Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA

DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 9 Juli 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Antonius Fantosat, Gregorius Grassi, S. Hermina, S. Augustinus Zhao Rong dkk., Martir-martir Tiongkok

RABI DARI NAZARET - 1Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7)

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Sebenarnya mereka belum lama bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil mereka “dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (lihat Mat 10:1). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk dapat diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, ternyata masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme. Para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat: ada nelayan, ada pemungut cukai, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner Zeloti dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Yesus tidak memandang bulu dalam memilih murid atau rasul! (Bacalah buku bagus karangan P. John Wijngaards, I have No Favorites – Jesus Accepts Followers Unconditionally, New York and Mahwah, N.J.: Paulist Press, 1992, 208 halaman).

Dalam bab 18 Injilnya, Matius mencatat bahwa para murid bertanya kepada Yesus mengenai siapa di antara mereka yang paling besar dalam kerajaan surga (Mat 18:1). Yesus mengetahui sekali latar belakang dari pertanyaan para murid itu. Mungkin sebelumnya telah terjadi perdebatan di antara para murid dan Yesus pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini kelihatannya telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus membuang jauh-jauh perbandingan-perbandingan seperti itu. Sambil memegang seorang anak kecil di tengah-tengah para murid, Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:2-5).

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASTeguran Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan seturut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa di Masa dan Meriba ini (lihat kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!

Yesus juga telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini, misalnya karunia untuk menyembuhkan orang sakit dll. Namun demikian, marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita menolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan. Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Utuslah kami juga sebagai garam bumi dan terang dunia dalam mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang yang kami jumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan pertama hari ini (Hos 10:1-3,7-8,12), bacalah tulisan yang berjudul “MENABURLAH BAGIMU SESUAI DENGAN KEADILAN, MENUAILAH MENURUT KASIH SETIA !!!” (bacaan tanggal 9-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 8 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BARNABAS: ANAK PENGHIBURAN

BARNABAS: ANAK PENGHIBURAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Rabu, 11 Juni 2014)

KFS: HARI RAYA S. BARNABAS, RASUL – HARI JADI KONGREGASI

ST. BARNABAS - 008

Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.
Kabar tentang mereka itu terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas pergi ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat anugerah Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati serta kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Lalu banyak orang dibawa kepada Tuhan. Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang. Dia Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi. (Kis 11:21b-26;13:1-3)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6; Bacaan Injil: Mat 10:7-13

ROH KUDUS - 000Alangkah indahnya apabila anda diingat untuk kebaikan anda, iman anda, dan hidup anda yang dipenuhi Roh Kudus! Inilah bagaimana Lukas (penulis Kisah para Rasul) mengenang Santo Barnabas (Kis 11:24). Orang Lewi dari Siprus ini dinamakan Yusuf pada saat kelahirannya, namun setelah menjadi seorang anggota gereja di Yerusalem, maka kepadanya diberikan nama Barnabas, yang berarti “anak penghiburan” (Kis 4:36). Kelihatannya bahwa sepanjang hidupnya, Barnabas mengejawantahkan suatu kemurahan hati radikal yang difokuskan pada upaya memperhatikan kesejahteraan Gereja.

Seperti Roh Kudus (sang Penghibur, atau Parakletos dalam bahasa Yunani) mendorong dan menghibur Gereja perdana, demikian pula Barnabas mengkomit dirinya untuk mewujudkan dorongan itu dalam hidupnya sehari-hari. Barnabas menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki para rasul (lihat Kis 4:37). Kemudian, sebagai seorang rasul, Barnabas dengan taat bertindak seturut sabda Tuhan dengan mendorong serta menyemangati umat Kristiani perdana agar dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan (Kis 11:23).

BARNABAS AND PAULKarunia yang dimiliki oleh Barnabas untuk menyemangati orang-orang lain tidak hanya membuat dirinya menjadi murah hati, melainkan juga berani untuk mengambil risiko-risiko. Barnabas adalah seorang dari sedikit orang yang mengakui rahmat pertobatan dalam diri salah seorang musuh Gereja yang paling kuat dan berpengaruh, yaitu Saul dari Tarsus. Barnabas menjalin relasi persahabatan dengan Saulus ini. Barnabas memperkenalkan Saulus kepada para rasul di Yerusalem yang bersikap skeptis, kemudian bersaksi tentang keotentikan karya Allah dalam hidup Saulus (Kis 9:27). Kemudian, Barnabas mengajak Saulus untuk menolong dirinya memelihara dan mengembangkan gereja di Antiokhia yang sedang bertumbuh. Dari sana, kedua orang itu diutus untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi (baca: Kafir). Bersama-sama, Barnabas dan Saulus (kemudian dinamakan Paulus) berhasil membela gereja Antiokhia dari orang-orang Kristiani ex Yahudi yang ingin memaksa orang-orang Kristiani ex kafir melakukan kewajiban menurut tradisi/kebiasaan dan hukum agama Yahudi sebagai bagian tak terpisahkan dari penghayatan agama Kristiani.

Sekarang, marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kerendahan hati dan kasih kepada Allah, agar demikian kita dapat pergi mencari dan berjumpa dengan anak-anak-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh Barnabas. Seperti juga Barnabas, kita telah menerima Roh Kudus pada saat pembaptisan. Oleh Roh Kudus ini dan melalui kehidupan doa kita, marilah kita meneladan karya-karya yang dilakukan oleh Santo Barnabas dan Santo Paulus selagi mereka menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus kepada mereka yang merindukan Kerajaan Allah, dan mendorong serta menyemangati umat beriman di mana saja mereka jumpai.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, penuhilah diriku dengan cintakasih yang tidak terbatas dalam kata-kata yang kuucapkan. Sebaliknya, biarlah tindakan-tindakanku mengawali suatu reaksi berantai dari kemurahan-hati yang mencapai banyak orang dan akan terus berlangsung, sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:21b-26;13:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TIDAK PERNAH BOLEH MEMBATASI VISI ALLAH” (bacaan tanggal 11-6-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Cilandak, 8 Juni 2014 [HARI RAYA PENTAKOSTA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (2)

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (2)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 6 Juni 2014)

PETER RESTOREDSesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19)

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Untuk ketiga kalinya Yesus bertanya kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:17). Di sini kita kembali melihat Yesus sebagai seorang Guru spiritual besar. Petrus merasa sedih dan dipenuhi rasa bersalah yang luarbiasa. Petrus membutuhkan penyembuhan batin (inner healing). Dia merasa galau, tegang dan sedih mengingat dosa-Nya karena menyangkal Yesus tiga kali pada Kamis Putih malam.

Namun, terpujilah Allah, karena Yesus adalah juga Yesus yang menyembuhkan dan Yesus yang mengampuni dosa-dosa manusia. Walaupun Petrus mungkin tidak/belum memahami makna dari ketegangan-ketegangan dalam dirinya dan rasa bersalahnya, Yesus mengetahuinya. Oleh karena itu Dia bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh 21:15; bdk. 21:16,17).

PETRUS APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU YOHTanggapan Petrus terhadap pertanyaan Yesus itu: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh 21:15,16; bdk. 21:17). Kemudian Yesus menyembuhkan Petrus dan mengutus dia untuk menyembuhkan kita semua: “Peliharalah anak-anak domba-Ku” (Yoh 21:15,16,17). Kita lihat bagaimana Petrus (waktu itu bersama Yohanes) melanjutkan penyampaian Kabar Baik Yesus Kristus melalui tindakan penyembuhan atas seorang lumpuh di Bait Allah di dekat Gerbang Indah (lihat Kis 3:1-10). Petrus mengatakan kepada orang lumpuh itu: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis 3:6). Orang lumpuh itu disembuhkan dan tanggapannya begitu indah. Lukas (pengarang “Kisah para Rasul”) menulis: “Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah” (Kis 3:8).

Inilah seharusnya jalan cerita hidup kita juga! Apa pun dosa dan kesalahan kita, bagaimana pun lemahnya keadaan yang telah kita lalui di masa lampau, atau bagaimana pun bodohnya kita sehingga bisa-bisanya kita menyangkal Yesus dalam hidup kita, Petrus menunjukkan kepada kita bahwa ada penyembuhan bagi kita oleh/lewat kasih dan kuat-kuasa Yesus. Inilah pada hakikatnya yang dinamakan Kabar Baik Injil.

Sekarang, sungguh percayakah kita bahwa Yesus dapat menyembuhkan kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat menyembuhkan orang-orang yang mengalami relasi buruk dalam keluarga-keluarga kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membakar habis dorongan-dorongan keserakahan/ketamakan dan dorongan-dorongan buruk lainnya dalam diri kita yang telah merusak hidup kita? Kita seringkali ingin menjadi dokter sendiri guna menyembuhkan berbagai permasalahan/penyakit dalam kehidupan kita, bukankah begitu?

Mengapa kita tidak belajar kebenaran yang lebih besar ini dari Yesus sendiri? “Ke mana aku pergi, aku dapat mengajak Yesus untuk pergi bersamaku, dan hal itu menyembuhkan setiap hal buruk yang menimpa diriku.” Ini sungguh kabar baik. Yesus mengasihi aku, dan Ia memiliki kuat-kuasa untuk menyelamatkan diriku dari kerusakan dalam hidupku karena ulahku sendiri.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku! Engkau dapat mengubah diriku, karena hanya Engkaulah yang mempunyai kuat-kuasa dan kasih yang diperlukan untuk menyembuhkan diriku. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KALI” (bacaan tanggal 6-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SETIAP HARI YESUS BERTANYA KEPADA KITA MASING-MASING: ‘APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?’” (bacaan tanggal 17-5-13), “GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 25-5-12) dan “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?” (bacaan tanggal 10-6-11), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 4 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH BUKIT DI GALILEA

SEBUAH BUKIT DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN – Kamis, 29 Mei 2014)

KENAIKAN TUHAN - 002Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23

Ada ungkapan lama yang berbunyi:“Hal-hal besar terjadi ketika orang-orang berjumpa dengan bukit-bukit (gunung-gunung).” Siapa pun orang yang mengungkapkannya untuk pertama kali, tentunya Matius akan menyukainya. Matius menulis tentang lima bukit/gunung, kitab Injilnya pun terbagi ke dalam lima bagian, dalam upayanya mengikuti pola kitab TAURAT yang terdiri dari lima kitab (lima kitab pertama dalam Kitab Suci).

Bukit pertama (Mat 5:1) merupakan lokasi dari khotbah besar berisikan hakekat hidup Kristiani, dan di mana Yesus memberikan pandangan menyeluruh tentang Kerajaan Allah sebagai cara hidup di dunia apabila segala perintah dan peraturan Allah dipraktekkan secara serius. Suatu kumpulan khotbah yang dikumpulkan dalam sebuah khotbah besar yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit”. Di sini kiranya Matius menggambarkan Yesus sebagai Musa-baru, yang memberikan hakekat ajaran baru sebagai penyempurna dari ajaran yang disampaikan oleh Musa ribuan tahun sebelumnya, ketika dia menyampaikan sepuluh perintah Allah kepada umat Israel dari atas gunung Sinai (lihat Kel 19-20).

Bukit kedua adalah tempat di mana Yesus berdoa seorang diri (Mat 14:23). Yesus bahkan perlu mengundurkan diri (retret) dari tekanan-tekanan orang banyak yang seakan tak henti-hentinya mengikuti diri-Nya. Bukit doa di sini menggambarkan pengunduran diri ke dalam suatu suasana penuh keheningan dan juga naik melewati tekanan-tekanan hidup ini untuk sampai ke sebuah tempat yang memiliki perspektif. Doa membutuhkan keheningan dan perspektif dari sebuah bukit.

Bukit ketiga (Mat 15:29-31) adalah tempat terjadinya banyak penyembuhan. Di sana orang banyak terkejut penuh rasa kagum, mereka takjub … dan mereka pun memuji Allah Israel.

Dalam Injilnya, Matius mengatakan bahwa gunung keempat itu tinggi (Mat 17:1). Ke atas sana, Yesus mengajak tiga orang murid lingkaran-dalam, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, agar mereka dapat berada sendiri tanpa gangguan. Pengalaman religus mendalam dari Musa di atas Gunung Sinai (Kel 24) dan nabi Elia di Gunung Horeb (1Raj 19) dihidupkan kembali ketika wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan Dia mengalami transfigurasi.

KENAIKAN TUHAN YESUS - 4Bukit kelima terletak di Galilea (Mat 28:16). Para rasul diperintahkan untuk pergi ke sana oleh malaikat yang berbicara dengan para perempuan di dekat makam yang kosong (Mat 28:7). Di atas bukit inilah terjadi pertemuan final antara Kristus yang telah bangkit dengan para murid yang dikasihi-Nya. Pertemuan itu merupakan konfirmasi yang lengkap terhadap dua aspek pesan Paskah: (1) pemuliaan Yesus Kristus, (2) kesinambungan dari pesan-Nya melalui (evangelisasi) para murid-murid-Nya.

Ketika para murid melihat Yesus, maka mereka sujud menyembah-Nya. Mereka menyembah-Nya seperti para Majus menyembah sang Bayi-Raja. Namun ada keragu-raguan tertentu dalam tindakan penyembahan mereka; hal mana mengungkapkan bercampur-aduknya terang dan gelap dalam iman. Sepanjang Injil Matius, campur-aduk antara kekuatan-kekuatan baik dan jahat, kuat dan lemah dalam Gereja, adalah tema-tema yang terus berulang.

Kesenjangan (gap) antara Allah-kemuliaan dan kondisi kita yang penuh dengan keterbatasan hanya dapat dijembatani oleh inisiatif dan pendekatan-pendekatan dari Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus datang bertemu dengan mereka di atas bukit di Galilea, seperti dahulu Dia mendatangi Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tersungkur karena ketakutan pada saat-saat transfigurasi-Nya di atas sebuah gunung yang tinggi.

Kristus yang sudah bangkit berbicara mengenai pemuliaan-Nya dengan kata-kata yang mengingatkan kita akan sebuah visi nabi Daniel: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18; bdk. Dan 7:13-14).

Matius tidak memberikan kepada kita gambaran yang lebih bersifat fisik tentang kenaikan Kristus ke surga seperti yang dilukiskan dalam Injil Lukas (lihat Luk 24:50-53 dan Kis 1:6-11). Yang disampaikan oleh Matius adalah otoritas kosmik Kristus yang bersifat universal. Inilah otoritas yang dimaksudkan oleh Paulus dalam bacaan kedua hari ini: “Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Ef 1:22-23).

Setelah konfirmasi dari kemuliaan dan otoritas Yesus Kristus ini, maka aspek kedua dari hidup Paskah yang harus dikonfirmasikan adalah kesinambungan dari kehadiran-Nya melalui misi berbagai komunitas gerejawi, melalui Gereja-Nya yang misioner, Gereja-Nya yang melakukan evangelisasi seperti yang dilakukan-Nya dan oleh para murid-Nya yang pertama, bukan Gereja yang sekadar melakukan pemeliharaan (maintenance).

Harold_Copping_The_Sermon_On_The_Mount_525Dalam Injilnya, Matius menulis bagaimana Yesus memproklamasikan ideal dari Kerajaan Allah dan Ia bekerja erat dengan para murid-Nya yang terpilih untuk menjadikan mereka para pelayan Kerajaan itu. Gereja akan menjadi sarana Kerajaan Allah di seluruh dunia.

Karya pelayanan Yesus terbatas pada teritori bangsa Yahudi, namun misi komunitas-komunitas Gereja-Nya adalah untuk mewartakan KABAR BAIK ke tengah-tengah dunia, kepada segala bangsa. Itulah sebabnya mengapa bukit/gunung (puncak) terakhir perjumpaan kita adalah “Galilea bangsa-bangsa”. Dari situ, para murid Kristus diutus ke mana-mana untuk memproklamasikan Kerajaan Allah kepada segala bangsa, untuk membaptis dalam nama ketiga Pribadi Ilahi Allah Tritunggal Mahakudus, dan Yesus melanjutkan, “… ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Jadi, para murid Yesus Kristus tidak akan pernah sendiri karena Tuhan yang bangkit akan senantiasa menyertai mereka sampai akhir zaman, karena Dia adalah sang Imanuel, Allah yang menyertai kita! (bdk. Mat 1:23).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau telah memberikan segala sesuatu yang ada dalam surga kepada kami sebagai para pewaris bersama-Mu. Kami menyadari bahwa kami tidak akan pernah mampu untuk membayar kembali karunia sedemikian. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan-hati, bersama ini kami menyerahkan hidup kami sendiri sehingga kami dapat bersatu dengan-Mu sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA KEBANGKITAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?” (bacaan tanggal 29-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA JAUH LEBIH TINGGI DALAM SEGALANYA DI DUNIA INI DAN JUGA DI DUNIA YANG AKAN DATANG” (bacaan tanggal 2-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “AMANAT AGUNG” (bacaan tanggal 2-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Sumber inspirasi: P. Silvester O’Flynn OFMCap., THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books, 1989 (1992 Reprinting), hal. 108-110).

Cilandak, 28 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS

MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 28 Mei 2014)

areopagus

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.
Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

ST. PAUL - 020Transformasi yang terjadi dalam diri Paulus sungguh luarbiasa! Sebelum perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik, Paulus (waktu itu bernama Saulus) adalah seorang yang penuh semangat kekerasan, cepat menuduh dan menghukum orang-orang yang dinilainya tidak cocok dengan standar-standar kekudusan yang digunakannya. Orang-orang Kristiani dari Yerusalem sampai Damsyik takut kepadanya karena gelombang pengejaran serta penganiayaan yang telah dicanangkannya terhadap siapa saja yang mengaku diri sebagai seorang murid Yesus. Namun dengan berjalannya waktu, Tuhan mampu melembutkan hati Paulus. Sekarang, hampir 20 tahun kemudian, ketika dia berada di Atena, sebuah kota yang dipenuhi dengan kuil-kuil kafir, Paulus tidak mewartakan pesan penghukuman. Sebaliknya, dia berkhotbah mengenai “seorang” Allah yang rindu sekali untuk menyatakan diri-Nya kepada setiap orang melalui Kristus.

Memang mudahlah bagi kita untuk memandang orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus atau mereka yang beriman lemah, misalnya dalam cara mereka mengejar-ngejar uang, dalam hal keterlibatan mereka dalam moralitas seksual, atau menjalani kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan malah hedonis. Di sinilah kita harus belajar dari Paulus. Kuil-kuil dan penyembahan berhala di Atena memang sangat menyusahkan hati Paulus, namun dia tetap memiliki pengharapan terhadap warga Atena. Bagaimana kita dapat bergeser dari penghukuman kepadaa bela rasa?

Bila kita melihat ke dalam hati orang, maka kita akan melihat bahwa setiap orang memiliki kerinduan akan kepenuhan dan kebahagiaan. Setiap orang di atas bumi mempunyai suatu hasrat mendalam dan alamiah akan kehidupan Allah. Masalahnya adalah bahwa banyak orang masih harus memahami bahwa sumber sesungguhnya dari kedamaian dan kepenuhan yang dihasrati oleh kita semua itu datang dari Yesus.

AKU YESUS SAUDARAMUSelagi Yesus berjumpa dengan para nelayan, pemungut cukai, rabi, pelacur (PSK), ibu rumah tangga dan banyak lagi, Dia melihat bagaimana mereka mencoba untuk memuaskan dorongan batiniah mereka untuk mengenal Allah dengan mencari kepenuhan lewat cara-cara lain. Kepada setiap orang, bagaimana pun dia sedang dibuat bingung oleh dosa-dosanya, Yesus menawarkan kesempatan untuk bertobat kepada orang itu dan juga pengharapan akan hidup baru.

Yesus berjanji kepada kita, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih daripada itu” (Yoh 14:12). Memberitakan Kabar Baik kepada para sahabat kita, bahkan kepada orang-orang asing adalah bagian dari janji Yesus tadi. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus kita dapat ke luar mencapai sesama kita, mengidentifikasi berbagai kebutuhan-kebutuhan batiniah mereka, dan mengumumkan pengharapan hidup bersama Allah, seperti yang dilakukan oleh Yesus di kampung-kampung atau kota-kota di Galilea dan apa yang dilakukan oleh Paulus dalam sebuah kota yang sudah sophisticated, yaitu Atena.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui bahwa kami masing-masing memiliki suatu kerinduan akan Engkau. Aku berdoa bagi mereka semua yang telah menempatkan pengharapan mereka secara salah di dunia ini. Perkenankanlah mereka memandang Engkau, ya Allahku. Terpujilah Engkau, ya Allah yang penuh kerahiman dan kasih, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KITA BERADA PALING DEKAT DENGAN YESUS?” (bacaan tanggal 28-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “TUGAS ROH KUDUS ADALAH UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN” (bacaan tanggal 8-5-13) dan “IA AKAN MEMIMPIN KAMU KE DALAM SELURUH KEBENARAN !!!” (bacaan tanggal 1-6-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 17:15,22-18:1), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 27 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA

ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Senin, 26 Mei 2014)

PAULUS MENGAJAR LIDIA DKK DI PINGGIR SUNGAILalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami bebicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kis 16:11-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 15:26-16:4a

Pertemuan antara Paulus dan Lidia sebagaimana digambarkan oleh Lukas (pengarang “Kisah para Rasul”) mengingatkan kita pada pertemuan antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub (lihat Yoh 4:7-30). Baik Yesus dan Paulus berbicara dengan perempuan – suatu kejadian yang tidak biasa pada masa itu. Apalagi dua orang perempuan tersebut bukanlah orang Yahudi! Hal ini menunjukkan tindakan Allah tidak tergantung pada peraturan-peraturan yang dibuat manusia. Yang jelas kelihatan adalah bahwa perempuan-perempuan ini terbuka bagi sabda Allah dan secara langsung dipengaruhi oleh sabda tersebut.

Perempuan Samaria itu pergi kembali ke kotanya dan menceritakan tentang Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya. Lidia adalah seorang janda kaya yang berprofesi sebagai pedagang kain ungu dan ia juga seorang kepala rumah tangga. Lidia ini langsung mengundang Paulus dan Timotius untuk datang dan berdiam di rumahnya. Barangkali rumahnya dipakai oleh para anggota komunitas Kristiani di Filipi sebagai tempat berkumpul dan beribadat bersama. Allah membuka hati Lidia dan juga perempuan Samaria untuk menjadi orang-orang yang percaya kepada Yesus, walaupun kelihatannya (dari mata manusia) mereka bukanlah kandidat-kandidat yang ideal apabila kita melihat latar belakang sosial-budaya mereka masing-masing.

Allah seringkali memilih pribadi-pribadi yang tak disangka-sangka menurut pandangan manusia, untuk melakukan pekerjaan-Nya. Masa lampau kita, keterbatasan-keterbatasan fisik kita, atau tingkat pendidikan formal kita, semua itu tidaklah berarti apa-apa di mata Allah. Misalnya di abad ke-14 di Italia, para perempuan diharapkan untuk tidak muncul dalam kehidupan publik. Jadi, ketika Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Katarina dari Siena [1347-1380] bahwa perempuan ini harus ke luar dari rumahnya bercampur dengan mereka yang berkiprah di tengah dunia, maka Katarina memprotes dengan mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan ia tidak akan mampu. Namun Allah mengatakan kepadanya bahwa Dia telah memilih seorang perempuan untuk merendahkan laki-laki yang sombong dan terpelajar.

Allah dapat memilih kita juga, bahkan ketika kita berpikir bahwa kita tidak qualified untuk melakukan pekerjaan-Nya. Apa pun keterbatasan-keterbatasan yang kita pikir dimiliki pribadi kita bukanlah merupakan halangan bagi Allah. Ia sering menggunakan orang-orang yang lemah dan rendah-hati (dina) sebagai bejana-bejana berkat-Nya. Seperti perempuan Samaria, kita harus merasa dahaga akan Allah, dan seperti Lidia, hati kita harus terbuka bagi kebenaran. Kemudian kita pun dapat melakukan apa saja yang diminta/diperintahkan Tuhan kepada kita. Dia adalah sumber dan pemberi semua karunia/anugerah. Dia dapat menganugerahkan kepada kita berkat-berkat-Nya dan talenta-talenta yang tidak pernah kita pikirkan ada dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk menjadi terbuka bagi segala sesuatu yang Kauminta dari kami. Kami ingin melakukan pekerjaan yang Kauberikan kepada kami untuk membangun Kerajaan-Mu di atas bumi, sehingga dengan demikian kemuliaan-Mu dapat terlihat oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KEBENARAN YANG KELUAR DARI BAPA” (bacaan tanggal 26-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 6-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUSINESSWOMAN FILIPI DIBAPTIS” (bacaan tanggal 30-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 15 Mei 2014)

washing_feet

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

Pernahkah anda mempunyai pengalaman seperti berikut ini? Anda bangun tidur di pagi hari dengan penuh semangat; anda berketetapan hati untuk membuat suatu perubahan di dunia dengan menjalani hidup bagi Kristus dan menjadi hamba-Nya yang rendah hati. Anda melompat dari tempat tidur, mantap untuk menjadi bentara kasih-Nya – seperti yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia berkata: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku” (Yoh 13:20). Akan tetapi, pada malam harinya semangat yang menggelora di pagi hari sudah menyusut, malah menghilang, dan anda pun merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah yang telah terjadi. Anda dengan keras mencoba untuk hidup sebagai seorang duta Kristus. Anda sungguh ingin agar orang-orang mengetahui dan mengalami bahwa Yesus adalah Sumber dari sukacita anda. Namun kalau melihat perkembangan sepanjang hari ini, anda merasa bahwa masih ada sesuatu yang kurang. Serasa segala upaya anda sepanjang hari ini tidaklah memadai – tidak cukup persuasif, tidak cukup setia, tidak cukup kadar kasihnya, atau bahkan hampir sia-sia.

PEMBASUHAN KAKI PARA MURID - 1Memang hari-hari seperti ini akan selalu kita alami, namun apabila sungguh hadir maka kita harus melihatnya sebagai karunia istimewa dari Allah. Pada hari-hari seperti inilah kita diingatkan bahwa pada dirinya sendiri – berbagai upaya manusia (tanpa pertolongan Allah) akan senantiasa tidak memadai. Apabila kita mengandalkan diri pada upaya kita sendiri – kekuatan kita sendiri – maka yang akan kita alami adalah kekecewaan, … upaya kita tidak mengenai sasaran. Seperti juga Petrus dan para rasul lainnya yang membiarkan Yesus membasuh kaki-kaki mereka, maka sama jugalah halnya dengan kita semua (Yoh 13:3-12). Hanya apabila kita memperkenankan Yesus melayani kita maka kita akan dibuat cocok dan siap untuk melayani orang-orang lain.

Bayangkanlah diri anda sedang berada di kaki atau bagian bawah sebuah jalan menanjak dengan banyak sekali anak tangga, dan di ujung atas sana berdirilah Yesus. Pandangan-Nya yang penuh kemuliaan dan pancaran kasih dari diri-Nya sungguh memikat hati anda dan membuat diri anda ingin sekali untuk berada bersama-Nya. Namun setiap kali anda mencoba untuk naik satu-dua langkah, anda turun lagi. Anda mencoba lagi, hal yang sama pula yang terjadi: tergelincir dan tergelincir lagi. Akhirnya, anda merasa frustrasi karena merasa gagal. Anda berteriak minta tolong. Dalam sekejab saja Yesus turun ke anak tangga paling rendah dan kemudian Ia menggendong anda sampai ke atas.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Janganlah kita membiarkan hari ini menjadi hari seperti yang diceritakan di atas. Mulailah dengan menempatkan diri anda di dalam kehadiran Tuhan melalui doa dan keterbukaan hati yang penuh damai. Perkenankanlah Yesus menggendong diri anda, membasuh kaki-kaki anda. Inilah yang seharusnya menjadi titik awal hari kita. Kita tidak pernah akan menjadi bentara kasih Allah berdasarkan kehendak dan kekuatan kita sendiri. Allah juga tidak pernah memaksudkan agar anda menjadi begitu. Semoga kebenaran ini memenuhi diri hati kita semua dengan sukacita dan dorongan untuk bergerak lebih maju lagi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku sehingga sudi mengutus aku untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang lain. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang lembah lembut dan dipenuhi dengan kedinaan, sehingga dengan demikian aku dapat melayani seperti Engkau sendiri melayani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 13:13-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SELALU SETIA DENGAN JANJI-JANJI-NYA” (bacaan tanggal 15-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG HAMBA TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA” (bacaan tanggal 19-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 13 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers