8 Januari 2011 

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Perihal: KERENDAHAN HATI YESUS DAN PEMBAPTISAN-NYA DI SUNGAI YORDAN. 

Besok hari Minggu, malah mulai Sabtu senja ini, Gereja merayakan “Pesta Pembaptisan Tuhan”. Pada Tahun Liturgi A ini, bacaan-bacaan Kitab Suci Misa Kudus adalah Yes 42:1-4,6-7 (Bacaan Pertama); Kis 10:34-38 (Bacaan Kedua) dan Mat 3:13-17 (Bacaan Injil), sedangkan Mazmur Tanggapan diambil dari Mzm 29:1-4,9-10. 

Sejak awal sejarahnya, manusia telah menyakiti hati Allah. Sang Pencipta, dengan dosa-dosa, dan sampai hari inipun hal ini masih berlanjut. Oleh karena itu manusia memang sangat membutuhkan penebusan dari dosa-dosanya itu. Yesus sendiri bebas dari dosa (lihat Ibr 4:15), namun Ia tahu bahwa seorang Mesias adalah Penebus, yang harus menanggung sendiri dosa-dosa manusia itu. Dengan demikian tindakan pertama Yesus dalam kehidupan publiknya adalah suatu tindakan kerendahan hati (an act of humility),  Ia turun ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dari tindakan pertama ini, setiap tindakan Yesus selanjutnya diarahkan kepada penyelesaian penebusan umat manusia. Kematian Yesus Kristus di kayu salib, yang dibuat hadir dalam bentuk roti dan anggur dalam Misa, merupakan kulminasi dari suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kerendahan hati yang luarbiasa. 

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit  terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengar suar a dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:16-17).  Demikian juga kiranya apa yang dikatakan Bapa surgawi pada saat setelah pembaptisa kita. Inilah yang penting, bukan apa yang dipikirkan/dikatakan orang-orang lain tentang diri kita atau bahwa apa yang mungkin kita pikirkan tentang diri kita sendiri. 

Walaupun Allah berfirman bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih dan kepada-Nya Dia berkenan, Yesus tidak mengambil kata-kata Bapa itu sebagai alasan bagi-Nya untuk menghindarkan diri dari atau menolak berhubungan dengan para pendosa. Yesus bersabda: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17; bdk. Mat 9:12;  Luk 5:31). Oleh karena itu, meskipun jelas Yesus tahu bahwa “reputasi”-Nya dapat rusak karena “ulah”-Nya, Dia tidak pernah ragu untuk “bersahabat” dengan perempuan-perempuan yang  dicap sebagai pendosa dalam masyarakat. Yesus membiarkan kaki-Nya dibasahi dengan air mata, diseka dengan rambut, dicium, lalu diminyaki dengan minyak narwastu oleh seorang perempuan pendosa (lihat Luk 7:38). Ia masuk ke ke rumah Zakheus, seorang kepala pemungut pajak, dan makan bersamanya (lihat Luk 19:1-10). Yesus duduk bersama di sumur Yakub dengan seorang perempuan Samaria berdosa dan memberitakan kabar keselamatan kepada perempuan itu (baca Yoh 4:1-42). Banyak lagi contoh yang dapat dikemukakan. Dengan demikian “reputasi”-Nya dalam masyarakat, teristimewa di mata “orang-orang terkemuka/ terhormat” rusaklah sudah. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sudah jauh-jauh hari memvonis Yesus dan para murid-Nya melakukan sesuatu yang “haram’ dilakukan oleh orang Yahudi baik-baik: “makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa” (lihat Mrk 2:16; Mat 9:11; Luk 5:30). 

Demikian pula halnya dengan kita: Oleh baptisan, kita berkenan kepada Bapa di surga. Namun – seperti Yesus – janganlah hal ini menjadi alasan bagi kita untuk menghindarkan diri dari atau menolak berhubungan dengan para pendosa. Janganlah kita pernah merasa bahwa diri kita sebagai umat Kristiani jauh lebih baik dari banyak orang lain. Janganlah kita jatuh terjebak ke dalam sikap dan perilaku “benar sendiri” dan berpikir bahwa kta memang sedang berada dalam jalan yang benar. Yakobus mengingatkan kita dengan memetik dari Kitab Amsal: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6; bdk. Ams 3:34). 

Jikalau kita memutuskan untuk mengikuti kerendahan hati Yesus Kristus, maka ada satu hal yang harus kita lakukan. Dalam berbagai keputusan yang kita buat, kita harus berhati-hati jangan sampai pandangan/pendapat orang-orang lain malah menjauhkan diri kita dari kebenaran atau dari hal yang kita tahu seharusnya kita lakukan. Yesus memang dapat saja menyelamatkan diri-Nya sendiri dari kematian di kayu salib, namun hal itu berarti mengkompromikan kebenaran dan panggilan-Nya, yaitu untuk menebus umat manusia. Banyak keputusan kita dapat baik atau buruk. Akan tetapi, kebanyakan keputusan kita itu tergantung dari apa yang ada di belakangnya. Keutamaan kerendahan hati menuntut kita untuk mengetahui aspek “mengapanya” dari keputusan-keputusan kita, artinya harus ada unsur kejujuran dalam motif-motif kita. Keprihatinan kita tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain tidak selalu berarti buruk, namun apabila hal itu menyebabkan kita melakukan hal-hal yang sudah kita ketahui salah, maka pengaruhnya buruk. Kita harus mengakui bahwa kita adalah anak-anak Allah dan Dia sungguh mengasihi kita, namun kita tidak pernah boleh menggunakan kebenaran itu sebagai suatu alasan untuk memalingkan muka dari orang-orang yang sudah diberi label (malah dihakimi secara tak adil) sebagai orang-orang berdosa atau mereka yang memang kita tidak senangi. 

Kematian Kristus di kayu salib, yang dibuat hadir bagi kita dalam Misa, adalah kulminasi dari suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kerendahan hati luarbiasa. Selagi kita ikut serta dalam korban Ekaristi, maka kita harus melakukannya dengan iman bahwa kita memang adalah orang-orang yang dikasihi Allah, namun kita juga harus mengakui bahwa persembahan kita akan berkenan kepada-Nya, hanya apabila kita ikut ambil bagian dalam kerendahan hati Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. 

Selamat merayakan “Pesta Pembaptisan Tuhan” dengan rendah hati. Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian. 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads