Posts from the ‘10-07 BACAAN HARIAN JULI 2010’ Category

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Sabtu 24-7-10)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan  taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku” (Mat 13:24-30).

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6a.8a.11.

Dalam perumpamaan ini, Yesus tidak berbicara hanya mengenai ‘orang baik’ dan ‘orang jahat’ di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, beberapa tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan, meski sudah tidak berada lagi di tengah-tengah TAHUN IMAM.

Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin ‘mencabut’ ‘orang-orang yang tidak baik’ – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan ‘benih-benih buruk’ dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasihan. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Cilandak, 19 Juli 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN, BUATLAH HATIKU MENJADI SEPERTI TANAH YANG BAIK

TUHAN, BUATLAH HATIKU MENJADI SEPERTI TANAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Jumat 23-7-10)

Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat 13:18-23).

Bacaan Pertama: Yer 3:14-17.

Perbandingan antara tindakan menaburkan benih di kondisi yang berbeda-beda dan firman Allah yang bertumbuh di dalam hati kita adalah satu dari metode-metode pengajaran paling penting yang pernah digunakan oleh Yesus. Jenis-jenis ‘tanah’  yang berbeda-beda dengannya  hati kita dapat dibandingkan, akhirnya mengerucut pada titik apakah kita terbuka terhadap kebenaran-kebenaran Kerajaan Surga dan apakah kita rindu untuk mengetahui kehidupan Kristus. Hati yang terbuka, seperti juga tanah yang baik, siap untuk ditanami dengan firman/sabda Allah. Hati yang terbuka memperkenankan Roh Kudus ‘melahirkan’ buah yang besar untuk Kerajaan Surga.

Benih – sabda Allah – itu dipenuhi dengan potensi luarbiasa. Perbedaan satu-satunya adalah tanah, yaitu hati kita masing-masing. Namun demikian, kalau pun hati kita tidak sempurna, kita tidak pernah boleh berputus-asa. Roh Kudus selalu siap untuk memberi perwahyuan, untuk menghibur, untuk mengajar dan untuk memberdayakan kita. Dia rindu untuk mengangkat bagi kita gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya; yang akan menggembalakan kita  “dengan pengetahuan dan pengertian” (lihat Yer 3:15). Yang diminta oleh Allah adalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati terbuka, mencari sabda-Nya. YHWH Allah berseru memanggil kita: “Aku akan mengambil kamu, …… dan akan membawa kamu ke Sion” (Yer 3:14). Sejarah membuktikan bahwa Tuhan itu adalah seorang Pribadi yang setia!

Seperti tanah macam apa hati kita itu? Apakah kita ‘mati-matian’ mencari kebenaran-kebenaran dari Kerajaan Surga? Apakah kita sungguh merindukan hidup Kristus sendiri bergerak dan aktif dalam diri kita? Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini kepada diri kita sendiri, maka kita dapat menguji ‘tanah’ macam apa sebenarnya hati kita ini? Apakah kita sangat berkeinginan untuk mendengar tentang kebenaran-kebenaran tentang kebenaran-kebenaran Kerajaan Allah? Apakah kehidupan kita dapat menjadi seperti “taman yang diairi dengan baik-baik, sehingga tidak akan kembali merana? (lihat Yer 31:12).

Kebanyakan dari kita masih memiliki hati seperti tanah yang berbatu-batu dan/atau semak berduri. Selagi kita mencari Tuhan dalam doa-doa kita, dalam Ekaristi, dan dalam pembacaan serta permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci, maka Roh Kudus dapat menyiapkan hati kita agar mampu menerima benih sabda-Nya secara lebih penuh. Dengan membuka diri kita bagi-Nya, kita memperkenankan Roh Kudus untuk memperbaiki kondisi hati kita, sehingga Yesus dapat bekerja dalam hati kita dan menolong kita untuk menghasilkan buah tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, bahkan seratus kali lipat untuk kerajaan-Nya (Mat 13:23). Marilah kita pergi menghadap Yesus dalam doa. Hanya Dialah yang dapat membuat kita siap menghasilkan panen yang berlimpah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat memusatkan perhatian pada kehendak-Mu. Hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam nas-nas Kitab Suci yang kubaca agar aku dapat memahami sabda-Mu dan disembuhkan. Aku mempercayakan seluruh hatiku kepada-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah hatiku itu agar dapat menghasilkan buah-buah berlimpah demi kemuliaan-Mu. Amin.

Cilandak, 19 Juli 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU TELAH MELIHAT TUHAN !!!

AKU TELAH MELIHAT TUHAN !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Maria Magdalena, Kamis 22-7-10)

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya (Yoh 20:1-2,11-18).

Bacaan Pertama: Yer 2:1-3,7-8.12-13; Mazmur Tangggapan: 36:6-11; Bacaan Injil alternatif: Mat 13:10-17.

O betapa dalam cintakasih Maria Magdalena pada Yesus! Kita dapat membayangkan dia pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap itu, bergegas  menuju kubur – hanya mendapatkan bahwa kubur itu sudah kosong! Ketika mencari Yesus sambil menangis, dia bahkan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat kepadanya dengan jawaban yang sangat terasa sungguh ke luar dari hati yang penuh cintakasih: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”  (Yoh 20:13). Kita sekarang dapat membayangkan betapa penuh sukacitanya Maria Magdalena pada saat ia akhirnya mengenali suara Yesus. “… kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui ronda-ronda kota … Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku …” (Kid 3:2-4).

Maria Magdalena tahu sekali apa artinya menjadi seorang pendosa dan sampah masyarakat. Dia telah mengalami isolasi dan degradasi yang disebabkan dosa. Namun segalanya berubah pada waktu dia mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan Yesus yang “kasih-Nya sampai ke langit, setia-Nya sampai ke awan” (lihat Mzm 36:6); “kasih setia-Nya lebih baik dari pada hidup” (Mzm 63:3). Maria Magdalena belum/tidak sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak – keseluruhan tujuan kematian Yesus di kayu salib itu sendiri. Betapa menghancurkan hati bagi Maria Magdalena tentunya, ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana Yesus diperlakukan sebelum disalibkan. Ketika dia mengenali suara-Nya di taman kuburan pada pagi hari itu, Maria Magdalena sungguh dipenuhi kegembiraan sejati.

“Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu”  (Yoh 20:17). Dengan kata-kata ini, Yesus mengungkapkan tujuan-Nya kepada Maria Magdalena dan kita semua, bahwa Dia sedang terlibat pada suatu misi surgawi. Inilah hal yang begitu sulit untuk dipahami para murid. Meski Yesus sudah mengajar mereka tentang ke mana para murid tak dapat mengikuti-Nya – tentang menyediakan tempat bagi mereka – tujuan Yesus tetap tidak jelas sampai Dia kembali (lihat Yoh 14:2-3). Tetapi sekarang, dengan kebangkitan Yesus, Injil menjadi terang.

Kebangkitan Yesus membuka surga bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Apakah anda telah menemukan surga yang terbuka itu? Itu tersedia bagi kita semua. Kita dapat mengalami berkat ini selagi kita dengan pertobatan yang mendalam datang menghadap Tuhan Yesus, percaya bahwa darah-Nya telah  menghancur-leburkan ikatan-ikatan dosa. Yesus ingin agar kita turut serta dalam kemenangan-Nya dan menjadi pewaris-bersama dengan Dia. Marilah sekarang kita datang kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan segenap hati kita; dengan demikian kita pun dapat berkata bersama Maria Magdalena: “Aku telah melihat Tuhan!”  (Yoh 20:18).

DOA: Yesus yang bangkit, kami datang bergegas kepada-Mu, seperti yang dilakukan oleh Maria Magdalena. Engkau telah membuka surga bagi kami dan sekarang kami dapat memandang dan menyentuh Engkau secara pribadi. Terima kasih untuk keselamatan bagi kami!  Amin.

Cilandak, 18 Juli 2010 [Hari Minggu Biasa XVI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI YEREMIA, KITA PUN DIPANGGIL OLEH ALLAH

SEPERTI YEREMIA, KITA PUN DIPANGGIL OLEH ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Rabu 21-7-10)

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. Firman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi YHWH berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman YHWH.” Lalu YHWH mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; YHWH berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yer 1:1.4-10).

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6.15.17; Bacaan Injil: Mat 13:1-9.

Pelayanan kenabian Yeremia dimulai pada zaman pemerintahan Raja Yosia bin Amon di Yehuda. Pemerintahan Yosia ini ditandai dengan suasana damai dan revitalisasi iman (lihat 2Raj 23:1-30), namun hidupnya diakhiri secara tragis: dia mati dibunuh oleh Firaun Nekho di Megido (2Raj 23:30). Penggantinya, yaitu anaknya yang bernama Yoahas, melakukan apa yang jahat  di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya  (2Raj 23:31-32). Dia memerintah selama 3 bulan saja di Yerusalem. Kemudian dia ditempatkan dalam rumah tahanan Firaun dan mati di Mesir (2Raj 23:34). Yoyakim adalah anak Yosia lainnya yang diangkat menjadi raja Yehuda oleh Firaun dan berkedudukan di Yerusalem. Ia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH seperti  yang dilakukan oleh nenek moyangnya (2Raj 23:37). Yoyakim memerintah di Yerusalem selama 11 tahun. Dia takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel untuk 3 tahun lamanya, tetapi kemudian dia memberontak (2Raj 24:1). Setelah mati, Yoyakim digantikan oleh anaknya yang bernama Yoyakhin hanya untuk 3 bulan lamanya. Dia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan ayahnya (2Raj 24:8-9). Yoyakhin dan banyak lagi orang-orang Yahudi ditangkap dan dibuang ke Babel oleh Nebukadnezar. Kemudian raja Babel mengangkat Matanya, paman Yoyakhin, menjadi raja Yehuda dengan nama Zedekia. Dia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan oleh Yoyakim. Singkat kata, karena murka YHWH-lah terjadi hal terburuk terhadap Yerusalem dan Yehuda, yakni bahwa Dia sampai membuang mereka dari hadapan-Nya (2Raj 24:17-20).

Selama masa-masa yang menegangkan dan menakutkan ini, Yeremia menyampaikan pesan penghukuman yang diperlukan karena ketidaksetiaan bangsa Israel kepada Allah, dan juga pesan yang sama perlunya, yaitu pesan belas kasihan dan penghiburan. Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila Yeremia disalahpahami dan ditolak, bahkan dianiaya oleh orang-orang yang dilayaninya seturut panggilan Allah kepadanya. Akan tetapi, melalui berbagai trauma dari pelayanannya, Yeremia tetap setia kepada YHWH, meskipun sebenarnya dia lebih senang meninggalkan tugas panggilannya ini. Kesetiaan Yeremia bukannya tidak mendapat ganjaran yang setimpal. YHWH Allah tetap dekat padanya dan menghibur dia pada setiap langkah yang dibuatnya dalam pekerjaan pelayanan kenabiannya ini (Yer 20:7-11).

Panggilan Yeremia hanyalah awal dari pernyataan diri Allah, dan awal dari kemampuan Yeremia untuk mendengar suara YHWH. Pada awalnya, Yeremia tidak sadar akan bahaya-bahaya yang mungkin akan dihadapinya, atau cara-cara penuh kuasa yang akan dikerjakan Allah melalui dirinya. Namun, namun selagi dia ‘bereksperimen’ dalam hal mendengar suara Allah, pengaruh Yeremia pun kian bertumbuh. Demikian pula halnya dengan kepercayaannya kepada YHWH. Yeremia memulai tugas pelayanan kenabiannya dengan penglihatan-penglihatan yang masih kabur sehingga memerlukan bantuan Allah sendiri untuk menjelaskan penglihatan-penglihatan itu (lihat Yer 1:11-19). Dengan berjalannya waktu, ‘kemahiran’  Yeremia sebagai seorang nabi pun semakin membaik. Pada puncak ‘karir’-nya, Yeremia bahkan mampu berbicara/menulis dalam nama YHWH kata-kata penghiburan yang diharapkan dapat menguatkan bangsa Israel yang berada dalam pembuangan di Babel  (lihat Yer 29:1-14).

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kehidupan Yeremia? Sesungguhnya Allah mempunyai sebuah rencana yang spesifik bagi kita masing-masing sebagai pribadi. Panggilan-Nya kepada kita akan menjadi semakin jelas selagi kita ‘bereksperimen’ terus dalam hal mendengar suara-Nya. Barangkali di masa lampau kita telah mendapat suatu pengalaman penuh kuasa akan kasih dan belas kasihan Allah. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai pengalaman sekali dan satu-satunya, melainkan sebagai awal dari suatu jalinan keakraban-relasi kita dengan Allah yang bertumbuh terus sepanjang hidup kita. Pengalaman ini juga merupakan merupakan suatu undangan kepada kita untuk menjadi begitu familiar dengan Tuhan, sehingga kita dapat mengetahui kehendak-Nya dan kita pun mulai menyampaikan kata-kata penghiburan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita. Barangkali kepada kita tidak diberikan gelar nabi seperti Yeremia, namun adalah sesuatu yang  pasti bahwa kita semua memang dipanggil oleh Tuhan Allah untuk bergabung dalam ‘petualangan’  sebuah kehidupan bagi Dia dan bersama Dia. Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita dalam ‘petualangan’ kita itu (lihat Mat 28:20). Percayalah, bahwa Yesus adalah Imanuel – Allah menyertai kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau ingin menyatakan diri-Mu kepadaku. Ajarilah aku bagaimana mengenali suara-Mu. Selagi aku mengambil langkah-langkah dalam mengikuti Engkau, perdalamlah pemahamanku akan rencana-Mu. Amin.

Cilandak, 17 Juli 2010 [Peringatan S. Maria Magdalena Postel, Pendiri Kongregasi Suster-Suster Misericordia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA IBU-KU? SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

SIAPA IBU-KU? SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Selasa 20-7-10)

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seseorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:46-50).

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15.18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:2-8.

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Dalam merenungkan pertanyaan Yesus ini, tak terasa kita dibawa sampai kepada suatu titik di mana kita harus mengevaluasi  ‘keluarga rohani’ di mana kita adalah anggotanya – kedekatan dan ikatan yang ada antara kita semua, tanpa membeda-bedakan umur, kebangsaan, warna kulit, jenis kelamin, kemampuan atau ketidakmampuan. Allah adalah Bapa kita semua!  Lewat karunia-karunia Roh Kudus-Nya, Ia telah menganugerahkan kepada kita semua segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati kehidupan sebagai anggota keluarga rohani ini – melakukan kehendak-Nya, untuk melayani-Nya, untuk mengasihi-Nya dan sesama kita, dan untuk membawa lebih banyak lagi jiwa-jiwa kepada-Nya.

Pada waktu kita dibaptis, kita menjadi anak-anak Allah. Pada saat dibaptis itu, setiap orang Kristiani kiranya mendengar suara yang yang pernah terdengar di sungai Yordan sekitar 2000 tahun lalu, pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis: “Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Dengan cara ini, rencana kekal Bapa surgawi bagi setiap orang menjadi realitas sejarah: “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

Mungkin tidak sulitlah jadinya bagi kita untuk memahami bagaimana kita menjadi saudara dan saudari Yesus, namun apakah kiranya yang dimaksudkan oleh-Nya ketika dia berkata bahwa kita juga adalah ibu-Nya? Ia mengatakan kepada orang banyak: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Santo Paulus menjelaskan peranan keibuannya pada waktu menulis kepada jemaat di Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal 4:19). Paulus juga mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa dia memelihara dan memperhatikan mereka seperti seorang ibu: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes 2:7).

Dalam ‘Surat Kedua kepada Kaum Beriman’, Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan: Kita menjadi ibu (Yesus) bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (2SurBerim 53). Wow! Menjadi ibu Yesus! Ini adalah sebuah panggilan yang luarbiasa agung dan luhur! Tidak peduli berapa tahun usia kita sekarang, kita dapat mengandung Yesus dan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Seperti Maria, kita semua dapat berdoa: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus untuk privilese tak terbandingkan yang Engkau berikan kepadaku, yaitu kenyataan diundangnya daku menjadi anggota keluarga-Mu. Tuhan, biarlah keluarga-Mu ini senantiasa bertumbuh subur dalam kuasa Roh Kudus. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin lebih mendalami lagi bacaan Injil hari ini, saya persilahkan membaca tulisan saya yang berjudul YESUS DAN SANAK SAUDARA-NYA tanggal 22 September 2009, dalam blog SANG SABDA ; kategori: BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009. 

Cilandak, 16 Juli 2010 [Peringatan Santa Maria dari Gunung Karmel] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARI KITA BELAJAR DARI ORANG-ORANG NINIWE DAN RATU SYEBA

MARI KITA BELAJAR DARI ORANG-ORANG NINIWE DAN RATU SYEBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Senin 19-7-10)

Pada  waktu itu berkata-kata beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42).

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4.6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6.8-9.16-17.21.23.

Pada permukaannya, permintaan beberapa ahli Taurat dan orang Farisi akan suatu tanda dari Yesus bukanlah suatu permintaan yang keterlaluan atau memalukan. Mengapa? Karena mereka menghendaki adanya suatu bukti siapa Yesus itu sebenarnya. Tanggapan Yesus memang terdengar benar-benar keras.  Para pemuka agama itu mengikuti Yesus terus-menerus. Mereka telah menyaksikan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang buta-bisu yang dirasuki roh jahat (Mat 12:22); juga menyaksikan Dia menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah pada hari Sabat (Mat 12:13); orang lumpuh juga disembuhkan (Mat 9:6); perempuan yang sakit pendarahan disembuhkan (Mat 9:20); anak kepala rumah ibadat dihidupkan kembali (Mat 9:18-25). Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat 9:35). Walaupun demikian, tetap saja mereka menuntut suatu tanda! Jadi, tidak mengherankanlah kalau jawaban Yesus itu terdengar keras!

Dalam menegur para pemuka agama itu karena ketidak-percayaan mereka, Yesus memberi contoh orang-orang Niniwe dan Ratu dari Selatan (Mat 12:41-42). Orang Niniwe bukanlah bangsa Yahudi, namun ketika Yunus datang mewartakan agar mereka mengubah hati dalam nama YHWH, mereka langsung melakukan pertobatan. Ratu Syeba, begitu mendengar tentang Raja Salomo, dia langsung melakukan perjalanan jauh ke Israel untuk mendengar hikmat Raja (1Raj 10:6-7). Orang Niniwe dan Ratu Syeba dalam banyak segi sangat berbeda dengan orang Yahudi, namun mereka mendengar dan percaya. Hal ini berbeda sekali dengan para lawan Yesus. Mereka menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh Yesus, tokh mereka tidak percaya-percaya juga.

Memang kadang-kadang lebih mudahlah untuk mempercayai sabda Allah pada saat kita bebas dari berbagai prasangka dan praduga. Inilah keuntungan dari orang-orang Niniwe dan sang Ratu Selatan ketimbang para pemuka agama pada zaman Yesus.  Sang Ratu Selatan tidak mempunyai keyakinan apakah yang dapat diharapkannya dari Raja Salomo, namun hatinya terbuka. Jadi, sang ratu mampu melihat lebih banyak berkat Allah daripada banyak orang Yahudi. Sama halnya dengan orang-orang Niniwe. Kata-kata sederhana dari seorang nabi Yahudi berhasil menggerakkan hati mereka sehingga langsung melakukan pertobatan.

Yesus juga ingin memberikan kepada kita kesederhanaan yang sama, selagi kita datang kepada-Nya. Kadang-kadang kita juga bersikap dan berperilaku seperti orang-orang Farisi – begitu yakin pada diri sendiri. Tetapi Yesus selalu berdiri di depan pintu hati kita. Dengan sabar Dia mengetuk dan mengetuk lagi pintu itu. Yang perlu kita lakukan adalah mohon kepada-Nya agar menyatakan diri-Nya kepada kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau telah berjanji bahwa semua orang yang mendengar suara-Mu dan membuka hati mereka bagi-Mu akan menikmati persekutuan dengan Engkau. Kami telah mendengar, ya Tuhan. Datanglah Tuhan Yesus dan ajarlah kami, sehingga kami dapat mengenal Engkau dan memberi tanggapan kepada-Mu secara lebih penuh lagi. Amin.

Catatan: Untuk mereka yang mau mendalami bacaan Injil ini, silahkan membaca tulisan saya yang berjudul MEREKA TIDAK AKAN DIBERIKAN TANDA SELAIN TANDA NABI YUNUS, tanggal 24 Februari 2010, yang terdapat kategori: BACAAN HARIAN BULAN FEBRUARI 2010.

Cilandak, 16 Juli 2010

Peringatan Santa Maria dari Gunung Karmel

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA TELAH MEMILIH BAGIAN TERBAIK

MARIA TELAH MEMILIH BAGIAN TERBAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI, 18-7-10)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia” (Luk 10:38-42).  

Bacaan Pertama: Kej 18:1-10a; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Kedua: Kol 1:24-28.

Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia (Luk 10:42). Kitab Suci berkali-kali memberikan kepada kita pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, bahkan cerita-cerita untuk membantu kita memahami apa artinya menyambut Tuhan ke dalam kehidupan kita. Cerita singkat tentang Yesus yang mengunjungi rumah Maria dan Marta barangkali merupakan salah satu contoh yang sulit terlupakan, karena di sini Lukas menggambarkan kontras yang ada antara kesibukan kegiatan Marta yang dipenuhi kegelisahan dan keterbukaan penuh damai dari Maria.

Maria mengerti benar bahwa Yesus lebih memperhatikan kondisi batiniah dirinya daripada penampilan luar rumahnya. Maria juga akan merasa diterima oleh Yesus apabila dia hanya duduk dan mendengarkan-Nya berbicara mengenai Bapa-Nya dan kerajaan Allah.

Cerita mengenai Abraham dan tiga orang yang mengunjunginya mengungkapkan satu dimensi lain tentang apa artinya menyambut Tuhan. Seperti Marta, Abraham berlari ke sana ke mari untuk menjamin para tamunya dilayani dengan baik. Akan tetapi, begitu memungkinkan, dia langsung bergabung menemani para tamu itu serta melayani mereka. Dia tidak memperkenankan dirinya diganggu oleh kesibukan pelayanannya (bdk. Luk 10:40), namun tetap menempatkan para tamunya sebagai prioritas utamanya.

Kuncinya adalah menjamin bahwa kita telah menyiapkan sebuah tempat berdiam bagi Tuhan sehingga kita dapat menerima sabda-sabda-Nya secara damai. Kita seharusnya membuat persiapan-persiapan, seperti melepaskan diri kita dari pelanturan-pelanturan agar kita dapat membuat hati kita menjadi hening, namun pada saat yang sama kita juga harus berhati-hati agar tidak lepas dari tujuan kita, yaitu perjumpaan dengan Yesus, pertemuan yang akan mentranformasikan diri kita.

Jikalau kita sungguh ingin menyambut Yesus ke dalam hati kita, maka kita harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Maria dan Abraham. Kita tidak boleh hanya sibuk dengan hal-hal yang bersifat lahiriah saja. Biar bagaimana pun juga kita tidak akan membersihkan diri kita sendiri sampai titik kita diterima oleh-Nya. Kalau begitu halnya, maka salib-Nya akan sia-sia belaka. Sebaliknya, kita harus menyingkirkan ‘kesibukan’ kita paling sedikit untuk beberapa saat lamanya –  teristimewa dalam Misa hari ini – dan meniru Maria. Biarkanlah Yesus memberikan kepada kita makanan berupa sabda yang menyelamatkan dan kehadiran-Nya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyambut-Mu masuk ke dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan sukacita kehadiran-Mu. Bebaskanlah aku dari rasa takut dan cemas, dengan demikian aku dapat memberikan kepada-Mu perhatian dan cintakasihku yang tak terpecah. Amin.

Catatan: Lihat juga bacaan harian yang berjudul MARIA DAN MARTA tanggal 6 Oktober 2009 yang terdapat dalam blog SANG SABDA; kategori: BACAAN HARIAN BULAN OKTOBER 2009. 

Cilandak, 14 Juli 2010 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers