DI DALAM KASIH TIDAK ADA KETAKUTAN  

(Bacaan Pertama Misa Kudus, hari biasa sesudah Penampakan Tuhan,  Selasa 5-1-11) 

Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1Yoh 4:11–18).

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,10-13; Bacaan Injil: Mrk  6:45-52 

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh 4:18). 

Mengapa kita semua berjuang dalam kehidupan ini dengan begitu banyak ketakutan? Kadang kala, ketakutan dapat mencengkeram kita sampai kita merasa lumpuh tak berdaya. Allah ingin agar kita mengetahui bahwa segala rasa takut berasal dari pandangan atau pemahaman yang terbatas tentang kasih-Nya. Sekarang, marilah kita bayangkan cerita tentang para murid Yesus dalam perahu yang terombang-ombing di tengah danau karena angin sakal yang hebat, kemudian menjadi sangat ketakutan sambil berteriak-teriak karena mengira Yesus yang sedang berjalan di atas air itu hantu (lihat Mrk 6:45-52). Jelas perilaku para murid ini disebabkan karena mereka tidak memahami siapa Yesus sebenarnya. 

Seperti para rasul/murid Yesus itu, kita pun mempunyai rasa takut. Misalnya, kita takut  terhadap kematian, penderitaan, kemiskinan, kehilangan orang yang kita cintai, dan kegagalan. Bahkan, kita juga takut bahwa dosa kita, kelemahan kita atau kegagalan-kegagalan kita di masa lampau dapat menyebabkan Allah berhenti mengasihi kita. Pada akar banyak ketakutan kita, terletaklah asumsi-asumi duniawi yang mendasari nilai dan martabat kita atas apa yang kita lakukan, bukan atas siapa kita sebenarnya dalam Kristus. Bukanlah sesuatu yang tidak biasa untuk menghukum kegagalan – dan kadang kala sengat serta kepahitan dari hukuman sedemikian tinggal dalam diri kita untuk jangka waktu yang sangat lama. 

Sebaliknya, Roh Kudus ingin agar iman kita berkembang dan Dia ingin menunjukkan kepada kita kasih Allah yang sempurna dan melimpah bagi kita. Kita aman dalam Dia, kita tidak perlu merasa takut. Allah Bapa telah memberikan Putera-Nya yang tunggal kepada kita – Yesus Kristus – untuk keselamatan kita yang bersifat kekal-abadi.(lihat 1 Yoh 4:14). Dia berada dalam kita melalui Roh Kudus, memberikan kepada kita rasa percaya penuh keyakinan, sukacita, dan kekuatan untuk menghadapi segala macam perjuangan hidup. Ia ingin memperlengkapi kita dengan karunia-karunia-Nya agar kita tidak perlu takut lagi, melainkan dengan penuh sukacita menanggapi panggilan yang telah diberikan-Nya kepada kita. 

Manakala rasa takut mengancam diri kita, baiklah kita mengingat-Nya dengan penuh syukur, bahwa Allah itu kekal-abadi dan mahasempurna. Dia baik, Dia adalah sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kehendak-Nya bagi kita dapat memenuhi diri kita dan memberikan damai-sejahtera kepada kita, bukan seperti kehampaan yang ditawarkan oleh dunia yang menekankan kekuasaan, kekayaan dan pencapaian prestasi duniawi. Allah sangat dapat dipercaya, dan rencana-rencana-Nya untuk kita sungguh besar adanya. Hanya Dia yang dapat memenuhi diri kita secara sempurna. Kasih-Nya dapat mencakup semua kebutuhan fisik (faali) dan spiritual kita sementara kita belajar menyerahkan hati kita kepada-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan kasih-Mu pada hari ini. Bersama ini aku membawa kepada-Mu, ya Bapa, seluruh ketakutanku, karena aku tahu bahwa Engkau mempunyai kuasa untuk menyembuhkan satu-persatu rasa takutku itu. Aku menaruh iman-kepercayaanku dan rasa percayaku dalam Engkau dan kehendak-Mu yang mahasempurna bagi hidupku. Amin.

Cilandak, 31 Desember 2010 [ARI KETUJUH DALAM OKTAF NATAL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads