Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

MURID-MURID KRISTUS DI TENGAH DUNIA

MURID-MURID KRISTUS DI TENGAH DUNIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 19 Oktober 2013)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Petrus dr Alkantara, Imam

jm_200_NT1.pd-P13.tiff

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12)

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9, 42-43

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat)

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 4:13,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN YANG DIBERDAYAKAN OLEH ROH KUDUS” (bacaan tanggal 19-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU!” (bacaan tanggal 15-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 12 Oktober 2013 [Peringatan S. Serafinus dr. Montegranaro, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN EVANGELISASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penginjil – Jumat, 18 Oktober 2013)

LUKAS-LAMBANGSetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9)

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Bacaan Injil hari ini – dalam versinya yang lebih panjang (Luk 10:1-12) – merupakan bacaan Injil untuk Misa Kudus hari biasa pekan biasa XXVI – Kamis, sekitar dua pekan lalu. Jadi, sudah kita soroti dan renungkan bersama pesannya, yaitu berkaitan dengan “evangelisasi”. Dengan demikian pada hari Pesta Santo Lukas, Penginjil, baiklah kita soroti orang kudus ini dan sedikit mengulas mengenai karya evangelisasinya.

Santo Lukas bukanlah seorang saksi langsung dari kehidupan Yesus. Ia tidak menjadi seorang yang percaya akan keselamatan yang datang dari Yesus Kristus sampai dia mendengar pewartaan Injil dari seorang lain. Tetapi setelah itu, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pewartaan Injil seturut amanat agung Yesus (the great commission) yang tercatat dalam Injil Matius (Mat 28:18-20). Lukas melakukan perjalanan bersama Paulus sebagai seorang anggota tim misioner sang Rasul, dan membuat Yesus Kristus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, barangkali dengan “biaya” yang harus ditanggungnya, dalam hal ini karirnya sebagai seorang tabib.

LUKAS MENULISKita semua telah dipanggil oleh Allah untuk melakukan evangelisasi, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas”. Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.”

Namun demikian, di mana kita harus memulainya? Bersama Yesus sendiri! Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan Yesus berarti bersumber dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk mewartakan Kabar Baik tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang alamiah, karena Roh Kudus-Nyalah yang sebenarnya bekerja.

Tanpa harus melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus, kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri kepada orang-orang lain yang kita temui, untuk bercerita kepada orang-orang itu bahwa Allah mengasihi mereka, kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Semua tentunya harus dilakukan berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus, karena kalau tidak demikian halnya kita dapat saja merasa dan/atau berpikir bahwa kitalah aktor utama dalam setiap karya evangelisasi.

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Bapa surgawi, Putera-Mu terkasih mengajarkan kepadaku bahwa cintakasih yang sejati adalah memberikan nyawaku demi sahabat-sahabatku (Yoh 15:13). Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah diriku menjadi seperti Santo Lukas yang dengan penuh dedikasi melaksanakan kehendak-Mu dan membangun Tubuh Kristus di dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Tim 4:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU” (bacaan tanggal 18-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.
Sedapat-dapatnya bacalah juga tulisan yang berjudul “SANTO LUKAS, PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL” (bacaan tanggal 18-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 12 Oktober 2013 [Peringatan S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 5 Oktober 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderma

70 MURID YAN DIUTUS KEMBALI DENGAN PENUH SUKACITAKemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur 69:33-37

Baik Yesus maupun para murid-Nya bergembira ketika mereka (para murid) kembali dari perjalanan misioner mereka, namun berdasarkan alasan-alasan yang berbeda. Para murid Yesus merasa gembira penuh sukacita karena mengalami kuat-kuasa Allah yang bekerja melalui diri mereka (Luk 10:17). Mereka telah berhasil menyembuhkan orang-orang sakit dan membebaskan mereka yang dirasuki roh-roh jahat. Kita dapat membayangkan para murid yang merasa takjub atas keberhasilan “mereka” sendiri dan saling berkata satu sama lain: “Hei, Injil ini sungguh manjur!”

Karena hal inilah yang dikehendaki oleh Yesus untuk dilakukan oleh para murid-Nya dalam misi mereka, maka tentunya Dia juga bergembira mendengar “cerita sukses” para murid-Nya itu. Namun Yesus melihat bahwa perlulah untuk membuat suatu penyesuaian, kasarnya suatu perubahan, dalam sikap-sikap para murid-Nya. Para murid tersebut menghadapi bahaya “luput melihat” alasan yang paling penting untuk bergembira, yaitu bahwa mereka telah menjadi warga-warga Kerajaan-Nya dan akan berada bersama Dia selama-lamanya (Luk 10:20). Peragaan kuat-kuasa ilahi yang mereka alami dan dapat dikatakan bersifat sensasional sebenarnya merupakan sebagian saja dari kehidupan dalam Kerajaan Allah. Mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya bukanlah Kerajaan itu sendiri!

Cukup kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan para murid-Nya, Yesus berterima kasih penuh syukur kepada Bapa di surga untuk hal terpenting yang dicapai melalui misi para murid-Nya: Kebenaran Injil telah dinyatakan kepada orang-orang, baik dengan kata-kata maupun perbuatan nyata. Kata-kata Yesus yang bersifat koreksi dan doa syukur-Nya menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam jantung kekristenan (Kristianitas). Secara fundamental, Kristianitas adalah masalah “pernyataan diri/perwahyuan oleh Roh Kudus” dan “kewargaan di dalam Kerajaan Surga”. Segala hal lainnya adalah pertumbuhan selanjutnya dari dua karunia yang indah ini.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, sadarkah kita (anda dan saya) bahwa Allah telah memilih kita masing-masing untuk menjadi seorang warga Kerajaan-Nya? Dapatkah kita melihat bahwa ada privilese yang tersedia bagi kita – untuk menerima perwahyuan Roh Kudus dan mengenal sentuhan Allah pada hati kita? Kita masing-masing sebenarnya tidak diundang untuk sekadar menjadi seorang hamba Allah, yang menerima kuat-kuasa dari-Nya demi Kerajaan-Nya. Allah ingin membuat diri kita masing-masing menjadi anak-Nya. Allah ingin mencurahkan afeksi-Nya atas diri kita masing-masing, seperti setiap ayah akan memperhatikan anak-anaknya. Menjalin suatu relasi pribadi dengan Allah sekarang dan janji untuk berada bersama-Nya selama-lamanya: Inilah warisan kita masing-masing sebagai seorang murid Yesus. Semoga realisasi dari karunia-karunia Allah membuat kita pantang mundur dalam mengasihi dan melayani Dia.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mendaftarkan namaku di dalam kitab kehidupan. Aku menyembah Engkau dan memuji Engkau karena Engkau telah menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku bergembira penuh sukacita dalam karunia Roh Kudus-Mu. Terima kasih, ya Bapa, untuk belas kasih dan rahmat-Mu yang telah Kautunjukkan lewat diri Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 5-10-13) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEMBALINYA KETUJUH PULUH MURID” (bacaan tanggal 6-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Kamis, 3 Oktober 2013)

YESUS MENGUTUS PARA MURID-NYASetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12)

Bacaan Pertama: Neh 8:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Yesus menginginkan agar semua orang diselamatkan. Ini senantiasa menjadi hasrat hati-Nya yang terdalam, dan inilah alasan mengapa Dia mengutus para murid-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lukas merupakan satu-satunya pengarang Injil yang mencatat perjalanan misioner 70 (atau 72) orang murid Yesus ini. Kelihatannya Lukas ingin mengingatkan para pembaca Injilnya akan sifat misioner dari Gereja yang akan digambarkannya secara lebih lengkap dalam “Kisah Para Rasul”.

Malah ada sejumlah pakar Kitab Suci yang melihat adanya suatu keterkaitan antara jumlah murid yang diutus dan jumlah bangsa yang ada dalam dunia seturut ajaran para rabi abad pertama. Dalam “Kisah Para Rasul” tercatat bahwa sesaat sebelum Yesus diangkat ke surga, Dia mengatakan bahwa dengan kuasa Roh Kudus para murid-Nya akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan ‘sampai ke ujung bumi’” (Kis 1:8). Dengan demikian para murid akan mewartakan Injil kepada suatu perwakilan dari seluruh dunia.

Dalam hati-Nya, Yesus sangat mengetahui bahwa tuaian memang banyak, akan tetapi waktunya sangatlah singkat. Ada begitu banyak orang yang harus diperhatikan, begitu banyak yang perlu melihat tanda-tanda Kerajaan yang akan datang, sehingga Yesus mengutus para “duta”-Nya untuk mempersiapkan orang-orang agar dapat menerima karunia salib. Mereka tidak perlu meyakinkan orang-orang dengan berbagai argumen yang rumit-jelimet atau spekulasi yang tinggi-tinggi. Sebaliknya, mereka diminta untuk – dalam nama-Nya – menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang (Luk 10:17), dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Luk 10:9). Dengan demikian, tergantung pada setiap orang untuk memutuskan apakah menerima Yesus atau menolak-Nya.

Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa dalam menjalankan misi mereka, mereka akan menghadapi perlawanan secara diam-diam dan/atau terang-terangan. Yesus mengutus mereka seperti “anak-anak domba ke tengah-tengah serigala” (lihat Luk 10:3). Akan tetapi, walaupun di tengah-tengah oposisi, pengejaran dan penganiayaan, mereka harus mendekati orang-orang dengan sebuah pengharapan yang didasarkan pada iman akan kebesaran tak-tertandingi dari kuat-kuasa Allah.

Bahkan pada hari ini, sementara kita menantikan tuaian akhir, Yesus masih saja memanggil kita untuk mewartakan Injil ke tengah-tengah dunia. Dengan kasih kita satu sama lain, dengan ketaatan penuh kerendahan hati kepada Allah, dan dengan kata-kata yang kita ucapkan, kita dapat ikut ambil bagian dalam peranan murid-murid Yesus yang pertama sebagai duta-duta-Nya. Kita juga merupakan “pekerja-pekerja” yang ingin diutus oleh Yesus untuk menuai. Karena Kerajaan-Nya sedemikian berharga, marilah kita mengkomit diri kita untuk bekerja bagi Tuhan seturut panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata (hati) kami agar dapat melihat bahwa tuaian memang banyak. Utuslah kami, ya Tuhan, sebagai pekerja-pekerja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10-1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MEMUSATKAN PERHATIAN KITA PADA YESUS” (bacaan tanggal 3-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13/10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Cilandak, 30 September 2013 [Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL KITA MENJADI PENJALA MANUSIA

YESUS MEMANGGIL KITA MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Kamis, 5 September 2013)

KEMURIDAN - PENJALAN IKAN MENJADI PENJALA MANUSIAPada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.” Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

“Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk 5:8).

Pernahkah anda merasa seperti yang dirasakan Simon Petrus, yaitu anda merasa tidak tahan ketika menyadari Allah memandang anda seperti apa adanya dirimu sendiri? Seringkali memang justru ketika kita melihat siapakah Allah sesungguhnya, maka kita juga melihat kondisi penuh dosa dari diri kita sendiri, dan kita pun merasa mau mati saja karena rasa malu yang begitu mendalam. Dari waktu ke waktu, kita semua merasakan sakitnya kedosaan kita, dan kita dapat mulai bertanya-tanya dalam hati apakah masih mungkin Yesus mengasihi kita dalam keadaan tidak karuan seperti itu? Inilah yang membuat bacaan Injil hari ini menjadi istimewa penting bagi kita.

Pada saat Petrus meminta kepada Yesus agar pergi meninggalkan dirinya karena dia adalah seorang berdosa, maka Yesus menanggapi permintaan Petrus itu dengan sederhana sekali, “Jangan takut” (Luk 5:8,10). Yesus sangat mengetahui segala kedosaan Petrus, namun kelihatannya Dia samasekali tidak berminat untuk membicarakan hal itu. Sebaliknya, Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa murid-Nya ini sekarang akan menjadi penjala manusia, artinya seseorang yang ikut ambil bagian dalam misi Yesus di dunia. Secara sederhana, Yesus kurang peduli dengan masa lalu Petrus ketimbang masa depannya. Dan Yesus juga lebih berprihatin terhadap masa depan kita juga.

Kita dapat membuang-buang banyak waktu “menikmati” rasa bersalah kita dan juga merasa bahwa diri kita tidak berharga samasekali, dan kita berpikir bahwa tidak mungkinlah bagi Yesus untuk mengampuni diri kita. Namun Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Dia telah mengambil keputusan untuk mengampuni setiap dosa yang telah kita komit, lewat pikiran kita, perkataan yang kita ucapkan, perbuatan kita dan juga kelalaian kita. Keprihatinan Yesus sekarang adalah terlebih-lebih dalam hal mencabut rasa takut kita terhadap diri-Nya dan memberikan kepada kita penerangan atas tujuan dan panggilan diri-Nya bagi kehidupan kita.

Yesus ingin membuat Petrus menjadi pemimpin kelompok murid pilihan-Nya dan juga misionaris-misionaris-Nya di masa depan. Sekarang, apa yang ingin dilakukan-Nya dengan kita (anda dan saya)? Apakah Yesus mencoba untuk memberikan kepada kita damai-sejahtera-Nya sehingga kita dapat menjadi saksi-saksi-Nya? Apakah Dia memimpin kita untuk mengunjungi mereka yang sedang sakit atau sedang meringkuk di dalam penjara? Apakah Dia ingin menganugerahkan kepada kita karunia-karunia baru, misalnya agar kita dapat menjadi orangtua yang lebih baik, seorang istri atau suami yang lebih baik, atau seorang sahabat yang lebih setia?

Apapun panggilan anda, maka ketahuilah bahwa Yesus memandang anda dengan pandangan kasih tanpa pamrih, tak bersyarat, dan Ia melihat potensi anda yang begitu luarbiasa. Jikalau anda membuka hati anda bagi Yesus dan menaruh kepercayaan dalam kasih-Nya, maka Dia akan menunjukkan kepada anda hal-hal yang agung dan indah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengampuni diriku bahkan sebelum aku berpaling kepada-Mu. Aku percaya, ya Tuhan, bahwa Engkau ingin menunjukkan kepadaku rencana-Mu yang sempurna bagi hidupku. Bukalah hatiku agar dapat menerima pengampunan-Mu dan kasih-Mu, dan pimpinlah aku dalam melayani-Mu lewat pelayananku kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 5-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “MULAI SEKARANG ENGKAU AKAN MENJALA MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 1-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 31 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

EVANGELISASI LEWAT KATA-KATA DAN TINDAKAN

EVANGELISASI LEWAT KATA-KATA DAN TINDAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung, Paus & Pujangga Gereja – Selasa, 3 September 2013)

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomKemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “Actions speak louder than words”, artinya “tindakan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata”; jangan hanya omong saja, buktikanlah dengan tindakan nyata, jangan NATO! Narasi Lukas tentang orang yang kerasukan roh jahat di Kapernaum merupakan ilustrasi bagus sekali atas pepatah dalam bahasa Inggris di atas. Lukas menceritakan kepada kita bahwa ketika Yesus membebaskan orang yang kerasukan roh jahat itu, semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar” (Luk 4:36). Dalam peristiwa ini Yesus menunjukkan otoritas (kuasa) kata-kata yang diucapkan-Nya dengan melakukan pekerjaan yang menakjubkan, dan orang-orang pun menjadi terkesan.

S, EDITH STEIN - AADalam zaman modern ini pun tindakan berbicara lebih keras daripada sekadar ucapan kata-kata. Orang-orang lebih berkemungkinan untuk percaya kepada “seorang” Allah yang penuh kasih jikalau mereka melihat perbedaan yang dibuat-Nya dalam kehidupan orang, khususnya umat-Nya. Edith Stein [1891-1942] adalah seorang berkebangsaan Jerman keturunan Yahudi. Dia adalah seorang filsuf (bergelar doktor) dan kemudian menjadi seorang biarawati Karmelites OCD (Ordo Karmelit tak berkasut) dan meninggal dalam kamar gas Nazi di Kamp Konsentrasi Auschwitz. Salah satu penyebab mengapa Edith Stein tertarik kepada agama Kristiani adalah contoh yang diberikan oleh seorang temannya yang beragama Kristiani. Temannya itu mengalami kematian suami dan menanggung “musibah” itu dengan penuh kedamaian, bukannya kepahitan, rasa sedih yang begitu menindih, atau self-pity. Temannya ini menunjukkan bahwa dirinya dengan penuh ketenangan memiliki pengharapan. Malah dia memiliki kekuatan batin untuk menghibur teman-temannya yang lain yang sedang mengalami kesedihan. Iman perempuan ini menjadi suatu tanda-yang-menggerakkan bagi Edith Stein tentang kebenaran dan kuasa Kekristenan. Tidak lama kemudian Edith Stein masuk ke dalam Gereja Katolik.

Edith Stein meninggal dalam sebuah kamp konsentrasi di tanah Polandia, yang menjadi salah satu kenangan buruk era Nazi Jerman di sepanjang masa. Akan tetapi sejak kematiannya, cerita tentang Edith Stein membawa dampak besar terhadap banyak orang melalui contoh keberaniannya, imannya dan keyakinannya. Dirinya sendiri menjadi suatu tanda bagi orang-orang lain berkaitan dengan pesan Injil Yesus Kristus.

S. EDITH STEIN - BBAllah telah menempatkan kita dalam dunia untuk menjadi duta-duta Kristus (lihat 2Kor 5:20). Ia telah memanggil kita untuk menyebarkan kabar baik Yesus Kristus ke tengah dunia (Mat 28:19-20). Kita semua memiliki potensi untuk mempengaruhi orang-orang lewat cara/gaya hidup kita. Jikalau kita merangkul Yesus yang tersalib, seperti yang dilakukan oleh S. Edith Stein, S. Fransiskus dari Assisi dan banyak sekali orang kudus lainnya, maka terang Allah akan menjadi terlihat dalam hidup kita. Jadi, dengan pertolongan-Nya, marilah kita siap untuk mengampuni, untuk berbagi dengan orang-orang miskin, untuk bergerak dengan penuh kedamaian melalui berbagai kesulitan hidup ini. Semoga hidup kita meneguhkan kata-kata yang kita ucapkan tentang Allah dan memberikan bukti kepada orang-orang lain bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23; bdk. 28:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahkan kepada kami Karunia-Mu yang paling besar dan agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri, yang mengajar dan melatih kami untuk melaksanakan tugas kami sebagai garam bumi dan terang dunia, agar dengan demikian dunia dapat percaya bahwa Engkau datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan kami dan memberikan kepada kami semua di dunia kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “OTORITAS DAN KUASA SABDA YESUS” (bacaan tanggal 3-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KATA-KATA-NYA PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 30-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 31 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2013)

ROHHULKUDUS“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33)

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32;50:15-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang” (Mat 10:27).

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita – Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSKetika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SERUPA DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 13-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KITA HANYALAH ALAT-NYA” (bacaan tanggal 14-7-12) dan “JANGANLAH KAMU TAKUT !!!” (bacaan tanggal 9-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 12 Juli 2013)

Keluarga OFM dan OFMConv.: Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir

YESUS GURU KITA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23)

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

“… bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Seperti yang diingatkan oleh Yesus kepada para murid-Nya 2.000 tahun lalu, maka pada hari ini pun Ia mengingatkan bahwa kita – para murid-Nya pada zaman sekarang – menghadapi risiko penolakan, kesalahpahaman, bahkan pengejaran dan penganiayaan, bilamana kita mencoba untuk mewartakan Injil. Dari zaman ke zaman pesan pertobatan dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Allah telah menemui penolakan dari berbagai penjuru.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Walaupun terasa suram, Yesus juga berjanji bahwa Dia tidak akan memberikan kepada kita tugas lebih daripada apa yang dapat kita emban dan Ia akan datang menolong apabila kita mengalami berbagai kesulitan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kepada kita hikmat dan bimbingan agar dengan demikian kita dapat menjawab dengan jelas namun dengan rendah hati, mereka yang menentang kita.

Kata-kata Yesus dapat terdengar begitu sederhana, dan dalam artian tertentu memang demikianlah halnya. Kita dapat selalu percaya bahwa apabila Yesus menjanjikan sesuatu, maka Dia akan memenuhinya. Namun kita perlu bertanya bagaimana kita akan mampu mengenali suara Roh Kudus pada waktu kita mengalami kesulitan. Jelaslah bahwa perubahan sedemikian tidak terjadi dalam satu malam. Mendengar suara Roh Kudus bukanlah suatu kemampuan ajaib yang terbuka bagi kita hanya pada saat yang tepat dan kemudian “menghilang” lagi. Mendengarkan suara Roh Kudus adalah suatu keterampilan yang menuntut praktek, eksperimentasi dan ketekunan. Hal ini menuntut kita menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, menjadi akrab dengan suara-Nya dalam Kitab Suci, dan menjaga hati kita agar tetap terbuka sepanjang hari. Selagi kita mengambil langkah-langkah praktis ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut dan tidak ribut-ribut telah menjadi sesuatu yang alamiah bagi kita.

Praktek dan eksperimentasi secara harian selama saat-saat penuh kedamaian dan menyenangkan adalah kunci untuk melakukan upaya discernment terhadap suara Roh Kudus dalam masa pencobaan dan penganiayaan. Jika kita membuat proses ini menjadi kebiasaan, maka hal ini akan mempersiapkan diri kita dalam menghadapi tekanan-tekanan dan intensitas yang lebih besar, di mana lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Setiap hari, marilah kita berupaya untuk mentaati Tuhan dan mendengarkan Roh Kudus. Setiap hari, marilah kita menukar “kemandirian” (dalam artinya yang jelek) kita dengan “hikmat dari Allah” yang akan “mengagetkan” dunia dan menghasilkan karya-karya yang akan membuat takjub raja-raja.

DOA: Roh Kudus Allah, datang dan masuklah ke dalam hidupku dan tetaplah berdiam bersamaku selalu. Buatlah aku agar dapat mengenali suara-Mu. Biarlah kata-kata-Mu dapat menjadi penghiburan, sukacita dan kehidupan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI PADA KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT” (bacaan tanggal 12-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 JULI 2013.
Bacalah juga tulisan berjudul “AKU MENGUTUS KAMU SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 8-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Kamis, 11 Juli 2013)

12 RASUL DIUTUS - MAT 10  5-15Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21

Injil Matius bukanlah bermaksud menjadi catatan sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terlah terjadi dan kemudian memberikan tafsir teologis atas peristiwa-peristiwa itu. Penulis Injil Matius memberikan panduan kepada komunitasnya (jemaatnya) dan komunitas-komunitas Kristiani yang lain tentang implikasi dari pemuridan/kemuridan. Selagi Matius mengingat-ingat berbagai instruksi Yesus kepada 12 orang murid-Nya ketika Dia mengutus mereka dalam perjalanan misioner mereka yang pertama, dia (Matius) sepenuhnya sadar akan “amanat agung” yang berlaku untuk semua umat Kristiani: “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19). Misi yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang awal bersifat unik, namun sebagai orang-orang Kristiani yang telah dibaptis kita ikut ambil bagian dalam misi tersebut, sebagai peserta dalam amanat agung-Nya.

Apakah sebagian dari berbagai implikasi kemuridan dalam mewartakan Kabar Baik-Nya? Apa yang semestinya menjadi sikap hati dari keduabelas murid pada waktu itu? Untuk percaya dengan penuh keyakinan akan kuasa Injil untuk mengubah hati, untuk menyembuhkan, untuk memurnikan dan membersihkan (Mat 10:8). Tentunya terdapat unsur mendesak, urgency, berkaitan dengan misi ini. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda sampai saat tibanya “logistik yang serba mencukupi” (lihat Mat 10:9-10). Tidak ada sesuatu pun yang boleh diperkenankan untuk mengacaukan fokus mereka terhadap misi mereka. Hidup apa adanya, bukan mengambil keuntungan, seharusnya menjadi ekspektasi mereka. Pewartaan Injil Yesus Kristus tidak pernah boleh dijadikan sebagai sebuah proyek bisnis. Apabila ditolak, sikap yang mereka ambil bukanlah mengutuk atau melampiaskan hasrat untuk membalas dendam; maka yang harus dilakukan bersifat simbolis, yaitu mengebaskan debu dari kaki mereka (Mat 10:14).

Jelaslah dari kata-kata yang diucapkan Yesus bahwa ke dua belas rasul itu harus memiliki sikap pribadi yang menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah dan kebaikan-Nya dan kemurahan-hati-Nya. Sikap sedemikian mengakui Allah sebagai “seorang” Bapa yang penuh kasih dan Bapa pribadi yang dengan setia akan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat-Nya dan tidak pernah akan meninggalkan mereka. “Seorang” Bapa yang pengasih seperti itu akan menopang kita juga.

Betapa berbedanya sikap ini dari sikap yang dimiliki banyak dari kita. Kita sering bertindak seakan Allah itu kikir, suka menggerutu atas sikap tak berterima kasih yang sering ditunjukkan oleh anak-anak-Nya walaupun Ia mengasihi kita. Juga seakan Ia tidak begitu mempedulikan kita. Mind-set seperti ini mempengaruhi dan membatasi kuasa dari pesan Injil yang kita wartakan. Kita hanya dapat memiliki hati misioner sejati apabila kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan yakin seyakin-yakinnya akan kemurahan-hati dan kesetiaan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakasih, kuduslah nama-Mu. Kami menyadari bahwa Engkau setia dan senantiasa memegang janji-janji-Mu kepada kami. Kami mengkomit diri kami sendiri untuk menghayati hidup Injili dan melakukan tugas pewartaan keselamatan melalui Putera-Mu terkasih Tuhan Yesus Kristus serta pengudusan melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kami masing-masing. Jagalah agar kami senantiasa setia pada janji kami sebagaimana Engkau senantiasa setia pada janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH DAN BERITAKANLAH: ‘KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT’” (bacaan tanggal 11-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MEMPEROLEHNYA DENGAN CUMA-CUMA, KARENA ITU BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA” (bacaan tanggal 12-7-12) dan “TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU” bacaan tanggal 7-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKA CITA

KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKA CITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun C] – 7 Juli 2013)

YESUS MENGUTUS MURID-MURID PERGI BERDUA-DUASetelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku telah melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” (Luk 10:1-12, 17-20)

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14c; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16,20; Bacaan Kedua: Gal 6:14-18; Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-9

Karya Allah senantiasa mendatangkan suka cita! Ketika sang pemazmur mengenang peristiwa “keluaran” dan penyeberangan di Laut Merah, dia menulis: “Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia” (Mzm 66:5). Yesaya mengajak orang-orang Israel untuk bersukacita bahwa Allah telah membawa mereka kembali ke Yerusalem dengan selamat setelah pembuangan, dan juga untuk bergembira dalam janji tentang pekerjaan Allah yang berkesinambungan di tengah mereka (Yes 66:10-14).

Yesus mengutus tujuh puluh (ada juga manuskrip kuno yang menyebutkan angka tujuh puluh dua) murid-Nya untuk berdua-dua mendahului-Nya pergi ke kota-kota dan tempat-tempat yang akan dikunjungi-Nya. Pasangan-pasangan murid-Nya ini harus mengumumkan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (lihat Luk 10:11), dan sebagai suatu tanda dari hal ini, mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit. Bayangkanlah sukacita dan excitement para misionaris pertama ini pada waktu pulang kembali kepada Yesus dan menceritakan kepada-Nya bagaimana orang-orang sakit disembuhkan secara ajaib lewat mukjizat-mukjizat dan mereka yang kerasukan roh jahat juga dibebaskan. Seperti saya katakan pada awal tulisan ini: karya Allah senantiasa mendatangkan suka cita!

Mukjizat-mukjizat yang dibuat oleh tujuh puluh murid Yesus merupakan pemenuhan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan kedatangan Kerajaan Allah. Pada waktu Yesus datang, Kerajaan Allah datang, dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh tujuh puluh orang murid-Nya adalah tanda-tanda bahwa Kerajaan-Nya telah datang ke tengah dunia. Betapa penuh syukur kiranya para murid karena mereka berkesempatan melihat dan mengenali sendiri bahwa Allah yang Mahakuasa berkarya melalui diri mereka guna menghadirkan Kerajaan-Nya di atas muka bumi, Kerajaan yang telah lama mereka nanti-nantikan.

Kerajaan Allah sungguh datang ke tengah dunia dalam diri Yesus Kristus; namun masih banyak sekali orang yang tidak mengenal Yesus – artinya mereka belum pernah mengalami Kerajaan itu. Kita semua dipanggil untuk mengemban tugas melanjutkan kesaksian tujuh puluh murid Yesus tersebut, akan tetapi kita hanya dapat melakukannya oleh/melalui kuasa salib Yesus yang bekerja dalam diri kita masing-masing. Santo Paulus menulis: “… aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14), dengan demikian membuat dirinya bebas sebagai “ciptaan baru” dalam Yesus (Gal 6:15).

Karena kita sendiri diciptakan baru oleh iman dan pembaptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, maka kita pun, seperti Santo Paulus dan tujuh puluh orang murid dalam bacaan Injil hari ini, dapat ikut ambil bagian dalam karya Allah. Kerajaan Allah dapat masuk ke dalam dunia melalui diri kita masing-masing. Ini adalah penyebab damai sejahtera dan sukacita dalam kehidupan kita, selagi kita mengalami Allah yang sedang bekerja dalam dan melalui diri kita masing-masing.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu! Kami mohon, semoga damai Kristus yang kami rayakan pada hari ini meninggalkan tanda-tanda pada diri kami masing-masing, agar dengan demikian kami menjadi para pembawa damai sejati kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-12,17-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI PANGGILAN-NYA SECARA POSITIF” (bacaan tanggal 7-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 BACAAN HARIAN JULI 2013.

Cilandak, 3 Juli 2013 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers