Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

SEBUAH BUKIT DI GALILEA

SEBUAH BUKIT DI GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN – Kamis, 29 Mei 2014)

KENAIKAN TUHAN - 002Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23

Ada ungkapan lama yang berbunyi:“Hal-hal besar terjadi ketika orang-orang berjumpa dengan bukit-bukit (gunung-gunung).” Siapa pun orang yang mengungkapkannya untuk pertama kali, tentunya Matius akan menyukainya. Matius menulis tentang lima bukit/gunung, kitab Injilnya pun terbagi ke dalam lima bagian, dalam upayanya mengikuti pola kitab TAURAT yang terdiri dari lima kitab (lima kitab pertama dalam Kitab Suci).

Bukit pertama (Mat 5:1) merupakan lokasi dari khotbah besar berisikan hakekat hidup Kristiani, dan di mana Yesus memberikan pandangan menyeluruh tentang Kerajaan Allah sebagai cara hidup di dunia apabila segala perintah dan peraturan Allah dipraktekkan secara serius. Suatu kumpulan khotbah yang dikumpulkan dalam sebuah khotbah besar yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit”. Di sini kiranya Matius menggambarkan Yesus sebagai Musa-baru, yang memberikan hakekat ajaran baru sebagai penyempurna dari ajaran yang disampaikan oleh Musa ribuan tahun sebelumnya, ketika dia menyampaikan sepuluh perintah Allah kepada umat Israel dari atas gunung Sinai (lihat Kel 19-20).

Bukit kedua adalah tempat di mana Yesus berdoa seorang diri (Mat 14:23). Yesus bahkan perlu mengundurkan diri (retret) dari tekanan-tekanan orang banyak yang seakan tak henti-hentinya mengikuti diri-Nya. Bukit doa di sini menggambarkan pengunduran diri ke dalam suatu suasana penuh keheningan dan juga naik melewati tekanan-tekanan hidup ini untuk sampai ke sebuah tempat yang memiliki perspektif. Doa membutuhkan keheningan dan perspektif dari sebuah bukit.

Bukit ketiga (Mat 15:29-31) adalah tempat terjadinya banyak penyembuhan. Di sana orang banyak terkejut penuh rasa kagum, mereka takjub … dan mereka pun memuji Allah Israel.

Dalam Injilnya, Matius mengatakan bahwa gunung keempat itu tinggi (Mat 17:1). Ke atas sana, Yesus mengajak tiga orang murid lingkaran-dalam, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes, agar mereka dapat berada sendiri tanpa gangguan. Pengalaman religus mendalam dari Musa di atas Gunung Sinai (Kel 24) dan nabi Elia di Gunung Horeb (1Raj 19) dihidupkan kembali ketika wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan Dia mengalami transfigurasi.

KENAIKAN TUHAN YESUS - 4Bukit kelima terletak di Galilea (Mat 28:16). Para rasul diperintahkan untuk pergi ke sana oleh malaikat yang berbicara dengan para perempuan di dekat makam yang kosong (Mat 28:7). Di atas bukit inilah terjadi pertemuan final antara Kristus yang telah bangkit dengan para murid yang dikasihi-Nya. Pertemuan itu merupakan konfirmasi yang lengkap terhadap dua aspek pesan Paskah: (1) pemuliaan Yesus Kristus, (2) kesinambungan dari pesan-Nya melalui (evangelisasi) para murid-murid-Nya.

Ketika para murid melihat Yesus, maka mereka sujud menyembah-Nya. Mereka menyembah-Nya seperti para Majus menyembah sang Bayi-Raja. Namun ada keragu-raguan tertentu dalam tindakan penyembahan mereka; hal mana mengungkapkan bercampur-aduknya terang dan gelap dalam iman. Sepanjang Injil Matius, campur-aduk antara kekuatan-kekuatan baik dan jahat, kuat dan lemah dalam Gereja, adalah tema-tema yang terus berulang.

Kesenjangan (gap) antara Allah-kemuliaan dan kondisi kita yang penuh dengan keterbatasan hanya dapat dijembatani oleh inisiatif dan pendekatan-pendekatan dari Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus datang bertemu dengan mereka di atas bukit di Galilea, seperti dahulu Dia mendatangi Petrus, Yakobus dan Yohanes yang tersungkur karena ketakutan pada saat-saat transfigurasi-Nya di atas sebuah gunung yang tinggi.

Kristus yang sudah bangkit berbicara mengenai pemuliaan-Nya dengan kata-kata yang mengingatkan kita akan sebuah visi nabi Daniel: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18; bdk. Dan 7:13-14).

Matius tidak memberikan kepada kita gambaran yang lebih bersifat fisik tentang kenaikan Kristus ke surga seperti yang dilukiskan dalam Injil Lukas (lihat Luk 24:50-53 dan Kis 1:6-11). Yang disampaikan oleh Matius adalah otoritas kosmik Kristus yang bersifat universal. Inilah otoritas yang dimaksudkan oleh Paulus dalam bacaan kedua hari ini: “Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Ef 1:22-23).

Setelah konfirmasi dari kemuliaan dan otoritas Yesus Kristus ini, maka aspek kedua dari hidup Paskah yang harus dikonfirmasikan adalah kesinambungan dari kehadiran-Nya melalui misi berbagai komunitas gerejawi, melalui Gereja-Nya yang misioner, Gereja-Nya yang melakukan evangelisasi seperti yang dilakukan-Nya dan oleh para murid-Nya yang pertama, bukan Gereja yang sekadar melakukan pemeliharaan (maintenance).

Harold_Copping_The_Sermon_On_The_Mount_525Dalam Injilnya, Matius menulis bagaimana Yesus memproklamasikan ideal dari Kerajaan Allah dan Ia bekerja erat dengan para murid-Nya yang terpilih untuk menjadikan mereka para pelayan Kerajaan itu. Gereja akan menjadi sarana Kerajaan Allah di seluruh dunia.

Karya pelayanan Yesus terbatas pada teritori bangsa Yahudi, namun misi komunitas-komunitas Gereja-Nya adalah untuk mewartakan KABAR BAIK ke tengah-tengah dunia, kepada segala bangsa. Itulah sebabnya mengapa bukit/gunung (puncak) terakhir perjumpaan kita adalah “Galilea bangsa-bangsa”. Dari situ, para murid Kristus diutus ke mana-mana untuk memproklamasikan Kerajaan Allah kepada segala bangsa, untuk membaptis dalam nama ketiga Pribadi Ilahi Allah Tritunggal Mahakudus, dan Yesus melanjutkan, “… ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Jadi, para murid Yesus Kristus tidak akan pernah sendiri karena Tuhan yang bangkit akan senantiasa menyertai mereka sampai akhir zaman, karena Dia adalah sang Imanuel, Allah yang menyertai kita! (bdk. Mat 1:23).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau telah memberikan segala sesuatu yang ada dalam surga kepada kami sebagai para pewaris bersama-Mu. Kami menyadari bahwa kami tidak akan pernah mampu untuk membayar kembali karunia sedemikian. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan-hati, bersama ini kami menyerahkan hidup kami sendiri sehingga kami dapat bersatu dengan-Mu sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA KEBANGKITAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?” (bacaan tanggal 29-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA JAUH LEBIH TINGGI DALAM SEGALANYA DI DUNIA INI DAN JUGA DI DUNIA YANG AKAN DATANG” (bacaan tanggal 2-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “AMANAT AGUNG” (bacaan tanggal 2-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Sumber inspirasi: P. Silvester O’Flynn OFMCap., THE GOOD NEWS OF MATTHEW’S YEAR, Dublin, Ireland: Cathedral Books, 1989 (1992 Reprinting), hal. 108-110).

Cilandak, 28 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS

MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 28 Mei 2014)

areopagus

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.
Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

ST. PAUL - 020Transformasi yang terjadi dalam diri Paulus sungguh luarbiasa! Sebelum perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik, Paulus (waktu itu bernama Saulus) adalah seorang yang penuh semangat kekerasan, cepat menuduh dan menghukum orang-orang yang dinilainya tidak cocok dengan standar-standar kekudusan yang digunakannya. Orang-orang Kristiani dari Yerusalem sampai Damsyik takut kepadanya karena gelombang pengejaran serta penganiayaan yang telah dicanangkannya terhadap siapa saja yang mengaku diri sebagai seorang murid Yesus. Namun dengan berjalannya waktu, Tuhan mampu melembutkan hati Paulus. Sekarang, hampir 20 tahun kemudian, ketika dia berada di Atena, sebuah kota yang dipenuhi dengan kuil-kuil kafir, Paulus tidak mewartakan pesan penghukuman. Sebaliknya, dia berkhotbah mengenai “seorang” Allah yang rindu sekali untuk menyatakan diri-Nya kepada setiap orang melalui Kristus.

Memang mudahlah bagi kita untuk memandang orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus atau mereka yang beriman lemah, misalnya dalam cara mereka mengejar-ngejar uang, dalam hal keterlibatan mereka dalam moralitas seksual, atau menjalani kehidupan yang mementingkan diri sendiri dan malah hedonis. Di sinilah kita harus belajar dari Paulus. Kuil-kuil dan penyembahan berhala di Atena memang sangat menyusahkan hati Paulus, namun dia tetap memiliki pengharapan terhadap warga Atena. Bagaimana kita dapat bergeser dari penghukuman kepadaa bela rasa?

Bila kita melihat ke dalam hati orang, maka kita akan melihat bahwa setiap orang memiliki kerinduan akan kepenuhan dan kebahagiaan. Setiap orang di atas bumi mempunyai suatu hasrat mendalam dan alamiah akan kehidupan Allah. Masalahnya adalah bahwa banyak orang masih harus memahami bahwa sumber sesungguhnya dari kedamaian dan kepenuhan yang dihasrati oleh kita semua itu datang dari Yesus.

AKU YESUS SAUDARAMUSelagi Yesus berjumpa dengan para nelayan, pemungut cukai, rabi, pelacur (PSK), ibu rumah tangga dan banyak lagi, Dia melihat bagaimana mereka mencoba untuk memuaskan dorongan batiniah mereka untuk mengenal Allah dengan mencari kepenuhan lewat cara-cara lain. Kepada setiap orang, bagaimana pun dia sedang dibuat bingung oleh dosa-dosanya, Yesus menawarkan kesempatan untuk bertobat kepada orang itu dan juga pengharapan akan hidup baru.

Yesus berjanji kepada kita, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih daripada itu” (Yoh 14:12). Memberitakan Kabar Baik kepada para sahabat kita, bahkan kepada orang-orang asing adalah bagian dari janji Yesus tadi. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus kita dapat ke luar mencapai sesama kita, mengidentifikasi berbagai kebutuhan-kebutuhan batiniah mereka, dan mengumumkan pengharapan hidup bersama Allah, seperti yang dilakukan oleh Yesus di kampung-kampung atau kota-kota di Galilea dan apa yang dilakukan oleh Paulus dalam sebuah kota yang sudah sophisticated, yaitu Atena.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui bahwa kami masing-masing memiliki suatu kerinduan akan Engkau. Aku berdoa bagi mereka semua yang telah menempatkan pengharapan mereka secara salah di dunia ini. Perkenankanlah mereka memandang Engkau, ya Allahku. Terpujilah Engkau, ya Allah yang penuh kerahiman dan kasih, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “KAPAN KITA BERADA PALING DEKAT DENGAN YESUS?” (bacaan tanggal 28-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “TUGAS ROH KUDUS ADALAH UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN” (bacaan tanggal 8-5-13) dan “IA AKAN MEMIMPIN KAMU KE DALAM SELURUH KEBENARAN !!!” (bacaan tanggal 1-6-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 17:15,22-18:1), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 27 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA

ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Senin, 26 Mei 2014)

PAULUS MENGAJAR LIDIA DKK DI PINGGIR SUNGAILalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami bebicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kis 16:11-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 15:26-16:4a

Pertemuan antara Paulus dan Lidia sebagaimana digambarkan oleh Lukas (pengarang “Kisah para Rasul”) mengingatkan kita pada pertemuan antara Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub (lihat Yoh 4:7-30). Baik Yesus dan Paulus berbicara dengan perempuan – suatu kejadian yang tidak biasa pada masa itu. Apalagi dua orang perempuan tersebut bukanlah orang Yahudi! Hal ini menunjukkan tindakan Allah tidak tergantung pada peraturan-peraturan yang dibuat manusia. Yang jelas kelihatan adalah bahwa perempuan-perempuan ini terbuka bagi sabda Allah dan secara langsung dipengaruhi oleh sabda tersebut.

Perempuan Samaria itu pergi kembali ke kotanya dan menceritakan tentang Yesus kepada setiap orang yang dijumpainya. Lidia adalah seorang janda kaya yang berprofesi sebagai pedagang kain ungu dan ia juga seorang kepala rumah tangga. Lidia ini langsung mengundang Paulus dan Timotius untuk datang dan berdiam di rumahnya. Barangkali rumahnya dipakai oleh para anggota komunitas Kristiani di Filipi sebagai tempat berkumpul dan beribadat bersama. Allah membuka hati Lidia dan juga perempuan Samaria untuk menjadi orang-orang yang percaya kepada Yesus, walaupun kelihatannya (dari mata manusia) mereka bukanlah kandidat-kandidat yang ideal apabila kita melihat latar belakang sosial-budaya mereka masing-masing.

Allah seringkali memilih pribadi-pribadi yang tak disangka-sangka menurut pandangan manusia, untuk melakukan pekerjaan-Nya. Masa lampau kita, keterbatasan-keterbatasan fisik kita, atau tingkat pendidikan formal kita, semua itu tidaklah berarti apa-apa di mata Allah. Misalnya di abad ke-14 di Italia, para perempuan diharapkan untuk tidak muncul dalam kehidupan publik. Jadi, ketika Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Katarina dari Siena [1347-1380] bahwa perempuan ini harus ke luar dari rumahnya bercampur dengan mereka yang berkiprah di tengah dunia, maka Katarina memprotes dengan mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan ia tidak akan mampu. Namun Allah mengatakan kepadanya bahwa Dia telah memilih seorang perempuan untuk merendahkan laki-laki yang sombong dan terpelajar.

Allah dapat memilih kita juga, bahkan ketika kita berpikir bahwa kita tidak qualified untuk melakukan pekerjaan-Nya. Apa pun keterbatasan-keterbatasan yang kita pikir dimiliki pribadi kita bukanlah merupakan halangan bagi Allah. Ia sering menggunakan orang-orang yang lemah dan rendah-hati (dina) sebagai bejana-bejana berkat-Nya. Seperti perempuan Samaria, kita harus merasa dahaga akan Allah, dan seperti Lidia, hati kita harus terbuka bagi kebenaran. Kemudian kita pun dapat melakukan apa saja yang diminta/diperintahkan Tuhan kepada kita. Dia adalah sumber dan pemberi semua karunia/anugerah. Dia dapat menganugerahkan kepada kita berkat-berkat-Nya dan talenta-talenta yang tidak pernah kita pikirkan ada dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk menjadi terbuka bagi segala sesuatu yang Kauminta dari kami. Kami ingin melakukan pekerjaan yang Kauberikan kepada kami untuk membangun Kerajaan-Mu di atas bumi, sehingga dengan demikian kemuliaan-Mu dapat terlihat oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KEBENARAN YANG KELUAR DARI BAPA” (bacaan tanggal 26-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 6-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BUSINESSWOMAN FILIPI DIBAPTIS” (bacaan tanggal 30-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

MEMPERKENANKAN YESUS MELAYANI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 15 Mei 2014)

washing_feet

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

Pernahkah anda mempunyai pengalaman seperti berikut ini? Anda bangun tidur di pagi hari dengan penuh semangat; anda berketetapan hati untuk membuat suatu perubahan di dunia dengan menjalani hidup bagi Kristus dan menjadi hamba-Nya yang rendah hati. Anda melompat dari tempat tidur, mantap untuk menjadi bentara kasih-Nya – seperti yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia berkata: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku” (Yoh 13:20). Akan tetapi, pada malam harinya semangat yang menggelora di pagi hari sudah menyusut, malah menghilang, dan anda pun merasa heran dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah yang telah terjadi. Anda dengan keras mencoba untuk hidup sebagai seorang duta Kristus. Anda sungguh ingin agar orang-orang mengetahui dan mengalami bahwa Yesus adalah Sumber dari sukacita anda. Namun kalau melihat perkembangan sepanjang hari ini, anda merasa bahwa masih ada sesuatu yang kurang. Serasa segala upaya anda sepanjang hari ini tidaklah memadai – tidak cukup persuasif, tidak cukup setia, tidak cukup kadar kasihnya, atau bahkan hampir sia-sia.

PEMBASUHAN KAKI PARA MURID - 1Memang hari-hari seperti ini akan selalu kita alami, namun apabila sungguh hadir maka kita harus melihatnya sebagai karunia istimewa dari Allah. Pada hari-hari seperti inilah kita diingatkan bahwa pada dirinya sendiri – berbagai upaya manusia (tanpa pertolongan Allah) akan senantiasa tidak memadai. Apabila kita mengandalkan diri pada upaya kita sendiri – kekuatan kita sendiri – maka yang akan kita alami adalah kekecewaan, … upaya kita tidak mengenai sasaran. Seperti juga Petrus dan para rasul lainnya yang membiarkan Yesus membasuh kaki-kaki mereka, maka sama jugalah halnya dengan kita semua (Yoh 13:3-12). Hanya apabila kita memperkenankan Yesus melayani kita maka kita akan dibuat cocok dan siap untuk melayani orang-orang lain.

Bayangkanlah diri anda sedang berada di kaki atau bagian bawah sebuah jalan menanjak dengan banyak sekali anak tangga, dan di ujung atas sana berdirilah Yesus. Pandangan-Nya yang penuh kemuliaan dan pancaran kasih dari diri-Nya sungguh memikat hati anda dan membuat diri anda ingin sekali untuk berada bersama-Nya. Namun setiap kali anda mencoba untuk naik satu-dua langkah, anda turun lagi. Anda mencoba lagi, hal yang sama pula yang terjadi: tergelincir dan tergelincir lagi. Akhirnya, anda merasa frustrasi karena merasa gagal. Anda berteriak minta tolong. Dalam sekejab saja Yesus turun ke anak tangga paling rendah dan kemudian Ia menggendong anda sampai ke atas.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Janganlah kita membiarkan hari ini menjadi hari seperti yang diceritakan di atas. Mulailah dengan menempatkan diri anda di dalam kehadiran Tuhan melalui doa dan keterbukaan hati yang penuh damai. Perkenankanlah Yesus menggendong diri anda, membasuh kaki-kaki anda. Inilah yang seharusnya menjadi titik awal hari kita. Kita tidak pernah akan menjadi bentara kasih Allah berdasarkan kehendak dan kekuatan kita sendiri. Allah juga tidak pernah memaksudkan agar anda menjadi begitu. Semoga kebenaran ini memenuhi diri hati kita semua dengan sukacita dan dorongan untuk bergerak lebih maju lagi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku sehingga sudi mengutus aku untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang lain. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang lembah lembut dan dipenuhi dengan kedinaan, sehingga dengan demikian aku dapat melayani seperti Engkau sendiri melayani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 13:13-25), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SELALU SETIA DENGAN JANJI-JANJI-NYA” (bacaan tanggal 15-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG HAMBA TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA” (bacaan tanggal 19-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 13 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [5]

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [5]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus – Sabtu, 3 Mei 2014)

Philip-and-James-610x350

Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

Pada hari ini kita merayakan pesta dua orang dari para rasul Yesus yang pertama: Filipus and Yakobus. Sejarah tidak meninggalkan terlalu banyak cerita terinci tentang apa saja yang terjadi dengan kedua orang rasul ini setelah hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kita bahkan tidak tahu apakah Yakobus ini (juga dikenal sebagai Yakobus kecil) juga sama dengan Yakobus yang memimpin gereja di Yerusalem, orang yang menulis surat Yakobus, atau malah Yakobus yang lain sama sekali.

ROHHULKUDUSAkan tetapi, kita mengetahui bahwa baik Filipus maupun Yakobus selalu ada bersama-sama dengan Yesus dalam karya pelayanan-Nya, dan mereka ada dalam ruangan atas pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama ketika Roh Kudus turun atas para rasul. Kita juga percaya bahwa Filipus and Yakobus wafat sebagai martir Kristus, karena kegiatan pewartaan Injil Yesus Kristus dan kesaksian hidup mereka. Kita memang tidak tahu secara terinci, namun kita dapat menaruh kepercayaan bahwa – seturut janji Yesus – pada akhir hayat mereka, dua orang rasul ini pun telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan Yesus sekali mereka pergi ke tengah dunia dengan pesan Injil.

Kita juga telah menerima Roh Kudus dan telah dipanggil guna mewartakan Injil. Kita semua tahu bahwa kita harus bekerja dan berpikir keras serta cerdas untuk kegiatan evangelisasi dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita. Kita sebagai umat Kristiani yang Katolik cenderung sangat baik dalam pengetahuan tentang apa saja yang diharapkan dari kita – walaupun kita tidak selalu melakukannya. Namun pada hari ini, mungkin harus “berani untuk bermimpi”, bukannya berpikir terus tentang kekurangan-kekurangan kita, di area-area mana saja kita dapat gagal dlsb.

Kita percaya bahwa Yesus menjanjikan kepada kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya. Sebagai orang-orang yang percaya, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kelihatannya pekerjaan-pekerjaan itu? Tanda heran apa yang kiranya Yesus siapkan untuk bekerja melalui diri kita jika kita mengambil langkah iman dan rasa percaya? Para kudus di masa lampau telah melakukan hal-hal yang menakjubkan dalam nama Yesus karena iman mereka. Dapatkah kita mengharapkan hal yang sama terjadi juga dengan kita? Tentu saja kita dapat! Tidak ada di mana pun dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa penyembuhan-penyembuhan tidak dimungkinkan lagi dalam zaman ini, atau makanan di dalam dapur umum tidak dapat dilipat-gandakan secara ajaib, atau seorang sahabat yang tidak percaya tidak dapat memperoleh pengalaman luarbiasa sehubungan dengan kasih Allah. Marilah kita mencoba untuk percaya sepenuhnya akan sabda Yesus dan lihatlah apa yang akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaanku pada janji-janji-Mu, bahkan janji-janji yang terdengar tak masuk akal manusia. Tolonglah aku yang tidak percaya, ya Yesus! Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah diriku seperti rasul-rasul-Mu terkasih, Filipus dan Yakobus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [4]” (bacaan tanggal 3-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [2]” (bacaan tanggal 3-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUAT-KUASA NAMA YESUS

KUAT-KUASA NAMA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius – Jumat, 2 Mei 2014)

jesus4-1

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbutan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15

Para rasul mengakui dan menerima keberadaan kuat-kuasa nama Yesus dalam penyembahan mereka, dalam kegiatan evangelisasi mereka, ketika mereka mendoakan orang-orang sakit, orang yang berada dalam kesusahan, dlsb., dan pada waktu mereka melakukan upacara memecah-mecahkan roti mereka (Ekaristi). Nama Yesus memperkuat mereka, menghibur mereka, dan menyembuhkan mereka selagi mereka bekerja membangun Gereja. Penuh kesadaran akan ketangguhan dan keperkasaan nama Yesus, mereka dengan berani memproklamasikan Injil nama Yesus, walaupun Mahkamah Agama telah melarang mereka mengajar dalam nama Yesus (lihat Kis 5:40-42). Walaupun mereka telah dicambuki, rasul-rasul itu meninggalkan siding Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (Kis 5:40-41).

JESUSNama Yesus merepresentasikan siapa sesungguhnya diri-Nya – kodrat-Nya yang sejati. Jika kita berdoa dalam nama Yesus, hal ini berarti bahwa kita berseru kepada segenap keberadaan-Nya – keilahian-Nya, kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, karakter-Nya, kasih-Nya. Bilamana kita berdoa dalam nama Yesus, kita mempersatukan diri kita dengan Dia. Hasrat-hasrat-Nya menjadi hasrat-hasrat kita. Tujuan-tujuan-Nya menjadi tujuan-tujuan kita. Kehidupan-Nya yang penuh rahmat dan kuasa mengambil alih kehidupan kita yang penuh dengan rasa takut dan dosa. Yesus berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui doa dan ketaatan, kita akan menyaksikan kuat-kuasa nama-Nya mencapai tujuan-tujuan Allah dalam kehidupan kita dan dalam diri mereka yang kita doakan.

Melalui contoh dari kehidupan doa-Nya sendiri, Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa. Dalam doa, Yesus mencari hikmat-kebijaksanaan Bapa-Nya, kuat-kuasa-Nya dan bimbingan-Nya, sebelum melakukan sesuatu. Dan, Bapa surgawi selalu menjawab doa-doa Yesus. Jadi, apabila kita berdoa dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan bahwa rencana-rencana Allah akan dipenuhi. Dalam setiap situasi – apakah sebuah persoalan kecil di tempat kerja atau di rumah, atau suatu krisis besar seperti penderitaan sakit-penyakit serius, kecelakaaan besar yang menelan ratusan jiwa, bencana alam, kematian dlsb. – maka kita dapat menyerukan nama Yesus dengan penuh keyakinan dan pengharapan. Oleh nama-Nya semua kuasa-kegelapan, semua rasa takut, dan sejenisnya akan “kabur-pergi”.

Yesus ingin menghibur kita dengan kehadiran-Nya, kasih-Nya dan damai-sejahtera-Nya. Yesus ingin agar kita sungguh mengakui dan menaruh kepercayaan pada otoritas dan kuat-kuasa dari nama-Nya. Dosa dan kegelapan akan lari ketika nama Yesus diserukan dengan penuh iman. Sebagai murid-murid-Nya di Gereja Perdana, kita pun patut untuk mempunyai keyakinan yang sama.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencintai nama-Mu karena belas-kasih-Mu, kemuliaan-Mu, otoritas tertinggi dari-Mu, kasih-Mu yang penuh pengorbanan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sumber segala kebaikan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMPERHATIKAN UMAT-NYA” (bacaan tanggal 2-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA” (bacaan tanggal 12-4-13) dan “YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG” (bacaan tanggal 20-4-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH BERTINDAK APA-APA TERHADAP ORANG-ORANG INI” (bacaan tanggal 6-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA HIDUP JEMAAT YANG PERTAMA

CARA HIDUP JEMAAT YANG PERTAMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II – 27 April 2014)

Hari Minggu Kerahiman Ilahi

early-church

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Lalu ketakutan melanda semua orang, sebab rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda ajaib. Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah dan mereka disukai semua orang . Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2:42-47)

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,13-15,22-24; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:3-9; Bacaan Injil: Yoh 20:19-31

Bacaan pertama hari ini adalah salah satu dari beberapa ikhtisar dalam “Kisah Para Rasul” yang menggambarkan kehidupan komunitas Gereja Perdana, jadi komunitas Kristiani yang ideal sebenarnya. Bacaan pertama untuk Hari Minggu Paskah kedua pada tahun B (Kis 4:32-35) dan tahun C (Kis 5:12-16) juga memberikan gambaran dari kehidupan komunitas Gereja perdana, namun yang disoroti adalah aspek yang berbeda-beda.

Bacaan kita hari ini mengedepankan empat karakteristik kehidupan komunitas Gereja perdana, yaitu (1) pengajaran para rasul; (2) persekutuan; (3) pemecahan roti; dan (4) doa. Karena memiliki empat karakteristik ini, maka Jemaat atau Gereja Perdana layak disebut Jemaat Kristus yang bangkit.

GEREJA PERDANA KIS 2 KOINONIA1. Jemaat Kristiani Perdana setia pada “ajaran para rasul.” Karena mereka telah menjadi Kristiani (para pengikut Kristus) dengan menerima sabda Yesus Kristus, Injil Yesus Kristus, maka suatu hidup Kristiani harus senantiasa diperdalam dengan pemberitaan Injil secara berkesinambungan. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17).

Dengan penuh kerendahan hati mereka menerima dan mengakui bahwa keselamatan telah terwujud melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Iman akan Kristus yang bangkit memungkinkan jemaat ini menjadi tanda yang menarik banyak orang, seperti ditulis oleh Lukas. “… mereka disukai semua orang” (Kis 2:47). Mereka lebih tangguh menghadapi segala tantangan dan perjuangan hidup ini, karena Yesus Kristus telah lebih dahulu meretas jalan menuju kehidupan baru, dengan mengalahkan segala penderitaan dan kematian, “Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN (YHWH) menolong aku. YHWH itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku” (Mzm 118:13-14).

FELLOWSHIP2. Tanda kedua adalah “persekutuan” (Inggris: fellowship; Yunani: koinonia), yang berarti suatu kehidupan yang disyeringkan, …… hidup bersama. Dengan kata lain kita berbicara mengenai “persaudaraan sejati” di sini. Ungkapan koinonia hanya muncul sekali dalam “Kisah Para Rasul”, namun ini adalah ungkapan favorit dari Santo Paulus, yang menggunakan ungkapan ini 13 kali dalam surat-suratnya. Ini adalah hidup berbagi dengan Allah sendiri yang disebabkan dan dibuat mungkin lewat pewartaan Injil. Persekutuan ini menjadi sebuah komunitas dengan Yesus yang bangkit, yang dibuat efektif oleh Roh Kudus. Dimensi vertikal dari persekutuan ini menghasilkan suatu dimensi horisontal, suatu persekutuan dengan sesama orang Kristiani dengan mewartakan sabda Allah kepada mereka, dan dengan berbagi benda-benda materiil dengan mereka. Jadi, persekutuan misalnya digunakan sehubungan dengan kolekte dari gereja-gereja bimbingan Paulus untuk Gereja induk di Yerusalem (2Kor 9:12-15). Akhirnya persekutuan menggaris-bawahi bahwa jemaat Kristiani Perdana mempunyai hal-hal yang sama, walaupun tidak semua sama, seperti dicontohkan oleh Barnabas (Kis 4:36-37). Semua itu bukan berdasarkan doktrin ekonomi yang dianut, melainkan sesuatu yang bersifat spontan.

Jemaat Kristiani Perdana menjalin satu ikatan persaudaraan yang sangat erat, di mana hanya terdapat cinta kasih. Kasihlah yang membuat mereka mampu membagi-bagi harta milik masing-masing dengan orang-orang lain. Kasihlah yang membuat mereka lebih peka terhadap kemalangan dan kekurangan sesama (Kis 2:44-45).

KOMUNI GEREJA PERDANA3. Dalam artian yang penuh, “pemecahan roti” berarti Ekaristi Kudus, yang telah senantiasa dan akan tetap menjadi sarana utama dari kehidupan komunitas. Jemaat Kristiani Perdana adalah jemaat yang bersatu dalam Ekaristi. Dalam memecah-mecahkan roti jemaat termaksud bukan saja menghadirkan kembali perjuangan-perjuangan Yesus di masa lampau, melainkan juga merayakan masa depan mereka, yaitu bersama Yesus mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah dan sesama (lihat bacaan kedua: 1Ptr 1:3-9).

4. Doa-doa membangun komunitas Kristiani. Gereja atau Jemaat Kristiani adalah jemaat yang bersatu dalam doa (Kis 2:46-47). Sebagai jemaat mereka merasa masih membutuhkan penebusan. Maka, sebagai jemaat yang tertebus mereka sungguh mengakui peranan Kristus dalam hidup dan perutusan mereka masing-masing. Oleh karena itu, sebelum diutus, mereka terlebih dahulu menghadap Tuhan guna mohon berkat dan kekuatan. Mereka mampu menghadapi masalah-masalah dalam hidup ini, karena sudah berkomunikasi dengan-Nya dalam doa (lihat bacaan kedua).

KIS 2Bagaimanakah dengan kita sekarang? Sudah jauhkah berbagai komunitas kita dewasa ini dari praktek komunitas Gereja Perdana? Apakah kita telah kehilangan semangat Gereja Perdana? Bagaimanakah kita harus memperbaikinya? Dalam hal pengajaran? Dalam hal hidup dalam persekutuan? Dalam hal merayakan Ekaristi Kudus? Dalam doa-doa secara komunal?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, segarkanlah kembali berbagai komunitas yang ada dalam Gereja-Mu – lingkungan, paroki, kelompok kategorial dlsb. – agar memiliki ke empat karakteristik yang digambarkan oleh Lukas dalam “Kisah Para Rasul”, yaitu bertekun dalam pengajaran yang berkaitan dengan sabda-Mu, hidup dalam persekutuan, mengandalkan Ekaristi Kudus untuk senantiasa menguatkan kami sebagai murid-murid-Mu, dan kehidupan doa yang tidak berat sebelah, antar doa-doa secara pribadi dan doa-doa secara komunal. Dengan demikian, kami pun dapat menjadi saksi-saksi-Mu yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “MENYENTUH LUKA-LUKA YESUS” (bacaan tanggal 27-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMI TELAH MELIHAT TUHAN !!!” (bacaan tanggal 15-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:42-47), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN BARU TELAH DIBUKA BAGI PARA MURID YESUS” (bacaan tanggal 15-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 24 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers