Archive for November, 2011

PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Jumat 25-11-11) 

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33)

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk saat kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

Kita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG POHON ARA” (bacaan untuk tanggal 25-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 14 November 2011[Peringatan S. Nikolaus Tavelic, imam dkk. & martir-martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA

ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam, Kamis 24-11-11)

FSGM: Hari Berdirinya Tarekat; OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute [+1420] 

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Dan 6:12-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:68-74 

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat”  (Luk 21:28).

Bagaimana Yesus dapat mengharapkan kita untuk memberi tanggapan terhadap pergolakan di akhir zaman dengan penuh keyakinan dan pengharapan? Dalam menghadapi penderitaan, peperangan, dan berbagai bencana alam yang digambarkan oleh Yesus, penarikan/pengunduran diri dengan penuh yang diliputi ketakutan kelihatannya merupakan suatu reaksi yang lebih cocok! Bagaimana pun juga, di manakah adanya pengharapan dalam segala kesusahan yang dinubuatkan oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita dapat mempunyai pengharapan pada waktu kita melihat tanda-tanda akhir ini karena tanda-tanda tersebut juga merupakan tanda-tanda dari penebusan yang telah lama kita nanti-nantikan. Kita akan melihat “Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27)! Kita dapat yakin dan mempunyai pengharapan, karena kita tahu kita aman dalam Kristus. Darah-Nya adalah perlindungan kita terhadap si Jahat, dan Roh Kudus-Nya adalah down payment kita untuk tempat kita di surga kelak.

Kita harus mengetahui kebenaran ini sedalam-dalamnya sehingga hidup kita tidak dapat digoncangkan oleh berbagai gejolak yang berlangsung pada akhir zaman. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk “bereksperimen” dengan iman kita, situasi-situasi di mana kita dapat memegang sabda Allah seperti apa adanya dan memperhatikan Dia mengerjakan keajaiban-keajaiban bagi kita. Misalnya iman kita mengatakan, bahwa baptisan kita ke dalam Kristus telah membebaskan kita dari keterikatan pada dosa. Ketika godaan-godaan datang, kepada kita diberi kesempatan untuk datang ke kaki salib Yesus di Kalvari dan mempersatukan diri kita dengan Sang Tersalib sambil berkata “tidak” terhadap godaan-godaan tersebut. Apabila kita tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi dalam suatu situasi tertentu, kita dapat mencoba untuk memandang hal-hal yang kita hadapi dari perspektif surgawi dan memperkenankan Roh Kudus memberikan bimbingan serta hikmat-Nya kepada kita. Semakin sering kita melakukan praktek-praktek seperti ini, semakin yakin dan berpengharapan pula kita jadinya, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pada saat Yesus datang kembali kelak, setiap hal akan diserahkan kepada-Nya sebagai Tuhan. Dalam doa-doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan karunia keselamatan yang telah kita terima dalam Kristus. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus agar Ia meningkatkan kerinduan kita masing-masing untuk memandang Yesus muka-ketemu-muka. Semakin “aman” kita dalam rangkulan belas kasihan Allah, semakin keras pula kita akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabesar, Khalik langit dan bumi! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepadaku. Apa yang tidak dapat kulakukan sendiri bagi diriku, telah dilakukan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Buanglah segala rasa takut dan kekuatiran yang masih ada dalam diriku. Tidak ada keyakinan dan pengharapan lebih besar yang kumiliki daripada fakta bahwa aku tersalib bersama Yesus dan akan bangkit bersama Dia pula. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “TENTANG RUNTUHNYA YERUSALEM DAN KEDATANGAN KRISTUS” (bacaan untuk tanggal 24-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 13 November 2011 [HARI MINGGU BIASA XXXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Rabu 23-11-11) 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67 

Betapa takut tentunya para murid ketika Yesus mengatakan kepada mereka akan menderita karena ditangkap dan dianiaya! Mereka belum menyaksikan penyaliban Yesus yang disusul oleh kebangkitan-Nya, sehingga mereka belum dapat memahami bahwa dalam kerajaan Allah, penderitaan sengsara adalah jalan menuju kemuliaan (Luk 18:31-34).

Yesus sebenarnya tidak mencoba untuk membuat para murid-Nya menjadi takut, melainkan untuk menawarkan kepada mereka pengharapan. Ia mengetahui bahwa pemandangan diri-Nya yang meregang nyawa dan kemudian mati di atas kayu salib akan sangat menghancurkan hati setiap orang yang melihatnya. Namun Yesus juga tahu bahwa pada hari ketiga mereka akan memahami bahwa penderitaan dan kematian-Nya memang diperlukan. Bapa surgawi tidak meninggalkan Dia yang sudah merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya dan penuh ketaatan pada kehendak Bapa sampai mati di atas kayu salib. Santo Paulus menulis: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa!’” (Flp 2:9). Yesus juga meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka pada saat-saat mereka membutuhkan bantuan, melainkan akan memberikan kepada mereka semua hikmat-kebijaksanaan dan perlindungan yang mereka butuhkan.

Selagi Yesus memperluas visi para murid-Nya dengan deskripsi-deskripsi tentang akhir zaman, Ia juga berjanji kepada mereka: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). Melalui “daya tahan” kita, visi kita tentang rencana kekal Allah dapat juga diperluas dan memberikan kepada pengharapan dalam situasi-situasi sulit. Mencari kehadiran Jesus melalui doa, pembacaan dan permenungan Kitab Suci, dan memperkenankan Roh Kudus untuk memberdayakan kita dalam situasi-situasi setiap hari akan membuat kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kita akan mampu untuk mendengar suara Roh Kudus yang mengingatkan kita akan janji-janji Yesus. Kita akan belajar mengenal tangan Allah dalam setiap situasi.

Selagi relasi kita dengan Yesus semakin mendalam dan matang, kita akan menjadi semakin serupa dengan karakter-Nya. Tuntutan-tuntutan sesaat dari situasi-situasi kita tidak akan mampu menguasai kita atau merampok kita dari pengharapan kita. Sebaliknya, kita akan mampu mengatasi semua itu dan bergerak maju dengan penuh keyakinan. Sekarang, apabila ada dari antara kita yang sedang menghadapi suatu situasi yang penuh tantangan, maka tetaplah berada dalam kehadiran Yesus. Peganglah teguh janji-janji Injil! Sambutlah Roh Kudus masuk ke hati anda untuk membimbing anda dan memperkuat anda! Biarlah Ia menyakinkan anda bahwa Allah yang memegang kendali! Ingatlah: Dengan daya-tahan anda, maka anda anda akan memenangkan jiwa anda!

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi seperti Engkau sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan berjudul “PERMULAAN PENDERITAAN” (bacaan untuk tanggal 23-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BANGSA AKAN BANGKIT MELAWAN BANGSA

BANGSA AKAN BANGKIT MELAWAN BANGSA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Santa Sesilia, Perawan & Martir, Selasa 22-11-11) 

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit (Luk 21:5-11).

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan” (Luk 21:5-10). Bagaimana kita memberi tanggapan kita terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang suster Amerika turunan Vietnam ex yang hari ini masih menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam. Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini. Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil yang baru lalu, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” antara ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada hari ini. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “BAIT ALLAH AKAN DIRUNTUHKAN DAN PERMULAAN PENDERITAAN” (bacaan untuk tanggal 22-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANDA ITU MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

JANDA ITU MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah, Senin 21-11-11) 

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya” (Luk 21:1-4).

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

Kemurahan hati janda miskin itu dibuktikan tidak dalam jumlah nominal uang yang dipersembahkannya – yang memang sangat kecil -, melainkan berapa banyak yang tetap dipegangnya bagi dirinya sendiri – tidak ada samasekali! Janda miskin itu memberikan segala yang dimilikinya. Orang-orang karya mampu memberi persembahan yang jauh lebih besar untuk perbendaharaan Bait Allah, akan tetapi persembahan mereka itu berasal dari kelimpahan harta kekayaan mereka. Mereka memberikan apa yang mereka tidak butuhkan! Mereka memiliki lebih dari cukup untuk dibagikan, sementara sang janda miskin memiliki kurang dari yang dibutuhkan untuk menyambung hidup, namun ia siap mempersembahkan segala yang dimilikinya.

Memang terasa ironis jikalau orang-orang miskinlah yang sering sangat bermurah-hati. Dalam kemiskinan yang mereka derita, mereka belajar dari “tangan pertama” betapa Tuhan itu sungguh mahapemurah dalam penyelenggaraan-Nya. Hal ini membebaskan mereka dari rasa prihatin berlebihan sehubungan dengan kemiskinan mereka. Dengan rasa percaya yang dipenuhi iman bahwa Allah akan memperhatikan dan memelihara mereka, maka mereka bermurah hati terhadap orang-orang di sekeliling mereka, berbela rasa  dan ringan tangan dalam memberi.

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta suka bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang dikunjunginya. Pasutri dalam keluarga itu mempunyai delapan orang anak, dan mereka ternyata belum makan selama beberapa hari. Bunda Teresa dapat melihat rasa lapar yang sangat pada wajah-wajah anggota keluarga itu ketika dia datang dengan sejumlah makanan. Ketika dia memberikan makanan kepada ibu rumah, perempuan itu membagi makanan itu menjadi dua  bagian dan pergi keluar sambil membawa satu bagian. Ketika dia kembali, Bunda Teresa bertanya ke mana si ibu pergi tadi? Si ibu menjawab, “Ke tetanggaku – mereka juga lapar.”

Hal yang serupa saya saksikan sendiri pada tahun 1999 ketika saya – sebagai anggota Badan Pengurus LAI – ditugaskan menemani Pendeta Sembiring mengunjungi para pengungsi Timtim di Timor Barat. Ketika baru saja tiba di salah satu pusat penampungan mereka yang serba minim itu, seorang Ibu Pendeta yang menemani para pengungsi memberi kata sambutannya dengan panjang lebar. Kebetulan sekali saya membawa sebungkus kecil biskuit yang dimaksudkan untuk camilan sepanjang perjalanan jauh dalam truk dengan beberapa orang mahasiswa dari kota Kupang. Di tengah kata sambutan (khotbah?) Ibu Pendeta, pandangan mata saya terhenti pada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Hati saya tergerak untuk jalan perlahan mendekatinya dan memberikan “sisa” biskuit saya kepadanya dan perlahan-lahan saya pun kembali ke tempat saya berdiri semula. Adegan selanjutnya membuat saya tidak fokus lagi pada pidato sang Ibu Pendeta dan sungguh menjadi terharu. Ibu yang sedang menyusui anaknya itu membuka bungkusan yang sudah tidak utuh itu, mengambil biskuitnya yang pertama, membelahnya dan memberikannya kepada seorang ibu yang berdiri di sampingnya, yang membelahnya lagi untuk diberikan kepada seorang ibu lainnya. Biskuit kedua, biskuit ketiga dst. juga diperlakukan secara sama, sehingga banyak ibu di tempat itu menikmati secuil biskuit, di tengah-tengah berlangsungnya pidato sambutan sang Ibu Pendeta. Terlintas dalam pikiran dan hatiku, apakah hal yang seperti inilah yang disebut “pesta agape”? Tak sadar air mata saya berlinang di wajahku. Beberapa hari sebelumnya saya memberikan semacam pengarahan tentang makna “persaudaraan sejati” dalam kapitel OFS regio Jawa, yang mengambil tempat di Klaten, Jawa Tengah. Ternyata “persaudaraan sejati” justru hadir nyata di tengah keadaan yang serba berkekurangan, serba miskin dan bersahaja. Bukankah ini yang dikehendaki Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, yaitu suatu persaudaraan yang sejati? Bukankah ada tertulis dalam Kitab Suci: “Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:21)? Saya berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena Roh Kudus memberikan konfirmasi-Nya secara tepat-waktu kepada saya. Pengalaman singkat-padat-mengharukan ini tidak berlangsung lama. Belakangan saya menceritakan pengalaman saya ini kepada Pak Pendeta Sembiring.

Orang-orang miskin memahami ketergantungan mereka kepada Tuhan Allah, demikian pula mereka yang “miskin dalam roh” (istilah ini menurut saya lebih tepat daripada “miskin di hadapan Allah”; lihat Mat 5:3). Yesus memberkati mereka yang mengetahui dan menyadari betapa mereka sangat membutuhkan-Nya, mereka yang menyadari bahwa tanpa Allah, mereka menjadi tanpa pengharapan dan tanpa pegangan. Menyadari kehampaan diri mereka dan kemurahan-hati Yesus, mereka pun penuh gairah untuk menyeringkan Injil dengan orang-orang lain, menawarkan kepada mereka kasih yang sama dan kenyamanan yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus.

Yesus sangat mengasihi orang-orang yang mempunyai hati seperti hati-Nya sendiri dan berbelas kasihan kepada orang-orang miskin, baik secara materiil maupun spiritual. Semoga mata (hati) kita masing-masing terbuka pada hari ini sehingga kita dapat melihat betapa miskin kita sebenarnya! Selagi kita melakukannya, kita akan keluar juga dan dengan kemurahan hati menjangkau orang-orang yang membutuhkan, mengenal dan mengalami berkat yang dialami oleh sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, dengan bela rasa-Mu yang begitu mendalam curahkanlah kasih-Mu kepada para saudari-saudara kami yang miskin-papa dan diabaikan. Buatlah hatiku seperti hati-Mu yang kudus agar mampu menghibur mereka yang tak diperhatikan. Perkenankanlah aku menjadi perpanjangan tangan-tanganMu selagi aku berupaya menjangkau saudari-saudaraku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan berjudul “PERSEMBAHAN SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan untuk tanggal 21-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SANG RAJA

YESUS KRISTUS ADALAH SANG RAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM, Minggu 20-11-11) 


“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
(Mat 25:31-46)

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26a,28

Pada hari ini, ketika kita merayakan pemerintahan Yesus atas segenap ciptaan, kita bergembira atas pengamanan/keamanan dan perlindungan yang dibawakan oleh sang Raja bagi kita. Akan tetapi, kita pun melihat adanya berbagai tanda di sekeliling kita bahwa otoritas Yesus telah ditolak oleh banyak orang. Banyak sekali negara yang dahulu dikenal sebagai negara-negara Kristiani tidak lagi pantas untuk disebut begitu. Banyak gedung gereja menjadi relatif kosong dan kebaktian liturgis hanya dihadiri oleh para lansia. Ada juga gedung gereja yang dijual.

Memang umat beriman mengakui betapa menyenangkan berada di bawah pemerintahan Yesus, namun banyak yang masih belum mengetahui serta mengalami berkat-berkat karena menjadi milik-Nya. Salah satu contohnya adalah adanya relasi terluka yang diderita banyak keluarga Kristiani juga. Itulah sebabnya mengapa Allah memanggil kita guna memajukan Kerajaan-Nya lewat syering dengan orang-orang lain perihal rahasia pengharapan kita. Mengapa tidak bisa? Hari penghakiman – cepat atau lambat – akan tiba, dan tergantung pada kitalah untuk ikut mengusahakan agar sebanyak mungkin orang kelak menghadapi pengadilan terakhir dengan rasa yakin-mantap akan memperoleh keselamatan. Tidak cukuplah bagi kita untuk sekadar menikmati sendiri hidup rohani kita, suci-suci sendiri. Kita sama sekali tidak dapat/boleh berhenti pada “pengalaman Tabor” kita, karena memang kehendak Yesus-lah bahwa kita harus turun gunung untuk mensyeringkan pengalaman kita akan Allah/Kristus itu kepada sesama kita. Tidak cukuplah merasa disentuh oleh Roh Kudus dalam sebuah pertemuan PDKK, penuh haru, merasa “in”, karena pengalaman seperti itu harus disusul dengan karya pelayanan kasih yang nyata, teristimewa di tengah-tengah mereka yang miskin/dina. Justru karena kita telah mengalami sukacita pemerintahan Yesus dalam kehidupan kita, maka kita harus terdorong untuk membawa orang-orang lain kepada-Nya.

Perjumpaan kita dengan Yesus dalam doa dan Perayaan Ekaristi seharusnya membawa efek dinamis atas dan dalam diri kita: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus yang telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Allah memanggil kita untuk mensyeringkan cintakasih kita kepada Yesus dan sukacita kita dengan orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri terhadap karya kreatif Roh Kudus dalam diri kita. Dengan bimbingan-Nya, kita dapat membawa kesembuhan atas situasi di mana hanya ada dosa dan ketiadaan-pengharapan. Biarlah devosi kita kepada Yesus menyebarkan-luaskan sebuah pesan ke tengah dunia: KRISTUS ADALAH RAJA !!!

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku berdoa agar pada saat kedatangan-Mu kelak, Engkau akan menemukan iman yang benar di tengah segenap umat. Semoga kedatangan-Mu kembali dalam kemuliaan menemukan aku telah memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, pakaian kepada mereka yang telanjang, menjenguk mereka yang sakit  dan berada dalam penjara. Berkat bimbingan penguatan oleh Roh Kudus-Mu, semoga aku telah melakukan amanat agung-Mu untuk memberitakan Injil kepada dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan berjudul “PENGHAKIMAN TERAKHIR OLEH SANG RAJA” (bacaan untuk tanggal 20-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI ANAK-ANAK KEBANGKITAN

KITA DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI ANAK-ANAK KEBANGKITAN

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII, Sabtu 19-11-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan, Ordo II (Klaris)

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40)

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Kali ini orang-orang Saduki mengajukan sebuah “teka-teki” kepada Yesus tentang kebangkitan orang mati, tidak lain dan tidak bukan, untuk menjebak-Nya. Yang menyedihkan di sini adalah, bahwa dengan berpegang pada bacaan sempit dari Kitab Taurat, para “ahli Kitab Suci” ini luput melihat “kehidupan baru” yang ditawarkan oleh Yesus. Mereka tidak dapat menerima ajaran sang Rabi dari Nazaret ini tentang warisan yang tersedia bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Yesus mengatakan kepada orang-orang Saduki itu bahwa kita semua dimaksudkan untuk menjadi anak-anak kebangkitan, anak-anak Allah dan setara dengan para malaikat (lihat Luk 20:36). Karena kita adalah anak-anak Allah, kita “ditakdirkan” untuk suatu kehidupan “yang tidak berkesudahan” (Ibr 1:12). Dengan Yesus kita akan mewarisi “segala sesuatu” (1Kor 3:21-23) dan kita akan “bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa” (Mat 13:43). Kita akan menjadi seperti para malaikat, para pelayan kasih Allah dan sepenuhnya taat menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Berkat-berkat hidup yang dibangkitkan adalah sesuatu yang indah untuk dipikirkan. Pada suatu hari kita akan masuk ke dalam tempat yang telah disediakan bagi kita di surga. Namun apakah yang telah kita harap-harapkan hari ini untuk kita dapatkan kelak? Tidak ada satu pun dari berkat-berkat Allah dimaksudkan untuk kita nantikan sampai saat diterima ketika kita masuk ke dalam keabadian. Kita dapat mengalami setiap berkat Allah sekarang juga, karena Yesus, yang sulung dari banyak saudari dan saudara kita sudah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Melalui berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita, maka kita pun dapat ikut ambil bagian dalam hidup berkelimpahan bahkan sekarang juga, sementara kita menantikan warisan surgawi itu terwujud menjadi kenyataan.

Pada hari ini, opsi mana yang akan anda pilih? Ketakutan, dosa, rasa masa bodoh, keragu-raguan, atau damai-sejahtera, pengharapan, dan persatuan dengan Yesus? Apabila kita menjalani hari ini dengan hal-hal yang negatif, sikap-sikap yang penuh keraguan, maka kita tidak akan mengalami tempat yang disediakan bagi kita sebagai anak-anak Allah. Kita harus memilih menjadi anak-anak kebangkitan, yang mempermaklumkan kepada dunia di sekeliling kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Kita dapat meyakinkan diri bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib telah berkemenangan atas maut dan kita akan bersama Dia di surga. Sampai saat itu tiba, marilah kita setiap hari mengangkat hati dan pikiran kita bagi realitas Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Selagi kita melakukan hal itu, Yesus akan memenuhi diri kita dengan kemungkinan-kemungkinan indah yang jauh melampaui segala imajinasi duniawi kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat diriku seorang anak kebangkitan. Aku menempatkan seluruh pengharapanku pada-Mu, ya Tuhan dan Allahku. Buatlah aku mampu memusatkan perhatianku pada tujuan tersebut dan perkenankanlah hatiku dipenuhi dengan kebenaran bahwa segala berkat-Mu tersedia bagiku sekarang, saat ini juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan berjudul “ORANG SADUKI DAN SOAL KEBANGKITAN” (bacaan untuk tanggal 19-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 11 November 2011 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers