JALAN SALIB [1] 

Imaji Yesus yang tersalib, baik dalam bentuk gambar maupun salib dengan corpus, barangkali menimbulkan rasa “ngeri” bagi banyak orang, namun seseorang dengan kesederhanaan yang inosen seperti seorang anak kecil dapat memandang Dia yang tersalib itu melampaui kekejaman salib itu sendiri. Dia dimampukan untuk melihat kasih yang diungkapkan dari/oleh salib itu. 

Kasih inilah yang sebenarnya kita rayakan manakala kita berdoa “Jalan Salib”. Dalam devosi “Jalan Salib” ini kita tidak hanya memperingati peristiwa-peristiwa yang terjadi sekitar 2.000 tahun lalu. Kita masuk ke dalam penderitaan “sengsara Kristus” untuk mengalami bagaimana Dia memberikan hidup-Nya dan mencurahkan kasih-Nya sehabis-habisnya demi pengampunan dosa kita-manusia. 

Asal-usul Devosi Jalan Salib

“Jalan Salib” (Bahasa Inggris: Stations of the Cross atau Way of the Cross) merupakan salah satu bentuk devosi tertua dalam Gereja. “Jalan Salib” memberi ikhtisar (lewat  berbagai gambar/lukisan atau imaji lainnya seperti patung-patung) dari rute yang dijalani Yesus Kristus pada waktu memanggul salib menuju tempat penyaliban-Nya. Kapan sesungguhnya devosi ini berawal-mula tergantung pada apa saja yang membentuk praktek “Jalan Salib” itu. Apabila “Jalan Salib” dipandang sebagai ikhtisar dari beberapa tempat suci di Yerusalem yang secara spesifik dikaitkan dengan jam-jam terakhir Kristus, maka ada beberapa bangunan (gereja dan biara monastik) di Eropa yang mencoba untuk melakukannya. Yang paling tua adalah gereja San Stefano di Bologna dari abad ke-5, walaupun ini dapat dinilai sebagai kasus yang berdiri sendiri. 

Praktek kesalehan para peziarah ke Tanah Suci. Kelihatannya devosi “Jalan Salib” berawal-mula dalam praktek kesalehan para peziarah ke Tanah Suci yang mengunjungi situs-situs/tempat-tempat di mana Yesus pernah hidup, menderita sengsara dan bangkit dari antara orang mati. Antara lain, para peziarah itu akan mengunjungi Golgota dan kubur Yesus, keduanya kemudian “dimasukkan” ke dalam Gereja yang dikenal sebagai “Church of the Holy Sepulchre” (Gereja Makam Suci).  Para peziarah merasakan adanya sesuatu yang penuh kuat-kuasa ketika benar menyentuh tempat di mana Yesus wafat dan bangkit. 

Suster Egeria. Pada tahun 1884, di dalam perpustakaan salah satu biara monastik di Arezzo, Italia, sebuah dokumen berbahasa Latin yang menggambarkan sebuah perjalanan ziarah ke Tanah Suci berhasil ditemukan. Baik awal maupun akhir dari dokumen tersebut sudah hilang, juga dua halaman bagian tengahnya. Susunan tulisan mengindikasikan bahwa tulisan ini adalah sepucuk surat yang ditulis oleh seorang perempuan pada akhir zaman kuno, namun sayangnya nama sang penulis dan detil-detil pengidentikasian lainnya sudah tidak dapat ditemukan. Pada abad ke-20, berbagai komparasi dengan manuskrip-manuskrip lainnya dan juga petikan-petikan dari dokumen-dokumen historis lainnya membantu mengidentikasikan penulis sebagai suster (biarawati) yang bernama Egeria, yang sebelumnya adalah seorang perempuan kaya keturunan Spanyol yang berziarah ke Tanah Suci pada akhir abad ke-4. Selama perjalanan ziarahnya, Egeria mengunjungi Mesir dan Sinai, mengunjungi tempat-tempat suci yang terletak di Tanah Suci dan Siria, bahkan dia tinggal beberapa tahun di Yerusalem (381-384). 

Salah satu bagian yang paling menarik dari surat Egeria ini adalah yang menggambarkan liturgi di Yerusalem dan lingkaran liturgi dari tahun Kristiani. Secara mendetil Egeria mencatat upacara-upacara yang dilaksanakan di Yerusalem, doa-doa dan prosesi-prosesi yang ada. Tak lupa dia mencatat pengalamannya pribadi pada waktu berpartisipasi dalam semua hal itu. Pada hari Minggu awal pekan suci (sekarang dikenal sebagai hari Minggu Palma), misalnya, sang selebran akan membacakan kisah alkitabiah tentang kebangkitan Tuhan. Egeria menulis: “Ketika pembacaan di mulai, terdengarlah suara semua orang mendesah, merintih serta mengerang, dengan begitu banyak linangan air mata karena Tuhan telah menanggung penderitaan bagi kita”. Kemudian pada hari Jumat Agung, “emosi yang ditunjukkan dan rasa duka semua orang pada setiap pelajaran dan doa sangatlah indah; karena tidak ada seorang pun, baik besar ataupun kecil, yang selama tiga jam pada hari itu tidak meratapi lebih daripada yang kita dapat bayangkan, bahwa Tuhan telah menanggung penderitaan sedemikian berat bagi kita”. 

Ziarah ke Tanah Suci. Setelah ziarah ke Tanah Suci menjadi sesuatu yang biasa dilakukan pada abad pertengahan. Praktek untuk memperingati sengsara Yesus menjadi begitu dihargai sehingga bangunan-bangunan gereja dan biara monastik di Eropa seperti dimaksudkan di atas, barangkali dengan altar-altar yang didedikasikan kepada berbagai peristiwa dalam kisah-kisah Injil, dan tempat-tempat suci di Tanah Suci menjadi lebih biasa terlihat pada abad ke-14 dan ke-15. Pada masa yang sama tercatatlah bahwa ada seorang mistikus dari negeri Jerman, Henry Suso [c.1295-1366] yang mengikuti jejak Kristus, setapak demi setapak dalam imajinasinya selagi dia memeditasikan sengsara Kristus, dengan membuat devosinya itu seakan suatu peziarahan spiritual sepanjang jalan salib-Nya. Dengan demikian orang-orang yang karena sesuatu alasan tidak dapat melakukan perjalanan ziarah yang lama dan sulit ke Tanah Suci akan dapat mengalaminya secara spiritual di tempat-tempat itu. Kira-kira dalam periode yang sama catatan-catatan mengenai perjalanan ziarah ke Yerusalem mulai berisikan acuan-acuan ke beberapa tempat/situs di Via dolorosa, rute yang diperkirakan dilewati oleh Yesus Kristus ketika memanggul salib menuju Kalvari. 

Faktor-faktor yang mendorong lebih lanjut devosi “Jalan Salib”. Pater Jude Winkler OFMConv. mengatakan bahwa ada dua peristiwa yang mendorong lebih lanjut devosi “Jalan Salib” ini. Yang pertama adalah “Perang Salib”. Perang Salib menyebabkan banyak orang melakukan perjalanan ke Tanah Suci dan lebih banyak lagi yang mendengar kisah-kisah perjalanan mereka sehingga timbullah rasa rindu untuk mengalami sendiri apa yang telah mereka dengar, walaupun hanya secara simbolis. 

Stimulus yang kedua terjadi pada tahun 1342, ketika tempat-tempat ziarah di seluruh Tanah Suci dipercayakan penanganannya kepada Ordo Fransiskan. Mereka mempersiapkan tempat-tempat penginapan yang layak bagi para peziarah dan memperoleh indulgensi-indulgensi istimewa bagi para peziarah agar supaya kunjungan mereka sedapat mungkin mempunyai makna spiritual. Mereka juga menyebar-luaskan devosi Sengsara Yesus di seluruh dunia Kristiani. 

Jadi, sejak abad ke-14 dan selanjutnya perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci di Yerusalem sudah dikaitkan dengan indulgensi-indulgensi. Pada tahun 1731 Paus Klemens XII [1730-1740], mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa orang-orang yang dengan penuh kesalehan melakukan doa “Jalan Salib” akan memperoleh indulgensi-indulgensi yang sama seperti mereka yang mengunjungi tempat-tempat suci di Tanah Suci. “Komunikasi” tentang indulgensi-indulgensi sangat membantu penyebaran “Jalan Salib” sebagai suatu devosi peopuler, di bawah perlindungan para Fransiskan. 

Yang perlu disoroti adalah karya seorang Fransiskan yang bernama Santo Leonardus dari Port Maurice (1676-1751) untuk membuat “Jalan Salib” dikenal secara lebih baik. Tercatatlah bahwa orang kudus ini mendirikan tempat devosi “Jalan Salib” di hampir 600 lokasi di Italia. Paus Benediktus XIV [1740-1758] malah mendirikan perhentian-perhentian “Jalan Salib” di Koliseum kota Roma. Devosi ini baru sampai ke negeri Inggris pada pertengahan abad ke-19, dan masuk ke Amerika Serikat pada periode yang bersamaan. Bentuk doa yang menjadi biasa diambil dari tulisan-tulisan Santo Alfonsus Liguori [1696-1787], dan satu bait dari madah Stabat Mater biasanya dinyanyikan. Akan tetapi, satu-satunya persyaratan untuk menyelesaikan devosi dan memperoleh indulgensi-indulgensi, adalah memeditasikan sengsara Kristus sambil berjalan dari satu perhentian ke perhentian lainnya. 

Para Fransiskan dan Pengaruh Mereka. Para Fransiskan memang selalu memiliki suatu rasa cinta yang mendalam pada apa saja yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian Yesus. Santo Fransiskus dari Assisi membantu mempopulerkan kandang Natal ketika dia membuat “kandang Natal hidup” di Greccio, Italia, pada tahun 1223. Ia juga sangat getol memeditasikan sengsara Yesus, bahkan menyusun sendiri “IBADAT SENGSARA TUHAN” untuk memperingati sengsara Yesus. Fransiskus melihat dalam kelahiran dan kematian Yesus, dua saat kunci ketika kemanusiaan Yesus dan kerendahan hati-Nya (kedinaan-Nya) sangat jelas terlihat. Ia melihat dalam hal-hal itu puncak penyerahan diri Yesus kepada Allah, suatu penyerahan kasih secara total. 

Santo Fransiskus begitu tergerak oleh kasih ini karena menjadi terlihat. Pada waktu di Greccio, dia begitu dibakar dengauan rasa syukur sehingga orang-orang di sekelilingnya melihat dia menggendong kanak-kanak Yesus dengan tangan-tangannya, walaupun pada waktu itu tidak ada anak kecil di kandang Natal. Demikian pula halnya ketika dia sedang berada di Gunung La Verna beberapa bulan kemudian, Fransiskus menerima stigmata, luka-luka Yesus sendiri dalam dagingnya, jadi membuat tubuhnya suatu kenangan hidup akan sengsara Yesus. Ia yang begitu mengasihi Kristus menjadi serupa dengan Dia yang dikasihinya. 

Maka, sejak awal mula, para Fransiskan telah melihat, bahwa tugas merekalah untuk mendorong devosi “Jalan Salib” dan pembuatan “kandang Natal”. Mula-mula tempat-tempat perhentian “Jalan Salib” dibuat di luar gedung gereja, namun sekitar pertengahan abad ke-17, tempat-tempat perhentian itu dibuat di dalam gedung gereja. Pada kenyataannya, para Fransiskan sedemikian diidentifikasikan dengan devosi “Jalan Salib”, sehingga sampai belum lama berselang mereka lah yang diberikan privilese untuk memberkati tempat-tempat perhentian “Jalan Salib” yang baru didirikan/dibuat. 

Perkembangan selanjutnya. Tadi dikatakan, bahwa catatan-catatan perjalanan ziarah ke Yerusalem pada abad ke-14 mulai berisikan acuan-acuan pada beberapa tempat tertentu di sepanjang Via dolorosa. Dalam catatan Felix Fabri yang dibuat pada tahun 1480 ada cerita bahwa Santa Perawan Maria sampai hari kematiannya mengikuti tahapan-tahapan yang sama dari ziarah Yerusalem yang dilakukan para peziarah di abad ke-15, suatu rute yang sebagian ditentukan oleh lokasi dari tempat ziarah yang dikenal sejak abad ke-4, sebagian seperti ditetapkan oleh otoritas Turki yang menguasai kota Yerusalem, dan sebagian oleh para Saudara Dina Fransiskan, yang bertindak sebagai pemandu ke tempat-tempat suci, dengan harapan agar para peziarah itu ke luar dari Yerusalem secepat mungkin sehingga tidak mengganggu hubungan kerja mereka dengan orang-orang Turki tersebut. Pada masa catatan perjalanan ziarah Felix Fabri, beberapa insiden yang nantinya membentuk “Jalan Salib” yang modern telah ada: titik awalnya adalah Gereja Makam Suci dan titik akhirnya di Kalvari; sudah ada cerita mengenai kain pengusap Veronika, cerita mengenai Simon dari Kirene yang dipaksa untuk membantu Yesus memanggul salib; Yesus terjatuh karena beratnya salib, dan perjumpaan Yesus dengan para perempuan dari kota Yerusalem. 

Seorang peziarah dari negeri Inggris yang bernama William  Wey mengunjungi Yerusalem pada tahun 1458 dan sekali lagi empat tahun kemudian. William Wey ini menggunakan kata “Perhentian-perhentian” (Inggris: Stations) untuk tempat-tempat yang dikunjunginya di dalam kota, dan tidak menggunakan istilah itu untuk tempat-tempat lain di Tanah Suci yang lain, bahkan yang berlokasi di dekat Yerusalem, yang juga dikunjunginya. 

Pada akhir abad ke-15 beberapa peristiwa yang pernah terjadi di sepanjang Via dolorosa telah berhasil diidentifikasikan, dan dinamakan “perhentian-perhentian”. Martin Ketzel yang melakukan perjalanan ziarahnya di sekitar tahun 1468, dan kemudian mengulangi perjalanannya di kemudian hari karena dia telah lupa akan jarak yang pasti antara awal perjalanan dan akhirnya, mempunyai serangkaian ukiran yang dibuat sebelum akhir abad itu dan dia menempatkannya di Nuremberg. Ada tujuh buah ukiran: (1) Yesus berjumpa dengan ibu-Nya [Perhentian IV]; (2) Simon dari Kirene [Perhentian V]; (3) Perempuan-perempuan Yerusalem [Perhentian VIII]; (4) Veronika [Perhentian VI]; (5) Yesus terjatuh [Perhentian III?]; (6) Yesus tergeletak di tanah di bawah kayu salib [Perhentian VII atau IX?]; (7) Yesus diturunkan dari salib dan diletakkan di pangkuan/tangan Maria [Perhentian XIII]. Ketujuh ukiran ini secara populer dikenal sebagai “tujuh kejatuhan”. Rangkaian perhentian-perhentian ini seringkali dikopi pada abad ke-16, meskipun peristiwa-peristiwa yang digambarkan berbeda-beda dari set yang satu ke set yang lain. 

Michael Walsh (Dictionary of Catholic Devotions) memperkirakan, bahwa versi “Jalan Salib” sebagaimana yang kita kenal sekarang berasal dari Jan van Paesschen, Prior para biarawan Karmelit di Malines. Buku karangan Jan van Paesschen yang berjudul “Perjalanan Spiritual” (Inggris: The Spiritual Pilgrimage) diterbitkan di Louvain pada tahun 1563, setelah kematian pengarangnya sekitar 20 tahun sebelumnya. Buku ini disusun seturut perjalanan ziarah ke (dan balik dari) Tanah Suci sepanjang satu tahun lamanya. Setiap hari disertai dengan meditasi dan penggambaran peristiwa yang terjadi pada hari bersangkutan. Sementara pembaca secara mental berada di Yerusalem, Jan van Paesschen mengajaknya berjalan sepanjang jalan salib, menyebutkan nama-nama perhentian menurut susunan yang sekarang kita kenal. Jan van Paesschen menambahkan detil-detil yang berkaitan dengan jarak antara satu perhentian dan perhentian selanjutnya, rincian-rincian mana tidak diambil dari rute di Yerusalem melainkan dari patung-patung yang didirikan di Louvain pada tahun 1505 seperti ditulis oleh Martin Ketzel. 

Karya Jan van Paesschen dipakai oleh Adrichomius dalam sebuah buku berjudul “Yerusalem pada masa Kristus” (Inggris: Jerusalem at the Time of Christ), yang diterbitkan pada tahun 1584. Ternyata buku Adrichomius ini jauh lebih populer daripada buku Jan van Paesschen sendiri. Baik Jan van Paesschen maupun Adrichomius tidak pernah berkunjung ke Yerusalem, dan catatan-catatan mereka tidak cocok dengan perjalanan ziarah sepanjang rute ke Kalvari seperti ditunjukkan kepada para peziarah oleh para Saudara Dina Fransiskan yang mengurusi tempat-tempat suci di sana. Pada abad ke-16 mereka (para Fransiskan) membuat buku-buku panduan perjalanan sendiri yang disusun dengan hati-hati, namun pada abad ke-17 pengaruh Adrichomius bertumbuh, dan para Fransiskan itu menyesuaikan catatan-catatan peristiwa yang tradisional dengan catatan Adrichomius. 

(Bersambung) 

Sumber: (1) Matthew Bunson, “Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY”, Huntington, Indiana: Our Sundary Visitor, 1995; (2) Danit Hadary-Salomon (Project Editor), “Egeria in the Holy Land” & “The Great Week – A Day Planner”, dalam “2000 YEARS OF PILGRIMAGE TO THE HOLY LAND”, Petah Tikva, Israel: Alfa Communication, 1999, hal. 38-39; (3) Michael Walsh, “DICTIONARY OF CATHOLIC DEVOTIONS”, San Francisco, California: HarperSanFrancisco, 1993, hal. 250-252; (4) Fr. Jude Winkler OFMConv., “A Look at the Stations of the Cross, the WORLD among us, Lent 2004, hal. 66-70. 

Cilandak, 4 April 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads