KEBUN ANGGUR NABOT (1)

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI, Senin 14-6-10)

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.” Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya YHWH menghindarkan aku daripada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?” Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.” Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu. Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat  itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Seudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.”

Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirmkannya kepada mereka. Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadap Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: “Nabot sudah dilempari sampai mati.” Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.” Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya (1Raj 21:1-16).

Bacaan Injil: Mat 5:38-42.

Ketika raja Ahab mengajukan penawarannya untuk membeli kebun anggur Nabot, Nabot menolaknya, dan berkata, “Kiranya YHWH menghindarkan aku daripada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” (1Raj 21:3). Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, sulitlah untuk memahami penolakan Nabot itu. Nasbot terlihat seperti seseorang yang keras kepala, dan kita pun heran mengapa dia tidak ingin mengambil jalan mudah dengan menjual saja kebun anggur miliknya itu kepada raja Ahab. Suatu kerja sama dengan seorang penguasa kuat, memang baik untuk masa depan, bukan? Bukankah para pemilik rumah di jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat pernah mengalaminya juga? Sudah, juallah, tokh harganya pantas dan nggak usah cari ribut dengan si Babe?

Bagi Nabot dan banyak orang Yahudi yang saleh, tanahnya adalah martabatnya. Tanpa itu, dia hanyalah merupakan seorang yang berada di bawah perwalian sang raja. Pertaliannya dengan nenek moyangnya lah yang penting, karena mereka menerima tanah itu sebagai anugerah dari YHWH: “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (Im 25:23). Dalam karya Yahudi belakangan, misalnya Mishnah bagian tentang bidang pertanian, ditunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang saleh memahami anugerah Allah dalam bentuk tanah hampir-hampir bersifat sakramental.

Ketika Nabot menolak penawarannya,  raja Ahab tidak memaksa terus. Terlihat bahwa Ahab mengerti juga hukum YHWH, hukum yang menghargai martabat manusia dan janji-janji cintakasih perjanjian sebagai balasan terhadap kesetiaan manusia. Jadi, raja Ahab juga menghargai tradisi yang berlaku. Sebaliknyalah dengan Izebel, isterinya yang jahat itu. Izebel adalah puteri Raja Etbaal dari Sidon (1Raj 16:31) dan sudah terbiasa dengan cara-cara keras dari berbagai negara-kota Foenisia. Izebel memandang respek raja Ahab terhadap tradisi sebagai suatu kelemahan. Izebel kemudian merancang suatu plot agar supaya Nabot dapat dibunuh, seperti yang telah dilakukannya atas banyak nabi YHWH (1Raj 18:4). Setelah kematian Nabot, dia memberitahukan Ahab agar mengambil kebun anggur Nabot.

Ada dalil yang berbunyi begini: “Absolute power corrupts absolutely.”  Hal inilah yang dengan baik sekali dicerminkan oleh perilaku pasutri Ahab-Izebel dalam kasus ini. Pasutri ini ini menunjukkan kerakusan yang telah diingatkan nabi Samuel kepada bangsa Israel sekitar dua abad sebelumnya, ketika rakyat menginginkan agar bangsa Israel ini diperintah oleh seorang raja (1Sam 8:4.10-18). Ujung-ujungnya dari sikap dan perilaku rakus-serakah adalah ketidakadilan. Tidak asing lagi bagi telinga kita, bukan? Pada akhirnya YHWH membenarkan keberanian Nabot dan menghukum raja Ahab dan keluarganya.

DOA: Tuhan, anugerahilah kami dengan sikap dan perilaku blak-blakan seperti yang telah ditunjukkan oleh Nabot, yaitu bahwa kami tidak akan begitu saja memenuhi tuntutan yang tidak adil terhadap diri kami, namun kami akan mengambil jalan kebenaran. Semoga kami taat pada hasrat-Mu untuk melakukan kebenaran di atas muka bumi ini. Amin.

Cilandak, 7 Juni 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads