DUA PULUH TIGA AYAT PERTAMA DALAM INJIL MATIUS

Sebuah pergumulan alkitabiah pada Pesta Kelahiran S.P. Maria: 8 September 

Hari ini, tanggal 8 September adalah ‘Pesta Kelahiran S.P. Maria’. Bacaan Injil dalam Misa Kudus hari ini diambil dari Mat 1:1-16. 18-23. Lectionarium memperbolehkan Mat 1:1-16 untuk tidak dibacakan. Dengan demikian kesempatan untuk bacaan Injil ini dibacakan sepenuhnya semakin sempit. Dari pengalaman mengikuti Misa, memang yang biasa dibacakan adalah Mat 1:18-23. Mungkin demi efisiensi. Hal ini memang patut disayangkan. Biar bagaimanapun juga sungguh baik apabila keseluruhan silsilah tetap dijelaskan. Dalam tulisan ini Mat 1:17 tetap dimasukkan sebagai bacaan. Mat 1:18-23 tidak disoroti secara khusus karena biasanya ini sudah dicakup dalam homili pada Misa Kudus hari ini. 

Silsilah Yesus Kristus. Bagi seorang pembaca modern kelihatannya seakan-akan Matius memilih sebuah cara yang tidak-biasa dalam mengawali Injil-nya, yaitu dengan sebuah daftar panjang nama-nama yang disambung dengan kata ‘memperanakkan’ atau ‘mempunyai anak’. Kelihatannya hal seperti ini dapat mengecilkan hati, membosankan, bahkan ‘menakutkan’, teristimewa bagi mereka yang baru saja berupaya untuk mengakrabkan diri dengan Kitab Suci. Namun demikian, bagi orang Yahudi hal seperti itu sangatlah lumrah, sangat natural. Malah bagi mereka cara penyajian Matius itu merupakan hal yang paling menarik, bahkan cara yang paling hakiki untuk memulai cerita tentang kehidupan seseorang. 

Orang Yahudi sangat meminati silsilah, daftar leluhur. Matius menyebutnya sebagai ‘daftar nenek moyang’ (Yunani: biblos geneseōs) Yesus Kristus. Bagi orang Yahudi hal itu merupakan ungkapan biasa, artinya catatan mengenai asal-usul seseorang, dengan sedikit kalimat untuk menjelaskan kalau dirasakan perlu.[1] Dalam Perjanjian Lama kita sering menemukan daftar nenek moyang dari orang-orang terkemuka (lihat misalnya Kej 5:1-32; 10:1-32; 11:10-26; 10:27-32). 

Alasan orang-orang Yahudi meminati daftar nenek moyang ini adalah karena mereka sangat menghargai asal-usul yang murni dari seseorang. Apabila dalam diri seseorang terdapat sedikit saja percampuran dengan darah asing, maka dia kehilangan haknya untuk dipanggil sebagai seorang Yahudi, dan seorang anggota umat Allah. Misalnya, seorang imam harus mampu menunjukkan catatan asal-usulnya sampai kepada Harun, artinya sampai kepada masa keluaran dari Mesir. Apabila imam itu memutuskan untuk menikah, maka perempuan yang akan dinikahinya harus menunjukkan catatan asal-usulnya paling sedikit sebanyak lima generasi. Ingatlah waktu Ezra mengatur kembali penyembahan kepada Allah setelah kembali dari pembuangan dan menata agar imamat berfungsi kembali. Pada waktu itu anak-anak Habaya, anak-anak Hakos dan anak-anak Barzilai dinyatakan tidak tahir untuk jabatan imam, setelah proses penyelidikan apakah nama mereka tercatat dalam silsilah dan memang nama-nama mereka tidak tercatat (lihat Ezr 2:61-62).  

Daftar silsilah ini disimpan oleh Sanhedrin. Herodes selalu Agung selalu dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi yang berdarah murni karena sang raja adalah ‘berdarah campuran Yahudi dan Edom’, tetapi dia juga menilai penting silsilah itu, sehingga dia menyuruh catatan-catatan resmi yang berisikan silsilah itu untuk dirusakkan. Dengan demikian tidak ada seorang pun dapat membuktikan asal-usul yang lebih murni daripada asal-usul sang raja. Memang bagi kita daftar panjang yang berisikan nama-nama itu tidak menarik, namun bagi orang Yahudi sangatlah mengesankan ketika mengetahui bahwa nenek moyang Yesus dapat ditelusuri balik sampai kepada Abraham.[2] 

Dua silsilah yang saling berbeda. Silsilah menurut Matius (1-1-17) dan Lukas (3:23-28) berbeda satu sama lain. Kedua silsilah itu tidak berniat untuk membuat daftar nenek moyang dalam arti biologis. Matius mengemukakan tujuannya dalam ayat pertama Injilnya: “Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (1:1). Matius mau menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud lewat adopsi oleh Yusuf, dan untuk memperlihatkan kepada jemaatnya bahwa Yesus adalah anak Abraham yang oleh keturunannyalah “semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kej 22:18). Lukas menempatkan silsilahnya sesaat setelah Yesus dibaptis, pada waktu pembaptisan mana Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati ke atas Yesus dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Lukas menelusuri para leluhur Yesus sampai ke Adam, “anak Allah” (3:38). 

Silsilah menurut Matius. Silsilah yang dipakai dalam perayaan ‘Pesta Kelahiran S.P. Maria’ ini adalah yang terdapat dalam Injil Matius. Dalam silsilah menurut Matius ini terdapat tiga kelompok, masing-masing terdiri dari empat belas generasi. Mengapa empat belas? Ada pakar-pakar Kitab Suci[3] yang mengira-ngira bahwa Matius bekerja  dalam kategori-kategori apokaliptik seperti yang kita dapat melihatnya dalam Dan 9:1-27, di mana satu minggu mempunyai nilai untuk membagi sejarah manusia. Dalam perhitungan ini, sejarah yang dimulai dengan Abraham berjumlah enam minggu (3 x 14 = 6 x 7), dan Yesus akan membuka minggu ketujuh, zaman Mesias yang sempurna. 

Ada yang berteori begini: Matius menyalin silsilah Daud langsung dari Rut 4:18-22, di mana terdapat sepuluh generasi balik sampai kepada Peres. Kemudian empat nama Bapak Bangsa Israel ditambah sebelum Peres, mundur sampai kepada Abraham. Sekali dia memperoleh angka 14, maka yang lain-lain setelah Daud diatur supaya cocok.[4] 

Menurut William Barclay, membagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari empat belas nama orang, secara teknis dinamakan suatu mnemonic, yaitu untuk mengatakan sesuatu yang dirancang sedemikian rupa sehingga mudah untuk diingat. Kitab-kitab Injil ditulis ratusan tahun sebelum adanya sebuah buku cetakan. Jadi orang perlu menghafalkan kata-kata dalam Injil. Oleh karena itulah maka silsilah Yesus diatur oleh Matius sedemikian rupa sehingga relatif mudahlah bagi orang-orang untuk mengingatnya. Tujuan silsilah itu adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Daud.[5] 

Ada pula yang mengatakan angka 14 dipilih karena itu adalah jumlah hari bulan bertambah besar (waxing days of the moon) dan jumlah hari bulan menyusut (waning days of the moon).[6] Jadi sejarah manusia berkembang sebanyak empat belas generasi dari Abraham sampai zaman Daud, menyusut sebanyak empat belas generasi dari Daud sampai pembuangan ke Babel, kemudian berkembang secara definitif selama empat belas generasi juga dari pembuangan ke Babel sampai Yesus Kristus (lihat Mat 1:17). Memang ada simbolisme yang ditunjukkan oleh silsilah menurut Matius ini: pembagian ke dalam tiga kelompok adalah berdasarkan tiga tahapan besar dalam sejarah Yahudi.

Kelompok pertama menggambarkan sejarah orang Yahudi sampai kepada Daud. Daud adalah orang yang membentuk Israel menjadi sebuah bangsa. Dialah yang membuat bangsa Yahudi menjadi kekuatan ‘dunia’. Daud adalah raja Israel yang terbesar. Kelompok kedua menggambarkan sejarah orang Yahudi sampai kepada pembuangan ke Babel. Dalam masa inilah terjadi aib, tragedi dan kekacauan orang-orang Yahudi sebagai sebuah bangsa. Kelompok ketiga menggambarkan sejarah orang Yahudi sampai kepada Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Pribadi yang membebaskan umat manusia dari perbudakan, menyelamatkan mereka dari bencana, dan dalam Dia tragedi berubah menjadi kemenangan gilang-gemilang. 

Di sisi lain, pembagian ke dalam tiga kelompok ini juga mengingatkan kita akan adanya tiga tahapan dalam sejarah spiritual umat manusia: 

  1. Manusia diciptakan untuk keagungan/kemuliaan. “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26). Manusia diciptakan seturut citra Allah. Mimpi Allah tentang manusia adalah sebuah mimpi tentang kebesaran, keagungan. Manusia dirancang untuk bersekutu dengan Allah. Manusia diciptakan agar dia dapat menjadi sedikit saja berbeda dengan Allah.
  2. Manusia kehilangan keagungan/kemuliaannya. Manusia bukan menjadi pelayan/hamba Allah, melainkan menjadi budak dosa. Manusia menyalah-gunakan  ‘kehendak bebas’ yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dia menolak Allah, dia tidak taat kepada-Nya. Karena ulahnya sendiri manusia gagal bersekutu dengan sang Pencipta. Dosa manusia malah merusak rancangan dan rencana Allah sehubungan dengan ciptaan-Nya.
  3. Manusia dapat memperoleh kembali keagungan/kemuliaannya. Meskipun manusia tidak taat dan melawan Dia, Allah tidak membiarkan manusia sendiri. Allah tidak menghendaki manusia hancur lebur karena ulahnya sendiri yang bodoh. Dia tidak mau tragedi atas diri manusia berkelanjutan, karena Dia adalah Kasih (1Yoh 4:8.16). Karena itulah Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dalam dunia ini (lihat Yoh 3:16): Yesus Kristus yang akan menyelamatkan mereka yang percaya kepada-Nya (Yoh 3:17). Pembebasan manusia dari dosa oleh/melalui Yesus Kristus membuat manusia dapat berdamai lagi dengan Allah. 

Dalam pembagian ke dalam tiga kelompok seturut Injil Matius, kita dapat melihat ‘martabat raja’ yang dianugerahkan kepada manusia; tragedi ‘kehilangan kemerdekaan’ dan ‘kemuliaan kemerdekaan yang diperoleh kembali’. Dalam kerahiman Allah, itulah keseluruhan kisah umat manusia, dan juga masing-masing pribadi manusia.[7] 

Empat orang perempuan. Namun untuk tujuan kita barangkali aspek yang paling penting dalam daftar nenek moyang itu adalah adanya nama-nama empat orang perempuan, sesuatu hal yang tidak lazim dalam sebuah silsilah Yahudi. Dalam konteks budaya Yahudi, kaum perempuan tidak mempunyai hak hukum. Seorang perempuan tidak dipandang seorang pribadi, melainkan sebagai sebuah barang saja. Dia sekadar milik ayahnya atau suaminya yang berhak penuh atas dirinya. Dalam ibadat pagi orang Yahudi bersyukur kepada Allah karena Dia tidak membuat dirinya seorang kafir, seorang budak, atau seorang perempuan. Oleh karena itu keberadaan nama-nama beberapa orang perempuan dalam daftar nenek moyang Yesus Kristus sungguh mengagetkan dan merupakan suatu gejala  yang luarbiasa. Namun kalau kita melihat siapa saja perempuan yang ditampilkan, maka halnya menjadi lebih mengagetkan (menakjubkan?) lagi. 

Masing-masing perempuan ini mempunyai hubungan yang bersifat ‘tidak biasa’, namun sangat instrumental dalam rencana Allah: Tamar berselingkuh dengan ayah mertuanya (lihat Kej 38), namun dia menjamin kelangsungan dinasti Yehuda (Kej 49:10), Rahab adalah seorang Kanaan dan pelacur di Yerikho, dia memungkinkan orang-orang Yahudi memasuki tanah terjanji (lihat Yos 2). Rut adalah seorang perempuan Moab (Rut 1:4). Dia mengikuti ibu mertuanya (Naomi) pulang ke Israel, menikah dengan Boas dan melahirkan Obed yang adalah kakek dari Daud (lihat Rut 2-4). Apakah yang dikatakan hukum orang Yahudi mengenai orang Moab? Beginilah bunyi hukum mereka: “Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai selama-lamanya” (Ul 23:3). Singkatnya: Rut adalah bangsa yang asing dan dibenci. Batsyeba (istri Uria orang Het) berselingkuh dengan Daud dan dia adalah ibunda dari Salomo (lihat 2Sam 11; 12:24). 

Akal sehat kita tentu lebih cenderung untuk memilih Rahel istri Yakub, Hana ibunda Samuel, Ester sang ratu, Yudit yang gagah berani, daripada empat orang perempuan itu. Dengan berbagai latar belakang yang jauh dari hebat itu, keempat perempuan itu tokh dipilih oleh Allah untuk rencana-Nya. Di sini Injil Matius menunjukkan – lewat perlambangan – hakekat dari Injil (Kabar Baik) Yesus Kristus: 

  1. Tembok pemisah antara orang Yahudi dan kafir (non-Yahudi) diruntuhkan. Rut termasuk dalam silsilah Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus memang tidak ada Yahudi atau Yunani (lihat Gal 3:28). Di awal kitab Injil sudah dicanangkan universalisme dari Injil dan kasih Allah.
  2. Tembok pemisah antara lelaki dan perempuan diruntuhkan. Nama-nama perempuan tidak pernah muncul dalam silsilah Yahudi mana pun, akan tetapi nama-nama perempuan itu dapat ditemui dalam silsilah Yesus. Allah memang mengasihi semua orang, baik lelaki maupun perempuan (lihat Gal 3:28). Bagi tujuan-tujuan yang mau dicapai oleh Allah, dua-duanya sama penting.
  3. Tembok pemisah antar orang kudus dan pendosa juga diruntuhkan. Yesus bersabda: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13). 

Di awal Injil Matius, Allah sudah mengingatkan kita betapa luas dan mendalam kasih-Nya kepada manusia. Allah dapat menemukan para hamba-Nya di mana saja Dia mau, bahkan dari tengah-tengah kelompok/golongan masyarakat yang biasanya dijauhi oleh orang-orang ‘suci’ (sok suci?) sekali pun. 

Maria dalam silsilah Yesus Kristus menurut Matius. “Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16). Sekarang kita lihat Maria dan bandingkanlah dengan keempat perempuan tadi. Bagi orang Yahudi sangat tidak bolehlah bagi seorang perempuan untuk mengandung selagi masih bertunangan. Di mata manusia ternyata Maria pun – seperti keempat perempuan sebelumnya – bukanlah perempuan baik-baik. Pada abad kedua ada tuduhan orang Yahudi bahwa Yesus adalah seorang anak haram dari hubungan gelapnya dengan seorang serdadu Romawi yang bernama Panthera. Hal ini ditepis oleh Origenes.[8] Dalam perdebatan Yesus dengan orang Yahudi, orang-orang itu berkata kepada-Nya: “Kami tidak dilahirkan dari zina. Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yoh 8:41). Tentunya mereka mengatakan ini dengan nada mengejek, karena gosip itu mudah merebak. 

Sekarang mengapa silsilah Yusuf harus digunakan dalam pesta kelahiran Maria? Alasannya adalah untuk menunjukkan bagaimana Maria cocok dengan rencana ilahi: sebagai istri Yusuf dan dinaungi Roh Kudus. Jadi kelahiran Maria dan peranannya dilihat dari perspektif sejarah penyelamatan. 

Renungan singkat 

Silsilah yang digunakan Matius guna mengawali Injil-nya mengingatkan kita bahwa rencana Allah untuk kedatangan Anak-Nya ke dunia itu merupakan cerita panjang . Generasi lepas generasi, Allah bergerak menuju penggenapan tujuan-Nya menarik kita kembali ke dalam kehidupan-Nya sendiri. Dari sejak kekal Allah menunjuk Maria, seorang gadis Nazaret, untuk mewujudkan rencana-Nya yang menyangkut sebuah tanggung jawab yang tidak ringan dan bersifat intim dari seorang pribadi. Sejak kekal Allah sudah memikirkan kelahiran Maria di dunia dan mempercayakan kepadanya perkandungan oleh Roh Kudus, melahirkan Yesus dan menjaga serta memelihara-Nya. 

Peranan yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam, begitu susah untuk direnungkan. Kesukaan-Nya kepada gadis Nazaret itu jauh melebihi kesukaan-Nya kepada manusia lainnya. Namun salahlah kita kalau kita mengira bahwa Maria berada begitu jauh di atas kita, dan bahwa pengalamannya tidak ada hubungannya dengan pengalaman kita. Mengapa demikian? Karena di luar privilese Maria sebagai ibunda Penyelamat, dia tetaplah seorang dari kita, seorang manusia. Tentunya dia adalah yang terbaik, tetapi kenyataannya dia tetaplah salah seorang dari kita. 

Pola cara Allah berurusan dengan Maria adalah pola cara Dia berurusan dengan kita semua. Allah memang mempunyai rencana untuk kehidupan Maria, tetapi Dia juga mempunyai rencana untuk kehidupan kita masing-masing. Dalam pusat rencana-Nya bagi Maria terdapat niat-Nya bahwa Anak-Nya akan hidup dalam dirinya, dan dia akan melahirkan-Nya di dunia. Pada hakekatnya itulah juga rencana Allah bagi kita semua, melahirkan/membawa Yesus ke tengah-tengah dunia. 

Setiap pribadi merupakan karunia/pemberian dari Allah yang bersifat unik dan tak terulangi. Sejalan dengan keunikan kita, maka Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi yang khusus. Allah membuat kita mengetahui rencana-Nya dengan berbagai cara: antara lain lewat keadaan sekeliling kita, melalui keluarga dan teman-teman kita, melalui talenta-talenta dan kesempatan-kesempatan. Allah tidak pernah mau memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi kehidupan kita. Seperti yang telah dilakukan-Nya terhadap Maria agar menanggapi panggilan-Nya dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepadanya, maka Dia menghendaki kita untuk menerima misi kita yang unik dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan kita. 

SEBUAH DOA

Bapa surgawi, Allah yang mahamurah,

Penuhilah hamba-hamba-Mu dengan anugerah surgawi. Tingkatkanlah kiranya kesejahteraan dunia berkat pesta kelahiran perawan Maria. Sebab anak yang dilahirkannya ialah sumber keselamatan kami, Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. 

Cilandak, 8 September 2009 [Pesta Kelahiran S.P. Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Lihat William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MATTHEW, Vol. 1, Edinburgh: The Saint Andrew Press,  1975 (Revised Edition), hal. 12.

[2] Ibid.

[3] Lihat George T. Montague SM, COMPANION GOD – A CROSS-CULTURAL COMMENTARY ON THE GOSPEL OF MATTHEW, New York and New Jersey: Paulist Press, 1989, hal. 17-18.

[4] Ibid.

[5] William Barclay, hal. 13.

[6] Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH MARY – A PASTORAL AND THEOLOGICAL STUDY, Wilmington, Delaware: Michael Glazier, 1988, hal. 161-162.

[7] Uraian tentang tiga kelompok ini dapat didalami dalam William Barclay, hal. 13-14.

[8] Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH MARY – A PASTORAL AND THEOLOGICAL STUDY, hal. 168.

About these ads