YESUS MENGUTUS KITA SEPERTI ANAK DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Rabu 26-1-11) 

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9).

Bacaan Pertama: 2Tim 1:1-8 atau Tit 1:1-5; Mazmur Tanggapan: 96:1-3,7-8,10 

Siapakah ketujuh puluh murid yang diutus oleh Tuhan Yesus itu? Kita tidak mengetahui nama-nama mereka, pekerjaan mereka, atau kota asal mereka. Kita bahkan tak tahu berapa lama dan berapa jauh mereka telah mengikuti Yesus. Namun para anggota gereja awal ini sungguh diberdayakan oleh Roh Kudus dan dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik. Sungguh suatu keistimewaan bahwa mereka diutus oleh Yesus dan dilengkapi dengan sabda dan kuasa-Nya, untuk menuai panenan jiwa-jiwa bagi Kerajaan Allah. 

Yesus bersabda, “Tuaian memang  banyak, tetapi pekerja sedikit” (Luk 10:2). Hari ini, sama seperti pada masa Yesus, tuaian tetap banyak dan para pekerja tetap sedikit. Yesus ingin mengutus kita, seperti Dia telah mengutus para murid tanpa nama ini, untuk menunjukkan cinta kasih-Nya dan membangun Kerajaan-Nya. Akan tetapi, bagaimana kita dapat yakin bahwa kita mampu melakukan pekerjaan yang sama seperti yang mereka lakukan? Memang banyak yang dituntut dari pekerja di ladang Tuhan, apabila pekerjaan mereka diharapkan efektif. Mereka harus mengosongkan diri dan memperkenankan diri mereka dipenuhi dengan Kristus. Hati mereka harus diperbesar dan diperdalam, agar dengan demikian kehadiran Allah dapat memenuhi diri mereka. Yohanes Pembaptis benar sekali ketika dia berkata tentang Yesus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). 

Sesungguhnya Yesus memerintahkan umat Kristiani untuk berdoa kepada Allah agar ada rasul-rasul yang penuh semangat dan juga suci: “Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Luk 10:2). Walaupun tuaian banyak, malah berlimpah, dan Tuan pemilik tuaian telah mengirimkan para pekerja untuk tuaian itu, musuh-musuh manusia selalu sibuk bekerja untuk memperdaya kita, dan mereka selalu merupakan bahaya riil yang terus menerus mengancam pekerjaan baik dari para pelayan Allah (ingat 1Ptr 5:8). Pengejaran, penganiayaan, kekecewaan, bahkan kematian juga dapat menanti-nanti para murid Tuhan sejati yang sedang giat-giatnya melayani-Nya. Oleh karena itu Yesus memperingatkan kita, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10:3). Dengan kata-kata ini, Tuhan Yesus yang adalah sang Hikmat itu sendiri, menjelaskan panggilan Kristiani kita. 

Panggilan kita itu adalah panggilan yang penuh sukacita dan juga  kesedihan, panggilan yang mengandung keberhasilan namun juga kegagalan, panggilan dengan panenan berlimpah namun dipenuhi juga dengan serigala-serigala yang siap memangsa domba-domba yang kurang waspada. Sesungguhnya, hal sedemikian telah menjadi sejarah Gereja Kristus, sebagaimana telah dinubuatkan sendiri oleh-Nya. Kita bergembira melihat keberanian dan cintakasih yang telah ditunjukkan oleh para pelayan Allah sepanjang sejarah, namun kita juga merasa sedih kalau melihat kemasabodohan, ketiadaan kemauan, penolakan, kebencian, bahkan kekejaman yang telah ditunjukkan oleh mereka yang menentang anak-anak Allah. Kita bersukacita melihat penyebaran Kerajaan Kristus di atas bumi ini, untuk semua hal baik yang dibawa serta didorong oleh iman dan kasih Kristus. Kita bersedih hati melihat masih begitu banyak orang yang tetap buta dan bersikap adem-ayem saja terhadap berita tentang penebusan mereka. Semua ini adalah paradoks yang merupakan misteri-misteri Kristiani, misteri kebebasan manusia dan kelemahan manusia, dan misteri cara Allah berelasi dengan manusia. 

Pada hari ini Gereja menghormati Santo Timotius dan Titus, rekan sepelayanan Santo Paulus. Timotius adalah seorang anak laki-laki dari seorang ayah Yunani dan seorang ibu Yahudi yang saleh, dan dia lebih muda dari Paulus. Dia ikut dengan Paulus dalam perjalanan misionernya yang kedua, membantu Paulus mendirikan gereja di Filipi dan menjadi pemimpin gereja di Efesus (lihat Kis 16:1-5; 1Tim 1:3). Titus adalah salah seorang pembantu paling terpercaya dari Paulus, dan memegang peranan penting dalam gereja-gereja di Korintus dan Kreta (lihat 2Kor 8:16,23; Tit 1:5). Mereka menjadi orang-orang kudus bukanlah karena mereka manusia-manusia sempurna, melainkan karena mereka berdua memiliki hati yang mengasihi Yesus. Kita tidak perlu menjadi seorang orator hebat untuk mewartakan Kabar Baik. Yang kita masing-masing butuhkan adalah sebuah hati yang masih dapat diajar/dibentuk – sebuah hati yang mengasihi Kristus dan memiliki keinginan tulus untuk melayani Dia dalam diri orang-orang yang kita temui setiap hari. 

DOA: Tuhan Yesus, bentuklah hatiku agar menjadi hati yang sungguh mengasihi-Mu dan siap melayani-Mu dalam diri orang-orang yang kutemui setiap hari. Tuhan, utuslah aku. Amin. 

Catatan: Tentang Bacaan Pertama (2Tim 1:1-8), bacalah tulisan yang berjudul JANGANLAH MALU BERSAKSI TENTANG TUHAN tanggal 26 Januari 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: BACAAN HARIAN JANUARI 2010.

Cilandak, 24 Januari 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads