BEBERAPA PEDOMAN KERASULAN KITAB SUCI *)

 

Pengantar 

Pada bulan November 1986 di Columbia diselenggarakan “Pertemuan Nasional Kerasulan Kitab Suci Pertama” [1]  Pada pertemuan tersebut para peserta bersama-sama mendefinisikan pelbagai kriteria (tolok ukur) untuk digunakan sebagai dasar dan pengarahan Kerasulan Kitab Suci. Pendasaran dan pengarahan seperti itu, kiranya juga berguna bagi kegiatan kerasulan Kitab Suci di Indonesia. Kalau dasar dan arah ini diperkembangkan, mungkin dapat memberikan dinamika baru bagi gerakan hidup kristiani yang didasarkan pada Kitab Suci. Pelbagai gagasan yang disajikan berikut ini harus diperkembangkan dan direnungkan lebih lanjut. 

1.   Alkitab adalah Sabda Allah (The Bible is the Word of God). 

Prinsip 

Allah telah mewahyukan diri kepada manusia dengan banyak cara dan dalam pelbagai  kesempatan (Ibr 1:1), tetapi dalam Alkitab Allah menyatakan diri secara sangat istimewa dan pribadi; itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Alkitab diilhami oleh Allah, ….. Allah sebagai pengarang. 

Pewahyuan secara istimewa kepada umat Perjanjian Lama ( = Perjanjian Pertama = First Covenant ) dan Perjanjian Baru (New Covenant) menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah suatu misteri persekutuan, komunikasi dari Bapa kepada Putera (Anak) di dalam Roh Kudus. 

Kitab Suci – yang dibaca dalam iman – memperkenalkan kita kepada misteri tak terkatakan dari Bapa yang bertemu dengan anak-anak-Nya dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus (DV 2). 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Alkitab adalah makanan/santapan hidup rohani, yaitu santapan bagi relasi kita dengan Allah dalam hidup sehari-hari. 
  • Kita harus membaca Alkitab dalam suasana doa agar dapat mendengarkan Bapa kita. 
  • Kitab Suci adalah sarana yang digunakan Allah untuk menyebarkan penyucian di antara orang-orang. Alkitab adalah jiwa karya pastoral Gereja. 
  • Alkitab harus dibaca dalam semangat yang sama seperti pada waktu ditulis. 
  • Mereka yang terlibat dalam kerasulan Kitab Suci (biblical apostolate) tidak boleh lupa bahwa Roh Kudus adalah Guru sejati yang menginspirasikan pengalaman akan Allah yang otentik, baik dalam umat secara keseluruhan maupun dalam diri masing-masing pribadi anggota umat. 

2.   Yesus Kristus, Sabda akhir Bapa dalam kepenuhannya (Jesus Christ, the final Word of the Father in its fullness). 

Prinsip 

Sabda akhir dan lengkap dari Bapa kepada manusia adalah Yesus Kristus, yang dinyatakan dalam Roh Kudus. Yesus Kristus adalah kepenuhan wahyu. Allah mengutus Dia sebagai Anak-Nya yang menjadi manusia ( = menjadi daging) dengan sabda-sabda-Nya, karya-karya-Nya, tanda-tanda-Nya, mujizat-mujizat-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. 

Kitab Suci menjelaskan kepada kita makna Yesus Kristus itu. Umat Perjanjian Lama, Israel, dalam sejarah mempersiapkan kedatangan Kristus, oleh karena itu menerangkan kehadiran Allah dalam kehidupan sebuah masyarakat yang sulit dan rumit. 

Perjanjian Baru menerangkan Yesus Kristus dan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita lewat Gereja. Tidak ada satupun dari Sabda-sabda Allah yang dapat dimengerti secara lengkap tanpa Yesus Kristus. Dia adalah pewahyuan Allah yang historis ( = menyejarah) dan konkrit. Akan tetapi, seperti juga Kristus adalah sungguh manusia, maka manusia piun menjadi suatu tolok ukur untuk pembacaan Alkitab karena nilai tertinggi ( = supreme value) seluruh penciptaan adalah manusia: “Kemuliaan Allah adalah manusia” (“The glory of God is man) (Santo Ireneus). 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Semua teks Perjanjian Lama harus ditafsirkan dalam terang Kristus.
  • Juga teks-teks Perjanjian Baru hanya dapat dipahami dan dipersatukan dalam diri Yesus Kristus.
  • Oleh karena itu, seseorang tak boleh mengikuti orang-orang kristen lain yang mengambil teks-teks Perjanjian Lama secara hurufiah tanpa acuan pada Yesus Kristus, misalnya teks-teks tentang kemurnian makanan, darah atau hari Sabat.
  • Dengan cara yang sama, seseorang tak boleh mengikuti mereka yang memilih teks-teks Perjanjian Lama untuk membenarkan penggunaan kekerasan sebagai tolok ukur bagi orang Kristen masa kini.
  • Pengetahuan kita tentang Bapa datang kepada kita dengan perantaraan Yesus Kristus. Ini adalah dasar pentingnya Kristus bagi keseluruhan teologi Kristen dan kerasulan kitab suci.
  • Sasaran dari pastoral alkitabiah adalah pembelaan martabat manusia.

3.   Allah berbicara kepada umat Israel dan komunitas rasuli dalam konteks sejarah mereka (God spoke to the people of Israel and to the apostolic community in their historical context). 

Prinsip 

Allah mewahyukan diri-Nya kepada manusia lewat karya-karya-Nya dan  melalui sabda-sabda-Nya (DV 2). Umat Israel hidup berhubungan dengan Allah sepanjang sejarah mereka dan menyusun pengalaman-pengalaman  itu dalam tulisan-tulisan. Umat Israel ini mengalami Sabda Allah yang bekerja dalam situasi dan dalam lingkungan hidup mereka sendiri. Dengan demikian untuk memahami sabda-sabda dalam Alkitab secara benar, perlulah mengetahui fakta-fakta sejarah dan lingkungan hidup pada era yang terdapat dalam Alkitab. 

Kemajuan ilmu tafsir dan pedagogi yang sesuai, sesuai dengan dokumen Konsili Vatikan II DEI VERBUM  dan dokumen-dokumen Gereja yang lebih akhir, haruslah ditempatkan dalam kerangka melayani komunitas-komunitas Kristiani sedemikian rupa, sehingga pewahyuan dapat dimengerti dalam proses sejarah umat Allah serta dalam konteks pelbagai macam budaya dan bermacam bentuk susastra tanpa pencarian informasi tafsir semata-mata. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Itulah sebabnya mengapa Gereja mendirikan lembaga-lembaga dan universitas-universitas untuk mempelajari secara ilmiah konteks-konteks sejarah dan budaya umat Israel dan komunitas rasuli (Gereja Perdana), untuk mengetahui apakah yang ingin dikatakan oleh para penulis suci. Inilah bidang eksegese (ilmu tafsir). (DV 12).
  • Itulah sebabnya mengapa Gereja telah mengutuk kecenderungan yang konsisten untuk mengabaikan studi Alkitab secara ilmiah. Gereja juga menolak pandangan bahwa kriteria satu-satunya dalam membaca Alkitab adalah perasaan saleh dan kecenderungan psikologis pembaca.
  • Pembacaan popular (lectura popular) tanpa bimbingan orang-orang yang memiliki keahlian telah mengakibatkan munculnya pelbagai aliran dan sekte.
  • Karena Alkitab adalah sebuah buku yang berisikan tulisan-tulisan dari masa dan budaya yang berbeda dari jaman kita, maka perlulah untuk mempelajari bentuk-bentuk susastra dan bahasa-bahasa budaya masing-masing jaman dan masing-masing teks Alkitab.
  • Alkitab  bukanlah sebuah buku ilmiah: kosmologi, geografi, ilmu sejarah sebagai catatan pelbagai peristiwa. Alkitab berusaha untuk memperdalam iman-kepercayaan kita dalam kehadiran aktual Allah dalam sejarah kita sendiri.
  • Fundamentalisme alkitabiah harus dihindari.

 4.   Allah berbicara kepada manusia masa kini dalam konteks sejarahnya (God speaks to modern man in his present historical context). 

Prinsip 

Alkitab mengkomunikasikan Sabda yang Allah sampaikan untuk kebaikan kita dalam konteks sejarah kita sekarang. Dengan demikian kita harus membaca Alkitab dalam konteks  situasi  bangsa dan negara kita. 

Kerasulan Kitab Suci (biblical apostolate) dapat menolong kita memahami dan menghayati secara lebih penuh “preferential option for the poor”  untuk menciptakan dan memperbaharui komunitas-komunitas Kristiani. Maka refleksi, nurani dan kebebebasan orang-orang Kristiani sangat diperlukan kalau pesan Kristiani mau diwujud-nyatakan. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Disamping perlunya mempelajari konteks budaya dari jaman-jaman Alkitab, kita juga harus mempelajari situasi kita sendiri karena Alkitab tidak hanya berbicara kepada umat Israel dan orang-orang Kristiani awal (Gereja Perdana/Purba), melainkan juga kepada kita pada masa kini.
  • Itulah sebabnya tidak cukup untuk hanya mempelajari buku Alkitab, melainkan juga harus mempelajari buku kehidupan.
  • Lagipula untuk mendengarkan Sabda Allah, kita harus mempelajari aspek-aspek sosiologis, psikologis dan antropologis seperti juga ilmu-ilmu lainnya, sehubungan dengan otonominya sendiri.
  • Di bawah penerangan ilahi, ilmu eksegese dan hermeneutika (tafsir) harus menyatu dengan hikmat-kebijaksanaan orang untuk memperoleh pemahaman dan penegasan (dalam arti discernment) yang lebih baik atas “tanda-tanda jaman”.
  • Umat Allah yang mendengarkan semua suara kebenaran, mencoba untuk memahami Sabda Allah. Dalam upaya ini umat memerlukan bantuan dari Gereja, yang dalam nama Kristus penuh wibawa mendefinisikan tafsir otentik untuk menegakkan arti asli dan kesatuan universal.
  • Kitab Suci adalah buku umat Allah, yang memberi makanan dan membangun komunitas-komunitas Kristiani. Tradisi dan magisterium Gereja, dengan pertolongan Roh Kudus, memimpin kita kepada suatu pemahaman yang lebih baik atas sabda-sabda dan tanda-tanda yang disampaikan kepada kita. 

5.   Alkitab dan komunitas gerejawi (The Bible and the church community).

 Prinsip 

Alkitab adalah buku umat Allah, yang bersama dengan sakramen-sakramen membangun dan menggerakkan komunitas-komunitas Kristiani. Itulah sebabnya mengapa Alkitab harus dibaca dalam persekutuan dengan Gereja, di mana Roh Kudus membuat Sabda hidup dan efektif. Magisterium Gereja memiliki amanat ilahi untuk menafsirkan Kitab Suci secara otentik. 

Kristus mengutus para rasul untuk memberitakan Injil. Beberapa dari mereka membuatnya secara tertulis. Para rasul kemudian mempercayakan tulisan-tulisan itu kepada para uskup, yaitu para penerus mereka. Tradisi ini dan Kitab Suci merupakan semacam sebuah cermin di dalam mana Gereja mengkontemplasikan Allah. 

Dengan bantuan Roh Kudus dan berkat refleksi, studi dan pewartaan, tradisi berkembang terus dalam Gereja sampai pada sujatu pemahaman yang lebih baik atas sabda-sabda dan hal-hal yang disampaikan. 

Tradisi suci, Kitab Suci and wewenang mengajar Gereja saling kait-mengait dan tak dapat dipisahkan, dan bersama-sama ketiganya memberikan sumbangan kepada penyelamatan jiwa-jiwa (DV 10). 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Apabila setiap orang menafsirkan teks-teks alkitabiah dengan caranya sendiri, maka masing-masing dapat menciptakan gerejanya sendiri dan orang-orang Kristiani akan semakin  terpecah-belah lagi (2Ptr 1:20).
  • Kita harus bersyukur kepada kepada Allah untuk tradisi dan magisterium Gereja yang menjaga kita agar jangan jatuh ke dalam kesesatan iman.
  • Kesatuan Gereja mempunyai tanda-tanda kelihatan seperti dikehendaki Allah: Sri Paus dan kerekatan (cohesion) dalam menafsirkan Kitab Suci serta tradisi.

6.     Kerasulan Kitab Suci adalah sebuah tugas untuk semua orang (The biblical apostolate, a task for all).

 Prinsip 

Kerasulan Kitab Suci adalah tugas semua umat Allah. Semua anggota Gereja harus –dalam dialog antar pelbagai kharisma- mengambil bagian dalam pembacaan Alkitab dengan  rasa hormat yang mendalam bagi misi (perutusan) Gereja, tanggung jawab kaum awam yang menemukan solusi-solusi atas persoalan-persoalan yang memprihatinkan mereka dalam terang Injil, dan bagi fungsi yang diperlukan dari ilmu eksegese (tafsir Kitab Suci) dan teologi.

Evangelisasi adalah tanggung jawab pertama, bukan hanya bagi para uskup, imam dan diakon, melainkan juga bagi semua kaum beriman (Sinode Khusus para Uskup tahun 1985). 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Menemukan dalam diri setiap orang Kristiani, panggilan kenabian (prophetic vocation) yang diterimanya pada waktu baptisan.
  • Menjadi sadar bahwa kita semua dipanggil, dalam salah satu cara, untuk memproklamasikan Sabda Allah kepada dunia.
  • Mendirikan pusat-pusat Alkitab untuk anak-anak dan orang-orang muda guna membentuk/ membina mereka untuk karya pastoral-alkitabiah.
  • Tanpa meremehkan magisterium Gereja, kaum awam harus menggunakan keterampilan mereka sendiri dalam menafsirkan Kitab Suci.
  • Anggota-anggota Gereja yang berbeda-beda harus saling mengakui dan mendengarkan.
  • Orang-orang miskin memiliki suatu potensi khusus bagi evangelisasi. Suara mereka harus didengarkan oleh bagian-bagian Gereja yang lain.
  • Kita harus menerima keahlian/kompetensi para ekseget dan teolog yang membimbing kita dalam pembacaan Alkitab.
  • Kaum awam mempunyai hak untuk mendapatkan pembinaan/pendidikan yang cocok dalam bidang kerasulan Kitab Suci. 

7.     Sabda adalah sumber penyucian bagi komunitas (The Word, source of sanctification for the community).

 Prinsip 

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17).Agar supaya Sabda itu dapat hidup dan bertumbuh sepenuhnya dalam hati, maka perlulah bahwa seorang yang memberitakan Sabda ini sudah menghayatinya terlebih dahulu (menyerapkan dalam hatinya). 

Kitab Suci mengungkapkan kepada manusia misteri Yesus dan manusia sendiri dari segala zaman, ras dan budaya.  Atas dasar alasan ini kita harus mengakui di dalamnya, baik warta kenabian tentang penyucian maupun pencelaan terhadap dosa, yaitu terhadap segala sesuatu yang menghalangi usaha membangun Kerajaan Allah di tengah-tengah kita. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Sama seperti cara Allah mengungkapkan diri-Nya lewat tindakan-tindakan dan sabda-sabda-Nya dalam sejarah manusia, maka evangelisasi pun harus terlaksana lewat kesaksian.
  • Kabar Baik mengumpulkan komunitas di sekeliling Sabda yang adalah Kristus sendiri, oleh karena itu harus diwartakan untuk komunitas, oleh komunitas dan dengan komunitas.
  • Kita harus memandang penting segala bentuk pemberitaan pesan Injil (homili, perayaan-perayaan liturgis, katekese, kesaksian hidup) dan juga kemajuan teknologi yang dapat melayani pemberitaan tersebut. Pantas untuk diperhatikan adalah sekolah dan katekese dalam paroki, kelompok-kelompok studi Kitab Suci maupun kelompok-kelompok membaca Kitab Suci, persekutuan-persekutuan doa (prayer groups) dan komunitas-komunitas basis yang bersatu di sekitar Sabda.
  • Sebuah unsur penting di antara pelbagai bentuk evangelisasi dan pemberitaan adalah sebuah bentuk bahasa yang sederhana dan sesuai.
  • Yang tidak dapat diabaikan adalah orang-orang yang kehilangan kemampuan untuk melihat, mendengar atau berbicara, dan yang tidak mampu secara mental (mentally handicapped). Mereka juga adalah anak-anak Allah dan anggota-anggota Gereja yang berhak atas Sabda Ilahi. 

8.   Alkitab adalah norma/kaidah untuk menafsirkan Sabda-sabda Allah yang lain (The Bible, norm for interpreting other Words of God. 

Prinsip 

Alkitab  bukanlah satu-satunya Sabda Allah. Komunikasi dari Allah kepada manusia juga terjadi dalam penciptaan dan sejarah. Hal inilah yang mau diungkapkan oleh dokumen Konsili Vatikan II “Dei Verbum” ketika mengatakan: “Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui Sabda-Nya serta melestarikannya, dalam makhluk-makhluk senantiasa memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada manusia” (DV 3). Manusia dipanggil untuk menemukan kesaksian yang diberikan Allah dalam ciptaan dan sejarah itu, di dalam budaya-budaya dan agama-agama orang-orang. 

Membaca Alkitab bersama-sama orang-orang harus memperhitungkan budaya-budaya dan sub-budaya sub-budaya yang berbeda dengan nilai-nilai dan batas-batas masing-masing (suku dan keturunan, kota vs pedesaan dll.), yaitu segala kebenaran dan sabda Allah seperti nampak dalam dunia dan sejarah. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Suatu dialog harus diusahakan antara kebudayaan-kebudayaan dalam semangat saling jujur dan hormat yang memungkinkan  ditemukannya dan dipupuknya benih-benih Sabda yang terdapat dalam jiwa semua orang dan yang menolong mereka menghasilkan buah berlimpah bagi iman dalam Yesus Kristus.
  • Kita harus bekerja sama agar supaya dimensi misioner Alkitab mencapai semua orang sebagai proklamasi Kabar Baik keselamatan.
  • Jenis dialog ini juga harus digunakan bagi apa yang disebut “katolikisme popular” (popular catholicism)  atau “praktek saleh popular” (popular piety), yang tidak harus disalahkan atau dihabisi, tetapi diterangi dan dievangelisasi lewat Sabda yang diwahyukan. Sangat penting pula untuk menerangi dan menjelaskan pelbagai manifestasi keagamaan lewat Injil.

9.   Perayaan Sabda (Celebration of the Word). 

Prinsip 

Alkitab harus memberikan inspirasi (ilham) kepada keseluruhan liturgi karena liturgi ini adalah perayaan iman yang lahir dari pewartaan dan penerimaan Sabda Allah. Pada gilirannya Sabda hanya mencapai kefektifan penuh dalam perayaan sakramen-sakramen secara komunal (lihat DV 21).  Sebagai akibatnya, orang-orang tidak dapat mencapai partisipasi dalam liturgi secara sadar dan aktif tanpa bantuan kerasulan Kitab Suci (biblical apostolate)

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Setiap perayaan liturgis harus aktif, sadar dan partisipatif. Tidak cukuplah untuk memproklamasikan Sabda kalau orang-orang tidak memahaminya (kesadaran) atau mengambil posisi (partisipasi). Seturut Konsili Vatikan II liturgi harus mencakup kedua aspek: pemahaman dan jawaban.
  • Persiapan yang layak bagi setiap perayaan Sabda Kristus yang mewahyukan diri-Nya kepada kita dan yang membuat kita menjadi peserta-peserta karya penyelamatan-Nya.
  • Sebuah metode praktis studi Alkitab adalah mengikuti bacaan-bacaan liturgis. 

10.   Alkitab dan masyarakat baru (The Bible and the new society). 

Prinsip 

Allah menyatakan diri dalam sejarah sebagai suatu kekuatan pembebasan dan transformasi. Kitab Suci memberikan arti penuh kepada partisipasi orang-orang Kristiani dalam membangun sebuah masyarakat baru, yaitu masyarakat keadilan dan persaudaraan. Dengan bantuan Kitab Suci kita dapat memahami dan menilai realita di mana kita hidup, dan kitapun dapat memberikan sebuah jawaban kepada mereka yang datang kepada kita dengan tujuan membangun “sebuah peradaban cinta kasih” (a civilization of love). Pada gilirannya, realita di mana kita hidup membantu kita memahami pesan sesungguhnya dari Injil. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Apabila kita berusaha untuk membangun sebuah masyarakat baru yang berintikan harmoni dan keadilan yang baru, maka kita harus mempromosikan studi dan asimilasi Kitab Suci pada segala tingkat.
  • Kristus adalah penyelamat yang datang untuk menyelamatkan kita dan masyarakat dari perbudakan dosa.
  • Perlu bagi kita untuk menyadari bahwa Kitab Suci adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hangat jaman kita.
  • Alkitab seharusnya tidak pernah boleh menjadi sebuah alat untuk menciptakan keadaan-keadaaan perbudakan baru. Alkitab tidak boleh menjadi rem bagi analisis kritis atas ketidakadilan atau sebuah hambatan terhadap transformasi kreatif dari orang-orang Kristiani. 

11.   Alkitab dan Ekumenisme (The Bible and Ecumenism). 

Prinsip 

Sabda Allah dari Alkitab diwartakan untuk semua orang. Dengan demikian tidak dapat diperlakukan / diklaim sebagai warisan kelompok tertentu. Sabda Allah dari Alkitab itu harus diwartakan kepada semua orang. 

Tak diragukan lagi, Sabda Allah (dalam arti Alkitab) telah dipercayakan untuk dipelihara oleh Gereja Universal atau Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus dan diserahkan tanggung jawab, sebagai karunia dari Roh Kudus, untuk menafsirkannya secara otentik. 

Allah menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4). 

Salah satu tuntutan besar dari Konsili Vatikan II adalah membangun kembali kesatuan di antara orang-orang Kristiani. Dari sini lahirlah Dekrit “Unitatis Redintegratio” tentang Ekumenisme. Perpecahan dalam Gereja-gereja, yang di hadapan manusia tampak sebagai warisan sejati dari Kristus, sebenarnya berlawanan dengan kehendak Allah. 

Sebelum sengsara dan wafat-Nya, Kristus berdoa untuk persatuan dan kesatuan, melembagakan ekaristi dan menjanjikan Roh Kudus yang kemudian menyatukan orang-orang dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Gereja (Yoh 14-15-16; catatan FXI: 17 juga). 

Kristus mempercayakan kepada rasul-rasul-Nya tugas untuk mengajar, menggembalakan dan menguduskan, serta memberikan kepada Petrus segenap domba dan kunci Kerajaan Surga (Mat 16:18-19). Kristus ingin agar Gereja bertumbuh dalam kesatuan iman dan supaya Roh Kudus memberikan bermacam-macam karunia seturut model/contoh kesatuan dalam Tritunggal Mahakudus. 

Konsili Vatikan II mendorong gerakan ekumene,  dalam gerakan mana Konsili melihat pelbagai inisiatif yang mendasari promosi kesatuan/persatuan antara umat Kristiani dan juga banyaknya hambatan yang menghalangi tercapainya persekutuan yang sempurna. 

Konsekuensi-konsekuensinya 

  • Alkitab, dalam Perjanjian Baru-nya dan dalam teks-teks aslinya yang lengkap, adalah sama bagi semua orang Kristiani: Katolik, Protestan dan Ortodoks. Dalam arti ini tidak ada Alkitab Katolik atau Alkitab Protestan.
  • Dalam Perjanjian Lama ada dua kanon atau daftar kitab-kitab yang resmi. Yang pertama adalah Kanon Ibrani yang diakui oleh orang-orang Yahudi dan sebagian besar umat Protestan. Yang kedua Kanon Yunani yang berisikan beberapa kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani untuk digunakan oleh orang-orang Yahudi diaspora. Gereja Perdana menggunakan terjemahan Yunani ini dalam mengekspresikan iman-kepercayaan Kristiani.
  • Catatan-catatan serta komentar-komentar dan bahkan terjemahan sebuah Alkitab dapat berisi suatu doktrin yang dapat tidak sejalan dengan doktrin Katolik.
  • Ada gereja-gereja yang tidak berada dalam persekutuan sempurna dengan Gereja Katolik Roma karena mereka adalah para pewaris tradisi timur. Gereja-gereja itu disebut ortodoks dan merupakan Gereja-gereja yang terhormat.
  • Gereja-gereja lain yang patut kita hormati adalah yang berasal dari Zaman Reformasi di abad ke 16: Gereja Lutheran, Anglikan,  Presbyterian, Kalvinis dll. Dengan demikian tidaklah benar untuk menamakan mereka sebagai “sekte-sekte Protestan”. Kelompok-kelompok ekumenis harus bersama-sama menghadapi sekte-sekte.
  • Sekte-sekte adalah kelompok-kelompok keagamaan dengan suatu konsepsi tentang dunia yang khusus, yang berasal –biasanya dengan pelbagai penyimpangan- dari ajaran-ajaran pelbagai agama besar dunia. Ciri-ciri pelbagai sekte itu adalah adanya suatu struktur wewenang yang khusus dan suatu bentuk “brain-washing”. Mereka membangun kelompok-kelompok yang memupuk perasaan-perasaan bersalah dan takut.
  • Salah satu ciri sekte-sekte adalah proselitasi (proselytizing), yang sangat berbeda dengan semangat misioner sejati dari sebuah komunitas gereja. Orang-orang yang melakukan proselitasi ini menggunakan metode-metode yang tidak jujur: menyalahgunakan kebodohan atau kesengsaraan (dari mangsa-mangsa mereka), janji-janji kosong dalam bidang politik, kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah, pemerasan dan tekanan psikologis. Secara singkat: segalanya yang merugikan hak-hak manusia tidak boleh dipaksakan dalam urusan-urusan keagamaan. Metode-metode mereka dalam menyebar-luaskan Injil tidak sesuai dengan cara-cara Allah, yang memanggil orang-orang untuk menjawab-Nya secara bebas dan untuk melayani-Nya dalam roh dan kebenaran.
  • Sikap kita terhadap sekte-sekte harus berisikan unsur-unsur berikut ini:
  1. Dengan rendah hati temukanlah panggilan Allah untuk karya pastoral yang lebih intensif. Terimalah  juga cela and cerca bahwa pertumbuhan banyak sekte adalah akibat dari kekurangan-kekurangan dalam pastoral kita.
  2. Tanggapan yang paling baik terhadap semakin banyak tumbuhnya sekte-sekte adalah suatu pastoral yang hidup dan terorganisir dengan baik, teristimewa suatu pastoral yang alkitabiah, karena kesenjangan-kesenjangan merupakan lahan yang sangat subur bagi berkembang-biaknya sekte-sekte tersebut.
  3. Sekte-sekte merupakan suatu masalah, baik bagi Gereja Katolik maupun gereja-gereja besar yang lain.
  4. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apa saja yang diwartakan/ditawarkan oleh para pengkhotbah lain itu yang kita tidak wartakan, dengan demikian carilah apa yang kita dapat tawarkan secara legitim (legitimate).
  •  Dengan cara mereka sendiri sekte-sekte itu memberikan tanggapan terhadap pelbagai kebutuhan orang-orang yang bersifat mendasar, hal mana yang membuat mereka sukses:
  1. Kerinduan akan hal-hal yang menyangkut keagamaan/kerohanian (religious yearning) merupakan suatu aspek global dari orang di hadapan transendensi dan masa depannya sendiri. Sekte-sekte itu memungkinkan dilakukannya pengungkapan perasaan-perasaan keagamaan tadi.
  2. Kerinduan akan sebuah dunia yang baru (The yearning for a new world). Sekte-sekte ini mengisi sebuah ruangan yang mereka temukan kosong.
  3. Kerinduan akan rasa aman (The yearning for security). Dalam hidup yang sangat berbahaya dan penuh ketidakpastian, sekte-sekte ini menawarkan pengalaman keamanan dogmatis yang mutlak.
  4. Kerinduan akan peneguhan pribadi (The yearning for personal affirmation). Sekte-sekte menawarkan suatu evangelisasi pribadi dan memberikan satu kesempatan bagi masing-masing orang untuk memperkuat nilai-nilainya sendiri, dengan memanfaatkan  potensi yang besar sekali dari kaum awam yang mereka latih sebagai pemimpin-pemimpin.
  5. Kerinduan akan kehidupan persaudaraan (The yearning for fraternity). Berlawanan dengan kesepian dan kehilangan kepribadian, sekte-sekte menyediakan suatu suasana keramah-tamahan persaudaraan, kesetiakawanan dan dukungan sosial.
  6. Kerinduan untuk ikut terlibat (The yearning for engagement). Sekte-sekte membuat para pengikutnya menjadi misionaris-misionaris dan pelayan-pelayan suka rela yang melayani tujuan kelompok.
  7. Kerinduan akan kebaikan-kebaikan moral (The yearning for moral goods). Banyak sekte berhasil karena mereka mewartakan suatu kekristenan yang lebih sarat dengan nilai-nilai moral.
  8. Kerinduan akan kesejahteraan (The yearning for wellbeing). Banyak sekte menjanjikan solusi atas masalah-masalah ekonomi dan kesehatan (penyembuhan).
  9. Terbuka bagi Sabda Allah? (Opening to the Word of God). Lewat Alkitab sekte-sekte mudah masuk ke lingkungan-lingkungan Protestan dan Katolik. 
  • Kita harus mempelajari dengan teliti pelbagai aspek sekte-sekte ini untuk menunjukkan kepada umat kita kebaikan yang ditawarkan oleh sekte-sekte itu, tanpa umat kita menjadi korban mereka.
  • Perayaan Sabda sering kali kurang menarik karena kesalahan kita sendiri: liturgi di dalam banyak komunitas Katolik mengandung banyak kekurangan.

Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est.

 Tidak mengenal Kitab Suci

sama dengan

tidak mengenal Kristus !

 Santo Hieronimus (347 – 419/420) 

 


*) Disusun kembali oleh Sdr. F.X Indrapradja, OFS untuk digunakan sebagai bahan kuliah di KPKS Santo Paulus,   mata kuliah “Dasar-dasar Kerasulan Kitab Suci”. Jakarta, Hari Rabu Abu, 28 Februari 2001.

[1]   Sumber: “Criteria for the Biblical Apostolate”, Bulletin Dei Verbum No. 4: 1987, hal.11-15 dan “Pedoman Kerasulan Kitab Suci”, Yogyakarta, 10 Nopember 1987.

About these ads