WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-2: BEBERAPA ASPEK KITAB WAHYU 

Sebagai kelanjutan pertemuan ke-1 yang membahas latar belakang penulisan Why, maka pada pertemuan ke-2 ini akan dibahas beberapa aspek Why yang sangat perlu untuk dipahami sebelum kita mendalami pokok-pokok dalam kitab ini. Untuk itu kita akan menyoroti hal-ikhwal yang menyangkut kosa kata dan perlambangan yang digunakan dalam Why. Kemudian kita akan membahas aspek liturgis dari Why dilanjutkan dengan uraian mengenai teologi kitab ini. Akhirnya akan disajikan struktur Why yang akan digunakan sebagai panduan pembahasan selanjutnya tentang Why, khususnya dalam studi alkitab kita ini. 

KOSA KATA [1] 

Kosa kata dalam Why ini terdiri dari 870 kata Yunani yang umum dan 44 nama diri. Dari semuanya terdapat 107 kata-kata umum dan 18 nama diri yang hanya dapat ditemukan dalam Why dan tidak muncul pada kitab-kitab PB lainnya. Why membicarakan banyak sekali benda dan makhluk hidup yang kadang-kadang sulit dicari padanan katanya dalam banyak bahasa, misalnya: 

  1. Tumbuh-tumbuhan: pohon ara (6:13), daun-daun palem (7:9), pohon zaitun (11:4), menuai gandum (14:15), anggur (14:18), gandum dan jelai (6:6), minyak zaitun dan anggur (6:6).
  2. Binatang: singa (5:5), anak domba (5:6), burung nasar (8:13), macan tutul (13:2), beruang (13:2),  katak (16:13), lembu sapi dan domba (18:13), kuda (6:2; 18:13). Ada juga binatang atau makhluk khayalan seperti naga (12:3 dsj) dan binatang aneh yang muncul dari laut (13:1 dsj).
  3. Kejadian-kejadian alam: kilat dan bunyi guruh (4:5), gempa bumi (6:12), hujan es, api bercampur darah (8:7).
  4. Timbangan, ukuran dan uang: secupak gandum (6:6), sedinar (6:6), mil atau stadia (14:20), tingginya sampai ke kekang kuda (14:20),  pon/talenta (16:21).
  5. Benda-benda: kaki dian/pelita (1:12), lampu (18:23), takhta (4:2.5), gulungan kitab (5:1), tongkat besi (2:27), mahkota yang dipakai oleh raja atau seorang penakluk (4:4.10; 6:2; 9:7; 12:1; 14:14), mahkota pada makhluk aneh (12:3; 13:1; 19:12), mahkota kehidupan (2:10; 3:11), panah (6:2), pedang (1:16), kereta (9:9), baju zirah (9:9), timbangan (6:5), meterai (7:2), pendupaan emas (8:3), kunci (9:1), rantai (20:1), batu kilangan/gilingan (18:21), kilangan/gilingan besar tempat pemerasan anggur (14:19), tabut perjanjian (11:19), sabit (14:14), sehelai jubah putih (6:11), berkabung atau memakai kain kabung (11:3). Dan barang-barang yang tertulis dalam daftar yang panjang di 18:12-13.
  6. Alat-alat musik: harpa atau kecapi (5:8), seruling dan sangkakala (18:22).
  7. Batu-batuan: permata yaspis, sardis, dan zamrud (4:3), kristal (4:6), mutiara (17:4) dan permata-permata lain dalam daftar pada 21:19-20.
  8. Unsur-unsur lain: belerang (9:17), dupa/kemenyan (5:8), apsintus atau zat yang mengandung rasa pahit (8:11). 

LAMBANG-LAMBANG DAN ANGKA-ANGKA DALAM KITAB WAHYU 

Perlambangan sangat disukai dalam tulisan apokaliptik. Perlambangan memang sangat disukai dalam tulisan apokaliptik. Dalam hal Why, lambang-lambang ini dapat ditemukan dari bagian depan sampai bagian akhir kitab ini. Keberadaan lambang ini dinyatakan misalnya dalam 1:20 dan kadang-kadang maksudnya dijelaskan (5:6.8; 13:18; 17:9-18). Penggunaan lambang-lambang ini mengasosiasikan Why dengan tradisi Semit pada umumnya. Misalnya: 1Raj 11:30-32 à kain yang dikoyakkan; Yes 20:2-4 à telanjang dan tanpa kasut; Yer 13:1-11 à ikat pinggang yang menjadi lapuk; 19:1 dsj. 10 dsj à buli-buli. 

Dari sini juga tampak bahwa apokaliptik adalah kelanjutan dari tradisi kenabian dalam penggunaan lambang-lambang. Pada kenyataannya memang kebanyakan lambang yang digunakan dalam Why diambil dari tradisi kenabian yang diteruskan dalam apokaliptik. 

Sejumlah contoh lambang dalam Kitab Wahyu. Berikut ini adalah sejumlah (tidak semua) lambang yang terdapat dalam Why, baik lambang warna, lambang angka maupun lambang obyek: 

WARNA-WARNA  

  1. Pelangi (4:3) menunjukkan lambang Allah (symbol of God), kemuliaan surgawi (celestial  glory); tempat kediaman Allah (God’s dwelling).
  2. Putih melambangkan martabat (dignity) à kepala/rambut putih (1:14); kemenangan (victory) à batu putih (2:17), pakaian kain putih (3:4; 4:4), sehelai jubah putih (6:11; 7:9.13), kuda putih (19:11.14).
  3. Hitam melambangkan tragedi, fatalitas, kematian à kuda hitam (6:5), matahari menjadi hitam (6:12).
  4. Ungu dan merah tua melambangkan kemegahan/kebesaran kerajaan, kemewahan dan bahkan nafsu à 17:4. Kain ungu (18:12; 18:16).
  5. Merah melambangkan kekerasan (violence), darah (blood) dan peperangan (war) 

ANGKA-ANGKA 

  1. Angka 3 (tiga) melambangkan totalitas, Allah (kudus, kudus, kudus), Tritunggal; muncul 11 kali.
  2. Angka 4 (empat) melambangkan  universalitas (biasanya berhubungan dengan alam); muncul 29 kali.
  3. Angka 7 (tujuh) melambangkan totalitas, kesempurnaan, kepenuhan; muncul 54 kali.
  4. Angka 10 (sepuluh) (muncul 10 kali).
  5. Angka 12 (dua belas) melambangkan kesempurnaan dan mengingatkan kita akan kedua belas suku Israel dan mau mengatakan bahwa umat Allah sudah mencapai kesempurnaan akhirnya. Dalam konteks tertentu angka 12 ini mengacu kepada Gereja – Israel yang baru (dua belas rasul; lihat 21:12-14); muncul 23 kali.
  6. Angka 1.000 (seribu) muncul 6 kali pada Why 20; seringkali dalam kelipatannya.
  7. Angka 666. Ada Binatang (buas) yang diberi lambang angka 666 (13:8).
  8. Masa seribu tahun (20:2-7) adalah masa antara berakhirnya penganiayaan sampai akhir zaman. 
  9. 1260 hari (12:6), 42 bulan (11:2), satu masa dan dua masa dan setengah masa (12:14), semua menunjukkan separuh dari suatu masa tujuh tahun, dengan demikian berarti masa yang terbatas dan tidak sempurna. Allah membatasi masa para penganiaya.
  10. 144.000 orang yang murni seperti perawan (14:1-4) melambangkan jumlah yang lengkap à 12x12x1000: 12 anak Yakub, 12 suku Israel dalam Perjanjian Lama dan 12 Rasul dalam Perjanjian Baru. Dikatakan seperti perawan karena mereka tak pernah menyembah berhala-berhala kekaisaran Roma. 

OBYEK-OBYEK 

  1. Mata (1:14; 2:18; 4:6; 5:6) melambangkan pengetahuan.
  2. Mahkota (2:10; 3:11;4:10; 6:2; 12:1; 14:14) melambangkan kerajaan dan kekuasaan.
  3. Jubah putih (6:11; 7:9.13 dsj; 22:14) melambangkan dunia kemuliaan.
  4. Palem (7:9) adalah lambang kemenangan.
  5. Perempuan (12:1-2) melambangkan jemaat (umat Allah) dan juga Maria, yang membawa serta Mesias, sang Pembebas.
  6. Naga atau si ular tua (12:3.9) adalah si Iblis atau si Jahat, kuasa kejahatan yang bekerja di dunia.
  7. Tujuh kepala (12:3) adalah tujuh bukit kota Roma (17:9) atau tujuh raja (17:9-10).
  8. Tanduk (5:6; 12:3): tanduk adalah tanda kekuasaan raja (17:12); angka sepuluh menunjukkan kepenuhan kekuasaan ini.
  9. Sayap  (4:8) berbicara mengenai mobilitas; kapasitas untuk berada di mana saja.
  10. Kedua sayap dari burung nasar (12:14) menunjukkan perlindungan Allah atas umat-Nya (Ul 32:1; Kel 19:4).
  11. Binatang (buas) (13:1) melambangkan kekaisaran Roma, kekuatan yang mewujudkan kejahatan, dia yang mengurus urusan si Naga.
  12. Binatang yang bertanduk dua seperti anak domba dan berbicara seperti seekor naga (13:11) melambangkan nabi-nabi palsu yang mengabdikan diri pada kekaisaran Roma. Mereka memberi pengajaran yang membenarkan kekuasaan kekaisaran Roma, sehingga pengertian seperti itu tertanam dalam pikiran orang-orang.
  13. Macan tutul, beruang dan singa (13:2) adalah lambang-lambang kekejaman dan eksploitasi.
  14. Anak Domba (14:1) adalah Yesus, sang Anak Domba Paskah yang dengan darah-Nya membebaskan orang.
  15. Babel (14:8; 18:2) adalah Roma, yang mengeksploitasi rakyat untuk meningkatkan kekayaannya sendiri.
  16. Anak Manusia (14:14) adalah Yesus Kristus, diambil dari nabi Daniel (Dan 7:13).
  17. Harmagedon (16:16) melambangkan kekalahan pasukan musuh, diambil dari kitab Zakharia (12:11).
  18. Lautan api (20:14) melambangkan “nasib” dari siapa saja yang menentang Rencana Allah.
  19. Kematian yang kedua (20:14) adalah kematian dari kematian itu sendiri. Pada akhirnya yang tinggal hanyalah Kehidupan.
  20. Yerusalem yang baru (21:1) melambangkan umat Allah yang baru.
  21. Perjamuan kawin Anak Domba (19:9) melambangkan kemenangan dan pesta perjamuan kebersatuan semua manusia dengan Allah pada akhirnya.
  22. Alfa dan Omega (21:6) adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam bahasa Yunani. Huruf-huruf itu melambangkan awal dan akhir. 

Perlambangan lain yang digunakan adalah jungkir baliknya alam: matahari, bulan, bintang berubah; bumi bergetar; di atas bumi terjadi hal-hal yang bertentangan dengan yang terjadi sehari-hari. Yang ingin dinyatakan dalam lambang-lambang ini adalah kehadiran Allah, khususnya dalam sejarah yang terus berjalan. 

Secara umum dapat dikatakan, bahwa perlambangan yang digunakan dalam PL juga dipakai dalam Why: langit adalah tempat kediaman Allah yang menyatakan transendensi-Nya; bumi adalah tempat tinggal manusia; dunia bawah adalah tempat berakarnya kejahatan, yaitu Iblis atau Satan sendiri. Perlambangan dalam apokaliptik dimaksudkan untuk menyatakan bahwa begitu dalam misteri  yang mau diungkapkan, sehingga tidak dapat didefinisikan. Kebenaran adikodrati yang ingin diungkapkan juga dikemukakan dengan cara-cara lain. Pewahyuannya (revelasinya) hanya dapat dilakukan melalui campur-tangan Roh Kudus, yang memenuhi diri (merasuki) Yohanes (1:10; 4:2). Segala sesuatu dinyatakan kepadanya melalui penglihatan (vision;visi) (54x). Kecuali itu juga malaikat (67x) akan selalu campur-tangan dan memberikan penjelasan-penjelasan kepada sang pelihat (visioner). Untuk itu sang pelihat dapat dibawa ke padang gurun (17:3) atau ke puncak sebuah gunung (21:10). 

ASPEK LITURGIS 

Awal dan akhir Why  membingkai kitab itu dalam suatu setting liturgis: Kata sapaan yang sangat Kristiani, charis dalam 1:4 “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu dari dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang …”; diulang lagi dalam 22:21 “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian!Amin”. Keseluruhan Why cukup banyak diserapi dengan acuan-acuan kepada liturgi. 

Liturgi Israel berpusat di sekitar peristiwa Keluaran dengan mana benih Abraham menjadi umat Allah, seperti kesaksian yang diberikan sang pemazmur  (Mzm 78; 80; 105; 106; 114; 136. Sejalan dengan itu liturgi Gereja Allah berpusat di sekitar peristiwa karya penebusan Kristus. Hal ini muncul sepanjang Why, dalam bentuk madah/kidung: 1:4-7; 4:8.11; 5:9-14; 7:9-17; 11:15-18; 12:10-12; 15:2-4; 19:1-8. Perhatikanlah juga seruan Amin yang mengiyakan semua itu (lihat 1:7; 5:14; 7:12; 19:4). “Haleluya” – seruan untuk memuji Allah – termuat dalam 19:1.3.4.6. Beberapa pengakuan iman yang standar  muncul kembali, misalnya bahwa Kristus telah menebus kita melalui darah-Nya. “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (22:20) adalah seruan yang digunakan oleh komunitas ketika memulai kebaktiannya. Doa liturgis dari Gereja yang sujud menyembah Allah dan menderita di muka bumi diproyeksikan ke dalam liturgi surgawi, misalnya: 

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan” (4:1).

“Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa…” (5:9). 

Pater John J. Scullion SJ mencatat, bahwa kedua liturgi tersebut diikat bersama dan keduanya bersifat kosmis (lihat keseluruhan Why 5). Menurutnya, perikop 21:22- 22:5  juga mengingatkan kita kepada liturgi Hari Raya Pondok Daun. Hari Raya Pondok Daun adalah perayaan pengucapan syukur bagi Israel atas hasil panen. Hari raya ini adalah satu dari tiga hari raya utama umat Israel; hari-hari raya lainnya adalah Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta). Perayaan Hari Raya Pondok Daun diselenggarakan selama tujuh hari, dimulai pada hari kelima belas bulan yang ketujuh sebagai peringatan akan zaman pengembaraan umat Israel di padang belantara (Im 23:33-44; bdk Ul 16:13-17). Dalam perayaan ini Bait Allah terang benderang karena korban api-apian kepada TUHAN. Ada tari-tarian oleh orang-orang saleh diiringi oleh bunyi-bunyian dari berbagai alat musik tradisional Israel. Sementara itu nyanyian-nyanyian ziarah dikidungkan oleh umat Israel (lihat Mzm 120-134). Di pagi hari umat berprosesi menuju kolam Siloam, menimba air dan membawa kembali air itu ke Bait Allah dan dituang ke atas mezbah (altar) bersama percikan air anggur. Dalam Yerusalem Baru seperti digambarkan dalam Why, Bait Allah adalah Allah sendiri dan Anak  Domba; Allah adalah terang, Anak Domba adalah lampu. Tidak hanya Israel, semua bangsa juga datang untuk menyembah. Air tidak ditimba dari kolam Siloam, melainkan mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba ke jalan-jalan di kota. 

Surat-surat kepada ketujuh gereja, tanggapan-tanggapan liturgisnya serta madah/kidung yang terdapat dalam banyak bagian Why menunjukkan bahwa semua itu mungkin dimaksudkan sebagai bagian-bagian kitab untuk dibacakan dalam sidang-sidang (kebaktian) jemaat  (JJS, hal. 1270). Malah ada seorang pakar yang mengatakan, bahwa Why secara eksplisit dimaksudkan untuk dibacakan (secara publik) dalam suatu liturgi (1:3), mungkin sekali dalam suatu liturgi Ekaristi. Perayaan ibadat surgawi yang dapat dilihat oleh mata dan telinga Yohanes penulis Why, kemudian disusul oleh perayaan-perayaan liturgi lainnya sepanjang bukunya. Di sinilah dimensi transendensi yang merupakan salah satu ciri tulisan apokaliptik, mengambil bentuk ibadat surgawi. Hal ini merupakan suatu aspek eskatologi dari Why yang khas, karena Anak Domba dihadirkan dalam ibadat surgawi. Karena Anak Domba itu muncul dalam bagian Why yang menggambarkan ibadat surgawi, maka Dia menjadi bagian dari struktur dunia sekarang, karena selalu ada interaksi antara  yang bersifat surgawi dan hal-hal di dunia. Ibadat mempersatukan yang surgawi dan hal-hal yang di dunia, dan yang disembah dalam ibadat adalah Dia yang duduk di takhta, yaitu sang Anak Domba. Suara nyanyian dalam ibadat di  atas muka bumi bercampur indah-merdu dengan suara puji-pujian dalam ibadat surgawi. Yohanes penulis Why mengatakan: 

Lalu aku mendengar semua makhluk yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi dan di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata, “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (5:13). 

Jiwa-jiwa para martir berseru dengan suara nyaring kepada sang Penguasa yang kudus dan benar (6:9-10) 

TEOLOGI KITAB WAHYU 

Why membaca sejarah dunia nyata dalam terang pandangan iman. Artinya seluruh peristiwa yang terjadi itu ditempatkan dalam rencana penyelamatan Allah. Pada dasarnya yang ada di latar belakang adalah pandangan dualistik : sejarah dilihat sebagai peperangan antara kekuatan positif melawan kekuatan negatif. Peperangan itu sendiri terjadi di dunia dalam tingkat manusia. Dan sejarah umat manusia inilah yang menjadi perhatian utama Why. Namun sebenarnya realitas itu jauh mengatasi tingkat menusiawi: ada kekuatan jahat yang semakin muncul, dalam berbagai macam tingkatan wujudnya dan seringkali dikedepankan dengan lambang-lambang binatang; di pihak lain ada malaikat-malaikat yang ikut campur tangan dalam sejarah menjadi pengantara-pengantara antara Allah dan manusia dalam peperangan terus-menerus melawan kekuatan jahat. 

Peperangan antara dua kekuatan ini memunculkan peristiwa-peristiwa yang dramatis yang terus berlangsung dalam waktu yang tanpa batas. Peperangan ini akan berakhir dengan kemenangan yang tampaknya tiba-tiba bagi kekuatan baik. Inilah ciri apokaliptik yang hakiki. Kemenangan akhir dikaitkan dengan tokoh mesianis yang biasanya disebut “Anak Manusia”. Ide ini tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang baku, tetapi harus harus dibaca kembali, diperdalam dan diterapkan dalam kenyataan sekarang yang berubah-ubah. Pembaca harus pandai-pandai membuat jembatan dari lambang (teks) agar dapat sampai pada isi dan penerapan. Dengan demikian apokaliptik pada umumnya dan Why pada khususnya tetap penting dalam pengembangan teologi dan kehidupan Kristiani. 

Tema-tema teologi yang terkandung dalam Why sesungguhnya sama dengan yang terdapat dalam semua tulisan PB. Yang memberi ciri khusus kepada Why adalah pandangan-pandangan mengenai Allah, Kristus, Roh Kudus dan Gereja. Beberapa gagasan pokoknya adalah seperti berikut ini: 

Allah 

Dalam Why ada bermacam-macam gelar yang diberikan kepada Allah. Dari gelar-gelar itu, akan terlihatlah pandangan Why tentang Allah. 

  1. Allah. Gelar ini seringkali digunakan tanpa tambahan apa-apa (65x), mempunyai arti umum seperti Allah (TUHAN,[YHWH], Elohim) dalam PL. Harus dicatat, bahwa konteks bersangkutan mungkin juga memberi nuansa khusus (bdk 1:1.9; 2:7; 3:14; 5:6.9.10; 8:2.4;; 9:13; 11:16).
  2. Tuhan Allah, Yang Mahakuasa (1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7.14; 18:8; 19:6.15; 21:22; 22:5.6). Gelar ini juga berakar dalam PL walaupun tidak sama dengan gelar “Tuhan, Allah bala-tentara” (lihat IS, hal. 21). Yang mau diungkapkan di sini ialah kekuatan ilahi yang akan menghancurkan segala macam rintangan. Kekuatan ini ini dinyatakan oleh Allah dalam sejarah penyelamatan, khususnya pada saat-saat yang sulit.
  3. Kudus. Allah adalah kudus (4:8; 6:10), tetapi sifat ini juga dapat dikaitkan dengan yang lain. Kristus adalah kudus (3:7), demikian juga para malaikat (14:10), orang-orang Kristiani (8:3.4; 11:18; 13:7.10; 14:12), Yerusalem (11:2; 21:2.10). Namun ada kata lain yang hanya diperuntukkan bagi Allah, yaitu suci (Yunani: hosios, bukan hagios) dan hanya dipakai dua kali, yaitu dalam 15:4 dan 16:5. Yang diungkapkan adalah keadilan mutlak, kesetiaan dan ketetapan hati Allah yang tidak pernah berubah dalam rencana penyelamatan-Nya.
  4. Adil. Gelar ini berkaitan dengan pribadi Allah (16:5) atau jalan-jalan-Nya (15:3) dan penghakiman-Nya (16:7; 19:2). Keadilan ini menegakkan kembali keseimbangan yang goyah karena pergumulan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
  5. Yang duduk di atas takhta. Gelar ini mengungkapkan kuasa-Nya atas segala sesuatu (6:16; 7:10 dsj).
  6. Bapa Kristus. Ini adalah ungkapan yang selalu diucapkan oleh Kristus (1:6; 2:28; 3:5.21; 14:1). Kristus adalah Anak (Putera) Bapa surgawi dalam arti yang paling dalam. Namun Allah, Bapa Kristus yang mempunyai hubungan dengan orang-orang Kristiani, yang adalah imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya (1:6). Kristus akan mengakui nama mereka di hadapan Bapa-Nya (3:5). Pada dahi mereka tertulis nama Bapa-Nya (14:1).
  7. Allah-Ku. Ini diucapkan oleh Kristus (3:2.12) yang mengungkapkan adanya saling-berhubungan yang riil dan berdaya-cipta antara Bapa dan Kristus.
  8. Allah kita  (12:10; 19:1.6; 21:3). Ungkapan ini kiranya berhubungan dengan perjanjian, tetapi juga mengungkapkan kepemilikan pribadi orang-orang Kristiani oleh Allah yang mengatasi hubungan kontrak atau perjanjian (bdk 21:3).
  9. Hidup (4:9.10; 7:2; 10:6; 15:7). Ungkapan ini sejalan dengan pandangan PL, Allah yang hidup mengatasi tingkat manusiawi dan setiap keterbatasan waktu. 

Apabila semuanya dirangkum, maka dapat dikatakan bahwa Allah adalah Dia yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (1:4; 4:8; 11:17 dan 16:5). Artinya, Allah yang berkuasa atas seluruh sejarah. Dengan demikian proses penyelamatan Allah sedang berjalan terus, berkembang dengan mengalahkan kekuatan jahat dalam segala macam bentuknya. Akhirnya, apabila segala musuh sudah dikalahkan, Allah akan membaharui segala-galanya dan akan menyertai jemaat yang sudah Ia selamatkan (Yerusalem) dang masing-masing orang yang percaya (bdk 21:7.22 dsj). 

Kristus 

Teologi tentang Kristus (Kristologi) dalam Why sangat kaya dan mendalam. Gelar-gelar yang digunakan untuk Kristus dalam Why banyak yang bersifat khas. 

  1. Yesus (1:9; 12:17; 14:12; 17:6; 19:10; 20:4; 22:16). Begitu seringnya nama ini digunakan menunjukkan perhatian besar akan Yesus historis, atau mungkin lebih baik penekanan hubungan dengan pribadi Yesus.
  2. Yesus Kristus (1:1.2.5; 22:21); Kristus (11:15; 12:10; 20:4-6). Gelar (2) ini digunakan untuk menunjukkan ke-mesias-an-Nya. Kadang-kadang konteks (bdk 11:15; 12:10) lebih menrincinya dan menunjukkan bahwa Kristus yang bersatu dengan Allah, memiliki kerajaan.
  3. Tuhan, Raja: Yesus Tuhan (22:20-21), Tuhan (11:8; 14:13), Tuan di atas segala Tuan dan Raja di atas segala raja (17:14; 19:16). Gelar-gelar ini seringkali mempunyai ciri liturgis (bdk 22:20.21) tetapi biasanya menyatakan kuat-kuasa Kristus yang tidak dapat ditahan melawan kekuatan-kekuatan musuh (bdk 17:14; 19:16).
  4. Anak Domba. Mungkin ungkapan ini diambil dari Kitab Keluaran (Kel) dan Kitab Yesaya (deutero-Yesaya). Kristus disebut Anak Domba Paskah yang dibunuh (5:6.12), dimuliakan (5:6) dan sesudah mengalahkan musuh-musuh-Nya Dia naik ke takhta Allah (6:1.16; 7:9.10.11.15.17). Gelar ini digunakan sebanyak 29 kali.
  5. Seperti Anak Manusia (1:13; 14:14). Walaupun pada dasarnya mirip dengan gelar Kristologis yang ada dalam kitab-kitab Injil, gelar yang terdapat dalam Why ini tidak berasal dari kitab-kitab Injil itu, melainkan langsung dari kitab Daniel (7:13) yang konteksnya adalah pemuliaan dan penghakiman. Ciri-ciri yang dimiliki Allah sekarang diterapkan pada diri Kristus.
  6. Firman Allah (19:13). Ini adalah nama yang menyatakan keagungan dan transendensi Kristus, khususnya ditempatkan dalam konteks dinamis pemenuhan sejarah penyelamatan Allah.
  7. Anak (Putera) Allah (2:18). Kristus disebut Anak Allah dalam arti yang sepenuhnya, seperti halnya Allah disebut Bapa Kristus.
  8. Yang Benar (3:7; 6:10; 19:11). Gelar ini yang paling jelas mengungkapkan peranan kesaksian Kristus.
  9. Yang Kudus (3:7). Gelar ini menunjukkan bahwa Kristus berasal dari Allah.
  10. Yang Hidup (1:18). Ini adalah sebutan yang khas untuk Allah, yang diberikan kepada Kristus karena kebangkitan-Nya.
  11. Yang Pertama dan Terakhir, Alfa dan Omega (1:17; 2:8; 22:13). Gelar yang dipakai untuk menyebut Allah ini (1:8; 21:6) diberikan kepada Kristus yang karena misteri Paskah ditunjukkan sebagai awal dan akhir sejarah penyelamatan.
  12. Saksi yang setia (1:5; 3:14 bdk 19:11). Kristus adalah Saksi yang setia akan rencana penyelamatan Allah. Dalam arti ini, Kristus juga disebut Amin (3:14).
  13. Yang Berkuasa atas raja-raja bumi (1:5). Gelar ini menunjukkan bahwa Kristus berada di atas segala kekuatan yang melawan Allah, yang memang tampil dalam yang disebut kerajaan-kerajaan bumi (1:15; 6:15; 17:2.18; 18:3.9; 19:19; 21:24). Lihat juga gelar Raja di atas segala raja (17:14; 19:16). Gelar-gelar ini untuk menunjukkan kuasa Kristus yang bersifat mutlak.
  14. Singa dari suku Yehuda (5:5). Gelar ini mengungkapkan kepenuhan harapan mesianis dalam garis Daud (bdk 3:7; 22:16). Kuasa mesianis ini berasal dari misteri Paskah.
  15. Yang pertama bangkit dari antara orang mati (1:5). Kristus adalah yang pertama bangkit dalam urutan anak-anak Allah yang bangkit.
  16. Yang memiliki ketujuh Roh Allah (3:1). Kata-kata keterangan ini mengkungkapkan keunggulan Kristus, bahkan atas malaikat-malaikat yang berada di hadapan takhta Allah (4:5). Keunggulan ini bersifat dinamis: Kristus mengutus ketujuh Roh Allah itu ke seluruh dunia (5:6). Mungkin lebih baik memahaminya sebagai Kristus yang mengutus Roh dalam berbagai karya yang berbeda-beda.
  17. Bintang Timur yang gilang-gemilang (22:16; 2:28). Yesus yang bangkit adalah bintang timur yang gilang-gemilang, yang bersinar dalam hati orang-orang yang percaya (bdk 2Ptr 1:19). 

Sintese Kristologi. Pengungkapan kristologi yang bersifat sintetis terutama terdapat dalam penglihatan awal (1:12-20):

  • Kristus yang wafat dan bangkit, memiliki semua sifat Allah (1:13 dsj),
  • Ia hidup dalam dan demi Gereja,
  • Ia memegang dan memimpin serta menuntun Gereja berjalan ke depan (1:12.16),
  • Ia menghakimi Gereja dengan firman-Nya,
  • Ia membersihkan Gereja dari dalam (Why 1-3),
  • Ia membantu Gereja untuk menentukan sikap dan hubungannya dengan berbagai kekuatan musuh dalam sejarah.
  • bersama-sama dengan Gereja, Ia mengalahkan kekuatan-kekuatan itu dan menjadikan Gereja mempelai (Why 4-21),
  • dengan demikian Kristus naik ke takhta Allah dan mewujudkan kemenangan yang  ia peroleh berkat kebangkitan-Nya dalam sejarah Gereja,
  • dalam arti ini Ia adalah Anak Domba, gelar yang khas digunakan dalam bagian kedua Why. 

Roh Kudus 

Teologi tentang Roh Kudus (pneumatologi) dalam Why kelihatannya tidak sangat teratur. Namun kalau berbagai data yang ada dikumpulkan, maka kiranya dapat disusun suatu gagasan yang menarik (lihat IS, hal. 25). 

Seperti dalam PL, Roh itu milik Allah. Roh itu ada di hadapan-Nya (tujuh roh yang ada di hadapan Allah; 1:4; 4:5). Roh Allah yang menyatakan diri dalam berbagai macam wajah merupakan kekuatan ilahi dan bekerja dalam panggung sejarah manusia (4:5; 5:6). Kekuatan ialhi itu merasuk ke dalam diri penulis Why (1:10; 17:3; 21:10), memberikan kehidupan sehingga orang-orang bangkit (11:11). 

Roh yang merupakan daya atau kekuatan ilahi yang bekerja dalam sejarah umat manusia itu milik Kristus. Kristus mempunyai tujuh roh (3:1), artinya roh dalam keutuhannya, dan mengutusnya ke dunia (5:6). 

Sebagai yang diutus ke dunia, Roh itu menyatakan diri dan bekarya sebagai pribadi dan disebut Roh (Kudus). Roh itu menjadi nyata dalam hubungannya dengan Gereja: Roh itu menyatakan (14:13), berbicara terus-menerus kepada gereja-gereja (2:7.11.17.29; 3:6.13.22), menjiwai Gereja sebagai mempelainya dan mendukungnya dalam penantian akan akhir zaman (22:6). 

Gereja 

Berikut ini adalah uraian mengenai teologi tentang Gereja (ekklesiologi) yang ada dalam Why: “Allah mewahyukan dan menyatakan diri-Nya dalam Kristus, saksi yang setia. Kristus mengutus Roh yang diterima dalam Gereja. Inilah karya penyelamatan Allah yang terus berlangsung (IS, hal. 26). 

Penulis Why mengenal kata “gereja” (Yunani: Ekklesia) yang diartikannya sebagai jemaat setempat, di tempat tertentu (lihat 2:1 dst.). Kata ini juga digunakan dalam bentuk jamak (lihat 22:16; jemaat-jemaat). Kalau demikian lingkupnya menjadi lebih umum. Ketujuh jemaat di Asia (1:4.11.20) sebenarnya adalah seluruh Gereja yang tidak mengenal batas-batas geografis tertentu (IS, hal. 26). Pater Edwin Daschbach SVD mengatakan, bahwa angka tujuh melambangkan totalitas atau kesempurnaan. Karena itu, kalau penulis Why mengatakan bahwa dia mengirimkan pesannya kepada tujuh gereja di provinsi Asia (1:4), maka sesungguhnya dia mengirimkan pesannya itu kepada seluruh Gereja (ED, hal. 10-11). Ilustrasi dari Romo John Tickle mendukung pendapat ini dengan baik: 

Tujuh jemaat (gereja) kepada siapa surat-surat ini dialamatkan membentuk sebuah lingkaran yang hampir sempurna di bagian dunia yang sekarang adalah Turki modern. Yohanes (sang penulis Why) dapat saja menulis kepada siapa saja di bawah matahari. Akan tetapi, karena secara geografis kota-kota ini membentuk sebuah lingkaran yang hampir sempurna, maka dia menggunakan fakta ini untuk melambangkan bahwa pesannya adalah untuk Gereja universal (JT, hal. 29). 

Pandangan yang berbeda, misalnya dari Raymond E. Brown (REB, hal. 782) akan dibahas dalam kesempatan lain. 

Ada beberapa lambang yang digunakan oleh penulis Why untuk mengungkapkan jati-diri Gereja:

  • Gereja adalah persekutuan liturgis dan Kristus hadir di tengah-tengahnya (lihat ungkapan “ketujuh kaki dian emas à 1:20; 2:1);
  • Gereja, yang berada di dunia, mempunyai dimensi adikodrati (ungkapan “malaikat dari ketujuh jemaat à 1:20);
  • Gereja, yang sekaligus adalah surgawi dan duniawi di tengah-tengah penganiayaan yang dialaminya, harus menyatakan Kristus (ungkapan “perempuan bermahkota matahari à 12:1 dsj);
  • Gereja adalah umat Allah dalam arti yang terdapat dalam PL baik dalam tahap peziarahannya maupun sampai titik terakhirnya.
  • Gereja adalah Yerusalem duniawi (Why 11) dan surgawi (21:1 – 22:5) yang didirikan di atas rasul-rasul Anak Domba (21:14).
  • Gereja itu dihubungkan dengan Kristus dalam ikatan kasih yang tidak dapat diputuskan karena Gereja adalah mempelai (21:2.9; 22:17). 

Dalam dua lambang ini – kota dan mempelai – kita temukan sintesis pandangan mengenai Gereja (21:2 à seperti pengatin perempuan; 21:9-10 à pengantin perempuan – kota): Gereja dihubungkan dengan Kristus oleh kasih yang tidak boleh ditinggalkan bdk 2:4) dan harus berkembang terus (3:20) dengan menghapuskan hal-hal yang negatif dalam hidupnya sendiri. Ini menyangkut hidup pribadi orang-orang beriman. Namun Gereja juga adalah kota: mempunyai ciri sosial yang harus terus berkembang dengan menyingkirkan halangan-halangan dari luar. 

Apabila proses ganda ini sampai pada  kesudahannya, pada waktu itu dan baru pada waktu itu akan terjadi sintesis di antara keduanya: Gereja “kudus”, “dicintai”, mempelai yang mampu mencintai, akan menjadi kota yang tidak dapat dicemarkan oleh apa pun. Inilah tahap sejarah yang paling akhir. 

STRUKTUR 

Sebagian besar buku/tulisan tentang tafsir Why membagi isi Why menjadi dua garis besar, yaitu surat-surat kepada tujuh gereja (jemaat) pada bab 2-3, dan penglihatan pada bab 4-22. Di bawah ini adalah garis besar Why yang agak singkat, namun dapat membantu pembaca melihat adanya serangkaian penglihatan yang semakin meningkat sampai mencapai klimaks atau puncaknya dalam penglihatan adanya langit yang baru, bumi yang baru dan Yerusalem yang baru. 

Pembukaan ………………………………………………………………………. 1:1-20 

  • Kata Pembukaan ………………………………………………………..   1:1-3
  • Salam …………………………………………………………………………   1:4-8
  • Penglihatan Permulaan ……………………………………………….. 1:9-20 

Surat kepada tujuh gereja (jemaat) ……………………………….. 2:1 – 3:22

 Pesan kepada Jemaat di Efesus …………………………………………..      2:1-7

  • Pesan kepada Jemaat di Smirna ………………………….………… 2:8-11
  • Pesan kepada Jemaat di Pergamus .…………………………….    2:12-17
  • Pesan kepada Jemaat di Tiatira …………………………………… 2:18-29
  • Pesan kepada Jemaat di Sardis …………………………………… 3:1-6
  • Pesan kepada Jemaat di Filadelfia …………………………….    3:7-13
  • Pesan kepada Jemaat di Laodikia ………………………..……    3:14-22 

Penglihatan tentang hal-hal yang akan terjadi ………….  4:1 – 22:5

  • Penampakan di Surga ………………………………………………  4:1-5 – 5:14
  • Tujuh Meterai …………………………………………………………    6:1 – 8:1
  • Tujuh Sangkakala …………………………………………………..    8:1 – 11:19
  • Naga dan Anak Domba ………………………………………….   12:1 – 14:20
  • Perempuan dan Naga ……………………..………………………  12:1-18
  • Dua binatang (buas) dari Dalam Laut .……………………..   13:1-18
  • Selingan: Tiga Penglihatan ………………………………………   14:1-20
  • Tujuh Cawan …….…………………………………………………….  15:1 – 16:21
  • Kehancuran Babel, Kekalahan Binatang (buas) dan Nabinya  dan kejatuhan Iblis ………………………………………………………    17:1 – 20:10
  • Penghakiman Terakhir, Langit yang Baru, Bumi yang Baru dan Yerusalem Yang Baru …………………………………………..     20:11 – 22:5 

Kesimpulan Akhir ………………………………………………………     22:6-21

 PERTANYAAN-PERTANYAAN 

  1. Jelaskan dengan singkat intisari dari teologi dalam Why!
  2. Jelaskan dengan singkat intisari dari kristologi dalam Why!
  3. Jelaskan dengan singkat intisari dari pneumatologi dalam Why!
  4. Jelaskan dengan singkat intisari dari ekklesiologi dalam Why!
  5. Dengan pengandaian bahwa anda sudah membaca Why secara menyeluruh sebelum pertemuan ke-2 ini, dapatkah anda memberikan konfirmasi bahwa memang terdapat unsur “harapan” dalam tulisan apokaliptik seperti Why?
  6. “Karena perbedaan waktu dan tempat serta pengalaman, besar kemungkinan pembaca zaman modern tidak dapat memahami arti semua penglihatan yang terdapat dalam Why. Sebagai manusia zaman modern kita biasanya tidak berpikir dengan cara berpikir orang-orang Kristiani abad pertama. Oleh karena itu kalau kita mau menemukan makna dalam Why, maka kita harus membacanya dengan menggunakan “mata orang-orang zaman kuno” itu. Kita harus membayangkan diri kita sendiri dalam dunia orang-orang Kristiani perdana, selagi kita mencoba untuk menggali “harta kekayaan” yang terpendam dalam kitab ini.”  Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda!  

DOA PENUTUP PERTEMUAN 

Tuhan Yesus, berkatilah kami dengan kuasa-Mu yang mulia, agar kami dapat selalu memancarkan sinar terang kasih dan damai-Mu kepada dunia. Semoga semua orang datang sehingga mengenal-Mu dan jalan-Mu. Semoga melalui penyembahan dan puji-pujian kami kepada nama-Mu, Kaucurahkan rahmat dan sukacita ke dalam segenap ciptaan-Mu. Kami mempersembahkan kepada Dikau segala pujian dan hormat selama-lamanya. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Ada bermacam-macam penafsiran terhadap kitab Wahyu ini: sebagian mengatakan bahwa hal-hal yang dibicarakan di dalamnya menunjuk kepada kejadian-kejadian waktu lampau; sebagian lagi mengatakan bahwa kitab ini membicarakan hal-hal yang terjadi mulai dari saat kitab ini ditulis sampai akhir zaman. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa semuanya berkaitan dengan akhir zaman yaitu hari kiamat. Semua penafsiran ini tergantung pada bagaimana cara seseorang memahami apa yang tertulis dalam 1:19 dan 20:1-8. Di samping itu ada juga yang menganggap bahwa kitab Wahyu ini hanyalah berisi alegori atau lambang-lambang saja, tidak ada hubungannya dengan sejarah kehidupan manusia. Namun sekarang anggapan ini sudah tidak terlalu banyak didukung. Apapun anggapan yang muncul terhadap kitab ini, ………………………Yohanes sebagai penulis kitab ini, menekankan bahwa semua yang ia gambarkan di dalam kitabnya ini akan terjadi segera (1:4; 22:7.10.12.20). [ PEDOMAN PENAFSIRAN ALKITAB: WAHYU KEPADA YOHANES, hal. 2].


[1] Pembahasan tentang kosa kata ini menggunakan PPAWY sebagai sumber utamanya.

About these ads