YANG DAHULU MERUPAKAN KEUNTUNGAN BAGIKU, SEKARANG KUANGGAP RUGI KARENA KRISTUS                                        

(Bacaan Pertama Misa, Peringatan S. Karolus Borromeus, Uskup, Kamis 4-11-10 

Kitalah orang-orang bersunat yang beribadah oleh Roh Allah dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak mengandalkan hal-hal lahiriah. Sekalipun aku juga ada alasan untuk mengandalkan hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat mengandalkan pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. (Flp 3:3-8a).

Bacaan Injil: Luk 15:1-10 

Sebelum perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik, kehidupan Paulus (Saulus) merupakan sebuah model dari kesempurnaan moral dan religius Yahudi. Sejak hari-hari pertama masa mudanya, Paulus berupaya sedapat mungkin untuk menyenangkan Allah dengan mematuhi segala praktek dan hukum Yahudi yang berlaku. Pada hari ini kita mungkin dapat membandingkan kehidupan Paulus sebelum perjumpaannya dengan Kristus dengan seseorang yang didorong untuk melakukan atau memainkan peranan-peranan yang dipandang/dinilai benar – misalnya bergabung dengan paduan suara anak-anak, menjadi pelayan Misa yang rajin, aktif dalam gerakan Pramuka, top terus dalam kelas – termasuk sewaktu kuliah di perguruan tinggi, menjadi eksekutif sukses yang juga aktif dalam berbagai kegiatan gerejawi, misalnya sebagai anggota Dewan Paroki inti, Prodiakon dlsb. Yang pantas dicatat di sini adalah, bahwa apakah dia memiliki catatan prestasi yang gemilang atau tidak, tetap saja ada bahaya bahwa orang ini melakukan semua hal “benar” ini karena motivasi yang berbeda daripada mengasihi Tuhan, misalnya karena pengejaran nilai diri-sendiri dalam hal-hal yang berhasil dicapainya. Kecenderungan ini selalu ada pada diri manusia. 

Akan tetapi, pada waktu Paulus berjumpa dengan Yesus Kristus, dia belajar tentang pandangan Allah mengenai performa dan penerimaan – karena pada dasarnya nilai diri kita berasal dari kasih Yesus Kristus yang memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Sebagai akibat perjumpaannya dengan Kristus, Paulus menolak jalan hidupnya yang lama/dulu. Tujuan hidupnya setelah ‘saat sangat penting’ itu adalah: “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus” (Flp 3:8-9). Bukankah ini yang telah ditunjukkan dalam kehdiuapan para kudus seperti S. Fransiskus dari Assisi, S. Ignatius dari Loyola, S. Padre Pio dll.? Allah menerima kita sebagai “benar” bukanlah karena segala upaya kita yang baik, tetapi karena Dia mengasihi kita – suatu kasih yang diminta-Nya agar kita menaruh kepercayaan di dalamnya. Allah tidak mengukur nilai diri kita berdasarkan standar-standar penerimaan yang bersifat manusiawi. 

Tempat Kristus dalam kehidupan kita sebagai orang Kristiani bersifat sentral. Hanya Yesus Kristuslah yang signifikan. Di samping Dia tidak ada yang signifikan. Bilamana kita sungguh dipanggil oleh Kristus, kita sebenarnya diundang kepada suatu keterikatan eksklusif dengan pribadi Kristus ini. Rahmat panggilan-Nya ini menghancurkan segala ikatan legalisme. Panggilan Kristus adalah rahmat, yang mengatasi perbedaan antara hukum dan Injil-Nya. Pada hari ini marilah kita secara khusus merenungkan kenyataan bahwa Allah menerima kita sebagai benar, tidak berdasarkan apa yang kita lakukan, akan tetapi berdasarkan pada iman kita kepada Yesus Kristus. 

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu buatlah aku untuk semakin mendalami kepercayaanku kepada-Mu, semakin taat kepada sabda-sabda Yesus Kristus dalam Injil agar dapat mengenal-Nya dengan lebih dalam lagi. Semoga dengan demikian aku pun dapat bersama Paulus memproklamasikan: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malah segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku” (Flp 3:7-8). Amin.

 Cilandak, 2 November 2010 [PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads