Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [5]

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [5]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus – Sabtu, 3 Mei 2014)

Philip-and-James-610x350

Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

Pada hari ini kita merayakan pesta dua orang dari para rasul Yesus yang pertama: Filipus and Yakobus. Sejarah tidak meninggalkan terlalu banyak cerita terinci tentang apa saja yang terjadi dengan kedua orang rasul ini setelah hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kita bahkan tidak tahu apakah Yakobus ini (juga dikenal sebagai Yakobus kecil) juga sama dengan Yakobus yang memimpin gereja di Yerusalem, orang yang menulis surat Yakobus, atau malah Yakobus yang lain sama sekali.

ROHHULKUDUSAkan tetapi, kita mengetahui bahwa baik Filipus maupun Yakobus selalu ada bersama-sama dengan Yesus dalam karya pelayanan-Nya, dan mereka ada dalam ruangan atas pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama ketika Roh Kudus turun atas para rasul. Kita juga percaya bahwa Filipus and Yakobus wafat sebagai martir Kristus, karena kegiatan pewartaan Injil Yesus Kristus dan kesaksian hidup mereka. Kita memang tidak tahu secara terinci, namun kita dapat menaruh kepercayaan bahwa – seturut janji Yesus – pada akhir hayat mereka, dua orang rasul ini pun telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan Yesus sekali mereka pergi ke tengah dunia dengan pesan Injil.

Kita juga telah menerima Roh Kudus dan telah dipanggil guna mewartakan Injil. Kita semua tahu bahwa kita harus bekerja dan berpikir keras serta cerdas untuk kegiatan evangelisasi dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita. Kita sebagai umat Kristiani yang Katolik cenderung sangat baik dalam pengetahuan tentang apa saja yang diharapkan dari kita – walaupun kita tidak selalu melakukannya. Namun pada hari ini, mungkin harus “berani untuk bermimpi”, bukannya berpikir terus tentang kekurangan-kekurangan kita, di area-area mana saja kita dapat gagal dlsb.

Kita percaya bahwa Yesus menjanjikan kepada kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya. Sebagai orang-orang yang percaya, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kelihatannya pekerjaan-pekerjaan itu? Tanda heran apa yang kiranya Yesus siapkan untuk bekerja melalui diri kita jika kita mengambil langkah iman dan rasa percaya? Para kudus di masa lampau telah melakukan hal-hal yang menakjubkan dalam nama Yesus karena iman mereka. Dapatkah kita mengharapkan hal yang sama terjadi juga dengan kita? Tentu saja kita dapat! Tidak ada di mana pun dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa penyembuhan-penyembuhan tidak dimungkinkan lagi dalam zaman ini, atau makanan di dalam dapur umum tidak dapat dilipat-gandakan secara ajaib, atau seorang sahabat yang tidak percaya tidak dapat memperoleh pengalaman luarbiasa sehubungan dengan kasih Allah. Marilah kita mencoba untuk percaya sepenuhnya akan sabda Yesus dan lihatlah apa yang akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaanku pada janji-janji-Mu, bahkan janji-janji yang terdengar tak masuk akal manusia. Tolonglah aku yang tidak percaya, ya Yesus! Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah diriku seperti rasul-rasul-Mu terkasih, Filipus dan Yakobus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [4]” (bacaan tanggal 3-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [2]” (bacaan tanggal 3-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUAT-KUASA NAMA YESUS

KUAT-KUASA NAMA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius – Jumat, 2 Mei 2014)

jesus4-1

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbutan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15

Para rasul mengakui dan menerima keberadaan kuat-kuasa nama Yesus dalam penyembahan mereka, dalam kegiatan evangelisasi mereka, ketika mereka mendoakan orang-orang sakit, orang yang berada dalam kesusahan, dlsb., dan pada waktu mereka melakukan upacara memecah-mecahkan roti mereka (Ekaristi). Nama Yesus memperkuat mereka, menghibur mereka, dan menyembuhkan mereka selagi mereka bekerja membangun Gereja. Penuh kesadaran akan ketangguhan dan keperkasaan nama Yesus, mereka dengan berani memproklamasikan Injil nama Yesus, walaupun Mahkamah Agama telah melarang mereka mengajar dalam nama Yesus (lihat Kis 5:40-42). Walaupun mereka telah dicambuki, rasul-rasul itu meninggalkan siding Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (Kis 5:40-41).

JESUSNama Yesus merepresentasikan siapa sesungguhnya diri-Nya – kodrat-Nya yang sejati. Jika kita berdoa dalam nama Yesus, hal ini berarti bahwa kita berseru kepada segenap keberadaan-Nya – keilahian-Nya, kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, karakter-Nya, kasih-Nya. Bilamana kita berdoa dalam nama Yesus, kita mempersatukan diri kita dengan Dia. Hasrat-hasrat-Nya menjadi hasrat-hasrat kita. Tujuan-tujuan-Nya menjadi tujuan-tujuan kita. Kehidupan-Nya yang penuh rahmat dan kuasa mengambil alih kehidupan kita yang penuh dengan rasa takut dan dosa. Yesus berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui doa dan ketaatan, kita akan menyaksikan kuat-kuasa nama-Nya mencapai tujuan-tujuan Allah dalam kehidupan kita dan dalam diri mereka yang kita doakan.

Melalui contoh dari kehidupan doa-Nya sendiri, Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa. Dalam doa, Yesus mencari hikmat-kebijaksanaan Bapa-Nya, kuat-kuasa-Nya dan bimbingan-Nya, sebelum melakukan sesuatu. Dan, Bapa surgawi selalu menjawab doa-doa Yesus. Jadi, apabila kita berdoa dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan bahwa rencana-rencana Allah akan dipenuhi. Dalam setiap situasi – apakah sebuah persoalan kecil di tempat kerja atau di rumah, atau suatu krisis besar seperti penderitaan sakit-penyakit serius, kecelakaaan besar yang menelan ratusan jiwa, bencana alam, kematian dlsb. – maka kita dapat menyerukan nama Yesus dengan penuh keyakinan dan pengharapan. Oleh nama-Nya semua kuasa-kegelapan, semua rasa takut, dan sejenisnya akan “kabur-pergi”.

Yesus ingin menghibur kita dengan kehadiran-Nya, kasih-Nya dan damai-sejahtera-Nya. Yesus ingin agar kita sungguh mengakui dan menaruh kepercayaan pada otoritas dan kuat-kuasa dari nama-Nya. Dosa dan kegelapan akan lari ketika nama Yesus diserukan dengan penuh iman. Sebagai murid-murid-Nya di Gereja Perdana, kita pun patut untuk mempunyai keyakinan yang sama.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencintai nama-Mu karena belas-kasih-Mu, kemuliaan-Mu, otoritas tertinggi dari-Mu, kasih-Mu yang penuh pengorbanan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sumber segala kebaikan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMPERHATIKAN UMAT-NYA” (bacaan tanggal 2-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA” (bacaan tanggal 12-4-13) dan “YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG” (bacaan tanggal 20-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH BERTINDAK APA-APA TERHADAP ORANG-ORANG INI” (bacaan tanggal 6-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA HIDUP JEMAAT YANG PERTAMA

CARA HIDUP JEMAAT YANG PERTAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II – 27 April 2014)

Hari Minggu Kerahiman Ilahi

early-church

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Lalu ketakutan melanda semua orang, sebab rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda ajaib. Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah dan mereka disukai semua orang . Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2:42-47)

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,13-15,22-24; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:3-9; Bacaan Injil: Yoh 20:19-31

Bacaan pertama hari ini adalah salah satu dari beberapa ikhtisar dalam “Kisah Para Rasul” yang menggambarkan kehidupan komunitas Gereja Perdana, jadi komunitas Kristiani yang ideal sebenarnya. Bacaan pertama untuk Hari Minggu Paskah kedua pada tahun B (Kis 4:32-35) dan tahun C (Kis 5:12-16) juga memberikan gambaran dari kehidupan komunitas Gereja perdana, namun yang disoroti adalah aspek yang berbeda-beda.

Bacaan kita hari ini mengedepankan empat karakteristik kehidupan komunitas Gereja perdana, yaitu (1) pengajaran para rasul; (2) persekutuan; (3) pemecahan roti; dan (4) doa. Karena memiliki empat karakteristik ini, maka Jemaat atau Gereja Perdana layak disebut Jemaat Kristus yang bangkit.

GEREJA PERDANA KIS 2 KOINONIA1. Jemaat Kristiani Perdana setia pada “ajaran para rasul.” Karena mereka telah menjadi Kristiani (para pengikut Kristus) dengan menerima sabda Yesus Kristus, Injil Yesus Kristus, maka suatu hidup Kristiani harus senantiasa diperdalam dengan pemberitaan Injil secara berkesinambungan. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17).

Dengan penuh kerendahan hati mereka menerima dan mengakui bahwa keselamatan telah terwujud melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Iman akan Kristus yang bangkit memungkinkan jemaat ini menjadi tanda yang menarik banyak orang, seperti ditulis oleh Lukas. “… mereka disukai semua orang” (Kis 2:47). Mereka lebih tangguh menghadapi segala tantangan dan perjuangan hidup ini, karena Yesus Kristus telah lebih dahulu meretas jalan menuju kehidupan baru, dengan mengalahkan segala penderitaan dan kematian, “Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN (YHWH) menolong aku. YHWH itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku” (Mzm 118:13-14).

FELLOWSHIP2. Tanda kedua adalah “persekutuan” (Inggris: fellowship; Yunani: koinonia), yang berarti suatu kehidupan yang disyeringkan, …… hidup bersama. Dengan kata lain kita berbicara mengenai “persaudaraan sejati” di sini. Ungkapan koinonia hanya muncul sekali dalam “Kisah Para Rasul”, namun ini adalah ungkapan favorit dari Santo Paulus, yang menggunakan ungkapan ini 13 kali dalam surat-suratnya. Ini adalah hidup berbagi dengan Allah sendiri yang disebabkan dan dibuat mungkin lewat pewartaan Injil. Persekutuan ini menjadi sebuah komunitas dengan Yesus yang bangkit, yang dibuat efektif oleh Roh Kudus. Dimensi vertikal dari persekutuan ini menghasilkan suatu dimensi horisontal, suatu persekutuan dengan sesama orang Kristiani dengan mewartakan sabda Allah kepada mereka, dan dengan berbagi benda-benda materiil dengan mereka. Jadi, persekutuan misalnya digunakan sehubungan dengan kolekte dari gereja-gereja bimbingan Paulus untuk Gereja induk di Yerusalem (2Kor 9:12-15). Akhirnya persekutuan menggaris-bawahi bahwa jemaat Kristiani Perdana mempunyai hal-hal yang sama, walaupun tidak semua sama, seperti dicontohkan oleh Barnabas (Kis 4:36-37). Semua itu bukan berdasarkan doktrin ekonomi yang dianut, melainkan sesuatu yang bersifat spontan.

Jemaat Kristiani Perdana menjalin satu ikatan persaudaraan yang sangat erat, di mana hanya terdapat cinta kasih. Kasihlah yang membuat mereka mampu membagi-bagi harta milik masing-masing dengan orang-orang lain. Kasihlah yang membuat mereka lebih peka terhadap kemalangan dan kekurangan sesama (Kis 2:44-45).

KOMUNI GEREJA PERDANA3. Dalam artian yang penuh, “pemecahan roti” berarti Ekaristi Kudus, yang telah senantiasa dan akan tetap menjadi sarana utama dari kehidupan komunitas. Jemaat Kristiani Perdana adalah jemaat yang bersatu dalam Ekaristi. Dalam memecah-mecahkan roti jemaat termaksud bukan saja menghadirkan kembali perjuangan-perjuangan Yesus di masa lampau, melainkan juga merayakan masa depan mereka, yaitu bersama Yesus mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah dan sesama (lihat bacaan kedua: 1Ptr 1:3-9).

4. Doa-doa membangun komunitas Kristiani. Gereja atau Jemaat Kristiani adalah jemaat yang bersatu dalam doa (Kis 2:46-47). Sebagai jemaat mereka merasa masih membutuhkan penebusan. Maka, sebagai jemaat yang tertebus mereka sungguh mengakui peranan Kristus dalam hidup dan perutusan mereka masing-masing. Oleh karena itu, sebelum diutus, mereka terlebih dahulu menghadap Tuhan guna mohon berkat dan kekuatan. Mereka mampu menghadapi masalah-masalah dalam hidup ini, karena sudah berkomunikasi dengan-Nya dalam doa (lihat bacaan kedua).

KIS 2Bagaimanakah dengan kita sekarang? Sudah jauhkah berbagai komunitas kita dewasa ini dari praktek komunitas Gereja Perdana? Apakah kita telah kehilangan semangat Gereja Perdana? Bagaimanakah kita harus memperbaikinya? Dalam hal pengajaran? Dalam hal hidup dalam persekutuan? Dalam hal merayakan Ekaristi Kudus? Dalam doa-doa secara komunal?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, segarkanlah kembali berbagai komunitas yang ada dalam Gereja-Mu – lingkungan, paroki, kelompok kategorial dlsb. – agar memiliki ke empat karakteristik yang digambarkan oleh Lukas dalam “Kisah Para Rasul”, yaitu bertekun dalam pengajaran yang berkaitan dengan sabda-Mu, hidup dalam persekutuan, mengandalkan Ekaristi Kudus untuk senantiasa menguatkan kami sebagai murid-murid-Mu, dan kehidupan doa yang tidak berat sebelah, antar doa-doa secara pribadi dan doa-doa secara komunal. Dengan demikian, kami pun dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “MENYENTUH LUKA-LUKA YESUS” (bacaan tanggal 27-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMI TELAH MELIHAT TUHAN !!!” (bacaan tanggal 15-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:42-47), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN BARU TELAH DIBUKA BAGI PARA MURID YESUS” (bacaan tanggal 15-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 24 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MEMPROKLAMASIKAN YESUS

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MEMPROKLAMASIKAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat dalam Oktaf Paskah – 25 April 2014)

PETRUS DAN YOHANES DENGAN ORANG LUMPUHKetika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.

Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dari Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini, “Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:1-12)

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Injil: Yoh 21:1-14

Petrus dan Yohanes tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk berkhotbah dan memproklamasikan kebangkitan Yesus dari alam maut karena mereka mengetahui bahwa pesan ini mengandung kuat-kuasa kehidupan. Kita dapat melihat kuat-kuasa pesan mereka dengan mempertimbangkan jumlah orang yang menjadi percaya setelah mendengar khotbah Petrus. Lukas (pengarang “Kisah Para Rasul”) menceritakan kepada kita bahwa setelah Petrus berkhotbah di Serambi Salomo (Kis 3:11-26), banyak orang yang “menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki” (Kis 4:4). Ini sungguh merupakan bukti nyata bahwa khotbah Petrus berisikan pesan yang penuh kuat-kuasa.

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES -  KIS 4Sekarang, digiring bersama Yohanes ke hadapan Sanhedrin, Petrus bersikukuh untuk mengumumkan pesan keselamatan yang sama, “kerygma Yesus”, yaitu proklamasi tentang kehidupan, penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Dan kita harus camkan benar-benar bahwa proklamasi oleh Petrus ini tidak bersumber pada kekuatannya atau keyakinannya sendiri, akan tetapi sebagai instrumen Tuhan dia menyampaikan pesan Injil melalui kuat-kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam dirinya (Kis 4:8). Nah, Roh Kudus yang aktif bekerja dalam diri Petrus juga aktif bekerja dalam hati semua orang, yang berdasarkan kekuatan sabda-Nya, mengarahkan hati mereka kepada Kristus pada hari itu dan bergabung dengan umat yang percaya kepada Kristus.

Proklamasi Kristus ini berada pada pusat pesan Injil, dan kita pun dipanggil untuk memproklamasikan Yesus Kristus dengan kata-kata dan juga hidup kita. Adalah Roh Kudus dalam diri kita yang menyatakan Pribadi Yesus dan menyulut pikiran kita, imajinasi kita dan hati kita agar kita dapat berbicara mengenai Yesus dengan penuh kasih dan keyakinan. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus menyalakan api cinta-Nya dalam diri kita, maka kita pun akan dimampukan untuk berbicara dengan kuat-kuasa dan otoritas seperti ditunjukkan oleh Petrus dan Yohanes.

Umat Gereja Perdana di Yerusalem dan di tempat-tempat lain sangat menggantungkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu adalah penting bagi kita untuk memahami bahwa kita juga tergantung pada Roh Kudus yang memberdayakan kita dalam aktivitas pelayanan kita bagi Allah. Begitu sering dalam keluarga dan gereja kita menggantungkan diri pada energi kita sendiri dan mencoba untuk mencapai tujuan-tujuan spiritual, terutama dengan menggunakan sumber daya manusia, bertindak sebagai instrumen-instrumen manusia dengan menggunakan kekuatan manusia.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita – khususnya pada hari ini – membuka diri kita bagi Roh Kudus selagi kita berupaya memproklamasikan dan menghayati sendiri pesan dari Kristus yang bangkit.

DOA: Bapa surgawi, ciptakanlah dalam diri kami semangat berapi-api yang dimiliki para rasul-Mu yang pertama. Penuhilah diri kami masing-masing dengan Roh Kudus sehingga dengan demikian kami pun dapat turut serta mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dan membangun Kerajaan-Mu, bukan dengan kekuatan kami sendiri, melainkan dengan kuat-kuasa dan otoritas-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN MEMATUHI SABDA YESUS, KITA PUN AKAN MENGHASILKAN BUAH BERLIMPAH” (bacaan tanggal 25-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 1404 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS SENANTIASA HADIR UNTUK MENGUATKAN IMAN KITA” (bacaan tanggal 5-4-13) dan “MARILAH DAN SARAPANLAH” (bacaan tanggal 13-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA NAMA LAIN YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA, KECUALI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 9-4-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 22 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIUTUS OLEH YESUS SENDIRI

DIUTUS OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Paulus Miki, Imam dkk., Martir – Kamis, 6 Februari 2014)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Petrus Baptista, Paulus Miki, Filipus dr Yesus dkk. Martir

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASIa memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13)

Bacaan Pertama: 1Raj 2:1-4,10-12; Mazmur Tanggapan: 1Taw 29:10-12

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama melakukan karya pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan/pembebasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuat-kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di “kandang”-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus mengerti sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mrk 6:8-9). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit dan teristimewa untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, akan tetapi bukankah berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis harus tetap diperhatikan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mrk 6:8 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, maka kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, kepada kita masing-masing diberikan amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan untuk kasih dan kuasa-Nya bekerja dengan penuh kemenangan. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita.

Allah sangat suka bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen, lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya, tidak lebih tidak kurang. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk melayani belaskasih Allah kepada orang-orang lain: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Ingatlah baik-baik, bahwa bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda. Kita juga tidak boleh melakukan apa yang diperintahkan Yesus sendiri, “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Luk 17:10). Perintah ini berlaku untuk kita semua yang menamakan diri “murid-murid Yesus”, apakah awam atau pun klerus di segala tingkat.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUTUS KEDUA BELAS RASUL” (bacaan tanggal 6-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

PARA MARTIR NAGASAKI: Pada hari ini Gereja memperingati 26 orang martirnya yang mati disalib pada tahun 1597 di Nagasaki. Para martir tersebut berjumlah 26 orang yang terdiri dari: 3 orang biarawan Yesuit (a.l. Paulus Miki), 6 orang OFM (3 imam, 2 bruder dan seorang frater/calon imam), dan 17 orang anggota Ordo Ketiga sekular St. Fransiskus [OFS] dengan latar belakang usia dan profesi yang berbeda-beda: dari Juru Masak sampai kepada Katekis; dari Direktur Rumah Sakit (2) sampai kepada Putera Altar. Bacalah kisah kepahlawanan mereka dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN.

Cilandak, 4 Februari 2014 [Peringatan S. Yosef dr Leonisa]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI ORANG GERASA ITU, KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS

SEPERTI ORANG GERASA ITU, KITA PUN DIUTUS OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Senin, 3 Februari 2014)

Peringatan S. Blasius, Uskup Martir

Healing_of_the_demon-possessed

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu tinggal di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu.

Di lereng bukit itu banyak sekali babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan merasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnyal
Penjaga-penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan Legion itu. Mereka pun merasa takut. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan ini meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. (Mrk 5:1-20)

Bacaan Pertama: 2Sam 15:13-14,30;16:5-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 3:2-7

Jesus_109Bacaan Injil hari ini adalah satu dari 4 (empat) peristiwa pengusiran roh jahat yang dinarasikan dalam Injil Markus. Peristiwa ini terjadi di Gerasa, di seberang Danau Genesaret, di mana Yesus telah pergi untuk bermalam bersama para murid-Nya. Baru saja mereka mendarat, sambil berlari datanglah seseorang yang kerasukan roh jahat kepada Yesus.

Kita melihat bahwa roh jahat dalam diri orang itu mengenal Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, artinya menerima dan mengakui bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk mengusir dirinya ke luar dari orang itu. Roh Jahat yang bernama Legion itu memohon kepada Yesus agar Yesus tidak mengusir mereka ke luar dari daerah itu, dan akhirnya mereka diperkenankan masuk ke dalam kawanan babi. Babi-babi itu akhirnya terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

Apakah reaksi dari orang-orang yang menyaksikan insiden itu? Para penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Para penduduk keluar untuk melihat apa yang terjadi. Setelah mendengar apa yang terjadi dengan orang yang kerasukan itu dan kawanan babi itu, maka mereka pun mendesak Yesus agar Ia meninggalkan daerah mereka.

Tentunya mereka telah menyadari bahwa Yesus telah menunjukkan kuat-kuasa ilahi untuk mengusir dan memindahkan roh-roh jahat dari orang itu. Namun mereka tidak menginginkan Yesus ada di situ. Mengapa? Apakah hal itu dilakukan karena mereka telah menderita kerugian yang besar karena “habisnya” investasi mereka dalam babi-babi yang sekarang sudah terbenam di danau. Apakah mereka sungguh begitu menikmati kondisi kehidupan mereka sehingga tidak mau ada utusan ilahi yang mengganggu atau mengkonfrontir mereka.

Orang yang telah dibersihkan oleh Yesus malah bereaksi secara normal untuk mengikuti Yesus, suatu reaksi yang dapat dimaklumi. Namun Yesus tidak memperkenankan permohonan orang itu, malah Dia memberikan kepada orang tersebut suatu misi, suatu tujuan yang baru dalam kehidupannya. Yesus bersabda kepadanya, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Mrk 5:19).

Sekarang, pertanyaannya adalah apakah kita mau mengorbankan nilai-nilai spiritual demi kenikmatan dari hal-hal yang materiil dalam hidup kita? Apakah kita (anda dan saya) lebih baik daripada orang banyak yang menolak diri-Nya seperti diceritakan dalam bacaan Injil hari ini? Janganlah kita pernah melupakan kenyataan bahwa Yesus seringkali menyembuhkan kita dari pengaruh-pengaruh roh jahat dan dari ketidak-bersihan lainnya. Yesus juga menginginkan kita – seperti orang Gerasa itu – untuk pergi dan memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang lain. Kita juga harus menjadi para utusan dari belas kasih Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal dan mengalami damai-sejahtera-Mu. Penuhilah diri kami dengan hidup-Mu dan bebaskanlah kami dari kegelapan yang selama ini menghalangi kami untuk menerima kasih-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Sam 215:13-14,30;16:5-13a), bacalah tulisan yang berjudul “BAGI DAUD, TIDAK ADA YANG LEBIH PENTING DARIPADA RELASINYA DENGAN ALLAH” (bacaan tanggal 3-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 30 Januari 2014 [Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III Sekular S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PAULUS DAN PERTOBATANNYA

PAULUS DAN PERTOBATANNYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Bertobatnya Santo Paulus, Rasul – Sabtu, 25 Januari 2014)

HARI PENUTUP PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

PAULUS SEDANG KE JALAN DAMSYIK“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat bersaksi. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.

Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah mendekati Damsyik, kira-kira tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku. Lalu rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suara yang berkata kepadaku: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawabku: Siapakah Engkau, Tuan? Kata-Nya: Akulah Yesus, orang Nazaret, yang kauaniaya itu. Orang-orang yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar. Lalu kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu. Karena aku tidak dapat melihat disebabkan oleh cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik. Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang yang saleh menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri di dekatku dan berkata: Saulus, saudaraku, hendaklah engkau melihat kembali! Seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan! (Kis 22:3-16)

Bacaan Pertama alternatif: Kis 9:1-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: 16:15-18

Dari semua orang yang kita temui dalam Kitab Suci, Paulus kiranya menduduki salah satu tempat teratas – kalaupun tidak paling atas – dalam hal sepenuhnya taat kepada perintah Yesus untuk mewartakan Injil seperti diungkapkan dalam bacaan Injil hari ini. William Barclay malah memberi judul “AMBASSADOR FOR CHRIST” (DUTA BAGI KRISTUS) untuk bukunya tentang hidup dan ajaran Paulus (The Saint Andrew Press, 1973). Orang kudus ini berubah dari orang yang membenci Yesus menjadi orang yang sangat mengasihi-Nya dan memberikan hidupnya bagi Dia agar supaya setiap orang dapat mengenal kasih-Nya yang sangat indah.

Cerita tentang pertobatan dapat memenuhi diri kita dengan pengharapan besar. Ia pernah berdosa karena kesalahan serius, yaitu memimpin penganiayaan atas para pengikut Yesus. Namun demikian, Yesus menunjukkan belas kasih-Nya kepada Paulus dan menjadikan dia sebagai salah seorang kudus terbesar sepanjang masa. Apabila Yesus dapat melakukan “keajaiban” seperti itu terhadap diri Paulus, maka bayangkanlah apa yang dapat dibuat-Nya bagi kita! Pada hari ini kita merayakan pesta dalam rangka pertobatan seseorang yang dahulunya sombong, suka memaksakan kehendaknya, keras kepala, dan kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan. Pertobatan Paulus adalah sebuah tanda yang sungguh menyemangati kita dan menambah keyakinan kita bahwa belas kasih dan rahmat Yesus dapat mengubah para pendosa yang terburuk sekali pun, untuk menjadi pelayan-Nya yang sungguh tangguh.

Dengan Paulus kita tidak hanya merayakan pertobatannya yang dramatis pada awal perjalanannya bersama Yesus, melainkan juga pertobatannya yang terus-menerus dalam hidupnya. Kita dapat saja membayangkan Paulus sebagai seorang pribadi yang tidak pernah marah besar, selalu bersikap serta berperilaku baik dan lemah lembut, dan tidak pernah membuat kesalahan. Namun Perjanjian Baru memberikan gambaran yang agak lain tentang orang kudus ini. Di depan umum Paulus mengkonfrontasi Petrus ketika berada di Antiokhia (lihat Gal 2:11-14). Ia berselisih dengan Barnabas mengenai Yohanes Markus yang mengakibatkan perpecahan antara dua orang yang dahulunya bersahabat sangat erat (Kis 15:36-40). Paulus bahkan mengatakan orang-orang Galatia itu “bodoh” (Gal 3:1), padahal dia dipanggil untuk menggembalai jemaat itu dengan kasih Kristus.

Seperti kita semua, Paulus mempunyai sisi negatif dalam karakter pribadinya yang membutuhkan sekian tahun lamanya untuk diluruskan oleh Allah. Paulus tidak selalu merupakan suatu “model” kesempurnaan. Sesungguhnya, dia adalah seorang pribadi manusia yang riil, yang berkembang dari seorang yang mengasihi diri sendiri menjadi seorang yang sungguh mengasihi Yesus. Hal tersebut dapat memakan waktu seumur hidupnya, namun Allah tetap setia. Paulus terus berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus. Jadi, di mana pun posisi kita hari ini dalam berjalan dengan Tuhan, bahkan jika kita “gagal banget”, jatuh dan jatuh lagi, Allah akan bekerja dalam diri kita apabila setiap kali kita jatuh kita bangkit lagi dan tetap berbalik kepada-Nya.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, percayalah bahwa kita semua dapat ditransformasikan dengan penuh kuasa seperti Paulus juga.

DOA: Tuhan Yesus, betapa besar belas kasih-Mu terhadap para pendosa! Aku sungguh berterima kasih penuh syukur karena oleh Roh Kudus-Mu, Engkau membawa pertobatan dan transformasi mendalam. Buatlah aku agar menjadi seorang kudus, bahkan ketika aku melihat diriku sebagai seorang pendosa besar. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama alternatif hari ini (Kis 9:1-22), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM PERJALANAN KE DAMSYIK” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-1-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 22 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA DIPANGGIL MENJADI RASUL-RASUL-NYA

MEREKA DIPANGGIL MENJADI RASUL-RASUL-NYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Fransiskus dr Sales – Jumat, 24 Januari 2014)

HARI KETUJUH PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

pppas0017-JESUA AND THE 12 DISCIPLESKemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. (Mrk 3:13-19)

Bacaan Pertama: 1Sam 24:3-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:2-4,6,11

Dalam bacaan Injil hari ini, Markus menceritakan kepada kita bahwa Yesus mengumpulkan sejumlah orang yang telah ditentukan-Nya sendiri. Hal ini langsung diikuti oleh potongan kalimat: “dan mereka pun datang kepada-Nya” (Mrk 3:13).

Mrk 3:13 memuat kalimat singkat yang di mana digambarkan panggilan Yesus dan tanggapan para murid terhadap panggilan-Nya untuk menjalankan tugas pelayanan khusus sebagai rasul-rasul. Jelas bahwa Yesus memanggil mereka dengan kuasa. Dia menentukan sendiri siapa saja yang diinginkan-Nya. Di sisi lain para rasul begitu dipengaruhi oleh panggilan Yesus sehingga mereka datang untuk bergabung dengan Dia. Mereka menanggapi panggilan Yesus itu tanpa rasa ragu, juga tanpa bertanya berapa besar “biaya” yang harus ditanggung oleh mereka sebagai rasul Kristus, dan apa “manfaat” yang dapat mereka peroleh.

Kemudian Yesus memberikan (mendelegasikan) kepada para rasul itu otoritas atau kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Mereka juga akan diutus untuk mewartakan Kabar Baik. Namun pertama-tama mereka perlu menjadi “sahabat dekat” Yesus, untuk beberapa waktu lamanya berada dekat dengan Dia. Yesus ingin mempersiapkan mereka untuk misi mereka. Pertama-tama mereka harus belajar menyadari apa artinya menjadi murid-murid khusus yang dipilih secara istimewa oleh Yesus sendiri.

Injil menekankan betapa pentingnya untuk berada bersama dengan Yesus, meluangkan waktu dengan Dia, sebelum seseorang sungguh siap untuk pergi ke luar guna mewartakan Injil ke tengah dunia. Yesus membuktikan sendiri dengan kesaksian hidup-Nya sebagai seorang pewarta keliling. Sebelum Yesus memulai kehidupan-Nya di depan publik, Ia menyediakan waktu yang cukup lama untuk pergi dan diam di padang gurun guna mengalami persekutuan yang akrab dengan Bapa-Nya. Kita tentu tahu bahwa sepanjang “retret”-Nya Yesus juga mengalami godaan-godaan berat dari Iblis (Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Sebagai umat Kristiani, kita semua mempunyai suatu misi. Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Yesus. Definisi Markus tentang seorang murid Yesus adalah jelas, yaitu seorang sahabat dekat Yesus, yang menyediakan waktu yang bukup untuk berada bersama Dia, tentunya dalam/melalui doa-doa pribadi, dalam/melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dalam ikut ambil bagian dalam puncak liturgi – perayaan Ekaristi – dan sakramen-sakramen lainnya. Ini adalah standar sederhana guna mengukur kemuridan kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau memberi kesempatan kepadaku untuk mengalami kehadiran-Mu dan belajar dari-Mu tentang sukacita dan biaya kemuridan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 24:3-21), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP MENGHORMATI DAN MENDOAKAN MEREKA YANG MEMEGANG OTORITAS” (bacaan tanggal 24-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 22 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS DAN SALING MENGASIHI SETURUT PERINTAH-NYA

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS DAN SALING MENGASIHI SETURUT PERINTAH-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 6 Januari 2014)

st-john-the-evangelist-1620 (1)Apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Siapa yang menuruti segala perintah-Nya, ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan (1Yoh 3:22-4:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11; Bacaan Injil: Mat 4:12-17,23-25

Di abad pertama era Kekristenan, muncul suatu ajaran sesat yang menyangkal kemanusiaan Yesus Kristus. Ada pendapat bahwa pengarang surat pertama Yohanes menuliskan suratnya dalam rangka melawan jenis pemikiran seperti ini. Pandangan seperti ini memecah belah komunitas Kristiani di mana dia menjadi penatuanya. Yohanes merasakan kepedihan yang mendalam dan merasa agak tersinggung disebabkan oleh perpecahan yang terjadi karena ajaran sesat tersebut. Suratnya yang pertama ini berupaya untuk menyingkap desepsi/tipuan/muslihat para guru palsu dan untuk membawa kembali umat kepada persatuan dan kasih – hakekat dari Kekritenan/Kristianitas.

CAIJSPMBPercaya kepada Nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus (1Yoh 3:23). Apabila umat Allahj hidup bersama dalam kasih Yesus, maka mereka pun mengenal dan mengalami berkat-berkat dari kehadiran-Nya. Mereka mengalami damai-sejahtera dan keyakinan dalam Kristus; mereka tahu bahwa mereka dapat mengatasi tantangan apa saja yang ada di hadapan mereka, termasuk ancaman perpecahan. Yohanes berupaya untuk menyemangati mereka yang tetap setia berada dalam komunitas, dengan mengingatkan mereka tentang kebenaran-kebenaran sentral pesan Injil. Ia ingin menyakinkan mereka bahwa mereka akan tetap berada dalam Yesus jika mereka mentaati sabda-Nya dan tetap saling mengasihi.

Yohanes juga mengakuinya adanya kebutuhan untuk menolong para anggota komunitasnya untuk melakukan discernment, artinya membeda-bedakan roh: (1) apa yang datang dari Roh Kudus, (2) apa yang datang dari roh jahat yang diwakili oleh nabi-nabi/guru-guru palsu, atau (3) apa saja yang berasal dari ide-ide mereka sendiri. Tes-nya sebenaranya sederhana: Setiap sabda profetis (kenabian) yang meninggikan Yesus Kristus yang lahir sebagai seorang anak manusia dapat dipercaya. Segala bisikan atau ajaran yang menyangkal Yesus adalah palsu, artinya roh antikristus (1Yoh 4:1-3). Dengan menerapkan tes ini dan menjaga hati mereka agar tetap berakar dalam kasih Alah, maka merka tidak perlu merasa takut. Mereka akan mampu mengatasi halangan apa saja.

Surat ini, yang ditulis dan ditujukan kepada orang-orang Kristiani perdana, tetap dipenuhi kebenaran bagi siapa saja yang membacanya. Dengan begitu banyak isu yang beredar dan terbuka untuk perdebatan – bahkan di dalam Gereja sendiri – kita dapat merasa bingung. Namun dengan percaya kepada Yesus sebagai Allah dan manusia, dan mengasihi satu sama lain, tetap merupakan kebenaran-kebenaran iman-kepercayaan kita. Allah mengasihi kita dan tidak akan membuang atau meninggalkan kita. Allah akan melindungi Gereja-Nya dan membuat kita sebagai pemenang-pemenang selagi kita berupaya mencari kasih Yesus dan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang sungguh baik, satu-satunya kebaikan. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena sabda-Mu yang mengajarkan kepada kami dan menyemangati kami. Lindungilah kami dari tipu-daya Iblis dan para pengikutnya, dan tolonglah kami agar senantiasa berada dalam Kristus dan saling mengasihi dengan saudara-saudara kami seturut perintah Yesus Kristus sendiri, Dia yang adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN SURGA DAN MENYERUKAN PERTOBATAN” (bacaan tanggal 6-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 4 Januari 2014 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Perawan, Ordo III Sekular S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNG YANG PENUH DENGAN ULAR-ULAR

KARUNG YANG PENUH DENGAN ULAR-ULAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Kamis, 2 Januari 2014)

YOHANES PEMBAPTIS - 51Inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Kalau begitu, siapa? Apakah engkau Elia?” Ia menjawab, “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Ia pun menjawab, “Bukan!” Karena itu kata mereka kepadanya, “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun, ‘Luruskanlah jalan Tuhan!’ seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya.”

Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, “Kalau demikian, mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis. (Yoh 1:19-28)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:22-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

Sikap yang diambil oleh Yohanes Pembaptis adalah suatu sikap yang sulit untuk diterima pada masa modern ini. Yohanes tidak mau memperoleh penghargaan bagi dirinya sendiri. Dengan lugas Ia mengatakan bahwa dirinya bukanlah sang Mesias, bukan juga Elia atau salah seorang Nabi besar. Yohanes mengakui bahwa keberadaannya hanyalah untuk satu tujuan, yaitu mempersiapkan jalan bagi seorang Pribadi, seseorang yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri, sehingga membuka tali kasut-Nya pun Yohanes merasa tidak layak.

Kerendahan hati Yohanes, keikhlasannya untuk duduk di kursi belakang, kesederhanaannya, kalau kita mau berterus-terang, bukanlah sikap yang populer. Namun, setiap orang juga tidak menyukai kebalikannya, yaitu keangkuhan, bilamana dia melihatnya terdapat dalam diri orang lain. Pada umumnya manusia tidak ingin melihat seorang lain bertindak seakan-akan dia adalah seorang yang mahakuasa, padahal kita sendiri suka bersikap sombong dan angkuh juga. Kita bertindak seperti kera-kera dalam eksperimen terkenal dari Darwin. Darwin menunjukkan kepada beberapa ekor kera sebuah karung penuh dengan ular-ular. Kera-kera itu menjerit sambil mengangkat tangan mereka dan kemudian berlarian dari tempat itu. Akan tetapi kera-kera tersebut datang kembali untuk melihat ular-ular itu, namun kemudian menjerit lagi sambil mengangkat tangan-tangan mereka dan berlarian lagi. Sikap dan tindakan kera-kera itu berulang beberapa kali. Keangkuhan – memandang diri sendiri sebagai orang penting/hebat – adalah seperti sebuah karung yang penuh dengan ular-ular, lebih berbahaya dan merusak daripada ular-ular itu sendiri. Kita menjerit keras sambil memalingkan muka kita dan pergi apabila melihat seseorang terlibat dalam apa yang kita nilai sebagai keangkuhan atau aib, namun kita terus saja kembali dan kembali lagi untuk memuaskan ego kita.

YOHANES PEMBAPTIS MEWARTAKAN PERTOBATANYohanes Pembaptis jauh lebih bijaksana dari kebanyakan kita. Dia menolak godaan memikat untuk menjadi lebih dikagumi daripada Dia yang akan datang. Yohanes juga tidak ingin menahan (bahasa Betawi: ngangkangin) murid-muridnya bagi dirinya sendiri, artinya tidak egois. Kita dapat saja mengatakan bahwa Yohanes melakukan tugas yang sia-sia dan tidak diimbali dengan rasa terima kasih sepantasnya …… a thankless job, karena pekerjaannya itu penuh dengan risiko kehilangan nyawanya, membuang-buang energi dan kehilangan para pengagumnya …… demi seorang lain yang akan menggantikannya. Akan tetapi Yohanes sepenuhnya memahami panggilan atas dirinya: dia harus memimpin orang-orang lain kepada Kristus, bukan kemuliaan bagi dirinya.

Sesungguhnya, ini juga panggilan bagi kita semua, yaitu untuk membawa orang-orang lain kepada Kristus, tidak untuk diberi pujian atau semacam bintang jasa atau satya lencana bagi diri kita sendiri apabila kita telah berhasil mencapai hasil yang baik. Ibaratnya kita adalah keledai yang ditunggangi oleh Yesus ketika memasuki kota Yerusalem. Jika kita berpikir atau merasa bahwa diri kitalah yang dipuji dan dielu-elukan oleh orang banyak, dan kita mengangkat kedua kaki depan kita keatas, maka Yesus dapat jatuh ke tanah. Hanya dengan cara menempatkan Yesus sebagai “pemain utama” dan diri kita hanya sebagai alat-alat-Nya, maka kita dapat menemukan “pemenuhan diri” (self-fulfillment), jalan satu-satunya agar pekerjaan-pekerjaan kita dapat berefek kekal-abadi, jalan satu-satunya bagi cintakasih kita agar dapat menjadi riil dan meyakinkan.

Santo Basilios Agung, uskup di Kaisarea (330-379) dan Santo Gregorios, uskup di Nazianze (329-389) yang kita peringati hari ini adalah dua orang sahabat yang merupakan para teolog dan pujangga Gereja yang tersohor. Tugas pelayanan mereka sehari-hari, termasuk membela ajaran-ajaran Gereja terhadap serangan-serangan dari kelompok bid’ah, semua berkenan di mata Allah, karena mereka tetap tinggal di dalam Kristus pada situasi apa pun yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku menjadi riil dengan memperkenankan aku untuk mengenal Engkau, dan juga memperkenankan aku untuk mengenal diriku sendiri. Dengan demikian karung yang penuh dengan ular-ular itu tidak akan mampu menggoda diriku lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “TINGGAL DI DALAM KRISTUS” (bacaan untuk tanggal 1-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 1 Januari 2014 [HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers