Posts from the ‘10-07 BACAAN HARIAN JULI 2010’ Category

SEPERTI YEREMIA, KITA PUN DIPANGGIL OLEH ALLAH

SEPERTI YEREMIA, KITA PUN DIPANGGIL OLEH ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Rabu 21-7-10)

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. Firman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi YHWH berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman YHWH.” Lalu YHWH mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; YHWH berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yer 1:1.4-10).

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6.15.17; Bacaan Injil: Mat 13:1-9.

Pelayanan kenabian Yeremia dimulai pada zaman pemerintahan Raja Yosia bin Amon di Yehuda. Pemerintahan Yosia ini ditandai dengan suasana damai dan revitalisasi iman (lihat 2Raj 23:1-30), namun hidupnya diakhiri secara tragis: dia mati dibunuh oleh Firaun Nekho di Megido (2Raj 23:30). Penggantinya, yaitu anaknya yang bernama Yoahas, melakukan apa yang jahat  di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya  (2Raj 23:31-32). Dia memerintah selama 3 bulan saja di Yerusalem. Kemudian dia ditempatkan dalam rumah tahanan Firaun dan mati di Mesir (2Raj 23:34). Yoyakim adalah anak Yosia lainnya yang diangkat menjadi raja Yehuda oleh Firaun dan berkedudukan di Yerusalem. Ia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH seperti  yang dilakukan oleh nenek moyangnya (2Raj 23:37). Yoyakim memerintah di Yerusalem selama 11 tahun. Dia takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel untuk 3 tahun lamanya, tetapi kemudian dia memberontak (2Raj 24:1). Setelah mati, Yoyakim digantikan oleh anaknya yang bernama Yoyakhin hanya untuk 3 bulan lamanya. Dia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan ayahnya (2Raj 24:8-9). Yoyakhin dan banyak lagi orang-orang Yahudi ditangkap dan dibuang ke Babel oleh Nebukadnezar. Kemudian raja Babel mengangkat Matanya, paman Yoyakhin, menjadi raja Yehuda dengan nama Zedekia. Dia juga melakukan apa yang jahat di mata YHWH tepat seperti yang dilakukan oleh Yoyakim. Singkat kata, karena murka YHWH-lah terjadi hal terburuk terhadap Yerusalem dan Yehuda, yakni bahwa Dia sampai membuang mereka dari hadapan-Nya (2Raj 24:17-20).

Selama masa-masa yang menegangkan dan menakutkan ini, Yeremia menyampaikan pesan penghukuman yang diperlukan karena ketidaksetiaan bangsa Israel kepada Allah, dan juga pesan yang sama perlunya, yaitu pesan belas kasihan dan penghiburan. Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila Yeremia disalahpahami dan ditolak, bahkan dianiaya oleh orang-orang yang dilayaninya seturut panggilan Allah kepadanya. Akan tetapi, melalui berbagai trauma dari pelayanannya, Yeremia tetap setia kepada YHWH, meskipun sebenarnya dia lebih senang meninggalkan tugas panggilannya ini. Kesetiaan Yeremia bukannya tidak mendapat ganjaran yang setimpal. YHWH Allah tetap dekat padanya dan menghibur dia pada setiap langkah yang dibuatnya dalam pekerjaan pelayanan kenabiannya ini (Yer 20:7-11).

Panggilan Yeremia hanyalah awal dari pernyataan diri Allah, dan awal dari kemampuan Yeremia untuk mendengar suara YHWH. Pada awalnya, Yeremia tidak sadar akan bahaya-bahaya yang mungkin akan dihadapinya, atau cara-cara penuh kuasa yang akan dikerjakan Allah melalui dirinya. Namun, namun selagi dia ‘bereksperimen’ dalam hal mendengar suara Allah, pengaruh Yeremia pun kian bertumbuh. Demikian pula halnya dengan kepercayaannya kepada YHWH. Yeremia memulai tugas pelayanan kenabiannya dengan penglihatan-penglihatan yang masih kabur sehingga memerlukan bantuan Allah sendiri untuk menjelaskan penglihatan-penglihatan itu (lihat Yer 1:11-19). Dengan berjalannya waktu, ‘kemahiran’  Yeremia sebagai seorang nabi pun semakin membaik. Pada puncak ‘karir’-nya, Yeremia bahkan mampu berbicara/menulis dalam nama YHWH kata-kata penghiburan yang diharapkan dapat menguatkan bangsa Israel yang berada dalam pembuangan di Babel  (lihat Yer 29:1-14).

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kehidupan Yeremia? Sesungguhnya Allah mempunyai sebuah rencana yang spesifik bagi kita masing-masing sebagai pribadi. Panggilan-Nya kepada kita akan menjadi semakin jelas selagi kita ‘bereksperimen’ terus dalam hal mendengar suara-Nya. Barangkali di masa lampau kita telah mendapat suatu pengalaman penuh kuasa akan kasih dan belas kasihan Allah. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai pengalaman sekali dan satu-satunya, melainkan sebagai awal dari suatu jalinan keakraban-relasi kita dengan Allah yang bertumbuh terus sepanjang hidup kita. Pengalaman ini juga merupakan merupakan suatu undangan kepada kita untuk menjadi begitu familiar dengan Tuhan, sehingga kita dapat mengetahui kehendak-Nya dan kita pun mulai menyampaikan kata-kata penghiburan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita. Barangkali kepada kita tidak diberikan gelar nabi seperti Yeremia, namun adalah sesuatu yang  pasti bahwa kita semua memang dipanggil oleh Tuhan Allah untuk bergabung dalam ‘petualangan’  sebuah kehidupan bagi Dia dan bersama Dia. Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita dalam ‘petualangan’ kita itu (lihat Mat 28:20). Percayalah, bahwa Yesus adalah Imanuel – Allah menyertai kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau ingin menyatakan diri-Mu kepadaku. Ajarilah aku bagaimana mengenali suara-Mu. Selagi aku mengambil langkah-langkah dalam mengikuti Engkau, perdalamlah pemahamanku akan rencana-Mu. Amin.

Cilandak, 17 Juli 2010 [Peringatan S. Maria Magdalena Postel, Pendiri Kongregasi Suster-Suster Misericordia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA IBU-KU? SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

SIAPA IBU-KU? SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Selasa 20-7-10)

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seseorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mat 12:46-50).

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15.18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:2-8.

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Dalam merenungkan pertanyaan Yesus ini, tak terasa kita dibawa sampai kepada suatu titik di mana kita harus mengevaluasi  ‘keluarga rohani’ di mana kita adalah anggotanya – kedekatan dan ikatan yang ada antara kita semua, tanpa membeda-bedakan umur, kebangsaan, warna kulit, jenis kelamin, kemampuan atau ketidakmampuan. Allah adalah Bapa kita semua!  Lewat karunia-karunia Roh Kudus-Nya, Ia telah menganugerahkan kepada kita semua segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati kehidupan sebagai anggota keluarga rohani ini – melakukan kehendak-Nya, untuk melayani-Nya, untuk mengasihi-Nya dan sesama kita, dan untuk membawa lebih banyak lagi jiwa-jiwa kepada-Nya.

Pada waktu kita dibaptis, kita menjadi anak-anak Allah. Pada saat dibaptis itu, setiap orang Kristiani kiranya mendengar suara yang yang pernah terdengar di sungai Yordan sekitar 2000 tahun lalu, pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis: “Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Dengan cara ini, rencana kekal Bapa surgawi bagi setiap orang menjadi realitas sejarah: “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

Mungkin tidak sulitlah jadinya bagi kita untuk memahami bagaimana kita menjadi saudara dan saudari Yesus, namun apakah kiranya yang dimaksudkan oleh-Nya ketika dia berkata bahwa kita juga adalah ibu-Nya? Ia mengatakan kepada orang banyak: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Santo Paulus menjelaskan peranan keibuannya pada waktu menulis kepada jemaat di Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal 4:19). Paulus juga mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa dia memelihara dan memperhatikan mereka seperti seorang ibu: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes 2:7).

Dalam ‘Surat Kedua kepada Kaum Beriman’, Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan: Kita menjadi ibu (Yesus) bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (2SurBerim 53). Wow! Menjadi ibu Yesus! Ini adalah sebuah panggilan yang luarbiasa agung dan luhur! Tidak peduli berapa tahun usia kita sekarang, kita dapat mengandung Yesus dan melahirkan-Nya ke dalam dunia. Seperti Maria, kita semua dapat berdoa: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus untuk privilese tak terbandingkan yang Engkau berikan kepadaku, yaitu kenyataan diundangnya daku menjadi anggota keluarga-Mu. Tuhan, biarlah keluarga-Mu ini senantiasa bertumbuh subur dalam kuasa Roh Kudus. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin lebih mendalami lagi bacaan Injil hari ini, saya persilahkan membaca tulisan saya yang berjudul YESUS DAN SANAK SAUDARA-NYA tanggal 22 September 2009, dalam blog SANG SABDA ; kategori: BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009. 

Cilandak, 16 Juli 2010 [Peringatan Santa Maria dari Gunung Karmel] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARI KITA BELAJAR DARI ORANG-ORANG NINIWE DAN RATU SYEBA

MARI KITA BELAJAR DARI ORANG-ORANG NINIWE DAN RATU SYEBA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI, Senin 19-7-10)

Pada  waktu itu berkata-kata beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42).

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4.6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6.8-9.16-17.21.23.

Pada permukaannya, permintaan beberapa ahli Taurat dan orang Farisi akan suatu tanda dari Yesus bukanlah suatu permintaan yang keterlaluan atau memalukan. Mengapa? Karena mereka menghendaki adanya suatu bukti siapa Yesus itu sebenarnya. Tanggapan Yesus memang terdengar benar-benar keras.  Para pemuka agama itu mengikuti Yesus terus-menerus. Mereka telah menyaksikan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang buta-bisu yang dirasuki roh jahat (Mat 12:22); juga menyaksikan Dia menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah pada hari Sabat (Mat 12:13); orang lumpuh juga disembuhkan (Mat 9:6); perempuan yang sakit pendarahan disembuhkan (Mat 9:20); anak kepala rumah ibadat dihidupkan kembali (Mat 9:18-25). Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat 9:35). Walaupun demikian, tetap saja mereka menuntut suatu tanda! Jadi, tidak mengherankanlah kalau jawaban Yesus itu terdengar keras!

Dalam menegur para pemuka agama itu karena ketidak-percayaan mereka, Yesus memberi contoh orang-orang Niniwe dan Ratu dari Selatan (Mat 12:41-42). Orang Niniwe bukanlah bangsa Yahudi, namun ketika Yunus datang mewartakan agar mereka mengubah hati dalam nama YHWH, mereka langsung melakukan pertobatan. Ratu Syeba, begitu mendengar tentang Raja Salomo, dia langsung melakukan perjalanan jauh ke Israel untuk mendengar hikmat Raja (1Raj 10:6-7). Orang Niniwe dan Ratu Syeba dalam banyak segi sangat berbeda dengan orang Yahudi, namun mereka mendengar dan percaya. Hal ini berbeda sekali dengan para lawan Yesus. Mereka menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh Yesus, tokh mereka tidak percaya-percaya juga.

Memang kadang-kadang lebih mudahlah untuk mempercayai sabda Allah pada saat kita bebas dari berbagai prasangka dan praduga. Inilah keuntungan dari orang-orang Niniwe dan sang Ratu Selatan ketimbang para pemuka agama pada zaman Yesus.  Sang Ratu Selatan tidak mempunyai keyakinan apakah yang dapat diharapkannya dari Raja Salomo, namun hatinya terbuka. Jadi, sang ratu mampu melihat lebih banyak berkat Allah daripada banyak orang Yahudi. Sama halnya dengan orang-orang Niniwe. Kata-kata sederhana dari seorang nabi Yahudi berhasil menggerakkan hati mereka sehingga langsung melakukan pertobatan.

Yesus juga ingin memberikan kepada kita kesederhanaan yang sama, selagi kita datang kepada-Nya. Kadang-kadang kita juga bersikap dan berperilaku seperti orang-orang Farisi – begitu yakin pada diri sendiri. Tetapi Yesus selalu berdiri di depan pintu hati kita. Dengan sabar Dia mengetuk dan mengetuk lagi pintu itu. Yang perlu kita lakukan adalah mohon kepada-Nya agar menyatakan diri-Nya kepada kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau telah berjanji bahwa semua orang yang mendengar suara-Mu dan membuka hati mereka bagi-Mu akan menikmati persekutuan dengan Engkau. Kami telah mendengar, ya Tuhan. Datanglah Tuhan Yesus dan ajarlah kami, sehingga kami dapat mengenal Engkau dan memberi tanggapan kepada-Mu secara lebih penuh lagi. Amin.

Catatan: Untuk mereka yang mau mendalami bacaan Injil ini, silahkan membaca tulisan saya yang berjudul MEREKA TIDAK AKAN DIBERIKAN TANDA SELAIN TANDA NABI YUNUS, tanggal 24 Februari 2010, yang terdapat kategori: BACAAN HARIAN BULAN FEBRUARI 2010.

Cilandak, 16 Juli 2010

Peringatan Santa Maria dari Gunung Karmel

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA TELAH MEMILIH BAGIAN TERBAIK

MARIA TELAH MEMILIH BAGIAN TERBAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI, 18-7-10)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia” (Luk 10:38-42).  

Bacaan Pertama: Kej 18:1-10a; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Kedua: Kol 1:24-28.

Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia (Luk 10:42). Kitab Suci berkali-kali memberikan kepada kita pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, bahkan cerita-cerita untuk membantu kita memahami apa artinya menyambut Tuhan ke dalam kehidupan kita. Cerita singkat tentang Yesus yang mengunjungi rumah Maria dan Marta barangkali merupakan salah satu contoh yang sulit terlupakan, karena di sini Lukas menggambarkan kontras yang ada antara kesibukan kegiatan Marta yang dipenuhi kegelisahan dan keterbukaan penuh damai dari Maria.

Maria mengerti benar bahwa Yesus lebih memperhatikan kondisi batiniah dirinya daripada penampilan luar rumahnya. Maria juga akan merasa diterima oleh Yesus apabila dia hanya duduk dan mendengarkan-Nya berbicara mengenai Bapa-Nya dan kerajaan Allah.

Cerita mengenai Abraham dan tiga orang yang mengunjunginya mengungkapkan satu dimensi lain tentang apa artinya menyambut Tuhan. Seperti Marta, Abraham berlari ke sana ke mari untuk menjamin para tamunya dilayani dengan baik. Akan tetapi, begitu memungkinkan, dia langsung bergabung menemani para tamu itu serta melayani mereka. Dia tidak memperkenankan dirinya diganggu oleh kesibukan pelayanannya (bdk. Luk 10:40), namun tetap menempatkan para tamunya sebagai prioritas utamanya.

Kuncinya adalah menjamin bahwa kita telah menyiapkan sebuah tempat berdiam bagi Tuhan sehingga kita dapat menerima sabda-sabda-Nya secara damai. Kita seharusnya membuat persiapan-persiapan, seperti melepaskan diri kita dari pelanturan-pelanturan agar kita dapat membuat hati kita menjadi hening, namun pada saat yang sama kita juga harus berhati-hati agar tidak lepas dari tujuan kita, yaitu perjumpaan dengan Yesus, pertemuan yang akan mentranformasikan diri kita.

Jikalau kita sungguh ingin menyambut Yesus ke dalam hati kita, maka kita harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Maria dan Abraham. Kita tidak boleh hanya sibuk dengan hal-hal yang bersifat lahiriah saja. Biar bagaimana pun juga kita tidak akan membersihkan diri kita sendiri sampai titik kita diterima oleh-Nya. Kalau begitu halnya, maka salib-Nya akan sia-sia belaka. Sebaliknya, kita harus menyingkirkan ‘kesibukan’ kita paling sedikit untuk beberapa saat lamanya –  teristimewa dalam Misa hari ini – dan meniru Maria. Biarkanlah Yesus memberikan kepada kita makanan berupa sabda yang menyelamatkan dan kehadiran-Nya dalam Ekaristi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyambut-Mu masuk ke dalam hatiku. Penuhilah diriku dengan sukacita kehadiran-Mu. Bebaskanlah aku dari rasa takut dan cemas, dengan demikian aku dapat memberikan kepada-Mu perhatian dan cintakasihku yang tak terpecah. Amin.

Catatan: Lihat juga bacaan harian yang berjudul MARIA DAN MARTA tanggal 6 Oktober 2009 yang terdapat dalam blog SANG SABDA; kategori: BACAAN HARIAN BULAN OKTOBER 2009. 

Cilandak, 14 Juli 2010 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH HAMBA TUHAN YANG SEMPURNA

YESUS ADALAH HAMBA TUHAN YANG SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Sabtu 17-7-10)

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap” (Mat 12:14-21).

Setelah gagal dalam upaya mereka untuk mendiskreditkan Yesus, orang-orang Farisi sekarang membuat rencana untuk membunuh Dia (Mat 12:14). Orang-orang Farisi ini belum pernah membuka diri mereka bagi pesan-pesan-Nya atau kemungkinan bahwa Yesus adalah Mesias yang mereka nantikan juga. Karena iri hati, mereka telah menutup telinga mereka dan mengeraskan hati mereka. Bertentangan sekali kalau dibandingkan dengan kaum Farisi yang merencanakan tindakan kekerasan yang mengerikan atas diri-Nya, Yesus hanya menyingkir dari kota di mana kuasa penyembuhan-Nya telah menimbulkan kontroversi. Dengan rendah hati Dia melanjutkan misi belas kasihan-Nya.

Perilaku Yesus bertentangan dengan pandangan populer/kerakyatan bahwa sang Mesias adalah seorang penyelamat yang gagah perkasa serta militan; seorang raja-ksatria yang akan menghakimi musuh-musuh Israel. Menyingkirnya Yesus dari kota mengecewakan sejumlah orang. Akan tetapi, Matius memandang tindakan Yesus itu suatu pemenuhan dari nubuat Perjanjian Lama (Mat 12:18-19; lihat Yes 42:1-4).

Yesus adalah Hamba YHWH yang sempurna. Jauh dari sikap agresif dan kekerasan-kepala sejumlah orang Farisi, Yesus adalah seorang pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan, bukan untuk menghukum (lihat Yoh 3:17). Sebagai Putera Allah yang datang ke dunia seorang manusia, Yesus secara tetap dan konsisten berupaya menegakkan sabda Bapa-Nya dengan kerendahan hati – bahkan manakala hal itu berarti berkonfrontasi dengan dosa dalam kehidupan orang. Ia melangkah jauh sampai mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, semua demi kita semua (lihat Flp 2:7). Ketika para lawan-Nya mencoba untuk mendiskreditkan diri-Nya, Ia menanggapinya dengan keteguhan seorang Hamba Allah dan dengan cepat kembali kepada misi-Nya.

Yesus melanjutkan apa yang Allah telah rencanakan untuk dikerjakan oleh-Nya. Misi-Nya adalah untuk menawarkan keselamatan kepada semua orang. Bagaimana? Dengan menarik kita kepada suatu relasi dengan Bapa surgawi. Juruselamat kita yang lemah lembut ini selalu terbuka bagi panggilan kita. Dia tidak membuang seorang pun. Ia tidak menghukum siapa pun – juga tidak mereka yang menentang-Nya. Yesus mengundang kita semua untuk membuang segala sesuatu yang memisahkan kita dari Bapa surgawi dan menawarkan kita suatu kehidupan yang jauh lebih baik daripada apa saja yang kita pernah kenal dan alami.

DOA: Allah yang Mahakuasa, kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau menyatakan diri-Mu kepada kami melalui Hamba-Mu yang rendah hati, Yesus Kristus. Kami memuji Engkau karena telah mengutus Roh Kudus-Mu untuk mengingatkan kami akan kelemah-lembutan-Mu, belas-kasihan-Mu dan kesembuhan-kesembuhan dari-Mu. Amin.

Cilandak, 14 Juli 2010 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Jumat 16-7-10)

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihatlah, murid-murid-Mu melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat 12:1-8).

Secara teknis, tindakan memetik bulir gandum itu melanggar hukum Musa (lihat Kel 20:8-11). Tentunya berdasarkan apa yang ditulis dalam kitab Keluaran itu, orang-orang Farisi merasa dibenarkan dalam menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat. Akan tetapi, jawaban Yesus menunjukkan tujuan sebenarnya dari hukum Sabat: “Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat 12:7-8). Terasa bahwa di mata Yesus, orang-orang Farisi ini tidak mengerti apa yang dimaksudkan dalam petikan dari Hos 6:6 tersebut. Orang-orang Farisi ini begitu disibukkan dengan adat-istiadat serta disiplin agama mereka sehingga mereka lupa mendalami tujuan sebenarnya dari hukum itu, yaitu untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.

Di lain pihak, kita pun harus berhati-hati untuk tidak cepat-cepat menyalahkan orang-orang Farisi. Mereka sebenarnya mencoba untuk menjaga tradisi-tradisi Yahudi di tengah-tengah suatu krisis nasional pada masa itu. Kekaisaran Romawi menduduki wilayah Palestina untuk waktu yang lama, sehingga tidak sedikit orang Yahudi yang terpengaruh oleh praktek-praktek kekafiran orang Romawi. Mereka menukarkan iman-kepercayaan mereka dengan filsafat-filsafat yang berpusat pada manusia.  Bagi kaum Farisi, satu-satunya batasan dalam rangka memelihara dan menjaga identitas bangsa Yahudi, adalah penerapan hukum Musa secara ketat. Namun  sayang saja jalan yang mereka tempuh di tengah masyarakat keliru, teristimewa dalam pengungkapannya.

Sepanjang sejarah, legislasi moral yang kaku itu bersifat opresif dan ujung-ujungnya membuat orang-orang merasa bersalah dan merasa tidak dikasihi. Dalam kelemahan kita sebagai manusia, praktis kita tidak dapat mentaati hukum Allah yang adil. Mengharapkan diri kita sendiri dan orang-orang lain untuk memperoleh keselamatan melalui tindakan-tindakan sesungguhnya bertentangan dengan pesan Yesus. Dalam upaya mereka untuk mendorong hukum Yahudi, banyak orang Farisi menjadi orang-orang yang bersikap suka menghukum dan menuduh – hal ini sungguh bertentangan dengan tujuan Allah dalam hukum-Nya.

Upaya untuk mengikuti jalan-jalan Allah seturut kekuatan kita sendiri merupakan sebuah beban dan pasti akan menuju kegagalan.Efek-efek dari dosa asal telah melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi tuntutan-tuntuan hukum. Inilah sebabnya mengapa Yesus datang ke dunia: Demi kasih-Nya Dia ingin menebus kita. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri kita bagi Kabar Baik yang diwartakan-Nya. Sadar akan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai harapan untuk mampu mengikuti hukum-Nya berdasarkan kekuatan sendiri, maka kita dapat menemukan Dia dalam doa-doa kita, dalam sakramen-sakramen dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci. Dia akan memimpin kita dalam jalan-jalan-Nya dengan hati baru yang mencerminkan hati-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atas hari Sabat dan satu-satunya Penafsir surgawi atas sabda-Mu. Tolonglah kami agar menyerahkan keangkuhan pribadi kami masing-masing. Ampunilah kami yang suka menghukum diri kami sendiri dan orang-orang lain. Tolonglah kami agar mampu mengampuni diri kami sendiri dan orang-orang lain yang bersalah kepada kami. Amin.

Cilandak, 14 Juli 2010 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI (2)

AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI (2)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Kamis 15-7-10)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Santo Bonaventura

 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:28-30).

Beban-beban kehidupan kadang-kadang dapat kelihatan seakan-akan datang tanpa henti-hentinya. Kita harus menyediakan kebutuhan primer seperti makan-minum dan tempat tinggal bagi keluarga kita. Dinamika keluarga dapat membuat kita tegang dan membesarkan anak-anak pada zaman yang penuh perubahan serta kompleks ini sudah jauh berbeda dengan zaman awal Republik tercinta kita ini. Usia tua dan segala sakit-penyakit yang menjadi asesoris-nya dapat menyebabkan orang semakin terbenam dalam alam ketidakpastian, penderitaan fisik serta batin, dan tentunya biaya uang yang harus dikeluarkan. Namun demikian, lebih dari sebelumnya, kali ini kembali Yesus mengundang kita untuk memanggul salib-Nya: “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29).

Yesus berjanji akan membantu kita menanggung/memikul beban-beban kita selagi kita menerima salib-Nya dan belajar dari Dia. Menerima salib-Nya berarti kita menjawab undangan-Nya untuk menjadi murid-Nya. Pemuridan memang berarti mengikuti Yesus, menjalani proses agar dapat menjadi serupa dengan Dia, namun tidak berarti menjalankan hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan seturut sebuah daftar yang sangat panjang. Sekadar mengikuti do’s & don’ts list dapat membuat kita menjadi orang Farisi zaman modern. Pemuridan berarti kita memperkenankan Yesus untuk memancarkan terang-Nya atas pikiran-pikiran serta motif-motif kita dan menggerakkan kita agar menjadi taat dan patuh terhadap perintah-perintah-Nya. Dengan lemah lembut dan penuh bela rasa Dia akan menyatakan kasih-Nya dan membawa kesembuhan bagi kita. Perjumpaan dengan Dia seperti itu dan mengalami kasih-Nya seperti itu sungguh akan mentransformasikan diri kita.  Situasi-situasi yang sulit malah menjadi peluang atau kesempatan bagi rahmat Allah untuk menggerakkan kita dan melalui kita, …… kepada orang-orang lain.

Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih lesu dan berbeban berat, bukan saja yang ‘suci’ atau mereka yang memiliki kecenderungan patuh dalam kehidupan beragama. Siapa saja dapat menanggapi undangan Yesus itu, berdasarkan alasan ‘karena Siapa Allah itu dan bukan karena siapa diri kita’. Dengan kuasa Yesus dan pengantaraan-Nya, bahkan ketika Dia kelihatan jauh, Dia siap untuk menolong kita memikul beban-beban kita. Yesus adalah seorang Pribadi yang dapat dipercaya dan dengan setia Dia akan memenuhi segala hal yang telah dijanjikan-Nya kepada kita.

Kita dapat berada di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat bermeditasi atas satu/dua ayat Kitab Suci atau sebuah misteri Kristus. Kita dapat melakukan refleksi atas anugerah besar yang kita terima pada Ekaristi. Kita dapat mencari Hati Yesus pada diri orang-orang di sekeliling kita, melihat dalam diri orang-orang itu bagian dari kebesaran Allah, bukan sekadar sebagai seorang lain dengan siapa kita harus berhubungan.

Oleh karena itu Saudari dan Saudariku, “Perkenankanlah Yesus hadir dalam diri anda. Dia rindu untuk menganugerahkan kepada anda hikmat-Nya, rahmat, kesembuhan dan bahkan mukjizat-mukjizat. Yang anda perlukan adalah minta kepada-Nya.”

DOA: Datanglah Tuhan Yesus, terangilah pikiran dan transformasikanlah hati kami. Kami rindu akan cintakasih-Mu dan segala karunia yang ingin Kauanugerahkan kepada kami. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk lebih mendalami bacaan Injil di atas, saya menganjurkan anda untuk merujuk kepada tulisan saya berjudul AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI, bacaan hari Rabu Pekan II Adven tanggal 9 Desember 2009 yang terdapat dalam blog SANG SABDA ini. Kategori: BACAAN HARIAN BULAN DESEMBER 2009.

Cilandak, 13 Juli 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUANYA INI ENGKAU SEMBUNYIKAN BAGI ORANG BIJAK DAN ORANG PANDAI, TETAPI ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

SEMUANYA INI ENGKAU SEMBUNYIKAN BAGI ORANG BIJAK DAN ORANG PANDAI, TETAPI ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Rabu 14-7-10)

[Peringatan S. Fransiskus Solanus [+1610], Imam OFM, misionaris di Amerika Selatan]

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu. Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat 11:25-27).

Bacaan Pertama: Yes 10:5-7.13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 94:5-10.14-15.

Sesuatu terjadi apabila kita berpaling kepada Allah untuk mendapatkan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan kita. Roh Kudus telah menggerakkan hati kita untuk mencari Tuhan, dan pada  satu saat rahmat Dia memberikan kepada kita sesuatu yang hanya Dia sajalah yang dapat memberikannya, yaitu pernyataan kemuliaan Yesus. Pernyataan atau perwahyuan  ilahi merupakan inti dari Injil. Setiap hal dalam hidup Kristiani bergantung pada ‘pernyataan (Inggris: revelation)  kemuliaan Yesus ke dalam hati manusia’ dan perubahan  radikal yang terjadi sebagai akibat dari pernyataan ini. Intelek, kekuatan kemauan [will-power], pendidikan – tidak satu pun di antaranya mampu menyamai apa yang dapat dicapai oleh Roh Kudus dengan menyatakan Yesus kepada kita.

Alkitab dan sejarah Kristiani dipenuhi dengan cerita-cerita tentang para perempuan dan laki-laki dari setiap watak dan kecenderungan pribadi, yang telah melakukan hal-hal luarbiasa untuk kerajaan Allah karena pernyataan Tuhan ke dalam hati mereka. Perwahyuan adalah adalah suatu karunia/anugerah ilahi; kita tidak dapat  memperolehnya melalui hikmat dan pengetahuan manusia belaka. Bukan sesuatu yang dapat diketemukan dalam buku-buku atau dengan memutar dan memeras otak kita habis-habisan untuk memahaminya. Namun sang pemazmur mengatakan: “TUHAN (YHWH) tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkannya” (Mzm 94:14). Saya akan mengambil sebagai pengalaman dua orang tokoh Alkitab sebagai contoh.

Kita tentu masih ingat  pengalaman Yesaya yang mendapat penglihatan Allah yang duduk di atas takhta tinggi di Bait Suci – dikelilingi oleh para malaikat-kerubim – di situ Dia memproklamasikan kekudusan-Nya. Selagi Yesaya memandang Allah, dia menjadi sadar bahwa dirinya tak pantas untuk berdiri di hadapan-Nya. Akan tetapi kemudian, begitu Allah memurnikannya, Yesaya menggunakan sisa hidupnya menyiapkan Israel untuk menyambut kedatangan Mesias (lihat Yes 6:1-9). Demikian pula dengan Petrus. Ia adalah seorang nelayan tanpa pendidikan yang dipilih Yesus untuk menjadi pemimpin Gereja. Petrus mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Mesias atau Kristus (Mat 16:16). Setelah pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus menjadi mampu memproklamasikan Injil dengan sangat berani. Melalui pelayanannya, Petrus telah menginspirasikan ribuan orang Yahudi untuk bertobat dan malah membuka pintu Gereja bagi orang-orang non-Yahudi. Meski Petrus tidak  memiliki latar belakang pendidikan memadai, dirinya dibuat menjadi “batu karang”, yang di atasnya Gereja Kristus dibangun (lihat Mat 16:18). Yang diperlukan dari Petrus hanyalah sebuah hati yang terbuka dan pernyataan Allah untuk mentransformasikan dirinya menjadi seorang pemimpin yang berani dan penuh kuasa.

Siapakah, atau apakah ada di antara kita yang sungguh menilai diri sendiri bijaksana di dalam jalan Allah? Rasanya tidak ada, kan? Namun demikian, kita patut merasa lega karena kenyataan bahwa kelemahan apapun yang yang kita lihat dalam diri kita bukanlah merupakan halangan bagi Allah. Pada kenyataannya, malah hal tersebut dapat membuat diri kita cukup rendah hati untuk membuka diri bagi pernyataan diri-Nya. Kita barangkali berpikir diri bahwa kita tidak layak untuk dibanding-bandingkan dengan Yesaya atau pun Petrus, namun Allah sungguh berhasrat untuk menyatakan diri-Nya kepada setiap orang. Ia mau agar setiap orang mempunyai pengalaman akan Allah. Marilah kita mohon Roh Kudus agar membuat hati kita masing-masing sebagaimana hati anak-anak, sehingga Tuhan Allah dapat menjadi lebih penting daripada intelek dan pendidikan kita dan Ia mengisi diri kita dengan pernyataan/ perwahyuan ilahi.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik dan bumi. Nyatakanlah kepada kami kemuliaan Putera-Mu Yesus Kristus. Transformasikanlah hidup kami oleh Roh Kudus-Mu. Kami rindu untuk mengenal Engkau secara akrab dan turut memajukan kerajaan-Mu di atas bumi ini. Amin.

Cilandak, 12 Juli 2-1-10  [Peringatan S. Yohanes Jones & Yohanes Wall, Martir-martir Inggris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASALAH PILIHAN (2)

 MASALAH PILIHAN (2)

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Selasa 13-7-10)

Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Israel, dengan Pekah bin Ramalya, raja Israel, maju ke Yerusaalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya. Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud: “Aram telah berkemah di wilayah Efraim,” maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.

Berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Yesaya: “Baiklah engkau keluar menemui menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu, dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya. Oleh karena Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata: Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya, kemudian mengangkat anak Taheel sebagai raja di tengah-tengahnya, maka beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak akan sampai hal itu dan tidak akan terjadi, sebab Damsyik ialah ibu kota Aram, dan Rezin ialah kepada Damsyik. Dalam enam puluh lima tahun Efraim akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi. Dan Samaria ialah ibu kota Efraim, dan anak Remalya ialah kepala Samaria. Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya” (Yes 7:1-9).

Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-8; Bacaan Injil: Mat 11:20-24).

Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya (Yes 7:9). Melalui nabi Yesaya, Allah berjanji kepada Raja Ahas dari Yehuda (kerajaan di selatan) bahwa pasukan-pasukan yang mengepung Yerusalem tidak akan berhasil menaklukkan kota itu. Di sini Ahas mempunyai dua pilihan: (1) Apakah dia dapat mempercayai apa yang telah disabdakan Allah; atau (2) apakah dia lebih mempercayai penilaian pribadinya sendiri atas situasi yang dihadapi. Kalau Ahas percaya kepada sabda Allah, maka dia akan mengambil langkah-langkah di bidang politik dan militer. Sebaliknya, apabila dia tidak percaya kepada apa yang disabdakan Allah, maka Ahas akan mengambil langkah-langkah yang berbeda. Jadi, keputusan Ahas berkenan dengan percaya-tidaknya dia kepada sabda Allah akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang serius, bagi dirinya sendiri maupun bangsa Israel.

Nama kota-kota yang disebutkan Yesus dalam khotbahnya sebenarnya juga menghadapi pilihan. Yesus memberikan kepada kota-kota itu suatu kesempatan untuk melakukan pertobatan agar dibersihkan dari dosa-dosa mereka, dan memasuki suatu relasi baru dengan Allah melalui diri-Nya (Yesus). Sayang sekali kebanyakan orang tidak memilih untuk bertobat (Mat 11:20-24). Mereka membuat pilihan salah dan tentunya akan mengalami penderitaan menyakitkan sebagai akibat kedosaan mereka.

Iman-kepercayaan dan ketidak-percayaan pasti membawa konsekuensi-konsekuensi riil dalam kehidupan kita. Iman-kepercayaan akan Allah menentukan diri kita. Apabila kita percaya akan janji-janji-Nya, apabila kita menaruh kepercayaan-penuh kepada kuasa salib Yesus, maka kita mengambil keputusan-keputusan berbeda, ketimbang kalau kita tidak memiliki iman. Langkah demi langkah, keputusan-keputusan iman kita akan membawa kita kepada suatu arahan baru. Jadi, kalau kita hidup oleh iman akan Yesus Kristus, maka kita akan terhindar dari hukuman Allah dan juga dari konsekuensi-konsekuensi alami tak-membahagiakan sebagai akibat pilihan-pilihan dosa yang kita buat tanpa iman.

Iman bukanlah sekadar berpikir positif atau upaya manusia semata-mata. Iman berarti kita mengandalkan segalanya kepada kebaikan Allah, Dia adalah andalan kita satu-satunya. Hanya pada Dialah kita menggantungkan diri kita, untuk mencapai apa yang telah dijanjikan-Nya. Setiap hari dalam kehidupan kita memberikan kesempatan/peluang yang tak terbilang banyaknya kepada kita untuk mempraktekkan iman-kepercayaan kita, selagi kita menghadapi berbagai tantangan hidup. Bahkan, sebuah langkah kita dalam ketaatan kepada-Nya yang sekecil apapun akan diberi ganjaran dalam bentuk  tanggapan Allah yang penuh gairah.

Barangkali pada saat ini kita – anda dan saya – sedang menghadapi keadaan yang sulit, misalnya relasi yang memburuk dengan pasangan hidup kita, menghadapi seorang anak yang suka memberontak dsb. Kita dapat mengetahui apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, namun kita ragu-ragu untuk bersikap dan berperilaku taat kepada kehendak-Nya. Barangkali di bawah pengaruh godaan-godaan kita bukan menimbang-nimbang apakah gunanya tetap setia kepada-Nya, apalagi selama ini kita merasakan bahwa doa-doa kita tidak dijawab-jawab oleh-Nya.

Semoga bacaan-bacaan hari ini dapat menjadi suatu dorongan bagi kita semua. Tetaplah bersama Tuhan. Jangan menyerah dalam melawan berbagai godaan. Ingatlah bahwa kalau kita tidak berdiri teguh  dalam dan oleh iman akan Yesus Kristus, maka kita pun tidak akan mampu berdiri lama-lama karena kejatuhan kita disebabkan oleh dosa sudah berada di depan mata. Hanya kuasa Allah saja yang dapat mengalahkan kuasa Iblis dan roh-roh jahatnya, yang senantiasa dengan begitu cerdik menggoda manusia agar jatuh dalam kedosaan. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji di kota Allah kita! (Mzm48:2).

DOA: Tuhan Yesus, kadang-kadang sulit bagiku untuk percaya bahwa Engkau akan tetap setia kepadaku. Namun hari ini, ya Tuhan,aku sungguh berpaling kepada-Mu saja. Aku membiarkan segala ketakutan dan penolakan untuk pergi dari diriku dan menaruh kepercayaan pada-Mu, karena Engkau sajalah satu-satunya andalanku. Amin.

Cilandak, 10-7-10 [Peringatan Santa Veronika Yuliani, Perawan dan Martir (Suster Klaris +1727)]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASALAH PILIHAN (1)

MASALAH PILIHAN (1)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV, Senin 12-7-10)

“Jangan kamu menyangka bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang  ialah orang-orang seisi rumahnya. Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, Ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,  ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka (Mat 10:34-11:1).

Pada hari Minggu Palma malam di tahun 1212 terjadilah peristiwa di Assisi yang sangat penting dalam ‘gerakan Fransiskan’ yang masih sangat muda pada waktu itu dan juga dalam sejarah Gereja. Pada malam itu seorang gadis muda-usia dari sebuah keluarga bangsawan Offreduccio yang baru berumur 18 tahun, melarikan diri dari rumahnya. Seperti telah disepakati bersama sebelumnya, di gereja Portiuncula gadis muda itu bertemu dengan seorang laki-laki muda bernama Francesco (Fransiskus) – si kecil miskin dari Assisi. Di sana Francesco memotong rambut perempuan muda yang bernama Chiara (Klara) Offreduccio itu, mengenakan kepadanya sepotong jubah kasar. Di situ pula, di hadapan  Fransiskus, Klara membuat komitmen untuk mengabdikan hidupnya bagi “Tuan Puteri Kemiskinan”.  Keluarga Offreduccio sangat terkejut dengan hilangnya Klara dari rumah. Mereka kemudian berusaha untuk membawanya kembali ke rumah, namun Klara bersiteguh dengan pilihan hidupnya itu. Pada waktu adiknya, Agnes, bergabung dengan Klara, keluarga Offreduccio mengirim 12 orang bersenjata guna ‘mengambil’ kedua perempuan muda itu. Namun ketika Klara berdoa, tubuh Agnes menjadi sedemikian berat sehingga tidak seorang pun yang datang menjemputnya mampu untuk mengangkat dia. Alhasil, baik Klara maupun Agnes dapat tetap tinggal dalam biara.

Pada masa itu Klara dipandang orang-orang sebagai salah seorang perempuan paling cantik di Assisi. Sebenarnya dengan mudah Klara dapat mendapatkan seorang suami yang baik dan terpandang dalam masyarakat. Akan tetapi Klara tidak memilih gaya hidup yang penuh kenyamanan dan kemakmuran, melainkan dia memilih hidup dalam sebuah biara tertutup. Di mata keluarganya keputusan Klara kelihatan tidak rasional samasekali, namun dia sangat mengerti bahwa Allah mempunyai suatu visi yang berbeda untuk hidupnya – suatu kehidupan yang penuh dengan ‘biaya pemuridan’ yang riil, tetapi dipenuhi oleh rahmat-Nya yang berlimpah. Sebagaimana dijanjikan oleh Yesus, Klara “kehilangan nyawanya karena Yesus, namun memperolehnya” (lihat Mat 10:39).

Klara juga menyadari sepenuhnya, bahwa dengan pilihannya itu dia akan kehilangan apa-apa saja, dan akan memperoleh apa-apa saja, dalam Yesus. Dalam suratnya yang pertama kepada Agnes dari Praha – seorang puteri raja dari Bohemia – yang juga telah meninggalkan kehormatan duniawi agar dapat dapat bergabung dengan ordo biarawati yang belum lama dimulai oleh Klara – Klara menulis sebagai berikut: “Memang pertukaran yang besar dan terpuji yakni: meninggalkan barang yang fana ganti barang kekal, mendapat yang surgawi ganti yang duniawi, mendapat seratus kali lipat ganti satu dan memperoleh milik berupa hidup kekal dan bahagia (Surat pertama Klara kepada Agnes dari Praha, 30 [terjemahan Pater C. Groenen OFM]). Memang ada begitu banyak hal-hal duniawi yang menggoda kita dalam usaha kita menjauhi atau mencampakkan kehidupan yang ditawarkan Yesus kepada kita. Walaupun kita tidak terbujuk oleh ‘wah’-nya hal-hal duniawi tersebut, tetap saja hal-hal itu dapat menimbulkan rasa tidak puas dalam diri kita atas segala hal yang telah kita miliki, apakah harta kekayaan, ilmu pengetahuan, ketenaran dsb. Terlampau sering kita melihat hal-hal duniawi yang memang berwujud – yang kita ingin tinggalkan – secara khasat mata itu jauh lebih jelas. Sebaliknyalah hidup berserah-diri kepada Kristus yang penuh sukacita itu sukar untuk dilihat secara khasat mata.

Tanpa relasi yang akrab dengan Kristus, tanpa asupan makanan rohani dan penghiburan dari Dia, maka kita tidak dapat meninggalkan kehidupan lama kita demi mengikut Yesus. Namun apabila kita terserap ke dalam cintakasih-Nya, kita pun sungguh akan menemukan diri kita dalam suatu gaya hidup sebagaimana ditawarkan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mempersembahkan hari ini kepada-Mu. Penuhilah hatiku dengan suatu hasrat berkobar-kobar untuk menyerahkan setiap saat kehidupanku kepada-Mu saja. Amin.

Cilandak, 9-7-10

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers