DI MANA DUA ATAU TIGA ORANG BERKUMPUL DALAM NAMA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional, 4-9-11) 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20)

Bacaan Pertama: Yeh 33:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-7,8-9; Bacaan Kedua: Rm 13:8-10 

“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Sungguh sebuah gambaran yang indah: Yesus sendiri akan hadir bersama kita apabila kita berkumpul bersama dalam Nama-Nya, syering iman kita kepada-Nya dengan saudari-saudara kita lainnya. Akan tetapi, sesungguhnya yang menghibur hati kita adalah lebih daripada sekadar gambaran yang indah.  Ini adalah suatu kebenaran mendalam yang menantang kita. Apabila Yesus berada di tengah-tengah kita, pesan apa yang tersirat dari peristiwa itu berkaitan dengan cara yang seharusnya kita pakai dalam memperlakukan saudari-saudara kita satu sama lain? 

Berkumpul “dalam nama Yesus Kristus” tidak sekadar berarti berkumpul bersama seperti menghadiri reuni keluarga atau makan bersama keluarga yang dilakukan secara mingguan. Allah ingin agar kita memandang semua orang dalam Gereja sebagai anggota-anggota keluarga kita sendiri, saudari dan saudara yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Inilah makna sebenarnya dari keberadaan Gereja Universal, juga makna sesungguhnya dari sebuah paroki. Dengan mensyeringkan kehidupan kita bersama dengan Yesus di tengah-tengah kita, kita dipanggil untuk mengasihi dan melayani satu sama lain, untuk saling memperhatikan kesejahteraan satu sama lain. 

Fokus pada relasi kekeluargaan ini berada pada jantung ajaran-ajaran Yesus  tentang bagaimana menolong seorang saudari atau saudara yang telah menjauhkan diri dari Tuhan Yesus. Yesus tidak memberikan kepada kita seperangkat SOP, aturan-aturan prosedural dan sejenisnya tentang bagaimana berurusan dengan “domba-domba yang hilang”. Yesus menggambarkan suatu falsafah, suatu sikap (kata kerennya: attitude) yang diperlukan dalam kita berhubungan satu sama lain. Falsafah yang dimaksud adalah memandang setiap anggota Gereja sebagai bagian dari keluarga kita sendiri. 

Dari waktu ke waktu kita berada dalam suatu situasi di mana kita dapat membantu seseorang yang sudah meninggalkan Allah untuk kembali. Dalam situasi-situasi seperti ini, Allah ingin agar kita memandang orang lain itu sebagai seseorang yang telah diciptakan untuk akrab dengan diri-Nya – dan dengan keluarga-Nya. Ia ingin memberikan kepada kita hati-Nya sendiri yang penuh kasih kepada orang itu sehingga kita pun akan memperlakukan mereka dengan belas kasih yang sama seperti yang kita telah terima daripada-Nya. Hanya kasih Allah-lah yang dapat membimbing kita dalam berelasi satu sama lain dengan sesama kita. Hanya kasih-Nyalah yang dapat mengubah kehidupan kita, lingkungan kita, komunitas kita, paroki kita, dan seluruh Gereja sedemikian rupa sehingga mengisi dunia dengan rasa takjub akan kuat-kuasa kasih Kristiani. 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memanggil kami menjadi anggota keluarga-Mu sendiri. Ajarlah kami masing-masing untuk menemui keluarga-keluarga kami, rekan-rekan kerja kami, teman-teman kami, kerabat-kerabat kami, tetangga-tetangga kami dan anggota-anggota komunitas kami, warga-warga lingkungan dan paroki kami dengan cara yang mempersatukan kami semua dalam kasih, rasa hormat dan damai-sejahtera. Amin. 

Cilandak, 14 Agustus 2011 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads