Posts from the ‘13-07 BACAAN HARIAN JULI 2013’ Category

ALLAH INGIN MENYATAKAN DIRI-NYA

ALLAH INGIN MENYATAKAN DIRI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu, 17 Juli 2013)

MISC: HARI RAYA S. Maria Magdalena Postel

YESUS DAN ANAK-ANAK - 7Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:25-27)

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7

Dalam doa syukur-Nya kepada Bapa surgawi, Yesus mengakui bahwa hikmat ilahi disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai (Mat 11:25). Mengapa Allah harus menyembunyikan diri-Nya seperti ini, teristimewa dari mereka yang memiliki reputasi sebagai orang-orang berhikmat? Bukankah merupakan strategi yang lebih baik apabila Dia menyatakan diri-Nya kepada mereka dahulu, lalu menggunakan mereka untuk meyakinkan orang-orang sederhana? Akan tetapi kalau kita melihat cara Allah bekerja sepanjang sejarah, maka kita dapat melihat bahwa yang terjadi terlebih-lebih merupakan kasus di mana orang-orang mencoba untuk menyembunyikan diri mereka dari Allah, bukannya Allah mencoba menyembunyikan diri dari mereka.

Allah tidak ingin untuk tetap tersembunyi. Dia ingin menyatakan diri-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada kita semua pikiran dan hati-Nya. Namun seperti dikatakan Yesus, Allah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang yang seperti anak kecil. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semua. Allah juga ingin menyatakan diri-Nya kepada kita secara bebas. Anugerah pernyataan diri Allah ini bukanlah imbalan atas kerja kita berdasarkan kekuatan kita sendiri. Anugerah Allah ini diberikan secara bebas oleh-Nya.

YESUS MENGAJAR DI ATAS BUKITNamun dalam hal ini kita harus jelas juga. Menerima pernyataan diri Allah dapat menjadi “mahal” … menyangkut “biaya” tinggi. Mengapa? Karena hal itu pertama-tama menuntut dari diri kita pengakuan akan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak mempunyai segala jawaban berkaitan dengan kehidupan, tentang para sahabat dan keluarga kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Menerima kenyataan ini tidak selalu mudah karena menyangkut rasa harga diri kita … kebanggaan kita dan bahkan menempatkan kita dalam suatu posisi ketergantungan. Pernyataan diri Allah itu mahal juga karena berarti menyerahkan kendali atas hidup kita dan memperkenankan Yesus untuk memerintah dalam diri kita.

Teolog kondang Hans Urs von Balthasar sekali mengamati, bahwa ketika Yesus berkata, “jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini” (Mat 18:3), Ia tidak mengacu hanya kepada anak-anak kecil, melainkan kepada diri-Nya sendiri. Yesus, Putera Allah, tidak hanya menjadi anak yang aktual dari Bapa. Sepanjang hidup-Nya, Yesus mengosongkan diri-Nya dan mencari hikmat dan rencana Bapa-Nya dengan kesederhanaan dan kerendahan hati seorang anak kecil. Karena sifat-Nya yang seperti anak kecil, Yesus mampu untuk mendengar Bapa-Nya kapan saja dan di mana saja. Hati-Nya senantiasa terbuka bagi pernyataan dan hikmat Bapa-Nya. Semoga kita semua mengikuti teladan Yesus dan menjadi seperti anak-anak kecil di hadapan hadirat Bapa surgawi.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat menjadi seorang pribadi yang dapat diajar, senantiasa mencari kehendak-Mu dan memeditasikan sabda-Mu. Aku tidak hanya ingin menerima hikmat-Mu. Aku ingin hikmat-Mu itu mengubah hatiku dan menjadi cara hidupku sendiri. Semoga dari hari ke hari aku dapat menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami semua. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DALAM SETIAP SITUASI DAN TERBUKA BAGI SABDA-NYA” (bacaan tanggal 17-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 18-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 Juli 2013 [Pesta S. Bonaventura, Uskup-Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG-ORANG TIDAK SEMPURNA DIPANGGIL ALLAH

ORANG-ORANG TIDAK SEMPURNA DIPANGGIL ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 16 Juli 2013)

MOSES AND PHAROS DAUGHTERSeorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.”

Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?” Sahut puteri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: “Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.” Kemudian perempuan itu mengambil biaya itu dan menyusuinya. Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.”
Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnya seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.

Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkaraku telah ketahuan.” Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. (Kel 2:1-15a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 69:3,14,30-31,33-34; Bacaan Injil: Mat 11:20-24

Lagi dan lagi kita melihat dari bacaan Perjanjian Lama ini, bahwa Allah telah memilih orang-orang yang paling tidak mungkin menjadi instrumen-instrumen-Nya apabila dilihat dari kaca mata manusia. Yunus yang pengecut melarikan diri dari tugas yang diberikan Allah untuk berkhotbah kepada orang-orang Niniwe. Raja Daud melakukan perzinahan dengan seorang perempuan cantik dan mengatur kematian suami perempuan itu yang note bene adalah salah seorang panglima pasukan bersenjatanya. Petrus, yang begitu bangga akan keberanian dan kesetiaannya kepada Yesus, ternyata ketika berada dalam situasi “kepepet” malah menyangkal mengenal-Nya. Paulus dengan sombong dan merasa benar sendiri mengejar dan menganiaya umat Kristiani awal. Namun Allah memanggil masing-masing mereka, kendati berbagai kesalahan mereka, agar ikut memainkan peran penting dalam rencana-Nya.

MUSA MEMBUNUH MANDOR MESIRMusa juga adalah salah satu dari banyak sekali orang tidak sempurna yang dipanggil untuk memajukan Kerajaan Allah. Sebagai seorang bayi kecil tak berdaya yang sudah “diteken mati” oleh Firaun (Kel 1:22), ia diselamatkan melalui tindakan penuh keberanian dari ibunda dan saudara perempuannya serta bela rasa dari puteri Firaun. Kitab Keluaran tidak menceritakan kepada kita tentang tahun-tahun di mana Musa bertumbuh menjadi dewasa dalam rumah tangga Firaun secara istimewa dan penuh kenyamanan. Hal berikutnya yang kita baca tentang Musa adalah bagaimana dalam upayanya untuk menolong seorang budak, ia membunuh seorang mandor Mesir, menyembunyikan mayatnya, dan namanya masuk ke dalam DPO (Kel 2:11-15). Kiranya ini bukanlah jenis heroisme yang kita harapkan dari seorang calon hamba Allah.

Akan tetapi inilah bagaimana cara Allah bekerja. Lagi dan lagi Allah memanifestasikan kuasa-Nya dengan mentransformasikan kelemahan menjadi kekuatan dan para pendosa menjadi orang-orang kudus. Sebagaimana Allah dapat mengubah Musa menjadi seorang pembebas bagi bangsanya, maka Dia juga dapat mengambil siapa saja dari kita (termasuk anda dan saya) untuk digunakan dalam karya pelayanan bagi-Nya. Yang kita perlukan hanyalah ketundukan dan penyerahan diri kita terhadap Roh Kudus. Darah Kristus sungguh kuat untuk mentransformasikan kita masing-masing, tak peduli dari mana kita berasal atau apa yang telah kita lakukan. Dosa-dosa kita di masa lampau tidak perlu mendiskualifikasi diri kita dari pelayanan yang efektif kepada-Nya atau dari kemuliaan di masa depan!

Ketika kita menyadari bagaimana Allah mengubah dan menggunakan orang-orang seperti Musa, Yunus, Daud, Petrus dan Paulus, maka marilah kita juga jangan cepat-cepat menganggap remeh serta menghina mereka yang menurut pandangan kita tidak pantas menjadi calon-calon hamba Allah, … tidak pantas menjadi instrumen-instrumen-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan bahwa rahmat Allah dapat mengubah seseorang yang suka “nyebelin” dan membuat susah banyak orang, atau seorang anggota paroki yang suka berperilaku seperti seorang “boss”, menjadi suatu tanda kelihatan dari kasih-Nya. Yang diminta oleh Allah adalah agar kita memberkati mereka, berdoa bagi mereka, dan memperkenankan Kristus dalam diri kita mengasihi mereka.

DOA: Kami menyembah dan memuji Engkau, ya Yesus, karena oleh darah-Mu Engkau membersihkan kami dari dosa. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, transformasikanlah kami masing-masing ke dalam gambar dan rupa-Mu sendiri dan gunakanlah kami sebagai instrumen-instrumen-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan yang berjudul “KECAMAN YESUS KEPADA TIGA KOTA” (bacaan tanggal 16-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “APAKAH SIKAP KITA TERHADAP YESUS SAMA DENGAN SIKAP PENDUDUK KHORAZIM, BETSAIDA DAN KAPERNAUM?” (bacaan tanggal 17-7-12) dan “YESUS MENGECAM BEBERAPA KOTA” (bacaan tanggal 12-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 Juli 2013 [Peringatan/Pesta S. Bonaventura, Uskup-Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BARANGSIAPA MENYAMBUT KAMU, IA MENYAMBUT AKU

BARANGSIAPA MENYAMBUT KAMU, IA MENYAMBUT AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 15 Juli 2013)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja

Jesus_109“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1)

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8

“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku” (Mat 10:40).

Bacaan Injil hari ini muncul pada akhir “diskursus misioner” – sejenis sesi pelatihan untuk para murid terdekat Yesus berkaitan dengan tugas pelaksanaan Misi-Nya. Seperti seorang kepala negara yang sedang memberi briefing kepada para duta dan duta besarnya sebelum mengutus mereka ke berbagai ibu kota negara asing, Yesus menginstruksikan para murid-Nya itu sebelum Ia melepas mereka untuk mewakili diri-Nya ke kota-kota di Galilea. Misi mereka itu serupa dengan misi-Nya sendiri. Yesus datang untuk menyatakan Bapa surgawi, dan pada gilirannya mereka akan menyatakan sang Juruselamat yang diutus dari surga.

Bayangkanlah betapa erat Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan para murid-Nya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa apabila orang-orang mau menyambut para murid-Nya dalam daging, maka hal itu berarti bahwa mereka pun siap untuk menerima diri-Nya dalam roh. Sebaliknya, apabila orang-orang itu menolak para murid-Nya, maka hal itu berarti bahwa orang-orang itu menolak tawaran-Nya akan pengampunan.

Sebagai perwakilan-perwakilan resmi dari negara mereka, para duta atau duta besar menjunjung tinggi kehormatan pemerintah mereka dan bangsa yang mereka wakili. Demikian pula di tengah-tengah masyarakat manusia, kehormatan Kristus juga ada di tangan kita karena kita adalah para utusan-Nya … para duta-Nya. Dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus memandang kita dengan hormat sampai-sampai Dia mempercayakan kita dengan tugas panggilan yang sedemikian luhur? Kita mungkin adalah orang-orang biasa saja dan kita berpikir bahwa tidak banyak yang dapat kita berikan kepada Yesus. Namun pada kenyataannya Yesus seringkali memanggil orang-orang biasa-biasa saja untuk melakukan karya-karya yang luar biasa. Pikirkanlah dan renungkanlah bagaimana Yesus memanggil 12 orang yang biasa-biasa saja untuk menjadi inti dari karya misioner-Nya ke ujung-ujung bumi. Pada awal abad ke-13 Yesus juga memanggil seorang anak muda yang berlatar belakang pendidikan sekolah rendah paroki saja – Fransiskus dari Assisi – untuk tugas memperbaharui Gereja yang memang dalam kondisi memprihatinkan pada masa itu. Tidak seperti sahabatnya – Santo Dominikus – Fransiskus tidak pernah menjadi seorang imam. Memang kemudian ia ditahbiskan sebagai seorang diakon untuk memungkinkannya berkhotbah dalam gereja-gereja.

Ingatlah, Saudari dan Saudaraku terkasih, sebagai para awam dan klerus, kita bersama-sama membentuk Gereja Kristus. Bersama-sama pula kita dipanggil untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Kita seharusnya menanggapi panggilan itu dengan rendah hati, bukan menampiknya karena rendah-diri atau disebabkan kerendahan hati yang palsu!

Selagi kita menerima misi kita sebagai duta-duta Yesus pada zaman ini, kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh-Nya akan memberdayakan kita. Kita akan mengambil oper keprihatinan-keprihatinan dan rencana-rencana Yesus, bahkan karakter-Nya sendiri. Kehadiran-Nya akan memancar dari diri kita, dan kita pun akan menjadi “Kristus-Kristus kecil” – seorang Kristus yang lain – bagi keluarga kita masing-masing, bagi para sahabat, bagi para rekan kerja dan tetangga kita. Lalu, orang-orang yang menerima kita sesungguhnya akan menerima Yesus ke dalam hati mereka.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu dalam kedinaan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memilih untuk berdiam dalam diriku. Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu agar dengan demikian aku dapat menjadi terang keserupaan dengan-Mu dalam dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “KEGELAPAN HARUS DISINGKIRKAN, WALAUPUN KADANG-KADANG HAL INI MENYAKITKAN” (bacaan tanggal 15-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “YANG HARUS MENJADI YANG PERTAMA DAN UTAMA DALAM SKALA PRIORITAS PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 16-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 10 Juli 2013 [Peringatan S. Veronika Yuliani, Perawan dan S. Nikolaus Pick dll, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun C] – 14 JULI 2013)

Master_of_the_Good_Samaritan_001

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Ul 30:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:14,17,30-31,33-34,36-37 atau Mzm 19:8-11; Bacaan Kedua: Kol 1:15-20

Injil hari ini mencatat bahwa maksud si ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus adalah untuk mencobai-Nya (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mengungkapkan suatu kepekaan yang jarang terjadi terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan terhadap panggilan Allah dalam hatinya. Tidak seperti para ahli lainnya dalam hal Hukum Musa – biasanya mereka merupakan lawan-lawan Yesus yang sangat membenci Dia dan ajaran-Nya – ahli Taurat yang satu ini – ketika ditanya balik oleh Yesus – mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Dalam jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Ahli Taurat itu menunjukkan bahwa jalan Allah ditulis hampir secara genetika, di dalam impuls-impuls kodrat manusiawi kita, dan untuk jawabannya ini dia memperoleh persetujuan dari Yesus.

Seperti ditunjukkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, Injil tidaklah sulit untuk dimengerti. Injil bukanlah seperangkat rumusan teologis yang kompleks, dan kita tidak memerlukan pendidikan bertahun-tahun lamanya hanya untuk sampai kepada inti pesan Injil itu. Dengan penuh belas kasih Allah telah menulis dalam hati kita, dan dalam kedalaman nurani kita masing-masing kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar cerita seorang ahli Taurat yang menunjukkan kesalehan. Yesus tidak hanya mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa dia benar, melainkan juga mengatakan kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

HATI KUDUS YESUS - 099Dengan hati yang lega kita dapat menutup “episode” ini. Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Sebuah “kalimat tanya tak bertanya” … sudah tahu jawabnya namun masih bertanya juga! Ataukah memang hanya orang Yahudi sajakah yang merupakan sesamanya? Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ini berupa sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Untuk memahami dengan lebih tepat perumpamaan ini, kita harus mengingat bagaimana mendalamnya orang Yahudi dan Samaria itu saling membenci satu sama lain, disebabkan oleh perbedaan ras, politik dan agama. Pada zaman ini dapatkah kita membayangkan seorang Kristiani Katolik Irlandia menolong seorang Kristiani Protestan dari Ulster, Irlandia Utara; atau seorang Amerika kulit hitam membantu anggota Ku Klux Klan?

Tidak seperti orang Samaria yang murah hati itu, imam dan orang Lewi dua-duanya melihat orang yang tergeletak setengah mati itu, namun melewatinya … lanjut saja! Seandainya orang orang yang menjadi korban keganasan penyamun itu telah mati, maka jika mereka menyentuhnya, … mereka menjadi tidak murni secara rituale untuk acara penyembahan di bait Allah. Jadi, kelihatannya mereka lebih merasa prihatin tentang abc-nya liturgi daripada mengambil risiko menolong seseorang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan serius.

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri sendiri: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Korban perampokan yang tergeletak setengah mati? Selagi kita melakukan perjalanan dari Yerikho kita masing-masing menuju Yerusalem, bagaimanakah kita bereaksi terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita di sepanjang jalan? Katakanlah mereka bukan orang-orang yang jauh-jauh, mereka adalah para tetangga kita, anggota lingkungan [wilayah, paroki] kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, karena jarak antara Yerikho dan Yerusalem bisa saja hanya berkisar sejauh kamar tidur dan dapur kita dalam rumah yang sama. Bilamana kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, hanya ada dua alternatif pilihan bagi kita: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan. Muncul kembali dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

Mengapa Injil ini merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil di samping sederhana, juga banyak menuntut. Tidak cukuplah bagi kita untuk memahami kebenaran. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus menggiring kita kepada tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing.

Apabila kita membaca Kitab Suci – dan teristimewa pada saat kita mendengarnya dibacakan dalam Misa – maka Yesus mengatakan kepada kita: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Yesus minta kepada kita untuk merangkul kesederhanaan pesan-Nya dan untuk membungkam suara-suara penolakan dalam batin kita yang mencoba untuk membuat sabda-Nya menjadi semakin rumit dan membuat dalih-dalih pembenaran diri mengapa sabda-Nya itu terlalu keras untuk kita praktekkan Musa ternyata benar: sabda itu sama sekali tidak jauh dari kita. Roh Kudus – cintakasih dan kuat-kuasa Allah sendiri – senantiasa ada bersama kita.

Catatan tambahan untuk direnungkan: Pada akhir perumpamaan ini Yesus bertanya kepada si ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36). Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:37). Sebuah jawaban yang samasekali tidak salah, namun lebih elok kiranya kalau dia menambahkan jawabannya dengan kata-kata berikut: “yaitu si orang Samaria!”

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menuliskan sabda-Mu pada hatiku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku keberanian dan kerendahan-hati, agar aku dapat pergi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Injil-Mu. Yesus, buatlah hatiku semakin serupa dengan hati-Mu. Amin.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2013)

ROHHULKUDUS“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33)

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32;50:15-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang” (Mat 10:27).

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita – Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSKetika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SERUPA DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 13-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KITA HANYALAH ALAT-NYA” (bacaan tanggal 14-7-12) dan “JANGANLAH KAMU TAKUT !!!” (bacaan tanggal 9-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 12 Juli 2013)

Keluarga OFM dan OFMConv.: Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir

YESUS GURU KITA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23)

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

“… bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Seperti yang diingatkan oleh Yesus kepada para murid-Nya 2.000 tahun lalu, maka pada hari ini pun Ia mengingatkan bahwa kita – para murid-Nya pada zaman sekarang – menghadapi risiko penolakan, kesalahpahaman, bahkan pengejaran dan penganiayaan, bilamana kita mencoba untuk mewartakan Injil. Dari zaman ke zaman pesan pertobatan dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Allah telah menemui penolakan dari berbagai penjuru.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Walaupun terasa suram, Yesus juga berjanji bahwa Dia tidak akan memberikan kepada kita tugas lebih daripada apa yang dapat kita emban dan Ia akan datang menolong apabila kita mengalami berbagai kesulitan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kepada kita hikmat dan bimbingan agar dengan demikian kita dapat menjawab dengan jelas namun dengan rendah hati, mereka yang menentang kita.

Kata-kata Yesus dapat terdengar begitu sederhana, dan dalam artian tertentu memang demikianlah halnya. Kita dapat selalu percaya bahwa apabila Yesus menjanjikan sesuatu, maka Dia akan memenuhinya. Namun kita perlu bertanya bagaimana kita akan mampu mengenali suara Roh Kudus pada waktu kita mengalami kesulitan. Jelaslah bahwa perubahan sedemikian tidak terjadi dalam satu malam. Mendengar suara Roh Kudus bukanlah suatu kemampuan ajaib yang terbuka bagi kita hanya pada saat yang tepat dan kemudian “menghilang” lagi. Mendengarkan suara Roh Kudus adalah suatu keterampilan yang menuntut praktek, eksperimentasi dan ketekunan. Hal ini menuntut kita menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, menjadi akrab dengan suara-Nya dalam Kitab Suci, dan menjaga hati kita agar tetap terbuka sepanjang hari. Selagi kita mengambil langkah-langkah praktis ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut dan tidak ribut-ribut telah menjadi sesuatu yang alamiah bagi kita.

Praktek dan eksperimentasi secara harian selama saat-saat penuh kedamaian dan menyenangkan adalah kunci untuk melakukan upaya discernment terhadap suara Roh Kudus dalam masa pencobaan dan penganiayaan. Jika kita membuat proses ini menjadi kebiasaan, maka hal ini akan mempersiapkan diri kita dalam menghadapi tekanan-tekanan dan intensitas yang lebih besar, di mana lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Setiap hari, marilah kita berupaya untuk mentaati Tuhan dan mendengarkan Roh Kudus. Setiap hari, marilah kita menukar “kemandirian” (dalam artinya yang jelek) kita dengan “hikmat dari Allah” yang akan “mengagetkan” dunia dan menghasilkan karya-karya yang akan membuat takjub raja-raja.

DOA: Roh Kudus Allah, datang dan masuklah ke dalam hidupku dan tetaplah berdiam bersamaku selalu. Buatlah aku agar dapat mengenali suara-Mu. Biarlah kata-kata-Mu dapat menjadi penghiburan, sukacita dan kehidupan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI PADA KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT” (bacaan tanggal 12-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 JULI 2013.
Bacalah juga tulisan berjudul “AKU MENGUTUS KAMU SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 8-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Kamis, 11 Juli 2013)

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21

Injil Matius bukanlah bermaksud menjadi catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terlah terjadi dan kemudian memberikan tafsir teologis atas peristiwa-peristiwa itu. Penulis Injil Matius memberikan panduan kepada komunitasnya (jemaatnya) dan komunitas-komunitas Kristiani yang lain tentang implikasi dari pemuridan/kemuridan. Selagi Matius mengingat-ingat berbagai instruksi Yesus kepada 12 orang murid-Nya ketika Dia mengutus mereka dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, dia (Matius) sepenuhnya sadar akan “amanat agung” yang berlaku untuk semua umat Kristiani: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19). Misi yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang awal bersifat unik, namun sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis kita ikut ambil bagian dalam misi tersebut, sebagai peserta dalam amanat agung-Nya.

Apakah sebagian dari berbagai implikasi kemuridan dalam mewartakan Kabar Baik-Nya? Apa yang semestinya menjadi sikap hati dari keduabelas murid pada waktu itu? Untuk percaya dengan penuh keyakinan akan kuasa Injil untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan, untuk memurnikan dan membersihkan (Mat 10:8). Tentunya terdapat unsur mendesak, urgency, berkaitan dengan misi ini. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda sampai saat tibanya “logistik yang serba mencukupi” (lihat Mat 10:9-10). Tidak ada sesuatu pun yang boleh diperkenankan untuk mengacaukan fokus mereka terhadap misi mereka. Hidup apa adanya, bukan mengambil keuntungan, seharusnya menjadi ekspektasi mereka. Pewartaan Injil Yesus Kristus tidak pernah boleh dijadikan sebagai sebuah proyek bisnis. Apabila ditolak, sikap yang mereka ambil bukanlah mengutuk atau melampiaskan hasrat untuk membalas dendam; maka yang harus dilakukan bersifat simbolis, yaitu mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat 10:14).

Jelaslah dari kata-kata yang diucapkan Yesus bahwa ke dua belas rasul itu harus memiliki sikap pribadi yang menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dan kebaikan-Nya dan kemurahan-hati-Nya. Sikap sedemikian mengakui Allah sebagai “seorang” Bapa yang penuh kasih dan Bapa pribadi yang dengan setia akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat-Nya dan tidak pernah akan meninggalkan mereka. “Seorang” Bapa yang pengasih seperti itu akan menopang kita juga.

Betapa berbedanya sikap ini dari sikap yang dimiliki banyak dari kita. Kita sering bertindak seakan Allah itu kikir, suka menggerutu atas sikap tak berterima kasih yang sering ditunjukkan oleh anak-anak-Nya walaupun Ia mengasihi kita. Juga seakan Ia tidak begitu mempedulikan kita. Mind-set seperti ini mempengaruhi dan membatasi kuasa dari pesan Injil yang kita wartakan. Kita hanya dapat memiliki hati misioner sejati apabila kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan yakin seyakin-yakinnya akan kemurahan-hati dan kesetiaan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih, kuduslah nama-Mu. Kami menyadari bahwa Engkau setia dan senantiasa memegang janji-janji-Mu kepada kami. Kami mengkomit diri kami sendiri untuk menghayati hidup Injili dan melakukan tugas pewartaan keselamatan melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Yesus Kristus serta pengudusan melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kami masing-masing. Jagalah agar kami senantiasa setia pada janji kami sebagaimana Engkau senantiasa setia pada janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH DAN BERITAKANLAH: ‘KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT’” (bacaan tanggal 11-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MEMPEROLEHNYA DENGAN CUMA-CUMA, KARENA ITU BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA” (bacaan tanggal 12-7-12) dan “TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU” bacaan tanggal 7-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers