Posts from the ‘13-07 BACAAN HARIAN JULI 2013’ Category

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Kamis, 11 Juli 2013)

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21

Injil Matius bukanlah bermaksud menjadi catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terlah terjadi dan kemudian memberikan tafsir teologis atas peristiwa-peristiwa itu. Penulis Injil Matius memberikan panduan kepada komunitasnya (jemaatnya) dan komunitas-komunitas Kristiani yang lain tentang implikasi dari pemuridan/kemuridan. Selagi Matius mengingat-ingat berbagai instruksi Yesus kepada 12 orang murid-Nya ketika Dia mengutus mereka dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, dia (Matius) sepenuhnya sadar akan “amanat agung” yang berlaku untuk semua umat Kristiani: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19). Misi yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang awal bersifat unik, namun sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis kita ikut ambil bagian dalam misi tersebut, sebagai peserta dalam amanat agung-Nya.

Apakah sebagian dari berbagai implikasi kemuridan dalam mewartakan Kabar Baik-Nya? Apa yang semestinya menjadi sikap hati dari keduabelas murid pada waktu itu? Untuk percaya dengan penuh keyakinan akan kuasa Injil untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan, untuk memurnikan dan membersihkan (Mat 10:8). Tentunya terdapat unsur mendesak, urgency, berkaitan dengan misi ini. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda sampai saat tibanya “logistik yang serba mencukupi” (lihat Mat 10:9-10). Tidak ada sesuatu pun yang boleh diperkenankan untuk mengacaukan fokus mereka terhadap misi mereka. Hidup apa adanya, bukan mengambil keuntungan, seharusnya menjadi ekspektasi mereka. Pewartaan Injil Yesus Kristus tidak pernah boleh dijadikan sebagai sebuah proyek bisnis. Apabila ditolak, sikap yang mereka ambil bukanlah mengutuk atau melampiaskan hasrat untuk membalas dendam; maka yang harus dilakukan bersifat simbolis, yaitu mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat 10:14).

Jelaslah dari kata-kata yang diucapkan Yesus bahwa ke dua belas rasul itu harus memiliki sikap pribadi yang menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dan kebaikan-Nya dan kemurahan-hati-Nya. Sikap sedemikian mengakui Allah sebagai “seorang” Bapa yang penuh kasih dan Bapa pribadi yang dengan setia akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat-Nya dan tidak pernah akan meninggalkan mereka. “Seorang” Bapa yang pengasih seperti itu akan menopang kita juga.

Betapa berbedanya sikap ini dari sikap yang dimiliki banyak dari kita. Kita sering bertindak seakan Allah itu kikir, suka menggerutu atas sikap tak berterima kasih yang sering ditunjukkan oleh anak-anak-Nya walaupun Ia mengasihi kita. Juga seakan Ia tidak begitu mempedulikan kita. Mind-set seperti ini mempengaruhi dan membatasi kuasa dari pesan Injil yang kita wartakan. Kita hanya dapat memiliki hati misioner sejati apabila kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan yakin seyakin-yakinnya akan kemurahan-hati dan kesetiaan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih, kuduslah nama-Mu. Kami menyadari bahwa Engkau setia dan senantiasa memegang janji-janji-Mu kepada kami. Kami mengkomit diri kami sendiri untuk menghayati hidup Injili dan melakukan tugas pewartaan keselamatan melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Yesus Kristus serta pengudusan melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kami masing-masing. Jagalah agar kami senantiasa setia pada janji kami sebagaimana Engkau senantiasa setia pada janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH DAN BERITAKANLAH: ‘KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT’” (bacaan tanggal 11-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MEMPEROLEHNYA DENGAN CUMA-CUMA, KARENA ITU BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA” (bacaan tanggal 12-7-12) dan “TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU” bacaan tanggal 7-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUAT-KUASA UNTUK MENGAMPUNI

KUAT-KUASA UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 10 Juli 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick dkk.-Martir; khusus OFS dan OSCCap.: Peringatan/Pesta: S. Veronika Yuliani, Perawan

JOSEPH AND HIS BROTHERS IN EGYPT

Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: “Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu.” Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.
Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan.
Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegur mereka dengan membentak, katanya: “Dari mana kamu?” Jawab mereka: “Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.”
Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya.
Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: “Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati.” Demikianlah diperbuat mereka. Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.” Lalu Ruben menjawab mereka: “Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.” Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. (Kej 41:55-57; 42:5-7a,17-24a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,10-11,18-19; Bacaan Injil: 10:1-7

Ketika Yusuf (anak kesayangan Yakub/Israel dari istrinya yang bernama Rahel) memangku jabatan mangkubumi di Mesir, saudara-saudaranya datang kepadanya untuk membeli bahan makanan karena pada masa itu memang terjadi kelaparan yang merajalela di seluruh bumi. Pada saat mereka bertemu dengan Yusuf di Mesir itu, tidak satu pun dari saudara-saudaranya itu mengenalinya, dan Kitab Suci mencatat bahwa Yusuf “berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka” (Kej 42:7). Tentunya hal sedemikian tidak mengherankan. Bertahun-tahun sebelumnya, Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya kepada orang Ismael (Arab) senilai dua puluh syikal perak dan kemudian dijual oleh orang-orang Arab itu sebagai budak di Mesir (bacalah: Kej 37:12-36). Bayangkanlah sakit hati dan kemarahan yang dirasakan oleh Yusuf pada saat-saat penderitaannya itu: dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri ketika berumur 17 tahun, dipisahkan dari ayahnya yang sudah tua dan sangat mengasihinya, dan dipaksa masuk ke dalam perbudakan di sebuah negeri asing.

Seakan-akan belum cukup penderitaan yang harus ditanggungnya, selagi Yusuf menjadi budak di rumah Potifar, ia difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara karena “katanya” mencoba menggauli (melakukan pelecehan seksual) istri majikannya (bacalah: Kej 39:1-23). Namun Kitab Kejadian mencatat dan meyakinkan para pembacanya bahwa “TUHAN (YHWH) menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu …… dan apa yang dikerjakannya dibuat YHWH berhasil” (Kej 39:21-23). Pada akhirnya Yusuf dibebaskan dari penjara dan kemudian menjadi pejabat nomor dua di negeri Mesir, satu tingkat saja di bawah Firaun.

Seandainya kita (anda dan saya) adalah Yusuf yang sedang berhadap-hadapan dengan saudara-saudaranya, bagaimana kiranya perasaan kita? Marah? Terluka? Ingin membalas dendam? Tentunya dalam hal ini Yusuf mengalami pergumulan dalam dirinya (suatu intra-personal conflict) sehubungan dengan pikiran-pikiran seperti itu dlsb. Pertama-tama, dia memang memperlakukan para saudaranya dengan keras, karena apa yang telah mereka lakukan atas dirinya bukanlah sesuatu yang mudah untuk diampuni. Yusuf sesungguhnya bergumul guna memilih antara panggilan surgawi untuk mengampuni dan rasa sakit hatinya dan hasrat untuk membalas dendam. Namun, Allah senantiasa menyertai Yusuf selagi dia mengalami pergumulan batin itu. Allah tetap setia kepada Yusuf dan menganugerahkan kepadanya kuat-kuasa untuk mengampuni saudara-saudaranya dan memperhatikan serta menanggapi kebutuhan-kebutuhan mereka secara positif.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, cerita yang indah-memikat hati dari Kitab Suci Perjanjian Lama ini tentunya sudah kita kenal sejak masa sekolah rakyat dahulu. Akan tetapi, apakah yang dapat kita pelajari dari cerita ini? Yang jelas kita membutuhkan rahmat dari Allah. Hanya dengan pertolongan-Nya saja kita dapat mengampuni apa dan siapa saja. Kadang-kadang pengampunan dapat terjadi secara instan, namun lebih sering pengampunan ini berupa proses yang berkembang secara bertahap dengan berjalannya waktu seturut mengurangnya rasa marah dan sakit hati kita.

Sekarang, bagaimana kita (anda dan saya) berurusan dengan sakit hati dalam hidup kita? Dapatkah kita mengatakan – dalam doa – kepada Allah bahwa kita ingin mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kita, yang telah sangat menyakiti hati kita dlsb.? Hanya mengatakan dengan tulus hati, “Tuhanku dan Allahku, aku sungguh ingin mengampuni”, maka kita akan mengalami awal dari suatu proses penyembuhan yang penuh kuat-kuasa ilahi. Apabila kita bertekun di hadapan Allah, maka dunia pun akan menjadi sedikit lebih cerah bagi kita, dan Allah akan melimpahkan lebih banyak lagi rahmat dan berkat-Nya bagi kita. Yang diperlukan hanyalah sedikit kejujuran dari pihak kita masing-masing dan hati terbuka di hadapan hadirat-Nya.

DOA: Tuhanku dan Allahku, bawalah damai-sejahtera-Mu ke dalam setiap relasi-Mu dengan diriku dan anak-anak-Mu yang lain juga. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana membawa belaskasih-Mu dan cintakasih-Mu ke dunia di sekelilingku, teristimewa kepada mereka yang sedang menderita karena memendam akar kepahitan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAGI ANUGERAH DENGAN ORANG-ORANG LAIN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERGILAH DAN BERITAKANLAH: KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!” (bacaan untuk tanggal 6-7-12) dan tulisan dengan judul “YESUS JUGA MEMILIH DAN MENGUTUS KITA” (bacaan tanggal 6-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 7 Juli 2013 [HARI MINGGU BIASA XIV]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MINTALAH KEPADA TUHAN YANG EMPUNYA TUAIAN

MINTALAH KEPADA TUHAN YANG EMPUNYA TUAIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa, 9 Juli 2013)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Antonius Fantosat, Gregorius Grassi, Uskup, Augustinus Zhao Rong dkk, Martir Cina

Healing_the_Blind008Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38)

Bacaan Pertama: Kej 32:22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-8,15

Yesus datang untuk meresmikan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoyahkan. Ia melihat orang banyak dengan penuh bela-rasa dan belas kasih (Mat 9:36). Ia melihat orang-orang berjalan kian kemari tanpa tujuan; kegairahan dan hasrat mereka mendorong diri mereka, dan mereka bertindak tanduk tanpa tujuan atau makna dalam kehidupan mereka. Banyak orang dilumpuhkan oleh rasa takut, ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan yang bersumber pada Iblis sendiri. Namun demikian, Yesus mengenal kasih Bapa surgawi yang diperuntukkan bagi setiap orang. Sebagai suatu pencerminan kasih ini, Yesus “berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (Mat 9:35).

Dalam Kerajaan Allah, Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Raja. Orang-orang yang telah merangkul Kerajaan ini mengetahui siapa diri mereka dan siapa Raja mereka. Mereka mempunyai kepercayaan terhadap Raja mereka dan kasih-Nya kepada diri mereka. Dia adalah “penghiburan mereka” (2Kor 1:3-4), dan kekuatan mereka (Mzm 28:7-8). Hasrat mereka adalah untuk mengasihi dan melayani Allah.

Mukjizat kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus atas orang bisu yang kerasukan roh jahat adalah sebuah tanda lagi bahwa sesungguhnya Dia ingin menyembuhkan kita semua, sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan Bapa surgawi. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bagaimana keterikatan kita pada dosa menghalangi kita bersaksi atas kemuliaan Allah dalam kehidupan kita. Penyembuhan ini – yang terakhir dari serangkaian penyembuhan (10) yang menunjukkan Yesus sebagai sang Mesias yang berbuat baik (Mat 8:1-9:38) – adalah sebuah tanda lain dari karya penyembuhan yang ingin dilakukan oleh Mesias dari Allah dalam kehidupan kita.

Orang-orang Farisi menyaksikan apa yang diperbuat oleh Yesus, namun mereka bersikukuh bahwa Yesus termasuk kelompok yang dipimpin oleh Iblis, dan Ia mendapat kuasa-Nya dari si Iblis (Mat 9:34). Jadi, pada bagian awal pelayanan Yesus di muka publik ini saja, kita telah melihat tanda-tanda konflik yang pada akhirnya akan menggiring-Nya ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati. Walaupun begitu, Yesus terus melanjutkan misi-Nya dan mengundang para murid-Nya untuk pergi sebagai pekerja-pekerja untuk menuai panenan yang memang banyak (Mat 9:37).

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta mengatakan: “Yesus tidak menghentikan karya kasih-Nya karena orang-orang Farisi dan lain-lainnya membenci-Nya atau mencoba untuk merusak karya Bapa-Nya. Dia hanya pergi berkeliling melakukan kebaikan” (Total Surrender, hal. 150). Itulah pesan bagi kita. Kita juga, yang merangkul Yesus, sang Mesias, dalam kehidupan kita, dipanggil sebagai Tubuh Kristus untuk bekerja bersama memajukan Kerajaan-Nya dengan mewartakan Kabar Baik dan memimpin orang-orang lain dengan kata dan tindakan kita untuk bertemu dengan Yesus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya.

DOA: Tuhan yang empunya tuaian, ciptakanlah dalam diri kami bela-rasa yang sejati bagi dunia kami yang menderita ini. Tolonglah kami untuk bekerja dengan sepenuh hati untuk Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BISU YANG KERASUKAN ROH JAHAT DISEMBUHKAN” (bacaan tanggal 9-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT” (bacaan tanggal 5-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 4 Juli 2013 [Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MESIAS YANG MEMBERIKAN HIDUP KEPADA SEMUA ORANG

MESIAS YANG MEMBERIKAN HIDUP KEPADA SEMUA ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 8 Juli 2013)

YESUS  DENGAN OFFICIAL YANG ANAKNYA SAKITSementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26)

Bacaan Pertama: Kej 28:10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-4,14-15

YESUS MENYEMBUHKAN ANAK YAIRUS - 1000Yesus ingin menarik kita mendekat kepada-Nya, menyentuh-Nya agar kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (lihat Yoh 10:10). Dalam dua tindakan penyembuhan dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus keluar bertemu dengan orang banyak untuk menyembuhkan mereka yang sakit, dan di pihak lain orang-orang datang kepada-Nya dalam iman. Narasi-narasi tentang mukjizat-mukjizat penyembuhan oleh Yesus ini menambah satu lagi dimensi pada pemahaman kita tentang Yesus, sang Mesias.

Pada tataran yang sangat mendasar, kita melihat bahwa Mesias dari Allah mengasihi semua orang, bahkan mereka yang tersingkirkan dalam masyarakat, … kaum marjinal. Kita juga melihat bahwa walaupun Yesus adalah sang Mesias dari Allah, Ia tetap dapat didekati dan kita perlu memberi tanggapan terhadap undangan-Nya.

Anak perempuan dari pemimpin sinagoga dan perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan itu tergolong anggota-anggota masyarakat yang paling marjinal. Kedua orang itu adalah perempuan yang berstatus sosial yang sangat rendah dalam dunia Semitis. Anak perempuan itu semakin termarjinalisasi karena dia adalah seorang anak yang masih hidup dalam rumah ayahnya. Perempuan yang sakit pendarahan juga semakin termarjinalisasi karena aliran darah dari dalam tubuhnya membuat dirinya tidak bersih secara permanen di bawah hukum Yahudi (lihat Im 15:25-30). Kenyataan bahwa Yesus mau menyembuhkan serta memulihkan kedua perempuan itu mengindikasikan bahwa nilai-nilai-Nya tentang orang yang patut diperhitungkan memang berbeda dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat manusia.

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUEDalam kedua kasus tersebut kita juga melihat orang-orang yang mendatangi Yesus dalam iman. Si pemimpin sinagoga merujuk pada keilahian Yesus dalam permohonannya agar Yesus mau meletakkan tangan-Nya atas anak perempuannya, dengan demikian ia akan hidup (Mat 9:18). Hanya Allah yang dapat melakukan hal yang dimohon olehnya, dalam hal ini adalah sebuah tanda bahwa si pemimpin sinagoga melihat dalam diri Yesus suatu pencerminan Allah. Dengan cara yang serupa, perempuan yang menderita sakit pendarahan datang kepada Yesus (dengan diam-diam) karena dia mengetahui dan percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan dirinya. Dengan mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, perempuan itu mengungkapkan disposisi hatinya.

Yesus adalah Mesias, pelaku perbuatan-perbuatan yang memberikan hidup kepada semua orang. Bagian dari penerimaan hidup ini adalah keterbukaan kita bagi-Nya, suatu keterbukaan yang datang dari iman. Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar hati kita masing-masing terbuka bagi Mesias dari Allah dan bagi hidup yang dijanjikan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “MESIAS YANG MEMBERIKAN HIDUP KEPADA SEMUA ORANG” (bacaan untuk tanggal 9-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “MELANGKAH DALAM IMAN” (bacaan tanggal 4-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 9-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 3 Juli 2013 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKA CITA

KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKA CITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun C] – 7 Juli 2013)

YESUS MENGUTUS MURID-MURID PERGI BERDUA-DUASetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku telah melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” (Luk 10:1-12, 17-20)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14c; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16,20; Bacaan Kedua: Gal 6:14-18; Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-9

Karya Allah senantiasa mendatangkan suka cita! Ketika sang pemazmur mengenang peristiwa “keluaran” dan penyeberangan di Laut Merah, dia menulis: “Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia” (Mzm 66:5). Yesaya mengajak orang-orang Israel untuk bersukacita bahwa Allah telah membawa mereka kembali ke Yerusalem dengan selamat setelah pembuangan, dan juga untuk bergembira dalam janji tentang pekerjaan Allah yang berkesinambungan di tengah mereka (Yes 66:10-14).

Yesus mengutus tujuh puluh (ada juga manuskrip kuno yang menyebutkan angka tujuh puluh dua) murid-Nya untuk berdua-dua mendahului-Nya pergi ke kota-kota dan tempat-tempat yang akan dikunjungi-Nya. Pasangan-pasangan murid-Nya ini harus mengumumkan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (lihat Luk 10:11), dan sebagai suatu tanda dari hal ini, mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit. Bayangkanlah sukacita dan excitement para misionaris pertama ini pada waktu pulang kembali kepada Yesus dan menceritakan kepada-Nya bagaimana orang-orang sakit disembuhkan secara ajaib lewat mukjizat-mukjizat dan mereka yang kerasukan roh jahat juga dibebaskan. Seperti saya katakan pada awal tulisan ini: karya Allah senantiasa mendatangkan suka cita!

Mukjizat-mukjizat yang dibuat oleh tujuh puluh murid Yesus merupakan pemenuhan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan kedatangan Kerajaan Allah. Pada waktu Yesus datang, Kerajaan Allah datang, dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh tujuh puluh orang murid-Nya adalah tanda-tanda bahwa Kerajaan-Nya telah datang ke tengah dunia. Betapa penuh syukur kiranya para murid karena mereka berkesempatan melihat dan mengenali sendiri bahwa Allah yang Mahakuasa berkarya melalui diri mereka guna menghadirkan Kerajaan-Nya di atas muka bumi, Kerajaan yang telah lama mereka nanti-nantikan.

Kerajaan Allah sungguh datang ke tengah dunia dalam diri Yesus Kristus; namun masih banyak sekali orang yang tidak mengenal Yesus – artinya mereka belum pernah mengalami Kerajaan itu. Kita semua dipanggil untuk mengemban tugas melanjutkan kesaksian tujuh puluh murid Yesus tersebut, akan tetapi kita hanya dapat melakukannya oleh/melalui kuasa salib Yesus yang bekerja dalam diri kita masing-masing. Santo Paulus menulis: “… aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14), dengan demikian membuat dirinya bebas sebagai “ciptaan baru” dalam Yesus (Gal 6:15).

Karena kita sendiri diciptakan baru oleh iman dan pembaptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, maka kita pun, seperti Santo Paulus dan tujuh puluh orang murid dalam bacaan Injil hari ini, dapat ikut ambil bagian dalam karya Allah. Kerajaan Allah dapat masuk ke dalam dunia melalui diri kita masing-masing. Ini adalah penyebab damai sejahtera dan sukacita dalam kehidupan kita, selagi kita mengalami Allah yang sedang bekerja dalam dan melalui diri kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu! Kami mohon, semoga damai Kristus yang kami rayakan pada hari ini meninggalkan tanda-tanda pada diri kami masing-masing, agar dengan demikian kami menjadi para pembawa damai sejati kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-12,17-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI PANGGILAN-NYA SECARA POSITIF” (bacaan tanggal 7-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 BACAAN HARIAN JULI 2013.

Cilandak, 3 Juli 2013 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGUR BARU BUKAN UNTUK KANTONG KULIT TUA

ANGGUR BARU BUKAN UNTUK KANTONG KULIT TUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 6 Juli 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17)

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6

Yohanes Pembaptis dan para muridnya menghayati kehidupan spiritual yang sangat asketis. Ia memanggil semua orang untuk bertobat, melakukan pertobatan atas dosa-dosa mereka. Dengan demikian pantaslah bagi mereka jika mereka harus berpuasa secara teratur. Akan tetapi para muridnya merasa bingung mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Pada waktu menjawab pertanyaan para murid Yohanes Pembaptis kepada-Nya, Yesus menggunakan bahasa yang bersifat figuratif, namun maknanya jelas. Puasa adalah sebuah tanda orang bersedih, tanda pertobatan. Dengan demikian, tentunya bukan pada tempatnya apabila orang berpuasa pada suatu pesta kawin. Selagi Yesus – sang mempelai laki-laki – sedang bersama milik-Nya, yang ada haruslah sukacita, dan suasananya pun adalah suasana kebebasan dan kasih.

Puasa itu baik. Namun puasa haruslah dilakukan secara bebas dan cocok dengan waktu, tempat dan cara melaksanakannya. Puasa tidak boleh menjadi tujuan bagi dirinya sendiri.

KANTONG ANGGUR YANG BARUYesus terus berbicara mengenai seluruh way of life baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia tidak hanya menyelipkan beberapa ide baru, tafsir baru dari Hukum Lama. Dia bersabda: “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya” (Mat 9:16-17). Pesan-Nya juga tidak boleh dicampur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, adalah kabar yang baru. Yesus menempatkan kita semua dalam suatu relasi dengan dengan Allah yang sepenuhnya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih, bukan berdasarkan rasa takut.

Kita semua juga dipanggil kepada suatu hidup baru. Melalui pembaptisan kita dilahirkan kembali. Barangkali Allah telah memberikan kepada kita suatu roh yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih baru dengan Dia. Mengapa kita harus bertahan dengan yang lama? Mengapa kita mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama, kepentingan-kepentingan diri sendiri dan duniawi dengan panggilan Allah kepada hidup yang baru ini? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah baptisan kami menjadi hidup. Jadikanlah segala sesuatu baru selagi kami hidup di bawah hukum cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU DALAM KANTONG BARU” (bacaan tanggal 6-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ANGGUR YANG BARU” (bacaan tanggal 2-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 3 Juli 2013 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PANGGILAN MATIUS UNTUK MENGIKUT YESUS

PANGGILAN MATIUS UNTUK MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 5 Juli 2013)

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19;24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Dalam setiap peristiwa yang diceritakan di dalamnya, Injil Matius senantiasa langsung menunjuk kepada inti kebenaran spiritual dari peristiwa tersebut. Narasi tentang panggilan Lewi (Matius) adalah sebuah contoh yang baik. Apa yang perlu kita pahami dengan benar dari narasi dalam bacaan Injil hari ini adalah bahwa dalam terang proklamasi Yesus tentang Kerajaan Allah, Matius melihat kerapuhan dari cara hidupnya yang lama dan ia pun mengambil keputusan cepat-tepat untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama itu dan kemudian mengikut Yesus. Seperti dinarasikan dalam bacaan Injil, keputusan Matius ini seakan tidak berdasarkan keputusan yang matang, semuanya terasa spontan dan instan. Harapan manusiawi kita: mungkin akan lebih jelas kiranya apabila bacaan Injil tentang panggilan Matius ini memuat sedikit detil di sana sini untuk membantu para pembaca memahaminya dengan lebih tepat.

Di sisi lain, rasanya tidak mungkinlah apabila Yesus merupakan orang yang sama sekali asing di mata Matius. Yesus telah cukup dikenal di seluruh Galilea (Mat 4:23-25); lagi pula orang banyak senantiasa mengikuti ke mana saja Dia pergi; bahkan mengikuti Dia dari kota ke kota. Sebagai seorang pemungut cukai – seorang petugas yang biasa berhubungan dengan publik – Matius tentunya pernah mendengar tentang Yesus. Barangkali dia juga pernah hadir di satu atau lebih acara pengajaran/khotbah dan/atau acara penyembuhan orang-orang sakit serta pengusiran roh-roh jahat oleh Yesus.

Cintakasihnya kepada Allah bisa saja telah bekerja dalam diri Matius melalui apa yang telah diterimanya dari pesan-pesan yang disampaikan oleh Yesus “plus-plus” (misalnya dia menyaksikan penyembuhan ilahi, berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus). Namun, rasa ragu dan bimbang serta rasa takut mungkin saja belum hilang sama sekali dari dirinya. Yesus memiliki wawasan spiritual yang sempurna ke dalam hati orang. Maka, bayangkanlah apa yang terjadi ketika Matius yang sedang sibuk memungut cukai di tengah-tengah hiruk pikuk pasar yang penuh kesibukan, bertemu dengan Dia – muka ketemu muka. Kita harus senantiasa mengingat apa yang ditulis oleh Uskup Fulton Sheen (Life of Christ – terjemahan Indonesia: “Kristus”), bahwa perjumpaan dengan Yesus senantiasa terjadi di tempat yang kita tidak duga-duga dan pada waktu yang tidak kita sangka-sangka.

Undangan pribadi dari Yesus kepada si Matius pemungut cukai ini sangat singkat dan sederhana: “Ikutlah Aku” (Mat 9:9). Undangan Yesus ini membawa Matius kepada suatu titik pengambilan keputusan yang menentukan, dan – terpujilah Allah – ia memilih untuk memberi tanggapan positif dan sepenuh hati terhadap undangan ini, tentunya berdasarkan pertimbangan pengalamannya sendiri atas apa saja yang pernah didengar dan dilihatnya sebelum saat menentukan itu.

Apa yang hebat-mengagumkan dari pribadi seorang Matius ini? Matius bukanlah seorang insan yang mau hidup suci-suci sendiri. Dia mengundang para pemungut cukai dan pendosa untuk menghadiri perjamuan makan di rumahnya. Pesan Yesus tentang pertobatan dan pengampunan memiliki daya tarik bagi mereka yang mengetahui bahwa diri mereka adalah para pendosa. Jadi, sungguh merupakan suatu kesempatan besar bagi para pemungut cukai dan para pendosa lainnya untuk mengalami persekutuan dengan Yesus dan para murid-Nya lewat sebuah perjamuan makan di rumahnya (Mat 9:10). Dalam salah satu khotbahnya, Santo Bede [c.673-735] mengatakan: “Betapa profetisnya dia (Matius) yang [di kemudian hari] akan menjadi seorang rasul dan guru bangsa-bangsa. Pada jam pertobatannya, dia menarik sekelompok pendosa kepadanya untuk bersama-sama menuju keselamatan. Melalui dirinya yang belum menjadi seorang percaya yang sesungguhnya itu, dia sudah harus melaksanakan tugas evangelisasi yang akan menjadi tugasnya sebagai seorang yang sudah memiliki keutamaan/kebajikan yang matang” [terjemahan bebas dari Bahasa Inggris, Homilies, 21].

Lihatlah, Tuhan mampu untuk membuat kehidupan orang-orang yang mau dan mampu mengakui kedosaan mereka, untuk menghasilkan buah-buah yang baik! Ya Allah, Engkau sungguh baik hati, terimalah persembahan pujian kami!

DOA: Tuhan Yesus, jamahlah aku sekarang dengan kasih-Mu yang menyembuhkan, agar dengan demikian aku dapat menjadi saluran rahmat-Mu serta belarasa-Mu bagi orang-orang di sekelilingku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!!!” (bacaan tanggal 5-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB” (bacaan tanggal 6-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 4 Juli 2013)

Ordo Fransiskan Sekular: Santa Elisabet dari Portugal, Ratu

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8)

Bacaan Pertama: Kej 22:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Ketika Yesus sampai ke kota-Nya sendiri, para ahli Taurat mengamati anak Yusuf tukang kayu dari Nazaret yang sederhana ini membuat mukjizat-mukjizat, bahkan mengampuni dosa. Tentunya mereka merasa bingung juga: Siapa sebenarnya orang ini? Melalui sarana apakah Dia menyembuhkan orang sakit? Dengan otoritas dan kuasa siapakah Dia mengampuni dosa? Para ahli Taurat itu tidak dapat memahami otoritas yang dimiliki Yesus; mereka malah menilai-Nya menghujat Allah. Biar bagaimana pun juga Yesus kan hanya seorang anak tukang kayu di sebuah kota kecil? Apalagi orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret (Yoh 1:46).

Kita percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa dan otoritas mutlak atas segala hal di surga dan bumi. Dia datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Sebagai kurban sempurna yang diberikan dengan bebas oleh Allah untuk menebus dosa-dosa kita-manusia, otoritas Yesus datang melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sepanjang Injilnya, Matius mengungkapkan keilahian Yesus: Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-4), yang sakit demam (Mat 8:14-15), yang lumpuh (Mat 9:1-8) dlsb. Ia memiliki kuasa atas alam seperti ditunjukkan-Nya ketika menenangkan angin ribut yang berkecamuk (Mat 8:23-27). Otoritas-Nya dalam bidang spiritual memanifestasikan dirinya selagi Dia mengusir roh-roh jahat (Mat 8:28-34) dan mengampuni dosa (Mat 9:2).

Bahkan pada hari ini pun Yesus memiliki otoritas atas dosa yang merupakan sebab-musabab penderitaan kita. Yang diminta oleh Yesus hanyalah agar kita percaya kepada-Nya. Kematian-Nya pada kayu salib merupakan pukulan mematikan terhadap dosa. Keporak-porandaan karena dosa tidak perlu mendominasi kehidupan kita. Sebaliknya, dalam Yesus, kepada kita telah diberikan kuasa dan otoritas untuk menjadi bebas-merdeka dari ikatan-ikatan dosa, rasa takut, kemarahan, dan depresi. Oleh kuasa yang kita peroleh melalui kematian Yesus di kayu salib, kita dapat mengalami kuasa untuk menjadi bebas-merdeka dari berbagai hal yang disebutkan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan mengundang Yesus untuk hidup-berdiam dalam diri kita, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam kodrat-Nya. Setiap orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus dapat menjadi seorang pelayan dari rahmat-Nya, penyembuhan-Nya, dan kuat-kuasa-Nya atas dosa. Tentu saja kita sendiri bukanlah pembuat mukjizat. Yesus-lah sang Pembuat mukjizat! Sementara kita memperkenankan Yesus masuk semakin dalam ke dalam hati kita, maka kita mengambil oper karakter-Nya, dengan demikian menjadi “instrumen-instrumen” rahmat-Nya. Seperti ditulis oleh Santo Paulus, “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita bergantung sepenuhnya pada janji-janji Yesus bagi kita agar dengan demikian kita dapat memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan otoritas-Nya di muka bumi ini.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi dan menjadi lebih dekat lagi dengan diri-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu sendiri agar kami dapat memperoleh kehidupan bersama Engkau dan Bapa surgawi selama-lamanya. Kami memuliakan Engkau, karena Engkau sendirilah yang dapat membebas-merdekakan kami dari dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG MESIAS !!!” (bacaan tanggal 4-7-13) dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KUASA ATAS DOSA” (bacaan tanggal 5-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA MELALUI LUKA-LUKA YESUSLAH KITA DAPAT DISELAMATKAN

HANYA MELALUI LUKA-LUKA YESUSLAH KITA DAPAT DISELAMATKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO TOMAS, RASUL – Rabu, 3 Juli 2013)

250px-Caravaggio_-_The_Incredulity_of_Saint_ThomasDemikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Ef 2:19-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 20:24-29

Tomas tidak dapat percaya akan kebangkitan Yesus hanya atas dasar apa yang didengarnya. Tanggapannya kepada para murid Yesus yang bercerita kepadanya tentang perjumpaan mereka dengan Yesus yang telah bangkit itu jelas: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25).

Barangkali kita dapat menyalahkan Tomas sebagai seorang yang berkepala batu yang bersikeras menolak untuk percaya. Kita merasa harus lebih baik daripada Tomas, kita tidak memerlukan bukti-bukti nyata untuk percaya kepada Yesus. Namun kita pun tidak pernah boleh lupa bahwa Allah senang untuk menyatakan diri-Nya kepada kita. Dia ingin menjalin suatu relasi pribadi dengan kita masing-masing – sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar percaya berdasarkan kesaksian atau testimoni orang-orang lain.

Sesungguhnya Santo Tomas adalah suatu tanda pemberi semangat dan harapan yang indah bagi kita semua. Dalam keragu-raguannya, Tomas seakan “orang asing dan pendatang” (Ef 2:19). Akan tetapi, pada saat dia berjumpa dengan Tuhan Yesus yang sudah bangkit, dia menjadi bagian dari fondasi atau “dasar para rasul dan para nabi” (Ef 2:20). Dalam homilinya tentang Santo Tomas, Paus dan Pujangga Gereja Santo Gregorius Agung [540-604] mengatakan: “Kerahiman Allah merancang bahwa murid yang tidak percaya itu, dengan menyentuh luka-luka pada tubuh Gurunya, harus menyembuhkan luka-luka ketidakpercayaan kita …… Ketika dia menyentuh Kristus dan dimenangkan oleh-Nya untuk percaya, maka setiap keraguan disingkirkan dan iman kita diperkuat. Maka murid yang tidak percaya, kemudian merasakan luka-luka Kristus, menjadi seorang saksi tentang realitas kebangkitan.” (Terjemahan dari versi bahasa Inggris: Homily 26).

TOMAS ALIAS DIDIMUSMarilah kita merenungkan betapa baik Tuhan Yesus, yang memasukkan ke dalam kelompok rasul-Nya seorang pribadi yang – dalam proses pemuridannya – sempat tidak percaya. Santo Tomas seharusnya menjadi pendorong dan penyemangat kita, bahwa kita pun dapat memohon agar dapat berjumpa dengan Yesus Kristus serta menaruh kepercayaan kita sepenuhnya, bahwa Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada kita. Dalam perjalanannya dari ketidakpercayaan menuju kepercayaan, Tomas menjadi orang pertama yang menarik perhatian kita pada luka-luka Yesus dan kemampuan luarbiasa dari luka-luka tersebut untuk mengubah iman kita dan mendatangkan kesembuhan atas diri kita.

Luka-luka Yesus merepresentasikan bela-rasa-Nya dan kasih-Nya bagi kita semua, dan juga hasrat-Nya untuk berada dekat dengan kita. Roh Kudus ingin meningkatkan iman-kepercayaan kita. Dia ingin mengajar kita bahwa hanya melalui luka-luka Yesus-lah kita dapat diselamatkan. Oleh karena itu, marilah kita menaruh pengharapan kita pada Yesus yang akan membebas-merdekakan kita dari dosa dan maut. Marilah kita memohon untuk dapat berjumpa dengan Yesus dan dapat berseru bersama Santo Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Beritahukanlah kepada kami tentang kehadiran-Mu pada hari ini. Kuatkanlah iman kami dan penuhilah diri kami dengan kasih-Mu, agar dengan demikian kami dapat mewartakan Injil-Mu kepada siapa saja yang kami jumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:24-29), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA” (bacaan tanggal 3-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 30 Juni 2012 [HARI MINGGU BIASA XIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA KAMU TAKUT, HAI KAMU YANG KURANG PERCAYA?

MENGAPA KAMU TAKUT, HAI KAMU YANG KURANG PERCAYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 2 Juli 2013)

YESUS MENENANGKAN BADAI ANGIN RIBUT DI DANAULalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27)

Bacaan Pertama: Kej 19:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 26:2-3,9-12

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu takut?” (Mat 8:26), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka. Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA KAMU TAKU ???” (bacaan tanggal 2-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 JULI 2013.

Cilandak, 30 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA XIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers