Posts from the ‘10-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2010’ Category

AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP

AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santo Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja, Kamis 30-9-10) 

Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku. Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku? Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya! Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu (Ayb 19:21-27). 

Bacaan Injil:Luk 9:46-50 

Di tengah-tengah penderitaannya, Ayub terus mempertahankan posisinya bahwa dia tidak bersalah. Sahabat-sahabatnya berpikir bahwa Ayub tentu telah berdosa sehingga mengalami penderitaan hebat seperti itu, namun Ayub merasakan bahwa dia secara tidak adil ditinggalkan oleh Allah, dan sekarang dia berseru mohon keadilan. Hasrat hatinya adalah agar seseorang mengakui kebenaran dirinya, meski setelah kematiannya sekali pun. 

Dalam tradisi Yahudi, seorang penebus (Ibrani: go’el) adalah seorang pembela atau pelindung orang miskin, yang akan membela mereka yang dituduh secara tidak adil, atau seorang penyelamat dari mereka yang kalau tidak ditolong akan dijual sebagai budak belian/hamba sahaya. Misalnya, kalau seseorang akan mati tanpa pewaris/turunan, maka salah seorang sanak keluarganya berkewajiban untuk membeli tanah orang yang akan mati itu dan memperhatikan kesejahteraan janda yang ditinggalkan (lihat Im 25:47-55). Orang yang membantu itu dinamakan seorang go’el. 

Meskipun ada tradisi tentang seorang penebus seperti ini, Ayub memandang dirinya berdiri sendiri, tidak punya siapa-siapa. Oleh karena itu dia berseru agar dapat memperoleh keadilan terakhir. Dengan suatu seruan iman di tengah-tengah suatu situasi yang kelihatannya absurd, Ayub berkata: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25). Ia tahu bahwa si penebus atau go’el ini akan membela dirinya di depan para pendakwanya. Dia akan dibenarkan oleh si penebus, maka akhirnya dia akan mampu memandang Allah muka ketemu muka. 

Baik iman Ayub maupun kondisi kemanusiaan kita harus dipandang dalam terang Yesus Kristus, Penebus kita yang sejati. Oleh salib-Nya, Dia telah menyelamatkan kita dari kuasa maut. Sekarang setelah bangkit dalam kemuliaan, Ia berdiri bersama kita di hadapan pendakwa kita. Ia membela dan mendukung kita. Oleh darah-Nya sendiri, Dia telah menebus kita dari dosa dan membuat kita benar di hadapan Allah. Kita tidak dibuang atau ditinggalkan, karena Yesus senantiasa bersama kita. 

Walaupun kita tidak senantiasa memahami rencana Allah, kita selalu dapat hidup dalam pengharapan bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah dan melihat Dia dalam kemuliaan dan keagungan-Nya. Apa yang sekarang kita lihat sebagai gambaran yang samar-samar, pada hari itu akan bersinar terang penuh kemuliaan (lihat 1Kor 13:12) Kita pun dapat mengatakan: “Aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25), dan dengan penuh keyakinan menghadapi situasi  apa pun yang akan kita jumpai dan gumuli kelak. 

DOA: Tuhan Yesus, apapun yang terjadi padaku hari ini, aku akan tetap menaruh harapanku dalam Engkau, ya Tuhan dan Penebusku. Berdirilah membela aku, hiburlah aku dan pimpinlah aku dalam berjalan menuju rumah abadiku bersama-Mu. Aku percaya penuh akan kasih-Mu kepadaku dan aku berketetapan untuk mewujudkan segala tindak-tandukku hari ini di atas dasar kasih-Mu itu. Amin. 

Cilandak, 28 September 2010 [Peringatan B. Innocentius dari Bertio, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG (2)

PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG (2)

(Bacaan Misa Kudus Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung, Rabu 29-9-10)

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat” (Why 12:7-12).

Bacaan Pertama: Dan 7:9-10,13-14;  Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung, para pelayan Allah gagah-perkasa, yang memainkan peranan penting dalam rencana-penyelamatan-Nya. Saudari-saudara Kristiani yang bukan Katolik tentu hanya mengenal dua nama saja. Nama Rafael muncul dalam Kitab Tobit yang tidak ada dalam Alkitab mereka. Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung (kalau ada waktu, silahkan membaca tentang hal itu di Encyclopaedia Britannica). Rafael memperkenalkan dirinya kepada Tobit dengan berkata: Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat di hadapan Tuhan yang mulia” (Tob 12:15). 

Dalam zaman modern di mana kita manusia cenderung untuk mempertimbangkan hampir segalanya (kalau tidak mau dikatakan ‘segala-galanya’) dari  suatu perspektif duniawi, maka pesta seperti ini mengingatkan kita akan keberadaan berbagai makhluk surgawi yang disebut “singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa” (lihat Kol 1:16), juga tentang “roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14). 

Tradisi mengatakan bahwa yang paling perkasa dari para malaikat agung adalah Mikael, sang penghulu malaikat atau katakanlah ‘panglima’ bala tentara malaikat yang mengalahkan Lucifer yang para malaikat pengikutnya yang memberontak, dan membuang semuanya ke neraka. Seperti para malaikat lainnya, Lucifer diciptakan untuk melayani dan memuliakan Allah. Namun Lucifer dan para pengikutnya memilih untuk tidak tunduk di bawah kuasa sang Pencipta. Dengan menolak otoritas Allah mereka pun jatuh terbuang dari kemuliaan surgawi dan malah menjadi kekuatan jahat yang terus berupaya untuk menggagalkan manusia untuk memperoleh warisan surgawi dalam Kristus. 

Bacaan-bacaan Misa hari ini menunjukkan kepada kita bahwa “perang roh” (spiritual warfare) merupakan suatu realitas, dan kita dapat memenangkan peperangan itu oleh kuasa salib dan darah Yesus. Iblis dan begundal-begundalnya sangat iri terhadap kenyataan posisi kita dalam Kristus. Seperti ditulis oleh Santo Petrus: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8). Perlindungan yang baik bagi kita adalah untuk berada dekat Yesus. Bagaimana? Dengan membaca sabda Allah dalam Kitab Suci, berdoa, dan menerima sakramen-sakramen secara teratur. 

Santo Paulus dengan wanti-wanti mengingatkan umat Kristiani di Efesus: “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef 6:12). Pesan Paulus ini tentunya berlaku juga bagi kita semua yang hidup di zaman sekarang ini. Dengan demikian,  marilah kita memusatkan pandangan kita pada Yesus dan berketetapan hati untuk melawan Iblis dan roh-roh jahat lainnya dengan senjata doa, kerendahan hati dan iman. Lalu, sebagaimana halnya dengan Guru kita, para malaikat akan datang untuk mendampingi kita, membawa penghiburan dari Allah serta perlindungan-Nya (lihat Mat 4:11).

DOA: Allah, pencipta alam semesta, tugas malaikat dan manusia Kaubagikan dengan bijaksana. Para malaikat tetap mengabdi-Mu dan mendampingi Engkau di surga. Moga-moga mereka juga melindungi hidup kami di dunia. Dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Kami persilahkan anda membaca tulisan tahun 2009 dengan judul yang sama dalam blog ini, kategori: 09-09 BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009.

Cilandak, 27 September 2010 [Peringatan S. Vincentius de Paul (Imam)]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

SELALU ADA JALAN LAIN DI LUAR JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI, Selasa 28 September 2010) 

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain (Luk 9:51-56). 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua. 

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana. 

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari jalan kekerasan! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56). 

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekedar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan. 

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib seakan penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Cilandak, 24 September 2010  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santo Vicentius de Paul, Senin 27-9-10) 

Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran merekia. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu” (Luk 9:46-50). 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka? 

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi ‘persaingan tidak sehat’ satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah. 

Sejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). 

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.” 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Allah, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin. 

Cilandak, 23 September 2010 [Peringatan S. “Padre Pio” dari Pietrelcina, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI, 26-9-10) 

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan  borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orng miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus  segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan meu diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:19-31). 

Allah, Bapa kita, ingin agar kita masing-masing bersama-Nya dalam hidup kekal, dalam suatu hubungan kasih ilahi. Karena kasih hanya dapat diberikan secara bebas, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk diam dekat bersama-Nya atau menjauhkan diri daripada-Nya. Hari demi hari, Allah memberikan kepada kita peluang-peluang atau kesempatan-kesempatan bagi kita untuk menggunakan kebebasan kita. 

Inilah kasus yang ada dalam perumpamaan Yesus tentang si orang kaya dan pengemis yang bernama Lazarus. Kehidupan mereka sangat berbeda satu sama lain, namun Allah mengasihi mereka secara sama dan menawarkan kepada mereka berdua kesempatan-kesempatan untuk mengasihi-Nya. Menurut pengamatan Santo Yohanes Krisostomos [344-407], Lazarus mempunyai pilihan untuk menanggung penderitaannya dengan sabar dan penuh kepercayaan kepada Allah. Di lain pihak si orang kaya itu mempunyai pilihan untuk meringankan penderitaan Lazarus. 

Lazarus bekerja sama dengan tujuan-tujuan Allah, akan tetapi si orang kaya tidak begitu: dia memilih jalannya sendiri. Orang kaya ini mempunyai “Musa dan para nabi”, artinya Kitab Suci. Yang lebih penting lagi, dia mempunyai Lazarus yang berbaring di dekat pintu rumahnya. Dari hari ke hari, kehadiran Lazarus merupakan undangan yang dikaruniakan Allah kepada orang kaya itu supaya menyingkirkan segala hasratnya untuk memuaskan diri sendiri saja, dan bermurah hati terhadap sesama manusia yang perlu ditolong. Karena orang kaya itu menolak kasih Allah, ujung-ujungnya dia sangat menderita dalam api. Akhirnya dialah yang menjadi pengemis, sementara masuk ke dalam kehidupan kekal dengan Tuhan. 

Ada sedikita cerita mengenai Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897]. Sebagai seorang biarawati muda Suster Teresa diminta untuk merawat seorang suster yang sudah tua. Suster tua ini terus saja mengeluh mengenai apa saja yang dilakukan oleh Suster Teresa. Meskipun begitu Suster Teresa percaya bahwa Bapa surgawi sedang memakai situasi ini untuk menempa cintakasih dalam hatinya, yang tidak dapat dihasilkan dengan kekuatannya sendiri. Allah menawarkan hati-Nya sendiri kepada biarawati muda usia ini! Sebenarnya setiap hari Tuhan Allah menyediakan bagi kita situasi-situasi serupa di mana kita dapat menyingkirkan hasrat-hasrat kita yang penuh keserakahan, kemudian merangkul Yesus melalui perbuatan-perbuatan baik penuh belas-kasihan terhadap saudari dan saudara kita. Allah Bapa ingin memberikan kepada kita masing-masing hati  baru yang sangat senang dalam mengikuti jalan-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Terima kasih untuk kasih-Mu yang sempurna bagi kami. Kami memberikan hati kami sehingga Engkau dapat bekerja lewat diri kami seturut kehendak-Mu. Kami rindu untuk bersama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Cilandak, 22 September 2010 [Peringatan S. Ignatius dari Santhia, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

PEMBERITAHUAN KEDUA TENTANG PENDERITAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Sabtu 25-9-10) 

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya (Luk 9:43b-45). 

Apa jadinya kalau ilmu kedokteran dan pengobatan berhasil mencapai puncaknya dan berhasil menghentikan semua sakit-penyakit? Tentunya hal seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang luarbiasa, namun tentunya – oleh iman – kita tahu bahwa hal itu tidak akan menjawab kebutuhan-kebutuhan spiritual kita. Hanya SALIB KRISTUS-lah yang dapat menjawab hasrat hati kita akan Allah. Lukas mengungkapkan pokok kebenaran ini dengan melakukan penjajaran antara “cerita tentang mukjizat Yesus” dengan “pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus” (bacaan hari ini). Ketika Yesus mengusir roh jahat dan menyembuhkannya (lihat Luk 9:38-42), maka “takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah” (Lukl 9:43a). Namun sementara orang banyak itu terpesona dan terkagum-kagum pada segala kebaikan yang diperbuat-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia” (Luk 9:43b-44). 

Sekali lagi, Yesus mengungkapkan realitas sentral dari misi-Nya kepada semua orang yang akan menjadi murid-murid-Nya. Salib Kristus adalah jalan penyelamatan dan kehidupan kekal. Kemuridan/pemuridan berarti kebersatuan dengan sang Guru, Yesus …… artinya kebersatuan dengan Allah, yang berarti kepenuhan hidup. Hal ini bukanlah sebuah hasil mukjizat-mukjizat atau pengajaran-pengajaran, melainkan didapat melalui ketaatan kepada panggilan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). 

Karena iman-kepercayaan mereka, para murid mampu untuk keluar “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Luk 9:6). Itu adalah buah dari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, namun bukan hakekatnya. Kemuridan-penuh berarti memperkenankan salib Kristus untuk memisahkan kita dari kedosaan dan membuat kita lebih serupa lagi dengan gambar (imaji) sang Putera Allah. 

Ini adalah untuk kedua kalinya Yesus membuat prediksi (kalau tidak mau dikatakan “nubuat”) kepada para murid-Nya tentang sengsara dan wafat-Nya, namun Injil mencatat: “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya” (Luk 9:45). Pada akhirnya, mereka harus mengalami kebangkitan Kristus dulu untuk dapat memahami benar apa arti sesungguhnya dari salib-Nya. Demikian pula kiranya dengan kita semua. Hanya oleh kuasa Roh Kudus-lah kita dapat mengalami arti kebebas-merdekaan dan pengharapan yang tersedia bagi kita semua, yaitu apabila kita memperkenankan salib Kristus untuk membinasakan segala jalan kedosaan di dalam diri kita. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membuka pikiran dan hati kita bagi kuasa yang dapat mengalir dari kebersatuan kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin. 

Cilandak, 22 September 2010 [Peringatan S. Ignatius dari Santhia, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH

YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Jumat, 24-9-10) 

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:18-22). 

Yang baru kita baca ini adalah salah satu pembicaraan paling terkenal yang tercatat dalam Kitab Suci. Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Dengan pengakuan ini, tidak akan ada lagi yang sama ke depannya. Setelah melihat dengan mata sendiri bagaimana Yesus membuat berbagai mukjizat dan tanda heran di seluruh Galilea, para rasul sekarang mulai perjalanan mereka ke Yerusalem di mana “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22). 

Sebelum pembicaraan ini Lukas menceritakan kepada kita bahwa Yesus berdoa seorang diri (lihat Luk 9:18). Di sepanjang Injilnya Lukas memang menggambarkan Yesus sebagai pendoa par excellence. Yesus selalu terserap dalam doa sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam hidup-Nya. Pada waktu baptisan-Nya, Yesus sedang berdoa ketika Roh Kudus datang dalam rupa burung merpati ke atas-Nya (lihat Luk 3:21-22). Yesus berdoa sepanjang malam sebelum memilih para rasul yang berjumlah dua belas orang itu (lihat Luk 6:12-13). Yesus sedang berdoa ketika Yesus ditransfigurasikan di atas gunung (lihat Luk 9:28-30). Pada malam sebelum ditangkap, ketika di taman Getsemani Yesus berdoa kepada Bapa-Nya (lihat Luk 22:39-46). Sepanjang Injil Lukas ini kita lihat Yesus yang mengandalkan diri sepenuhnya pada hikmat Allah dan kuasa-Nya. 

Ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya siapakah Dia menurut mereka, Dia sebenarnya tidak hanya memberi tantangan kepada murid-murid-Nya itu, melainkan juga mengundang mereka masuk ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Yesus ingin agar mereka belajar membuka hati mereka kepada Allah dalam doa dan menerima kehidupan Allah dan kasih-Nya. Dalam “Kisah Para Rasul”, Lukas bercerita kepada kita bahwa selagi para rasul belajar bagaimana berdoa, mereka pun menjadi para pelayan Injil yang efektif, memahami tujuan-tujuan Allah dan dengan segala keikhlasan mempertaruhkan nyawa mereka demi Kerajaan Allah (lihat Kis 4:23-31; 10:9-48; 27:21-26). 

Yesus mengundang kita semua untuk mengenal Dia dalam doa. Dia telah membuat banyak mukjizat dalam kehidupan kita, namun dalam kemurahan hati-Nya dia ingin memberikan kepada kita masing-masing lebih banyak lagi berkat karunia. Selagi kita melihat kemuliaan-Nya dalam doa, Dia akan mengisi hati kita masing-masing dengan rasa takjub dan syukur. Roh Kudus akan menyatakan Yesus kepada kita. Dia akan mengubah hati kita dan mengajar kita  bagaimana mengenal dan mengalami kehadiran Allah sepanjang hari yang kita jalani. 

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diri kami dengan kerinduan untuk mengenal-Mu lebih dekat lagi. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, nyalakanlah dalam hati kami suatu hasrat berkobar-kobar akan pernyataan diri-Mu. Selagi kami berdoa, bukalah mata hati kami untuk melihat kemuliaan dan kesempurnaan-Mu. Amin. 

Cilandak, 20 September 2010 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam  dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEWARTAAN KABAR BAIK TAK AKAN PERNAH DAPAT DIBENDUNG

PEWARTAAN KABAR BAIK TAK AKAN PERNAH DAPAT DIBENDUNG

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Pius (Padre Pio) dari Pietrelcina, Imam, Kamis, 23-9-10) 

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus (Luk 9:7-9). 

Yohanes Pembaptis telah dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes, antara lain untuk ‘membebaskan’ diri Herodus dari pesan ‘pertobatan dan rekonsiliasi dengan Allah’ yang disampaikan oleh Yohanes. Yohanes berbicara mengenai sabda Allah dengan begitu jelasnya sehingga Herodes merasakan dirinya begitu bersalah, begitu berdosa, teristiwa hubungan “perkawinan haramnya” (baca: perselingkuhannya) dengan ipar perempuannya sendiri (lihat Luk 3:19-20). Bukannya melakukan pertobatan dan kembali ke jalan Allah setelah mendengar pemberitaan Yohanes, Herodes malah menyuruh para algojo membunuh Yohanes, dengan harapan pesannya terkubur bersama sang bentara pesan pertobatan itu. 

Karena rasa bersalahnya yang tak kunjung hilang dan rasa takut yang melanda dirinya, kemudian datang lagi berita bertubi-tubi tentang para murid Yesus yang berkarya memberitakan Kerajaan Allah sambil melakukan penyembuhan orang-orang sakit, maka Herodes semakin dikuasai oleh ‘rasa takut yang melumpuhkan’ terhadap Yesus dan para murid-Nya. Apabila membunuh sang bentara tidak berhasil menghapus pesan yang disampaikan, bagaimana dia dapat melarikan diri? Herodes merasa bingung karena tidak ada satu pun dari dunia ini yang dapat mencegah pesan keselamatan Allah itu diwartakan. Di bagian belakang Injil Lukas ini kita membaca bahwa Herodus sekali lagi menghadapi dua alternatif pilihan, yaitu (1) mendengarkan sang bentara yang membawa pesan, ataukah (2) menghukumnya sampai mati agar pesannya juga dibuat bungkam (lihat Luk 23:7-12). Bukannya belajar dari pengalamannya dalam kasus Yohanes Pembaptis, Herodus malah memilih untuk menjadi bagian dalam penyaliban Yesus. 

Dalam kedua kasus itu Herodus melihat apa yang terjadi apabila kuasa Allah mengubah secara dahsyat kematian menjadi kehidupan. Kuasa Allah-lah yang memampukan Yohanes Pembaptis untuk tetap setia kepada panggilannya, bahkan sampai kematiannya. Kuasa ilahi yang sama pulalah yang memampukan Yesus untuk mengampuni orang-orang yang menghukumnya dan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan Bapa surgawi. Ini adalah kuasa ilahi yang dicurahkan ke atas para murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kuasa ini memampukan para murid untuk mewartakan Injil dengan berani dan penuh keyakinan. Abad berganti abad, Allah telah bertindak dengan penuh kuasa, membangun kerajaan-Nya melalui para pelayan-Nya. Dari zaman ke zaman juga ada kekuatan-kekuatan yang ingin membungkam penyebaran pemberitaan pesan penyelamatan Allah ini dengan membungkam para bentara-Nya (para pelayan sabda-Nya), tetapi selalu saja tidak berhasil. 

Kedua belas murid berkeliling (bukan untuk tebar pesona) untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan pekerjaan yang telah dibuat Yesus. Nah, kita pun dapat menjadi seperti Guru kita, Yesus.  Tidak peduli betapa besarnya pun oposisi yang kita hadapi, apabila kita sudah berketetapan hati, seperti Yesus, untuk mengasihi setiap orang dan mengampuni setiap orang yang mendzolomi kita, maka kita akan mampu ikut memajukan kerajaan-Nya di muka bumi ini. Baiklah kita mohon kepada Roh Kudus agar membuat kita lebih serupa lagi dengan Yesus Kristus, mewartakan Kabar Baik keselamatan kemana saja kita pergi. 

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memuliakan Engkau dalam segala yang kami ucapkan dan kami buat. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar sungguh dapat menjauhkan diri dari dosa dan merangkul kehidupan-Mu sepenuhnya, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa lagi dengan-Mu. Amin. 

Cilandak, 20 September 2010 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYENANGKAN ALLAH

MENYENANGKAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV, Rabu 22-9-10)

Peringatan: Santo Ignatius dari Santhia [+1170], Imam Kapusin

Semua firman Allah adalah murni, Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambah firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta. Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN (YHWH) itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku (Ams 30:5-9). 

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163; Bacaan Injil: Luk 9:1-16 

Dalam jadual kerja kita yang sibuk dan ketat sehari-hari, seringkali kita mengesampingkan atau katakanlah ‘mengabaikan’ pembicaraan yang bertele-tele agar dapat langsung sampai kepada “jantung permasalahan” yang kita hadapi. Bagi orang yang menulis ayat-ayat Amsal di atas, “jantung permasalahannya” adalah menyenangkan Tuhan Allah. Ia dengan mantap menaruh hatinya pada Tuhan Allah dan menyerahkan segala afeksinya, pemikirannya dan keputusannya kepada-Nya. Mengapa sampai sebegitu-begitunya? Karena relasinya dengan Allah adalah yang paling penting dari segala-galanya. Orang ini mengevaluasi setiap situasi dalam kehidupannya dengan bertanya bagaimana hal itu mempengaruhi relasinya dengan Allah. 

Hati macam apa yang dimiliki orang seperti ini? Hal-hal apa saja yang mencirikan sebuah hati yang sedemikian? Satu unsur penting adalah pengalaman dalam mendengarkan sabda Allah dan menerapkannya pada situasi-situasi yang dihadapinya setiap hari. Kalau begitu, apa lagi yang dapat katakannya, selain bahwa “semua firman Allah adalah murni, Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya”? (Ams 30:5). Hal itu kiranya tidak mungkinlah untuk mampu diungkapkannya, seandainya dia tidak memiliki relasi akrab dengan Allah. Kita dapat membayangkan bahwa orang itu mengambil waktu sehari-harinya merenungkan situasi yang sedang dihadapinya, lalu dia merencanakan tindakan-tindakan apa yang akan diambilnya berdasarkan apa yang diketahuinya akan menyenangkan Allah dan mempererat lebih lanjut relasinya dengan Allah. Dengan demikian keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan kecurangan dan kebohongan dijauhkanlah olehnya (lihat Ams 30:8). Seperti sang pemazmur dia kiranya berdoa: “Jauhkanlah jalan dusta dari padaku …… Terhadap segala kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu …… Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta …… Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta” (Mzm 119:29, 101,104,163). 

Orang bijak ini mengetahui bahwa setiap situasi dalam kehidupannya mengandung perangkapnya sendiri. Kekayaan atau kemiskinan, pengetahuan atau kemasabodohan, sehat atau sakit – masing-masing mengandung godaan-godaan khususnya sendiri (lihat Ams 30:8-9). Namun demikian masing-masing mengandung peluang/kesempatan untuk menaruh kepercayaan kepada Allah dan taat kepada-Nya. 

Hikmat-kebijaksanaan sedemikian dapat menjadi sebuah inspirasi bagi kita pada zaman sekarang juga. Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki hasrat untuk berada lebih dekat dengan Yesus? Apakah kita berkeinginan untuk menjadi lebih serupa lagi dengan Dia dan diri kita masing-masing lebih dipenuhi lagi dengan kasih-Nya? Dengan demikian baiklah kita memilih saat-saat hening untuk berdoa di hadapan hadirat-Nya. Baik pula kita merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci pada Misa Kudus. Kehidupan kita juga secara teratur harus diperiksa dan kita harus mengidentifikasi hal-hal yang buruk dalam hidup kita itu. Kita harus membuat rencana bagaimana berurusan dengan segala godaan yang kita hadapi, sebuah rencana yang mencakup juga tentunya rahmat sakramen-sakramen. Dalam segala hal kita harus dengan mantap menempatkan hati kita pada Tuhan Yesus. Kita harus membangun relasi kita dengan Tuhan Yesus dengan memilih hal-hal yang akan membuat hidup-Nya bertumbuh dalam dalam diri kita masing-masing. 

DOA: Ambillah dan terimalah, ya Tuhan, semua ingatanku, pengertianku, dan seluruh kehendakku. Kauberikan kepadaku segala yang kupunyai, kukembalikan semua ini kepada-Mu untuk Kauatur sesuai dengan kehendak-Mu. Berikanlah kepadaku cintakasih-Mu saja serta rahmat-Mu, dan aku pun menjadi cukup kaya dan tidak akan minta apa-apa lagi dari-Mu. Amin. (doa Santo Ignatius dari Loyola).

Cilandak, 19 September 2010 [HARI MINGGU BIASA XXV] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI

CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil, Selasa 21-9-10) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:9-13). 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …? Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum. 

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi. 

Inilah konteks dari segala ‘kehebohan’ yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumah Matius. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang sukses yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini. 

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita memberi izin kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita. 

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin. 

Catatan: Silahkan membaca renungan atas perikop Injil yang sama berjudul MATIUS TAHU BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKANNYA yang terdapat dalam situs/blog SANG SABDA  ini ; Kategori: 09-09 BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009. 

Cilandak, 18 September 2010 [Peringatan Santo Yosef dari Cupertino (1603-1663), Imam Fransiskan Conventual] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers