MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V, Jumat 11-2-11)

[HARI ORANG SAKIT SEDUNIA; PERINGATAN SP MARIA DARI LOURDES]]

Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN (YHWH) Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mreka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah YHWH Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap YHWH Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (Kej 3:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7; Bacaan Injil: Mrk 7:31-37 

“Kamu akan menjadi seperti Allah” (Kej 3:5). Mendengar ocehan ular ini, maka mata Hawa pun menjadi berbinar-binar karena antisipasi yang ditimbulkan oleh kata-kata si ular itu. “Barangkali temannya yang baru ini (ular) benar juga. Barangkali Tuannya (YHWH) mencoba untuk menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Ada sesuatu yang baik, yang dapat mengangkatnya ke suatu tingkat yang lebih tinggi – menjadi seperti Allah! Apa salahnya kalau dengan memakan buah itu dia dapat menjadi seperti Allah? Buah itu sendiri terlihat bagus dan baik, tentunya tidak akan menyusahkan dirinya kalau dia makan sepotong saja. 

Kasihan si Hawa! Mengapa dia sampai berpikir seperti tadi? Dia telah diciptakan indah, baik, innocent, tetapi memang tidak/belum sempurna. Allah ingin agar Hawa bertumbuh menjadi serupa dengan diri-Nya dengan mempercayai kasih-Nya yang sempurna kepada dirinya. Sayang sekali – bagi Hawa dan kita semua – Hawa tidak percaya kepada kebaikan Allah dan malah mempercayai si ular pendusta. Keinginan Hawa untuk larut dalam percakapan dengan si ular pendusta mengungkapkan suatu tingkat ambivalensi terhadap Allah. Hawa belum yakin bahwa Dia yang telah menciptakannya dan memberikan segalanya yang baik adalah kebaikan yang mutlak. Ternyata kita pun – turunan Adam dan Hawa – telah jatuh sebagai mangsa dari desepsi yang fatal ini. 

“Mengapa aku harus melakukan segala sesuatu seturut jalan Allah?” “Apakah yang salah dengan ide-ideku sendiri yang orisinal?” “Apa ruginya kalau aku melakukan eksplorasi sejumlah filsafat dunia? Mungkin sekali hal itu akan membantuku untuk mencapai tujuan hidupku.” “Cara-cara Allah berjalan begitu lambat dan penuh dengan penyangkalan-diri. Mengapa aku harus melepaskan diriku dari sesuatu yang kelihatan baik bagiku?” Itulah sedikit contoh dari pemikiran manusia, yang mengabaikan hikmat sang Pencipta dan lebih menyukai janji-janji palsu dari si ular pendusta. Memang ini adalah pengkhianatan tragis dari manusia atas kepercayaannya pada Allah. 

Bagaimana kita membalikkan keadaan yang buruk ini? Langkah pertama yang harus kita ambil adalah melakukan pertobatan, karena selama ini kita telah mencari kepuasan di luar rencana Allah bagi kita – ketidaktaatan kita, cinta-diri kita, kecanduan akan uang, kecanduan akan kekuasaan, kecanduan nafsu dll. Langkah kedua, kita harus mohon kepada Allah agar Dia menyatakan diri-Nya kepada kita: kasih-Nya, belas kasihan-Nya. Allah sedang menantikan kita untuk kembali kepada-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada kita secara baru betapa dalam dan dapat dipercayanya kasih-Nya bagi kita semua. 

DOA: Bapa surgawi, hanya Engkau saja yang baik dan pantas kukasihi. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku. Cerahkanlah hatiku dengan segala kekayaan hikmat-Mu. Tolonglah aku untuk hanya menaruh seluruh kepercayaanku kepada-Mu. Terpujilah Engkau, ya Allahku. Amin. 

Catatan: Tulisan berkenan dengan bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37) dapat dibaca di blog SANG SABDA ini; judul: “IA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK” tanggal 12 Februari 2010; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

Cilandak, 3 Februari 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads