PEREMPUAN DAN IBU KRISTIANI

Catatan: Tulisan ini adalah sebagian dari tulisan berjudul “IBU BAGI ANAKKU”, yaitu mengenai kaum ibu, dalam rangka merayakan “Hari Ibu” tanggal 22 Desember 2011 lalu. Pada “Hari Wanita” tanggal 8 Maret ini, baiklah saya masukkan (posting) bagian berikut ini sebagai sebuah “post” dalam situs/blogs SANG SABDA dan PAX ET BONUM.

Kaum ibu atau kaum perempuan Kristiani  pada umumnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kaum ibu/perempuan Indonesia secara keseluruhan. Keprihatinan para ibu/perempuan Indonesia tentunya harus merupakan keprihatinan para ibu/perempuan Kristiani – yang mempunyai iman kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Para ibu/perempuan Kristiani tentu dapat meneladan para ibu/perempuan yang ada dalam Kitab Suci maupun sejarah Gereja.

Walaupun sikap dan perilaku Nyonya Zebedeus seperti digambarkan dalam Injil Matius (Mat 20:20-21) tidak boleh dicontoh, banyak sekali yang dapat diteladani dari para ibu/perempuan yang namanya tertera dalam Kitab Suci, teristimewa Bunda Maria. Misalnya, daripada kita membuang banyak waktu menerka-nerka di mana gerangan Yesus ketika Ia “menghilang” dari Injil (sejak diketemukan di Bait Suci pada usia 12 tahun (lihat Luk 2:41-51) sampai “muncul” kembali ketika sudah dewasa (lihat Mrk 1:9), lebih pantaslah bila kita membayangkan bagaimana Bunda Maria melaksanakan fungsi keibuannya dengan baik atas diri Yesus sampai diri-Nya terbentuk menjadi seorang manusia dewasa yang baik (tentunya tanpa mengabaikan peranan Santo Yosef juga). Dalam ruang tulisan yang sangat terbatas ini saya akan mengedepankan beberapa ibu/perempuan kudus dalam sejarah Gereja sebagai tokoh-tokoh ibu yang patut diteladani.

Santa Monika [331-387] – seorang ibu yang sangat mengasihi suami dan anaknya. Perempuan suci ini adalah ibunda dari Santo Augustinus dari Hippo [354-430], salah seorang Pujangga Gereja dan juga salah seorang Bapak Gereja Latin. Ia lahir di Thagaste (Afrika) dan meninggal di Ostia (Italia). Ia dihormati sebagai pelindung para ibu rumah tangga. Dengan hati yang pedih karena dicemooh dan ditertawakan oleh suaminya sendiri – Patrisius – yang kafir, Monika dengan tekun berdoa untuk suaminya itu agar bertobat. Secara berkesinambungan ibu ini mendoakan dengan intens puteranya yang bernama Augustinus agar menjadi pemuda Kristiani yang baik. Augustinus mengikuti kaum bid’ah Manikeisme. Augustinus juga berkawan dengan orang-orang yang tidak bermoral dan hidup berfoya-foya. Segala nasihat ibunya tidak digubris. Monika tidak pernah berputus asa. Dia menggunakan segala peluang yang ada untuk berdoa agar Allah yang Mahabaik melindungi dan membimbing suami dan puteranya, Augustinus ke jalan yang benar. Setelah bertahun-tahun lamanya hal ini berlangsung, doa-doanya pun memperoleh jawaban. Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Patrisius bertobat dan mohon dibaptis. Beberapa tahun kemudian, Augustinus dibaptis oleh Uskup Milano pada waktu itu, Santo Ambrosius [c.334-397], salah seorang Bapak Gereja di Gereja Barat (Latin) dan juga salah seorang Pujangga Gereja. Dari tulisan Augustinus sendiri kita mengetahui, bahwa bagi Monika saat itulah yang merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya.  Monika memang seorang ibu dan seorang istri yang luarbiasa. Seorang pendoa yang tekun dan tentunya pribadi yang suci. Dia sadar bahwa dia tidak hidup sendiri di dalam dunia ini, dan kesuciannya bukanlah untuk dirinya sendiri. Kasih persaudaraan yang berasal dari Allah sendiri ada dalam dirinya dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, sehingga dengan demikian menyebar ke luar dirinya dengan sangat efektif.

Ortolana di Offreduccio – seorang ibu suci yang menularkan kesucian kepada anak-anaknya. Tanggal 5 Januari didedikasikan oleh Keluarga besar Fransiskan, teristimewa Ordo II-nya kepada Hamba Allah Ortolana di Offreduccio, Ibunda Santa Klara dari Assisi [1195-1253], pendiri Ordo Suster-suster Klaris (Ordo II S. Fransiskus dari Assisi). Hortulana atau Ortolana berasal dari keluarga bangsawan, dan sejak masa mudanya dia sudah menjalani kehidupan saleh. Kesenangan istimewa dari Ortolana adalah melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci. Dengan seorang anggota keluarganya yang juga saleh, Ortolana pernah melakukan perjalanan ziarah ke Tanah Suci. Seringkali dia mengunjungi makam para rasul di Roma dan tempat-tempat lainnya.

Atas dasar keinginan par orangtuanya, Ortolana menikah dengan Favarone di Offreduccio, seorang keturunan salah satu keluarga bangsawan terkemuka di Assisi. Kehidupannya sekarang di Assisi samasekali tidak menghalanginya untuk melanjutkan suatu kehidupan “takut akan Allah”. Ketika tiba saatnya bagi Ortolana melahirkan anaknya yang pertama, dia berdoa dengan khusyuk di depan sebuah salib agar anaknya ini dapat lahir dengan selamat. Lalu dia mendengar suara yang berbicara kepadanya: “Jangan takut, engkau akan melahirkan suatu terang yang akan menerangi dunia dengan pancaran cahayanya.” Beberapa saat kemudian Ortolana melahirkan seorang bayi perempuan yang diberinya nama Chiara (Klara), artinya “yang memancarkan cahaya”. Ortolana memelihara dan membesarkan anak-anaknya (semuanya perempuan) dengan penuh pengabdian. Mereka semua kelak menjadi perempuan-perempuan dewasa yang suci hidupnya. Ketika Klara “kabur” untuk bergabung dengan Fransiskus, Ortolana dengan penuh risiko berpihak pada anak perempuannya itu, walaupun pihak keluarga suaminya tidak setuju dengan kaburnya Klara tersebut dan berupaya keras untuk mengembalikan Klara.

Ya, pada waktu Klara sudah menjadi perempuan dewasa, dia mendirikan sebuah ordo biarawati – di bawah arahan S. Fransiskus dari Assisi – dan dia beserta para pengikutnya hidup dalam semangat kemiskinan radikal yang menolak segala kenikmatan duniawi, di dalam sebuah biara yang miskin juga di dekat kota Assisi. Dua orang saudari dari Klara – Agnes [juga seorang Santa] dan Beatrice, mengikuti jejak sang kakak dan masuk ke dalam biara yang sama. Setelah kematian suaminya, Ortolana juga bergabung dengan para Suster Klaris. Hanya ada seorang puterinya yang menikah, yaitu Penenda yang melahirkan tiga orang anak perempuan. Ketiga anak perempuannya (cucu-cucu Ortolana) juga kemudian bergabung masuk biara para suster Klaris. Bukan main Ortolana ini dalam bidang pendidikan rohani anak-anaknya (dan sampai titik tertentu juga cucu-cucunya). Dulu Ortolana mendidik anak-anaknya, namun sekarang dalam biara, Ortolana berada di bawah bimbingan seorang anaknya, Klara. Sungguh suatu fenomena yang luarbiasa! Tujuh biarawati kontemplatif berasal dari satu keluarga bangsawan-kaya yang memilih “jalan perendahan” Kristus sesuai teladan dari Bapak pendiri Ordo, yaitu Santo Fransiskus dari Assisi. Dalam biara, Ortolana menjalani suatu contoh kehidupan suci, sehingga tidak mengherankanlah apabila Ortolana dimuliakan Allah dengan banyak mukjizat dan tanda heran, baik ketika masih hidup maupun setelah kematiannya.


Santa Elisabet dari Hungaria [1207-1231]
– seorang ibu yang melihat Yesus dalam diri wong cilik. Elisabet adalah salah seorang dari dua orang kudus pelindung Ordo Ketiga sekular Santo Fransiskus. Kalau Santo Ludovikus (Louis) IX [1214-1270] adalah seorang raja, maka Santa Elisabet adalah seorang puteri raja dan istri seorang pangeran. Dalam hidupnya yang relatif pendek, Elisabet mewujudkan cintakasihnya yang besar kepada orang-orang miskin dan menderita, sehingga oleh Paus Leo XIII [1878-1903] dia dijadikan orang kudus pelindung bagi karya amal Gereja Katolik yang dilakukan oleh para perempuan. Sebagai seorang puteri raja, Elisabet memilih hidup pertobatan dan asketisme, meskipun sebenarnya dengan mudah dia dapat menikmati kehidupan santai dan mewah. Pilihan hidupnya ini membuat Santa Elisabet dicintai oleh rakyat biasa di seluruh Eropa.

Ayah Elisabet adalah Raja Andreas II dari Hungaria dan ibunya adalah Gertrude dari Andechs-Meran. Dalam rangka aliansi politik, sejak kecil Elisabet sudah direncanakan untuk dikawinkan dengan Ludwig, putera tertua Pangeran Herman dari Thuringia dan Hesse (sekarang di negeri Jerman). Pada waktu berumur 4 (empat) tahun, Elisabet sudah dibawa ke kastil Wartburg dekat Eisenach guna dipersiapkan sebagai istri Pangeran Ludwig kelak. Pada masa remajanya Elisabet dikatakan memiliki tubuh yang sempurna, menarik; cara-caranya menampilkan diri serius tapi sederhana; tutur katanya halus; tekun dalam doa dan  selalu dipenuhi kebaikan dan cintakasih ilahi. Namun demikian, Elisabet tidak diterima oleh saudara-saudari Ludwig. Pembawaan Elisabet yang rendah hati dan tidak mau menonjol mengganggu seorang saudari Ludwig yang bernama Agnes, yang mengatakan bahwa Elisabet hanya pantas menjadi seorang pelayan rumah tangga. Cemoohan dari Agnes menular kepada gadis-gadis lain dalam istana yang sering mengejek dan menghina Elisabet secara terbuka. Demikian pula dengan para pegawai istana yang secara terbuka mengatakan bahwa Elisabet sedikit pun tidak menyerupai seorang puteri raja.

Menjelang usia perkawinannya, kehidupan doa Elisabet mengakibatkan bertambahnya penghinaan dan penderitaan atas dirinya. Segenap warga istana menolak perkawinannya dengan Ludwig. Sophia, ibu Ludwig, malah mencoba membujuk agar Elisabet mau masuk biara saja. Sophia menghendaki agar puteranya menikahi seorang puteri bangsawan, kaya, memiliki banyak koneksi dan membawakan diri sungguh-sungguh seperti seorang puteri raja. Meskipun semua menolak Elisabet, tidak demikian halnya dengan Ludwig sendiri.

Pada waktu Pangeran Herman wafat, Ludwig baru berusia 16 tahun. Lima tahun kemudian Ludwig mengumumkan untuk mengawini Elisabet. Setelah genap berusia 21 tahun dan Elisabet 14 tahun, menikahlah mereka. Misa Kudus perkawinan dihadiri oleh banyak orang dari kalangan bangsawan. Perayaan pesta perkawinan berlangsung selama tiga hari dengan beraneka macam acara.

Selama hidupnya sebagai suami Elisabet dan menerima banyak kritikan, Ludwig tetap membela dan menyetujui karya karitatif Elisabet dan juga hidup kerohaniannya. Malah cintanya kepada Elisabet kian bertumbuh hari demi hari. Dua insan itu menjadi suami-istri yang sungguh ideal dan dianugerahi tiga orang anak. Putera sulung yang bernama Herman lahir di tahun 1222 dan meninggal pada waktu berusia 19 tahun. Yang kedua bernama Sophia, menjadi Tuan Puteri (Duchess) Brabant, meninggal dunia pada waktu berusia 60 tahun. Yang ketiga adalah Gertrude yang menjadi Abes di Biara Altenburg dan kini dihormati dalam Gereja Katolik sebagai seorang beata.

Pada tahun 1221 di dekat Gerejanya, di kota Eisenach, Elisabet mendirikan sebuah biara yang diperuntukkan bagi para Saudara Dina (Ordo I Fransiskan). Dalam kontaknya dengan para Fransiskan inilah Elisabet mendengar tentang Fransiskus dari Assisi yang pada waktu itu masih hidup. Dia juga mendengar tentang keberadaan Ordo Ketiga, sebuah organisasi untuk kaum awam yang pada waktu itu sudah merebak ke mana-mana, baik di Italia maupun di luar Italia. Elisabet melihat manfaatnya bagi seorang Kristiani menjadi Ordo Ketiga itu. Kemudian dengan rendah hati dia mohon izin dari Ludwig untuk menjadi anggota Ordo Ketiga. Dikatakan oleh para penulis bahwa Elisabet merupakan orang pertama yang menjadi anggota Ordo Ketiga di Jerman. Fransiskus sempat juga mendengar tentang keanggotaan Elisabet di dalam Ordo Ketiga, dan Fransiskus berbicara baik tentang dia.

Seperti telah dikatakan di atas, Ludwig tidak pernah menghalang-halangi karya karitatif istrinya, kehidupannya yang sederhana maupun kehidupan rohaninya yang dipenuhi jam-jam doa yang panjang. Pada tahun 1225 tanah Jerman dilanda kelaparan. Elisabet, lewat karya karitatifnya hampir menghabiskan persediaan bahan makanan yang ada dalam rumah-tangga istana selagi suaminya berpergian ke tempat lain, semuanya demi orang-orang miskin. Para pejabat rumah-tangga kerajaan mengeluh kepada Pangeran Ludwig mengenai kemurahan hati Elisabet kepada orang-orang miskin ini. Beginilah tanggapan Ludwig: “Untuk karya karitatifnya, semua itu akan membawa kepada kita suatu berkat ilahi. Kita tidak akan berkekurangan selama kita memperkenankan dia menolong orang-orang miskin seperti yang dilakukannya.”

Ada cerita yang Saudara-saudari mungkin pernah dengar tentang Santa Elisabet ini. Pada suatu hari Elisabet sedang bergegas untuk melaksanakan karya karitatifnya. Ludwig mendekati dia dan menanyakan apa yang disembunyikan di balik rok kerjanya. Elisabet membuka rok kerjanya, maka terlihatalah bunga-bunga mawar yang indah, padahal yang dibawanya tadi adalah roti. Sungguh sebuah keajaiban.

Karena kastil Wartburg dibangun di atas batu karang yang terjal, maka orang-orang cacat dan lemah tidak mampu mencapainya. Bagi orang-orang kecil dan susah inilah Elisabet mendirikan sebuah rumah sakit di kaki bukit karang itu. Di sanalah dia sering memberi makan orang miskin dengan tangannya sendiri; membersihkan serta merapihkan tempat tidur mereka dan menemani mereka di musim panas yang tidak nyaman. Elisabet mendirikan sebuah rumah sakit lagi yang dapat menampung 28 orang. Dia juga memberi makan 900 orang di pintu gerbang istananya, disamping tak terhitung jumlahnya yang tersebar di berbagai tempat lain di negerinya. Karya amal-kasih Elisabet juga tidak sembarangan dapat dikatakan penghamburan atau pemborosan, karena Elisabet tidak akan mentolerir terjadinya pengangguran di kalangan orang miskin yang masih dapat bekerja. Dia akan memperkerjakan mereka pada tugas-tugas yang cocok dengan kekuatan mereka masing-masing.

Pangeran Ludwig dari Thuringia ikut Perang Salib Kelima. Pada Hari Raya Santo Yohanes Pembaptis di tahun 1227 dia berpisah dengan Elisabet dan bergabung dengan Kaisar Frederick II di Apulia. Pada tanggal 11 September tahun yang sama, Ludwig wafat karena terserang wabah sampar di Otranto. Kabar mengenai kematian Ludwig baru sampai ke Jerman di bulan Oktober, pada saat Elisabet baru saja melahirkan anaknya yang ketiga (Gertrude; puterinya yang kedua). Berita kematian Ludwig sungguh mengejutkan Elisabet. Setelah itu kehidupan Elisabet dan ketiga anaknya merupakan kisah yang penuh penderitaan tanpa henti. Dihina, dinista,  difitnah oleh keluarga sang suami, kemudian mereka diusir (dengan dua orang pelayan juga) dari istana, pada musim dingin yang luar biasa membeku. Di kota Eisenach yang sering menikmat karya amal-kasih dari Elisabet sudah ada pengumuman yang dibuat oleh Henry Raspe (iparnya) yang mengatakan bahwa barangsiapa membantu Elisabet dan anak-anaknya akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Semua penduduk Eisenach mentaati perintah itu, kecuali seorang pemilik kedai minuman yang menyediakan pondok sederhana tempat dia biasa menyimpan alat-alat dapur dan babi-babinya.

Diceritakan bahwa pada situasi sangat sulit seperti itu, Elisabet pernah berdoa seperti berikut ini: “Ya Tuhan, terjadilah kehendak-Mu. Kemarin saya adalah seorang puteri bangsawan dengan kastil-kastil yang kuat-kokoh dan daerah kekuasaan yang kaya, sekarang saya seorang pengemis dan tidak seorang pun memberikan kepadaku asilum.”  Elisabet dan keluarganya sungguh jatuh ke dalam kemiskinan yang mutlak. Anak-anaknya yang masih kecil-kecil menangis sambil menggigil karena kedinginan dan kelaparan. Dia yang pernah memberi makan kepada ribuan orang sekarang harus mengemis-ngemis makanan bagi anak-anak dan pelayannya. Elisabet menumpang pada bibinya, yaitu Matilda, Abes dari biara di Kitzingen. Lalu dia mengunjungi pamannya, Uskup Eckembert dari Bamberg, yang meminjamkan kastilnya di Pottenstein kepada Elisabet. Setelah menitipkan puterinya (Sophia) kepada para biarawati di Kitzingen, Elisabet membawa Herman dan sang bayi (Gertrude) ke kastil pamannya. Uskup Eckembert menganjurkan agar Elisabet kawin lagi, tetapi dia menolak dan mengatakan bahwa dirinya dan Ludwig sudah saling berjanji untuk tidak menikah lagi.

Pada  awal tahun 1228 kerangka jenazah Ludwig dibawa pulang dan dikuburkan di Gereja Reinhardsbrunn yang memang dipilih oleh Ludwig sebagai tempat makamnya. Atas dorongan para bangsawan diadakanlah rekonsiliasi antara keluarga Ludwig dengan Elisabet. Henry, sang ipar, mohon ampun kepada Elisabet yang kemudian memang mengampuni iparnya itu sambil memeluknya. Hubungan keluarga dan tentunya keadaan keuangan yang agak membaik tidak membuat Elisabet lepas dari salib yang harus dipanggulnya. Kali ini adalah gosip-gosip bahwa Elisabet ‘ada main’ dengan Pembimbing Rohaninya, yaitu Magister Konrad (seorang Fransiskan).

Elisabet hidup secara sangat sederhana dan terus bekerja menolong kaum miskin. Dalam keadaan sakit pun dia masih mencoba untuk melakukan pekerjaan seperti merajut. Setelah hanya diam dua tahun lamanya di Marburg kesehatan Elisabet menurun secara drastis. Dia bertemu dengan Saudari Maut (badani) pada malam hari tanggal 17 November 1231 pada usia menjelang 24 tahun. Untuk tiga hari lamanya jenazah Elisabet disemayamkan di kapel rumah penampungan tempat dia berkarya. Di sana dia dimakamkan dan banyak mukjizat terjadi lewat syafaatnya. Magister Konrad mulai mengumpulkan  bahan-bahan untuk pertimbangan kanonisasi Elisabet, namun tak sempat menyaksikan kanonisasinya karena dia pun kemudian berjumpa dengan Saudari Maut (badani).

Santa Elisabet dari Portugal [1271-1336] – seorang ibu pembawa damai. Ketika Elisabet atau “Isabel” dilahirkan, ayahnya yang bernama Pedro III berdamai dengan raja Yakobus dari Aragon, kakek dari Elisabet. Kelak Pedro III menggantikan ayahnya itu sebagai raja Aragon. Peristiwa ini kelihatannya membawa dampak baik atas diri Elisabet. Suasana damai di masa kanak-kanaknya memungkinkan dia mempelajari disiplin diri dan menekuni spiritualitas. Ia pun siap menghadapi pelbagai tantangan hidup ketika pada usia 12 tahun dia dinikahkan dengan Denis, raja Portugal. Setelah nikah, kehidupan spiritual Elisabet tidak menyusut: setiap hari dia mengikuti Misa Kudus, sering menolong para peziarah, orang-orang sakit, orang-orang miskin – pokoknya siapa saja yang perlu ditolong. Meskipun waktunya banyak digunakan untuk membantu kesana kemari, Elisabet adalah seorang isteri yang baik. Pengabdiannya kepada raja Denis sangat terpuji, meskipun masyarakat mengetahui, bahwa sang suami berselingkuh dengan perempuan lain.

Elisabet tak henti-hentinya berdoa agar suaminya berdamai dengan Allah. Doa-doanya terkabul, Denis pun pada akhirnya bertobat dan meninggalkan hidup dosa. Elisabet juga tanpa henti-henti mengupayakan dengan penuh kasih perdamaian antara Denis dan puteranya yang bernama Alfonso, yang menuduh ayahnya lebih menyayangi anak-anak hasil perselingkuhannya dengan perempuan lain. Ratu juga mengupayakan perdamaian antara Ferdinand, raja Aragon dan sepupunya Yakobus yang mengklaim mahkota kerajaan (Aragon).

Setelah kematian suaminya Elisabet pergi ke Coimbra. Di sana dia menggabungkan diri dengan ordo ketiga Santo Fransiskus dan mengundurkan diri ke sebuah biara Suster-suster Klaris di sana. Antara puteranya Alfonso yang sekarang raja Portugal dan menantunya yang raja Castile terus-menerus terjadi konflik. Elisabet kemudian berangkat lagi untuk misi perdamaiannya, yang ternyata merupakan misinya yang terakhir. Kesehatan Elisabet pada waktu itu jauh dari baik, di tambah dengan musim kemarau yang panas terik. Tekad Elisabet singkat-jelas: menghindari kehancuran akibat perang dan penderitaan rakyat lebih penting daripada hidup dan kesehatan pribadinya. Akhirnya Elisabet memang berhasil mendamaikan dua pihak yang bersengketa dan perdamaian pun tercapai. Namun pada waktu itu kesehatannya sudah begitu rapuh dan kematian pun tidak dapat dihindarkan lagi. Setelah kematiannya pada tahun 1336, jenazah Elisabet dikuburkan di biara Coimbra.

Menjadi seorang pembawa damai – seperti Santo Fransiskus – banyak tuntutannya, teristimewa harus memiliki kasih-Nya dalam diri kita. Seorang pembawa damai harus memiliki pemikiran yang jernih, semangat yang mantap (tidak seperti air soda) dan jiwa pemberani, karena dia harus melakukan intervensi antara dua pihak yang sedang beremosi tinggi dan siap untuk saling menghancurkan, apalagi ketika pihak yang satu adalah anaknya sendiri dan pihak satunya lagi adalah menantunya. Allah menganugerahkan karunia-karunia yang diperlukan kepada perempuan abad ke 14 ini. Elisabet memiliki kasih yang mendalam dan tulus, simpati serta empati terhadap sesama, penuh kepercayaan kepada Allah tanpa banyak memikirkan diri sendiri.

Cilandak, 8 Desember 2011 [Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa] – Revisi: tanggal 8 Maret 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads