PERJUMPAAN PRIBADI DENGAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII, Selasa 5-10-10)

[Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah Semua saudara, sanak saudara dan penderma]

… aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil yang berasal dari manusia. Karena aku tidak menerimanya dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui pernyataan Yesus Kristus. Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Di dalam agama Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bagsa bukan Yahudi, sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya. Lalu mereka memuliakan Allah karena aku (Gal 1:13-24). 

Bacaan Injil: Luk 10:38-42 

Paulus mampu untuk mewartakan Injil dengan berani dan secara gamblang karena dia pernah mengalami perjumpaan pribadi yang penuh kuasa dengan Tuhan Yesus sendiri dalam perjalanannya menuju Damsyik (Kis 9:1-19a; bdk. Kis 22:3-16; 26:9-18). Paulus menerima Injil langsung dari Yesus dalam suatu pernyataan diri Yesus yang sungguh menggoncangkan dirinya (jiwa-raga; lahir-batin; lihat Gal 1:12; bdk Kis 9:1-9). 

Sebagai akibat pengalaman perjumpaan pribadi ini, maka kehidupan Paulus berubah secara radikal. Arah kehidupannya menjadi sangat-sangat berbeda dengan apa yang telah direncanakannya sendiri bagi dirinya. Paulus menyadari bahwa Allah telah memanggilnya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir), dan perjumpaan pribadi dalam perjalanannya ke Damsyik itu ‘memaksa’-nya untuk mengabdikan seluruh hidupnya guna memenuhi panggilan-Nya. 

Penekanan Paulus pada pengalaman akan Yesus mendorong kita semua untuk bertanya kepada diri kita sendiri perihal pengalaman kita sendiri. Apakah anda pernah berjumpa dengan Yesus Kristus? Apakah anda mengenal-Nya secara pribadi? Apakah anda  telah mengalami kuasa rahmat-Nya dan pengampunan-Nya? Tentu saja pengalaman Paulus itu dapat dikategorikan sebagai pengalaman yang bersifat sangat luar biasa, artinya bukanlah perjumpaan yang biasa-biasa saja. Perjumpaan Paulus itu juga bersifat “unik”. 

Bagaimana pun juga Yesus ingin memberikan kepada kita masing-masing suatu pengenalan pribadi tentang diri-Nya dan kuasa-Nya. Dia ingin agar kita masing-masing mengalami Dia, pengalaman yang menembus hati kita dan mentransformasikan kehidupan kita. 

Setiap hari Yesus bergairah untuk menyatakan dirinya kepada kita secara lebih mendalam lagi – dalam pekerjaan kita, dengan keluarga kita masing-masing, dan secara istimewa dalam perayaan Ekaristi. Setiap hari, Dia bergairah sekali untuk memanggil kita masing-masing guna mengambil bagian secara khusus dalam misi menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang lain. Yang perlu kita sadari adalah kenyataan, bahwa perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus-lah yang mentransformasikan kehidupan kita dan memberdayakan kita untuk memenuhi panggilan-panggilan kita di dalam dunia

Apapun atau bagaimana pun pengalaman kita dengan Yesus sampai saat ini, kenyataannya adalah Dia mengundang kita untuk sampai kepada pengalaman yang lebih mendalam dan lebih penuh kuasa dengan diri-Nya dan rahmat-Nya. Kita semua dapat diberdayakan agar dapat berbuah-limpah dalam melaksanakan misi-misi kita. Sekarang pertanyaannya adalah: Apakah anda terbuka bagi suatu perjumpaan pribadi yang lebih dekat dengan Tuhan? Memohon kepada Allah untuk lebih lagi?  Carilah Dia,  dan Dia pun akan menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Dia akan memberikan kepada anda kuasa yang baru untuk memimpin hidup mencapai misi yang telah dipercayakan-Nya kepada anda. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku mengasihi-Mu, ya Tuhan, dan aku ingin mengenal Engkau dengan lebih baik lagi. Dengan kuasa Roh Kudus-Mu transformasikanlah diriku, sehingga aku dapat hidup dalam persatuan yang lebih erat dengan Engkau dan ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil-Mu dengan lebih efektif lagi. Amin.

Cilandak, 3 Oktober 2010 [HARI MINGGU BIASA XXVII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

 

About these ads