YESUS ADALAH KESELAMATAN KITA, SUMBER PENGHARAPAN DAN DAMAI-SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA  

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santo Antonius, Abas, Senin 17-1-11) 

Sebab setiap imam besar yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan kurban untuk menebus dosa-dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, melainkan dipanggil oleh Allah untuk itu, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya, “Engkaulah Anak-Ku! Engkau telah menjadi Anak-Ku pada hari ini”, sebagaimana Allah berfirman dalam nas yang lain, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut aturan Melkisedek.”

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang  taat kepada-Nya dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut aturan Melkisedek (Ibr 5:1-10).

Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Injil: Mrk 2:18-22 

Melalui rasa percaya-Nya yang total-lengkap kepada Allah, Bapa-Nya, Yesus menjadi kurban yang sempurna guna menebus dosa kita-manusia. Yesus tidak pernah goyah dalam pendirian-Nya serta tindakan-tindakan-Nya sehubungan dengan kepatuhan-Nya melaksanakan rencana Allah bagi diri-Nya. Dalam hal ini Paulus menulis: “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Dengan demikian, Yesus tidak hanya menjadi keselamatan kita, melainkan juga sumber pengharapan dan damai-sejahtera bagi kita semua. 

Di samping SALIB, kita dapat melihat HATI YESUS secara paling jelas di taman Getsemani. Apabila kita merenungkan sengsara-Nya di taman Getsemani itu, maka kita sering diingatkan akan penderitaan-Nya. Bagaimana dengan sikap “takut-Nya akan Allah”? Kiranya sikap “takut akan Allah” yang diwujudkan oleh Yesus dalam perilaku-Nya sehari-hari (teristimewa di taman Getsemani) merupakan alasan utama – kalau pun bukan alasan satu-satunya – mengapa Bapa surgawi mendengar doa Yesus dan menguatkan-Nya guna menghadapi “krisis” yang sudah menunggu-Nya. 

Yesus mengalami godaan – teristimewa di taman Getsemani – namun Dia tidak pernah berdosa (lihat Ibr 4:15). Dia begitu mengasihi Bapa-Nya dan menjunjung tinggi kehendak Bapa-Nya. Suatu pengabdian seorang Putera sejati yang bersifat total-lengkap, sehingga ketidak-taatan bukanlah merupakan sebuah opsi (pilihan) bagi diri-Nya. Yesus lebih memilih sengsara, olok-olok dan cemoohan yang menyakitkan, kesalah-pahaman dlsb., daripada memisahkan diri-Nya dari (kehendak) Bapa-Nya. Justru karena disposisi yang begitu indah, maka Yesus – sang Anak Domba Allah – mampu untuk menjadikan diri-Nya kurban persembahan yang sempurna untuk menebus dosa-dosa kita. 

Kita diampuni dan dibersihkan dari dosa-dosa kita karena ketundukan penuh ketaatan dari Yesus kepada Bapa-Nya. Karena Dia menjadi kurban persembahan yang sempurna untuk penebusan dosa-dosa kita, maka Yesus telah membuat kita “pantas” untuk berdiri di hadapan Bapa surgawi dan menerima setiap rahmat dan berkat yang memang dirindukan-Nya untuk dicurahkan atas diri kita. Semakin kita memahami kebenaran ini, semakin penuh kepercayaan kita untuk datang menghadap Allah dan menaruh kehidupan kita dalam tangan-tangan-Nya. 

Besok, tanggal 18 Januari, kita akan memulai “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani”. Kita semua harus turut serta mensukseskan pekan doa sedunia ini. Untuk itu kita harus mengingat lagi disposisi Yesus di hadapan Bapa-Nya. Allah menginginkan kita semua untuk menjadi satu sebagai sebuah keluarga di bawah nama-Nya (lihat Ef 3:15). Selagi kita menyerahkan hati kita kepada-Nya dan percaya akan perhatian-Nya kepada kita semua, maka melalui Roh Kudus-Nya Dia akan membuat hati kita lemah-lembut. Dia akan memberdayakan kita untuk hidup seperti Yesus dulu hidup di dunia, yaitu ketertundukan diri yang penuh hormat dan dalam kasih bagi semua orang. Selagi kita semakin dekat dengan HATI YESUS, kita akan merasakan suatu cintakasih  bagi semua orang Kristiani, kasih yang sama seperti yang ditunjukkan Yesus bagi mereka dan semua orang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu. Satukanlah aku dengan hati-Mu, agar aku dapat mengasihi semua saudari dan saudaraku dengan kasih yang Kaumiliki bagi diriku. Kumpulkanlah seluruh anggota keluarga-Mu di bawah NAMA-Mu yang mulia. Amin.

Cilandak, 10 Januari 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads