GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA  *)

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:13-16).

GARAM BUMI – GARAM DUNIA

Seorang penulis/sejarawan Romawi kuno bernama Pliny (the Elder) mencoba untuk mengemukakan betapa pentingnya peranan yang dimainkan oleh garam dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dia  berkata: “Nihil est utilius sale et sole”, artinya tidak ada yang lebih berguna daripada garam dan matahari. Dia juga mengatakan bahwa tanpa garam, sebuah kehidupan yang sungguh beradab tidaklah dimungkinkan. Mgr. Arthur Tonne (FM, hal. 30) pernah mengilustrasikan pentingnya garam itu di dunia kuno: banyak jalan di dunia kuno dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan garam. Misalnya Via Salaria di Italia menghubungkan tempat produksi garam di Ostia dan Sabine.

Herodotus berbicara mengenai rute khafilah yang mempersatukan wahah-wahah (oasis) garam di Lybia. Rute perdagangan antara kawasan Aegea dan pantai-pantai selatan Rusia dibuat demi garam. Malah di Abyssinia (Etiopia), Tibet dan juga Roma, dahulu bongkah garam digunakan sebagai alat tukar alias uang. Di antara orang Arab, garam juga digunakan sebagai ikatan-kesetiaan, oleh karena itu ada ‘ungkapan’ mereka, “Ada garam di antara kita.”

Langsung setelah menyerukan sabda – sabda bahagia, Yesus mengatakan kepada para murid, “Kamu adalah garam bumi (garam dunia). Patutlah dicatat di sini, bahwa Yesus tidak mengatakan, “Jadilah kamu garam dunia.”  Ayat-ayat padanannya terdapat juga dalam Luk 14:34 dsj. dan juga dalam Mrk 9:50. Arti umum dari ayat ini adalah bahwa fungsi para murid adalah serupa dengan fungsi-fungsi garam. Akan tetapi apakah yang secara spesifik dimaksudkan oleh Matius? Untuk itu penulis akan mengajak para pembaca, pertama-tama untuk meninjau kehidupan dalam alam Perjanjian Lama dan melihat apa saja yang dikatakan mengenai garam dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama tersebut.

Dari pelbagai tulisan Perjanjian Lama kelihatan bahwa dalam kehidupan orang Yahudi, garam digunakan dengan pelbagai cara guna mencapai banyak tujuan:

 1. Garam adalah kebutuhan dasar manusia. “Kebutuhan pokok untuk hidup manusia ialah: air, api, besi dan garam, terigu dan serta madu, air anggur, minyak dan pakaian.” (Sir 39:26)

2. Sebagai bumbu penyedap (seasoning) agar makanan menjadi lebih enak rasanya. “Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?” (Ayb 6:6)

3. Garam merupakan sebuah bagian penting dalam korban persembahan.  

  • “Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allah-mu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam (Im 2:13). 
  • “Engkau harus membawanya ke hadapan TUHAN dan imam-imam harus menaburkan garam ke atasnya dan mempersembahkannya sebagai korban bakaran bagi TUHAN” (Yeh 43:24).

4. Elisa menggunakan garam untuk memurnikan mata air di Yerikho (2Raj 2:19-22). 

5. Abimelekh menaburi kota Menara-Sikhem dengan garam  untuk mendatangkan kutuk agar tanah gersang dan juga kutuk atas kota – setelah membunuh orang-orang (Hak 9:45; bdk Ul 29:22-23; Yer 17:6; Zef 2:9).  

6. Garam sebagai tanda persahabatan permanen: perjanjian garam.  

  • “Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itu suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan TUHAN bagimu serta bagi keturunanmu” (Bil 18:19). 
  • Ketika Raja Abia dari Yehuda berperang dengan Yerobeam, dia berseru di atas gunung Zemaraim: “Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam?” (2Taw 13:5).  

Catatan: Sebuah perjanjian (covenant atau agreement) “ditanda-tangani” oleh ke dua belah pihak dengan mencicipi garam. Kata dalam bahasa Arab untuk ‘garam’ adalah sama dengan “perjanjian” atau “pakta” (treaty) (R.H. Sykes, 1984, hal. 30).

 7. Garam memiliki kualitas untuk menyembuhkan dan membersihkan.  

  • “Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: ‘Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi.’ Jawabnya: ‘Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya.’ Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya. Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: ‘Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.’ Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa” (2Raj 2:19-22). 
  • “Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin” (Yeh 16:4).

 8.  Garam merupakan sebuah gambaran penghakiman. Dalam Kej 19:26 istri Lot dihakimi Allah; dia menjadi tiang garam karena tidak taat pada perintah Allah agar tidak menoleh ke belakang. 

Juga dapat dikatakan bahwa garam adalah bahan pengawet. Garam mengawetkan bahan makanan supaya tidak cepat busuk, misalnya dilaburi pada daging agar tidak cepat rusak (Ingat sayur asin, ikan asin dll.). Di tempat-tempat yang beriklim panas tanpa lemari pendingin, garam masih digunakan seperti ini. 

Orang-orang Semit kuno malah menggunakan garam sebagai pupuk. Dengan demikian ungkapan ‘garam bumi’ cukup alamiah -artinya wajar- apalagi kalau kita memperhatikan  sebuah ayat Injil tentang garam yang sudah menjadi tawar: “Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja.” (Luk 14:35)

Dalam Mat 5:13 soal garam sebagai ‘pupuk’ sudah tidak muncul, sehingga ayat ini sudah kehilangan hubungannya dengan bidang agro. Metafora yang dikemukakan dalam Injil Matius mengacu secara lebih langsung pada realitas para murid; dengan demikian kata bumi menjadi sejajar dengan kata dunia (lihat 5:14), jadi ‘bumi’ bukan lagi berarti tanah yang dapat digarap untuk pertanian, tetapi berarti ‘kemanusiaan yang universal’.

Garam itu bersifat merasuk (penetrating), meresap. Oleh karena itu garam baik untuk menjadi bumbu penyedab dan bahan pengawet seperti diterangkan tadi.

“Kamu adalah garam dunia” (Mat 5:13). Hal ini berarti, bahwa para murid Yesus (siapa pun dia) memainkan peranan penting dalam kemanusiaan. Seperti telah dikatakan tadi bumi bukan lagi diartikan sebagai ‘tanah untuk pertanian’ tetapi kemanusiaan yang bersifat universal.

Tadi telah dikatakan bahwa garam adalah bahan pengawet. Kehadiran murid-murid Kristus di atas bumi adalah untuk menjaga agar masyarakat manusia ini jangan sampai runtuh secara total. Pada saat kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya nanti (parousia), dunia kita yang penuh dengan kedosaan ini akan berantakan, baik dilihat dari sudut moral, spiritual dan politik (bacalah 2Tes 2:5-12). Sekarang umat beriman harus menjalani kehidupan yang utuh, kehidupan yang bersih …… di dalam dunia yang begitu korup. Jadi, kalau Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Kamu adalah garam dunia”, maka yang Ia maksudkan di sini adalah, bahwa para murid harus menghentikan/meng-counter proses pembusukan dunia ini. Dengan apa? ….. Dengan Injil, yakni Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Satu-satunya harapan yang akan menyelamatkan manusia adalah Yesus Kristus, lewat Injil-Nya. Lihat sabda Yesus di awal karya-Nya dalam masyarakat seperti tercatat dalam Injil Markus: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15).

Tadi telah dikatakan, bahwa garam itu mempunyai sifat merasuk. Secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit tetapi pasti, garam merasuki – menyerap ke dalam –  bahan seperti daging, ikan atau sayur yang telah diolesi atau dilabur dengan garam itu. Demikian pula Gereja harus merasuki, menyerap ke tengah-tengah dunia, ke mana-mana menyebarkan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus. Apabila Gereja (artinya kita-kita ini) berhenti memberitakan Kabar Baik itu, maka Gereja berhenti berfungsi sebagai ‘garam dunia’. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Paus Paulus VI: “Gereja ada untuk mewartakan Injil” (Evangelii Nuntiandi, 14).

Tadi juga telah dikatakan bahwa garam itu digunakan juga sebagai bumbu penyedap (seasoning). Kita semua para murid Kristus berfungsi sebagai bumbu penyedap bagi dunia yang sedang mau mati ini. Mengapa? Karena dunia sekarang memang sedang dilanda oleh budaya kematian, budaya maut. Lihat saja acara-acara dan berita-berita di TV dan berita media masa lainnya. Bagaimana caranya kita menjadi bumbu penyedap dalam masyarakat? Dengan membawa pesan yang berisikan harapan. Sungguh dunia ini akan hambar tanpa-rasa dan tanpa-harapan apabila tidak ada yang menggaraminya. Lewat bicara dan hidup kita, kita perkenalkan, kita tanamkan peradaban cinta kasih, sesuai juga dengan anjuran Paus  Yohanes Paulus II. Sungguh bukan omong kosong. Bayangkan sebuah acara, pesta dsb. kalau tidak dihadiri oleh orang yang suka humor, ‘penuh sukacita’ yang akan membuat pesta menjadi ‘hidup’, yang menjiwai pesta itu. Satu persatu orang akan meninggalkan acara itu, karena membosankan.

Sebagai garam, kita para murid Kristus, juga harus membawa angin segar, angin pembaharuan, rasa cinta akan kehidupan dalam apa saja yang kita lakukan dan setiap saat kita bertemu dengan sesama kita. Dalam dunia yang menderita karena penuh kebosanan, keterasingan (alienasi), ketakutan dll., para murid Kristus harus membawa ke tengah-tengah saudara-saudari kita dalam masyarakat, semangat hidup, entusiasme yang penuh, sukacita, kepercayaan akan sesuatu yang baik. Sebagai ‘garam’, seorang murid Kristus tidak bersikap masa bodoh atas pelbagai masalah yang dihadapi oleh sesamanya. Sebaliknya, sebagai ‘garam’ seorang murid Kristus adalah pembawa Kabar Baik. Apapun masalah yang dihadapi “….. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8:28). Mengapa? Karena kita berada di tangan Allah, maka kita semua diciptakan dari cinta kasih-Nya, dengan demikian kita terus-menerus dikelilingi dan ditopang oleh cinta-Nya yang kreatif.

Seluruh hidup kita sebenarnya adalah kisah cinta yang akan berakhir dengan bersatunya kita masing-masing dengan Sang Kekasih dalam sukacita yang kekal-abadi. Seorang murid Kristus yang otentik adalah seseorang yang mempunyai visi seperti ini. Dengan demikian dia dapat menjadi orang yang membuat pesta menjadi hidup, karena Allah adalah hidupnya. Seorang murid Kristus pada dasarnya adalah seseorang yang menarik dan dia membuat orang di sekelilingnya menjadi menarik – ibarat makanan:  menjadi penuh selera dan lezat.

“Jika garam itu menjadi tawar ……” (Mat 5:13). Garam memang dapat menjadi tawar. Apabila garam dibiarkan kena exposed pada atmosfir, cepat atau lambat garam itu akan kehilangan rasa asinnya. Mula-mula kelembaban memasukinya dan kemudian merusaknya. Kalau dicampur dengan air yang cukup banyak, maka garam pun dapat kehilangan rasa asinnya. Garam juga dipakai oleh orang-orang Semit kuno – yang sampai sekarang kadang-kadang masih dilakukan oleh tukang roti Arab – untuk melaburi dasar dari oven: untuk mendorong pembakaran dari bahan bakar yang kurang baik, seperti kotoran unta yang telah dikeringkan. Setelah kurang lebih 15 tahun, daya garam itu sebagai katalisator habislah dan garam itu pun dibuang (Kata Semit untuk oven adalah arca yang juga mempunyai arti ‘bumi’. Maka itu ketika Yesus mengatakan: “Kamu adalah garam bumi”; bisa saja orang menerjemahkannya “Kamu adalah garam oven”; tetapi seperti dikatakan tadi, bahwa ayat ini berpadanan dengan ayat tentang ‘terang dunia’, maka ‘garam oven’ menjadi tidak relevan. ‘Garam yang sudah kehilangan rasa’ itu menjadi sekedar bahan-bahan sisa di bumi dengan sedikit rasa (ada rasa, tapi sedikit saja), karena sodium khlorida-nya sudah tidak ada. Oleh karena itu ada ungkapan orang Persia: “Tidak benar terhadap garam” yang artinya adalah tidak setia, tidak tahu berterima kasih.

Apa bahayanya kalau para murid Kristus kehilangan rasa? Dari luar kelihatan seperti orang beriman, berbicara seperti orang beriman, akan tetapi di dalam mereka sudah mati secara rohani: membusuk dari dalam! Sebagai garam, seorang murid Kristus harus mempunyai garam dalam dirinya. Bagaimana orang dapat kehilangan rasa asinnya itu? Karena dibiarkan kena exposed pada atmosfir yang salah. Kebanyakan exposure dan kompromi dengan dunia menghancurkan ‘rasa’ seorang murid Kristus. Kebanyakan kompromi dengan dunia membuat seorang murid Kristus tidak ada bedanya dengan orang-orang lain dalam dunia. Dia tidak lagi menjadi ‘tanda lawan’ bagi masyarakat di sekitarnya; dia tidak lagi mampu memenuhi fungsinya dalam dunia, artinya tidak akan mampu untuk mengubah atau mentransformasikan dunia. Dalam ayat ini Yesus mengingatkan para murid: (1) untuk tidak mengkompromikan iman-kepercayaan mereka, (2) untuk tidak melakukan dilusi (campur-aduk) kebenaran dengan ketidak-benaran seperti yang dilakukan oleh mereka yang menganut paham liberalisme dalam penghayatan iman kristiani mereka, (3) untuk tidak mengkompromikan perilaku mereka dengan dunia. Karena kalau para murid Kristus mulai melakukan segala macam kompromi ini, maka proses pembusukan akan mulai menjangkiti diri mereka masing-masing.

“Dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13). Ada unsur parabolis dalam teks ini, yang tidak perlu diterapkan secara harfiah pada ‘nasib akhir’ seorang murid Yesus. Ungkapan ‘dibuang’ mempunyai arti ganda. Lihat Mat 13:48 “Perumpamaan tentang jala besar’ dimana diceritakan bahwa ikan yang tidak baik itu dibuang. Lihat juga nas-nas dalam Mat yang berkaitan dengan hukuman kekal. Dengan kekecualian Mat 8:12, semua nas termaksud berbicara mengenai umat manusia berdosa pada umumnya (Mat 13:42). Yang lebih sering adalah mengenai murid-murid Kristus yang tidak setia (Mat 7:19; 13:48,50; 18:8,9; 22:13). Sebenarnya Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk tidak menghianati panggilan mereka sebagai ‘pengawet’ dan ‘bumbu penyedap’, artinya sebagai orang-orang yang memberikan orientasi kepada dunia.

Garam yang kehilangan rasa itu tidak ada gunanya samasekali. It is good for nothing, baik bagi Allah maupun bagi manusia. Garam seperti itu kehilangan kemampuannya untuk menjadi bahan ‘pengawet’, kehilangan kemampuannya untuk ‘merasuki atau meresap’, kehilangan kemampuannya untuk menjadi ‘bumbu penyedap’. Yesus mengatakan bahwa garam seperti itu memang pantas untuk dibuang dan diinjak orang. Yesus tidak berbicara mengenai kehilangan keselamatan di sini. Dengan menarik sekali Yesus melontarkan sebuah pertanyaan: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?”  Jawabannya: “Memang tidak bisa menjadi asin lagi seperti semula.”  Akan tetapi – Puji Tuhan – murid-murid Kristus bisa diperbaiki. Apabila seorang murid Kristus kehilangan rasa asinnya, maka dia berhenti menjadi saksi Kristus yang baik, dia berhenti merasuki atau meresap ke tengah masyarakat, dia berhenti menjadi ‘bumbu penyedap’, dia berhenti menjadi manusia yang berguna dan efektif. Akan tetapi – Puji Tuhan – anda para pembaca dan saya, kita semua murid Kristus – kalau dalam keadaan kehilangan rasa asin itu dapat kembali kepada Allah, kita dapat bertobat dan minta Dia memperbaharui kembali diri kita. Seperti baterai, kita pun dapat di recharged. Kita tidak perlu dibuang dan diinjak-injak. Syaratnya: asal kita mau melakukan pertobatan. Di kalangan orang Yahudi ada adat kebiasaan, apabila seorang  dari mereka ada yang murtad dan kemudian berbalik kembali menjadi pemeluk agama Yahudi, maka sebelum orang itu diterima kembali ke dalam sinagoga dia harus berbaring melintang di depan pintu sinagoga dan mengundang orang untuk menginjaknya ketika memasuki sinagoga. Gereja pernah ‘meminjam’ adat istiadat Yahudi seperti itu. Seorang yang dikucilkan oleh Gereja, sebelum dia diterima kembali ke dalam Gereja harus berbaring di depan pintu Gereja dan mengundang orang-orang yang mau masuk sambil berkata: “Injaklah aku, aku adalah garam yang telah kehilangan rasa (telah menjadi tawar).”

TERANG DUNIA

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat 5:14). Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata: “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Kemudian Yesus bersabda: “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh 9:5). Sekarang dalam Mat 5:14 ini, kita disamakan dengan sang Guru sendiri – artinya para murid juga adalah terang dunia. Ini merupakan pujian paling besar yang diberikan kepada orang kristiani secara pribadi. Betapa tidak? Ketika Yesus menggunakan kata-kata ini, sebenarnya Dia menggunakan sebuah ungkapan yang cukup familiar bagi orang-orang Yahudi yang mendengar kata-kata itu. Orang-orang Yahudi sendiri berbicara tentang Yerusalem sebagai ‘terang bagi orang-orang kafir’ dan seorang Rabi yang terkenal seringkali dipanggil/dijuluki ‘pelita Israel’. Satu hal yang sangat diyakini oleh orang Yahudi, yaitu bahwa terang yang bersinar dari bangsa mereka atau dari seorang hamba Allah (man of God) adalah ‘terang yang dipinjami’. Pinjam dari siapa? Dari Allah. Yerusalem memang ‘terang bagi orang-orang kafir’, tetapi Allah-lah yang menyalakan pelita Israel itu. Demikian pula dengan kita orang-orang Kristiani. Terang kita adalah pencerminan terang Kristus sendiri (dengan demikian syaratnya adalah pemuridan yang baik). Sinar yang memancar dari orang-orang Kristiani datang dari kehadiran Kristus (Roh Kudus/Roh Kristus) dalam diri/hati orang-orang itu.

Terang pertama-tama dan terutama dimaksudkan untuk dapat dilihat. Sebenarnya tidak ada kemuridan yang bersifat rahasia, karena kerahasiaan dapat menghancurkan kemuridan itu atau kemuridan itu menghancurkan kerahasiaan itu. Kekristenan/ Kristianitas seseorang harus secara sempurna kelihatan oleh semua orang. Kemudian, kekristenan ini tidak boleh hanya kelihatan di dalam ruang lingkup Gereja, karena kalau demikian halnya tidak banyak gunanya bagi siapa pun. Kekristenan bahkan harus lebih kelihatan pada kegiatan-kegiatan seseorang dalam tata-dunia. Kekristenan kita haruslah kelihatan pada waktu kita berbicara dengan pegawai rendahan kita, pada waktu kita memesan makanan dan minuman dalam restoran, pada waktu kita berbelanja, dalam hal bahasa yang kita gunakan sehari-hari, dalam hal buku-buku yang kita baca dan lain sebagainya. Seorang Kristiani adalah Kristen di pabrik, di kantor, di ruang sekolah, di dalam ruang bedah, di bengkel, di dapur, di lapangan golf, seperti juga di gereja. Yesus tidak mengatakan “Engkau adalah terang gereja”, tetapi “Engkau adalah terang dunia”. Dan dalam kehidupan seseorang di dunia, kekristenannya harus jelas kelihatan kepada semua orang.

Terang adalah pemandu. Seorang kristiani harus menjadi panutan. Salah satu hal yang diperlukan dunia ini adalah orang yang siap untuk menjadi pusat kebaikan: pemimpin yang baik. Ada banyak orang di dunia yang tidak memiliki kekuatan moral dan keberanian untuk memegang prinsip tertentu kalau tidak ada yang memimpin mereka. Apabila ada seseorang yang cukup kuat untuk dapat diandalkan, maka mereka pun akan melakukan hal yang benar. Adalah tugas orang kristiani untuk menjadi terang yang membimbing orang-orang yang lemah dan kurang berani.

Terang seringkali dapat menjadi ‘terang tanda peringatan’. Peringatan macam apa? Peringatan untuk stop kalau ada bahaya di depan. Kadang-kadang tugas orang kristianilah untuk memperingatkan orang-orang. Suatu tugas yang sulit.

Orang Kristiani adalah terang yang dapat dilihat, terang yang memimpin dan terang yang menjadi tanda peringatan.

“Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah” (Mat 5:15). Perumpamaan tentang pelita yang diletakkan di atas kaki dian juga dapat dibaca dalam Luk 11:33; Mrk 4:21 dan Luk 8:16. Mungkin sekali konstek asli adalah upaya para lawan Yesus untuk mencegah Dia – “sang Terang”, untuk memberitakan Kabar Baik. Tetapi pelita telah dinyalakan dan terang itu bercahaya, bukan untuk ditutupi kembali, tetapi untuk memberi terang kepada semua pihak. Ketiga penulis Injil menggunakan perumpamaan ini untuk konteks yang berbeda-beda.

Injil Matius telah mengkombinasikan perumpamaan tentang pelita ini (Mat 5:15) dengan ‘kota yang terletak di atas gunung (bukit)’ (Mat 5:14b). Mat 5:14b tidak mempunyai paralel dalam Injil sinoptik yang lain, tetapi ada ucapan Yesus yang yang mendekati dalam Oxyrhynchus Papyrus 1:7 = Injil Tomas 32 à Yesus berkata: sebuah kota yang terletak di atas sebuah bukit yang tinggi dan atas sebuah fondasi yang kokoh, tidak dapat direndahkan atau disembunyikan (Hendrickx, hal. 41). Dalam Injil Matius mau dikatakan bahwa ‘terang tidak dapat menjadi bukan terang’, tetapi kekuatannya untuk menerangi dapat diambil dengan menaruh pelita itu di bawah gantang, dengan demikian rumah itu tidak dapat diterangi. Akan tetapi kalau gantang itu dibalik dan dijadikan sebagai kaki dian, maka terang itu dapat berfungsi lagi dalam rumah sederhana orang-orang di Palestina di kala itu yang cuma mempunyai satu ruangan. Terang seperti ini tidak bisa untuk tidak kelihatan, seperti juga sebuah kota yang terletak di atas bukit (Mat 5:14b) tidak bisa untuk tidak kelihatan.

Orang-orang Eseni di Qumran menamakan diri mereka ‘anak-anak terang’, tetapi mereka hidup suci-suci sendiri dalam gua-gua; tidak bedanya dengan pelita yang ditutup dengan gantang. Sebaliknya, para murid Kristus harus membawa terang ke tengah-tengah dunia. Mereka harus menggenapi nubuat Hamba Yahwe yang harus membawa terang ke dunia kepada bangsa-bangsa (Yes 42:6; 49:6). Bagaimana Yesus bisa mengatakan ini dan mengapa penulis Injil Matius mencatatnya, apalagi dia sudah tahu bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat itu? Karena bagi penulis Injil Matius, Yesus Kristus dan Gereja adalah satu tak terpisahkan. Kita harus selalu mengingat, bahwa Gereja adalah Sakramen Kristus ( Lumen Gentium, 1).

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5:16). Pelita yang harus memberi terang pertama-tama adalah sebuah acuan pada ‘melakukan perbuatan yang baik’ (Mat 5:16). Siapa saja yang menolak atau gagal melakukan perbuatan yang baik adalah seperti seseorang yang menyalakan pelita, tetapi kemudian menyembunyikannya di bawah gantang. Akan tetapi mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, hanya akan menjadi terang apabila mereka melakukannya sedemikian rupa sehingga siapa saja yang melihat mereka akan merasa terpimpin untuk memuliakan Allah Bapa. Hal ini bertentangan sekali dengan sikap dari mereka yang tidak berniat untuk berfungsi sebagai terang dunia, tetapi hanya mau bersih-bersih sendiri atau murni-murni sendiri (lihat contoh orang-orang Eseni di atas). Kemuridan selalu tercermin pada fungsinya, yaitu melayani orang lain, melayani dunia manusia. Tanpa pelayanan seperti itu tidak ada kemuridan yang sejati.

Para murid akan membuat terang mereka bercahaya dengan melakukan ‘perbuatan-perbuatan baik’. Istilah ‘perbuatan-perbuatan baik’ ini diambil dari istilah-istilah keagamaan Yudaisme. Berbeda dengan aturan-aturan Hukum yang berjumlah 613 buah itu, ‘perbuatan-perbuatan baik’ mencakup pemberian derma dan pelbagai karya amal lainnya: hospitalitas / keramah-tamahan menerima tamu, menolong orang-orang yang dipenjarakan dlsb. Akan tetapi Matius memperluas pengertian ‘perbuatan-perbuatan baik’ ini. Matius mengartikannya sebagai ‘totalitas tindak-tanduk kristiani’, sebuah cara hidup yang otentik, sebagai kelanjutan dari ‘Khotbah di Bukit’, meskipun kalau dilihat dari konteks langsung, mungkin yang dipikirkannya adalah hidup sebagai saksi. Lagipula di sini Matius tidak berbicara mengenai upah/imbalan, tetapi hanya mengacu pada kemuliaan Allah.

Kemuliaan Allah ini dicapai tidak secara langsung, artinya melalui orang-orang, di depan merekalah perbuatan-perbuatan baik itu dilakukan. Ide yang sama dapat ditemukan baik dalam Perjanjian Lama (lihat Yes 45:14-15) maupun Perjanjian Baru (1Tes 4:12). Akan tetapi satu-satunya ayat paralel yang dekat adalah 1Ptr 2:12 à “Milikilah cara hidup yang baik di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”

Akan tetapi orang tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan baik agar supaya dapat dilihat oleh orang lain (lihat Mat 6:1, 16-18; 23:5, 28). Para murid harus hati-hati terhadap segala segala lagak-lagu yang sok gaya. Mereka harus setia dan Allah akan mengurus kemuliaan-Nya sendiri. Kalau dipahami sedemikian, maka Mat 5:16 tidak bertentangan dengan Mat 6:1-18. Dua nas tersebut berbicara mengenai dua macam masalah yang berbeda. Dalam Mat 5:16 penulis Injil mengingatkan pembaca akan bahayanya kalau terang seseorang itu tersembunyi, sedangkan dalam Mat 6:1-18 penulis Injil berbicara mengenai orang yang mencari kehebatan diri sendiri. Motif-lah yang membuat perbedaan: Kalau terang bercahaya untuk kemuliaan manusia, maka itu berarti soal lagak-lagu yang sok gaya demi kehebatan diri sendiri. Sebaliknya kalau terang bercahaya untuk kemuliaan Bapa surgawi, maka itu adalah kesalehan yang sejati.

Memberikan kemuliaan bagi Bapa surgawi berarti menyatakan keberadaan-Nya yang benar seperti telah dimanifestasikan dalam diri Yesus. Kalau kita tidak pernah melihat ‘perbuatan-perbuatan baik’ Yesus, maka kita tidak akan pernah tahu bahwa kita dapat menyapa atau meng-approach Allah sebagai Abba, Bapa yang tercinta. Sejalan dengan itu, ‘perbuatan-perbuatan baik’ kita, komitmen kita terhadap orang-orang lain, terutama terhadap orang-orang miskin, harus memimpin orang-orang kepada Yesus dan Bapa surgawi. Sepanjang sejarah manusia gambaran Allah telah dikaburkan oleh pelbagai ‘isme’, juga pada zaman kita ini. Satu-satunya harapan yang dimiliki dunia untuk melihat Allah seperti apa adanya Dia, terletak pada kesaksian hidup orang-orang yang mempunyai komitmen penuh sebagai orang kristiani, artinya sebagai murid-murid Kristus. Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa orang-orang miskin seperti disebutkan dalam ‘Sabda-sabda bahagia’ lah yang dinamakan ‘garam bumi’ dan ‘terang dunia’. Dan ….. mempraktekkan ‘Sabda-sabda bahagia’ itu memerlukan keberanian.

“Non-Christians will be converted inasmuch as they will see around them convinced Christians who, without ostentation as without faint-heartedness, will live out their lives as disciples of Jesus in the simple monotomy of daily life. This is their ‘witnessing’. It is the only missionary action which is truly effective in a world which believes more in deeds than in words.” (Guillemette, hal. 158).

DAFTAR PUSTAKA

1.  William Barclay, “The Daily Study Bible: The Gospel of Matthew Volume I”, Edinburgh, Scotland: The Saint Andrew Press, 1975.

2.  DOKUMEN KONSILI VATIKAN II (terjemahan R. Hardawiryana SJ), Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI/Obor, 1993.

3.  Nil Guillemette SJ, “A Kingdom for All”, Makati, Philippines: St. Paul Publications, 1988.

4.  Herman Hendrickx CICM, “The Sermon on the Mount”, Makati, Philippines: St. Paul Publications, 1990.

5.  John P. Meir, “Matthew”, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1990.

6.  Frank Mihalic SVD, “1000 Stories You Can Use – Volume One”, Manila, Philippines: Divine Word Publications, 1989. [FM]

7.  George T. Montague SM, “Companion God – A Cross-Cultural Commentary on the Gospel of Matthew”, New York, NY: Paulist Press, 1989.

8.  Kevin O’Sullivan OFM, “The Sunday Readings Cycle A (1), Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1971.

9.  Paus Paulus VI, Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil), 8 Desember 1975 (terjemahan  J. Hadiwikarta Pr), Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1990.

10. R.H. Sykes, “Matthew – Presenting Jesus the King”, Scarborough, Ontario: Everyday Publications Inc., 1984.


*)  Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk pertama kalinya dalam rangka pertemuan Komunitas Sumur Yakub, Gedung  Karya Pastoral  KAJ, Lantai 3. Hari Sabtu, 10 Juni 2000.

About these ads