IMAMAT KRISTUS SEBAGAI SUMBER DAN MODEL IMAMAT SAKRAMENTAL DALAM GEREJA

Mengenang Romo Thomas Martin Fix, SCJ [1933-2012]

“Indonesia adalah negeri saya sekarang. Di sanalah saya akan pensiun,” kata Romo Thomas Martin Fix SCJ ketika merayakan Pesta Imamatnya di kota kelahirannya, Milwaukee, negara bagian Wisconsin, Amerika Serikat pada bulan September 2008. Sekarang, Romo Thomas Fix sudah tidak ada lagi di tengah kita karena beliau telah meninggal dunia pada hari Ibu Kartini, 21 April 2012, jam 20.26 WIB.

Romo Thomas Fix SCJ pertama kali tiba di bumi Indonesia pada bulan Mei 1962 ketika masih berusia muda (29 tahun) dan baru saja 4 tahun menjadi seorang imam Katolik; dan tempat beliau berkarya yang pertama adalah kota Palembang sebagai seorang pendidik para calon imam SCJ. Saya sendiri mulai mengenal beliau pada waktu beliau pertama kali ditugaskan dalam gereja Santo Stefanus, Cilandak. Kepribadian imam yang satu ini membuat saya dan tentu banyak orang lain merasa mudah untuk berbicara dari hati ke hati (curhat), termasuk mengakui dosa kita di hadapannya dalam Sakramen Rekonsiliasi. Wajahnya memancarkan kasih – bukan wajah yang menuduh – dan nasihat-nasihatnya penuh hikmat ilahi namun membumi.

Sampai hari ini tidak ada komentar umat yang bersifat negatif manakala saya tanyakan pendapat/pandangan mereka tentang Romo Thomas Fix: “Pastor yang rendah hati”; “Imam yang baik”; “Beliau seorang yang ramah”; “Tidak pernah saya mendengar sekali pun beliau berbicara buruk tentang orang lain”; “Wah, pastor yang sangat rendah hati” dst. Istri saya pernah menceritakan kepada saya, bahwa Romo Fix pada suatu malam menemani seorang ibu miskin dari wilayah I yang juga saya kenal, pergi ke Panti Asuhan Desa Putera di Lenteng Agung dengan menumpang angkot dalam urusan anak ibu itu yang melarikan diri dari panti asuhan tersebut. Bukankah ini potret dari seorang gembala yang baik? Bukankah ini “servanthood” in practice?

Satu-satunya komentar yang agak “miring” (disertai beberapa contoh, misalnya “tidak bisa mengatakan tidak”) justru saya dengar dari seorang konfraternya, pada waktu saya bercerita kepada romo itu betapa tersentuhnya hati saya ketika hadir dalam Misa Hari Paskah sore di kapel S. Carolus, tanggal 8 April 2012. Romo itu tentunya lebih mengenal Romo Fix, namun di mata umat pada umumnya Romo Fix memang dipandang sebagai seorang gembala yang baik, seorang misionaris yang mencintai Indonesia dan orang/bangsa Indonesia, dan beliau juga seorang imam yang suci. Umat Katolik Indonesia sekarang – apalagi yang berdiam di kota besar – tentunya banyak yang sudah mampu menilai para anggota pimpinan mereka.

Sekian tahun lalu, pada tahun 1990-an, pada waktu saya bertugas melayani sebagai Ketua Seksi Katekese merangkap salah seorang katekis di paroki kami, Romo Fix (saya biasanya menyapa beliau sebagai Father atau Pater) pernah menugaskan saya untuk berbicara beberapa jam lamanya pada suatu senja/malam hari di depan sekelompok calon pengantin yang “gado-gado” antara Katolik dan Kristiani yang bukan Katolik (Protestan dll.) cukup banyak pasangan yang hadir. Beliau mempercayakan sepenuhnya kepada saya pokok-pokok apa saja yang akan disoroti dan didiskusikan bersama dalam “kelas malam” tersebut. Romo Fix percaya penuh kepada saya, dengan demikian tentunya saya sebagai pihak yang diberi tugas pun tidak ingin mengecewakan beliau. Menaruh kepercayaan (trust) pada orang lain tidak mungkin ada pada pribadi yang tidak memiliki kasih atau memandang diri sendiri lebih hebat ketimbang orang-orang lain. Pada masa itu saya juga pernah minta tolong Romo Fix untuk memeriksa tulisan saya tentang “Allah Bapa” dalam “Tahun Allah Bapa” menjelang “Tahun Yubileum 2.000”. Beliau memeriksanya dengan serius dan mengembalikan tulisan saya disertai tanda-tangan sebagai tanda persetujuan atas isi tulisan saya tersebut. Terasa ada “seriousness” dalam menghadapi seorang anggota umat di sini. Sampai beberapa bulan lalu, sekali-kali saya masih menerima komentar-komentarnya yang sangat encouraging (memberi dorongan dan menyemangati) atas tulisan-tulisan yang saya buat. Pada suatu hari beliau mengirim e-mail yang memberitahukan bahwa sebuah tulisan saya dipakainya sebagai bahan utama homilinya pada perayaan Ekaristi di Amerika Serikat. Wah, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan atas kerendahan-hati, keterbukaan dan kejujuran beliau …… sebelum saya keburu tersanjung dan GR! Nilai kehidupan baik yang juga dihayatinya adalah “respect for others”, siapa pun pribadi manusia yang sedang dihadapinya, kaya-miskin, muda-tua dlsb. Romo Fix adalah seorang imam yang akal budinya, hatinya, sikapnya, perilakunya – seluruh dirinya – sepenuhnya diabdikan kepada HATI KUDUS YESUS !!! Dua orang imam SCJ tidak pernah meragukan kesucian beliau, dan hal ini dikemukakan dalam retret prodiakon paroki St. Stefanus pada bulan September 2011 lalu dan juga dalam sebuah rangkaian pertemuan di paroki mengenai Ekaristi pada bulan November 2011.

Inilah Romo Thomas Martin Fix SCJ yang sangat dihormati umat paroki St. Stefanus walaupun beliau tidak pernah menjadi Pastor Kepala, terbukti dengan begitu penuh-sesaknya Misa Requiem yang dirayakan pada misa jam 18.45 hari Minggu Paskah III tanggal 22 April 2012 di gereja St. Stefanus, Cilandak yang disusul dengan tuguran secara bergiliran sampai saat pemberangkatan jenazah ke bandara. Seorang menteri terlihat hadir untuk menghormati jenazah beliau. Jenazah beliau diberangkatkan pada dini hari Senin tanggal 23 April dan dimakamkan pada hari yang sama di kota Palembang.

Sampai jumpa di rumah Bapa kelak, Romo Thomas Fix yang baik! Doakanlah kami dari sana!

Tulisan berikut dapat membantu kita memandang dengan lebih jelas siapa Romo Thomas Fix SCJ ini berkaitan dengan keberadaan beliau sebagai seorang imam Kristus.

IMAM

Tentang para imam, salah satu dokumen Konsili Vatikan II, ‘Dekrit Presbyterorum Ordinis [PO] tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (7 Desember 1965)’ menyatakan: “… para imam, berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun di dunia ini menjadi umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus” [PO 1]. Dokumen yang sama juga menyatakan: “Karena Sakramen Tahbisan para imam dijadikan secitra dengan Kristus Sang Imam, sebagai pelayan Sang Kepala, untuk membentuk dan membangun seluruh Tubuh-Nya, yakni Gereja, sebagai rekan-rekan kerja Tingkat para Uskup. Sudah pada pentakdisan Baptis mereka, seperti semua orang beriman, menerima tanda serta karunia panggilan dan rahmat seagung itu, sehingga di tengah kelemahan manusiawi pun, mereka mampu dan harus menuju kesempurnaan, menurut amanat Tuhan: “Hendaknya kalian menjadi sempurna, seperti Bapamu di surga adalah sempurna” [Mat 5:48; PO 12].

Dari petikan-petikan dokumen Gereja di atas, jelas kelihatan bahwa tugas pelayanan para imam tertahbis dalam Gereja kita sangatlah penting dan mulia. Maka mereka harus dan sepantasnya dihormati oleh segenap umat. Namun demikian, imamat mereka tidak dapat lepas dari Imamat Kristus sendiri, sang Imam Besar Perjanjian Baru. Imamat-Nya adalah sumber dan model bagi para imam tertahbis dalam Gereja kita, tidak lebih dan tidak kurang.

IMAMAT SAKRAMENTAL

Sakramen imamat sesungguhnya merupakan suatu bentuk kehadiran khusus yang dijanjikan Yesus bagi umat-Nya dan bagi dunia. Dalam misteri inkarnasi Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], supaya manusia dapat bertemu dengan Allah dalam diri seorang manusia juga, Yesus. Yesus bersabda kepada Filipus: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” [Yoh 14:9]. Nah, Kristus sang “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14] mau melanjutkan karya penebusan umat manusia melalui kodrat manusia lagi, yaitu melalui diri manusia. Imamat-Nya akan hadir dan bekerja dalam diri orang yang ditahbiskan menjadi imam. Dalam sakramen imamat ini Yesus mengambil seorang manusia agar Ia dapat bekerja di dalam dia dan melalui dia untuk memberikan apa yang dibutuhkan umat-Nya dan manusia pada umumnya: melanjutkan karya penyelamatan. Inilah misteri kehadiran sang Imam Besar Agung dalam diri seorang imam tertahbis Gereja kita seperti Romo Thomas Fix SCJ ini.

Pater Josef Boumans SVD dengan tepat sekali mengatakan: “Seorang imam seharusnya adalah sebuah “ikon” dari Yesus, Imam Agung”. Ikon adalah lukisan seorang kudus, atau Yesus atau Maria. Orang yang melakukan devosi dengan menggunakan ikon, merasakan bahwa di dalamnya ada kuasa, rahmat, kekuatan khusus dari orang yang digambarkan, dan kekuatan itu akan dinikmati kalau gambar itu dihormati [Menjadi Imam Allah, hal.10]. Oleh Sakramen Tahbisan Suci (Imamat), seseorang dipersatukan secara khusus dengan Kristus, sang Imam Besar Agung, dan kebersatuan dengan Kristus ini diharapkan menjadi semakin mendalam sehingga imam itu sungguh menjadi ikon Kristus. Dengan menerima Sakramen Tahbisan Suci ini seseorang yang dijadikan imam dapat mulai berperan dalam nama Kristus, bahkan in persona Christi, khususnya dalam hal Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat/Rekonsiliasi [lihat Yoh 20:22-23]. Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) adalah seorang ikon dari Yesus yang nyaris sempurna.

IMAMAT KRISTUS

Imam Besar Agung. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” merupakan satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang menyoroti imamat Kristus secara khusus dan menyebut-Nya sebagai seorang Imam secara eksplisit. Ia bahkan memandang imamat Kristus sebagai pokok seluruh uraiannya [Ibr 8:1]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ini merumuskan dan mengungkapkan kedudukan serta karya Yesus Kristus dengan menggunakan kategori-kategori kultis yang diambil-alih dari Perjanjian Lama (agama Yahudi). Dapat saja kita membayangkan bahwa sang penulis telah merenungkan secara mendalam Mzm 110, teristimewa janji Bapa surgawi akan kedatangan Mesias: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek” [Mzm 110:4]. Kita ketahui bahwa Mzm 110 adalah yang paling sering dipetik dalam Perjanjian Baru, namun hanya penulis “Surat kepada Orang Ibrani” sajalah yang berbicara mengenai nubuatan tentang seorang Imam Besar yang akan tampil menurut aturan Melkisedek [bdk. Doa Syukur Agung I].

Jabatan imam Yahudi dalam Perjanjian Lama dikhususkan bagi bani Lewi. Orang-orang ini dijadikan kelas imam yang bertugas untuk mempersembahkan kurban dan melakukan mediasi secara kultis antara Allah dan umat-Nya. Harun dan para puteranya harus dibedakan dengan orang-orang Lewi lainnya [Kel 28:1-5; 32:25-29; Bil 1:47-54; 3:1-51; Ul 10:6-9; 18:1-8; 33:8-11]. Dengan mata iman penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mampu memandang melampaui imamat Yahudi dalam upayanya menangkap rencana-kekal Allah. Pada zaman Yesus, martabat imamat Yahudi sudah jauh merosot ketimbang pada masa kejayaan Harun atau cucunya yang bernama Pinehas [baca Bil 25]. Pinehas, misalnya berani mengambil segala risiko demi kemurnian bangsanya. Sebaliknyalah para imam besar pada zaman Yesus; mereka malah berkolaborasi dengan penjajah Romawi serta mengkompromikan jabatan “suci” di hadapan Allah lewat berbagai manuver dan intrik politik agar tidak kehilangan “jabatan/posisi”. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” memandang imamat sebagai suatu institusi yang ditakdirkan oleh Allah sendiri. Ia menyadari bahwa imamat adalah sebuah simbol dari tradisi-tradisi besar bangsa Yahudi. Ia memahami bahwa imamat Yahudi membutuhkan pembaharuan, namun dia menyadari pula bahwa imamat ini adalah sesuatu yang sakral. Di atas itu semua, dia mengakui bahwa imamat masuk akal dan dapat diterima, hanya apabila dilihat/dipertimbangkan dalam terang pengorbanan-diri Yesus. Inilah latar belakang yang tidak mudah bagi penulis “Surat kepada Orang Ibrani” ketika dia memproklamasikan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung.

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengembangkan suatu analogi dan kontras antara imamat Yesus dan imamat Yahudi, teristimewa yang menyangkut tugas sang imam besar pada Hari Penebusan Dosa (Yom Kippur). Tidak seperti sepupu-Nya, Yohanes Pembaptis, Yesus tidak dilahirkan dalam keluarga imam. Dengan demikian Yesus tidak dapat mengklaim bagi diri-Nya imamat Harun atau imamat kaum Lewi. Kendati tidak dilahirkan dalam keluarga imam, Yesus adalah “Imam Besar Agung” [Ibr 4:14-5:10] menurut aturan Melkisedek [Ibr 5:6,10]. Yesus memenuhi dua kualifikasi hakiki untuk imamat-Nya: (1) otorasi ilahi, artinya dipanggil oleh Allah sendiri [Ibr 5:4] dan (2) solidaritas dengan orang-orang kepada siapa Dia diutus agar dapat mewakili mereka [Ibr 4:15; bdk. 2:17-18; 3:1]. Cerita tentang pertemuan Abraham dengan seorang imam-raja yang misterius [Kej 14:17-20] mendorong penulis “Surat kepada Orang Ibrani” untuk sampai pada pernyataannya, bahwa Yesus telah menerima imamat-kekal menurut aturan Melkisedek [Ibr 7:1-28; bdk. Mzm 110:4]. Kemanjuran kurban-Nya, mediasi perjanjian baru-Nya, konsistensi sempurna antara hidup manusia dan kegiatan kultis, identitas ilahi-Nya dan kenyataan bahwa Dia diangkat langsung oleh Allah, semua ini membuat imamat Yesus Kristus cukup superior ketimbang imamat Yahudi [Ibr 6:20-10:18].

Ditetapkan oleh Allah. Asal-usul imamat Perjanjian Baru adalah misteri abadi dalam Allah, yang ditetapkan untuk mendamaikan, mempersatukan dan memuliakan seluruh ciptaan dalam diri Putera-Nya. Yesus, hadir dan memasuki sejarah hidup manusia di dunia ini pada waktu dikandung oleh kuasa Roh Kudus dalam rahim Bunda Maria. Sejak saat itu imamat-Nya tidak pernah berhenti. Di surga, Yesus tetap Imam Besar Agung kita yang berdoa bagi kita pada takhta kemurahan Allah; sedangkan di bumi imamat-Nya di-share-kan kepada manusia melalui Sakramen Imamat. Keiikut-sertaan dalam imamat Yesus ini adalah berdasarkan panggilan dan pilihan-Nya juga, dan terbatas pada mereka yang dipanggil atau diundang-Nya. Yesus bersabda: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” [Yoh 15:16].

Pengantara satu-satunya antara Allah dan manusia. Dalam salah satu Surat Pastoral diakuilah bahwa Kristus adalah pengantara esa antara Allah dan manusia, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia [1Tim 2:5-6]. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” juga menulis: “… Dialah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima warisan kekal yang dijanjikan, sebab sudah ada yang mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” [Ibr 9:15; bdk 12:24]. Kemuliaan imamat terletak dalam kenyataan bahwa imamat merupakan suatu pengantaraan antara Allah dan manusia. Imamat adalah suatu karunia Allah bagi manusia. Doa Yesus untuk para murid-Nya [Yoh 17:1-26], misalnya, sejak tahun 1600 sudah diberi judul “Doa Imam Besar/Agung”. Memang sejak Sabda Allah menjadi manusia [Yoh 1:14], Yesus adalah sang Pengantara. Dalam misteri inkarnasi, ke-Allah-an dan kemanusiaan saling bertemu dan bersatu, yaitu dalam diri Yesus Kristus. Dengan jalan ini, kodrat manusia telah dihubungkan dengan ke-Allah-an. Sekarang Kristus dapat menyucikan seluruh umat manusia di dalam kemanusiaan-nya. Yesus menjadi Imam Besar Agung, ketika kemanusiaan-Nya diurapi oleh Allah (lihat Ibr 1:9).

Imam Besar Agung tanpa noda-dosa. Imam Besar Agung ini adalah tanpa noda atau cacat-dosa [lihat Ibr 4:15; 7:26-27] dan seluruh hidup-Nya di muka bumi diwujudkan dalam perang-tak-berkesudahan melawan kejahatan, melawan si Jahat (Iblis): “penguasa dunia” [Yoh 12:31; 16:11], “si ular tua” [Why 12:9], “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran” [Yoh 8:44], dan lain-lainnya. Selama hidup-Nya di dunia Yesus melawan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Ia juga mengampuni dosa-dosa [bdk 1Ptr 2:21-24]. Dasar kuat-kokoh dari tulisan Santo Petrus ini adalah sabda Yesus pada Perjamuan Akhir: “Ambilah, makanlah, inilah tubuh-Ku…. Minumlah, kamu semua, dari cawan, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” [Mat 26:26-28]. Karena Imam Besar Agung tanpa dosa, maka setiap imam, di mana saja dan kapan saja, hendaknya senantiasa memohon rahmat Allah agar semakin menjadi pribadi yang bebas dari dosa dan dipenuhi kekudusan Allah. Sementara itu setiap imam juga hendaknya selalu dengan rendah-hati mengakui bahwa dia masih berada jauh dari sempurna dalam usahanya menjadi ikon Kristus.

YESUS KRISTUS ADALAH IMAM DAN SEKALIGUS KURBAN

“Yesus … telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah” [Ef 5:2]. Yesus merayakan Paskah bersama para murid-Nya, Ia menetapkan perjamuan Tuhan [1Kor 11:20] dan kemudian Ia disalibkan. Ketiga hal ini dengan cepat membuat umat Kristiani perdana menerapkan “bahasa kurban” bagi kematian Yesus. Tulisan Santo Paulus tentang Kristus sebagai “anak domba Paskah kita” yang “juga telah disembelih” [1Kor 5:7] dan yang dengan darah-Nya menghapus dosa-dosa dunia [Rm 3:25; bdk 1Yoh 2:2], jelas menunjukkan bahwa dia mengambil alih sejak awal rumusan-rumusan tradisional yang ada. Kristus dilihat sebagai kurban persembahan, namun pada saat yang sama Dia juga bertindak sebagai imam pada waktu merayakan perjamuan Tuhan, pada hari Jumat Agung dan Minggu Paskah. Meski Yesus menguduskan orang-orang melalui darah-Nya sendiri, Dia “menderita di luar pintu gerbang” [Ibr 13:12], artinya sebuah setting yang bersifat profan dan bukannya dalam bait Allah atau tempat kultis lainnya seperti kasus Zakharia anak Berekhya yang dibunuh di antara tempat kudus dan mezbah [Mat 23:35; bdk. Luk 11:51; 2Taw 24:15-22].

Sepanjang hidup-Nya Yesus menyadari sepenuhnya tentang perlunya kurban silih bagi dosa-dosa manusia, demi cinta kasih-Nya yang tak terbatas kepada Bapa-Nya dan umat manusia. Hal ini dilukiskan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 9:27-28). Yesus sebagai Imam yang mempersembahkan kurban sekaligus menjadi Kurban itu sendiri. Inilah misteri ilahi Yesus. Yesus berkata: “Inilah Tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu”, “inilah piala Darah-Ku yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa”. Sebelum penyaliban di bukit Kalvari, Yesus memberikan diri-Nya kepada para murid-Nya sebagai kurban. Kalvari merupakan konfirmasi dan perwujudan misteri-misteri Ekaristi, misteri-misteri malam Perjamuan Akhir. “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Di sinilah para imam tertahbis seperti Romo Thomas Fix muncul dalam pelaksanaan rencana keselamatan. Oleh tahbisannya, seorang imam ditempatkan dalam kenyataan dan kemauan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imam yang mempersembahkan kurban.

Seorang imam – seperti Romo Thomas Fix – ditetapkan Allah agar supaya dia menghadirkan kurban keselamatan dari Yesus di tengah umat-Nya sampai Dia datang kembali. Seorang imam adalah imam yang mempersembahkan kurban, sejauh dia menempatkan Kurban Ilahi itu di tengah umat, agar umat dapat mempersembahkan Kurban Ilahi itu kepada Allah, sambil mempersatukan diri mereka dengan Kurban itu. Imam itu sendirilah yang pertama-tama dipanggil untuk mempersatukan diri dengan kurban Yesus, untuk bersama Yesus menjadi kurban keselamatan bagi umat manusia. Dalam Misa Kudus kita mendengar imam-selebran berucap: “Sambil mengharapkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan, kami mempersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah-Nya: kurban yang berkenan pada-Mu dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia. Ya Bapa, sudilah memandang kurban ini yang telah Engkau sediakan sendiri bagi Gereja-Mu. Perkenankanlah agar semua yang ikut menyantap roti yang satu dan minum dari piala yang sama ini dihimpun oleh Roh Kudus menjadi satu tubuh. Semoga dalam Kristus, mereka menjadi kurban yang hidup sebagai pujian bagi kemuliaan-Mu [Doa Syukur Agung IV]. Dalam perayaan Ekaristi, seorang imam berada di jantung Imamat Yesus dan imamat mereka sendiri. Seorang imam ditahbiskan terutama untuk mempersembahkan Kurban Misa. Apa yang dirayakannya hendaklah dilaksanakannya: “mengurbankan diri, mengurbankan diri bersama”. Kurban Ilahi demi keselamatan manusia. Seorang imam tertahbis telah menjadi imam yang mempersembahkan kurban dan sekaligus menjadi kurban itu sendiri.

CATATAN PENUTUP

Menjadi imam merupakan sebuah jawaban atas panggilan atau undangan Allah. Romo Thomas Martin Fix SCJ menanggapi panggilan-Nya dengan baik. Benih panggilan tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak masih duduk di sekolah dasar. Sejak kelas 3 beliau sudah “bermimpi” untuk menjadi seorang misionaris kelak.

Yang terjadi dengan Yesus dalam panggilan menjadi imam ini digambarkan dalam “Surat kepada Orang Ibrani” (Ibr 10:5-7). Sabda Yesus dalam ayat 7 berbunyi: “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” [bdk Mzm 40:7-9]. Tanggapan Yesus terhadap imamat-Nya yang ditetapkan oleh Bapa surgawi, ketaatan-Nya kepada kehendak Allah, mewarnai seluruh hidup-Nya, baik di bumi ini maupun sekarang di surga. Yesus berkata: “Sungguh, Aku datang”. Ketika seorang calon imam dipanggil uskup untuk ditahbiskan, maka dia berkata: “Aku sungguh datang”. Ecce venio! Penyerahan diri kepada kehendak Bapa-Nya bersifat total dan dipenuhi kerelaan hati yang terlihat nyata dalam kehidupan-Nya.

Dengan taat pada panggilan Bapa surgawi, seluruh hidup-Nya menjadi pujian dan kemuliaan bagi Bapa. “Melakukan kehendak Bapa” merupakan pusat keberadaan Yesus. Ia bersabda, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya“ [Yoh 4:34]; “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” [Mat 7:21]. Dalam penderitaan-Nya di taman Getsemani Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” [Luk 22:42]. Hal yang sama juga diharapkan menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari seorang imam-Nya, karena Kristus sendirilah sesungguhnya paradigma atau model para imam tertahbis. Romo Thomas Martin Fix SCJ telah memenuhi harapan termaksud.

Catatan: Tulisan ini adalah revisi dari tulisan tanggal 8 Juli 2009, salah satu tulisan saya dalam rangka menyambut Tahun Imam 2009-2010. Tulisan kali ini adalah dalam rangka mengenang wafat seorang imam Kristus, Romo Thomas Martin Fix SCJ (21 April 2012).

Jakarta, 25 April 2012 [Pesta Santo Markus – Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads