KEBUN ANGGUR NABOT (2)

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI, Selasa 15-6-10)

Tetapi datanglah firman YHWH kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya: “Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman YHWH: “Di tempat anjing telah menjilat darah  Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.”

Kata Ahab kepada Elia: “Sekarang engkau mendapat aku; hai musuhku?” Jawabnya: “Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata YHWH. Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa. Juga mengenai Izebel YHWH telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara.”

Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata YHWH, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau YHWH dari depan orang Israel.

Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. Lalu datanglah firman YHWH kepada Elia, orang Tisbe itu: “Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya, barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya” (1Raj 21:17-29).

Mazmur Tanggapan:  Mzm 51:3-6.11.16; Bacaan Injil: Mat 5:43-48.

Kitab Suci Perjanjian Lama mencatat pengampunan yang diberikan kepada beberapa pendosa kelas kakap yang bertobat. Misalnya, Daud bertobat atas dosa perzinahannya bersama Batsyeba dan tipu dayanya yang jahat untuk membunuh Uria, suami Batsyeba (baca 2Sam 11:1-12:25; Mzm 51), dan dia pun diampuni. Saudara-saudara Yusuf bertobat karena telah menjual diri Yusuf sebagai budak (Kej 50:17). Bahkan raja Manasye yang jahat itu bertobat juga (2Taw 33:12). Raja inilah yang menghidupkan kembali praktek penyembahan berhala di Yerusalem, dan menurut tradisi dialah yang menyebabkan matinya nabi Yesaya dengan memerintahkan algojo untuk menggergaji tubuh sang nabi menjadi dua bagian. Allah mengampuni Manasye ini seperti Dia  mengampuni orang-orang lain yang bertobat dalam kerendahan-hati/kedinaan dan ketulusan hati.

Pengampunan Allah atas diri Ahab untuk pembunuhan Nabot adalah satu contoh lagi bagaimana Allah mengampuni seorang pendosa kelas kakap (kalau kita tidak bisa mengatakan sekelas ikan hiu!). Setelah Nabot mati dibunuh secara brutal, Ahab pergi mengklaim kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu. Elia bertemu dengan Ahab di tempat itu. Di situ Elia berkata: “Beginilah firman YHWH: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu” (1Raj 21:19).

Kita tidak tahu mengapa raja Ahab kali ini mengacuhkan kata-kata yang diucapkan oleh sang nabi, karena hal ini tidak cocok dengan watak pribadinya. Jadi, tidak seperti biasanya, kali ini dia mendengarkan kata-kata sang nabi. Barangkali pendidikannya dalam iman bangsa Israel, atau mungkin juga karena dia melihat adanya bela rasa di belakang kata-kata Elia. Barangkali juga karena dia merasa takut. Yang jelas dia mengenakan kain kabung seorang pentobat. Dia mengakui dosanya di depan umum (1Raj 21:27). YHWH mengampuninya dan meringankan hukuman-Nya atas sang raja. Kemudian – melalui nabi Elia, YHWH memberikan kata-kata dorongan untuk menyemangati raja Ahab.

Kita tidak selalu mendengar kata-kata Tuhan agar kita bertobat dari dosa-dosa kita, sejelas yang dilakukan oleh raja Ahab. Namun kita dapat mendengar kata-kata Allah yang bersifat profetis dalam sebuah khotbah, dalam petuah-petuah yang diberikan oleh seorang kawan, atau dalam satu ayat di Kitab Suci yang kelihatannya berbicara langsung kepada kita. Kadang-kadang kita mendengar kata-kata Allah dari tempat-tempat yang paling sedikit kemungkinannya untuk berkomunikasi dengan Dia. Contohnya adalah ketika YHWH berbicara kepada raja Yosia melalui firaun Mesir yang bernama Nekho (2Taw 35:22). Kita juga dapat mengenali suara Allah lewat perhatian-Nya yang penuh kasih di belakang kata-kata yang kita dengar selagi Dia memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Apabila kita mendengarkan dan bertobat (seperti yang dilakukan Ahab), maka Allah mengampuni kita, dan kita dapat mengalami sukacita kehidupan dalam rahmat-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku rahmat untuk mendengarkan peringatan-peringatan dari-Mu dan untuk melakukan pertobatan terus-menerus dalam hidupku. Ajarlah daku untuk mengucapkan doa Daud dengan benar: ‘Bersihkanlah aku daripada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali’ (Mzm 51:8). Amin.

Cilandak, 8 Juni 2010 [Peringatan Beato Nikolaus Gesturi, Imam Ordo I Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads