ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS

Pada waktu orang-orang Kristiani memikirkan Roh Kudus, maka seringkali gema-gema jawaban Katekismus bermunculan dalam benak mereka: Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus, satu dalam substansi ilahi dengan Bapa dan Putera. Namun kita harus ingat bahwa doktrin Tritunggal belum didefinisikan secara resmi sampai abad keempat, dan pada hari-hari pertama Kekristenan gambarannya pun masih jauh dari tepat, terutama sehubungan dengan kepribadian Roh Kudus itu.

Sehubungan dengan kesaksian Perjanjian Baru, bagian dari kesulitannya adalah bahwa konsep “roh” itu memiliki banyak segi; roh manusia, roh-roh malaikat, roh-roh jahat dan seterusnya. Sebagai tambahan, kata Yunani untuk “roh”, pneuma, juga dapat diartikan “angin, nafas”. Peran-peran Roh bervariasi: Seperti angin kencang yang menggerakkan para rasul untuk berkhotbah pada hari Pentakosta; memberikan hidup; berseru dalam hati kita, sumber karisma-karisma atau kuasa-kuasa istimewa.

Injil Yohanes banyak berbagi pemikiran dan pengungkapan Perjanjian Baru tentang Roh Kudus; namun Injil ini juga memberikan sumbangannya sendiri yang unik, dengan demikian meningkatkan penghargaan atas Roh dalam hidup orang-orang Kristiani dan gereja.

Hanya dalam Injil Yohanes, Roh Kudus mempunyai gelar Parakletos (Istilah ini muncul sekali lagi dalam 1Yoh 2:1, dan mengacu kepada Yesus). Roh Kudus sebagai Parakletos digambarkan dalam lima bagian, semuanya dalam pengajaran Yesus pada Perjamuan terakhir, cukup sering diiringi dengan gelar “Roh Kebenaran”, yang juga khas terdapat dalam Injil Yohanes.

Seperti kita akan lihat, kata Yunani parakletos mempunyai konotasi yang berbeda-beda, oleh karena itu sulit diterjemahkan. Karena menghadapi banyak terjemahan dalam bahasa Latin kuno untuk kata parakletos ini, maka dalam Kitab Suci Latin Vulgata, Santo Hieronimus menggunakan kata paracletus.

Aspek-aspek Parakletos. Secara literer parakletos berarti “seseorang yang diminta untuk mendampingi,” terutama seseorang yang dipanggil untuk menolong dalam suatu situasi yang menyangkut perkara hukum; seorang pengacara-pembela. Terasa aspek hukum ini kalau kita mendengar istilah lain yang dipakai, yaitu “Advokat” dan “Penasihat”, untuk menerjemahkan kata parakletos ini. Sebenarnya ada suatu nada hukum pada beberapa sabda Yesus dalam Injil Yohanes mengenai Parakletos; namun gambarannya yang lebih tepat adalah sebagai seorang pembela hukum. Yesus akan mati di kayu salib – di mata dunia Dia dinilai bersalah dan dihukum. Namun setelah kematian-Nya, sang Parakletos ini akan datang dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena dunia tetap tidak percaya kepada Yesus. Singkatnya sang Paracletos ini memutar-balikkan hukuman mati atas diri Yesus ini dan membuktikan bahwa Dia tidak bersalah (Yoh16:8-11). Parakletos ini akan menunjukkan bahwa Yesus tidak berdosa; melainkan dunialah yang berdosa karena tidak percaya kepada Yesus. Yesuslah yang adil atau benar, seperti ditunjukkan oleh fakta bahwa Dia tidak ada dalam kubur, tetapi telah bersama Bapa. Penghakiman yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dengan menjatuhkan hukuman mati atas diri-Nya tidak mampu mengalahkan-Nya; malah ironisnya yang dikalahkan justru adalah lawan-Nya yang besar, yaitu Iblis sendiri.

Dalam satu bagian terkenal dari salah satu kitab Perjanjian Lama, yaitu Kitab Ayub (19:25), diceritakan bahwa Ayub tahu bahwa dia akan mati dengan tuduhan bersalah oleh semua orang karena penderitaan-penderitaan yang menimpanya; namun dia tahu bahwa yang membela nama baiknya hidup, yakni malaikat yang akan berdiri di kuburnya dan menunjukkan kepada semua orang bahwa Ayub tak bersalah. Roh yang membela itu mempunyai peran sebagai seorang parakletos, dan Yesus sekarang melihat Roh Kudus sebagai Parakletos-Nya.

Namun ada sebuah peranan lain lagi dari “Dia yang diminta untuk mendampingi” itu. Kadang-kadang mereka yang sedang menderita atau merasa sepi-sendiri memerlukan seseorang untuk menghibur mereka. Aspek dari sang Parakletos yang ini, diterjemahkan sebagai “Penghibur” (Inggris: Holy Comforter; Latin: Consolator optime dalam madah untuk Roh Kudus). Dalam konteks Perjamuan Terakhir murid-murid Yesus mengalami rasa sedih yang mendalam karena Dia akan berpisah; maka janji bahwa seseorang yang seperti Yesus akan datang menggantikan tempat-Nya sungguh menghibur mereka.

Walaupun demikian, Yesus dari Perjamuan Terakhir yang menyiapkan para murid-Nya akan kedatangan Roh Kudus, juga realistis. Dunia akan membenci para murid yang telah menerima Roh Kebenaran (Yoh 15:18-19) yang tak dapat diterima dunia, karena dunia tidak melihat atau tidak mengenal Roh itu (Yoh14:17). Para murid akan diusir keluar dari sinagoga-sinagoga dan bahkan dihukum mati (Yoh16:2-3). Namun karena Yesus bersama mereka, mereka pun dapat memperoleh damai sejahtera. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh16:33).

Parakletos sebagai Yesus yang lain. Penekanan utama dalam perkenalan Injil Yohanes mengenai Parakletos ini adalah keserupaan Roh dengan Yesus yang memampukan Roh itu untuk menggantikan-Nya. (Itulah mengapa Roh Kudus-Parakletos tidak dapat datang sebelum Yesus berpisah.) Baik Yesus maupun Roh Kudus datang dari Bapa; keduanya dianugerahkan atau diutus oleh Bapa; dan dua-duanya ditolak oleh dunia.

Yesus dari Injil Yohanes mengklaim tidak memiliki apa-apa dari diri-Nya sendiri; apa saja yang dikerjakan atau katakan oleh-Nya adalah apa yang didengar-Nya atau dilihat-Nya dari Bapa (Yoh 5:19; 8:28,38; 12:49). Parakletos tidak akan berbicara apa saja dari diri-Nya sendiri; Dia akan mengambil apa yang merupakan kepunyaan Yesus dan kemudian mendeklarasikannya; Dia hanya akan berbicara segala sesuatu yang didengar-Nya (Yoh16:13-15).

Pada waktu Yesus berada di bumi dan Bapa di surga, siapa saja yang melihat Yesus telah melihat Bapa (Yoh 14:9). Pada waktu Yesus telah pergi kepada Bapa, maka siapa saja yang mendengarkan Parakletos akan mendengarkan Yesus. Singkatnya, apa Yesus itu bagi Bapa, adalah apa Parakletos bagi Yesus. Jadi dalam banyak cara Parakletos memenuhi janji Yesus untuk kembali.

Dalam satu bagian bacaan yang bersifat luarbiasa (Yoh 16:7), Yesus mengatakan bahwa lebih baik bagi para murid jika Dia pergi, sebab jikalau Dia tidak pergi Parakletos tidak akan datang kepada mereka. Dalam kemungkinan yang mana sajakah kehadiran Parakletos lebih baik daripada kehadiran Yesus? Barangkali solusinya terletak dalam satu perbedaan besar antara dua kehadiran itu. Dalam Yesus, Sabda menjadi daging; Parakletos tidak menjadi daging. Dalam hidup kemanusiaan Yesus yang nyata-terlihat pada waktu tertentu dan tempat tertentu, kehadiran Allah secara unik dalam dunia, dan kemudian secara badaniah Yesus meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa. Kehadiran Parakletos tidak nyata-terlihat, tak dibatasi oleh waktu maupun tempat. Sebaliknya, Parakletos berdiam dalam setiap orang yang mengasihi Yesus dan menuruti perintah-perintah-Nya, sehingga dengan demikian tidak dibatasi oleh waktu (Yoh 14:15-17). Kehadiran Allah sebagai Parakletos berarti tidak ada warganegara kelas dua: Parakletos hadir, dalam diri murid-murid Yesus pada zaman modern sama seperti Dia hadir dalam diri murid-murid Yesus generasi pertama.

Kenyataan itu secara khusus penting apabila kita pertimbangkan satu dari beberapa kegiatan utama sang Parakletos. Parakletos adalah “Roh Kebenaran” yang memberikan bimbingan ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), Yesus dari Injil Yohanes mempunyai banyak hal yang mau dikatakan-Nya, yang para murid-Nya tidak pernah memahami selagi mereka masih hidup (Yoh 16:12); namun kemudian sang Parakletos datang dan mengambil hal-hal itu dan mendeklarasikannya (Yoh 16:15).

Dengan perkataan lain, Parakletos memecahkan persoalan-persoalan dengan memberikan wawasan-wawasan baru ke dalam suatu perwahyuan yang dibawakan Yesus. Ketika Allah memberikan Anak-Nya, perwahyuan ilahi diperkenankan dalam segala kelengkapannya: Yesus adalah Sang Sabda Allah. Namun di muka bumi ini Sang Sabda berbicara dalam batasan-batasan budaya tertentu dan perangkat isu-isu tertentu. Bagaimana orang-orang Kristiani pada zaman yang berbeda memperoleh bimbingan Allah dalam menangani isu-isu yang sepenuhnya berbeda? Sang Parakletos yang hadir dalam setiap waktu dan budaya tidak membawa perwahyuan baru; melainkan dia mengambil perwahyuan Sang Sabda dan mendeklarasikannya secara baru, dalam menghadapi hal-hal yang akan datang.

Peranan Parakletos dalam Hidup Kristiani. Injil Yohanes selesai ditulis sekitar akhir abad pertama tahun Masehi. Ini adalah waktu di mana sejumlah gereja sedang mengembangkan kuasa mengajar (magisterium) eksternal untuk membimbing mereka yang berada di bawah pemeliharaan pastoral. Misalnya, pidato Paulus dalam Kis 20:28-31 menekankan peranan para penatua (presbiter) di Efesus dalam melindungi umat beriman terhadap penyimpangan-penyimpangan aneh dari kebenaran.

Surat-surat pastoral Paulus juga memimpikan para penatua-uskup yang berpegang pada doktrin yang benar yang mereka telah ajarkan (Tit 1:9) sebagai suatu tolok ukur dalam menilai apa yang absah dalam pendekatan-pendekatan baru yang mana saja.

Akan tetapi Yohanes menekankan berdiamnya Parakletos, pembimbing kepada segala kebenaran, yang dianugerahkan kepada setiap orang percaya, sehingga 1Yoh 2:27 dapat berkata mengenai Roh Kudus, “… di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain.” Ada suatu kecenderungan dalam sejarah Kekristenan untuk memperkenankan salah satu dari pendekatan ini mendominir; namun sebagai pendekatan tunggal, masing-masing memiliki kekurangan.

Para pengajar yang kekuatan satu-satunya adalah berpegang pada tradisi, cenderung untuk memandang semua gagasan baru sebagai hal yang berbahaya. Roh Kudus adalah pembimbing yang penuh semangat dan lebih baik dalam menyesuaikan diri menghadapi hal-hal yang akan datang. Namun manakala dua orang percaya – yang mengklaim mereka dibimbing oleh Parakletos yang berdiam dalam diri mereka masing-masing – saling tidak bersetuju, maka seringkali kedua belah pihak tidak dapat mengakui kemungkinan adanya kesalahan pada pihak masing-masing, dengan demikian cenderung untuk pecah tanpa dapat direkonsiliasikan.

Dalam liturgi menjelang Hari Raya Pentakosta, Gereja membaca Kisah para Rasul bersama dengan Injil Yohanes, jadi secara implisit mengingatkan dirinya sendiri, bahwa bimbingan bagi umat Kristiani menyangkut suatu “proses saling mempengaruhi” antara instruksi eksternal dari para pengajar berpengalaman dan gerakan-gerakan internal dari Parakletos. Kedua faktor ini adalah hakiki untuk memampukan Gereja untuk mengkombinasikan tradisi yang absah dan wawasan-wawasan baru.

Satu isu lagi yang mempengaruhi hidup Kristiani pada akhir abad pertama adalah kesenjangan yang disebabkan oleh kematian generasi para saksi mata yang merupakan mata-rantai hidup antara gereja-gereja dan Yesus dari Nazaret. Bagi komunitas Yohanes, dampak penuh isu ini muncul serta terasa dengan kematian sang “Murid yang dikasihi Yesus”, saksi mata nan sempurna (par excellence) (Yoh 19:35; 21:24), suatu kematian yang kelihatannya terjadi pada saat-saat sebelum Injil-nya tersusun dalam bentuk final. Bagaimana komunitas Yohanes akan survive tanpa kehadiran “mata-rantai hidup utama” dengan Yesus itu?

Konsep Parakletos/Roh memberi jawaban atas persoalan ini. Kalau sang “Murid yang dikasihi” telah memberikan kesaksian tentang Yesus, itu bukanlah hanya disebabkan ingatannya. Bagaimana pun juga, para murid telah melihat Yesus dan tidak mengerti (Yoh 14:9). Hanya anugerah Roh pasca-kebangkitan-lah yang mengajar para murid tentang makna sepenuhnya dari segala sesuatu yang telah mereka lihat (Yoh 2:22; 12:16); dan kesaksian mereka adalah kesaksian sang Parakletos yang berbicara melalui mereka (Yoh 15:26-27).

Secara khusus, penafsiran kembali secara mendalam mengenai pelayanan dan sabda-sabda Yesus yang dilaksanakan di bawah bimbingan sang “Murid yang dikasihi” dan yang sekarang ditemukan dalam Injil Keempat adalah karya sang Parakletos. Sesungguhnya, sang “Murid yang dikasihi” dalam arti figuratif, adalah “inkarnasi” dari Parakletos. Dan sang Parakletos ini tidak akan menghentikan kegiatannya pada waktu para saksi mata telah “pergi”, karena Dia berdiam di dalam diri semua orang Kristiani yang mengasihi Yesus dan mengikuti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:17). Sang Parakletos ini adalah mata- rantai yang menghubungi generasi-generasi mendatang dengan Yesus, sehingga secara hakiki orang-orang Kristiani pada berbagai zaman berada dekat dengan Yesus, sama seperti orang-orang Kristiani paling awal.

Isu ketiga adalah kesedihan mendalam yang disebabkan oleh tertundanya kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Dalam periode setelah 70 M, harapan akan kedatangan kembali Yesus mulai memudar. Hal ini telah diasosiasikan dengan penghakiman Allah yang penuh kemurkaan atas Yerusalem (Mrk 13), namun sekarang Yerusalem telah dihancurkan oleh tentara Romawi dan Yesus belum datang-datang juga. Secara khusus, kedatangan kembali Yesus telah diharapkan untuk terjadi dalam masa hidup dari mereka yang telah bersama-sama dengan Dia (Mrk 13:30; Mat 10:23). Ada orang-orang dalam komunitas Yohanes telah mengharapkan kedatangan-Nya kembali sebelum kematian dari sang “Murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:23); namun sekarang kematian ini akan segera terjadi atau bahkan telah menjadi suatu realita, dan Yesus belum juga datang kembali. Bahwa penundaan ini menyebabkan skeptisisme terlihat dalam 2 Ptr 3:3-8, di mana jawabannya diberikan bahwa berapa lama pun jangka waktunya, kedatangan kembali Tuhan Yesus akan terjadi dalam waktu cepat, karena bagi Tuhan seribu tahun sama dengan satu hari.

Jawaban dari tradisi Yohanes lebih mendalam. Pengarang Injil Yohanes tidak kehilangan iman akan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, akan tetapi menekankan bahwa banyak fitur yang diasosiasikan dengan itu sudah merupakan realitas hidup Kristiani (penghakiman, ke-anak-an ilahi, hidup kekal). Dan dengan satu cara yang riil telah datang kembali selama masa hidup para sahabat-Nya, karena Dia telah datang dalam dan melalui sang Parakletos. Orang-orang Kristiani dengan tradisi Yohanes (Johannine Christians) tidak perlu hidup dengan mata yang terus-menerus menatap langit dari mana Anak Manusia akan datang; karena sebagai Parakletos, Yesus hadir dalam diri semua orang percaya: sebagai Penolong mereka, Penghibur mereka, sebagai Pembimbing mereka kepada segala kebenaran.

AYAT-AYAT TENTANG PARAKLETOS

Yoh 14:15-17
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Parakletos) yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Yoh 14:25-26
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong (Parakletos), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yoh 15:26-27
“Jikalau Penolong (Parakletos) yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

Yoh 16:7-11
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong (Parakletos) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”

Yoh 16:12-15
“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.”

Untuk direnungkan:
 Peran apa yang dimainkan oleh Roh Kudus dalam hidup anda? Bagaimana anda dapat menjadi lebih sadar akan kehadiran sang Parakletos yang membimbing dan menghibur anda?
 Diskusikanlah sikap yang diambil oleh komunitas Yohanes sehubungan dengan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Bagaimana hal ini mempengaruhi kepercayaan anda sendiri tentang kedatangan kembali Tuhan?

Sumber: “The Holy Spirit as Paraclete – The Gift of John’s Gospel”, SCRIPTURE FROM SCRATCH, May 1998 N0598. Terjemahan bebas dilakukan oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk keperluan Studi Alkitab dalam sebuah kelompok beberapa tahun lalu. Pada waktu menulis artikel ini Pater Raymond E. Brown, SS (almarhum) adalah Auburn Distinguished Professor Emeritus of Biblical Studies di Union Theological Seminary, New York. Beliau telah dua kali diangkat sebagai anggota “Komisi Kitab Suci Kepausan”, oleh Paus Paulus VI di tahun 1972 dan oleh Paus Yohanes Paulus II di tahun 1996.

Revisi terakhir: 24 Mei 2012 oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads