YESUS KRISTUS ADALAH RAJA SEMESTA ALAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESSTA ALAM, Minggu 21-11-10) 

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekrang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, “Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, “Inilah raja orang Yahudi”.

Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang lain menegur dia, “Tidakkah engkau takut kepada Allah, sebab engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:35-43).

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5; Bacaan Kedua:  Kol 1:12-20. 

Dalam banyak kebudayaan kuno, seorang raja diharapkan untuk bertindak sebagai seorang pengantara (mediator) antara para dewa-dewi dan rakyatnya. Mediasinya membawa berkat-berkat damai bagi kerajaannya, dan di sisi lain mendatangkan kekuasaan dan kekayaan bagi diri-Nya. Martabat raja Yesus bukanlah seperti itu! Yesus dilahirkan dari seorang ibu sederhana yang adalah istri seorang tukang kayu, hidup dalam kemiskinan, dan Dia dihukum mati di kayu salib sebagai seorang penjahat besar, berdasarkan dakwaan-dakwaan yang sangat tidak adil. 

Yesus melakukan mediasi/pengantara antara ‘seorang” Allah yang benar dan segenap umat-Nya, namun Ia melaksanakan fungsi-Nya sebagai raja dalam kerendahan hati dan kedinaan. Ia tidak pernah meninggikan diri-Nya sendiri; Dia tidak pernah menggunakan kuasa-Nya untuk memperoleh keuntungan pribadi-Nya sendiri. Yesus juga tidak pernah melakukan perjalanan misi-Nya sambil duduk di sebuah kereta emas. Dia malah memasuki kota Yerusalem – yang dikenal sebagai kota raja – dengan “lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za 9:9). Hampir semua raja di dunia ditunggui oleh para pelayan yang berpakaian rapi dan bersih. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Pada perjamuan terakhir, Dia malah membasuh kaki para murid-Nya (lihat Yoh 13:17). 

Tidak ada bukti lain yang lebih kuat tentang martabat Yesus sebagai seorang raja, daripada ketika Dia tergantung pada kayu salib, diolok-olok, dicemoohkan oleh orang-orang yang sebenarnya mau diselamatkan lewat kedatangan-Nya ke dunia. Di sana, di bukit Kalvari, walaupun di tengah-tengah penderitaan yang sungguh luarbiasa menyakitkan, Yesus mengungkapkan bahwa diri-Nya adalah sang “Juru Kunci”, satu-satunya pemegang kunci ke dalam Kerajaan Surga. Sebagai pemegang kunci, Yesus berbicara kepada penjahat yang bertobat dengan kata-kata yang memang hanya dapat diucapkan oleh seorang anggota keluarga Kerajaan Surga: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43). 

Hari ini adalah hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi C ini – sebuah tahun yang sebenarnya didedikasikan kepada Roh Kudus. Minggu depan kita akan mulai Masa Adven dan mengalihkan padangan kita kepada Bapa surgawi. Pada hari ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar kita diperkenankan mendapat suatu pernyatan Yesus yang lebih mendalam. Yesus Kristus sebagai sang Raja! Marilah kita  bersembah sujud di hadapan takhta Yesus – salib-Nya – dalam adorasi dan dengan penuh rasa syukur. Ia telah menyelamatkan kita dari dosa dan Dia telah membuka pintu firdaus bagi kita. Kita adalah para warga kerajaan Allah. Tidak ada satu pun atau siapa pun yang dapat merampas kita dari martabat agung kita sebagai anak-anak Allah. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang ke dunia dalam kelemah-lembutan dan kerendahan hati serta kedinaan sebagai seorang pelayan. Walaupun Engkau seorang Raja yang agung –   “Raja segala raja” – Engkau mengenal kami masing-masing secara sempurna dan Engkau mengasihi kami masing-masing secara penuh dan lengkap. Kami meninggikan Engkau dan menyembah Engkau senantiasa, ya Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Cilandak, 14 November 2010 [HARI MINGGU BIASA XXXIII (Th. C)] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads