Archive for February, 2012

BAPA DI SURGA AKAN MEMBERIKAN YANG BAIK KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

BAPA DI SURGA AKAN MEMBERIKAN YANG BAIK KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah, Kamis 1-3-12) 

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 7:7-12)

Bacaan Pertama: Est 4:10a,10c-12,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7). Bacaan ini pada umumnya dikenal dengan baik oleh umat Kristiani, namun banyak juga mendatangkan “kekecewaan” kepada cukup banyak orang. Banyak sekali umat Kristiani yang menaruh kepercayaan pada sabda Yesus ini. Mereka berdoa, mereka memohon dengan sangat, namun sia-sia belaka. Dalam saat-saat yang terasa menekan, menakutkan, mengkhawatirkan, pada waktu menderita penyakit serius, pada waktu terjadi pergolakan dalam masyarakat yang menumpahkan darah sesama warga; dalam kesesakan hati mereka menghadap hadirat Bapa di surga, namun doa permohonan mereka itu seakan tidak didengarkan oleh-Nya. Mereka berdoa dengan penuh kepercayaan dan dalam nama Yesus, dengan “iman yang dapat memindahkan gunung” dan dengan sepenuhnya bersandar pada janji Injili di atas, tokh perkawinan anak mereka pecah-berantakan juga, tokh mereka kehilangan pekerjaan juga, tokh anak mereka yang menderita sakit mati juga, dlsb.

Yesus menyatakan, bahwa apabila kita orang berdosa hanya memberikan yang baik kepada anak-anak kita jika mereka meminta sesuatu kepada kita, maka Bapa surgawi pun – yang dari kodrat-Nya adalah baik – pasti hanya akan memberikan yang baik saja kepada kita, bilamana kita sebagai anak-anak-Nya meminta sesuatu kepada-Nya. Jadi inilah kunci permasalahannya: Allah itu baik! Sebagaimana ditulis dalam “Anggaran Dasar Tanpa Bulla” oleh Santo Fransiskus dari Assisi, Dialah “satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni” (AngTBul XXIII:9). Kalau Allah kita adalah seperti ini, maka tentunya Dia hanya memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang berdoa memohon kepada-Nya. Dengan tegas Yesus mengatakan: “Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11).

Barangkali ini pun belum merupakan jawaban yang lengkap. Dalam Injil Lukas ada tertulis ayat padanannya: “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13). Inilah yang menentukan: ROH KUDUS! Kepada setiap orang yang berdoa dengan hati jujur, Allah akan memberikan Roh Kudus-Nya, dengan demikian memberikan karunia/anugerah yang terbesar dan pengabulan doa yang terindah. Di samping Allah, segalanya yang lain tidaklah berarti apa-apa. Hanya Allah sendirilah yang tak terbatas. Barangsiapa menerima Roh Kudus, maka hal itu berarti bahwa doanya telah dikabulkan secara berlimpah. Jika manusia telah benar-benar dipenuhi dengan Roh Allah sendiri, maka sikap dan perilakunya akan sepenuhnya sesuai dengan kehendak suci Allah. Orang itu akan hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah dan menolak apa yang ditolak Allah. Dan setelah ia menerima karunia yang besar dan agung itu, ia pun tahu bahwa dia juga akan menerima karunia-karunia kecil yang telah dimintanya, asalkan itu tidak bertentangan dengan Roh Allah yang kudus. Jadi,  bagi setiap orang yang berdoa secara sungguh-sungguh, ada jaminan bahwa doanya akan didengarkan, yaitu bahwa yang terbesar akan diberikan kepadanya dan juga bahwa yang lebih kecil akan diberikan apabila hal itu baik baginya dan akan membawanya lebih dekat kepada Allah. Doa permohonan seseorang akan ditolak apabila akan berakibat tidak baik baginya dan tidak lebih mendekatkan dia kepada Allah.

Demikianlah sabda Yesus hari ini menghantarkan kita kepada isi pokok dari segala yang diuraikan-Nya, kepada sikap jiwa yang benar. Pencapaian sikap jiwa inilah yang disebut karunia, yang diberikan kepada setiap orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh dengan ketulusan hati. Bagi orang-orang yang dengan sungguh-sungguh berdoa, maka “Khotbah di Bukit” benar-benar bukan hisapan jempol, artinya benar-benar dimungkinkan terwujud dalam kehidupan mereka. Bagi mereka hal itu mungkin karena “Kebaikan yang Tertinggi” – Roh Kudus – diberikan kepada mereka. Maka di sini ditunjukkanlah dengan jelas jalan menuju kepenuhan. Dari doa “Bapa Kami” nyata sekali ciri-ciri pribadi Putera Allah, dan dari situ menyusullah cara yang tepat bagaimana kiranya kita berdoa kepada Bapa di surga. Bagaimana kita menghaturkan doa-doa permohonan kita kepada-Nya, yaitu dengan menyerahkan sepenuhnya pengabulan atas doa-doa kita itu kepada cintakasih-Nya. Dengan demikian, barulah doa permohonan kita kepada Allah Bapa di surga sungguh-sungguh bersifat ibadat dan penuh kepercayaan sejati. Doa semacam itu membawa seorang pribadi manusia kepada Allah dan menjadikan dirinya berani mengharapkan segala sesuatu dari Allah, namun senantiasa dengan disposisi hati yang benar, yaitu kepasrahan kepada hikmat-kebijaksanaan Allah serta dalam cinta kepada kehendak-Nya.

Hidup Kristiani barulah benar-benar hidup seturut semangat “Khotbah di Bukit”, apabila kehidupan kita dengan erat dipertalikan dengan Allah, jadi merupakan kehidupan yang sepenuhnya diresapi oleh Allah. Apabila seorang Kristiani menerima karunia kecil yang dimohonnya dalam doa, maka dia akan bersyukur kepada Bapa di surga dan akan tumbuh dalam cintakasih-Nya. Jikalau dia tidak menerimannya, maka tahulah dia bahwa pengabulan atas doanya tidak akan lebih mendekatkan dirinya pada Allah, dan ia pun akan bersyukur kepada-Nya, bahwa dalam hikmat-kebijaksanaan-Nya, Allah tidak mengabulkan doa permohonannya tadi. Namun haruslah kita sadari dengan penuh syukur bahwa doa permohonan kita itu tidak akan sia-sia, karena Allah memberikan kepada kita karunia yang jauh lebih besar, yaitu Roh Kudus – Allah sendiri. Inilah sikap penuh kepercayaan dari doa Kristiani yang sejati dalam konteks relasi antara seorang pribadi manusia dengan Penciptanya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih. Ajarlah kami untuk berdoa kepada-Mu dengan penuh kepercayaan dan keyakinan. Tolonglah kami untuk percaya bahwa Engkau akan memberikan hal yang baik kepada siapa saja yang memohonnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 7:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “MINTALAH, CARILAH, DAN KETUKLAH” (bacaan untuk tanggal 1-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012.  Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Est 4:101,10c-12,17-19), bacalah tulisan yang berjudul “DOA SYAFAAT RATU ESTER” (bacaan tanggal 25-2-10) , dalam blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

Cilandak, 4 Februari 2012 [Peringatan S. Yosef dari Leonisa, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTOBATAN KOTA NINIWE

PERTOBATAN KOTA NINIWE

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Rabu 29-2-12) 

Datanglah firman TUHAN (YHWH) kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.

Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang  dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya. (Yun 3:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19; Bacaan Injil: Luk 11:29-32 

Yunus melarikan diri pada waktu YHWH memerintahkan kepadanya untuk mengingatkan penduduk Niniwe tentang penghukuman atas kota itu. Ada banyak kemungkinan bahwa Yunus membenci orang Niniwe karena ancaman militer mereka terhadap kerajaan Israel sebelah utara. Mudahlah untuk membayangkan bahwa seorang Israel akan bergembira menyambut penghukuman Allah atas kota Niniwe dan penduduknya dan mereka tidak ingin berdiri di tengah menghalangi terjadinya peristiwa yang menggembirakan itu. Mengetahui bahwa Allah itu penuh belas kasihan (lihat Yun 4:2), Yunus menolak untuk mengingatkan musuh-musuhnya tentang penghakiman Allah yang akan datang. Lebih suka melihat orang-orang Niniwe itu ditimpa murka Allah, Yunus melarikan diri ke laut guna menghindarkan diri dari panggilannya. Namun Allah terus mengubarnya sampai Yunus akhirnya mau juga pergi dan mengumumkan firman Allah itu kepada orang-orang Niniwe, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4).

Niniwe diberi waktu 40 hari untuk melakukan pertobatan, namun akhirnya hanya memerlukan satu hari saja. Begitu para penduduk kota itu diperingati, mereka berbalik kepada YHWH. Semuanya, bahkan hewan peliharaan pun tidak makan-minum sebagai suatu tanda penyesalan mereka atas dosa-dosa mereka. Menanggapi pertobatan penduduk Niniwe, Allah mengampuni kesalahan penduduk Niniwe dan Ia pun membatalkan rencana penghukuman-Nya atas kota Niniwe dan penduduknya.

Cerita Yunus ini melukiskan kuat-kuasa sabda Allah untuk menembus hati-hati manusia yang  sudah keras-membatu. Kita dapat memakai pembalikan secara mendadak dari Niniwe sebagai sebuah contoh bagi kita dan suatu sumber pengharapan berkaitan dengan kemungkinan dampak dari sabda-Nya atas diri kita dan sesama kita. Cerita Yunus ini juga dapat mendorong kita untuk berdoa bagi mereka yang belum mengenal Tuhan dan menceritakan kepada mereka tentang Dia. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus mengajar kita bagaimana melakukan doa-doa syafaat (doa-doa pengantaraan demi orang lain), maka doa-doa kita pun akan  membuat perbedaan! Melalui doa-doa itu Tuhan akan memungkinkan orang-orang menerima sabda-Nya, bertobat dari dosa-dosa mereka, dan menerima keselamatan. Sabda Allah yang penuh kuat-kuasa akan memampukan orang-orang pada hari ini, seperti orang-orang Niniwe, untuk sungguh bertobat dan menerima belas kasihan Allah yang berlimpah.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yunus, kita pun mungkin tidak mau mendoakan atau syering iman kita dengan orang-orang yang pernah menyakiti hati kita. Akan tetapi, apabila kita mentaati perintah Yesus untuk mengasihi musuh-musuh kita, maka dalam kerahiman-Nya Allah akan membuat hati kita lembut dan menolong kita untuk mengampuni yang bersalah kepada kita. Kemudian, doa-doa syafaat kita akan terangkat tanpa halangan sampai kepada-Nya dan melepaskan aliran rahmat penyembuhan dari singgasana Allah.

DOA: Bapa surgawi, sulit bagi diriku untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatiku. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuka hatiku dan mengampuni mereka. Jadikanlah hatiku seperti hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA TIDAK AKAN DIBERIKAN TANDA SELAIN TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 29-2-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-10-11) 

Cilandak, 27 Januari 2012 [Peringatan S. Angela Merici, Perawan; Pendiri Ordo Santa Ursula; anggota Ordo Ketiga S. Fransiskus – Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FIRMAN ALLAH SELALU BERBUAH DAN JANJI-NYA SELALU DITEPATI

FIRMAN ALLAH SELALU BERBUAH DAN JANJI-NYA SELALU DITEPATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah, Selasa 28-2-12) 

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya (Yes 55:10-11). 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 34:4-7.16-19; Bacaan Injil: Mat 6:7-15. 

Sabda (Firman) Allah memang selalu menghasilkan buah-buah dan janji-janji-Nya pun selalu ditepati. Kepastian dari kebenaran ini merupakan dasar dari kemampuan Yesus untuk melanjutkan kerja pelayanan-Nya di muka umum, meskipun menghadapi tentangan dan tantangan dari orang Farisi, kebebalan para murid-Nya dan kesalah-pahaman dari anggota keluarga-Nya sendiri.

Ketika kita mengatakan “ya” terhadap firman Allah, bilamana kita membuat firman itu menjadi milik kita sendiri oleh iman, sebenarnya kita mengatakan, “Tuhan, aku tahu bahwa aku dapat mempercayai-Mu, Engkau adalah andalanku satu-satunya, apa pun yang terjadi. Engkau memang setia sepanjang masa.” Ketidak-percayaan kita pada firman Allah adalah akibat dari kodrat manusiawi yang cenderung berdosa sebagai akibat dari pemberontakan Adam dan Hawa. Karena dosa mempunyai kecenderungan untuk mengeraskan hati kita, maka kita seringkali merasa  curiga terhadap kebaikan Allah, kasih-Nya dan kesetiaan-Nya. Namun demikian, Allah tidak pernah mencampakkan kita, bahkan dalam kondisi kita yang terpuruk dan terburuk sekali pun di mata-Nya.  Yesus menjadi seorang manusia, sama seperti kita, supaya Dia dapat menyelamatkan kita – meskipun kita menganggap hina dan tidak percaya kepada-Nya. Allah tetap setia pada firman-Nya, meski menghadapi tentangan dan tantangan sekalipun.

Yesus adalah Firman Allah yang telah menjadi manusia (lihat Yoh 1:14). Dalam Yesus, janji-janji diwujud-nyatakan …… menjadi realitas. Pada waktu kita mengatakan “ya” kepada firman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita dapat yakin bahwa dia akan menarik kita lebih dekat lagi kepada diri-Nya. Kita pun akan mengalami Dia mencurahkan firman-Nya kepada kita “seperti hujan dan salju” (Yes 55:10) guna memperkenankan kita turut ambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Jika Dia mengatakan bahwa rencana-Nya bagi kita itu adalah demi kebaikan dan bukannya untuk hal-hal yang buruk, maka kita dapat percaya kepada-Nya. Kalau Dia berjanji bahwa semua orang yang menyerukan nama-Nya akan diselamatkan, maka kita pun pantas merasa nyaman dan terhibur!

Allah berjanji bahwa apabila kita berdiam dalam firman-Nya dan dalam Yesus, “Firman-Nya yang kekal”, maka kita akan diubah dan disembuhkan. Oleh karena itu dalam masa Prapaskah ini seyogianya kita menyediakan secara lebih istimewa lagi prime time kita untuk pembacaan dan permenungan firman Allah dalam Kitab Suci. Buatlah diri kita sungguh hening di hadapan-Nya dan mohon Roh Kudus mengajar kita dan membimbing kita. Dalam iman, kita katakan kepada-Nya: “Ya Tuhan, aku percaya akan firman-Mu. Perkenankanlah firman-Mu itu datang dan memenuhi hidupku.” Kita harus menyingkirkan segala pemikiran atau keyakinan yang salah tentang Allah kita yang baik – kebohongan apa saja yang mencoba meyakinkan kita bahwa Dia tidak setia dalam menepati janji-janji-Nya. Kita pun akan bebas dari rasa takut dan mengalami sukacita bilamana kita melakukan tindakan-tindakan iman seperti itu. Ingatlah apa yang dikatakan oleh sang pemazmur: “Malaikat YHWH berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 34:7 BIS-LAI; 34:8 TB-LAI).

DOA: Bapa surgawi, bukalah hatiku bagi kuat-kuasa firman-Mu untuk memperbaharui aku. Jadilah pelitaku, jalanku dan hidupku. Ajarlah aku bagaimana berdiam dalam firman-Mu dan mengikuti Yesus, Penebusku dan Guruku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan dengan judul “BAPA KAMI YANG DI SURGA” (bacaan untuk tanggal 28-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-2-10) 

Cilandak,  27 Januari 2012 [Peringatan S. Angela Merici, Perawan; Pendiri Ordo Santa Ursula; anggota Ordo Ketiga S. Fransiskus - Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

YESUS KRISTUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL

YESUS KRISTUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah, Senin 27-2-12) 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46)

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Adalah seorang eksekutif muda di Jakarta – katakanlah namanya Markus – yang sudah  cukup lama merasa gelisah karena kehidupan spiritualnya. Markus merasa bahwa dirinya selama beberapa bulan belakangan ini sering diingatkan bahwa dia hanya “baik” pada hari Minggu saja, yaitu ketika menghadiri Misa Kudus, padahal di hari-hari lainnya dirinya tidaklah demikian. Kemudian Markus memutuskan bahwa sudah tibalah saat baginya untuk membuat perubahan. Pada suatu pagi hari dia berdoa yang intinya adalah sebagai berikut: “Tuhan Yesus, nyatakanlah kehadiran-Mu kepadaku secara ajaib pada hari ini.” Doanya sangat intens dan dipenuhi pengharapan, dan dia juga merasakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi dengan berjalannya waktu pada hari itu. Dengan demikian, Markus pun menyiapkan hari itu dengan ekspektasi yang besar.

Benar saja, sesuatu pun terjadi! Pada waktu Markus ke luar dari mobilnya di tempat parkir dekat kantornya, seorang laki-laki tua mendekatinya dan berkata, “Pak, saya orang baru di kota Jakarta. Dapatkah Bapak menunjukkan kepada saya di manakah apotik yang terdekat?” Tugas itu tidak susah, sehingga permintaan orang itu pun dikabulkan oleh Markus dengan baik. Ia menghantar orang itu sampai ke pinggir jalan besar dan menunjukkan apotik yang memang terletak tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, pada jam makan siang, seorang rekan kerjanya (perempuan) mengatakan kepada Markus bahwa dia “merasa tidak enak badan” dan berencana untuk pergi ke dokter setelah makan siang. Rekan kerjanya itu berkata kepada Markus: “Doakan aku, ya!” Markus pun meyakinkan rekan-kerjanya itu bahwa dia akan mendoakannya. Dan ia memang kemudian berdoa untuk pemulihan kesehatan teman perempuannya itu. Pada sore harinya ketika menuju tempat parkir, Markus bertemu dengan seorang teman sekolahnya di SMA yang sudah kehilangan pekerjaannya sejak tiga bulan lalu. Markus mengajak temannya itu ke ATM yang tidak jauh dari situ dan “meminjamkan sejumlah uang” sesuai permintaan temannya itu. Pada malam harinya Markus merenungkan apa saja yang telah terjadi dengan dirinya. Kelihatan seakan doanya belum dikabulkan, namun kegalauan spiritualnya sudah terasa terobati.

Yesus mengatakan kepada kita, bahwa Dia hadir manakala kita menyambut orang-orang asing, manakala kita membantu serta merawat orang-orang sakit, manakala kita membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi Markus percaya bahwa doanya untuk mengalami kehadiran Yesus pada hari itu tidak memperoleh jawaban. Barangkali doanya dijawab, namun dengan cara-cara yang begitu biasa sehingga luput dari persepsi si Markus ini. Maklum kehidupan spiritualnya belumlah seperti kehidupan spiritual orang kudus seperti Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897] yang dianugerahi kemampuan untuk melihat karya kasih Allah dalam hal-hal yang kecil sekali pun.

Nah, Saudari dan Saudaraku! Kita mungkin tergoda untuk memandang diri kita sebagai seorang kudus yang super, padahal yang diminta Allah adalah, bahwa kita menjadi orang Kristiani yang lebih baik dari hari ke hari. Hal ini justru terjadi melalui/pada peristiwa-peristiwa yang terasa sepele dalam kehidupan kita. Justru dalam hal-hal yang kelihatan/terasa sepele itulah – dengan bantuan rahmat Allah – kita diberi kesempatan untuk menikmati betapa baik Allah itu…… sungguh menakjubkan! Tindakan kasih Allah lewat para saksi-Nya di tengah-tengah umat-Nya seringkali luput dari pandangan mata hati kita karena kita cenderung mengagumi hal-hal yang bersifat spektakuler, bukan hal-hal yang sepele tanpa arti. Kita tidak jarang berkata, “Wah hebat sekali Romo A atau Pendeta B itu, begitu banyak orang sakit yang disembuhkannya”. Tak sengaja kita pun cukup sering mengagung-agungkan Romo atau Pak Pendeta, bukan Yesus! Di lain pihak kita memandang remeh atau biasa-biasa saja seorang imam cukup tua-usia yang  khotbah-khotbahnya tidak “jos”, namun begitu setia setiap hari melayani umat, bepergian dengan mengendara sepeda ontelnya, dan dia melayani umat yang menderita sakit-penyakit tanpa banyak mengeluh. Dia  bukan doktor teologi lulusan Jerman atau Roma, namun sangat menghayati tugasnya sebagai pelayan Kristus – sang Gembala Baik. Tanpa banyak kesempatan untuk membaca buku-buku, Romo ini memahami betul arti sejati dari SERVANTHOOD. Boro-boro memiliki BB atau akrab dengan istilah-istilah jejaring sosial seperti face-book atau twitter; selain “gaptek”,  yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah melayani Kristus dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat yang semrawut  dan penuh penderitaan ini. Dari wajahnya terpancarlah kasih Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Dengan demikian, ia adalah seorang alter Christus, seperti yang diinginkan Yesus sendiri.

Memang Yesus seringkali adalah tamu yang terkamuflase. Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, berjumpa dengan Kristus dalam diri seorang kusta di tengan jalan. Kita seringkali berdoa agar terjadi mukjizat-mukjizat, namun sebenarnya yang perlu kita minta dalam doa kita adalah agar diberikan KASIH itu sendiri – suatu mukjizat tanpa tandingan!

DOA: Tuhan Yesus yang baik, Engkau yang tersembunyi dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat. Engkau senantiasa membuat diri-Mu miskin sehingga kami menjadi kaya. Tolonglah kami agar pada hari ini, kami dapat mengenali-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan dengan judul “PENGHAKIMAN TERAKHIR” (bacaan untuk tanggal 27-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. 

Cilandak,  4 Februari 2012 [Peringatan S. Yosef dari Leonisa, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DITEMPA SELAMA 40 HARI

DITEMPA SELAMA 40 HARI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun B], 26-2-12)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22 

Pada hari ini – Hari Minggu Prapaskah I – kita semua diajak ke padang gurun! Inilah saatnya untuk mendengar – lagi dan lagi – kisah Yesus yang digoda oleh Iblis. Pada tahun lalu kita mendengar kisah yang sama menurut Injil Matius (Mat 4:1-11), tahun ini dari Injil Markus (Mrk 1:12-15), dan tahun depan dari Injil Lukas (Luk 4:1-13). Kisah dari Injil Matius dan Injil Lukas cukup terinci, dan bagi saya pribadi yang dinarasikan oleh Lukas sungguh indah. Namun Injil Markus tidak memuat kegiatan-kegiatan Yesus maupun Iblis dan juga debat/argumentasi/pertempuran lisan antara kedua pribadi itu. Dalam bacaan Injil hari ini, terasa dengan tenang Markus menarasikan kepergian Yesus ke padang gurun (dibantu oleh para malaikat) untuk memerangi Iblis dan kemudian menutup perikop ini dengan kemunculan-Nya yang berjaya penuh kemenangan.

Pada hari ini kita sudah berada dalam masa Prapaskah, semacam padang gurun tempat kita ditempa untuk selama 6 (enam) pekan. Roh Kudus memimpin Yesus ke padang gurun. Di sana, di tempat yang gersang itu Yesus berdiam selama 40 hari dan di sana pula Dia digoda oleh Iblis. Pada zaman Yesus ada ekspektasi dalam diri orang-orang Israel bahwa Mesias adalah utusan Allah yang bertugas mengalahkan Iblis dan roh-roh jahatnya. Untuk melakukan ini sang Mesias harus mengalami suatu pencobaan atas kekuatan yang dimilikinya dan melibatkan dirinya dalam sebuah pertempuran besar.

Secara tradisional padang gurun dipandang sebagai tempat kediaman roh-roh jahat. Dengan datang ke padang gurun Yesus memberi isyarat bahwa pertempuran yang bersifat final dan klimaks antara Allah dan Iblis sudah dimulai. Kehadiran binatang-binatang liar yang tinggal bersama-Nya dan para malaikat yang melayani-Nya menyarankan bahwa Yesus akan muncul sebagai sang pemenang – bukan hanya pada awal perjumpaan mereka, melainkan juga setelah itu dengan cara yang lebih menentukan melalui kebangkitan-Nya dari alam maut, dan akhirnya dalam suatu cara yang definitif pada akhir zaman.

Kita lihat bahwa unsur-unsur pelatihan, disiplin dan persiapan memainkan sebuah peranan yang sangat penting dalam kisah Yesus digoda oleh Iblis itu. Kisah Yesus di padang gurun ini (Mrk 1:12-13) dikedepankan dalam Injil Markus langsung sebelum Dia mengucapkan kata-kata-Nya yang pertama dalam Injil tersebut: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14-15). Seakan-akan Markus ingin mengingatkan para pembaca Injilnya, bahwa Yesus kiranya tidak diperkenankan untuk memulai pelayanan-Nya di depan publik sampai Dia menyelesaikan “ujian” selama 40 hari itu.

Dengan kebangkitan-Nya dari alam maut, Yesus telah mengalahkan dosa dan kematian dan Iblis, namun sampai hari ini pun perjuangan-Nya melawan Iblis masih berlangsung, namun medan pertempurannya telah bergeser dari padang gurun ke dalam roh kita. Kemenangan Kristus terjamin, namun harus diselesaikan dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, kita pun harus mengikuti masa pelatihan yang menyangkut disiplin dan pengetesan yang disebut masa Prapaskah ini. Dalam meneladani Tuhan Yesus, kita pun harus siap untuk bertarung dalam pertempuran melawan Iblis dan roh-roh jahatnya, tentunya dalam Nama-Nya yang kudus dan kuasa-Nya, dan dengan menggunakan segala perlengkapan rohani yang dibutuhkan (lihat Ef 6:10-17).

Mengirimkan seorang serdadu ke medan tempur tanpa memberikan kesempatan baginya mengalami pelatihan dasar terlebih dahulu, dapat dinilai sebagai tindakan gegabah (atau “kriminal”?). Namun demikian kita sering mengasumsikan bahwa kita mampu melawan Iblis dari tahun ke tahun tanpa memandang dengan serius makna dari masa Prapaskah ini. Jika kita tidak menjalani “pelatihan” ini setiap tahun untuk menguatkan diri kita dalam Yesus, maka kita cenderung menjadi “lembek” dan senantiasa memilih cara yang lebih mudah. Kencederungan untuk “asal enak sendiri” ini dapat diatasi dengan disiplin masa Prapaskah yang diajarkan Gereja dari masa ke masa, yang programnya terdiri dari kegiatan doa, puasa dan/atau pantang dan pemberian sedekah.

Apabila kita setia dengan disiplin ini, maka kita akan berhasil “keluar” dari masa Prapaskah sebagai pribadi yang telah berubah (menjadi lebih baik tentunya). Lagipula kita pun akan lebih siap dan kuat dalam menghadapi segala tipu daya Iblis.

DOA: Roh Kudus  Allah, penuhi diri kami dengan kuasa-Mu dan sabda-Mu sehingga kami dapat melawan berbagai godaan yang berasal dari Iblis dan roh-roh jahatnya.. Buatlah kami semakin seperti Yesus, anak-anak taat yang senantiasa menyenangkan Bapa surgawi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan dengan judul “DIA BEGITU MENGASIHI KITA SEHINGGA TAK AKAN PERNAH MEMBUANG KITA” (bacaan untuk tanggal 26-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012 

Cilandak,  26 Januari 2012 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI TUKANG REPARASI

MENJADI TUKANG REPARASI

(Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu, Sabtu 25-2-12) 

Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. YUHAN (YHWH) akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.” Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus YHWH “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena YHWH, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut YHWH-lah yang mengatakannya (Yes 58:9b-14).

Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6; Bacaan Injil: Luk 5:27-32 

Dunia di sekeliling kita terasa sakit penuh luka, merana, menyedihkan, dan penuh dengan ketidakadilan serta pelanggaran hak azasi manusia. Baru saja saya melihat di televisi bagaimana dalam sebuah pertandingan sepakbola seorang wasit dipukul sampai pingsan oleh pemain-pemain sepak bola. Beberapa hari sebelumnya sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang yang sedang mabuk karena narkoba telah menabrak mati sampai 9 (sembilan) orang sekaligus. Kita dapat melihat susahnya anak-anak sekolah pergi ke sekolah mereka karena prasarana (seperti jembatan) dan gedung yang mengalami kerusakan berat disebabkan bencana alam dlsb., tetapi di lain pihak para wakil rakyat menghambur-hamburkan uang dalam jumlah yang sungguh fantastis. Sebagian besar anggota aparat keamanan dan penegak hukum bukan membela yang benar, melainkan membela yang bayar. Korupsi sudah mewabah ke mana-mana, tidak hanya terbatas pada instansi-instansi pemerintahan, dan para pelakunya juga lintas-agama, lintas-generasi, lintas-suku dst. Angkutan umum terasa sudah tidak aman lagi bagi kaum perempuan. Bahkan Gereja pun membutuhkan penyembuhan dan rekonsiliasi di sana-sini. Susah untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain! Pembohongan sudah tidak lagi merupakan monopoli anak-anak nakal dan malah sudah merupakan the name of the game di kalangan elite politik/pemerintahan. Setiap hari kita menghadapi risiko disakiti oleh orang lain, dan juga kita menyakiti orang lain. Organisasi pemerintahan terasa sudah dysfunctional dan dalam artian tertentu juga leaderless. Berjalannya roda pemerintahan pun sudah dianalogikan dengan pesawat yang terbang dengan auto pilot. Berbagai kenyataan ini dapat membuat kita menjadi ciut dalam berpengharapan, bahkan tergoda untuk menyerah-pasrah, namun secara salah.

Syukurlah ada Allah yang sungguh memahami benar sampai berapa dalam anak-anak-Nya membutuhkan kesembuhan dan restorasi, dan Dia-lah yang mendatangi kita di tempat kita berada. Ia mengetahui setiap ketidakadilan yang kita alami dan juga kelemahan-kelemahan kita. Dalam belarasa-Nya, Allah memberikan apa saja yang kita butuhkan untuk menyembuhkan luka-luka kita, patah hati kita. Allah menyerahkan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia. Allah mengetahui bagaimana kita masing-masing dapat disembuhkan, dan bagaimana kita dapat membawa kesembuhan kepada orang-orang lain.

Jikalau kita menghadap Allah dengan luka-luka dan penderitaan kita, maka kita pun percaya bahwa Dia akan menghibur kita. Apabila kita melihat berbagai kerusakan (di bidang moral-etika dll.) yang terjadi di sekeliling kita, kemudian berseru kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kepada kita hati yang berbela-rasa. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan atau masalah-masalah di rumah atau dalam gereja kita, maka Dia akan menunjukkan apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kerusakan atau masalah yang ada. Sungguh menghibur untuk mengetahui bahwa kita tidak perlu sepenuhnya disembuhkan agar dapat melayani orang-orang lain (Ingat istilah wounded healer dari Henri Nouwen?). Di sisi lain kita juga tidak boleh menuntut orang-orang lain untuk menjadi sempurna dulu sebelum kita memperkenankan mereka melayani kita. Allah-lah yang bekerja melalui kita, dan Ia dapat bekerja dengan bejana-bejana yang tidak/belum sempurna.

Dengan memperkenankan Allah menyentuh kita, baik secara langsung maupun melalui orang-orang lain, maka diri kita dapat disembuhkan dan mengambil karakter Yesus secara lebih penuh. Sebagai akibatnya, kita sendiri dapat menjadi instrumen-instrumen kesembuhan dan kehidupan bagi orang-orang lain. Dalam Yesus, kita adalah para penakluk. Pada hari ini kita masing-masing dapat menjadi para pelayan Tuhan bagi orang-orang di sekeliling kita. Benar, ada bolong-bolong atau retak-retak pada tembok-tembok, namun di sekeliling kita Allah membangkitkan orang-orang bergabung bersama menjadi tukang reparasi bolong-bolong atau retak-retak pada tembok-tembok itu. Marilah kita bergabung dengan Yesus dalam karya agung-Nya yang menghibur dan merestorasi.

DOA: Bapa surgawi, sembuhkanlah kami dan tolonglah kami agar dapat keluar menjumpai orang-orang yang menderita. Dengarlah seruan rasa sakit kami dan hiburlah kami. Anugerahilah kami belarasa-Mu bagi orang-orang yang menderita di sekeliling kami. Kami sungguh ingin menjadi tukang reparasi sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “SETIAP ORANG DAPAT DIPIMPIN KEPADA KEBENARAN HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH” (bacaan untuk tanggal 25-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yes 58:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TUKANG REPARASI TEMBOK DAN JALAN” (bacaan untuk tanggal 20-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2011. 

Cilandak,  25 Januari 2012 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul; Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN

EKARISTI: BEBERAPA CATATAN 

Katekese mengenai Misteri Ekaristi harus diarahkan pada penyadaran para beriman, bahwa perayaan Ekaristi benar-benar merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani, baik pada tingkat Gereja semesta (universal) maupun pada tingkat jemaat-jemaat lokal. Karena “semua sakramen lain, seperti juga segala pelayanan Gereja dan karya kerasulannya, erat berhubungan dengan Ekaristi Kudus dan diarahkan kepadanya. Sebab di dalam Ekaristi Mahakudus terangkumlah seluruh harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, kurban Paskah dan Roti kehidupan kita yang memberikan hidup kepada sekalian orang melalui daging-Nya, yang berkat Roh Kudus menjadi hidup dan menghidupkan. Dengan demikian manusia diundang dan dibimbing untuk mempersembahkan diri mereka sendiri, segala jerih payah mereka dan seluruh alam ciptaan bersama dengan Kristus.” (Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967], 6; bdk. Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965], 5).

Banyak sekali umat Katolik yang selagi menjalani kehidupan di dunia tidak pernah sungguh mengetahui atau memanfaatkan berbagai sarana indah guna mencapai keselamatan yang telah ditempatkan Kristus bagi kita semua melalui Gereja-Nya. Kita menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan.

Allah mengkomunikasikan diri-Nya kepada kita melalui berbagai gestures, kata-kata dan hal-hal yang bersifat sakramental. Semua itu adalah tindakan-tindakan Allah melalui Roh Kudus-Nya. Gesture utama Allah adalah tindakan menjadi manusia – inkarnasi-Nya. Jadi, Yesus adalah Sakramen yang pertama dan benar, karena Dia adalah tanda yang mujarab dari peng-ilahi-an (Inggris: divinization) umat manusia. Melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus membuat kita mampu berjumpa dengan Allah Tritunggal dan membagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita.

Sesungguhnya, segala tindakan Yesus selama kehidupan-Nya di dunia pada akhirnya dimaksudkan untuk memberikan suatu kehidupan – kehidupan kekal. Inilah pesan dari kebangkitan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25); sebuah ayat Kitab Suci yang begitu akrab terdengar di telinga manakala kita menghadiri Misa atau Ibadat Sabda berkaitan dengan peringatan kematian seorang saudari/saudara kita.

Gereja adalah Sakramen Kristus. Gereja adalah Sakramen Perjumpaan Kristus dengan kita, umat-Nya. Untuk kepentingan orang-orang yang hidup setelah zaman-Nya, Yesus mendirikan Gereja sebagai Sakramen di mana umat berjumpa dengan diri-Nya. Melalui Gereja, Yesus terus aktif di tengah dunia dan berkomunikasi dengan segenap umat manusia.

Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, Yesus sebagai Kepalanya dan kita adalah para anggotanya. Dengan demikian, Gereja adalah sebuah tanda, sebuah Sakramen, …… Sakramen Kristus. Gereja memproklamasikan Kristus, dan dalam Gereja-lah Kristus dijumpai.[1] Kebersatuan dengan Kristus dan kebersatuan dengan Allah melalui Kristus ini membentuk Kerajaan Allah. Gereja mengakui bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di tengah dunia. Gereja merangkul Kerajaan itu dengan penuh sukacita dan syukur. Gereja berupaya keras untuk meluaskan ini kepada semua orang dan melakukannya lewat Sakramen-sakramen.

Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan benar membawa pengharapan Gereja kepada dunia. Sakramen-sakramen adalah “tanda-tanda di muka” tentang sukses dan pemenuhan dunia dalam Kristus Yesus. Seperti Kristus-inkarnasi (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) adalah “wajah” Bapa surgawi, maka Gereja adalah “wajah” Kristus yang bangkit dan naik ke surga bagi semua orang di dunia. Gereja adalah tanda yang “mujarab”, Sakramen yang menghadirkan Yesus  bagi dunia.

Maka, Gereja membuat kita mampu untuk berjumpa dengan Kristus dalam Sakramen-sakramen-Nya. Hal ini menyentuh pokok-pokok utama kehidupan kita dan menguduskannya. Semua itu berkisar di sekeliling Misa, yang juga dinamakan Ekaristi.

Ekaristi. Untuk memperoleh suatu ide yang benar tentang peranan Ekaristi dalam kehidupan kita, maka kita harus memandang dunia dengan menggunakan kacamata Alkitab. Dari situ kita akan menyadari bahwa umat manusia adalah instrumen yang dipilih untuk Penebusan kita. Kristus datang ke tengah-tengah dunia untuk menanggung sakit, untuk menderita dan mati dalam daging-Nya; dan Ia bangkit dalam daging-Nya. Jadi daging (badan) dan hal-hal tak bernyawa diasosiasikan dengan misi sang Juruselamat dan kemenangan-Nya atas kematian.

Kita dapat menggunakan segala sumber daya alam semesta dalam mengerjakan keselamatan kita. Dengan kata-kata Doa Syukur Agung I Misa: “Dalam Dia Engkau menciptakan, memberkati dan menganugerahkan segala sesuatu yang baik kepada kami”.[2]

Kita harus menjadi terilhami – seperti ditunjukkan oleh Kitab Suci – dengan kesadaran bahwa manusia menguasai kosmos dan lewat kerja mereka sehari-hari menyempurnakan gambaran ilahi dalam diri mereka. Melalui pekerjaan dan interaksi sosial, mereka mencapai sebuah komunitas relasi antar-pribadi yang berdasarkan kasih. “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh 4:16). Kita menjadi satu dengan Allah melalui kasih!

Semua ini pada dasarnya terjadi melalui apa yang kita sebut “Liturgi”. Liturgi adalah sebuah perayaan di mana dirayakan kasih Allah itu. Dengan atau melalui Liturgi inilah Allah disembah dan dimuliakan dan umat (anda dan saya) dibuat menjadi peserta dalam kehidupan Allah dan Kerajaan-Nya. “Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya” (Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci, 10).

(1) Dalam Misa, Yesus yang ilahi-insani sekaligus itu – melalui tindakan Roh-Nya memampukan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi-Nya. (2) Kita berpartisipasi dalam tindakan suci itu dengan kuat-kuasa yang indah dari akal-budi, perasaan dan pancaindera kita – mendengar, bernyanyi, berbicara, mencicipi dlsb. (3) Ciptaan yang tak bernyawa pun mempunyai peranan: roti, anggur, terang lilin, dupa, pakaian upacara imam, piala, lonceng/bel, organ dll.

Dalam analisis akhir, melalui Liturgi Ekaristi, Kristus menjadi satu dengan anggota-anggota Tubuh Mistik-Nya. Pengudusan dunia jatuh di bawah pengaruh-Nya melalui kerja sama bebas kita yang didorong oleh rahmat.  Dalam artian tertentu, diri kita sendiri adalah substansi yang dipersembahkan dan ditransformasikan dalam Misa, dan melalui kita dunia dipersembahkan dan ditransformasikan dalam perkembangannya setiap hari.

Roti (Tubuh Kristus) dan Anggur (Darah Kristus). Petikan yang indah dari salah satu surat Santo Paulus berikut ini pantas kita renungkan dengan serius dan acap kali: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). 

Roti.[3] Roti adalah benda yang tidak boleh tidak ada dalam rumah, merupakan makanan dasariah (Am 4:6; Mrk 3:20; Luk 11:5; 15:17), sehingga sering searti dengan makanan/perjamuan pada umumnya (Luk 14:15; Kis 2:42). Roti tidak pernah dibelah dengan pisau melainkan selalu dengan tangan sebagai lambang membagi milik: “memecah-mecahkan roti” searti dengan memberikan roti (Yes 58:7; Yer 16:7), bersatu dengan orang lain, agar tercipta persatuan antara orang-orang yang sedang makan (Mzm 41:10; Mat 14:19; [bdk. Mrk 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11]; Mat 26:26 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:29]; Yoh 13:18; 1Kor 10:16). Roti secara metaforis melambangkan firman Allah, kehidupan sejati manusia (Ul 8:3; Am 8:11; Mat 4:4; bdk. Luk 4:4), yang sebelumnya sudah dilambangkan oleh “manna” yang turun dari surga. Yesus sendiri adalah “roti kehidupan” atau “roti hidup”, satu-satunya roti yang menghidupkan (Yoh 6:35-47), roti yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya menjelang pengorbanan-Nya (Mat 26:25 [bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:23]). Dengan membagi-bagikankan roti kepada orang banyak, Yesus mengajarkan para murid-Nya bagaimana mereka, dengan berlimpah-limpah, seharusnya membagi-bagikan Firman dan Ekaristi (Mat 14:13-21 [bdk. Mrk 6:32-44; Luk 9:10-17]; Mat 15:32-38 [bdk. Mrk 8:1-9]; Yoh 6:1-15). Dalam Liturgi Ekaristi, roti diubah menjadi Tubuh Kristus sendiri.

Tubuh Ekaristis Kristus. Yesus berbicara tentang “tubuh” ketika Dia berbicara tentang kehadiran-Nya secara baru, yaitu secara ekaristis (Mat 26:26; bdk. Mrk 14:22; Luk 22:19; 1Kor 11:24). Dalam tubuh yang demikian, semua pengikut Yesus ikut serta sambil membentuk satu tubuh.

Anggur. Dalam Perjanjian Baru, anggur tidak pernah muncul dalam konteks ibadat, kecuali dalam rangka perjamuan (terakhir) Yesus, di mana anggur di sebut “hasil pokok anggur” (Mat 26:29; bdk. Mrk 14:25; Luk 22:18) dan dalam kisah yang menceritakan perdebatan mengenai makanan (Rm 14:21). Secara kiasan, anggur berarti amarah Allah pada akhir zaman (Yes 51:17,22; Yeh 23:31; Why 14:8,10;16:19; 17:2; 18:3; 19:15).  Dalam Liturgi Ekaristi, anggur diubah menjadi darah Kristus sendiri.

Darah. Darah ialah kehidupan (Im 17:11-14) dan kehidupan adalah milik Allah. Darah/nyawa tidak boleh dimakan bersama dengan daging persembahan (Ul 12:23-24; Kis 15:20,29). Darah dipercikkan di atas mezbah, kadang-kadang darah menjadi persembahan (Ibr 9:7; 13:11) bernilai pendamaian. Namun hanya darah Yesus saja yang berdaya-guna (Ibr 10:4,19), sebab Kristus adalah pendamaian sejati (Rm 3:25), darah-Nya adalah “darah Perjanjian demi pengampunan dosa-dosa” (Kel 24:6-8; Mat 26:28; bdk. Mrk 14:24), dan darah itulah yang diminum dalam perjamuan Ekaristi (Yoh 6:53-54; 1Kor 10:16). Yesus menumpahkan darah-Nya dengan sukarela, sambil membaharui Perjanjian (Yes 53:12; Luk 22:20). Inilah darah yang paling bernilai, yaitu yang mengalir dari lambung Yesus (Yoh 19:31-37; 1Ptr 1:19; 1Yoh 5:6-8).

Anthony M. Buono[4] mengatakan, bahwa transubstansiasi roti dan anggur ke dalam tubuh, darah dan keilahian Kristus diperluas ke dalam dunia dan merangkul totalitas dari sukacita dan rasa sakit sebagai akibat dari proses perkembangan yang ditakdirkan secara ilahi. Kristus mengumpulkan semua sukacita dan penderitaan, dan mempersembahkan semua itu kepada Bapa. Dia membuat semua itu menjadi menyelamatkan bagi semua orang yang mengalami. Sebagai akibatnya, kita dapat mengatakan bahwa Misa mencakup suatu konsekrasi (pengudusan) umat manusia. Dunia secara keseluruhan dipersembahkan dan ditransformasikan oleh rahmat yang menyelamatkan dari Kristus melalui mediasi Gereja dalam Misa. Dengan perkataan lain, hal-hal baik yang menyelamatkan yang telah dimenangkan oleh Kristus melalui sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, diterapkan pada dunia dan segala sesuatu yang ada di dalam dunia itu, di sini dan sekarang. Konsekrasi ini terjadi secara sakramental – yang oleh karenanya tidak sempurna dan harus dilengkapi. Kristus telah melakukan tindakan pemberian persembahan secara definitif. Namun bagi komunitas Kristiani dan untuk dunia, kurban persembahan tidak akan sepenuhnya tercapai sampai pada akhir zaman (AMB, hal. 5).

Liturgi. Semua ini dicapai melalui Liturgi, teristimewa Misa. “Liturgi suci adalah penyembahan yang bersifat publik bahwa Penebus kita, Kepala Gereja, mempersembahkan kepada Bapa surgawi, dan bahwa komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus membayarnya kepada Pemimpinnya (Yesus), dan melalui Dia kepada Bapa yang kekal; singkatnya (liturgi) adalah seluruh penyembahan secara publik oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, Kepala dan para anggotanya” (Paus Pius XII, Ensiklik tentang Liturgi Suci, no. 20; diambil dari AMB, hal. 5-6).

Ini adalah definisi klasik dari “Liturgi”, yang diulangi dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) yang diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II: “Gereja memenuhi tugas menguduskan secara istimewa dengan liturgi suci, yang merupakan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di mana pengudusan manusia digambarkan dengan tanda-tanda yang tampak serta dihasilkan dengan cara masing-masing yang khas. Dengan liturgi itu dipersembahkan juga ibadat publik yang utuh kepada Allah oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala serta anggota-anggota-Nya” (KHK, Kanon 834 § 1). “Ibadat semacam ini terjadi apabila dilaksanakan atas nama Gereja oleh orang-orang yang ditugaskan secara legitim serta dengan perbuatan-perbuatan yang telah disetujui oleh otoritas Gereja” (KHK, Kanon 834 § 2). Walaupun demikian, bagi kebanyakan kita, Liturgi adalah sepatah kata yang “berat”, sepatah kata yang jarang sekali kita gunakan dalam pembicaraan sehari-hari.

Aslinya, kata itu menunjukkan pekerjaan sukarela bagi umat. Terjemahan dalam bahasa Yunani atas Kitab Suci Yahudi yang diselesaikan pada abad ke-3 SM dan dikenal sebagai Septuaginta (LXX) membuat arti kata ini menjadi lebih khusus, yaitu penyembahan  oleh seorang imam di Bait Allah. Gereja perdana menggunakan kata ini untuk suatu kebaktian penyembahan di dalam mana masing-masing anggota komunitas mempersembahkan kepada Allah atas nama semua anggota seturut peranannya masing-masing. Pada abad pertengahan kata ini menunjukkan kebaktian penyembahan resmi Gereja.

Jadi, Liturgi adalah suatu kerja ilahi yang dipercayakan kepada umat Allah. Liturgi adalah melanjutkan pekerjaan Kristus oleh Gereja-Nya dalam kebersatuan dengan diri-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berjumpa dengan Kristus dalam kehidupan-Nya di dunia sekarang dapat berjumpa dengan Dia dalam kemuliaan melalui Liturgi dan dapat bersatu dengan Dia dalam kurban persembahan-Nya kepada Bapa yang dibuat sekali dan untuk selama-lamanya (Ibr 10:14).

Jika kita memandang Liturgi dengan cara ini, maka sebagian dari sifatnya yang terasa “berat” tadi pun akan terlepaskan/terbebaskan. Sekarang dapat terlihat apa itu Liturgi: suatu kunci kehidupan, suatu permohonan yang dipenuhi dengan pengharapan, suatu perluasan dari Misteri Paskah (yaitu sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus) yang diperuntukkan bagi segala zaman dan semua orang, dan sesungguhnya untuk segenap alam semesta.

Melalui baptisan yang menjadikan kita imam dalam artiannya yang umum, adalah privilese kita sebagai orang Kristiani untuk turut ambil bagian dalam doa Gereja. Adalah privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (a) melalui suatu tatanan hirarkis yang hakiki untuk hal itu. Namun itu pun privilese kita untuk turut ambil bagian dalam doa ini (b) secara berjemaah (komunal) sebagai anggota-anggota komunitas Gereja. Adalah privilese kita untuk dikuduskan oleh doa ini (c) melalui masuknya kita ke dalam Misteri Paskah Kristus. Akhirnya, adalah privilese kita untuk diajar oleh doa ini (d) sebagai bagian dari mereka, kepada siapa Allah berbicara melalui Kristus dan Roh.

Tanda-tanda dan Ekaristi. Misa – seperti semua ritus-ritus sakramental lainnya – dapat dikatakan merupakan suatu dialog antara Allah dan umat-Nya. Terlebih lagi, Misa adalah suatu rituale di mana Allah bertindak dan umat-Nya menjadi terlibat. Dalam komunikasi ini, Misa menggunakan tanda-tanda inderawi dan juga kata-kata. Misa menyangkut sikap tubuh, melibatkan gestures, menggunakan benda-benda, dilaksanakan dalam tempat-tempat yang nyata, dan dalam Misa itu objek-objek tertentu diberkati dan dikuduskan.

Beberapa dari tanda-tanda natural ini, lewat penggunaan berbagai imaji (gambaran) dan simbol/lambang yang sudah ada dalam ciptaan yang mempunyai suatu gaung tertentu dalam hati manusia. Hampir semua tanda-tanda dalam Misa itu adalah tanda-tanda alkitabiah. Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda tertentu yang Yesus sendiri gunakan pada waktu Dia menetapkan Ekaristi, juga tanda-tanda yang digunakan oleh para pendahulu kita (dalam Iman Kristiani) seperti digambarkan oleh bagian-bagian Kitab Suci lainnya.

Lewat tanda-tanda itu iman umat diungkapkan, dipupuk, dan diperkuat. Oleh karena itu sungguh pentinglah untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal itu memungkinkan umat untuk ikut ambil bagian secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya (lihat ‘Pedoman Umum Misale Romanum Baru’ [PUMRB], 20)

Kitab Suci dan Perayaan Ekaristi. Pada kenyataannya, Misa suka dijuluki “Alkitab dalam Aksi” (Inggris: Bible in Action), karena sabda Alllah dalam Kitab Suci meresap dalam setiap bagian ritus-ritus yang ada di dalamnya. Misa Kudus atau Perayaan Ekaristi mencakup pembacaan sabda Allah dari Kitab Suci termasuk Mazmur Tanggapan; Nyanyian pendek dari Kitab Suci (berbagai antifon dan madah), Rumus-rumus dari Kitab Suci (sapaan, aklamasi narasi institusi dalam Doa Syukur Agung), alusi-alusi pada Kitab Suci (doa-doa), Instruksi alkitabiah (homili), dan doa-doa umat yang terinspirasikan oleh Kitab Suci.

Tentang hal ini, ‘Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci’ menyatakan sebagai berikut: “Dalam perayaan Liturgi Kitab Suci sangat penting. Sebab dari Kitab Sucilah dikutip bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab Sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan Liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh tradisi luhur ritus Timur maupun ritus Barat” (Sacrosanctum Concilium, 24).

Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian: (1) Bagian pembuka; (2) Ibadat/Liturgi Sabda; (3) Liturgi Ekaristi; dan (4) Perutusan yang merupakan bagian terakhir dari Perayaan Ekaristi (lihat Surat Gembala Prapaskah 2012 Keuskupan Agung Jakarta, 5). Jadi, dapat kita katakan bahwa dua bagian pokok dari perayaan Ekaristi adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (yang bermuara pada komuni kudus). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila dikatakan ada dua meja dalam perayaan Ekaristi: (1) Meja Sabda Allah (Inggris: The Table of the Word of God); dan (2) Meja Roti Tuhan (Inggris: The Table of the Bread of the Lord), yang satu tidak dapat ada tanpa meja yang lain. Uraian tentang kedua meja itu dapat dibaca dalam ‘Surat Paus Yohanes Paulus II tanggal 24 Februari 1980 Dominicae Cenae (Judul dokumen dalam bahasa Inggris: The Holy Eucharist) tentang Misteri dan Kebaktian Penyembahan Ekaristi Kudus (Bagian III).

Kritik negatif yang mengatakan bahwa Perayaan Ekaristi tidak alkitabiah sangat tidak mengenai sasaran. Ada sebuah buku karangan Romo Peter M.J. Stravinskas[5] yang dengan jelas mengemukakan betapa alkitabiahnya Misa atau Perayaan Ekaristi Kudus itu.

Kristus dan Perayaan Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menyatakan: “Kristus sendiri, Imam Agung abadi Perjanjian Baru, mempersembahkan kurban Ekaristi melalui pelayanan imam. Demikian juga Kristus sendirilah menjadi bahan persembahan dalam kurban Ekaristi. Ia sendiri sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur” (KGK, 1410). Memang, selebran utama dalam Misa adalah Kristus sendiri. Selebran sekunder adalah imam tertahbis yang berdiri di altar in persona Christi. Katekismus Gereja Katolik menyatakan: “Hanya para imam yang ditahbiskan secara sah, dapat memimpin upacara Ekaristi dan menkonsekrir roti dan anggur supaya menjadi tubuh dan darah Kristus” (KGK, 1411).

Sesungguhnya perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri bersama umat Allah yang tersusun secara hirarkis. Baik Gereja universal dan Gereja partikular, maupun bagi setiap orang beriman, Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan Kristiani. Sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah menguduskan dunia, dan puncak karya manusia memuliakan Bapa surgawi lewat Kristus, Putera Allah, dalam Roh Kudus. Kecuali itu, perayaan Ekaristi merupakan pengenangan misteri penebusan sepanjang tahun. Dengan demikian, boleh dikatakan misteri penebusan tersebut dihadirkan untuk umat. Segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan Kristiani, berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya (lihat PUMRB, 16).

Oleh karena itu, sungguh penting untuk mengatur perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan tersebut sedemikian rupa sehingga para pelayan dan umat beriman lainnya, dapat turut ambil bagian dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta dapat memetik buah-hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya. Itulah yang dikehendaki Kristus ketika menetapkan kurban ekaristis Tubuh dan Darah-Nya. Dengan maksud itu pula Ia mempercayakan misteri ini kepada Gereja, mempelainya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya (PUMRB, 17). Jadi, dalam Misa setiap orang mempunyai tugas untuk dilaksanakan sebagai akibat imamat-umum yang diterimanya pada waktu baptisan (tentang imamat-umum bacalah Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 34).

Berbagai macam cara Kristus hadir dalam perayaan Ekaristi. Hal ini sudah disinggung oleh para Bapak Konsili Vatikan II sebagai berikut: “Untuk melaksanakan karya yang begitu besar, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan, ‘karena samalah Dia yang kini mempersembahkan diri lewat pelayanan iman dengan Dia yang dulu mengurbankan diri di kayu salib’ (Konsili Trente, Sidang XXII, 17 September 1562), maupun terutama dalam rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam sakramen-sakramen, sehingga bila seseorang melakukan pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir  dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang berbicara bilamana di dalam Gereja Kitab Suci dibacakan. Akhirnya Ia hadir bila Gereja memohon dan bermazmur, sebab Ia telah berjanji, ‘Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di sana Aku  berada di tengah-tengah mereka’ (Mat 18:20)” (Sacrosanctum Concilium, 7).

Berbagai macam cara Kristus hadir ini ditekankan kembali oleh Paus Paulus VI dalam Ensikliknya, Mysterium Fidei, tanggal 3 September 1965 (butir 35 s/d 38). “Kehadiran nyata” par excellence Kristus dalam Sakramen Ekaristi disoroti secara istimewa dalam butir 38, namun dengan tetap menyatakan bahwa beberapa kehadiran-Nya yang lain juga sebenarnya “nyata” (riil). Instruksi Eucharisticum Mysterium (Misteri Ekaristi) tanggal 25 Mei 1967 yang diterbitkan oleh Kongregasi Suci Ritus menyatakan seperti berikut: “Supaya para beriman memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang misteri Ekaristi, mereka hendaknya diajar tentang cara-cara pokok bagaimana Kristus hadir dalam Gereja-Nya lewat perayaan-perayaan liturgi” (Eucharisticum Mysterium, 9). Selanjutnya, dalam Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus (Love your Mass) dari Paus Yohanes Paulus tanggal 4 Desember 1988 dalam rangka memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium, disoroti lagi cara-cara Kristus yang selalu hadir dalam Gereja-Nya, teristimewa dalam perayaan-perayaan liturgis (Vicesimus Quintus Annus, 7).

Partisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Di atas sudah disinggung pentingnya untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal tersebut memungkinkan umat berpartisipasi secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya. Semua itu dilaksanakan dengan memperhatikan kekhususan umat dan tempat (lihat PUMRB, 20).

Perayaan Ekaristi memang mensyaratkan partisipasi umat secara aktif. Tanpa partisipasi, kiranya kita tidak dapat memperoleh apa-apa dari perayaan Ekaristi atau Misa itu. Para Bapak Konsili Vatikan II sejak awal menekankan: “Jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu (Ekaristi Suci) sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda buka saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antara mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (Sancrosanctum Concilium, 48).

Sumber-sumber selain Kitab Suci: (1) Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1963]; (2) Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam [7-12-1965]; (3) Instruksi Eucharisticum Mysterium tentang Misteri Ekaristi [25-5-1967]; (4) Surat Paus Yohanes Paulus II Dominicae Cenae [24-2-1980]; (5) Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus untuk memperingati 25 tahun penerbitan Konstitusi Sacrosanctum Concilium tentang Liturgi Suci [4-12-1988]; (6) Katekismus Gereja Katolik; (7) Anthony M. Buono, Active Participation at Mass; (8) Xavier Léon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru; (9) PEDOMAN UMUM MISALE ROMAWI – BARU; (10) Rev. Peter M.J. Stravinskas, The Bible and the Mass – Understanding the Scriptural Basis of the Liturgy; (11) KITAB HUKUM KANONIK (CODEX IURIS CANONICI); (12) Lain-lain.

Cilandak, 24 Februari 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Untuk “refreshing”, saya menganjurkan anda untuk membaca (lagi), ‘Konstitusi Dogmatis LUMEN GENTIUM tentang Gereja’, 5-8).

[2] Terjemahan Inggris terasa lebih tajam: “Through Christ our Lord You give us all these gifts. You fill them with life and goodness, You bless them and make them holy”; THE WEEKDAY MISSAL – A NEW EDITIONS – Collins, hal. 1311.

[3] Uraian mengenai “roti”, “Tubuh Ekaristis Kristus”, “Anggur” dan “Darah” berikut ini bersumber pada penjelasan-penjelasan yang ada dalam Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990.

[4] Anthony M. Buono, Active Participation at Mass, New York: Alba House [AMB], hal. 5.

[5] THE BIBLE AND THE MASS – UNDERSTANDING THE SCRIPTURAL BASIS OF THE LITURGY, Ann Arbor,Michigan: Servant Publications,  1989.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers