Posts from the ‘10-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2010’ Category

AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP

AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santo Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja, Kamis 30-9-10) 

Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku. Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku? Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya! Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu (Ayb 19:21-27). 

Bacaan Injil:Luk 9:46-50 

Di tengah-tengah penderitaannya, Ayub terus mempertahankan posisinya bahwa dia tidak bersalah. Sahabat-sahabatnya berpikir bahwa Ayub tentu telah berdosa sehingga mengalami penderitaan hebat seperti itu, namun Ayub merasakan bahwa dia secara tidak adil ditinggalkan oleh Allah, dan sekarang dia berseru mohon keadilan. Hasrat hatinya adalah agar seseorang mengakui kebenaran dirinya, meski setelah kematiannya sekali pun. 

Dalam tradisi Yahudi, seorang penebus (Ibrani: go’el) adalah seorang pembela atau pelindung orang miskin, yang akan membela mereka yang dituduh secara tidak adil, atau seorang penyelamat dari mereka yang kalau tidak ditolong akan dijual sebagai budak belian/hamba sahaya. Misalnya, kalau seseorang akan mati tanpa pewaris/turunan, maka salah seorang sanak keluarganya berkewajiban untuk membeli tanah orang yang akan mati itu dan memperhatikan kesejahteraan janda yang ditinggalkan (lihat Im 25:47-55). Orang yang membantu itu dinamakan seorang go’el. 

Meskipun ada tradisi tentang seorang penebus seperti ini, Ayub memandang dirinya berdiri sendiri, tidak punya siapa-siapa. Oleh karena itu dia berseru agar dapat memperoleh keadilan terakhir. Dengan suatu seruan iman di tengah-tengah suatu situasi yang kelihatannya absurd, Ayub berkata: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25). Ia tahu bahwa si penebus atau go’el ini akan membela dirinya di depan para pendakwanya. Dia akan dibenarkan oleh si penebus, maka akhirnya dia akan mampu memandang Allah muka ketemu muka. 

Baik iman Ayub maupun kondisi kemanusiaan kita harus dipandang dalam terang Yesus Kristus, Penebus kita yang sejati. Oleh salib-Nya, Dia telah menyelamatkan kita dari kuasa maut. Sekarang setelah bangkit dalam kemuliaan, Ia berdiri bersama kita di hadapan pendakwa kita. Ia membela dan mendukung kita. Oleh darah-Nya sendiri, Dia telah menebus kita dari dosa dan membuat kita benar di hadapan Allah. Kita tidak dibuang atau ditinggalkan, karena Yesus senantiasa bersama kita. 

Walaupun kita tidak senantiasa memahami rencana Allah, kita selalu dapat hidup dalam pengharapan bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah dan melihat Dia dalam kemuliaan dan keagungan-Nya. Apa yang sekarang kita lihat sebagai gambaran yang samar-samar, pada hari itu akan bersinar terang penuh kemuliaan (lihat 1Kor 13:12) Kita pun dapat mengatakan: “Aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25), dan dengan penuh keyakinan menghadapi situasi  apa pun yang akan kita jumpai dan gumuli kelak. 

DOA: Tuhan Yesus, apapun yang terjadi padaku hari ini, aku akan tetap menaruh harapanku dalam Engkau, ya Tuhan dan Penebusku. Berdirilah membela aku, hiburlah aku dan pimpinlah aku dalam berjalan menuju rumah abadiku bersama-Mu. Aku percaya penuh akan kasih-Mu kepadaku dan aku berketetapan untuk mewujudkan segala tindak-tandukku hari ini di atas dasar kasih-Mu itu. Amin. 

Cilandak, 28 September 2010 [Peringatan B. Innocentius dari Bertio, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG (2)

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG (2)

(Bacaan Misa Kudus Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung, Rabu 29-9-10)

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat” (Why 12:7-12).

Bacaan Pertama: Dan 7:9-10,13-14;  Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung, para pelayan Allah gagah-perkasa, yang memainkan peranan penting dalam rencana-penyelamatan-Nya. Saudari-saudara Kristiani yang bukan Katolik tentu hanya mengenal dua nama saja. Nama Rafael muncul dalam Kitab Tobit yang tidak ada dalam Alkitab mereka. Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung (kalau ada waktu, silahkan membaca tentang hal itu di Encyclopaedia Britannica). Rafael memperkenalkan dirinya kepada Tobit dengan berkata: Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat di hadapan Tuhan yang mulia” (Tob 12:15). 

Dalam zaman modern di mana kita manusia cenderung untuk mempertimbangkan hampir segalanya (kalau tidak mau dikatakan ‘segala-galanya’) dari  suatu perspektif duniawi, maka pesta seperti ini mengingatkan kita akan keberadaan berbagai makhluk surgawi yang disebut “singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa” (lihat Kol 1:16), juga tentang “roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14). 

Tradisi mengatakan bahwa yang paling perkasa dari para malaikat agung adalah Mikael, sang penghulu malaikat atau katakanlah ‘panglima’ bala tentara malaikat yang mengalahkan Lucifer yang para malaikat pengikutnya yang memberontak, dan membuang semuanya ke neraka. Seperti para malaikat lainnya, Lucifer diciptakan untuk melayani dan memuliakan Allah. Namun Lucifer dan para pengikutnya memilih untuk tidak tunduk di bawah kuasa sang Pencipta. Dengan menolak otoritas Allah mereka pun jatuh terbuang dari kemuliaan surgawi dan malah menjadi kekuatan jahat yang terus berupaya untuk menggagalkan manusia untuk memperoleh warisan surgawi dalam Kristus. 

Bacaan-bacaan Misa hari ini menunjukkan kepada kita bahwa “perang roh” (spiritual warfare) merupakan suatu realitas, dan kita dapat memenangkan peperangan itu oleh kuasa salib dan darah Yesus. Iblis dan begundal-begundalnya sangat iri terhadap kenyataan posisi kita dalam Kristus. Seperti ditulis oleh Santo Petrus: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Perlindungan yang baik bagi kita adalah untuk berada dekat Yesus. Bagaimana? Dengan membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, berdoa, dan menerima sakramen-sakramen secara teratur. 

Santo Paulus dengan wanti-wanti mengingatkan umat Kristiani di Efesus: “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef 6:12). Pesan Paulus ini tentunya berlaku juga bagi kita semua yang hidup di zaman sekarang ini. Dengan demikian,  marilah kita memusatkan pandangan kita pada Yesus dan berketetapan hati untuk melawan Iblis dan roh-roh jahat lainnya dengan senjata doa, kerendahan hati dan iman. Lalu, sebagaimana halnya dengan Guru kita, para malaikat akan datang untuk mendampingi kita, membawa penghiburan dari Allah serta perlindungan-Nya (lihat Mat 4:11).

DOA: Allah, pencipta alam semesta, tugas malaikat dan manusia Kaubagikan dengan bijaksana. Para malaikat tetap mengabdi-Mu dan mendampingi Engkau di surga. Moga-moga mereka juga melindungi hidup kami di dunia. Dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Kami persilahkan anda membaca tulisan tahun 2009 dengan judul yang sama dalam blog ini, kategori: 09-09 BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009.

Cilandak, 27 September 2010 [Peringatan S. Vincentius de Paul (Imam)]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Selasa 28 September 2010) 

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain (Luk 9:51-56). 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua. 

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana. 

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari jalan kekerasan! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56). 

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekedar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. 

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib seakan penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Cilandak, 24 September 2010  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santo Vicentius de Paul, Senin 27-9-10) 

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran merekia. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk 9:46-50). 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka? 

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi ‘persaingan tidak sehat’ satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah. 

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). 

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.” 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin. 

Cilandak, 23 September 2010 [Peringatan S. “Padre Pio” dari Pietrelcina, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI, 26-9-10) 

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan  borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orng miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus  segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan meu diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:19-31). 

Allah, Bapa kita, ingin agar kita masing-masing bersama-Nya dalam hidup kekal, dalam suatu hubungan kasih ilahi. Karena kasih hanya dapat diberikan secara bebas, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk diam dekat bersama-Nya atau menjauhkan diri daripada-Nya. Hari demi hari, Allah memberikan kepada kita peluang-peluang atau kesempatan-kesempatan bagi kita untuk menggunakan kebebasan kita. 

Inilah kasus yang ada dalam perumpamaan Yesus tentang si orang kaya dan pengemis yang bernama Lazarus. Kehidupan mereka sangat berbeda satu sama lain, namun Allah mengasihi mereka secara sama dan menawarkan kepada mereka berdua kesempatan-kesempatan untuk mengasihi-Nya. Menurut pengamatan Santo Yohanes Krisostomos [344-407], Lazarus mempunyai pilihan untuk menanggung penderitaannya dengan sabar dan penuh kepercayaan kepada Allah. Di lain pihak si orang kaya itu mempunyai pilihan untuk meringankan penderitaan Lazarus. 

Lazarus bekerja sama dengan tujuan-tujuan Allah, akan tetapi si orang kaya tidak begitu: dia memilih jalannya sendiri. Orang kaya ini mempunyai “Musa dan para nabi”, artinya Kitab Suci. Yang lebih penting lagi, dia mempunyai Lazarus yang berbaring di dekat pintu rumahnya. Dari hari ke hari, kehadiran Lazarus merupakan undangan yang dikaruniakan Allah kepada orang kaya itu supaya menyingkirkan segala hasratnya untuk memuaskan diri sendiri saja, dan bermurah hati terhadap sesama manusia yang perlu ditolong. Karena orang kaya itu menolak kasih Allah, ujung-ujungnya dia sangat menderita dalam api. Akhirnya dialah yang menjadi pengemis, sementara masuk ke dalam kehidupan kekal dengan Tuhan. 

Ada sedikita cerita mengenai Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897]. Sebagai seorang biarawati muda Suster Teresa diminta untuk merawat seorang suster yang sudah tua. Suster tua ini terus saja mengeluh mengenai apa saja yang dilakukan oleh Suster Teresa. Meskipun begitu Suster Teresa percaya bahwa Bapa surgawi sedang memakai situasi ini untuk menempa cintakasih dalam hatinya, yang tidak dapat dihasilkan dengan kekuatannya sendiri. Allah menawarkan hati-Nya sendiri kepada biarawati muda usia ini! Sebenarnya setiap hari Tuhan Allah menyediakan bagi kita situasi-situasi serupa di mana kita dapat menyingkirkan hasrat-hasrat kita yang penuh keserakahan, kemudian merangkul Yesus melalui perbuatan-perbuatan baik penuh belas-kasihan terhadap saudari dan saudara kita. Allah Bapa ingin memberikan kepada kita masing-masing hati  baru yang sangat senang dalam mengikuti jalan-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Terima kasih untuk kasih-Mu yang sempurna bagi kami. Kami memberikan hati kami sehingga Engkau dapat bekerja lewat diri kami seturut kehendak-Mu. Kami rindu untuk bersama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Cilandak, 22 September 2010 [Peringatan S. Ignatius dari Santhia, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Sabtu 25-9-10) 

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya (Luk 9:43b-45). 

Apa jadinya kalau ilmu kedokteran dan pengobatan berhasil mencapai puncaknya dan berhasil menghentikan semua sakit-penyakit? Tentunya hal seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang luarbiasa, namun tentunya – oleh iman – kita tahu bahwa hal itu tidak akan menjawab kebutuhan-kebutuhan spiritual kita. Hanya SALIB KRISTUS-lah yang dapat menjawab hasrat hati kita akan Allah. Lukas mengungkapkan pokok kebenaran ini dengan melakukan penjajaran antara “cerita tentang mukjizat Yesus” dengan “pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus” (bacaan hari ini). Ketika Yesus mengusir roh jahat dan menyembuhkannya (lihat Luk 9:38-42), maka “takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah” (Lukl 9:43a). Namun sementara orang banyak itu terpesona dan terkagum-kagum pada segala kebaikan yang diperbuat-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia” (Luk 9:43b-44). 

Sekali lagi, Yesus mengungkapkan realitas sentral dari misi-Nya kepada semua orang yang akan menjadi murid-murid-Nya. Salib Kristus adalah jalan penyelamatan dan kehidupan kekal. Kemuridan/pemuridan berarti kebersatuan dengan sang Guru, Yesus …… artinya kebersatuan dengan Allah, yang berarti kepenuhan hidup. Hal ini bukanlah sebuah hasil mukjizat-mukjizat atau pengajaran-pengajaran, melainkan didapat melalui ketaatan kepada panggilan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). 

Karena iman-kepercayaan mereka, para murid mampu untuk keluar “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Luk 9:6). Itu adalah buah dari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, namun bukan hakekatnya. Kemuridan-penuh berarti memperkenankan salib Kristus untuk memisahkan kita dari kedosaan dan membuat kita lebih serupa lagi dengan gambar (imaji) sang Putera Allah. 

Ini adalah untuk kedua kalinya Yesus membuat prediksi (kalau tidak mau dikatakan “nubuat”) kepada para murid-Nya tentang sengsara dan wafat-Nya, namun Injil mencatat: “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya” (Luk 9:45). Pada akhirnya, mereka harus mengalami kebangkitan Kristus dulu untuk dapat memahami benar apa arti sesungguhnya dari salib-Nya. Demikian pula kiranya dengan kita semua. Hanya oleh kuasa Roh Kudus-lah kita dapat mengalami arti kebebas-merdekaan dan pengharapan yang tersedia bagi kita semua, yaitu apabila kita memperkenankan salib Kristus untuk membinasakan segala jalan kedosaan di dalam diri kita. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membuka pikiran dan hati kita bagi kuasa yang dapat mengalir dari kebersatuan kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. 

Cilandak, 22 September 2010 [Peringatan S. Ignatius dari Santhia, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH

YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Jumat, 24-9-10) 

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:18-22). 

Yang baru kita baca ini adalah salah satu pembicaraan paling terkenal yang tercatat dalam Kitab Suci. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Dengan pengakuan ini, tidak akan ada lagi yang sama ke depannya. Setelah melihat dengan mata sendiri bagaimana Yesus membuat berbagai mukjizat dan tanda heran di seluruh Galilea, para rasul sekarang mulai perjalanan mereka ke Yerusalem di mana “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22). 

Sebelum pembicaraan ini Lukas menceritakan kepada kita bahwa Yesus berdoa seorang diri (lihat Luk 9:18). Di sepanjang Injilnya Lukas memang menggambarkan Yesus sebagai pendoa par excellence. Yesus selalu terserap dalam doa sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam hidup-Nya. Pada waktu baptisan-Nya, Yesus sedang berdoa ketika Roh Kudus datang dalam rupa burung merpati ke atas-Nya (lihat Luk 3:21-22). Yesus berdoa sepanjang malam sebelum memilih para rasul yang berjumlah dua belas orang itu (lihat Luk 6:12-13). Yesus sedang berdoa ketika Yesus ditransfigurasikan di atas gunung (lihat Luk 9:28-30). Pada malam sebelum ditangkap, ketika di taman Getsemani Yesus berdoa kepada Bapa-Nya (lihat Luk 22:39-46). Sepanjang Injil Lukas ini kita lihat Yesus yang mengandalkan diri sepenuhnya pada hikmat Allah dan kuasa-Nya. 

Ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya siapakah Dia menurut mereka, Dia sebenarnya tidak hanya memberi tantangan kepada murid-murid-Nya itu, melainkan juga mengundang mereka masuk ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Yesus ingin agar mereka belajar membuka hati mereka kepada Allah dalam doa dan menerima kehidupan Allah dan kasih-Nya. Dalam “Kisah Para Rasul”, Lukas bercerita kepada kita bahwa selagi para rasul belajar bagaimana berdoa, mereka pun menjadi para pelayan Injil yang efektif, memahami tujuan-tujuan Allah dan dengan segala keikhlasan mempertaruhkan nyawa mereka demi Kerajaan Allah (lihat Kis 4:23-31; 10:9-48; 27:21-26). 

Yesus mengundang kita semua untuk mengenal Dia dalam doa. Dia telah membuat banyak mukjizat dalam kehidupan kita, namun dalam kemurahan hati-Nya dia ingin memberikan kepada kita masing-masing lebih banyak lagi berkat karunia. Selagi kita melihat kemuliaan-Nya dalam doa, Dia akan mengisi hati kita masing-masing dengan rasa takjub dan syukur. Roh Kudus akan menyatakan Yesus kepada kita. Dia akan mengubah hati kita dan mengajar kita  bagaimana mengenal dan mengalami kehadiran Allah sepanjang hari yang kita jalani. 

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diri kami dengan kerinduan untuk mengenal-Mu lebih dekat lagi. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, nyalakanlah dalam hati kami suatu hasrat berkobar-kobar akan pernyataan diri-Mu. Selagi kami berdoa, bukalah mata hati kami untuk melihat kemuliaan dan kesempurnaan-Mu. Amin. 

Cilandak, 20 September 2010 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam  dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers