadaan mereka dari Allah, melainkan juga singa dan binatang-binatang liar lain juga. Beberapa contoh:

  1. “Singa-singa muda mengaum-ngaum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah” (Mzm 104:21).
  2. “Dia yang memberikan roti kepada segala makhluk; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 136:25).
  3. “Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil” (Mzm 147:9).
  4. Ayb 39; Am 3:4 dan banyak lagi.

Secara umum dapat dikatakan bahwa gambaran pastoral yang melibatkan ciptaan banyak sekali, dari teguran nabi Natan kepada Daud (2 Sam 11:1-12:7) sampai kepada  perumpamaan Yesus tentang ‘domba yang hilang’ dan ‘gembala yang baik’ (Mat 18:12-14; Luk 15:3-7; Yoh 10:1-18, 26-28).

Sampai di sini kita tanpa ragu-ragu dapat menyatakan bahwa Allah sungguh berdiam dalam rumah yang kita namakan bumi. Bumi adalah milik Allah, namun dengan cepat harus kita katakan bahwa keberadaan Allah tidaklah dibatasi oleh bumi, artinya bahwa rumah-Nya bukanlah hanya bumi. Kemudian kita pun harus jelas bahwa penyebutan ‘rumah Allah adalah bumi’ bukanlah merupakan sebuah pernyataan komprehensif, karena Allah dapat saja memiliki banyak rumah, a.l. surga bukan? Kita harus menghindar dari segala yang dapat  mendepresiasi Allah. Orang-orang biasanya tidak mengalami kesulitan kalau berbicara mengenai Allah yang aktif dalam sejarah dan budaya, tetapi mengalami kesulitan yang lebih besar dalam memahami Allah yang aktif dalam alam ciptaan dan penciptaan yang berkesinambungan. Namun dalam pemahaman kita  akan Allah yang aktif dalam alam ciptaan dan penciptaan yang berkesinambungan itu kita harus selalu bersikap waspada akan kemungkinan pendepresiasian Allah. Pada saat bersamaan kalau kita memandang bumi sebagai ekologi ilahi, maka hal ini akan mendatangkan kehidupan yang baik dalam Allah. Maka fokus yang bersifat theosentris adalah vital bagi kesejahteraan ciptaan.

Bahaya yang kedua adalah eksklusivisme – pengertian bahwa penghuni rumah hanyalah terdiri dari manusia belaka. Barangkali, bahkan (lebih jelek lagi) hanya terdiri dari manusia yang sama, menyerupai atau mirip-mirip sama dengan diri kita dalam hal ras, tingkat pendapatan, gender, ethnisitas, latar belakang pendidikan atau kebersihan. Penggunaan metafora “rumah” bagi bumi dapat menjurus menjadi anthroposentris, atau bahkan ethnosentris. Umat manusia menjadi satu-satunya spesies. Barangkali hal ini disebabkan oleh kecenderungan melakukan individualisasi dan spiritualisasi budaya di dunia barat atau kedosaan manusia yang semakin pekat. Jadi, ada bahaya nyata bahwa bumi ini adalah “rumah bagi kita saja, manusia.” Kita lupa bahwa bumi ini juga adalah rumah Allah. Nah, metafora bumi sebagai rumah Allah mencoba untuk mendesak keluar anthroposentrisme, rasisme dan/atau pelbagai reduksi yang bersifat ekslusivisme itu. Seandainya yang baik hanyalah baik bagi orang-orang dengan tingkat pendapatan tertentu, hanya baik bagi orang yang berkulit putih atau hitam dll., maka bumi pun tidak lagi menjadi rumah bagi Allah dan bagi kita semua. Jung mengatakan bahwa “the earth is really our corporate home.” [11]

Rumah manusia. Suatu perspektif yang bersifat theosentris akan membawa kita kepada gambaran alkitabiah bumi sebagai rumah Allah. Sekarang kita akan melihat aspek “bumi sebagai rumah bagi manusia.”   Untuk itu, baiklah kita membahas beberapa unsur dari “rumah” dan kemudian bertanya bagaimana Alkitab mempresentasikan bumi sebagai rumah. Dari awal baiklah kita catat bahwa Alkitab akan membantu perkembangan pemahaman kita tentang rumah dengan cara-cara yang konsisten dengan pelbagai konsepsi popular, namun sekaligus mengajak kita untuk pergi lebih jauh lagi, artinya melampaui konsepsi-konsepsi popular yang sudah ada.

Fitur yang paling penting dari sebuah rumah adalah sebagai “tempat kita”, sebuah tempat di mana identitas kita dapat secara paling penuh terekspresikan. Rumah adalah tempat di mana kita sungguh menjadi diri kita sendiri. Kita sangat menghargai rumah kita melampaui nilainya dalam uang karena rumah adalah sebuah bagian penting dari diri kita masing-masing. Dalam rumah terdapat serangkaian hubungan atau relasi. Metafora koneksional ini kita butuhkan untuk menyembuhkan pandangan tentang hidup kita yang terpecah-pecah. Kecenderungan untuk mengidentifikasikan Allah dengan sejarah dan budaya lebih rentan terhadap nasionalisme dan rasisme daripada konsepsi Allah yang terlibat dalam alam dan ciptaan. Satu relasi yang membentuk identitas kita adalah relasi kita dengan Allah.

Alkitab berulang-ulang memberikan gambaran bagaimana Allah masuk ke dalam suatu relasi dengan umat manusia. Kita akan memusatkan perhatian kita pada satu tradisi yang menekankan bagaimana Allah masuk ke dalam suatu relasi melalui bumi – tradisi berkat atau tradisi anugerah. Tradisi ini menekankan cara-cara Allah yang terus-menerus memberkati umat manusia; dulu, sekarang dan di masa depan. Dalam penekanannya atas struktur kehidupan rutin yang normal dan dalam kesinambungannya dengan dengan tema-tema penciptaan dan penebusan. Tradisi ini menghargai cara berganda yang dilakukan Allah melalui alam ciptaan dan penciptaan yang terus-menerus setiap hari. Akan tetapi tradisi ini tidak tergolong dalam aliran dominan tafsir alkitabiah.

Aliran dominan dalam abad ke-20 adalah “Heilsgeschichte” atau mashab “sejarah keselamatan” yang menyoroti tindakan-tindakan penuh kuasa dari Allah dalam menyelamatkan dan memelihara sebuah umat pilihan. Dengan demikian aliran ini menekankan serangkaian perjanjian yang dibuat antara Allah dan umat Ibrani, serta ‘lingkaran dosa-keselamatan’ dari sejarah. Mashab ini diasosiasikan dengan sejumlah pakar Kitab Suci, teristimewa Gerhard von Rad dan George Ernest Wright. Mashab ini memahami Kitab Suci pertama-tama sebagai serangkaian perjanjian dan tindakan Allah. Meskipun isi ajaran ini dapat berbeda dari seorang penafsir ke penafsir lain, semua mereka yang menekankan motif alkitabiah dari ‘perjanjian, pembebasan dan keluaran’ menekankan Allah yang bertindak dalam ‘sejarah’ dan ‘budaya’. Yang diperlukan untuk membuat ajaran ini menjadi lengkap adalah suatu tafsir yang mencakup juga alam dan ciptaan – yaitu tradisi berkat atau anugerah yang disebutkan di atas.

Claus Westermann menggambarkan berkat dalam pengertian proses pertumbuhan, pematangan dan pemudaran yang bersifat gradual. Dalam bukunya dia mengatakan “Perjanjian Lama tidak hanya melaporkan serangkaian peristiwa yang terdiri dari tindakan-tindakan agung Allah. Interval-intervalnya juga merupakan bagian daripadanya.” [12]  Tradisi Ulangan perihal berkat/anugerah tanah dan berkat yang menyertai tanah adalah bagian dari tradisi berkat ini. Janji akan tanah, upaya umat dan fitur-fitur yang berlangsung lama secara teratur merupakan batuan dasar dari kehidupan kita. Semua itu adalah fitur-fitur latar belakang yang memampukan segala kehidupan. Semua itu memberikan kepada kita begitu banyak dukungan sehingga kita mengambil sikap ‘take for granted’ akan tersedianya semuanya itu, sampai datangnya ancaman atas anugerah-anugerah Allah berupa bumi, udara dan air. Kebaikan penjelmaan (Sabda menjadi daging) memperkuat keyakinan bahwa kita manusia sungguh diberkati oleh Yesus Kristus dan bumi di mana kita tinggal.

Salah satu implikasi dari tradisi berkat adalah bahwa Allah mengatur/merancang ciptaan begitu rupa sehingga hidup kita berkembang dalam rumah Allah. Bumi adalah rumah bagi manusia karena Allah merancang dunia agar dapat menjadi tempat kita.

Unsur lainnya adalah syering. Bumi adalah sebuah rumah yang kita syeringkan bersama. Kita berbicara mengenai rumah sebagai sebuah tempat tinggal yang melibatkan kita secara emosional  karena relasi-relasi yang terjadi dalam rumah itu – saat berbahagia yang kita alami, orang-orang yang kita temui, peristiwa-peristiwa yang kita alami bersama orang-orang lain. Pertama-tama hal ini menyangkut orang-orang, tetapi ada juga syering kita dengan hewan peliharaan, bunga-bunga di taman dll. Relasi-relasi yang kita syeringkan memberikan warna tersendiri pada rumah kita. Kita menghargai tempat itu karena peristiwa-peristiwa yang alami bersama orang-orang lain di sana. Pada titik tertentu tempat dan relasi berbaur; memikirkan yang satu akan mengingatkan kepada yang lain juga.

Pelbagai sub-budaya dan tradisinya di Indonesia – seperti juga di banyak tempat lain di bumi ini – menunjukkan gambaran tentang rumah yang disyeringkan bersama.[13]  Perintah Allah yang kedua mengharuskan kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (Mat 22:39; Mat 19:19; Im 19:18). Dari permenungan sepanjang Alkitab jelaslah bagi kita bahwa kita masing-masing tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Ingat apa yang dikatakan oleh Yesaya: “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri!” (Yes 5:8) à Tinggal sendiri adalah penghukuman Allah atas orang serakah seperti itu. Kenyataan bahwa kita syering bumi ini dengan orang-orang lain terasa begitu sentralnya dalam gambaran alkitabiah sehingga kelihatannya menjadi bersifat aksiomatik.

Yang juga sentral tapi sering kurang disadari adalah kenyataan bahwa kita juga syering bumi dengan banyak makhluk ciptaan lain. Dua kisah penciptaan menceritakan kepada kita bahwa manusia harus syering bumi ini (Kej 1:28, 2:15). Hukum/perintah-perintah Allah (Yesus) penuh dengan acuan kepada  hewan-hewan peliharaan dan bagaimana hewan-hewan itu harus diperlakukan (Ul 25:4; 1 Kor 9:9-10; Kel 20:17; Mat 12:11; Luk 14:5). Tanah juga disyeringkan – tanah mempunyai nilai independen yang harus kita hormati (Im 25:1-7).

Di samping sebagai tempat yang disyeringkan bersama, rumah juga adalah tempat untuk memperhatikan satu sama lain (caring). Rumah adalah tempat berteduh, tempat perlindungan dari segala stres yang disebabkan hidup bermasyarakat. Rumah adalah tempat kita mengisi bensin atau mengisi accu kembali, sebuah tempat di mana kita memperoleh kekuatan kembali dan pembaharuan. Dalam rumah kita saling membentuk, baik secara fisik maupun emosional. Kita tidak mungkin eksis tanpa “care” dari orang lain, juga demikian halnya dengan orang lain. Rumah adalah tempat di mana menciptakan, menciptakan kembali dan penyembuhan dapat terjadi. Paling sedikit ini adalah cita-citanya.

Kitab Suci dengan tegas menyatakan bahwa tidaklah cukup untuk syering bumi ini apabila hal ini sekedar berarti suatu koeksistensi yang dingin dan bersifat legalistik. Hal seperti ini tidak mungkin lagi. Syering kita haruslah mengambil bentuk “caring”, yang menjangkau baik manusia maupun binatang dan segalanya yang hidup. Perintah tahun Yobel dll. (Im 25; Ul 19:14; Ams 23:10-11; Mi 2:1-5) mengkaitkan perhatian atas tanah dengan perhatian (care) pada orang-orang. Istirahat Sabat juga diperluas tidak hanya atas para hamba dan anggota keluarga tetapi juga pada hewan-hewan peliharaan dan orang-orang asing (Kel 20:8-11). Taurat dan kitab para nabi banyak berbicara bagaimana bumi harus disyeringkan dengan orang-orang lain dan diperhatikan. “Care” atas binatang-binatang sekarang digunakan sebagai contoh penggambaran akan hal tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, perhatian atas hewan-hewan peliharaan begitu sering dikedepankan dalam hukum (Kel 23:4-5; Ul 22:1-4; Ul 5:14, Ul 22:10; Ul 25:4; Im 19:19). Apabila hewan-hewan digunakan oleh manusia, maka hewan-hewan tersebut harus digunakan dengan berhati-hati. Apabila hewan-hewan digunakan sebagai korban persembahan atau bahkan dibunuh di luar upacara persembahan korban, maka semua itu harus dilakukan dalam suatu semangat suci penuh rasa hormat (Ul 12:15.21; Kis 10:13; Kis 11:7). George Frear[14]  mengklaim bahwa tahapan awal  dari Kitab Kejadian menggambarkan sebuah dunia yang vegetarian; Allah memberi manusia tumbuh-tumbuhan untuk dimakan. Hanya setelah kejatuhan manusia dalam dosa manusia diizinkan oleh Allah untuk makan daging hewan (Kej 9:2-3). Keprihatinan akan hewan-hewan ini juga  dikomunikasikan melalui gambaran kerajaan yang penuh damai, rumah par excellence, dimana serigala akan tinggal bersama domba dst. (Yes 11:6-9; 65:25).

Rumah adalah tempat terjadinya konflik.  Satu karakteristik lagi dari rumah adalah bahwa rumah itu merupakan salah satu tempat dalam masyarakat kita yang rentan terhadap konflik. Kebutuhan yang berbeda-beda, malah saling bertentangan, dari mereka yang tinggal dalam rumah, juga harapan-harapan kehidupan keluarga yang tak terpenuhi dengan berjalannya kehidupan berkeluarga merupakan contoh-contoh dari hal-hal yang dapat merupakan sumber timbulnya konflik. Konflik tak terkendali dapat bersifat destruktif. Perceraian dapat merupakan salah satu akibatnya yang buruk.

Karena bumi adalah rumah kita, kita dapat berharap untuk menemukan pelbagai macam dosa dan ketidakadilan di sana yang kita telah ketahui dari kehidupan kita sendiri dalam rumah. Sesungguhnya sifat radikal dosa telah berakar di tanah. Akan tetapi struktur-struktur dari “care” juga melindungi rumah kita dari penurunan ke arah yang lebih buruk.

Kitab Suci tidaklah menutup mata terhadap kehadiran dosa dalam tindakan-tindakan manusia. Dikatakan bahwa: “… tidak ada manusia yang tidak berdosa” (2 Taw 6:36) dan Santo Paulus menulis:”… semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Jelas ada suatu konflik yang bersifat inheren antara motif-motif serta hasrat-hasrat manusiawi kita dan motif-motif serta hasrat-hasrat dari Allah (lihat Yak 4:4). Pencobaan Iblis atas diri Yesus di padang gurun (Mat 4:1-11) adalah contoh jelas dari konflik sedemikian. Disebutnya Iblis hampir selalu merupakan suatu signal adanya konflik ini (Yoh 6:70; Ef 4:27; Ibr 2:14; 1 Ptr 5:8; Why 12:9).

Guna membantu kita melawan kejahatan dan kedosaan, Allah memberikan hukum-Nya (peraturan-Nya/ketetapan-ketetapan-Nya) untuk memimpin umat ke dalam jalan-jalan kebenaran dan keadilan. Semua hukum (peraturan) yang disebutkan berikut ini menunjuk kepada jalan keadilan:

  1. Hukum-hukum yang berkenaan dengan ganti rugi yang menyangkut hewan di bidang agro (Kel 21:28-22:15);
  2. Hukum-hukum yang berkaitan dengan pengumpulan sedikit-sedikit atas hasil di bidang agro (Ul 23:24-25, 24:21-22);
  3. Hukum-hukum ekologis lainnya (Kel 23:4-25; Im 19:19; Ul 20:19-20, 22:6-7).

Lingkaran janji akan tanah, realisasi janji, lalu pelanggaran atas hukum/peraturan, pembuangan dan restorasi tanah terjadi beberapa kali dalam sejarah Perjanjian Lama. Maka YHWH dalam Kitab Imamat dan Kitab Ulangan berjanji, “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya…” (Im 26:3-4 dsj.; lihat juga Ul 8). Akan tetapi pada waktu umat melanggar hukum-hukum ini, penghakiman Allah datang dengan cepat namun pada saat yang sama penghakiman tersebut penuh dengan kerahiman-Nya. Dalam satu bacaan yang hidup, YHWH bersabda mengenai umat Israel: “Sekarangpun mereka terus berdosa, dan membuat baginya patung tuangan dari perak dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka; semuanya itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah korban kepadanya!, kata mereka. Baiklah manusia mencium anak-anak lembu! Sebab itu mereka akan seperti kabut pagi atau seperti embun yang hilang pagi-pagi benar, seperti debu jerami yang diterbangkan badai dari tempat pengirikan atau seperti asap dari tingkap. Tetapi Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku. Akulah yang mengenal engkau di padang gurun, di tanah yang gersang. Ketika mereka makan rumput, maka mereka kenyang; setelah mereka kenyang, maka hati mereka meninggi; itulah sebabnya mereka melupakan Aku. Maka Aku menjadi seperti singa bagi mereka, seperti macan tutul Aku mengintip-intip di pinggir jalan. Aku mau mendatangi mereka seperti beruang yang kehilangan anak …”  (Hos 13:2-8 dsj).

Dalam Hosea 14 YHWH menawarkan restorasi: “Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon”  (Hos 14:6-8).

Tanah yang telah dirusak secara semena-mena, seperti juga manusia yang telah jatuh dalam dosa, masih dapat berharap akan datangnya pembebasan, karena ada tertulis dalam Kitab Suci: “Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air. Ditempatkan-Nya di sana orang-orang lapar, dan mereka mendirikan kota tempat kediaman; mereka menabur di ladang-ladang dan membuat kebun-kebun anggur, yang mengeluarkan buah-buahan sebagai hasil. Diberkati-Nya mereka sehingga mereka bertambah banyak dengan sangat, dan hewan-hewan mereka tidak dibuat-Nya berkurang” (Mzm 107:35-38).

Nada dari Mazmur 107 ini, teristimewa ayat 40a, “Ditumpahkan-Nya kehinaan ke atas orang-orang terkemuka”  dan ayat 41a, “tetapi orang miskin dibentengi-Nya terhadap penindasan” , mengingatkan kita pada beberapa ayat dalam Kidung Maria (Magnificat): “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”  (Luk 1:52-53).

Rumah kita (bumi) memberikan bukti-bukti kedosaan dan ketidakadilan manusia. Akan tetapi bumi juga memanifestasikan kemungkinan terwujudnya keadilan dan kebenaran. Umat manusia dapat dengan tidak pekanya menyalahgunakan rumahnya untuk kepentingan pribadi, keuntungan pribadi, atau menggunakannya sesuai dengan rencana Allah atas tanah itu.

Peran rahmat.  Peran rahmat Allah adalah riil. Sebagai pengada yang diberikan kehendak bebas, manusia mempunyai kesempatan untuk membuka diri terhadap rahmat Allah atau menolaknya. Kemungkinan dosa dan penyalahgunaan juga riil. Dengan demikian dapat terjadi “tabrakan” dengan rahmat tersebut. Akan tetapi pada akhirnya kita tahu akan adanya suatu “langit yang baru dan bumi yang baru” (Why 21:1), Allah akan merestorasi ciptaan dan kesatuan kosmik yang disebut syalom, damai dari Allah.

Bumi adalah rumah bagi hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, air dan tanah. Karena begitu sering kita memandang bumi sebagai sesuatu yang tidak berhubungan dengan kita, maka di atas tadi ditekankan bagian dari tradisi Kristiani yang meneguhkan bahwa bumi memanglah rumah bagi manusia. Bumi juga adalah rumah Allah. Hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, sungai-sungai dan tanah mempunyai arti bagi Allah secara independen dari nilai itu semua bagi manusia.

Catatan penutup

Permenungan bacaan alkitabiah mengajar kepada kita untuk menghargai tanah dan hewan-hewan. Contoh-contoh yang diberikan a.l. oleh Santo Fransiskus dari Assisi juga meneguhkan bahwa bumi ini adalah rumah bagi segala makhluk, besar maupun kecil. Bumi adalah rumah bagi tumbuh-tumbuhan, batu karang, bagi sungai dan danau serta lautan, juga bagi tanah yang penuh dengan kehidupan. Semua ciptaan Allah ini mempunyai nilai dalam diri mereka masing-masing dan juga dalam relasi. Kita eksis bagi diri sendiri dan juga dalam relasi. Kita manusia adalah bagian dari rumah ini. Kita adalah bagian dari bumi. Kita adalah bagian dari alam. Kita bukan berada dalam rumah, tetapi kita adalah rumah itu sendiri.

Cilandak, 9 Juni 2005.

F.X. Tiardja Indrapradja (Siswa no. 1148.9)

Catatan: Hari ini, 5 Juni 2010, adalah WORLD ENVIRONMENT DAY yang serupa dengan EARTH DAY tanggal 22 April. Ini adalah alasan melakukan posting tulisan ini pada hari ini.


*) Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan penyelesaian mata kuliah di Extension Course Teologi STF Driyarkara untuk semester  genap 2004-2005 dengan judul “Gaudium et Spes – Iman yang Menghormati dan Menguduskan Dunia.”

[1] Catatan kuliah Romo Ismartono, SJ tanggal 19 Mei 2005.

[2] Catatan dari kuliah Romo Franz Magnis Suseno, SJ beberapa tahun yang lalu.

[3] KOMPAS, Selasa, 7 Juni 2005, hal 1 dan 11.

[4]  John Passmore a.l. mengatakan bahwa dia meragukan apakah teologi Kristiani akan pernah mampu membentuk kembali dirinya dalam cara yang secara ekologis dapat menolong, tanpa menjadi tidak Kristiani. Menurut dia satu-satunya alternatif yang sehat adalah suatu sekularisme radikal. Uraian lebih mendetil terdapat dalam John F. Haught, “The Promise of Nature,”  New York: Paulist Press, 1993, hal. 89.

[5]  Denis Edwards, “JESUS the Wisdom of GOD,” New York:  Orbis Books, 1995.

[6] Jay B. McDaniel, “WITH ROOTS AND WINGS –Christianity in an Age of Ecology and Dialogue,”  New York:1995.

[7]  Sallie McFague, “Models of God: Theology for an Ecological, Nuclear Age,”  New York: Orbis Books, 1993.

[8]  Loren Wilkinson, “Earthkeeping: Christian Stewardship of Natural Resources,”  Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1980.

[9] “We are Home – A Spirituality of the Environment,” New York: Paulist Press, 1993.

[10] Shannon Jung, hal. 146.

[11] Shannon Jung, hal. 61.

[12] Claus Westermann, “Elements of Old Testament Theology” , Atlanta, GA: John Knox Press, 1982, hal. 103.

[13] Misalnya yang menyangkut diri saya sendiri: Pada waktu baru menikah saya belum mampu mempunyai rumah sendiri, oleh karena itu saya tinggal bersama keluarga mertua saya di rumah dinas sebuah perusahaan negara untuk kurang lebih dua tahun lamanya, sampai saat saya mampu mengontrak sebuah rumah kecil. Rumah keluarga saya sekarang juga merupakan tempat yang digunakan secara tetap oleh teman dan/atau anggota keluarga para pembantu saya dari “Jawa” untuk ‘nginap-transit’ sementara mencari pekerjaan di Jakarta.

[14]  George L. Frear, Jr., “Biblical Stimulus for Ethical Reflection”  dalam Jay McDaniel & Charles Pinches, “Good News forAnimals?” , New York: Orbis Books tanpa tahun, dipetik dari buku Shannon Jung.