Archive for November, 2011

BANGSA AKAN BANGKIT MELAWAN BANGSA

BANGSA AKAN BANGKIT MELAWAN BANGSA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Santa Sesilia, Perawan & Martir, Selasa 22-11-11) 

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah, betapa bangunan itu dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus, “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya ketika tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

Lalu mereka bertanya kepada Yesus, “Guru, kapan itu akan terjadi? Apa tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya, “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: ‘Akulah Dia,’ dan: ‘Saatnya sudah dekat.’ Janganlah kamu mengikuti mereka. Apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu takut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.”

Ia berkata kepada mereka, “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang menakutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit (Luk 21:5-11).

Bacaan Pertama: Dan 2:31-45; Mazmur Tanggapan: Dan 3:57-61 

“Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan” (Luk 21:5-10). Bagaimana kita memberi tanggapan kita terhadap peringatan-peringatan profetis tentang akhir zaman? Apakah peringatan-peringatan itu menimbulkan rasa takut, kecemasan, atau pengharapan dalam diri kita? Orang-orang dalam setiap zaman sedikit-banyak memiliki semacam perasaan yang terkadang “mengganggu”, apakah achir zaman akan terjadi pada masa hidupnya, khususnya pada saat-saat mereka mengalami peristiwa seperti bencana alam yang sangat mengerikan.

Wabah “Maut Hitam” yang telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa di abad ke-14 dan gempa bumi dahsyat di California yang terjadi di awal abad ke-20 adalah beberapa contoh. Seorang suster Amerika turunan Vietnam ex yang hari ini masih menginap di rumah kami menceritakan betapa dahsyat bencana yang dialaminya di New Orleans ketika badai Katharina mengamuk di sana. Rumah-rumah dalam sekejab saja dihanyutkan dst. Amerika Serikat yang sangat canggih dalam teknologi dan manajemen pencegahan dan penanggulangan bencana alam seakan tak berdaya menghadapi dahsyatnya alam. Berbagai peperangan dan skala besar maupun kecil masih berlangsung sampai hari ini. Saudaraku dan kawan sekamarku, seorang Fransiskan sekular dari Rwandha, pada waktu kapitel umum OFS di Brazil yang baru lalu, bercerita bagaimana saling bunuh antara suku Hutu dan Tutsi berlangsung beberapa tahun silam di negerinya, dan ia adalah “basteran” antara ayah Hutu dan ibu Tutsi. Orang-orang seperti dia harus lari ke sana ke mari bersama keluarganya karena tidak diterima oleh dua suku yang sedang bertarung itu. Genosida yang terjadi di negara kecil itu memakan korban lebih dari satu juta jiwa orang. Dan menurut dia, ceritanya belum selesai sampai pada hari ini. Hal-hal seperti ini menambah rasa takut dan kekhawatiran kita, apalagi ditambah oleh adanya berbagai ancaman terorisme yang berlatar belakang agama dan ancaman perang nuklir yang menghancurkan.

Sebagai umat Kristiani, kita tidak boleh sampai membiarkan rasa takut menguasai diri kita. Rasa takut dan kekhawatiran berlebihan hanya akan mengakibatkan iman mandul. Mereka yang mengenal kasih Bapa surgawi mengetahui dengan pasti bahwa Dia menginginkan semua orang diselamatkan – sehingga karena kasih-Nya itu Dia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menyelamatkan dunia (lihat Yoh 3:16). Oleh karena itu kita harus memandang segala bencana alam, bencana yang disebabkan oleh peperangan dlsb. sebagai kesempatan-kesempatan untuk membangunkan kita agar menjadi sadar, keluar dari comfort zone kita masing-masing dan turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dunia di sekeliling kita, kebutuhan akan makan-minum, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan akan damai-sejahtera dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

Marilah kita memperkenankan “tanda-tanda zaman” mendorong kita kepada hidup pertobatan dan doa pengantaraan (syafaat) bagi orang-orang lain. “Kita harus senantiasa siap-siaga menantikan kedatangan kembali Yesus.” Apakah akhir zaman itu terjadi pada esok hari atau seribu tahun yang akan datang, disposisi hati kita selalu harus sama. Pada suatu hari, ketika Santo Fransiskus dari Assisi sedang bekerja merawat kebunnya, ada orang yang bertanya kepadanya apakah yang akan dilakukannya apabila hari akhir itu tiba. Orang kudus ini begitu yakin akan persiapan yang selama ini dikerjakannya dan dia juga sangat yakin akan kerahiman Allah. Maka, dengan sederhana dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan pekerjaannya memotong rumput di kebunnya. Keyakinan seperti itu juga dapat menjadi keyakinan kita!

Yesus pasti akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita memang tidak akan mengetahui kapan Ia akan datang kembali, namun kita mengetahui dari Kitab Suci bahwa pengadilan-Nya yang terakhir akan sangat keras atas orang-orang yang tidak mau bertobat dan pada saat yang sama penuh belas kasihan atas orang-orang yang telah bertobat. Melalui Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi, baiklah kita memperkenankan darah Yesus membersihkan diri kita, mendoakan keluarga kita, teman-teman kita, kota tempat kita tinggal dan bahkan seluruh dunia. Kita tidak usah merasa takut! Sementara kita semakin dekat dengan Yesus – teristimewa pada masa-masa sulit – kita dapat menjadi duta-duta-Nya ke tengah dunia, memperkenalkan dan menawarkan keyakinan sama yang mengisi hati kita.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesal, bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosaku dan dosa-dosa orang-orang di sekelilingku. Dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, datangkanlah kesembuhan, bimbingan dan pengarahan bagi kehidupan kami, sehingga kami semua dapat sungguh siap-siaga dalam menyambut kedatangan-Nya kembali kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan berjudul “BAIT ALLAH AKAN DIRUNTUHKAN DAN PERMULAAN PENDERITAAN” (bacaan untuk tanggal 22-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANDA ITU MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

JANDA ITU MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah, Senin 21-11-11) 

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya” (Luk 21:1-4).

Bacaan Pertama: Dan 1:1-6,8-20; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-56 

Kemurahan hati janda miskin itu dibuktikan tidak dalam jumlah nominal uang yang dipersembahkannya – yang memang sangat kecil -, melainkan berapa banyak yang tetap dipegangnya bagi dirinya sendiri – tidak ada samasekali! Janda miskin itu memberikan segala yang dimilikinya. Orang-orang karya mampu memberi persembahan yang jauh lebih besar untuk perbendaharaan Bait Allah, akan tetapi persembahan mereka itu berasal dari kelimpahan harta kekayaan mereka. Mereka memberikan apa yang mereka tidak butuhkan! Mereka memiliki lebih dari cukup untuk dibagikan, sementara sang janda miskin memiliki kurang dari yang dibutuhkan untuk menyambung hidup, namun ia siap mempersembahkan segala yang dimilikinya.

Memang terasa ironis jikalau orang-orang miskinlah yang sering sangat bermurah-hati. Dalam kemiskinan yang mereka derita, mereka belajar dari “tangan pertama” betapa Tuhan itu sungguh mahapemurah dalam penyelenggaraan-Nya. Hal ini membebaskan mereka dari rasa prihatin berlebihan sehubungan dengan kemiskinan mereka. Dengan rasa percaya yang dipenuhi iman bahwa Allah akan memperhatikan dan memelihara mereka, maka mereka bermurah hati terhadap orang-orang di sekeliling mereka, berbela rasa  dan ringan tangan dalam memberi.

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta suka bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang dikunjunginya. Pasutri dalam keluarga itu mempunyai delapan orang anak, dan mereka ternyata belum makan selama beberapa hari. Bunda Teresa dapat melihat rasa lapar yang sangat pada wajah-wajah anggota keluarga itu ketika dia datang dengan sejumlah makanan. Ketika dia memberikan makanan kepada ibu rumah, perempuan itu membagi makanan itu menjadi dua  bagian dan pergi keluar sambil membawa satu bagian. Ketika dia kembali, Bunda Teresa bertanya ke mana si ibu pergi tadi? Si ibu menjawab, “Ke tetanggaku – mereka juga lapar.”

Hal yang serupa saya saksikan sendiri pada tahun 1999 ketika saya – sebagai anggota Badan Pengurus LAI – ditugaskan menemani Pendeta Sembiring mengunjungi para pengungsi Timtim di Timor Barat. Ketika baru saja tiba di salah satu pusat penampungan mereka yang serba minim itu, seorang Ibu Pendeta yang menemani para pengungsi memberi kata sambutannya dengan panjang lebar. Kebetulan sekali saya membawa sebungkus kecil biskuit yang dimaksudkan untuk camilan sepanjang perjalanan jauh dalam truk dengan beberapa orang mahasiswa dari kota Kupang. Di tengah kata sambutan (khotbah?) Ibu Pendeta, pandangan mata saya terhenti pada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Hati saya tergerak untuk jalan perlahan mendekatinya dan memberikan “sisa” biskuit saya kepadanya dan perlahan-lahan saya pun kembali ke tempat saya berdiri semula. Adegan selanjutnya membuat saya tidak fokus lagi pada pidato sang Ibu Pendeta dan sungguh menjadi terharu. Ibu yang sedang menyusui anaknya itu membuka bungkusan yang sudah tidak utuh itu, mengambil biskuitnya yang pertama, membelahnya dan memberikannya kepada seorang ibu yang berdiri di sampingnya, yang membelahnya lagi untuk diberikan kepada seorang ibu lainnya. Biskuit kedua, biskuit ketiga dst. juga diperlakukan secara sama, sehingga banyak ibu di tempat itu menikmati secuil biskuit, di tengah-tengah berlangsungnya pidato sambutan sang Ibu Pendeta. Terlintas dalam pikiran dan hatiku, apakah hal yang seperti inilah yang disebut “pesta agape”? Tak sadar air mata saya berlinang di wajahku. Beberapa hari sebelumnya saya memberikan semacam pengarahan tentang makna “persaudaraan sejati” dalam kapitel OFS regio Jawa, yang mengambil tempat di Klaten, Jawa Tengah. Ternyata “persaudaraan sejati” justru hadir nyata di tengah keadaan yang serba berkekurangan, serba miskin dan bersahaja. Bukankah ini yang dikehendaki Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, yaitu suatu persaudaraan yang sejati? Bukankah ada tertulis dalam Kitab Suci: “Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” (1Yoh 4:21)? Saya berterima kasih penuh syukur kepada Allah karena Roh Kudus memberikan konfirmasi-Nya secara tepat-waktu kepada saya. Pengalaman singkat-padat-mengharukan ini tidak berlangsung lama. Belakangan saya menceritakan pengalaman saya ini kepada Pak Pendeta Sembiring.

Orang-orang miskin memahami ketergantungan mereka kepada Tuhan Allah, demikian pula mereka yang “miskin dalam roh” (istilah ini menurut saya lebih tepat daripada “miskin di hadapan Allah”; lihat Mat 5:3). Yesus memberkati mereka yang mengetahui dan menyadari betapa mereka sangat membutuhkan-Nya, mereka yang menyadari bahwa tanpa Allah, mereka menjadi tanpa pengharapan dan tanpa pegangan. Menyadari kehampaan diri mereka dan kemurahan-hati Yesus, mereka pun penuh gairah untuk menyeringkan Injil dengan orang-orang lain, menawarkan kepada mereka kasih yang sama dan kenyamanan yang telah mereka terima dari Tuhan Yesus.

Yesus sangat mengasihi orang-orang yang mempunyai hati seperti hati-Nya sendiri dan berbelas kasihan kepada orang-orang miskin, baik secara materiil maupun spiritual. Semoga mata (hati) kita masing-masing terbuka pada hari ini sehingga kita dapat melihat betapa miskin kita sebenarnya! Selagi kita melakukannya, kita akan keluar juga dan dengan kemurahan hati menjangkau orang-orang yang membutuhkan, mengenal dan mengalami berkat yang dialami oleh sang janda miskin dalam bacaan Injil hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, dengan bela rasa-Mu yang begitu mendalam curahkanlah kasih-Mu kepada para saudari-saudara kami yang miskin-papa dan diabaikan. Buatlah hatiku seperti hati-Mu yang kudus agar mampu menghibur mereka yang tak diperhatikan. Perkenankanlah aku menjadi perpanjangan tangan-tanganMu selagi aku berupaya menjangkau saudari-saudaraku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:1-4), bacalah tulisan berjudul “PERSEMBAHAN SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan untuk tanggal 21-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH SANG RAJA

YESUS KRISTUS ADALAH SANG RAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM, Minggu 20-11-11) 


“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
(Mat 25:31-46)

Bacaan Pertama: Yeh 34:11-12,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3,5-6; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26a,28

Pada hari ini, ketika kita merayakan pemerintahan Yesus atas segenap ciptaan, kita bergembira atas pengamanan/keamanan dan perlindungan yang dibawakan oleh sang Raja bagi kita. Akan tetapi, kita pun melihat adanya berbagai tanda di sekeliling kita bahwa otoritas Yesus telah ditolak oleh banyak orang. Banyak sekali negara yang dahulu dikenal sebagai negara-negara Kristiani tidak lagi pantas untuk disebut begitu. Banyak gedung gereja menjadi relatif kosong dan kebaktian liturgis hanya dihadiri oleh para lansia. Ada juga gedung gereja yang dijual.

Memang umat beriman mengakui betapa menyenangkan berada di bawah pemerintahan Yesus, namun banyak yang masih belum mengetahui serta mengalami berkat-berkat karena menjadi milik-Nya. Salah satu contohnya adalah adanya relasi terluka yang diderita banyak keluarga Kristiani juga. Itulah sebabnya mengapa Allah memanggil kita guna memajukan Kerajaan-Nya lewat syering dengan orang-orang lain perihal rahasia pengharapan kita. Mengapa tidak bisa? Hari penghakiman – cepat atau lambat – akan tiba, dan tergantung pada kitalah untuk ikut mengusahakan agar sebanyak mungkin orang kelak menghadapi pengadilan terakhir dengan rasa yakin-mantap akan memperoleh keselamatan. Tidak cukuplah bagi kita untuk sekadar menikmati sendiri hidup rohani kita, suci-suci sendiri. Kita sama sekali tidak dapat/boleh berhenti pada “pengalaman Tabor” kita, karena memang kehendak Yesus-lah bahwa kita harus turun gunung untuk mensyeringkan pengalaman kita akan Allah/Kristus itu kepada sesama kita. Tidak cukuplah merasa disentuh oleh Roh Kudus dalam sebuah pertemuan PDKK, penuh haru, merasa “in”, karena pengalaman seperti itu harus disusul dengan karya pelayanan kasih yang nyata, teristimewa di tengah-tengah mereka yang miskin/dina. Justru karena kita telah mengalami sukacita pemerintahan Yesus dalam kehidupan kita, maka kita harus terdorong untuk membawa orang-orang lain kepada-Nya.

Perjumpaan kita dengan Yesus dalam doa dan Perayaan Ekaristi seharusnya membawa efek dinamis atas dan dalam diri kita: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus yang telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Allah memanggil kita untuk mensyeringkan cintakasih kita kepada Yesus dan sukacita kita dengan orang-orang lain. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri terhadap karya kreatif Roh Kudus dalam diri kita. Dengan bimbingan-Nya, kita dapat membawa kesembuhan atas situasi di mana hanya ada dosa dan ketiadaan-pengharapan. Biarlah devosi kita kepada Yesus menyebarkan-luaskan sebuah pesan ke tengah dunia: KRISTUS ADALAH RAJA !!!

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku berdoa agar pada saat kedatangan-Mu kelak, Engkau akan menemukan iman yang benar di tengah segenap umat. Semoga kedatangan-Mu kembali dalam kemuliaan menemukan aku telah memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, pakaian kepada mereka yang telanjang, menjenguk mereka yang sakit  dan berada dalam penjara. Berkat bimbingan penguatan oleh Roh Kudus-Mu, semoga aku telah melakukan amanat agung-Mu untuk memberitakan Injil kepada dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan berjudul “PENGHAKIMAN TERAKHIR OLEH SANG RAJA” (bacaan untuk tanggal 20-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI ANAK-ANAK KEBANGKITAN

KITA DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI ANAK-ANAK KEBANGKITAN

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII, Sabtu 19-11-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Agnes dari Assisi, Perawan, Ordo II (Klaris)

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40)

Bacaan Pertama: 1Mak 6:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-4,6,16,19

Kali ini orang-orang Saduki mengajukan sebuah “teka-teki” kepada Yesus tentang kebangkitan orang mati, tidak lain dan tidak bukan, untuk menjebak-Nya. Yang menyedihkan di sini adalah, bahwa dengan berpegang pada bacaan sempit dari Kitab Taurat, para “ahli Kitab Suci” ini luput melihat “kehidupan baru” yang ditawarkan oleh Yesus. Mereka tidak dapat menerima ajaran sang Rabi dari Nazaret ini tentang warisan yang tersedia bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Yesus mengatakan kepada orang-orang Saduki itu bahwa kita semua dimaksudkan untuk menjadi anak-anak kebangkitan, anak-anak Allah dan setara dengan para malaikat (lihat Luk 20:36). Karena kita adalah anak-anak Allah, kita “ditakdirkan” untuk suatu kehidupan “yang tidak berkesudahan” (Ibr 1:12). Dengan Yesus kita akan mewarisi “segala sesuatu” (1Kor 3:21-23) dan kita akan “bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa” (Mat 13:43). Kita akan menjadi seperti para malaikat, para pelayan kasih Allah dan sepenuhnya taat menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Berkat-berkat hidup yang dibangkitkan adalah sesuatu yang indah untuk dipikirkan. Pada suatu hari kita akan masuk ke dalam tempat yang telah disediakan bagi kita di surga. Namun apakah yang telah kita harap-harapkan hari ini untuk kita dapatkan kelak? Tidak ada satu pun dari berkat-berkat Allah dimaksudkan untuk kita nantikan sampai saat diterima ketika kita masuk ke dalam keabadian. Kita dapat mengalami setiap berkat Allah sekarang juga, karena Yesus, yang sulung dari banyak saudari dan saudara kita sudah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Melalui berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita, maka kita pun dapat ikut ambil bagian dalam hidup berkelimpahan bahkan sekarang juga, sementara kita menantikan warisan surgawi itu terwujud menjadi kenyataan.

Pada hari ini, opsi mana yang akan anda pilih? Ketakutan, dosa, rasa masa bodoh, keragu-raguan, atau damai-sejahtera, pengharapan, dan persatuan dengan Yesus? Apabila kita menjalani hari ini dengan hal-hal yang negatif, sikap-sikap yang penuh keraguan, maka kita tidak akan mengalami tempat yang disediakan bagi kita sebagai anak-anak Allah. Kita harus memilih menjadi anak-anak kebangkitan, yang mempermaklumkan kepada dunia di sekeliling kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Kita dapat meyakinkan diri bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib telah berkemenangan atas maut dan kita akan bersama Dia di surga. Sampai saat itu tiba, marilah kita setiap hari mengangkat hati dan pikiran kita bagi realitas Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari. Selagi kita melakukan hal itu, Yesus akan memenuhi diri kita dengan kemungkinan-kemungkinan indah yang jauh melampaui segala imajinasi duniawi kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat diriku seorang anak kebangkitan. Aku menempatkan seluruh pengharapanku pada-Mu, ya Tuhan dan Allahku. Buatlah aku mampu memusatkan perhatianku pada tujuan tersebut dan perkenankanlah hatiku dipenuhi dengan kebenaran bahwa segala berkat-Mu tersedia bagiku sekarang, saat ini juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan berjudul “ORANG SADUKI DAN SOAL KEBANGKITAN” (bacaan untuk tanggal 19-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 11 November 2011 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RUMAH-KU ADALAH RUMAH DOA

RUMAH-KU ADALAH RUMAH DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII, Jumat 18-11-11)

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48)

Bacaan Pertama: 1Mak 4:36-37,52-59; Mazmur Tanggapan: 1Taw 29:10-12 

Hanya beberapa jam setelah memasuki kota suci Yerusalem, Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai mengusir para penukar uang (istilah kerennya zaman sekarang: money changers) dan pedagang, dan mulai mengajar dan melayani orang-orang di tempat itu. Yesus menyadari sepenuhnya bahwa Bait Allah adalah tempat kediaman yang suci bagi Allah, pusat kegiatan agama semua orang Yahudi. Di mana saja orang-orang Yahudi bertempat tinggal, mereka akan menyebut Bait Allah di Yerusalem sebagai “rumah” mereka. Dengan demikian, tindakan drastis Yesus yang memporak-porandakan para pedagang di situ dan mengatakan bahwa Bait Allah itu sebagai Rumah-Nya sungguh mengandung risiko besar, apalagi para musuh-Nya terus saja mengikuti-Nya agar dapat menemukan kesalahan-Nya, bila perlu dengan menjebak-Nya. Mengapa begitu drastis? Karena Yesus tidak tahan lagi melihat Bait Allah dikotorkan!

Sebagaimana Yesus membersihkan Bait-Nya, Allah juga rindu untuk mengusir kegelapan dan dosa yang ada dalam hati kita masing-masing. Ia rindu untuk berdiam dalam diri kita secara penuh dan Ia merasa sedih melihat diri kita yang begitu terikat dalam kedosaan. Ia mengetahui benar, bahwa semakin dalam kita mengenal-Nya, hati kita pun dapat lebih dalam lagi “dirasuki” (diresapi) oleh kehadiran-Nya dan dengan demikian kita pun dapat menjadi duta-duta ke tengah sebuah dunia yang terluka ini.

Saudari dan Saudaraku, percayakah anda bahwa Allah sungguh ingin berdiam dalam diri anda? Bahwasanya Dia ingin untuk memerintah atas diri anda dengan kelemah-lembutan seorang gembala baik, keadilan seorang raja yang adil, dan dengan hikmat-kebijaksanaan seorang Bapa yang sempurna? Allah sangat mengetahui bagaimana kita telah memperkenankan dosa mengakibatkan polusi dalam hati kita. Dia mengetahui benar bagaimana kita mengabaikan kehadiran-Nya di dalam gereja-gereja kita. Namun demikian, tanpa mengenal lelah dan tanpa syarat Ia terus “mengejar” kita agar berbalik kepada-Nya. Allah sungguh rindu untuk membersihkan kita menjadi pribadi-pribadi yang baru, apabila kita mau berbalik kepada-Nya dengan hati yang bertobat. Oleh dorongan-dorongan Roh-Nya, Yesus selalu meminta kita untuk meninggalkan kedosaan kita dan berpaling kepada-Nya guna mendapatkan bimbingan dan kekuatan.

Baiklah kita ingat bahwa setiap dan masing-masing kita adalah tempat kediaman yang suci bagi Allah. Ingatlah juga dan hormatilah kehadiran sakramental Yesus dalam Gereja kita. Dia selalu berada bersama kita dengan segala kuasa, kekudusan, kasih dan keadilan-Nya. Dia selalu menarik kita kepada diri-Nya, minta kepada kita untuk bergabung dengan diri-Nya dalam pekerjaan-Nya membersihkan pikiran dan hati kita. Kita dapat mengalami kehadiran Allah setiap hari. Akan tetapi, kehadiran-Nya itu hanya akan datang kepada kita selagi kita mengundang Yesus untuk memurnikan diri kita. Jika kita melakukannya, Roh Kudus akan membentuk diri kita lebih dan lebih lagi menjadi sebuah tempat kediaman kudus bagi Allah.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami! Sebagaimana Engkau telah mengusir para penukar uang dan pedagang dari Bait Allah di Yerusalem kala itu, datanglah untuk mengusir dosa-dosa yang ada di dalam diriku. Murnikanlah Gereja-Mu. Buatlah aku agar menjadi tempat kediaman yang pantas bagi Roh Kudus-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan berjudul “YESUS MENYUCIKAN BAIT ALLAH” (bacaan untuk tanggal 18-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 11 November 2011 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALANGKAH BAIKNYA JIKA PADA HARI INI JUGA ENGKAU MENGERTI APA YANG PERLU UNTUK DAMAI SEJAHTERAMU!

ALANGKAH BAIKNYA JIKA PADA HARI INI JUGA ENGKAU MENGERTI APA YANG PERLU UNTUK DAMAI SEJAHTERAMU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Elisabet dari Hungaria, Kamis 17-11-11)

Gereja: Peringatan Wajib; Keluarga Fransiskan: Pesta; khusus FSE: Hari Raya Pelindung Tarekat 

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44)

Bacaan Pertama: 1Mak 2:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1-2,5-6,14-15 

Betapa dalam kepedihan yang dirasakan oleh hati Yesus bagi orang-orang Yahudi di Yerusalem! Yesus akrab-familiar dengan kasih dan bela rasa Bapa-Nya, namun pada saat yang sama Dia juga mengenal keadilan Allah serta kekudusan-Nya. Hal ini memampukan diri-Nya untuk melihat jauh ke depan konsekuensi-konsekuensi kerusakan yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau merangkul diri-Nya atau Injil yang diwartakan-Nya. Sekali pun selagi Dia menyiapkan pengorbanan-Nya yang paling besar demi keselamatan kita, Yesus mengetahui bahwa banyak orang tetap tidak mau menerima pesan-Nya dan lebih suka memilih hidup dalam dosa. 

Sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci berulang kali menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak senang melihat kita mati dalam kedosaan dan dengan demikian menjadi terpisah dari diri-Nya. Dia mengasihi kita! Namun kita harus selalu mengingat dengan baik, bahwa sementara Dia adalah Bapa kita yang sangat mengasihi anak-anak-Nya, Allah juga adalah Hakim yang adil, dan keadilan serta penghukuman-Nya tidak boleh dipandang entengl Allah tidak begitu saja mengabaikan ketidaktaatan atau ketidaksetiaan kita. Kalau begitu halnya, maka akan merupakan kontradiksi terhadap kodrat-Nya. 

Kadang-kadang, dalam upaya membenarkan diri dari kedosaan kita atau untuk menghindarkan diri dari panggilan untuk berubah, kita berpikir atau berkata kepada diri kita sendiri, “Allah adalah kasih. Ia tidak akan menghukum aku.” Atau kita terus saja mendesak dosa-dosa kita ke belakang pikiran kita, melupakan bahwa diri kita harus bertobat dan mengabaikan tuntutan bahwa kita harus kembali kepada Allah. Namun hal ini menunjukkan ketiadaan hakiki dari pemahaman akan kodrat Allah. Bahkan orang-orang Yahudi, umat pilihan-Nya sendiri yang sangat dikasihi-Nya, harus mengalami hukuman demi penyucian. Dengan demikian, tentu saja kita tidak dapat mengambil kesimpulan bahwa kita dikecualikan dari keadilan Allah. 

Puji Tuhan untuk frase paling akhir dari perikop Injil hari ini: “…… saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau” (lihat Luk 19:44). Syukur kepada Allah, kita masih berada dalam “masa kunjungan” suatu masa di mana  rahmat dan belas kasihan Allah ditawarkan kepada kita semua sebelum pengadilan terakhir. Setiap hari Roh Kudus “mengusik” hati kita untuk kembali kepada Allah sebelum terlambat. Setiap hari, belas kasihan dan rahmat Allah tersedia bagi siapa saja yang bertobat, berbalik kepada jalan-Nya. Santo Paulus menasihati jemaat di Efesus: “Aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihatkan kamu, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef 4:1). 

Sekarang kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah aku hidup sesuai dengan janji-janji baptisku? Apakah aku cepat bertobat apabila aku sampai melibatkan diri dalam dosa (dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian)? Apakah aku membawa orang-orang lain untuk mengenal Allah? 

Saudari dan Saudariku yang dikasihi Kristus, setiap saat kita dapat berpaling kepada Yesus dan mengalami pembersihan oleh darah-Nya dan menerima hidup baru. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya dengan hati yang bertobat dan menerima amanat agung (Mat 28:18-20) dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita – untuk pergi ke tengah dunia dengan membawa pesan keselamatan-Nya kepada saudari-saudara kita yang lain. 

DOA: Bapa surgawi, pada saat ini aku berdiri dengan penuh kekaguman akan perbuatan-perbuatan-Mu yang agung! Dengan tulus hati aku menundukkan diriku terhadap kekuasaan-Mu. Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Mahakuasa, Mahaperkasa, …… Mahalain dalam hal-hal yang baik bagi kami ciptaan-Mu. Curahkanlah karunia ‘takut akan Allah’ ke dalam diriku sebagai makhluk ciptaan-Mu. Kasihanilah bangsa kami yang sedang sakit parah ini agar dapat beriman kepada-Mu secara benar. Anugerahkanlah “hikmat-kebijaksanaan” kepada para pemimpin bangsa kami, termasuk para pemuka agamanya. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Allah yang Mahaagung, yang kusembah dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan berjudul “YESUS MENANGISI KEJATUHAN KOTA YERUSALEM” (bacaan untuk tanggal 17-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 11 November 2011 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

SANTA GERTRUDIS [1256-1302]

SANTA GERTRUDIS [1256-1302] 

Pada hari ini, tanggal 16 November, para rahib dan rubiah Trapis (OCSO) serta juga kongregasi SCJ (Congregatio Sacerdotum A Sacro Corde Jesu – Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus) memperingati seorang perawan kudus yang telah mengalami Kristus secara istimewa. Kongregasi suster-suster SSpS (Servae Spiritus Sancti – Suster-suster Misi Abdi Roh Kudus) pada hari ini juga merayakan pesta nama orang kudus ini yang menjadi pelindung tarekat mereka.

Nama  Gertrudis (Gertrude, Gertrud) memang kurang dikenal di Indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan nama-nama seperti  Maria, Teresia atau Lucia. Mungkin karena nama Gertrudis ini terlalu berbau Jerman. Koq muncul nama kongregasi SCJ di sini? Tentunya karena erat berhubungan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Kalau kita menekuni devosi kepada Hati Kudus Yesus, maka nama Gertrudis merupakan salah satu nama penting yang harus kita ketahui, tidak hanya nama Santa Margarita Maria Alacoque (1647-1690). Itulah sebabnya mengapa saya memasukkan cerita singkat tentang orang kudus ini dalam blog SANG SABDA ini.

Devosi kepada Hati Kudus Yesus, dalam arti devosi kepada Kristus di mana Hati-Nya dimengerti sebagai sebuah lambang cinta kasih-Nya kepada umat manusia, untuk pertama kali secara eksplisit muncul pada abad ke tiga belas, khususnya dalam tulisan-tulisan yang menceritakan penampakan-penampakan kepada Santa Gertrudis dari biara Cistercian (Trapis) di Helfta, Saxony, Jerman Utara ini. Dia mengalami kasih Yesus seperti si pengemis buta dalam Injil mengalami-Nya.

Gertrudis mengalami penampakan Kristus pada waktu dia berumur dua puluh tahun. Sejak saat itu dia mencurahkan segala jiwa raga pada hidup kontemplatif karena baginya segala daya tarik pengetahuan duniawi sudah terkubur dalam-dalam. Gertrudis mencurahkan seluruh perhatiannya pada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja dan perayaan ibadat.

Hidup Gertrudis dipenuhi berbagai pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Banyak diantaranya dapat dibaca dalam kumpulan karangan yang sebagian ditulis berdasarkan catatan, diktat dan hasil tulisan Gertrudis sendiri. Buku ini banyak memberikan sumbangan kepada  kehidupan rohani di Abad Pertengahan. Buah pena ini amat menarik. Sebab, orang akan melihat bagaimana Gertrudis merintis penghormatan kepada Hati Kudus Yesus, yang sekarang ini sangat merata dan lazim dilakukan oleh umat Katolik di mana-mana. Itulah sebabnya terkadang orang kudus ini diberi gelar atau dijuluki “Gertrudis Agung”.

Ada sebuah doa orang kudus ini yang didoakan pada waktu pagi pada saat baru bangun tidur, yang tentunya dapat kita doakan juga:

Aku menyembah, memuji dan memberi hormat kepada-Mu, O Hati Yesus Kristus yang termanis. Aku berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah memeliharaku sepanjang malam tadi, dan telah mempersembahkan puji-pujian dan syukur kepada Allah Bapa atas namaku. Dan, sekarang aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku sebagai sebuah kurban persembahan di pagi hari; aku menaruhnya dalam Hati-Mu yang paling lembut dan mempercayakannya ke dalam pemeliharaan-Mu; semoga Engkau berkenan mencurahkan ke dalamnya inspirasi ilahi-Mu, dan untuk mengobarkannya dengan cinta kasih ilahi-Mu [Catholic Truth Society, Prayers to the SACRED HEART, hal. 39].

Saya tambahkan lagi dua dari doa-doa-nya, khususnya bagi saudara-saudari yang dengan tekun dan teratur melakukan devosi kepada Hati Kudus Yesus:

O Guru yang terkasih, oleh Hati-Mu yang tertikam, aku berdoa agar Engkau menikam hatiku dengan anak-anak panah kasih-Mu sehingga hatiku tidak lagi menghargai hal duniawi apa saja, melainkan dipenuhi hanya dengan kuasa Allah, Bapa-Mu [Brian Moore SJ [compiler], The Saviour’s Heart – an anthology, no. 34, hal 42-43]

“Tuhan, aku mempersembahkan kepada-Mu airmataku, yang dipersatukan dengan airmata-Mu, dalam puji-pujian kepada Bapa-Mu. Tuhan, dalam segala pencobaanku aku berhasrat untuk datang kepada-Mu dan membuat diriku dekat kepada Hati ilahi-Mu, untuk mencari penghiburanku. Jangan pernah tinggalkan aku! Aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, demi cinta kasih kepada Hati ilahi-Mu, Engkau yang menanggung sendiri beban-beban semua orang, buatlah aku mampu memikul beratnya kepedihanku sekarang dengan cinta kasih dan rasa penuh syukur. Tuhan, lindungilah aku dalam penderitaanku, tariklah kepada diri-Mu segala kepedihanku, yang dipersatukan dengan sengsara-Mu. Semoga Engkau akan bersamaku sampai nafasku yang terakhir, sehingga pada saat ajalku tiba, nafasku terakhir, O Yesus, dapat kuhembuskan hanya kepada Hati-Mu [Brian Moore SJ, No. 42, hal. 47-48].

Demikianlah cerita singkat mengenai Santa Gertrudis, orang kudus yang kita peringati hari ini.

Cilandak, 16 November 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG UANG MINA [2]

PERUMPAMAAN TENTANG UANG MINA [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Santa Gertrudis, Perawan Rabu 16-11-11)

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (catatan: orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28)

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8,15

Perayaan Paskah sudah semakin mendekat. Kota Yerikho dipadati oleh kelompok-kelompok peziarah yang sedang menuju ke kota suci Yerusalem untuk merayakan Paskah – peringatan peristiwa pembebasan bangsa Yahudi dari tanah Mesir. Setiap orang berpikir inilah saatnya bagi Yesus untuk berjaya, dan Kerajaan Allah akan segera kelihatan … Dalam waktu singkat, di dekat pintu gerbang Yerusalem, mungkin hanya beberapa jam lagi, mereka akan mengelu-elukan sang “Putera Daud” sambil melambai-lambaikan daun palma (baca Luk 19:28 dsj.).

Sekitar sepuluh hari kemudian, dua orang murid dalam perjalanan menuju Emmaus akan mengungkapkan kekecewaan mereka dengan kata-kata berikut ini: “Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel” (Luk 24:21), dan lima puluh hari kemudian, para rasul-Nya masih saja bertanya kepada-Nya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1:6).

Pada masa itu, sewaktu Santo Lukas menulis Injilnya, banyak peragu masih saja mempertanyakan dengan nada menghina: “Di mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (2Ptr 3:4).

Memang kelihatannya Allah seakan-akan membuat umat-Nya menanti dan menanti. Kita memang tidak banyak menyaksikan kemegahan Kerajaan-Nya! Sebenarnya Yesus telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang ragu-ragu itu. Di manakah kita dapat memperoleh jawaban Yesus itu? Dalam ‘perumpamaan tentang uang mina’! …… “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali” (Luk 19:12-13).

Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus itu mengharapkan kedatangan sebuah Kerajaan, yang akan langsung diwujudkan di atas bumi ini. Yesus mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa sebelum Kerajaan itu diwujudnyatakan, akan akan semacam penundaan, dan selama masa penundaan itu Ia mempercayakan tugas serta tanggung jawab yang menyertai tugas itu kepada kita – para murid-Nya – yang hidup di atas bumi ini. Kurun waktu di dalam mana kita hidup bukanlah untuk “bermimpi”, melainkan untuk “bekerja”, melakukan pekerjaan yang akan “berbuah”. “Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami”  (Luk 19:14). Orang-orang yang hidup pada zaman Yesus sebenarnya mengharap-harapkan kedatangan sebuah Kerajaan yang penuh kemuliaan, sebuah Kerajaan yang berjaya dan mampu mengalahkan bangsa-bangsa lain. Yesus ingin para murid-Nya memahami, bahwa peresmian atau inaugurasi dari Kerajaan-Nya akan didahului dengan sebuah pemberontakan – katakanlah ‘revolusi’ – melawan “RAJA” ini. Beribu-ribu tahun telah lewat, namun masih saja terngiang-ngiang di telinga kita (umat Kristiani yang hidup di abad ke-21 ini) apa saja yang diteriakkan dengan penuh kebencian oleh sebagian besar bangsa pilihan Allah: “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami! …… Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Luk 23:18,21).

Sengsara Yesus …… Sengsara Allah karena ditolak oleh umat-Nya sendiri, adalah sebuah peristiwa sejarah yang sangat mengganggu nurani setiap insan yang normal. Yesus mempermaklumkan hal tersebut …… Ini adalah sebuah fenomena aktual – sebuah peristiwa dalam setiap zaman.

Di samping itu, Yesus sebenarnya membuat allusi pada suatu peristiwa historis yang baru saja terjadi sebelumnya: Arkhelaus (anak raja Herodes; lihat Mat 2:22) di mana kota Yerikho berada dalam kekuasaannya – pergi ke Roma untuk meminta gelar “Raja” dari Kaisar Agustus – namun sebuah delegasi yang terdiri dari 50 pemimpin Yahudi mengusahakan agar permohonan tersebut ditolak.

“Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing” (Luk 19:15). Mulai dari titik ini dalam ‘perumpamaan tentang uang mina’ ini, kita dapat merasakan adanya keserupaan narasi antara perumpamaan ini dengan ‘perumpamaan tentang talenta’ yang hanya terdapat dalam Injil Matius (Mat 25:14-30), dan dalam suatu konteks eskatologis yang serupa. Jangka waktu yang mendahului “Kerajaan Allah yang terlihat” adalah suatu masa di mana Allah sudah memerintah/meraja, namun belum kelihatan secara kasat mata. Ini adalah masa pengejaran dan penganiayaan. Ini adalah masa di mana iman umat diuji, …… masa untuk bertekun. Ini adalah masa untuk bekerja bagi Allah: “apa saja yang telah dipercayakan Allah kepada seorang pribadi manusia haruslah berbuah” …… Ini adalah masa bagi kita untuk setia “dalam hal-hal kecil” (Luk 16:10) sampai saat di mana Allah mempercayakan kepada kita masing-masing dengan tugas dan tanggung jawab yang lebih penting: hamba yang berhasil mengelola uang mina diberikan kekuasaan untuk memerintah kota-kota. Ini adalah masa Gereja …… Ini adalah HARI INI. 

DOA: Bapa surgawi, banyak orang di segala zaman mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada-Mu dalam Yesus Kristus. Bila hal sedemikian terjadi atas diri kami, berikanlah kepada kami keberanian untuk tetap berpegang pada kebenaran-Mu – bahkan sampai mati sekali pun. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28)), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG UANG MINA” (bacaan untuk tanggal 17-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH  NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 10 November 2011 [Peringatan S. Leo Agung, Paus & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI INI TELAH TERJADI KESELAMATAN KEPADA SEISI RUMAH INI

HARI INI TELAH TERJADI KESELAMATAN KEPADA SEISI RUMAH INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII, Selasa 15-11-11)

FMM: Pesta wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Ia pun berlari mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata kepadanya, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  (Luk 19:1-10)

Bacaan Pertama: 2Mak 6:18-31; Mazmur Tanggapan: 4:2-7 

“Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini” (Luk 19:9). Cerita mengenai Zakheus yang hanya terdapat dalam Injil Lukas ini memang selalu menarik. Setiap kali membaca perikop ini, selalu ada saja aspek yang menarik untuk disoroti. Misalnya, pada hari ini marilah kita mulai dengan pertanyaan: “Apakah kiranya yang menggerakkan hati Yesus sehingga sampai membuat pernyataan di atas? Apakah karena Zakheus mencari Yesus dengan caranya yang begitu kreatif – dengan memanjat pohon ara? Atau apakah karena keputusannya untuk membayar kembali segala keuntungan “haram” yang selama ini telah diperolehnya sebagai seorang pejabat pajak (kepala pemungut cukai)? Jika kita simak dengan serius jawabannya bisa saja dua-duanya.

Yesus merasa gembira bahwa Zakheus mencari diri-Nya dan menyambut Dia ke dalam rumahnya, namun Ia tidak memberikan konfirmasi tentang keselamatan jiwa Zakheus, sampai saat pejabat pajak ini membuat komitmen untuk mengubah cara-cara hidupnya yang lama. Yesus sesungguhnya memperhatikan saat-saat sampai iman Zakheus diungkapkan dengan tindakan nyata.

Namun demikian, Saudari dan Saudaraku, jangan salah tangkap: Keselamatan adalah murni anugerah atau karunia yang diberikan secara gratis oleh Allah kepada kita. Akan tetapi, tanggapan kita terhadap anugerah gratis ini sungguh bersifat crucial.  Apa gunanya iman kita, apabila iman itu tidak memimpin kita masuk ke dalam suatu kehidupan yang dipenuhi dengan cintakasih untuk melayani sesama kita? Demikian pula halnya dengan Zakheus. Tidak banyak gunanya bagi Zakheus untuk mengakui dan menerima Yesus sebagai sang Mesias, dan kemudian melanjutkan kehidupannya sebagai kepala pajak yang suka menipu orang-orang lain. Adegan Zakheus (tidak ada dalam Injil) yang berjalan sepanjang jalan sambil memberikan uangnya kepada orang-orang yang membutuhkan tentunya lebih mengandung makna daripada ribuan kata yang dapat diucapkannya tentang betapa besar dan mendalam cintakasihnya kepada Yesus.

Pada hari ini, baiklah kita mengambil waktu sejenak untuk memeriksa jalan-iman kita masing-masing. Posisi dari sebagian besar kita adalah antara suatu kehidupan “hanya iman” di satu sisi, dan “hanya kerja” di sisi lain. Apabila kehidupan doa dan praktek-praktek keagamaan anda kuat, pertimbangkanlah apakah yang anda dapat lakukan lebih guna menunjukkan cintakasihmu kepada Tuhan Allah dan kepada orang-orang lain atas suatu dasar yang regular. Pikirkanlah satu cara dengan mana anda dapat melayani keluargamu pada hari ini, melayani komunitasmu, atau melakukan tugas pelayanan dalam parokimu. Santo Paulus mendorong jemaat di Filipi untuk tetap mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu sang rasul masih hadir di tengah-tengah jemaat, tetapi terlebih lagi waktu Paulus tidak berada bersama mereka (lihat Flp 2:12). Apabila anda sudah kuat dalam perbuatan-perbuatan baik, tanyakanlah apakah kehidupan doamu dapat ditingkatkan. Sekarang, dalam keheningan, katakanlah kepada Tuhan betapa anda mengasihi-Nya. Memang ini adalah tindakan untuk membuat segalanya seimbang, namun tujuan kita selalu adalah bahwa iman kita yang riil dan yang mengubah-hidup akan mengekspresikan dirinya melalui pekerjaan-pekerjaan atau tindakan-tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur untuk karunia keselamatan yang telah Kauberikan kepadaku. Semoga aku tidak pernah cepat merasa puas dalam mengasihi-Mu dan sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:1-10), bacalah tulisan berjudul “Zakheus pun anak Abraham” (bacaan untuk tanggal 15-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 9 November 2011 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X.Indrapradja, OFS

BERSAMA-SAMA, KITA DAPAT MENGUBAH DUNIA INI !!!

BERSAMA-SAMA, KITA DAPAT MENGUBAH DUNIA INI !!!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII, Senin 14-11-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir 

Dari pada mereka itulah terbit sebuah tunas yang  berdosa, yaitu Antiokhus Epifanes putera raja Antiokhius. Ia telah menjadi sandera di Roma. Anthiokhus Epifanes menjadi raja dalam tahun seratus tiga puluh tujuh di zaman pemerintahan Yunani. Di masa itu tampil dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata: “Marilah kita pergi dan mengadakan perjanjian perjanjian dengan bangsa-bangsa di keliling kita. Sebab sejak kita menyendiri maka kita ditimpa banyak malapetaka.” Usulnya itu diterima baik. Maka beberapa orang dari kalangan rakyat bersedia untuk menghadap raja. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain. Kemudian orang-orang itu membangun di Yerusalem sebuah gelanggang olah raga menurut adat bangsa-bangsa lain. Mereka pun memulihkan kulup mereka pula dan murtadlah mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat.

Rajapun menulis juga sepucuk surat perintah untuk seluruh kerajaan, bahwasanya semua orang harus menjadi satu bangsa. Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri. Maka semua bangsa menyesuaikan diri dengan titah raja itu. Juga dari Israel ada banyak orang yang menyetujui pemujaan raja. Dipersembahkan oleh mereka korban kepada berhala dan hari Sabat dicemarkan.

Pada tanggal lima belas bulan Kislew dalam tahun seratus empat puluh lima maka raja menegakkan kekejian yang membinasakan di atas mezbah korban bakaran. Dan mereka mendirikan juga perkorbanan di segala kota di seluruh Yehuda. Pada pintu-pintu rumah dan di lapangan-lapangan dibakar korban.  Kitab-kitab Taurat yang ditemukan disobek-sobek dan dibakar habis. Jika pada salah seorang terdapat Kitab Perjanjian atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat maka dihukum mati oleh pengadilan raja.

Namun demkian ada banyak orang Israel yang menetapkan hatinya dan memasang tekad untuk tidak makan apa yang haram. Lebih sukalah mereka mati daripada menodai dirinya dengan makanan semacam itu dan begitu mencemarkan perjanjian kudus. Dan sesungguhnya mereka mati juga. Kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel. (1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64)

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158; Luk 18:35-43 

Sejak menetapnya mereka di Mesir sampai zaman Nazi Hitler dan masa-masa setelah itu, orang-orang Yahudi selalu hidup dalam keadaan berbahaya disebabkan oleh masyarakat sekeliling yang tidak bersahabat. Mereka berhasil “survive” dari serbuan bangsa Asyur dan pembungan di Babel, dan dengan berpakaian compang-camping mereka kembali ke Israel untuk membangun kembali negeri mereka. Aleksander Agung adalah penguasa Yunani pertama yang berhasil menyapu seluruh area di sana, dan pada sekitar tahun 175 SM, orang-orang Yahudi berada di bawah ancaman yang lebih serius dari para penerus Aleksander.

Antiokhius IV Epifanes menjadi penguasa Yudea sekitar 170 tahun sebelum Kristus. Ia adalah seorang Yunani, seorang turunan dari para pengikut Alexander yang berasal dari keluarga Seleucid (salah satu keluarga dinasti Makedonia). Antiokhius IV Epifanes memutuskan untuk mengkonsolidasi kekuasaannya dengan mengakhiri nasionalisme yang terpecah-pecah. Ia mendesak setiap orang dalam kerajaannya untuk mengikuti budaya Yunani yang lebih “superior” itu. Banyak orang Israel menerima cara-cara ini. Seperti telah kita ketahui bahwa sejak kematian Aleksander Agung, banyak bagian “dunia” tetap berada di bawah pengendalian pasukan-pasukannya. Maka, tidak mengherankanlah apabila pada zaman itu banyak pemimpin Yahudi telah menerima budaya Yunani. Mereka mengikuti pendidikan Yunani dan mendorong proses asimilasi dengan aspek-aspek lainnya dari masyarakat Yunani. Dengan demikian banyak pemikiran-pemikiran baru yang timbul, misalnya apa sih perlunya disunat, atau apa salahnya sih makan daging babi untuk memelihara kehidupan diri kita, dlsb.

Suara-suara dari mereka yang ingin adanya “perubahan” seperti itu terdengar sangat masuk akal, sama halnya seperti pada masa kini. Mereka yang dengan teguh berpegang pada cara-cara yang tradisional dalam berbicara dan bertutur-sapa, dalam melakukan praktek keagamaan, dalam memelihara budaya mereka sendiri dipandang sebagai orang-orang yang keras-kepala, ketinggalan zaman, fanatik, dlsb., tidak bedanya seperti pada zaman sekarang. Apakah Allah sungguh menginginkan anda untuk mempunyai anak-anak tidak lebih dari dua orang? Bukankah suatu kekejaman bilamana dalam Gereja yang didominasi oleh kaum laki-laki, para perempuan tidak boleh diikutsertakan dalam pelayanan publik?

Banyak orang di Israel menjadi resah dan merasa tidak nyaman dengan meningkatnya sekularisasi, namun mereka tetap pasif sampai Matatias dengan berani mendeklarasikan bahwa dia akan melanjutkan hidup oleh “perjanjian” yang kudus dengan Allah: “Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!” (1Mak 2:19-22). Di sekeliling kepemimpinan Matatias yang berani, bergabunglah orang-orang dalam sebuah gerakan yang pada akhirnya membebaskan Israel dari musuh-musuhnya.

Di mana seharusnya kita menarik garis pemisah di zaman modern ini? Dalam suasana doa yang serius kita harus melakukan discernment misalnya acara-acara televisi apa saja yang pantas kita tonton, untuk hal-hal apa saja akan kita gunakan uang kita, gagasan-gagasan hukum/undang-undang apa saja yang sedang diusulkan atau dipraktekkan oleh pemerintah yang akan kita tolerir? Santo Paulus menasihati para pembaca suratnya: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan-pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Rm 12:2). Menanggapi nasihat Paulus itu, kita semua dapat berseru: “Bersama-sama, kita dapat mengubah dunia ini!” 

DOA:  Roh Kudus Allah, Engkau telah membuat kami ‘ciptaan baru’. Ciptakanlah kami sesuai dengan rupa dan gambar Yesus Kristus dan gerakkanlah kami dengan penuh gairah dan keyakinan manakala dunia mencoba menggencet kami agar menjadi tidak keruan sebagai pribadi-pribadi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO” (bacaan untuk tanggal 14-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. Apabila anda berminat mengenal S. Nicholas Tavelic dkk., silahkan mengunjungi blog PAX ET BONUM; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN. 

Cilandak, 9 November 2011 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers