Archive for September, 2012

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

“Di dalam Kitab-kitab suci Bapa, yang ada di surga dengan penuh kasih sayang menjumpai putera-puteri-Nya dan berbicara dengan mereka” (Konstitusi Dogmatis DEI VERBUM tentang Wahyu Ilahi, 21)

Tidak ada yang lebih mulia bagi kita daripada melakukan percakapan dengan Allah yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, bukankah begitu? Sungguh indahlah apabila kita mampu untuk mengetahui apa yang ada dalam hati-Nya dan memahami niat-niat dan hasrat-hasrat-Nya. Seperti yang dikatakan oleh para Bapak Konsili dalam petikan Dei Verbum [DV] di atas, kita mempunyai kesempatan seperti ini setiap kali kita membuka Kitab Suci (Alkitab).

Kitab Suci bukanlah sekadar sebuah koleksi kata-kata untuk dibaca, betapa pun penuh hikmat-kebijaksanaan dan menyentuh kata-kata itu. Kitab Suci adalah sabda Allah – suara-Nya yang penuh keakraban berbicara dengan kita, menyegarkan kita dan mengajar kita. Dalam Kitab Suci, Allah membuka hati-Nya, menganugerahkan suatu martabat tinggi kepada anak-anak-Nya sementara Dia membentuk mereka menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri.

Tantangan yang seringkali kita hadapi dalam membaca Kitab Suci adalah memperkenankan kata-kata yang kita baca itu agar mempunyai dampak atas hati kita. Bayangkanlah seorang anak yang sedang bercakap-cakap dengan ayahnya, namun yang dicakup dalam percakapan itu jauh melampaui berbagai fakta dan tugas yang sederhana. Si anak merasa bebas untuk mensyeringkan dengan sang ayah apa saja keberhasilan yang telah dicapainya dan juga apa saja kegagalan yang dialaminya. Anak itu mengetahui bahwa ayahnya memahami harapan-harapannya, kekhawatiran serta ketakutannya, impian-impiannya, cita-citanya dst. Di lain pihak sang ayah juga mengenal anaknya dan dia merasa bahagia bekerja bersama dengan anaknya untuk menolongnya bertumbuh menjadi seorang manusia yang kuat, mengasihi dan bertanggung jawab. Demikian pula kiranya, Allah Bapa kita merindukan untuk mengajar kita dan membentuk kita, dan Ia melakukan hal ini selagi kita membuka hati kita bagi sabda-Nya.

Lectio Divina – Pembacaan Kitab Suci dalam Iman

Tradisi menyediakan suatu cara membaca Kitab Suci yang dikenal sebagai lectio divina (lectio = pembacaan; divina = ilahi). Menurut asal-usulnya lectio divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, pengharapan dan kasih mereka, sehingga dengan demikian menjiwai jalan mereka. Lectio divina sudah setua Gereja yang hidup dari sabda Allah, yang menjadi tumpuan dan kekuatan bagi Gereja, dan kekuatan iman, santapan jiwa, serta sumber murni dan abadi kehidupan rohani putera-puteri Gereja (lihat DV, 21).

Lectio divina merupakan pembacaan sabda Allah penuh iman dan doa, yang berpangkal pada iman kepada Yesus Kristus yang telah bersabda: (1) “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26); (2) “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13).

Perjanjian Baru sesungguhnya merupakan hasil pembacaan Perjanjian Lama umat Kristiani perdana dalam terang wahyu baru yang diberikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus yang hidup di tengah jemaat. Pembacaan Kitab Suci penuh iman dan doa ini senantiasa memupuk Gereja dalam arti seluas-luasnya, religius maupun non-religius. Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan sistematik, melainkan mengalir sebagai tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi, melalui praktek umat Kristiani.

Sejatinya, lectio divina dimaksudkan untuk menarik kita dari sabda Allah dalam Kitab Suci kepada Allah sang Sabda – Yesus Kristus sendiri, yang memberikan kepada kepada kita sebagian dari hikmat dan kasih-Nya.

Asal-usul istilah lectio divina. Istilah lectio divina berasal dari Origenes [+185-254]. Ia mengatakan bahwa agar pembacaan Kitab Suci membawa manfaat, maka diperlukanlah perhatian dan kerajinan yang besar. Ia mengatakan, bahwa setiap hari kita harus kembali ke sumber, yaitu Kitab Suci. Hal itu tidak dapat kita capai dengan kekuatan sendiri. Kita harus memohonnya dalam doa, karena adalah mutlak perlu untuk memohon agar kita mampu memahami perkara-perkara kecil. Dengan cara itu, kita akan dapat mengalami apa yang kita harapkan dan kita renungkan.

Empat langkah dalam Lectio Divina. Lectio divina mencakup 4 (empat) langkah atau jenjang, yaitu lectio (pembacaan), meditatio (meditasi), oratio (doa) dan contemplatio (kontemplasi). Sistematisasi lectio divina dalam empat langkah ini baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150 Guigo, seorang rahib Kartusian – seorang penulis rohani zaman itu – menggambarkan langkah-langkah ini sebagai berikut: “Pembacaan berarti dengan berhati-hati mempelajari Kitab Suci dengan mengkonsentrasikan segenap kekuatan yang dimiliki. Meditasi adalah kegiatan budi yang sibuk untuk mencari – dengan bantuan akal masing-masing berusaha mengenal kebenaran yang tersembunyi. Doa berarti pembalikan penuh pengabdian hati orang kepada Allah dan memperoleh apa yang baik. Kontemplasi adalah pada waktu budi diangkat kepada Allah dan mengatasi dirinya, sehingga mencicipi sukacita dari kemanisan yang kekal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) melanjutkan: “Kalau membaca, carilah dan kamu akan menemukan dalam meditasi; kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui kontemplasi” (KGK 2654 versi/terjemahan bahasa Inggris).

Pembacaan dan Meditasi: Sabda dalam Kitab Suci

Pembacaan dan meditasi terutama fokus pada kata-kata aktual yang tersurat dalam Kitab Suci dan maknanya.

Pembacaan. Tahapan yang dinamakan lectio ini menyangkut pembacaan sebuah potongan bacaan Kitab Suci dan memahami apa yang dikatakan di situ. Pada tahapan ini kita harus membaca potongan bacaan itu untuk beberapa kali. Kita harus mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara, dan dengan memperhatikan cara kata-kata tersebut seharusnya diucapkan. Barangkali di sini kita ingin membuat garis besar dari butir-butir utama bacaan Kitab Suci itu, atau mencobanya untuk menulis serta mengatakannya dengan kata-kata kita sendiri. Siapakah yang sedang berbicara dan kepada siapa diah berbicara? Mengapa? Apakah berbagai peristiwa atau fakta yang sedang dikomunikasikan? Apa konteks dari potongan bacaan itu? Situasi apa yang menjadi sebab adanya kata-kata itu dalam teks Kitab Suci?

Dalam hal ini diperlukan beberapa sumber bantuan, yaitu buku pengantar dan tafsir kitab bersangkutan, kamus Alkitab, konkordansi Alkitab, Alkitab dalam bahasa asing yang kita kuasai dll., karena semua ini dapat sungguh dapat menolong kita menyingkap lebih banyak lagi dimensi dari kekayaan “terpendam” sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci. Tantangan yang akan kita hadapi dalam tahapan ini adalah untuk tetap fokus pada “kata-kata” itu sendiri, bahkan ketika kita sedang merujuk pada pekerjaan-pekerjaan lain berkaitan dengan sabda Allah.

Meditasi. Dalam tahapan meditatio kita bergerak melampaui apa yang dikatakan dalam potongan bacaan yang sedang kita tekuni. Sekarang, kita harus mencoba untuk menyingkap apa maknanya. Kita bergerak dari masa lampau “sejarah” kepada “masa kini” hidup kita. Pada tahapan ini, baiklah kita untuk fokus pada bagian tertentu dari potongan bacaan kita – apakah sepatah kata atau sebuah frase yang menyentuh kita – dan merenungkan bagian tersebut dalam keheningan dan suasana penuh kedamaian.

Kita mulai membuka pikiran kita bagi Roh Kudus dan dimensi surgawi dari kata-kata yang telah kita pilih itu. Biarlah kata atau kata-kata itu berbicara kepada situasi kita sekarang, apakah menantang kita atau menghibur kita, mendorong kita untuk melakukan pertobatan atau memuji-muji dan menyembah Dia. Dalam meditasi, kata-kata yang telah kita baca memberi jalan kepada kebenaran-kebenaran abadi Injil yang memberikan kita kehidupan.

Doa dan Kontemplasi: Sabda dalam Hati kita

Janji indah bagi kita apabila mempelajari Kitab Suci adalah, bahwa studi kita itu tidak berhenti dengan upaya-upaya dari intelek manusiawi kita saja. Dalam doa dan kontemplasi, fokusnya bergerak dari sabda Allah ke Yesus sendiri. Sabda Allah tidaklah sekadar kata-kata tertulis yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan juga Pribadi Yesus sendiri, sang Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14).

Doa. Dalam tahapan oratio kita menanggapi sabda Allah, memohon kepada Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata ini pada hati kita masing-masing. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kebebasan untuk berdoa secara sederhana dan spontan, apakah dalam bentuk nyanyian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, atau “semata-mata” menyembah-Nya untuk segala kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Kita dapat mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya agar mencurahkan rahmat-Nya kepada kita untuk hidup lebih setia lagi kepada sabda-Nya.

Di dalam doalah kita mulai melakukan percakapan dengan Bapa surgawi, percakapan yang terasa di hati. Para Bapak Konsili Vatikan II mengajar kita: “Hendaknya mereka mengingat bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, agar terjadi dialog antara Allah dan manusia; karena “kita berbicara dengan-Nya ketika kita berdoa, kita mendengarkan-Nya ketika membaca amanat-amanat ilahi” (DV, 25).

Kontemplasi. Dalam tahapan contemplatio kita mengheningkan hati kita di hadapan hadirat Yesus. Kita memperkenankan Dia menyentuh kita, menyembuhkan kita, dan menggerakkan kita. Setelah berjalan melalui pintu Kitab Suci, sekarang kita pun sampai ke ruang di mana Tuhan bertakhta, Dia yang adalah Raja dan Sahabat kita.

Dalam kontemplasi kita memandang-Nya, menatap keindahan dan kemuliaan-Nya, dan menerima dari Dia rahmat dan kekuatan untuk mewujudkan dalam kehidupan kita, sabda yang telah kita baca dan meditasikan. Seperti dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, hati kita dapat berkobar-kobar dengan kasih akan Allah selagi Yesus membuka Kitab Suci kepada kita (baca Luk 24:13-32). Allah sangat mengetahui apa yang kita butuhkan, dan melalui kontemplasi kita dapat berada bersama-Nya sebentar dan disemangati dan dikuatkan oleh-Nya.

Hidup dalam Sabda

Dalam Kitab Suci, Allah telah menyediakan sebuah meja perjamuan dengan makanan terbaik dan terpilih bagi jiwa kita. Bagaimana kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk datang dan makan bersama-Nya? Secara praktis, pentinglah bagi kita untuk merencanakan suatu waktu yang spesifik setiap harinya, pada waktu mana kita dapat mengabdikan perhatian kita sepenuh-penuhnya bagi sabda-Nya. Juga perlu bagi kita untuk memilih sebuah tempat yang cukup sunyi-hening dan bebas dari berbagai bentuk distraksi, sebuah tempat privat di mana kita dapat merasa nyaman dan damai.

Bagaimana kita dapat mempersiapkan hati kita guna mendengarkan Tuhan? Sebelum kita mulai membaca, kita dapat mengambil waktu sebentar untuk mengingat-ingat kebenaran-kebenaran iman kita: Allah menciptakan kita karena kasih; melalui pembaptisan ke dalam kematian Yesus dan kebangkitan-Nya kita telah menerima pengampunan dan kebebasan; kita semua diundang untuk mengenal Dia secara pribadi melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing; Gereja adalah mempelai perempuan yang sangat dikasihi-Nya, tempat berkumpul umat-Nya; Yesus akan datang kembali pada akhir zaman untuk memanggil mempelai perempuan-Nya – Gereja – untuk datang kepada-Nya. Mengingat-ingat kebenaran-kebenaran ini sejak awal dapat membuat pikiran kita tenang dan memberi rasa percaya pada diri kita bahwa Allah sungguh ingin berbicara kepada kita.

Bagaimana kita menentukan potongan bacaan (bacaan singkat) mana yang harus kita baca setiap harinya? Kita bisa saja membaca satu kitab tertentu (misalnya Kitab Kejadian) sedikit demi sedikit. Kita juga bisa melakukan pembacaan sesuai tema alkitabiah tertentu, misalnya kasih, keadilan atau kerajaan Allah. Satu cara lain adalah mengikuti penanggalan liturgi agar dapat mengikuti bacaan-bacaan dalam Misa Kudus, walaupun tidak dapat mengikuti Misa itu secara fisik. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya semua “bacaan singkat” sudah diatur dengan baik, baik untuk Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore dan Ibadat Penutup, walaupun untuk “Ibadat Bacaan” bacaannya tidaklah dapat dikatakan singkat. Cara apa pun yang kita gunakan, yang penting adalah bahwa kita harus terbuka bagi kuasa Roh Kudus yang akan membuat sabda Allah menjadi hidup dalam hati kita masing-masing.

Sekali kita telah menggunakan waktu kita dengan sabda Allah, sangatlah bijaksana untuk menulis apa yang telah kita pelajari. Hal ini tidak hanya akan membantu kita mengingat-ingat sabda secara lebih baik, melainkan juga akan memampukan kita untuk menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Allah telah mengajar kita langkah demi langkah. Selagi kebenaran-kebenaran Tuhan dan karakter-Nya dituliskan dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan mempunyai sebuah khasanah besar yang penuh berisikan harta rohani yang sewaktu-waktu dapat kita “manfaatkan” ketika kita menghadapi godaan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Penutup

Allah senang untuk mensyeringkan hati-Nya dengan kita semua. Dia menciptakan kita agar dapat hidup penuh keakraban dengan-Nya sebagai anak-anak-Nya dan juga sebagai mempelai perempuan-Nya. Setiap hari, Dia minta kepada kita untuk berada dekat dengan diri-Nya dan menerima sabda kehidupan. Selagi kita membuka diri kita bagi sabda-Nya, kita memperkenankan Allah menyegarkan diri kita dengan menuliskan kebenaran-kebenaran-Nya pada hati kita masing-masing. Setiap kali kita mengambil Kitab Suci, kita dapat memohon agar Roh Kudus mengajar kita bagaimana membaca sabda yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Cilandak, 17 Agustus 2011 [Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG ITU DISEMBUHKAN OLEH-NYA

SEMUA ORANG ITU DISEMBUHKAN OLEH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 11 September 2012)

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yan disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: 1Kor 6:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

“Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19).

Andaikan ada seorang mahasiswa S-2 teologi sedang melakukan survei dalam rangka mempersiapkan tesisnya tentang penyembuhan dan mukjizat Yesus Kristus. Andaikan anda adalah salah seorang responden dalam survei si mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuestioner-nya yang akan anda jawab adalah sebagai berikut: Apabila anda sedang sakit dan memerlukan penyembuhan, apakah yang akan anda lakukan?
(1) Berdoa agar terjadi mukjizat dan percaya dengan kuat bahwa hal itu akan terjadi?
(2) Berdoa agar terjadi mukjizat namun tetap berhati-hati agar anda tidak kehilangan harapan sama sekali?
(3) Tidak tahu apakah anda harus berdoa untuk penyembuhan, tetapi menanggung penderitaan anda dengan penuh kesabaran?

Bila anda memilih opsi kedua atau ketiga, barangkali anda tergolong mayoritas. Budaya masyarakat modern kelihatannya berpandangan bahwa penyembuhan dan mukjizat tidaklah sama pada zaman modern ini dengan penyembuhan dan mukjizat pada zaman Yesus. Bahkan dalam banyak lingkungan Kristiani, diasumsikan bahwa jalan terbaik adalah untuk menderita melalui sakit sebagai silih atas dosa-dosa kita.

Ajaran-ajaran Gereja Katolik dan Kitab Suci, keduanya sangat positif dalam membuat pernyataan tegas bahwa penyembuhan-penyembuhan dan mukjizat-mukjizat harus menjadi bagian dalam kehidupan Kristiani. Ketika Yesus naik ke surga, Dia mewariskan kepada kita sakramen-sakramen dan memberikan kepada kita masing-masing Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Ini adalah sesuatu hal yang menakjubkan – kombinasi yang dapat memberikan kita pengharapan besar untuk penyembuhan dan rahmat.

Allah ingin kita mengetahui bahwa diri-Nya tidak senang dengan sakit-penyakit yang diderita siapa saja. Dia ingin kita mengetahui bahwa bahkan dalam situasi-situasi di mana penyembuhan fisik tidak terjadi, hal itu bukanlah disebabkan oleh kutukan-Nya atau ketidakmampuan-Nya untuk menyembuhkan. Kita tidak akan pernah memahami misteri penderitaan, paling sedikit tidak dalam kehidupan ini. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa bilamana kita tidak disembuhkan, Allah mencurahkan rahmat berlimpah yang tidak hanya akan menopang kita dalam penderitaan sakit kita, melainkan juga membawa kita ke dalam suatu keintiman yang lebih mendalam dengan Yesus.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) mempunyai suatu kebutuhan akan penyembuhan? Apakah ada seseorang yang dekat dengan kita membutuhkan sentuhan yang menyembuhkan dari Tuhan Yesus? Kalau demikian halnya, marilah kita merenungkan lagi dengan serius ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini: “Ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19). Yesus itu penuh dengan kuat-kuasa. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita. Dalam iman dan dengan penuh rasa percaya, marilah kita menghadap Dia dan memperoleh setiap rahmat dan berkat yang ada pada-Nya untuk diberikan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, sudah sekian lama aku membutuhkan penyembuhan dari-Mu. Datanglah, ya Tuhan, dan bebaskanlah aku. Aku percaya kepada-Mu dan menempatkan pengharapanku dalam janji-janji-Mu yang besar. Datanglah Yesus dan sembuhkanlah diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 6:1-11), bacalah tulisan dengan judul “BERKAT ALLAH YANG SUNGGUH LUAR BIASA!!!: PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 11-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “SEMALAM-MALAMAN IA BERDOA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 6-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 29 Agustus 2012 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

YESUS MEMANG ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 10 September 2012)

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-7,12

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapt dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah. Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 5:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KESOMBONGAN DAPAT MEMBUAT KITA TIDAK MAMPU MELIHAT HAKEKAT INJIL” (bacaan tanggal 10-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ULURKANLAH TANGANMU!” (bacaan tanggal 5-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 28 Agustus 2012 [Peringatan S. Agustinus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

SEKETIKA ITU TERBUKALAH TELINGA ORANG ITU DAN PULIHLAH LIDAHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII – 9 September 2012)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37)

Bacaan Pertama: Yes 35:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10

“Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

Yesus menginginkan orang-orang yang menyaksikan penyembuhan-penyembuhan-Nya agar mengingat para nabi dan memahami bahwa Dia berada di tengah-tengah mereka untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tulis akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6). Sesungguhnya, Sang Terurapi (Mesias/Kristus) akan membawa kepenuhan hidup. Dalam terang kematian dan kebangkitan Yesus dan pencurahan Roh Kudus, kita dapat melihat bahwa Yesus pada kenyataan-Nya adalah sang Mesias, karena – seperti dideklarasikan oleh orang banyak, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37).

Banyak orang yang menyaksikan berbagai penyembuhan dan mukjizat menjadi percaya. Pekerjaan-pekerjaan-Nya yang kesemuanya membawa kebaikan merupakan sebuah tanda bahwa Mesias telah datang karena semua pekerjaan itu mencerminkan apa yang yang telah dinubuatkan oleh para nabi sehubungan dengan kedatangan sang Mesias. Penyembuhan adalah sebuah tanda kepenuhan hidup yang merupakan milik kita bilamana Kerajaan Allah datang di tengah-tengah kita; itu adalah sebuah tanda bahwa Allah hadir dan sedang bekerja di tengah-tengah umat-Nya. Walaupun tidak sedikit tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus, ada saja orang-orang pada masa itu yang tidak percaya sedikitpun kepada-Nya.

Hal yang sama juga benar pada zaman modern ini, bahkan ketika kita juga menerima kebenaran Yesus. Melalui Gereja, Roh Kudus memberikan kesaksian kepada kita tentang Yesus (Yoh 16:13-14); Roh Kudus yang sama berdiam dalam diri kita melalui iman dan baptisan dan Ia berhasrat untuk meyakinkan kita tentang kebenaran. Namun kita harus menyetujui kebenaran itu dengan iman. Kita dapat mendengar tentang Yesus dan bahkan memberi kesaksian tentang karya Allah dalam hidup kita atau kehidupan para kudus, namun tanpa iman, kita tidak akan memperkenankan Roh Kudus untuk membuat kita sungguh percaya kepada Yesus.

Roh Kudus akan mencurahkan rahmat-Nya guna memampukan kita untuk percaya dan menaruh kepercayaan pada Yesus. Keragu-raguan kita akan menghilang selagi kita berjumpa dengan Yesus secara pribadi dan mengalami kehadiran-Nya yang penuh kasih dalam kehidupan kita. Bahkan ketika kita menghadapi situasi-situasi sulit, iman kita kepada Yesus tidak akan menyusut karena dibangun di atas tanah fondasi yang kokoh dan kita pun akan tahu bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang kita kenal melalui Kristus Yesus (Rm 8:31-39).

Kisah tentang penyembuhan orang yang tuli dan gagap seharusnya memberikan keberanian karena Yesus ingin menyentuh hidup kita dan membuat kehadiran Kerajaan diketahui, dikenal serta dialami oleh kita. Selagi kita merangkul Kristus, kita akan mengetahui, mengenal dan mengalami kehadiran-Nya dan bersama sang pemazmur kita pun akan memproklamasikan: “Haleluya! Pujilah TUHAN (YHWH), hai jiwaku!” (Mzm 146:1).

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar bilamana Engkau berbicara lewat Gereja-Mu. Buatlah diriku mau dan mampu berbicara untuk-Mu manakala situasi menuntut. Berikanlah kepadaku keberanian, ya Tuhan, untuk mewartakan Kabar Baik dan Nama-Mu yang terkudus kepada saudari dan saudaraku yang beriman lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “IA MENJADIKAN SEGALA-GALANYA BAIK” (bacaan tangal 9-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012.

Cilandak, 28 Agustus 2012 [Peringatan S. Agustinus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA PENUH RAHMAT

MARIA PENUH RAHMAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Sabtu, 8 September 2012)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak memunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Usia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembungan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) (Mat 1:1-16,18-23)

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4a atau Rm 8:28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6

Matius mengawali Injilnya dengan “Daftar Nenek Moyang Yesus Kristus” (Mat 1:1-16). Daftar nenek moyang atau silsilah Yesus Kristus ini mengingatkan kita kepada rencana Allah bagi kedatangan Putera-Nya, dan merupakan sesuatu hal yang memerlukan persiapan yang sungguh lama. Generasi lepas generasi, Allah bergerak maju menuju pemenuhan tujuan-Nya untuk menarik kita kembali kepada hidup-Nya sendiri. Mengapa silsilah ini dipakai sebagai bacaan pada Misa Kudus “Pesta Kelahiran SP Maria”? Karena silsilah itu menunjukkan bagaimana Maria “pas” untuk masuk ke dalam rencana ilahi: sebagai istri Yusuf (keturunan Daud) dan sebagai pribadi yang dinaungi Roh Kudus. Jadi, kelahiran Maria dan peranannya dipandang dari perspektif sejarah penyelamatan.

Sejak awal Allah telah menugaskan tanggung-jawab yang paling mendalam dan intim untuk memenuhi rencana-Nya, kepada Maria, sang perawan dari Nazaret. Dari sejak sediakala, Allah telah memikirkan untuk membawa Maria ke dalam eksistensi dan mempercayakan kepadanya Putera-Nya sendiri yang kekal untuk diperkandung, dilahirkan, dan dibesarkan.

Peranan yang diberikan Allah kepada Maria begitu mendalam sehingga tidak mudah untuk mengkontemplasikannya. Rahmat yang dicurahkan-Nya atas diri Maria jauh melampaui rahmat yang diberikan-Nya kepada orang-orang lain. Dalam doa “Salam Maria”, kita mengatakannya “penuh rahmat” (‘engkau yang dikaruniai’ [Luk 1:28 Perjanjian Baru TB II; Yunani: kekharitomené). Akan tetapi, jika kita berpikir bahwa Maria berada sedemikian jauh di atas kita dan pengalamannya tidak berhubungan sama sekali dengan pengalaman kita-manusia, maka salahlah kita. Mengapa? Karena walaupun Maria memperoleh segala privilese sebagai ibunda sang Penebus, Maria tetap salah seorang dari kita. Kita dapat mengatakan, bahwa Maria adalah yang terbaik di antara kita, namun tetap saja dia adalah salah seorang dari kita.

Pola yang dipakai Allah dalam berurusan dengan Maria adalah pola yang digunakan-Nya dalam berurusan dengan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi hidup Maria, dan Ia mempunyai rencana-rencana bagi hidup kita juga. Pada pusat rencana-Nya bagi Maria adalah niat-Nya agar Putera-Nya akan hidup dalam dirinya, dan dia akan mengandung dan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Pada hakekatnya, itulah rencana-Nya bagi kita juga.

Setiap pribadi adalah unik dan merupakan karunia Allah yang tidak dapat diulang. Ingat tidak ada anak kembar yang sama seratus persen. Sejalan dengan keunikan kita masing-masing, Allah memberikan kepada kita masing-masing suatu panggilan dan misi khusus. Allah membuat rencana-Nya diketahui oleh kita dengan berbagai cara: melalui keadaan/situasi yang kita hadapi, melalui keluarga dan kawan-kawan, melalui talenta-talenta yang kita miliki dan kesempatan-kesempatan. Allah tidak memaksa kita untuk menerima rencana-Nya bagi kehidupan kita. Sebagaimana yang dilakukan-Nya dengan Maria, Allah mengundang kita untuk menerima panggilan-Nya dan mengikut Dia. Sebagaimana Allah menginginkan Maria menanggapi-Nya dan melaksanakan misi unik yang diberikan-Nya kepada sang perawan, demikian pula Dia ingin agar kita menerima misi kita yang unik pula dan melaksanakannya dengan segenap kekuatan yang kita miliki. Semoga kita semua menanggapi undangan Allah dengan pengharapan dan rasa percaya yang sama seperti yang dimiliki Maria.

DOA: Bapa surgawi, di sini aku. Nyatakanlah secara lebih jelas lagi rencana-Mu bagi diriku. Kuatkanlah aku dalam Roh Kudus-Mu sehingga aku dapat memenuhi panggilan dan misi yang Engkau telah siapkan bagi diriku, sebagaimana telah dicontohkan oleh Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami makna perayaan pesta hari ini, bacalah tulisan yang berjudul [1] “PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA” ( bacaan tanggal 8-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 09-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2009; [2] “PESTA KELAHIRAN BUNDA PENEBUS DAN BUNDA KITA SEMUA” (bacaan tanggal 8-9-10) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-09 BACAAN HARIAN OKTOBER 2010; [3] DIA YANG DITENTUKAN-NYA DARI SEMULA” (bacaan tanggal 8-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 28 Agustus 2012 [Peringatan S. Agustinus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAIN BARU DAN BAJU YANG TUA; ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG TUA

KAIN BARU DAN BAJU YANG TUA; ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG TUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 7 September 2012)

Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40

Dalam masyarakat Israel kuno, berpuasa yang disertai doa dan pemberian sedekah merupakan karakteristik dari orang-orang yang paling saleh (lihat Dan 9:3). Sejarawan Romawi Tacitus menulis bahwa puasa adalah tanda dari orang-orang Yahudi (Histories, 4). Para pengikut Yohanes Pembaptis jelas mengikuti aturan puasa ini, demikian pula orang-orang Farisi (Luk 5:33). Orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, mengapa para murid-Nya tidak berpuasa?

Jawaban Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai sang mempelai laki-laki, sebuah lambang yang mengandung makna teramat signifikan bagi umat Israel, baik dilihat dari sudut alkitabiah maupun budaya. Tulisan-tulisan profetis dalam Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) sering membuat acuan kepada persatuan Allah dengan umat-Nya sebagai hubungan perkawinan (lihat Hos 2:19-20 dan Yes 54:5-8). Orang-orang Yahudi menghargai benar seorang mempelai laki-laki karena Yudaisme bertumpu pada kehidupan keluarga yang kokoh, di mana seorang bapa keluarga berfungsi sebagai instruktur pelajaran agama yang utama dalam keluarga. Delapan abad setelah kehidupan Yesus, seorang rabi Yahudi terkenal, Rabi Eliezer, menyatakan bahwa seorang mempelai laki-laki harus diperlakukan sebagai seorang raja. Pada masa Yesus dari Nazaret hidup di muka bumi ini dan mewartakan kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, Ia sebenarnya memainkan peranan terutama sebagai seorang guru agama dan membawa sukacita kepada keluarga-Nya yang terdiri dari para murid. Sukacita ini akan berkelanjutan sampai sang mempelai laki-laki meninggalkan mereka, suatu acuan pada perpisahan Yesus secara fisik karena kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (Luk 5:35).

Kemudian Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan menyampaikan dua buah perumpamaan: “Menambal baju yang tua dengan kain dari baju yang baru” dan “menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua” (Luk 5:36-38). Dua perumpamaan ini menunjukkan nilai dan kelengkapan dari ajaran Yesus, bahkan sementara Dia mengakui nilai luhur dari karya Allah di Israel. Ajaran Yesus tidak boleh direduksi sebagai kain tambalan baru pada baju yang lama, dan baju yang lama itu (Israel) pun tidak boleh dibuang begitu saja. Demikian pula ajaran Yesus tidak boleh ditempatkan dalam batasan/kendala kantong anggur yang lama. Dan sementara orang-orang lebih menyukai anggur yang lama (Luk 5:39), mereka tidak boleh memandang anggur yang baru sebagai sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja.

Apabila kita mengakui karya Allah di Israel dan dalam diri Yesus, maka kita memperoleh pandangan sekilas tentang misteri yang ada dalam relasi antara Israel dan Gereja. Dalam ceramahnya di depan komunitas Yahudi di Mainz, Jerman pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Allah tidak pernah membatalkan Perjanjian Lama (Rm 11:29). Kemudian pada tahun 1986, pada waktu memberi ceramah di depan komunitas Yahudi di Australia, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Adalah ajaran Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama) dan Kitab Suci Kristiani, bahwa orang-orang Yahudi adalah kekasih Allah, yang telah memanggil mereka dengan panggilan yang tak dapat diubah.”

DOA: Allah, Bapa yang Mahapengasih, dari abad ke abad Engkau menghimpun sebuah umat bagi diri-Mu. Dengan demikian, walaupun kami sangat bergembira penuh syukur atas karya penyelamatan-Mu melalui Yesus Kristus, ingatkanlah kami selalu bahwa karya penyelamatan-Mu itu dimulai dalam dan melalui umat Israel yang sangat Kaukasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Pertama hari ini (1Kor 4:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “TUHANLAH YANG MENGHAKIMI AKU” (bacaan tanggal 7-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012.

Cilandak, 27 Agustus 2012 [Peringatan S. Monika]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PENJALA MANUSIA

MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 6 September 2012)

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:18-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Banyak nelayan mengklaim bahwa waktu yang terbaik untuk menjala ikan adalah pada malam hari. Simon Petrus dan para rekan kerjanya kerja sepanjang malam menjala ikan, namun samasekali tidak berhasil. Kalau malam saja tidak berhasil apalagi di siang hari! Inilah pemikiran atau teori para nelayan seperti Petrus. Maka tidak mengherankanlah reaksi Petrus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Ketika melihat hasil tangkapan ikan yang berlimpah itu, Petrus sadar bahwa dirinya berada di hadapan hadirat Allah. Petrus pun sujud di depan Yesus sambil mengakui kedosaannya.

Kita juga dapat sampai kepada pengalaman serupa di mana kita mengakui kekudusan Allah, dan pada saat yang sama mengakui dosa-dosa kita. Berhadapan dengan tindakan Allah dalam kehidupan kita, kita dapat sampai kepada kesadaran akan ketidakpantasan kita. Sayangnya ada dari kita yang mempunyai kecenderungan untuk tetap berdiam dalam kedosaan kita. Rasa bersalah, rasa malu, berbagai emosi negatif dlsb. mengalir masuk layaknya terjangan ombak. Kalau saja semua itu dapat mengalir keluar sama cepatnya!

Perhatikanlah tanggapan Yesus kepada Petrus. Ia tidak menanggapi pengakuan Petrus secara langsung, melainkan mengatakan kepada Petrus tentang peranan baru Petrus yang besar yang ada dalam pikiran-Nya. Terhadap seruan pertobatan Petrus – “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” – Yesus menjawab dengan sebuah janji: “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:8-10).

Inilah cara bagaimana Allah memandang kita: tidak sebagai para pendosa melainkan sebagai para hamba yang dipanggil-Nya untuk melakukan tugas pekerjaan yang penting. Allah mengetahui semua dosa kita. Namun apabila kita sungguh bertobat, maka Dia pun langsung mengampuni kita dan memanggil kita untuk bergerak maju lagi untuk memajukan Kerajaan-Nya. Dalam artian tertentu, kita sesungguhnya tidak berhak untuk tetap berdiam dalam kedosaan yang telah disingkirkan oleh Allah.

Saudari dan Saudaraku, belas kasih Allah tidak mengenal batas! Allah sangat senang untuk menunjukkan kebaikan hati-Nya kepada kita semua. Allah tidak menahan kasih dan kerahiman-Nya bagi kita sebelum kita mengasihi-Nya. Dia tidak akan menolak kita! Santo Paulus menulis, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Oleh karena itu, marilah kita terus maju dalam melayani Tuhan, penuh keyakinan bahwa belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa kita, dan bahwa Dia akan membawa kita sampai ke surga kelak.

DOA: Tuhan Yesus, sungguh menakjubkan kasih-Mu kepadaku. Seperti Petrus, aku suka bekerja keras tanpa hasil, sampai Engkau memenuhi diriku secara berlimpah dengan hidup-Mu sendiri. Dalam kasih, Engkau tidak memandang kesalahan dan kegagalanku di masa lampau, melainkan menunjuk aku untuk melakukan tugas seturut rencana-Mu yang sempurna. Terima kasih, Tuhan Yesus, untuk belas kasih-Mu yang tanpa batas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 3:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN MENGETAHUI PIKIRAN ORANG-ORANG BERHIKMAT; SESUNGGUHNYA SEMUANYA SIA-SIA BELAKA” (bacaan tanggal 6-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 1-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 26 Agustus 2012 [HARI MINGGU BIASA XXI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA HARI INI YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

PADA HARI INI YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 5 September 2012)

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-15,20-21

Ibu mertua Simon sedang sakit demam keras. Pada saat Ia datang ke rumah Simon, mereka meminta kepada Yesus supaya Dia menolong perempuan itu. Yesus mengusir demam itu dan penyakit itu pun meninggalkan dia (Luk 4:39). Bayangkan bagaimana terkejut dan terkesimanya Simon ketika dia melihat ibu mertuanya bangkit dan malah mulai melayani para tamu yang datang, padahal beberapa menit sebelumnya dia masih tergeletak sakit. Walaupun reaksi atau tanggapan Simon terhadap penyembuhan ini tidak dicatat oleh Lukas dalam Injilnya, reaksi sang murid terhadap mukjizat penangkapan ikan – yang terjadi tidak lama setelah peristiwa penyembuhan sang ibu mertua – jelas dan malah bersifat dramatis, … dia menyapa Yesus sebagai “Tuhan” (Kyrios), meninggalkan segala sesuatu lalu mengikut Yesus (Luk 5:8,11).

Di Kapernaum, Yesus menunjukkan bela rasa-Nya terhadap semua orang sakit dan Ia pun menyembuhkan mereka. Namun, lebih daripada itu, Yesus ingin membuka mata (-hati) orang-orang agar dapat melihat kerajaan Allah yang datang ke tengah dunia melalui berbagai mukjizat yang dibuat-Nya; Dia ingin setiap orang menerima diri-Nya sebagai Tuhan dan Mesias. Inilah yang terjadi dengan Simon: Ia melihat ibu mertuanya disembuhkan; ia melihat mukjizat penangkapan ikan; dengan demikian ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk 5:8).

Sampai pada hari inipun Yesus masih melakukan penyembuhan-penyembuhan. Apabila kita mengalami penyembuhan-penyembuhan dalam kehidupan kita sendiri atau dalam kehidupan orang-orang lain, kita juga harus melihat semua itu sebagai sebuah tanda bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya datang kepada kita. Setiap penyembuhan adalah sebuah tanda rahmat berkaitan dengan kebangkitan orang mati yang akan datang.

Akan tetapi, banyak orang – barangkali termasuk diri kita sendiri – yang berdoa untuk kesembuhan dan tidak juga disembuhkan. Banyak orang yang kita doakan untuk kesembuhan tetap saja menderita sakit dan kemudian mati. Mengapa? Jawabnya adalah bahwa Kerajaan Allah telah datang ke tengah dunia, namun belum sepenuhnya didirikan. Hanya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman, maka semua itu dipenuhi dan Kerajaan Allah pun didirikan sepenuhnya.

Ketika hal ini terjadi, nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tentang penyembuhan akan sepenuhnya digenapi (Yes 35:5-6). Lalu semua orang percaya akan dibuat utuh dalam Kristus, dan “Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka” (Yes 25:8). Oleh karena itu, marilah kita menantikan dengan penuh pengharapan akan saat Kerajaan Allah datang sepenuhnya dan setiap hal dibuat lengkap dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah iman kami melalui karya penyembuhan yang Engkau lakukan di tengah-tengah kami. Semoga tanda-tanda sedemikian dari kasih-setia-Mu menolong membuat kami senantiasa bersiap-siaga akan saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Tolonglah kami agar mempunyai kerinduan akan kedatangan-Mu kembali pada saat mana semua air mata akan terhapuskan. Maranatha, datanglah Tuhan Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 3:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENANAM, APOLOS MENYIRAM, TETAPI ALLAH YANG MENUMBUHKAN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HARUS MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK BERDOA” (bacaan tanggal 31-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 26 Agustus 2012 [HARI MINGGU BIASA XXI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

OTORITAS DAN KUASA SABDA YESUS

OTORITAS DAN KUASA SABDA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 4 September 2012)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Rosa dari Viterbo, Perawan

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Kor 2:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-14

Ada seorang guru yang saya sangat kagumi pada waktu saya bersekolah di SR dan SMP Bruderan Budi Mulia, Mangga Besar di tahun 1950’an. Nama beliau adalah Ibu Sudjilah, didikan susteran OSF Mendut dan seorang pejuang kemerdekaan, ….. dan beliau tidak menikah…… mengabdikan diri sepenuhnya bagi dunia pendidikan. Beliau sempat mengajar kami Bahasa Indonesia (termasuk menggunakan huruf Arab), Sejarah Dunia dan Sejarah Indonesia. Di mata saya, beliau adalah seorang guru yang hebat. Kecintaan saya pada Indonesia boleh dikatakan ditanamkan oleh ibu guru ini. Berbagai perlakuan diskriminatif yang saya alami sepanjang hidup ini tidak menyusutkan kecintaan saya pada negara dan bangsa Indonesia, sedikit-banyak adalah karena pendidikan yang saya terima melalui Ibu Sudjilah ini.

Sekarang, apabila kita (anda dan saya) mengingat-ingat kembali masa sekolah kita dahulu, apa kiranya kualitas yang dimiliki seorang guru tertentu (seperti Ibu Sujilah di atas) yang memampukan dirinya memimpin kita sampai menjadi siswa-siswa yang unggul. Apa yang dimiliki oleh guru istimewa seperti itu, yang memberi inspirasi kepada kita masing-masing untuk menjadi siswa-siswa yang penuh perhatian dan tanggung-jawab? Barangkali ayah atau ibu kita juga memiliki kualitas itu. Namanya adalah otoritas. Jikalau kita merenungkan bacaan Injil hari ini, maka jelas Yesus secara unik memiliki kualitas termaksud. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk 4:32).

Bagi orang-orang di Kapernaum, Yesus adalah seorang pribadi yang menakjubkan karena melalui kata-kata-Nya, Dia membuka jalan bagi mereka untuk memikirkan Bapa di surga. Yesus tidak hanya sekadar membuat kemasan baru dari hikmat manusia yang sebenarnya sudah dikenal baik (familiar) di tengah khalayak ramai, dengan suatu cara yang baru dan provokatif. Kata-kata Yesus juga menolong mereka untuk berjumpa dengan Allah. Karena identitias-Nya yang unik, Yesus mengetahui pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat Allah sendiri. Tuhan Yesus adalah seorang pemikir yang orisinal dan kata-kata-Nya mengkonfrontasi pemikiran-pemikiran duniawi orang-orang dan membawa mereka berkontak dengan hasrat-hasrat Allah yang terdalam. Otoritas Yesus berasal dari “atas” karena Dia sendiri datang dari “atas”. Oleh karena itu, orang-orang dapat menaruh pengharapan mereka pada kata-kata-Nya dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Yesus menyatakan identitas-Nya, demikian pula tindakan-tindakan-Nya! Yesus menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat dan memulihkan manusia sehingga menjadi utuh. Kita lihat bahwa Dia memiliki otoritas dan kuasa untuk memaksa roh jahat taat kepada-Nya dan memerintahkan roh jahat itu keluar dari dalam diri orang yang kerasukan itu. Melalui otoritas dan kuasa-Nya, Yesus meraih kemenangan mutlak! (Luk 4:35-36).

Hasrat Yesus untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya tidaklah lebih kuat daripada kerinduan-Nya untuk menyembuhkan kita, anak-anak manusia yang terbelenggu oleh kedosaan. Hati kita yang lemah melekat pada cara-cara berpikir duniawi kita, dan hati itu menentang cara hidup baru yang ingin diberikan oleh Yesus. Melalui pertobatan, artinya dengan berbalik dari hidup kedosaan kita lalu berpaling kepada Yesus, maka kita pun dapat mengalami keutuhan. Seperti orang yang dirasuki oleh roh jahat itu, kita pun dapat menaruh kepercayaan pada Yesus untuk membersihkan hati dan pikiran kita dan memenuhi diri kita masing-masing dengan hidup baru. Pada hari ini baiklah kita semua menyadari sepenuhnya bahwa melalui Roh Kudus, Yesus hadir di tengah-tengah dan di dalam diri kita masing-masing, dan bahwa kita dapat berjumpa dengan Dia selagi hati kita menghadap hadirat-Nya dalam doa.

DOA: Yesus Kristus, bukalah pikiran dan hati kami bagi otoritas dan kuasa-Mu. Kami menolak apa/siapa saja yang akan menjauhkan kami dari diri-Mu. Kami mohon agar Engkau memperbaharui pikiran dan hati kami, dan membangun kembali cintakasih kami kepada-Mu, sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 2:10-16) yang berjudul “DASAR ITU ADALAH YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 4-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KATA-KATA-NYA PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 30-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 26 Agustus 2012 [HARI MINGGU BIASA XXI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKANKAH IA INI ANAK YUSUF?

BUKANKAH IA INI ANAK YUSUF?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga
Gereja – Senin, 3 September 2012)

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya tiberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yan diucapkan-Nya, lalu kata mereka, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:16-30)

Bacaan Pertama: 1Kor 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:97-102

Yesus kembali ke kampung halaman-Nya, Nazaret, untuk mewartakan Kabar Baik bahwa firman Allah dalam Yes 61:1-4 telah digenapi. Allah telah mengutus sang Mesias untuk memelopori zaman baru kebebasan yang penuh rahmat dari sang Ilahi. Namun “gayung tak bersambut!”

Apa kiranya yang membuat orang-orang sekampung halaman Yesus itu begitu marahnya? Bukankah semuanya dimulai dengan baik-baik saja? Ayat-ayat Kitab Suci dari Kitab nabi Yesaya yang dibacakan oleh-Nya pun adalah ayat-ayat yang penuh dengan penghiburan; ….. warta pembebasan bagi orang-orang kecil, wong cilik. Ramai-ramai dan keributan mulai terjadi ketika Yesus mendeklarasikan diri-Nya sendiri sebagai sang Mesias yang dijanjikan itu – melalui Mesias inilah keselamatan dari Allah akan mengalir.

Ketika dikonfrontasikan dengan proklamasi Yesus berkaitan dengan “tahun rahmat Tuhan”, sayangnya orang-orang Nazaret sekadar menanggapinya dengan hikmat manusia. Mereka melihat Yesus sebagai seorang manusia biasa-biasa saja, dengan demikian mereka luput melihat realitas bahwa Allah berada di tengah-tengah mereka. Mungkin saja orang-orang itu berpikir, “Siapa ini? Bukankah dia presis sama seperti kita, orang biasa-biasa saja, seorang tukang kayu?” Kata mereka: “Bukankah Ia anak Yusuf?” (Luk 4:22). Karena ketidakmampuan mereka untuk mencocokkan pesan Yesus dengan kerangka pemikiran manusia, mereka malah bereaksi secara negatif terhadap Yesus dan pesan-Nya. Mereka tak peduli akan laporan-laporan yang indah tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus di seluruh tanah Galilea. Mereka tetap tak mampu melepaskan pemikiran yang sudah tertanam di kepala mereka, sehingga sungguh sulit untuk percaya bahwa Yesus adalah “Dia yang diurapi”, yang diutus oleh Allah. Jadi meskipun Yesus telah mengingatkan mereka bahwa Allah memilih seorang janda kafir dari Sarfat dan Namaan, orang kusta dari Siria (dan bukannya janda-janda atau orang-orang kusta yang banyak di Israel), tetap saja mereka tidak mengerti dan tentu tidak dapat menerima-Nya.

Reaksi keras orang-orang Nazaret terhadap Yesus dapat merupakan teka-teki bagi kita. Bagaimana mungkin mereka menolak seseorang yang datang justru untuk menyelamatkan mereka? Jangan salah, kita pun dapat menjadi seperti orang-orang Nazaret itu. Kita juga dapat berbahagia ketika mendengar Yesus mengucapkan sabda yang menyenangkan dan menggembirakan pikiran, akan tetapi merasa sulit untuk menerima sabda-Nya yang menantang dan berisikan petuah dan nasihat yang keras. Begitu mudahnya untuk menolak cara-cara-Nya ketika semuanya itu berbeda dengan ide kita sendiri – ketika Dia mengatakan kepada kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, atau untuk mengampuni mereka yang telah melukai kita.

Sungguh dapat mengecilkan hati kalau mendengar bahwa kita manusia, “mahkota ciptaan”, tetap dapat menolak Yesus. Tetapi, kita pun boleh bergembira untuk mengetahui bahwa Yesus dengan penuh kerelaan mau mengalami penolakan, bahkan salib sekali pun, demi menyelamatkan kita semua. Karena Dia telah mematahkan kuasa dosa, kita pun dapat dibebaskan dari kekuatan-kekuatan di dalam dan di sekeliling kita yang berusaha untuk menolak Yesus. Yang diminta Yesus hanyalah bahwa kita mengakui kebutuhan-kebutuhan kita dengan tulus dan menggantungkan diri pada Roh Kudus-Nya untuk memberdayakan kita. Langkah-langkah kita yang paling kecil sekali pun dalam mendekat kepada Yesus dapat memberikan imbalan yang paling besar.

DOA: Tuhan Yesus, kami mengundang Engkau untuk datang lebih dalam lagi ke dalam hati kami dan membuat diri-Mu lebih nyata bagi kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyerahkan kehidupan kami sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 2:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA IMAN KAMU TIDAK BERGANTUNG PADA HIKMAT MANUSIA, TETAPI PADA KEKUATAN ALLAH” (bacaan tanggal 3-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012.

Cilandak, 25 Agustus 2012 [Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX, Raja & Pelindung OFS)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers