Archive for September, 2012

IMAN SEJATI DI KAPERNAUM

IMAN SEJATI DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2012)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10)

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan ras sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 11:17-26), bacalah tulisan yang berjudul “EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 17-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan dengan judul “IMAN SEBESAR INI TAK PERNAH AKU JUMPAI” (bacaan tanggal 12-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 5 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYALIBAN KRISTUS ADALAH PERISTIWA SENTRAL DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

PENYALIBAN KRISTUS ADALAH PERISTIWA SENTRAL DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV – 16 September 2012)

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33)

Bacaan Pertama: Yes 50:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-6,8-9; Bacaan Kedua: Yak 2:14-18

Petrus adalah seorang pribadi “ceplas-ceplos” apabila berbicara. Sejak pertemuannya pertama kali dengan Yesus, ia menunjukkan kesungguhan hati yang memang membedakannya dengan para murid yang lain. Ia cepat berbicara, spontan …, dan ia juga cepat mengakui kesalahannya …… bertobat! Petrus adalah seorang pribadi yang transparan. Pada saat Petrus dengan benar memproklamasikan Yesus sebagai sang Mesias, maka Yesus pun memuji dirinya. Namun beberapa saat kemudian Petrus sudah ditegur keras oleh Yesus yang diakuinya sebagai Mesias itu. Di mana letak kesalahan Petrus?

Seperti kita semua, Petrus pun seorang pendosa dan tidak sempurna – suka berpikir, bersikap dan berperilaku salah juga. Bagaimana Petrus dapat berpikir bahwa dia mengetahui apa yang terbaik bagi Yesus, apalagi berkaitan dengan suatu isu yang begitu penting? Apabila memikirkan bahwa Yesus dapat menjadi sang Mesias yang menolak salib, maka hal itu berarti meminimalisir kebutuhan umat manusia akan keselamatan. Petrus harus menerima penghakiman salib atas hidup lamanya yang penuh dosa jikalau dia sungguh ingin mengenal dan mengalami kebebasan yang akan dibawakan oleh Yesus – dan hal sedemikian memang sulit untuk diterima.

Apakah kita (anda dan saya) sepenuhnya memahami semua yang dilakukan bagi kita oleh Yesus di atas kayu salib? Penyaliban Kristus adalah peristiwa sentral dalam sejarah umat manusia. Di sana, di bukit Kalvari, kemanusiaan dibebaskan sekali dan selamanya dari kematian kekal dan belenggu si Iblis. Dosa menjadi kehilangan kuat-kuasanya! Tindakan penebusan oleh Yesus mendatangkan keadilan bagi Bapa surgawi dan janji surga bagi semua orang percaya.

Memahami penebusan Yesus barangkali merupakan salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan Kristiani, namun hal itu juga merupakan “hakekat” dari berkat-berkat-Nya bagi kita. Selagi kita merenungkan betapa luasnya dan dalamnya intervensi ilahi ini, kita pun berhadapan dengan kasih Allah yang tak dapat diukur. Kita berhadapan – muka ketemu muka – dengan ‘seorang’ Bapa yang tidak peduli akan berapa “biaya” yang harus dikeluarkan oleh-Nya guna menyelamatkan kita dari dosa.

Pada hari ini, baiklah kita merenungkan makna Salib Kristus dan memperkenankan diri kita untuk disalibkan bersama Dia sehingga kita pun dapat mengalami keintiman relasi dengan Allah. Marilah kita memandangi “Sang Tersalib” dengan hati yang terbuka sehingga keajaiban dari kehadiran-Nya akan memenuhi diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah salib-Mu menembus hatiku supaya kehadiran-Mu dapat memenuhi diriku. Buatlah diriku suatu ciptaan baru dalam Engkau, sehingga aku pun dapat mengenal dan mengalami sukacita hidup dalam sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan dengan judul “ENGKAULAH MESIAS!” (bacaan untuk tanggal 16-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan untuk tanggal 16-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012.

Cilandak, 4 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Sabtu, 15 September 2012)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19:25-27).

Bacaan Pertama 1Kor 10:14-12 atau Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu oleh kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi. Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS?” (bacaan tanggal 15-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERINGATAN SANTA PERAWAN MARIA BERDUKACITA” (bacaan untuk tanggal 15-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 3 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA SALIB SUCI (6)

PESTA SALIB SUCI (6)

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Jumat, 14 September 2012)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini mempunyai sebuah sejarah yang panjang. Penemuan salib Kristus di tanah suci oleh Santa Helena, untuk pertama kali dirayakan dalam Gereja pada tanggal 14 September 365. Perayaan itu diselenggarakan dalam gereja yang dibangun atas perintah putera Helena, Kaisar Roma Konstantinus, di situs Golgota dan makam Yesus. Perayaan untuk memperingati ini menyebar luas dengan cepat di tengah umat Kristiani di seluruh dunia, dan pada abad ke-7, pesta ini digabungkan dengan pesta berkenaan dengan restorasi dari relikwi salib itu yang direbut dari orang-orang Persia – lalu dinamakan “Pesta Kemenangan Salib” atau “Pesta Peninggian Salib” dalam kalender liturgi Gereja Roma.

Dunia kuno sungguh merasa ngeri menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi, orang-orang Kristiani menghormati salib, baik sebagai tanda penderitaan Yesus maupun piala kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita menghormati salib Kristus karena melalui salib-Nya kita sampai pada pengenalan dan pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang begitu besar dan agung, dan melalui bilur-bilur-Nya kita telah diselamatkan dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr 2:24). Rupert dari Dreutz, seorang rahib dan abas Benediktin pada abad ke-12 mempermaklumkan dengan mengharukan:

“Kita menghormati salib sebagai penjaga iman, penguat harapan, dan takhta kasih. Salib adalah tanda belas kasih, bukti pengampunan, sarana rahmat, dan pataka damai-sejahtera. Kita menghormati salib (Kristus) karena salib itu telah mematahkan kesombongan kita, mencerai-beraikan rasa iri kita, menebus dosa-dosa kita dan menjadi silih terhadap hukuman atas diri kita…….

“Salib Krisktus adalah pintu ke surga, kunci masuk ke dalam firdaus, kejatuhan Iblis, pengangkatan umat manusia, konsolasi/penghiburan atas keberadaan kita dalam penjara, hadiah bagu kebebasan kita …… Para tiran dihukum oleh salib (Kristus) dan orang-orang berkuasa dikalahkan oleh salib (Kristus) itu. Salib mengangkat orang-orang susah dan menghormati orang-orang miskin. Salib adalah akhir dari kegelapan, penyebaran terang, kaburnya maut, kapal kehidupan dan kerajaan keselamatan…….

“Apa pun yang kita capai bagi Allah, apa pun yang berhasil kita capai dan harapkan, adalah buah dari penghormatan kita terhadap salib (Kristus). Oleh Salib, Kristus menarik segala sesuatu kepada diri-Nya. Itu adalah kerajaan Bapa, tongkat lambang kekuasaan dari sang Putera, dan meterai Roh Kudus, suatu saksi bagi Tritunggal Mahakudus secara total.”

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin.

Catatan: Bacalah juga tulisan-tulisan dengan judul “PESTA SALIB SUCI (1)”, “PESTA SALIB SUCI (2)”, “PESTA SALIB SUCI (3), “PESTA SALIB SUCI (4)”, dan ‘PESTA SALIB SUCI (5); semuanya terdapat dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com.

Cilandak, 3 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI MUSUH KITA?

MENGASIHI MUSUH KITA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup & Pujangga Gereja – Kamis, 13 September 2012)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk 6:27-38)

Bacaan Pertama: 1Kor 8:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-14,23-24

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28).

Kata-kata Yesus ini senantiasa menjadi pesan yang menantang untuk didengar; malah terdengar absurd, tidak masuk akal dan melawan setiap kecenderungan natural manusia. Namun perintah dari Yesus ini secara istimewa menjadi sarat dengan makna sebelas tahun lalu, justru ketika sabda ini diproklamasikan dalam misa-misa yang diselenggarakan hari itu di seluruh dunia, hampir 3.000 orang meninggal dunia sebagai korban serangan teroris di New York, Washington D.C. dan Pennsylvania bagian barat. Pada hari itu semua orang di seluruh dunia ditantang untuk memberkati dan bukan mengutuk! Melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa 9/11 itu, kita tergoda untuk berpikir bahwa keadaan di seluruh dunia menjadi semakin buruk. Sejak hari itu kita melihat serangan-serangan serupa terjadi di mana-mana di seluruh dunia: peristiwa bom Bali, serangan terhadap sinagoga-sinagoga di Istanbul, Turki; pecahnya peperangan di Irak dan banyak lagi.

Semua peristiwa yang menyedihkan ini dapat menyebabkan kita hidup dalam ketakutan atau membiarkan kemarahan dan dorongan hati untuk membalas dendam menguasai hati kita. Akan tetapi, Yesus tetap berbicara dengan jelas dan lemah-lembut: “Ampunilah mereka yang menganiaya engkau; kasihilah mereka yang membencimu!” Walaupun terdengar tak mungkin, … sesuatu yang mustahil, adalah sebuah kebenaran bahwa Allah tidak akan meminta kita melakukan sesuatu untuk mana Ia sendiri belum melengkapi kita dengan peralatan yang diperlukan. Ia mengundang kita – bahkan menantang kita – untuk memperkenankan kasih-Nya menerobos tembok-tembok pemisah dan kebencian dalam hati kita. Dia minta kepada kita untuk meletakkan rasa sakit kita dan/atau rasa takut kita agar Dia dapat menggantikannya dengan belas kasih-Nya dan berkat-Nya.

Marilah kita bersama mendoakan doa pengampunan bagi mereka yang memusuhi kita, mohon kepada Allah untuk mengatasi semua kebencian dan rasa permusuhan yang ada pada diri kita. Bahkan apabila kita belum sepenuhnya berbelas kasih, kita tetap dapat berdoa, mohon kepada Allah untuk mengubah hati kita juga. Semoga kita tidak memandang enteng kuat-kuasa dari doa-doa seperti ini.

DOA: Bapa surgawi, sebagai umat-Mu kami mohon kepada-Mu agar menyembuhkan segala kebencian dan perpecahan. Sebagai anak-anak-Mu, kami ingin mengikuti Yesus dengan memberkati semua orang yang menyakiti hati kami, mengampuni semua orang berbuat salah kepada kami, dan menunjukkan cintakasih kepada mereka yang membenci kami. Datanglah, ya Tuhan, dan jadikanlah kami satu!. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 8:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH LEBIH UTAMA DARI SEGALANYA” (bacaan tanggal 13-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU” (bacaan tanggal 10-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 09-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2009.

Cilandak, 29 Agustus 2012 [Peringatan wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG SEKARANG INI MENANGIS

BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG SEKARANG INI MENANGIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 12 September 2012)

Peringatan Falkutatif: Nama Maria yang Tersuci

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Luk 6:20-26)

Bacaan Pertama: 1Kor 7:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:11-12,14-17

“Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk 6:21).

Tanggal 11 September, sebelas tahun lalu, World Trade Center di New York dihancurkan oleh teroris dengan menggunakan pesawat terbang, juga Pentagon di Washington, D.C. diserang oleh sebuah pesawat terbang, dan sebuah pesawat lagi jatuh di Pennsylvania bagian barat. Inilah peristiwa yang kita kenang sebagai peristiwa 9-11. Bagi kita yang menyaksikan peristiwa itu lewat TV, kita melihat bagaimana kebencian yang merusak dan kejahatan luarbiasa diperagakan, namun kita melihat juga bagaimana para anggota pemadam kebakaran kota New York, polisi dll. bekerja keras untuk menyelamatkan para korban tanpa hitung-hitung untung-rugi – suatu peragaan iman dan keberanian.

Tentu banyak (rupa-rupa) pelajaran yang dapat kita ambil atas peristiwa 9-11 tersebut. Apapun pelajaran itu, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kasih-Nya senantiasa mempunyai kuasa untuk mengusir rasa takut kita. Kasih-Nya selalu mampu untuk membebaskan kita untuk mengampuni dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat melarikan diri dari rasa sakit hati, penderitaan, atau sakit-penyakit. Namun dalam “Sabda-sabda Bahagia”, Yesus menawarkan suatu cara kebahagiaan yang mentransenden rasa sedih yang bagaimana pun yang mungkin kita alami. Para murid Yesus telah memilih untuk meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mengikuti-Nya. Tentu saja kadang-kadang mereka merasa rindu pada rumah mereka, kenyamanan yang mereka nikmati sebelumnya. Tentu ada saat-saat di mana mereka menderita karena dihina dan diancam oleh orang-orang yang membenci mereka dan Guru mereka. Namun Yesus berjanji bahws pengalaman ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah jauh lebih nikmat daripada penderitaan yang mereka tanggung karena menjadi pengikut Yesus.

Ini adalah salah satu paradoks terbesar dari Kristianitas. Dengan mati, kita menemukan kehidupan; dengan memberi, kita menerima; dengan mengampuni, kita diampuni. Yesus berjanji bahwa kita sungguh dapat menemukan kebahagiaan di tengah-tengah kemiskinan, kelaparan, kesedihan – bahkan terorisme sekalipun. Bagaimana? Dengan memperkenankan diri kita dikosongkan dari segala hal yang menentang Allah, sehingga diri kita dapat dipenuhi secara berlimpah dengan hidup ilahi.

Allah ingin memberi kita damai-sejahtera yang melampaui pemahaman kita, suatu rasa aman berada dalam diri-Nya yang memampukan kita untuk mengampuni dan mengasihi walaupun kita diserang, gereja (tempat ibadat) kita dirusak atau dibakar. Ia berjanji bahwa semua orang yang telah meninggalkan hidup lama mereka seperti yang dilakukan oleh para murid Yesus, akan dipenuhi dengan pengharapan yang teguh. Mereka akan mengenal dan mengalami sukacita surgawi, bahkan ketika masih hidup di dunia ini. Sukacita itu akan jauh lebih nikmat daripada setiap musibah dan pencobaan yang kita akan pernah alami.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Penuhilah hatiku dan hati setiap orang dengan damai-sejahtera dan sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26), bacalah tulisan dengan judul “BAPAMU TELAH BERKENAN MEMBERIKAN KERAJAAN ITU” (bacaan tanggal 12-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN” (bacaan tanggal 7-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 29 Agustus 2012 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis]]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

“Di dalam Kitab-kitab suci Bapa, yang ada di surga dengan penuh kasih sayang menjumpai putera-puteri-Nya dan berbicara dengan mereka” (Konstitusi Dogmatis DEI VERBUM tentang Wahyu Ilahi, 21)

Tidak ada yang lebih mulia bagi kita daripada melakukan percakapan dengan Allah yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, bukankah begitu? Sungguh indahlah apabila kita mampu untuk mengetahui apa yang ada dalam hati-Nya dan memahami niat-niat dan hasrat-hasrat-Nya. Seperti yang dikatakan oleh para Bapak Konsili dalam petikan Dei Verbum [DV] di atas, kita mempunyai kesempatan seperti ini setiap kali kita membuka Kitab Suci (Alkitab).

Kitab Suci bukanlah sekadar sebuah koleksi kata-kata untuk dibaca, betapa pun penuh hikmat-kebijaksanaan dan menyentuh kata-kata itu. Kitab Suci adalah sabda Allah – suara-Nya yang penuh keakraban berbicara dengan kita, menyegarkan kita dan mengajar kita. Dalam Kitab Suci, Allah membuka hati-Nya, menganugerahkan suatu martabat tinggi kepada anak-anak-Nya sementara Dia membentuk mereka menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri.

Tantangan yang seringkali kita hadapi dalam membaca Kitab Suci adalah memperkenankan kata-kata yang kita baca itu agar mempunyai dampak atas hati kita. Bayangkanlah seorang anak yang sedang bercakap-cakap dengan ayahnya, namun yang dicakup dalam percakapan itu jauh melampaui berbagai fakta dan tugas yang sederhana. Si anak merasa bebas untuk mensyeringkan dengan sang ayah apa saja keberhasilan yang telah dicapainya dan juga apa saja kegagalan yang dialaminya. Anak itu mengetahui bahwa ayahnya memahami harapan-harapannya, kekhawatiran serta ketakutannya, impian-impiannya, cita-citanya dst. Di lain pihak sang ayah juga mengenal anaknya dan dia merasa bahagia bekerja bersama dengan anaknya untuk menolongnya bertumbuh menjadi seorang manusia yang kuat, mengasihi dan bertanggung jawab. Demikian pula kiranya, Allah Bapa kita merindukan untuk mengajar kita dan membentuk kita, dan Ia melakukan hal ini selagi kita membuka hati kita bagi sabda-Nya.

Lectio Divina – Pembacaan Kitab Suci dalam Iman

Tradisi menyediakan suatu cara membaca Kitab Suci yang dikenal sebagai lectio divina (lectio = pembacaan; divina = ilahi). Menurut asal-usulnya lectio divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, pengharapan dan kasih mereka, sehingga dengan demikian menjiwai jalan mereka. Lectio divina sudah setua Gereja yang hidup dari sabda Allah, yang menjadi tumpuan dan kekuatan bagi Gereja, dan kekuatan iman, santapan jiwa, serta sumber murni dan abadi kehidupan rohani putera-puteri Gereja (lihat DV, 21).

Lectio divina merupakan pembacaan sabda Allah penuh iman dan doa, yang berpangkal pada iman kepada Yesus Kristus yang telah bersabda: (1) “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26); (2) “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13).

Perjanjian Baru sesungguhnya merupakan hasil pembacaan Perjanjian Lama umat Kristiani perdana dalam terang wahyu baru yang diberikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus yang hidup di tengah jemaat. Pembacaan Kitab Suci penuh iman dan doa ini senantiasa memupuk Gereja dalam arti seluas-luasnya, religius maupun non-religius. Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan sistematik, melainkan mengalir sebagai tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi, melalui praktek umat Kristiani.

Sejatinya, lectio divina dimaksudkan untuk menarik kita dari sabda Allah dalam Kitab Suci kepada Allah sang Sabda – Yesus Kristus sendiri, yang memberikan kepada kepada kita sebagian dari hikmat dan kasih-Nya.

Asal-usul istilah lectio divina. Istilah lectio divina berasal dari Origenes [+185-254]. Ia mengatakan bahwa agar pembacaan Kitab Suci membawa manfaat, maka diperlukanlah perhatian dan kerajinan yang besar. Ia mengatakan, bahwa setiap hari kita harus kembali ke sumber, yaitu Kitab Suci. Hal itu tidak dapat kita capai dengan kekuatan sendiri. Kita harus memohonnya dalam doa, karena adalah mutlak perlu untuk memohon agar kita mampu memahami perkara-perkara kecil. Dengan cara itu, kita akan dapat mengalami apa yang kita harapkan dan kita renungkan.

Empat langkah dalam Lectio Divina. Lectio divina mencakup 4 (empat) langkah atau jenjang, yaitu lectio (pembacaan), meditatio (meditasi), oratio (doa) dan contemplatio (kontemplasi). Sistematisasi lectio divina dalam empat langkah ini baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150 Guigo, seorang rahib Kartusian – seorang penulis rohani zaman itu – menggambarkan langkah-langkah ini sebagai berikut: “Pembacaan berarti dengan berhati-hati mempelajari Kitab Suci dengan mengkonsentrasikan segenap kekuatan yang dimiliki. Meditasi adalah kegiatan budi yang sibuk untuk mencari – dengan bantuan akal masing-masing berusaha mengenal kebenaran yang tersembunyi. Doa berarti pembalikan penuh pengabdian hati orang kepada Allah dan memperoleh apa yang baik. Kontemplasi adalah pada waktu budi diangkat kepada Allah dan mengatasi dirinya, sehingga mencicipi sukacita dari kemanisan yang kekal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) melanjutkan: “Kalau membaca, carilah dan kamu akan menemukan dalam meditasi; kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui kontemplasi” (KGK 2654 versi/terjemahan bahasa Inggris).

Pembacaan dan Meditasi: Sabda dalam Kitab Suci

Pembacaan dan meditasi terutama fokus pada kata-kata aktual yang tersurat dalam Kitab Suci dan maknanya.

Pembacaan. Tahapan yang dinamakan lectio ini menyangkut pembacaan sebuah potongan bacaan Kitab Suci dan memahami apa yang dikatakan di situ. Pada tahapan ini kita harus membaca potongan bacaan itu untuk beberapa kali. Kita harus mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara, dan dengan memperhatikan cara kata-kata tersebut seharusnya diucapkan. Barangkali di sini kita ingin membuat garis besar dari butir-butir utama bacaan Kitab Suci itu, atau mencobanya untuk menulis serta mengatakannya dengan kata-kata kita sendiri. Siapakah yang sedang berbicara dan kepada siapa diah berbicara? Mengapa? Apakah berbagai peristiwa atau fakta yang sedang dikomunikasikan? Apa konteks dari potongan bacaan itu? Situasi apa yang menjadi sebab adanya kata-kata itu dalam teks Kitab Suci?

Dalam hal ini diperlukan beberapa sumber bantuan, yaitu buku pengantar dan tafsir kitab bersangkutan, kamus Alkitab, konkordansi Alkitab, Alkitab dalam bahasa asing yang kita kuasai dll., karena semua ini dapat sungguh dapat menolong kita menyingkap lebih banyak lagi dimensi dari kekayaan “terpendam” sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci. Tantangan yang akan kita hadapi dalam tahapan ini adalah untuk tetap fokus pada “kata-kata” itu sendiri, bahkan ketika kita sedang merujuk pada pekerjaan-pekerjaan lain berkaitan dengan sabda Allah.

Meditasi. Dalam tahapan meditatio kita bergerak melampaui apa yang dikatakan dalam potongan bacaan yang sedang kita tekuni. Sekarang, kita harus mencoba untuk menyingkap apa maknanya. Kita bergerak dari masa lampau “sejarah” kepada “masa kini” hidup kita. Pada tahapan ini, baiklah kita untuk fokus pada bagian tertentu dari potongan bacaan kita – apakah sepatah kata atau sebuah frase yang menyentuh kita – dan merenungkan bagian tersebut dalam keheningan dan suasana penuh kedamaian.

Kita mulai membuka pikiran kita bagi Roh Kudus dan dimensi surgawi dari kata-kata yang telah kita pilih itu. Biarlah kata atau kata-kata itu berbicara kepada situasi kita sekarang, apakah menantang kita atau menghibur kita, mendorong kita untuk melakukan pertobatan atau memuji-muji dan menyembah Dia. Dalam meditasi, kata-kata yang telah kita baca memberi jalan kepada kebenaran-kebenaran abadi Injil yang memberikan kita kehidupan.

Doa dan Kontemplasi: Sabda dalam Hati kita

Janji indah bagi kita apabila mempelajari Kitab Suci adalah, bahwa studi kita itu tidak berhenti dengan upaya-upaya dari intelek manusiawi kita saja. Dalam doa dan kontemplasi, fokusnya bergerak dari sabda Allah ke Yesus sendiri. Sabda Allah tidaklah sekadar kata-kata tertulis yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan juga Pribadi Yesus sendiri, sang Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14).

Doa. Dalam tahapan oratio kita menanggapi sabda Allah, memohon kepada Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata ini pada hati kita masing-masing. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kebebasan untuk berdoa secara sederhana dan spontan, apakah dalam bentuk nyanyian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, atau “semata-mata” menyembah-Nya untuk segala kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Kita dapat mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya agar mencurahkan rahmat-Nya kepada kita untuk hidup lebih setia lagi kepada sabda-Nya.

Di dalam doalah kita mulai melakukan percakapan dengan Bapa surgawi, percakapan yang terasa di hati. Para Bapak Konsili Vatikan II mengajar kita: “Hendaknya mereka mengingat bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, agar terjadi dialog antara Allah dan manusia; karena “kita berbicara dengan-Nya ketika kita berdoa, kita mendengarkan-Nya ketika membaca amanat-amanat ilahi” (DV, 25).

Kontemplasi. Dalam tahapan contemplatio kita mengheningkan hati kita di hadapan hadirat Yesus. Kita memperkenankan Dia menyentuh kita, menyembuhkan kita, dan menggerakkan kita. Setelah berjalan melalui pintu Kitab Suci, sekarang kita pun sampai ke ruang di mana Tuhan bertakhta, Dia yang adalah Raja dan Sahabat kita.

Dalam kontemplasi kita memandang-Nya, menatap keindahan dan kemuliaan-Nya, dan menerima dari Dia rahmat dan kekuatan untuk mewujudkan dalam kehidupan kita, sabda yang telah kita baca dan meditasikan. Seperti dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, hati kita dapat berkobar-kobar dengan kasih akan Allah selagi Yesus membuka Kitab Suci kepada kita (baca Luk 24:13-32). Allah sangat mengetahui apa yang kita butuhkan, dan melalui kontemplasi kita dapat berada bersama-Nya sebentar dan disemangati dan dikuatkan oleh-Nya.

Hidup dalam Sabda

Dalam Kitab Suci, Allah telah menyediakan sebuah meja perjamuan dengan makanan terbaik dan terpilih bagi jiwa kita. Bagaimana kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk datang dan makan bersama-Nya? Secara praktis, pentinglah bagi kita untuk merencanakan suatu waktu yang spesifik setiap harinya, pada waktu mana kita dapat mengabdikan perhatian kita sepenuh-penuhnya bagi sabda-Nya. Juga perlu bagi kita untuk memilih sebuah tempat yang cukup sunyi-hening dan bebas dari berbagai bentuk distraksi, sebuah tempat privat di mana kita dapat merasa nyaman dan damai.

Bagaimana kita dapat mempersiapkan hati kita guna mendengarkan Tuhan? Sebelum kita mulai membaca, kita dapat mengambil waktu sebentar untuk mengingat-ingat kebenaran-kebenaran iman kita: Allah menciptakan kita karena kasih; melalui pembaptisan ke dalam kematian Yesus dan kebangkitan-Nya kita telah menerima pengampunan dan kebebasan; kita semua diundang untuk mengenal Dia secara pribadi melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing; Gereja adalah mempelai perempuan yang sangat dikasihi-Nya, tempat berkumpul umat-Nya; Yesus akan datang kembali pada akhir zaman untuk memanggil mempelai perempuan-Nya – Gereja – untuk datang kepada-Nya. Mengingat-ingat kebenaran-kebenaran ini sejak awal dapat membuat pikiran kita tenang dan memberi rasa percaya pada diri kita bahwa Allah sungguh ingin berbicara kepada kita.

Bagaimana kita menentukan potongan bacaan (bacaan singkat) mana yang harus kita baca setiap harinya? Kita bisa saja membaca satu kitab tertentu (misalnya Kitab Kejadian) sedikit demi sedikit. Kita juga bisa melakukan pembacaan sesuai tema alkitabiah tertentu, misalnya kasih, keadilan atau kerajaan Allah. Satu cara lain adalah mengikuti penanggalan liturgi agar dapat mengikuti bacaan-bacaan dalam Misa Kudus, walaupun tidak dapat mengikuti Misa itu secara fisik. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya semua “bacaan singkat” sudah diatur dengan baik, baik untuk Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore dan Ibadat Penutup, walaupun untuk “Ibadat Bacaan” bacaannya tidaklah dapat dikatakan singkat. Cara apa pun yang kita gunakan, yang penting adalah bahwa kita harus terbuka bagi kuasa Roh Kudus yang akan membuat sabda Allah menjadi hidup dalam hati kita masing-masing.

Sekali kita telah menggunakan waktu kita dengan sabda Allah, sangatlah bijaksana untuk menulis apa yang telah kita pelajari. Hal ini tidak hanya akan membantu kita mengingat-ingat sabda secara lebih baik, melainkan juga akan memampukan kita untuk menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Allah telah mengajar kita langkah demi langkah. Selagi kebenaran-kebenaran Tuhan dan karakter-Nya dituliskan dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan mempunyai sebuah khasanah besar yang penuh berisikan harta rohani yang sewaktu-waktu dapat kita “manfaatkan” ketika kita menghadapi godaan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Penutup

Allah senang untuk mensyeringkan hati-Nya dengan kita semua. Dia menciptakan kita agar dapat hidup penuh keakraban dengan-Nya sebagai anak-anak-Nya dan juga sebagai mempelai perempuan-Nya. Setiap hari, Dia minta kepada kita untuk berada dekat dengan diri-Nya dan menerima sabda kehidupan. Selagi kita membuka diri kita bagi sabda-Nya, kita memperkenankan Allah menyegarkan diri kita dengan menuliskan kebenaran-kebenaran-Nya pada hati kita masing-masing. Setiap kali kita mengambil Kitab Suci, kita dapat memohon agar Roh Kudus mengajar kita bagaimana membaca sabda yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Cilandak, 17 Agustus 2011 [Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers